Dalam Islam memang tak dijelaskan secara teoritis mengenai multikulturalisme, namun secara konsep Islam secara tidak langsung telah mengimplementasikan nilai multikultural.
Pendidikan multikultural yang berprinsip demokrasi, kesetaraan, dan keadilan sesuai dengan doktrin-doktrin dan historis Islam.
Untuk memahami wawasan multikultural dalam pandangan Islam, maka dapat dilihat dari tinjauan berikut ini:
1) Tinjauan Doktrinal Pendidikan Multikultural dalam Al-Qur’an dan Hadis
a) Firman Allah Q.S Al-Maidah ayat 48
Pada firman Allah Q.S Al-Maidah ayat 48, dijelaskan:
ْم ُ ك َّ
ل َّعَّج َّ
ل ُه ّٰ
للا َّءۤا َّش ْو َّ
ل َّوۗ ا ًجا َّهْن ِم َّ و ًة َّع ْر ِش ْم ُ كْن ِم اَّن ْ
ل َّع َّج ٍ ل ُ كِل
ُ قِب َّ ت ْسا َّ ف ْم ُ كىّٰت ّٰ
ا ٓا َّم ْيِف ْم ُ كَّو ُ
لْبَّيِ ل ْن ِك ّٰ
ل َّ و ًة َّد ِحا َّ و ًةَّ مُا ِۗت ّٰرْي َّخْلا ا و
َّ
ن ْو ُ
فِلَّت ْخ َّت ِهْيِف ْمُتْن ُ ك اَّمِب ْم ُ
كُئِ ب َّنُيَّف ا ًعْي ِمَّج ْم ُ
ك ُع ِج ْر َّم ِه ّٰ
manusia agar dapat menyatukan diri meskipun terdapat adanya keragaman dan perbedaan, maka dengan demikian kehendak Allah yang membuat masyarakat heterogen agar manusia dapat saling mengenal, sehingga dalam hal ini manusia akan saling beriteraksi untuk bersatunya golongan, kelompok dan bangsa-bangsa (Aziz, 2017: 9).
b) Firman Allah Q.S Al-Hujurat ayat 13
Dalam ayat Q.S Al-Hujurat ayat 13, yang berbunyi:
اًب ْو ُع ُش ْم ُ كّٰن ْ
ل َّع َّج َّو ى ثْن ّٰ ُ ا َّ و ٍر َّ
كَّذ ْن ِ م ْم ُ كّٰن ق ْ َّ
ل َّخ ا َّ نِا ُساَّ نلا اَّهُ يَّآٰي لا َّ
ن ِاۗ ْم ُ كى قْت ّٰ َّ
ا ِه ّٰ
للا َّدْن ِع ْم ُ ك َّم َّر ْ
ك َّ
ا َّ
ن ِا ۚ ا ْو ُ
ف َّرا َّعَّتِل َّ
لِ ىۤاَّب ق َّ و َّ
ّٰ ل َّه
ٌرْيِب َّخ ٌمْيِلَّع
Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal”
Al-Alusi menjelaskan mengenai alasan ayat tersebut yakni berkaitan dengan kisah Abu Hind seorang pembekam, suatu ketika Nabi meminta kepada Bani Bayadah agar Abu Hind dinikahkan oleh salah satu dari putri mereka, tetapi mereka menolak dengan alasan bahwa tidak wajar menikahkan putri mereka dengan salah satu dari budak mereka, hal ini kemudian dikecam oleh Al-Qur’an bahwa
sisi kemuliaan seseorang bukan karena garis keturunan atau kebangsawanan melainkan ketakwaan. Maka hal ini menguatkan konsep kesetaraan manusia dalam Islam, yang mana dalam Islam manusia mempunyai hak, kewajiban, dan tanggung jawab yang sama, begitu juga kalangan non muslim juga sama baik di mata hukum atau pemerintah (Mustafida, 2020: 13–14).
c) Firman Allah Q.S An-Nahl ayat 125
Sebagaimana yang telah disebutkan dalam kitab suci al-Qur’an pada surat An-Nahl ayat 125,
ْم ُه ْ
ل ِدا َّج َّو ِةَّن َّسَّح ْ
لا ِة َّظ ِع ْو َّم ْ لا َّو ِة َّم ْ
ك ِح ْ
لاِب َّك ِ ب َّر ِلْيِب َّس ى ّٰ
ل ِا ُع ْدُا َّر َّ
ن ِا ُۗن َّس ْح َّ
ا َّي ِه ْي ِت َّ
ٖهِلْيِب َّس ْن َّع َّ لاِب
ل َّض ْن َّمِب ُم َّ
لْع َّ
ا َّو ُه َّكَّ ب
َّنْي ِدَّت ْه ُم ْ لاِب ُم َّ
لْع َّ
ا َّو ُه َّو
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Seungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahuitentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(Q.S An-Nahl: 125).
Dari ayat tersebut merekomendasikan mengenai visi Islam yaitu hidup harmonis dan damai dapat terwujud dalam kehidupan masyarakat yang beragam (Mustafida, 2020: 15).
Sejalan dengan multikulturalisme, Islam mengajarkan manusia untuk hidup dengan damai, menghindari permusuhan .
Selain firman Allah sebagaimana yang disebutkan di atas, terdapat beberapa sabda Nabi yang menganjurkan umatnya untuk saling menghormati, meskipun terdapat perbedaan etnis, budaya, keyakinan, kedudukan dan lain-lain, yaitu sebagai berikut (Hasan, 2016: 40):
a) Imam At-Thobary meriwayatkan bahwa pada saat Rasulullah Saw berkhutbah pada hari tasyriq di Mina (riwayat lain menyebutkan di hari Arafah), beliau duduk di atas ontanya: “Mai manusia, sesungguhnya Tuhanmu itu satu, dan sesungguhnya ayahmu sekalian itu satu. Ingatlah tidak ada keutamaan bagi orang Arab melebihi orang Ajam (non-Arab), dan juga tidak ada keutamaan bagi orang kulit hitam melebihi orang kulit merah, dan tidak ada keutamaan bagi orang kulit merah melebihi orang kulit hitam kecuali takwa. Ingat sudahkah aku menyampaikan hal ini?. Mereka menjawab: Iya. Rasulullah bersabda: yang hadir disini agar menyampaikan kepada yang tidak hadir!.
b) Al-Zuhaily, dalam tafsir al-Munir mengutip hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah SAW, yang bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada warnamu dan harta kekayaanmu, tetapi melihat kepada hatimu dan amal perbuatanmu”.
c) At-Thobrony, meriwayatkan hadis dari Abu Malik al-Asy’ary, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada kedudukanmu, juga tidak melihat kepada nasabmu, juga tidak melihat ragamu, dan juga tidak melihat harta kekayaanmu, tetapi melihat kepada hatimu. Maka siapapun yang mempunyai hati yang baik.
Allah akan menyayanginya. Kalian semua adalah sama-sama “anak” Adam dan yang paling dicintai Allah adalah yang paling bertakwa kepada-Nya”.
Dari firman Allah dan juga sabda Nabi yang telah disebutkan di atas, maka kita dapat mengambil pelajaran bahwasannya keberagaman merupakan sunatullah yang harus direnungi dan diyakini oleh setiap umat. Sehingga dalam konsep multikulturalisme tersebut terkandung nilai-nilai penting dalam membangun keimanan. Al-Qur’an dan Hadis menganjurkan umat manusia untuk saling menghormati, meskipun terdapat perbedaan-perbedaan baik dari etnis, budaya, keyakinan, kedudukan dan lain-lain.
2) Tinjauan Historis Pendidikan Multikultural dalam Islam Dalam sejarah perjalanan Islam sejak masa Nabi Muhammad SAW, secara tidak langsung telah mengimplementasikan pendidikan multikultural. Jauh sebelum datang Islam, masyarakat Mekkah berada pada kondisi
sosiokultural, politik ekonomi bahkan keagamaan yang terpuruk. Namun ketika Islam datang, memberikan pencerahan bagi dunia Arab pada saat itu Nabi Muhammad Saw menjadi utusan Allah untuk memperbaiki semuanya. Melalui Al-Qur’an nilai-nilai kesetaraan, keadilan dan antidiskriminasi dihapus, Al-Qur’an mengajarkan untuk saling mengenal, menghargai, dan menghormati sesame tanpa memandang rendah orang lain (Mustafida, 2020: 19).
Selanjutnya pada masa Rasulullah memimpin Madinah, beliau telah meletakkan dasar-dasar pluralism dan toleransi, hal tersebut dapat dilihat dari sikap beliau yang dapat menghargai kelompok-kelompok yang berbeda dalam satu daerah, misalnya pada saat itu terdapat kaum Yahudi, Nasrani hingga Majusi.
Mereka dapat hidup berdampingan dengan damai. Untuk menguatkan hal tersebut, Rasulullah mengeluarkan kebijakan dalam Piagam Madinah sebagai konstitusi negara pada saat itu.
Piagam madinah tersebut memuat hubungan dan perlindungan terhadap kelompok-kelompok yang berbeda. Nabi Muhammad juga merealisasikan ummah wahidah (umat yang tunggal) tanpa membedakan agama dan suku warga negaranya, termasuk hak dan kewajiban warga Madinah secara adil (Ulya dan Anshori, 2016: 29).
Adapun Piagam Madinah yang memuat 47 pasal mengenai hak-hak asasi manusia, hak dan kewajiban bernegara, hak perlindungan hukum sampai toleransi beragama, dapat disimpulkan menjadi empat hal yaitu: pertama, mempersatukan kaum muslimin dari berbagai suku menjadi suatu ikatan. Kedua, menghidupkan semangat gotong royong, hidup berdampingan, saling menjamin keamanan diantara sesama warga negara.
Ketiga, menetapkan mengenai kewajiban memanggul senjata bagi masyarakat. Keempat, menjamin persamaan dan kebebasan kaum Yahudi dan agama-agama lain dalam mengurus kepentingan mereka (Ansori, 2019: 114).
Dalam Islam multikultural merupakan sebuah keniscayaan, sunnahtullah, bahwa adanya perbedaan dan keberagaman merupakan hal yang memang dikehendaki oleh Allah SWT, sehingga perbedaan dan keberagaman tidak dapat menjadi alasan untuk saling bermusuhan, bercerai-berai hingga menimbulkan konflik. Sebagaimana yang telah dijelaskan pada ayat Al-Qur’an maupun hadis, serta sejarahnya, Islam tidak menyerukan tentang kebencian, permusuhan, pertentangan atau perpecahan. Islam sangat menerima keberagaman untuk saling bersatu, dapat beradaptasi dan akomodasi kebudayaan. Sehingga dengan menghayati dan menjalankan nilai-nilai multikultural dalam ajaran Islam, menjadikan pemikiran lebih terbuka saat dihadapkan dengan
adanya perbedaan. Sehingga dapat lebih bijaksana dan dewasa dalam merespon adanya keberagaman tersebut.
d. Tujuan Pendidikan Multikultural
Baidhawy mengemukakan bahwa tujuan pendidikan multikultural idealnya ialah untuk memperkenalkan kesadaran kultural, kesempatan yang sama untuk belajar bagi semua individu dan kelompok masyarakat, memperkenalkan identitas sekaligus mendorong kesatuan melalui keragaman (Baidhawy, 2005: 108).
Selain itu menurut Ainul Yaqin (2019: 24) terdapat dua tujuan dari pendidikan multikultural yaitu:
1) Tujuan awal
Tujuan awal pendidikan multikultural yaitu membangun wacana pendidikan dan mengambil kebijakan dalam dunia pendidikan, hal ini berfungsi sebagai perantara agar tujuan akhirnya tercapai dengan baik, harapannya wacana pendidikan multikultural tidak hanya menjadi transformator pendidikan multikultural tetapi juga mampu menanamkan nilai-nilai demokrasi, pluralism, dan humanism secara langsung kepada peserta didik di sekolah.
2) Tujuan akhir
Adapun tujuan akhir dari pendidikan multikultural ialah diharapkan peserta didik tidak hanya mampu memahami dan menguasai materi pelajaran yang dipelajarinya, tetapi juga
peserta didik dapat mempunyai karakter yang kuat, sehingga dapat bersikap demokratis, pluralis dan humanis.
Selain itu disebutkan pula tujuan pendidikan multikultural yang diungkapkan oleh Yaya Suryana dan Rusdiana (2015: 199) yaitu untuk membantu peserta didik:
1) Memahami latar belakang diri dan kelompok masyarakat 2) Menghormati dan mengapresiasi ke-bhineka-an budaya dan
sosio-historik etnik
3) Menyelesaikan sikap-sikap yang terlalu etnosentris dan penuh purbasangka
4) Memahami faktor-faktor sosial, ekonomis, psikologis, dan historis yang menyebabkan terjadinya polariasai etnik ketimpangan dan keterasingan etnik
5) Meningkatkan kemampuan menganalisis secara kritis masalah-masalah rutin dan isu melalui proses demokratis melalui sebuah visi tentang masyarakat yang lebih baik, adil, dan bebas
6) Mengembangkan jati diri yang bermakna bagi semua orang.
Maka dapat dipahami bahwa pada intinya tujuan dari pendidikan multikultural ialah untuk menanamkan kesadaran kepada seseorang mengenai kesetaraan dan kemajemukan, sehingga akan terciptanya perdamaian dalam perbedaan dan sebagai upaya dalam mecegah konflik etnis, agama, radikal, sparatis, dan disintegrasi bangsa.
e. Karakteristik Pendidikan Multikultural
Berdasarkan pengertian pendidikan multikultural yang dijelaskan oleh Abdullah Aly melalui pendapat dari beberapa ahli, maka dapat diperoleh karakteristik dai pendidikan multikultural yaitu:
1) Pendidikan multikultural berprinsip pada demokrasi, kesetaraan, dan keadilan.
Dari ketiga prinsip tersebut dapat digarisbawahi bahwa semua anak mempunyai kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan. Pada prinsip ini pendidikan multikultural menjamin peserta didik memperoleh perhatian yang sama, tanpa membedakan latar belakang warna kulit, etnik, agama, bahasa, dan budaya, serta tidak membedakan peseta didik yang pandai dan bodoh maupun yang rajin dan malas (Aly, 2011: 111).
Dalam pandangan Islam pendidikan multikultural yang berprinsip pada demokrasi, kesetaraan, dan keadilan sesuai dengan doktrin-doktrin Islam yakni:
a) Prinsip demokrasi dalam istilah Islam disebut dengan Al-musyawarah, terdapat dalam surat As-Syu’ara ayat 38, sebagai berikut: