• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masyarakat Dayak Dusun di Kalimantan Tengah khususnya di Barito selatan memiliki upacara adat yang sangat sakral yang dinamakan Upacara Adat Wara. Upacara adat sakral ini mirip dengan upacara Ngaben yang biasa dilakukan oleh masyarakat Hindu di Bali.

97 Ibid., 46. 98Ibid.

Di Barito Selatan upacara ini dilakukan oleh masyarakat penganut agama Hindu/Kaharingan.

Di Barito Selatan Upacara ritual kematian yang dianut oleh agama Hindu/Kaharingan terbagi menjadi 3 (tiga) jenis antara lain :

a. Upacara tingkat Kecil/Alit

1) Ngandrei apui ramai/laba;

2) Ngalangkang 1 Tahun;

3) Ngalangkak 2 Tahun;

4) Ngalanhkang 3 Tahun.

b. Upacara tingkat Sedang/Madya

1) Namak;

2) Ngungkar Tulang.

c. Upacara tingka Besar/Gala

1) Wara Biasa;

2) Wara Nabela;

3) Wara Naluyang;

4) Wara Tutui Kanen matei Iwek;

5) Wara Tutui Kanen metei Karewau;

6) Wara Ngariring Nyalimat;

7) Gawe;

8) Manenga Lewu.99

Dalam hal penulisan hasil penelitian ini, penulis lebih fokus untuk membahas terkait dengan upacara adat Wara. Upacara adat Wara termasuk didalam kategori upacara tingkat besar/gala dan hanya

satu kali dalam dilakukan oleh pihak keluarga yang

menyelenggarakan. Terkait dengan waktu pelaksanaan dan pembagian rangkian ritual didalam upacara adat wara ini, maka upacara adat wara

dibedakan menjadi 6 (enam) kategori,antara lain:

1. Wara Biasa, upacara ini dilakukan hanya satu kali

pelaksanaan dengan penentuan waktu pelaksanaan antara tanggal 1 Juni sampai dengan 30 Agustus pada tahun yang

99 Hasil Musyawarah Daerah Bidang Upacara Ritual Agama Hindu Kaharingan

direncanakan dan rangkaian ritual adat berlangsung selama 7 (tujuh) hari/malam. Didalam uapacra adat ini ada hewan yang dikorbankan yang mana telah disesuaikan dengan petunjuk dari Kandong/Wadian Wara. Rangkaian ritual adat yang disajikan dalam upacara ini hanya saung diau, sarami diau, kaleker diau dan kahing diau dengan jumlah 7 (tujuh) lapak:

a. Saung manu diau 1 (satu) lapak;

b. Saramin manu diau 1 (satu) lapak;

c. Kaleker diau 4 (emapt) lapak;

d. Kahing diau 1 (satu) lapak.100

2. Wara Nabela, upacara ini dilakukan hanya satu kali

pelaksanaan dengan penentuan waktu pelaksanaan antara tanggal 1 Juni sampai dengan 30 Agustus pada tahun yang direncanakan dan rangkaian ritual adat berlangsung selama 7 (tujuh) hari/malam. Didalam uapacra adat ini ada hewan yang dikorbankan yang mana telah disesuaikan dengan petunjuk dari Kandong/Wadian Wara. Rangkaian ritual adat yang disajikan dalam upacara ini hanya saung diau, sarami diau, kaleker diau dan kahing diau dengan jumlah 7 (tujuh) lapak:

a. Saung manu diau 1 (satu) lapak;

b. Saramin manu diau 1 (satu) lapak;

c. Kaleker diau 4 (emapt) lapak;

d. Kahing diau 1 (satu) lapak.101

3. Wara Naluyan, upacara ini dilakukan hanya satu kali

pelaksanaan dengan penentuan waktu pelaksanaan antara tanggal 1 Juni sampai dengan 30 Agustus pada tahun yang direncanakan dan rangkaian ritual adat berlangsung selama 7 (tujuh) hari/malam. Didalam uapacra adat ini ada hewan yang dikorbankan yang mana telah disesuaikan dengan petunjuk dari Kandong/Wadian Wara. Pada dasarnya rangkaian upacara adat wara kategori ini sama dengan rangkaian upacara adat wara Biasa dan uapacra adat wara Nabela namun yang membedakan ialah dalam penyajian rangkaian ritual adatnya. Rangkaian ritual adat yang disajikan dalam upacara ini hanya saung diau, sarami diau,dan kaleker diau

dengan jumlah 7 (tujuh) lapak.102

4. Wara Tutui Kanen Matei Iwek, upacara ini dilakukan hanya

satu kali pelaksanaan dengan penentuan waktu pelaksanaan antara tanggal 1 Juni sampai dengan 30 Agustus pada tahun

100 Ibid., hlm. 2 101Ibid. 102 Ibid., hlm. 3

yang direncanakan dan rangkaian ritual adat berlangsung selama 7 (tujuh) hari/malam. Yang membedakan upacara wara ini dengan 2 (dua) kategori upacara wara sebelumnya ialah dalam upacara ini hewan yang harus di korbankan adalah Babi sesuai dengan petunjuk Kandong/Wadian Wara. Rangkaian ritual adat yang disajikan dalam upacara ini antara lain:

a. Saung manu diau 1 (satu) lapak;

b. Saramin diau 1 (satu) lapak;

c. Kahing diau 1 (satu) lapak;

d. Kaleker diau 4 (empat) lapak;103

5. Wara Tutui Kanen Matei Karewau, upacara ini dilakukan

hanya satu kali pelaksanaan dengan penentuan waktu pelaksanaan antara tanggal 1 Juni sampai dengan 30 Agustus pada tahun yang direncanakan dan rangkaian ritual adat berlangsung selama 14 (empat belas) hari/malam. Didalam upacara adat wara ini hewan yang harus dikorbankan adalah kerbau sesuai dengan petunjuk Kandong/Wadian Wara. Rangkaian ritual adat yang disajikan dalam upacara ini anatra lain:

a. Saung manu diau 1 (satu) lapak;

b. Sarami diau 3 (tiga) lapak;

c. Kahing diau 3 (tiga) lapak;

d. Kaleker diau 7 (tujuh) lapak.104

6. Wara Nalimat, upacara ini dilakukan hanya satu kali

pelaksanaan dengan penentuan waktu pelaksanaan antara tanggal 1 Juni sampai dengan 30 Agustus pada tahun yang direncanakan dan rangkaian ritual adat berlangsung selama 14 (empat belas) hari/malam. Sama halnya dengan upacara wara yang sebelumnya, hewan yang harus dikorbankan adalah kerbau sesuai dengan petunjuk Kandong/Wadian Wara. Rangkaian ritual adat yang disajikan dalam upacara ini antara lain:

a. Saung manu diau 2 (dua) lapak;

b. Saramin diau 5 (lima) lapak;

c. Kahing diau 5 (lima) lapak;

d. Kaleker diau 9 (Sembilan) lapak.105

Dalam pelaksanaan Upacara Adat Wara di Barito Selatan itu sendiri, upacara adat yang sering dilaksanakan termasuk kategori

103 Ibid. 104 Ibid., hlm. 4 105 Ibid.

upacara adat Wara Tutui Kanen Matei Iwek. Dalam penelitian ini penulis memfokuskan penelitian pada kategori upacara adat wara tersebut.

Seperti yang sudah di jelaskan diatas sebelumnya, dalam upacara adat Wara Tutui Kenen Iwek, ritual adat yang disajikan antara lain; saung manu diau, saramin diau, kahing diau, dan kaleker diau.

a. Saung manu diau merupakan permainan sabung ayam dimana

dalam ritual ini 2 (dua) ekor ayam diadu dengan dipasangkan taji atau pisau kecil pada kaki dua ayam jantan yang diadu. Taji berfungsi sebagai senjata untuk membunuh lawannya. Rangkaian ritual ini dimaknai bahwa pertarungan 2 (dua) ekor ayam tersebut ialah pertarungan antara roh yang telah meninggal dengan manusia sebagai lambang agar roh

mendapat kemakmuran di Lewu Tatau (surga);106

b. Saramin diau merupakan permainan kartu yang dimainkan

oleh masyarakat yang mengikuti ritual adat tesebut. Permainan kartu ini biasanya dimainkan sembari berkumpul bersama masyarakat sekitar tempat pelaksanaan upacara adat. Permainan ini dilakukan untuk memberikan hiburan kepada roh yang diupacara adatkan, karena masyarkat penganut

Agama Hindu/Kaharingan dan keluarga yang

melaksakanakan upacara tersebut mempercayai bahwa

106

Wawancara dengan Bapak Yanto selaku anggota Majelis Dearah Agama Hindu Kaharingan Kabupaten Barito Selatan, 30 Agustus 2016 di Dinas Perpustakaan dan Kerarsipan Daerah Kabupaten Barito Selatan.

permainan kartu merupakan permainan yang dilakukan untuk memberikan hiburan kepada roh orang yang telah meninggal sehinggal jalan menuju Lewu Tatau (surga) dibukakan dan

diberi kelancaran;107

c. Kahing diau merupakan mainanan dadu dalam bentuk gasing

putar yang kemudia diputarkan. Sama halnya dengan saramin diau, permainan kahing diau ini dianggap sebagai permainan yang dilakukan untuk memberikan hiburan kepada roh orang yang telah meninggal sehingga jalan menuju Lewu tatau

(surga) diiringi dengan kebahagiaan;108

d. Kaleker diau merupakan suatu ritual yang didalamnya

menyajikan permainan judi yang sering dikenal dengan istilah Dadu Gurak. Dalam upacara adat ini, penyelenggara menyediakan 4 (empat) lapak yang digunakan untuk permainan dadu, kemudian masyarakat sekitar tempat berlangsungnya upacara adat tersebut dapat ikut bermain dengan mempertaruhkan sejumlah uang untuk menebak angka dadu yang akan keluar. Rangkaian ritual ini dimaknai

107

Wawancara dengan Bapak Yanto selaku anggota Majelis Dearah Agama Hindu Kaharingan Kabupaten Barito Selatan, 30 Agustus 2016 di Dinas Perpustakaan dan Kerarsipan Daerah Kabupaten Barito Selatan.

108

Wawancara dengan Bapak Yanto selaku anggota Majelis Dearah Agama Hindu Kaharingan Kabupaten Barito Selatan, 30 Agustus 2016 di Dinas Perpustakaan dan Kerarsipan Daerah Kabupaten Barito Selatan.

sebagai jalan untuk roh orang meniggal yang diupacara

adatkan agar dapat sampai ke Lewu Tatatu (surga).109

Dalam pelaksanaan upacara adat wara tersebut, pihak penyelenggara harus mengajukan permohonan izin dan permohonan rekomendasi untuk melaksanakan upacara adat tersebut kepada:

a. Kepolisian Sektor Dusun Selatan dan Kepolisian Resot

Barito Selatan untuk perihal perijinan mengumpulkan orang banyak;

b. Panggulu Agama Hindu Kaharingan Kelurahan Buntok Kota,

Barito Selatan;

c. Majelis Resort Agama Hindu Kaharingan Kecamatan Dusun

Selatan, Barito Selatan;

d. Majelis Daerah Agama Hindu Kaharingan Kabupaten Barito

Selatan;

e. Ketua Rukun Tetangga (RT) tempat upacara adat wara

berlangsung.110

b.

Dadu Gurak dalam Prespektif Ajaran Agama

Dokumen terkait