pendidikan terintegrasi, seperti antara mekanisme perekrutan, penetapan, pendistribusian, supervisi dan peningkatan kualitas guru, belum proporsional sesuai dengan kebutuhan dan pengadaan guru, termasuk kemampuan SDM dan penempatan. Kegiatan pembinaan dan supervisi belum mengarah terwujudnya peningkatan mutu SDM profesi guru secara profesional. Penempatan guru, baik secara vertikal maupun horizontal masih tumpang-tindih dengan berbagai regulasi dan kepentingan, cenderung birokratis dan arogan, serta egois sektoral.
Di sisi lain, euforia kebijakan otonomi daerah yang dimaknai sebagai
“kebebasan” semakin tak terkira dampaknya terhadap manajemen guru.
Kedua, Kompetensi Guru: sistem pendidikan prajabatan dan dalam jabatan belum menghasilkan guru yang profesional, kompeten, serta berkualitas. Sistem pendidikan guru saat ini terlalu menekankan pada aspek keterampilan akademik (aspek kognitif), kurang menitikberatkan pada aspek pengembangan karakter (emosional), dan keterampilan (psikomotorik).
Ketiga, Karakteristik Lingkungan Kerja Guru: sebutan guru dengan istilah ‘guru tanpa tanda jasa’, ‘guru sebagai uswatun khasanah’, guru sebagai desainer masa depan negara” adalah apresiasi untuk mendorong para guru dalam menjalankan tugasnya, namun pada kenyataannya tidak sedikit oknum yang membuat citra buruk guru dalam menjalankan tugas yang tidak sesuai dengan peran, fungsi, dan norma profesinya, sehingga merusak reputasi dan institusi pendidikan.148
moral, bahkan meresahkan nilai-nilai moral dan spiritual.149 Wawasan tentang perubahan sistem Pendidikan Islam di Indonesia dalam menyikapi berbagai persoalan krisis pendidikan, menurut beberapa ahli pendidikan bersumberkan dari orientasi masyarakat masa kini, meliputi:
1) Krisis nilai, disebabkan karena membiarkan nilai menyangkut kriteria nilai baik atau buruk, pantas atau tidak pantas, dan indah atau jelek, sudah tidak lagi menjadi pedoman orang berperilaku, karena terpengaruh gaya hidup hedonism dan pola hidup pragmatis.
2) Krisis konsep tentang makna, keteladanan dan paradigma kehidupan yang baik, berimplikasi terhadap kehidupan masyarakat menyangkut persoalan ekonomi, sosial, kultur, politik, dan dimensi lainnya. Dalam hal ini, sekolah secara ideal yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk membentuk karakter masyarakat, masih dianggap tidak penting untuk menjalani kehidupan seseorang, baik tingkatan makro maupun mikro.
3) Kesenjangan kredibilitas, munculnya krisis kepercayaan (trusth) individu terhadap pejabat pemerintah, pemimpin masyarakat, budaya hormat kepada orang tua, guru, ulama atau pengkhotbah, penegak hukum, dan sebagainya, yang sudah tidak diaati dan diikuti fatwa-fatwa dan nasehat-nasehatnya.
4) Sekolah sudah tidak lagi mampu melaksanakan tugas dan kewajibannya, karena tugas yang diberikannya melebihi kemampuannya melalui aturan dan administrasi kantor, sehingga nilai-nilai moralitas dan sosiokultur masyarakat melalui pendidikan peserta didik menjadi tidak terlaksana dengan baik.
5) Idealisme, visi, dan citra di kelompok milenial kurang berperan dalam kehidupan di masa depan, karena lembaga pendidikan belum mampu membangkitkan semangat idealisme dan profil diri kalangan milenial/pemuda berperan sebagai “agen perubahan”
(agent of change)—subjek peradaban dan pembangunan bangsa melalui penguasaan sains dan teknologi, skill (keahlian), sehingga berkontribusi kepada masyarakat, bangsa dan negara.
6) Kurang peka terhadap kehidupan masa depan, pandangan kehidupan (way of life) yang dogmatis dan statis, yang membelenggu
149Muzayyin, KapitaSelekta….Loc Cit, hlm. 34
kebebasan berpikir dan berkreasi sekarang sudah tidak bisa lagi sebagai sandaran sikap bagi kalangan peserta didik, oleh karenanya sekolah sebagai institusi pendidikan harus dapat mendorong peserta didik agar dapat menuntut ilmu untuk kehidupan masa depan sesuai dinamika perkembangan Iptek, sosial, kultur, dan peradaban.
7) Program pendidikan tidak tepat sasaran terhadap kebutuhan pembangunan, program sekolah yang tidak realistis dan tidak memberikan ruang kebebasan berkreasi bagi peserta didik, apalagi berorientasi tidak sesuai dengan kebutuhan pembangunan, tidak akan mendapat respons dari masyarakat.
8) Adanya penyalahgunaan teknologi canggih yang dapat merusak lingkungan hidup. Adanya pendayagunaan tenaga teknologi untuk mengeksploitasi sumber daya alam, yang menyulut protes dan keprihatinan bagi para penggiat lingkungan hidup, seperti: World Wildlife Fund Indonesia (WWF), Greenpeace Indonesia, Zero Waste Indonesia, Diet Kantong Plastik, Your for Climate Change Indonesia (YFCC Indonesia),150 yang gigih memperjuangkan “GreenLife”.151 Penggunaan teknologi secara naif ini juga berakibat pada hancurnya ekosistem alam di muka bumi ini, sehingga bumi sebagai planet menjadi tidak layak lagi ditempati oleh umat manusia, karena
150World Wildlie Fund Indonesia (WWF), organisasi pencinta lingkungan hidup terbesar di dunia, berdiri sejak tahun 1961, berkantor pusat di Gland Swiss, organisasi ini sudah berada di 100 negara termasuk Indonesia. Organisasi ini bertujuan untuk melestarikan alam dan mengurangi ancaman polusi terhadap keanekaragaman kehidupan bumi, seperti perlindungan satwa yang terancam punah, Greenpeace Indonesia, organisasi pencinta lingkungan hidup, bergerak dalam melindungi satwa dan terjaganya ekosistem, seperti pembakaran hutan, polusi udara, sampah plastik, pencemaran laut, perubahan iklim, dan lain-lain;
Zero Waste Indonesia,organisasi yang mencanangkan gaya hidup ramah lingkungan, yaitu dengan memberikan solusi-solusi dalam meminimalisir produksi sampah, sebagai upaya menjaga kelesarian alam. Diet KantongPlastik, organisasi pencinta lingkungan hidup bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat secara luas akan dampak bahaya yang bisa disebabkan oleh kantong plastik di kehidupan masyarakat serta efek samping terhadap bumi; Your for Climate Change Indonesia (YFCC Indonesia), organisasi pencinta lingkungan hidup, bergerak di bidang mitigasi perubahan iklim.
151Green Life, suatu kondisi bumi yang tetap terjaga potensi sumber daya alamnya, sehingga bumi menjadi planet yang tetap layak dihuni oleh manusia beserta flora dan faunanya.
terjadinya krisis sumber daya alam seperti energi, menyusutnya luas lahan hutan, tidak proporsionalnya luas lahan tanah sebagai sumber produksi pangan untuk kebutuhan hidup penduduk bumi, karena berkurangnya lahan sawah dan perkebunan, terjadinya polusi udara, tanah dan air, munculnya beberapa penyakit baru seperti yang sekarang dihadapi yaitu Virus Covid-19 dan punahnya beberapa satwa yang dilindungi. Hal ini bisa menjadikan munculnya ide gila, jika ada planet di luar bumi yang layak ditempati oleh umat manusia, maka barangkali ada manusia yang akan eksodus dari muka bumi dan mencoba bermigrasi ke planet lain yang lebih layak untuk dihuni.
9) Terjadinya kesenjangan antara kaya dan miskin, sekolah sebagai lembaga pendidikan masyarakat dituntut untuk berfungsi mensejahterakan kehidupan ekonomi masyarakat, sehingga sekolah seharusnya dapat memberikan ruang demokrasi dan berbuat adil, serta memberikan porsi yang sama dalam pelaksanaan hak dan kewajiban kepada seluruh peserta didiknya, sehingga kesejahteraan dapat dinikmati bersama.
10) Ledakan jumlah penduduk, Jumlah penduduk Indonesia yang terus meningkat menjadi masalah karena tidak berbading lurus dengan kualitas SDM setiap warga negaranya.152Di sisi lain, meningkatnya pengangguran setiap tahun disesbabkan oleh kelemahan SDM sebagai output lembaga pendidkan, sehingga sekolah dinilai turut berperan menjadi penyebab pengangguran, karena tidak maksimalnya peran dan fungsi lembaga pendidikan di Indonesia dalam menciptakan SDM unggul, termasuk Pendidikan Islam.
11) Sikap pragmatisme mengarahkan pada kehidupan materialisme dan individualisme. Kecenderungan manusia modern saat ini bersifat pragmatis, hanya mementingkan bisnis (business oriented) dan pada sikap kurang peduli dengan nilai-nilai spiritual keagamaan, hal ini dapat mendegradasi kepribadian individu, nilai-nilai kemanusiaan, solidaritas, toleransi, gotong royong, senasib sepenanggungan, hal ini berimplikasi pada pudarnya pola hidup sederhana dan nilai-nilai spiritual yang justru merupakan faktor fundamental dan esensial bagi manusia.
152Vannisa Posted on March 4, 2018, Profil Negara Indonesia, Perpustakaan Online Nasiona,https://perpustakaan.id/profil-negara-indonesia/
12) Menurunnya jumlah dan kualitas ulama tradisional. Fenomena ini terutama terjadi di perkotaan, menuntut tanggung jawab lembaga pendidikan untuk menghadapi bencana sosial ini, dan dapat menghasilkan ulama yang berkualitas sebagai pewaris para Nabi yang meneruskan ajaran-ajarannya untuk mengabdi kepada Allah Swt. sebagai Al Khaliq dan menjaga mu’amalah dengan sesama manusia dalam kehidupan barmasyarakat, berbangsa dan bernegara.153
Mendasari pada fenomena-fenomena tersebut, maka perlu adanya solusi tentang model, sistem, dan strategi Pendidikan Islam untuk mengatasi berbagai macam krisis multidimensi tersebut.