• Tidak ada hasil yang ditemukan

A NALISIS I NDEKS P RIORITAS P ERDAGANGAN

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.2. A NALISIS I NDEKS P RIORITAS P ERDAGANGAN

Penentuan produk-produk prioritas dapat dilakukan dengan beberapa alat analisa yang dapat mengukur tingkat keunggulan produk utama yang menjadi prioritas perdagangan. Salah satu alat analisis tersebut menggunakan indeks prioritas perdagangan yaitu penentuan tingkat prioritas produk didasarkan pada ukuran indeks prioritas produk, dalam skenario request. Dalam proses penetuan indeks prioritas dilakukan melalui dua tahap, yakni:

(i) Tahap penentuan besaran bobot terhadap masing-masing indikator penentu besaran indeks prioritas produk

Indikator penentu besaran indeks prioritas, terdiri dari empat variabel diantaranya: indeks penawaran ekspor, indeks permintaan impor, indeks daya saing dan indeks hambatan tarif perdagangan dari mitra. Masing-masing indikator tersebut memiliki kontribusi terhadap besaran nilai indeks prioritas produk. Dalam hal penentuan bobot masing-masing indikator tersebut, didasarkan atas pertimbangan besaran kontribusi tiap indikator dalam menentukan pertumbuhan industri. Artinya semakin besar kontribusinya dalam meningkatkan laju pertumbuhan industry khususnya manufaktur, yang mencerminkan produktivitas produk domestik yang tinggi. Indikator dengan kontribusi paling besar terhadap laju pertumbuhan industri manufaktur akan diberi bobot yang tinggi dibanding indikator lainnya dengan kontribusi yang lebih rendah. Untuk mengetahui seberapa besar kontribusi masing-masing indikator tersebut, digunakan alat analisis statistik regresi dengan model panel data.

Persamaan regresi panel yang digunakan untuk menilai bobot masing-masing indikator di atas adalah:

π‘™π‘›π‘€π‘Žπ‘›π‘–π‘‘ = 𝛼�+ 𝛼�𝑙𝑛𝐸𝑖𝑑+ 𝛼�𝑙𝑛𝐼𝑖𝑑+ π›ΌοΏ½π‘™π‘›πΌπ‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘–π‘“π‘“π‘–π‘‘ + π›ΌοΏ½π‘‡π‘Žπ‘Ÿπ‘–π‘“π‘“π‘–π‘‘+ 𝛼�𝑙𝑛𝑅𝐢𝐴𝑀𝑑𝑖𝑑+ 𝛼�𝑙𝑛𝑅𝐢𝐴𝑀𝑖𝑑 3.1

Dimana :

π‘™π‘›π‘€π‘Žπ‘›π‘–π‘‘ : laju pertumbuhan natural dari pertumbuhan industri manufaktur untuk produk ke-i pada tahun ke-t;

𝑙𝑛𝐸𝑖𝑑 : laju pertumbuhan natural dari ekspor Indonesia ke dunia untuk produk ke-i pada tahun ke-t;

𝑙𝑛𝐼𝑖𝑑 : laju pertumbuhan natural dari Impor Indonesia ke dunia untuk produk ke-i pada tahun ke-t;

14

π‘™π‘›πΌπ‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘–π‘“π‘“π‘–π‘‘ : laju pertumbuhan natural Impor Indonesia ke dunia pada

tingkat laju pertumbuhan tarif impor untuk produk ke-I pada tahun ke-t;

π‘‡π‘Žπ‘Ÿπ‘–π‘“π‘“π‘–π‘‘ : Tarif impor untuk produk ke- i pada tahun ke-t;

𝑙𝑛𝑅𝐢𝐴𝑀𝑑𝑖𝑑 : laju pertumbuhan natural daya saing produk Indonesia di

dunia pada tingkat laju pertumbuhan tarif impor untuk produk ke-i tahun ke-t;

𝑙𝑛𝑅𝐢𝐴𝑀𝑖𝑑 : laju pertumbuhan natural daya saing produk Indonesia di dunia untuk produk ke-i pada tahun ke-t;

Data yang digunakan dalam regresi panel di atas ditentukan berdasarkan produk-produk yang menjadi komoditas ekspor dan impor Indonesia, baik untuk dunia maupun untuk negara calon mitra. Untuk menghasilkan model regresi yang terbaik, dalam penelitian ini menggunakan beberapa tahapan, yakni : pertama, melakukan uji pemilihan model terbaik antara model fixed effect, random effect atau common effect (Pooled least squared). Uji Chow digunakan terlebih dahulu untuk memilih model terbaik antara fixed effect vs pooled least squared. Setelah didapatkan hasil kemudian dilakukan uji lanjutan antara model fixed effect vs random effect dengan menggunakan uji Hausman. Sebagai bahan pertimbangan dalam pemilihan model, dilakukan pula uji LM untuk menentukan model terbaik antara pooled least squared vs random effect. Ketiga uji tersebut dilakukan secara bertahap hingga didapatkan model yang paling terbaik berdasarkan uji-uji statistik tersebut.

Setelah didapatkan model panel terbaik, maka model tersebut akan dijadikan dasar dalam menganalisa besaran dampak perubahan dari masing-masing variabel independen terhadap perubahan variabel dependen. Dampak yang dimaksud mencerminkan kontribusi dari masing-masing variabel independen, baik laju ekspor, laju impor, laju interaksi impor pada tarif tertentu, laju daya saing produk Indonesia di dunia, tarif impor maupun laju daya saing produk Indonesia di dunia pada tarif tertentu. Semakin besar kontribusi suatu variabel artinya mencerminkan nilai bobot yang tinggi dari variabel tersebut. Hal ini dikarenakan dampak yang diakibatkan oleh variabel tersebut cukup besar dalam mempengaruhi laju pertumbuhan industri manufaktur. Untuk mengetahui dampak langsung dari keempat indikator di atas, diasumsikan bahwa dengan adanya kerjasama perdagangan antara Indonesia dan Kanada akan berdampak pada liberalisasi tarif. Artinya perubahan tarif diasumsikan mendekati nol atau tidak berubah. Bobot masing-masing variabel tersebut disimbolkan dengan koefisien πœ‹πΌπΈ(π‘π‘œπ‘π‘œπ‘‘ π‘–π‘›π‘‘π‘’π‘˜π‘  π‘’π‘˜π‘ π‘π‘œπ‘Ÿ), πœ‹πΌπΌ(π‘π‘œπ‘π‘œπ‘‘ π‘–π‘›π‘‘π‘’π‘˜π‘  π‘–π‘šπ‘π‘œπ‘Ÿ), πœ‹πΌπ‘…πΆπ΄(π‘π‘œπ‘π‘œπ‘‘ π‘–π‘›π‘‘π‘’π‘˜π‘  π‘‘π‘Žπ‘¦π‘Ž π‘ π‘Žπ‘–π‘›π‘”) dan πœ‹πΌπ‘‡(π‘π‘œπ‘π‘œπ‘‘ π‘–π‘›π‘‘π‘’π‘˜π‘  π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘–π‘“π‘“).

15

(ii) Perhitungan Indeks Prioritas Produk

Dalam menganalisis produk prioritas untuk Request dalam negosiasi menggunakan beberapa variable yang terkait dengan penawaran ekspor, permintaan impor, daya saing dan hambatan tarif perdagangan. Variabel-variabel tersebut adalah pertumbuhan ekspor, pertumbuhan impor, daya saing produk Indonesia, dan tarif yang mengacu pada Kajian Puska KPI (2015). Setelah dilakukan penetapan besaran bobot dari masing-masing variabel, selanjutnya dilakukan perhitungan indeks dari masing-masing variabel tersebut sesuai besaran bobot masing-masing. Rincian perhitungan indeks masing-masing variabel ditunjukkan pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1. Perhitungan Indeks dari Variabel Penentu Indeks Prioritas Produk

Indeks Rumus Keterangan

Indeks Penawaran Ekspor

IE = οΏ½π‘‘π‘”πΈβˆ’οΏ½π‘‡π‘ŸπΈοΏ½π‘‡π‘”πΈβˆ’οΏ½πΈ IE: indeks penawaran ekspor NTgE : nilai tertinggi dari Ekspor NE : nilai ekspor pada tahun observasi NTrE : nilai terendah dari ekspor Indeks

Permintaan Impor

II = οΏ½π‘‘π‘”πΌβˆ’οΏ½π‘‡π‘ŸπΌοΏ½π‘‡π‘”πΌβˆ’οΏ½πΌ II: indeks permintaan Impor NTgI : nilai tertinggi dari Impor NI : nilai Impor pada tahun observasi NTrI : nilai terendah dari Impor Indeks Daya

Saing IRCA = οΏ½π‘‡π‘”π‘…πΆπ΄βˆ’οΏ½π‘…πΆπ΄

οΏ½π‘‘π‘”π‘…πΆπ΄βˆ’οΏ½π‘‡π‘Ÿπ‘…πΆπ΄ IRCA: indeks daya saing produk Indonesia

NTgRCA : nilai tertinggi dari daya saing produk Indonesia

NRCA : nilai daya saing produk Indonesia pada tahun observasi

NTrRCA : nilai terendah dari daya saing produk Indonesia

Indeks Hambatan Tarif

IT = οΏ½π‘‡π‘”π‘‡π‘Žπ‘Ÿπ‘–π‘“π‘“βˆ’οΏ½π‘‡π‘Žπ‘Ÿπ‘–π‘“π‘“

οΏ½π‘‘π‘”π‘‡π‘Žπ‘Ÿπ‘–π‘“π‘“βˆ’οΏ½π‘‡π‘Ÿπ‘‡π‘Žπ‘Ÿπ‘–π‘“π‘“ IT: indeks Tarif Indonesia terhadap mitra NTgTarif : nilai tertinggi dari Tarif Indonesia terhadap mitra

NTarif : nilai Tarif Indonesia terhadap mitra pada tahun observasi

NTrTarif : nilai terendah dari Tarif

Analisis penyusunan indeks prioritas perdagangan adalah menyusun beberapa indikator perdagangan dalam suatu indeks untuk menentukan prioritas produk yang akan diajukan dalam request dalam perundingan perdagangan barang Indonesia-mitra. Penyusunan indeks akan menggunakan nilai dengan rentang indeks dari 0 sampai dengan 1. Nilai mendekati nol menunjukkan produk dengan prioritas terendah sedangkan nilai mendekati 1 menunjukkan prioritas produk tertinggi yang akan diajukan dalam request dalam perundingan. Berikut ini adalah formulasi perhitungan indeks prioritas produk dalam request

16

𝐼𝑃𝑃 = πœ‹πΌπΈπΌπΈ + πœ‹πΌπΌπΌπΌ + πœ‹πΌπ‘…πΆπ΄πΌπ‘…πΆπ΄ + πœ‹πΌπ‘‡πΌπ‘‡ Dimana :

IPP : Indeks Prioritas Produk

πœ‹πΌπΈ : Bobot Indeks penawaran ekspor πœ‹πΌπΌ : Bobot Indeks permintaan impor πœ‹πΌπ‘…πΆπ΄ : Bobot Indeks daya saing

πœ‹πΌπ‘‡ : Bobot Indeks hambatan tarif IE : Indeks penawaran ekspor II : Indeks permintaan impor IRCA : Indeks daya saing

IT : Indeks hambatan tarif

Berdasarkan persamaan di atas, dapat didefinisikan Indeks prioritas produk merupakan hasil penjumlahan indeks dari keempat variabel di atas setelah dikali dengan bobot masing-masing variabel. Hasil perhitungan inilah yang digunakan sebagai acuan dalam menentukan produk unggulan yang menjadi prioritas dalam perdagangan, dalam skema request.

Telah disampaikan bahwa dalam menganalisis produk prioritas Request dalam negosiasi menggunakan beberapa variabel yang terkait dengan penawaran, permintaan, daya saing dan hambatan perdagangan. Variabel-variabel tersebut adalah nilai dan pertumbuhan ekspor, nilai dan pertumbuhan impor, daya saing produk Indonesia, dan tarif yang mengacu pada kajian Puska KPI (2015). Rincian masing-masing variabel dapat dilihat pada Gambar 2.4.

Penyusunan indeks akan dilakukan pada masing-masing indikator sebagai berikut:

Sumber : Puska KPI (2015)

ο‚· Tarif mitra &

Indonesia

17

Gambar 2.4. Variabel yang Digunakan dalam Menyusun Indeks Prioritas Request

Variabel-variabel yang digunakan untuk menyusun Indeks Request mengacu pada Puska KPI (2015). Dalam Puska KPI (2015) disampaikan bahwa komoditi yang perlu jadi prioritas untuk dinegosiasikan adalah memiliki peranan (share) yang besar terhadap total ekspor, memiliki pertumbuhan ekspor yang tinggi, memiliki basis keunggulan yang besar, dan proteksi di negara tujuan relatif masih tinggi. Hal yang juga sangat penting adalah besarnya permintaan suatu Negara terhadap suatu produk/komoditi.

Dengan demikian untuk menyusun Indeks Request, dalam analisis ini digunakan beberapa variabel yaitu: Indeks Permintaan Impor, Indeks Penawaran Ekspor, Indeks Daya Saing Produk, dan Indeks Hambatan Perdagangan. Secara khusus Indeks Request terdiri dari Indeks Permintaan Impor mitra, Indeks Penawaran Ekspor Indonesia, Indeks Daya Saing Indonesia dan Indeks Hambatan Perdagangan mitra terhadap produk Indonesia. Sedangkan untuk potensial Indeks Request mitra terdiri dari Indeks Permintaan Impor Indonesia, Indeks Penawaran Ekspor mitra Indeks Daya Saing mitra dan Indeks Hambatan Perdagangan Indonesia terhadap produk mitra.

Selain penggunaan indeks-indeks tersebut di atas, dalam menyusun Indeks Request, juga diperoleh masukan dari pembina sektor para pelaku usaha melalui Focus Group Discussion (FGD).

18

Dokumen terkait