• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. 2. Observasi, wawancara, dan interpretasi partisipan II

Dalam dokumen Harga Diri Remaja Yatim Piatu (Halaman 69-93)

BAB IV. ANALISA DAN INTERPRETASI DATA

IV. A. 2. Observasi, wawancara, dan interpretasi partisipan II

Wawancara dilakukan sebanyak empat kali di Panti Asuhan X dan dilakukan pada: Rabu, 5 September 2007 pukul 16.30 – 17.30; Kamis, 13 September 2007 pukul 17.00 – 18.15; Senin, 3 Maret 2008 pukul 16.30 – 17.30; Selasa, 22 April 2008 pukul 16.45 – 17.30.

Tabel 3. Data Diri Partisipan II

No Dimensi Partisipan

1 Inisial Fery

2 Usia 15 tahun

3 Pendidikan SD : Kelas I – III di Nias (desa Hili Falagŏ), kelas IV-VI di salah satu SD Negeri di Medan

SMP : SMP N 37 di Medan SMK : SMK Medan Putri jurusan Akuntansi

4 Alamat Panti asuhan X

5 Etnis Nias

6 Agama Katolik/Kristen Protestan 7 Urutan dalam keluarga Bungsu dari 7 orang bersaudara 8 Pekerjaan Ayah sebelum

meninggal

Petani 9 Pekerjaan Ibu sebelum

meninggal

Petani

Fery adalah anak bungsu dari tujuh orang bersaudara. Fery lahir di Hili Falagŏ, sebuah desa di Pulau Nias dimana mayoritas warganya menggunakan bahasa Nias sebagai bahasa pergaulan sehari-hari. Fery tinggal bersama kedua orang tuanya yang bermata pencaharian sebagai petani dan menganut agama Kristen Katolik sesuai agama kedua orang tua Rudi.

Fery sudah ditinggal oleh Ibu Fery yang menutup usia sebelum Fery duduk di bangku Sekolah Dasar. Fery tidak memiliki kenangan yang banyak tentang Ibu Fery. Fery bahkan tidak mengetahui penyebab kematian Ibu Fery.

Fery hanya mendengar dari orang lain bahwa Ibu Fery meninggal dunia karena penyakit. Sejak ditinggalkan oleh Ibu, Ayah Fery membesarkan Fery bersama saudara-saudara kandung Fery dan kemudian meninggal dunia ketika Fery duduk di bangku kelas III SD. Setelah kepergian kedua orang tua Fery, Fery tinggal di rumah peninggalan orang tua mereka dan diasuh oleh kakaknya yang kedua.

Ketika Fery memasuki bangku kelas IV SD, atas rujukan dari kakak yang paling tua, Fery dikirimkan ke Panti Asuhan X yang dikelola oleh Gereja tempat kakak Fery beribadah. Seperti kebanyakan alasan seseorang dititipkan ke panti asuhan, Fery dipindahkan ke panti asuhan ini dengan alasan untuk mendapatkan kesempatan pendidikan, kemandirian dan disiplin yang lebih baik. Keperluan sehari-hari termasuk juga biaya sekolah dan pendidikan dibiayai oleh pimpinan panti.

Seperti halnya Rudi, kegiatan Fery dipanti juga harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh panti. Fery bersekolah di SMK Medan Putri di pagi hari dan harus pulang ke panti dengan jadwal yang telah ditetapkan kecuali ada alasan tertentu. Fery memiliki tanggung jawab seperti anak panti lainnya. Sebagai salah seorang senior Fery memiliki beban yang lebih besar untuk memperhatikan adik-adik dipanti.

Ketika memasuki bangku SMP, Fery bersekolah di salah satu SMP Negeri yang ada di kota Medan. Selama duduk di bangku SMP Fery sering mendapatkan ranking kelas dan yang terbaik adalah ketika Fery mendapatkan ranking dua di kelas VIII. Fery juga pernah menjadi pengurus kelas (wakil ketua kelas) ketika duduk di bangku SMP.

Saat ini, Fery bersekolah di salah satu SMK di kota Medan dan mengambil jurusan Akuntansi. Fery menyukai mata pelajaran yang berkaitan dengan hitungan. Fery menjadi salah seorang yang menonjol di mata pelajaran Matematika dan Akuntansi. Di SMK pun Fery masih mendapatkan ranking sepuluh besar. Fery mengikuti ekstrakurikuler komputer dan mengetik di sekolah setiap hari Sabtu karena Fery menganggap bahwa ekstrakurikuler ini akan berguna untuk masa depan.

Di sekolah, Fery adalah orang yang senang berteman dengan orang banyak. Fery bahkan ingin bergabung dengan organisasi pasukan pengibar bendera di SMK itu dengan alasan ingin mempunyai lebih banyak teman lagi. Tetapi karena masalah keuangan dan waktu yang tidak cukup, Fery mencari kegiatan lain yang juga berguna bagi masa depan yaitu komputer dan mengetik. Saat ini Fery sudah bisa mengoperasikan program Powerpoint dan Word.

Pimpinan panti asuhan menyediakan kegiatan yang berguna bagi anak-anak panti. Kegiatan brass band diadakan untuk mengisi waktu dengan lebih berguna. Fery saat ini sudah bisa memainkan cornett. Fery sudah menjadi bagian dari tim brass band panti untuk mengisi acara atas undangan yang diterima oleh panti. Salah satu undangan yang pernah diterima oleh kelompok brass band ini berasal dari salah satu organisasi kemahasiswaan yang ada di Universitas Sumatera Utara. Salah seorang pelatih brass band ini adalah orang yang sangat berpengalaman. Tim bahkan mendapatkan pasokan lagu dari salah seorang pemerhati yang berasal dari luar negeri.

Fery banyak menghabiskan masa muda dengan kegiatan yang bermanfaat di panti asuhan. Fery suka membaca surat kabar karena Fery merasa dengan membaca surat kabar maka wawasan akan dapat lebih terbuka. Di hari libur, Fery besama anak panti yang lain melaksanakan kegiatan olah raga bersama di lapangan merdeka.

Saat lulus nanti Fery bertekad untuk menjadi orang yang berhasil. Fery tidak berkeinginan untuk kembali ke kampung halaman melainkan Fery bertekad untuk mencari pekerjaan di Medan. Bila Fery tidak menemukan pekerjaan atau peluang pendidikan yang lebih baik, Fery memutuskan untuk mencoba peruntungan di perantauan yaitu mengikuti abangnya yang ketiga yang tinggal di Pekanbaru.

a. Observasi umum

Wawancara dengan Fery dilakukan sebanyak tiga kali di ruang kantor dan satu kali di ruang tamu panti asuhan X. Setiap wawancara direkam dengan menggunakan alat perekam kecuali pada pertemuan ketiga. Alat perekam digunakan dan atas izin dari Fery.

Fery berkulit coklat, berambut bergelombang hitam dan berbadan kurus. Fery memiliki tinggi sekitar 1,6 m. Selama beberapa kali pertemuan, Fery selalu menggunakan celana pendek dan atasan kaos. Komunikasi dengan Fery mudah dilakukan dikarenakan Fery langsung mengerti apa yang peneliti sampaikan.

Fery selalu tepat waktu untuk melakukan wawancara dan Fery juga selalu sudah dalam kondisi siap untuk diwawancarai ketika peneliti sampai di panti

asuhan X. Fery selalu sudah menyelesaikan tugas rumahnya sebelum wawancara dimulai.

Seperti pada Rudi, pada wawancara pertama dengan Fery peneliti menjelaskan maksud kedatangannya untuk meminta kesediaan Fery menjadi partisipan dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Setelah Fery menyatakan kesediaanya, wawancara segera dilakukan. Pada hari pertama wawancara peneliti hanya berusaha untuk membangun raport dengan Fery. Wawancara diakhiri ketika peneliti merasa data yang diperlukan sudah didapat.

b. Hasil Wawancara 1) Sejarah hidup

Fery lahir dan besar di desa Hili Falagŏ. Kedua orang tua Fery menghidupi keluarga dengan bertani. Fery memiliki 6 orang saudara. Kakak tertua dan yang kedua saat ini tinggal di kampung (Hili Falagŏ) dan bermata pencaharian seperti kedua orang tuanya. Sedangkan saudara yang ketiga sampai dengan yang keenam tinggal dan bekerja di Pekanbaru. Saat ini saudaranya yang ketiga adalah yang paling berhasil dari seluruh anggota keluarganya. Saudara yang ketiga bekerja di Pekanbaru dan mendapatkan beasiswa untuk bersekolah dari pemerintah Pekanbaru.

Setelah kedua orang tua Fery meninggal, Fery diurus oleh kakaknya yang kedua di desa Hili Falagŏ selama 1 tahun di rumah peninggalan orang tuanya. Kemudian Fery pindah ke panti asuhan X untuk mendapatkan disiplin dan pendidikan yang lebih baik daripada di Nias.

Setelah tinggal di panti asuhan Fery tetap melakukan komunikasi dengan keluarga. Komunikasi dilakukan melalui surat dan telepon. Komunikasi melalui surat dan telepon lebih sering dilakukan ketika menjelang tahun baruan dan ketika Fery memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi. Saudara kandung Fery juga beberapa kali tetap memberikan semangat kepada Fery melalui telepon agar Fery selalu giat belajar dan berprestasi di sekolah.

Sesuai dengan tujuan saudara-saudara Fery yaitu untuk memberikan kesempatan yang lebih baik kepada Fery untuk belajar dan berprestasi, Fery menunjukkan bahwa dia mampu melakukan semuanya dengan baik. Fery memiliki prestasi yang cukup baik di bidang akademis. Fery mampu berprestasi baik ketika bersekolah di Nias maupun setelah pindah ke Medan ketika duduk di kelas III SD. Prestasi akademis yang terbaik adalah pernah menjadi peringkat II di kelas ketika di masih duduk di bangku SMP. Di semester (SMK) terakhir yang Fery lewati, Fery masih mendapatkan peringkat sembilan di kelas. Fery juga pernah menjadi seorang pengurus kelas di SMP yaitu menjadi wakil ketua kelas.

2) Sejarah menjadi yatim piatu

Sejak lahir Fery tinggal dengan kedua orang tua dan enam orang saudara di rumah milik kedua orang tua Fery. Fery menjadi anak yatim piatu ketika dia duduk di bangku kelas III SD. Fery tidak mengingat waktu kematian Ibunya karena Ibu Fery meninggal ketika Fery belum masuk di Sekolah Dasar. Sedangkan ayah Fery meninggal pada saat Fery kelas III SD karena menjadi korban perang antar kampung di Nias. Ayah Fery meninggal pada saat perjalanan

menuju ke rumah mereka. Ketika ditanyakan tentang perasaan Fery setelah tahu orang tuanya meninggal karena perang Fery mengatakan bahwa dia sama sekali tidak mendendam dengan pembunuh ayahnya. Fery tidak tahu pasti siapa pelakunya dan dia merasa tidak perlu menyimpan dendam dengan orang tersebut.

”Yang duluan meninggal itu mama. Fery belum ngerti, waktu itu Fery belum sekolah. Kalau Bapak meninggal waktu aku kelas 3 SD.”

(P2. V.2/L. 35-41/p.1)

“Bapak meninggal karena dibunuh orang waktu ada perang antar kampung. Aku gak tahu apa penyebab perangnya. Itulah Bang kejadiannya, gak usah lagi lah aku pikirkan”

(P2. V.3/L. 7-15/p.1)

Setelah kedua orang tua Fery meninggal dunia Fery tinggal bersama kakak yang kedua di rumah peninggalan kedua orang tua. Dan pada kelas IV SD Fery pindah ke panti asuhan X atas permintaan kakak yang tertua dengan alasan pendidikan dan disiplin yang lebih baik.

“Ketika Bapak meninggal, aku tinggal dengan kakak ke-2 di desa Hili Falagŏ. Ketika masuk kelas IV SD, atas masukan dari kakak paling tua dan suaminya yang merupakan jemaat Balai Keselamatan (mama dan bapak orang Katolik, jadi setelah mereka meninggal aku ikut kakak dan menjadi jemaat Bala Keselamatan) aku dikirimkan ke panti asuhan ini dengan tujuan agar pendidikan yang kudapat lebih baik karena pendidikan di Medan lebih bagus dan juga supaya aku belajar lebih disiplin. Bagi anak yatim piatu boleh tinggal di panti itu. Mereka juga menjelaskan bahwa akulah harapan satu-satunya dari keluarga ini untuk lebih bagus pendidikan dan nasibnya.”

(P2. V.2/L. 48-61/p.2)

Fery menjadi harapan dari seluruh anggota keluarga Telaumbanua (marga Fery) untuk bisa mengubah tingkat kehidupan keluarga yang lebih baik. Fery selalu diberikan semangat oleh saudara-saudara Fery untuk bisa selalu berprestasi seperti yang ditunjukkan sekarang ini.

“Awalnya aku belum mau tinggal di panti. Tapi aku berubah pikiran setelah dijelaskan dulu gimana keadaan di kampung. Katanya aku harus lebih bagus karena akulah harapan satu-satunya keluarga. Kalau orang kakak tamatnnya ada yang SD, SMP, yang paling tinggi SMA lah.”

(P2. V.2/L. 35-41/p.1)

3) Orang-orang yang penting dalam kehidupan Fery

Orang-orang yang paling banyak mempengaruhi kehidupan Fery adalah ayah dan kakak yang tertua. Menurut Fery, ayah Fery adalah seseorang yang sangat gigih dan tidak pernah mengeluhkan kondisi seberat apa pun. Hal ini bahkan ditiru oleh Fery yang juga tidak suka mengeluh ketika menghadapi kesulitan. Pada saat ayah Fery meninggal dunia Fery sedang tertidur dan setelah menerima kabar kematian ayahnya, saudara Fery membangunkan Fery. Fery tidak dapat mempercayai peristiwa itu dan berusaha untuk menolak berita itu. Tetapi sama seperti sifat ayah Fery, Fery tidak mau berlama-lama larut dalam kesedihan dan berusaha melupakan peristiwa itu. Fery juga tidak mau menyimpan dendam pada orang-orang yang ada di desa yang menjadi lawan perang di desa mereka.

Bapaklah Bang. Sama Bapak dulu aku dekat. Karena Mama duluan meninggal, yah. Kan Cuma punya Bapak untuk tempatku mengadu. Yang Fery tiru dari Bapak, Bapak itu orangnya semangat kali, tidak mudah menyerah dan tidak mau mengeluhkan masalah-masalah yang dihadapinya. Itulah yang kusuka dan kutiru dari Bapak.

(P2. V.3/L. 21-30/p.1)

Selain Ayahnya, kakak tertua Fery adalah motivator terbaik bagi dirinya. Kakak Fery sering memberikan masukan dan nasihat kepada Fery untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

“Kakakku yang paling tua Bang, dia banyak kali kasih masukan-masukan dan nasihat-nasihat untuk aku dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan.”

(P2. V.3/L. 33-36/p.1)

Selain ayah dan kakak tertua, orang-orang yang paling penting dalam kehidupan Fery adalah para pengasuh panti dan teman sekolah serta teman panti. Fery lebih banyak berkomunikasi dengan pengasuh panti, teman-teman panti dan sekolah. Para pengasuh panti sering memberikan perhatian dan dukungan kepada Fery. Keperluan seperti buku-buku juga dipenuhi oleh mereka walau kadang terlambat pembayarannya. Fery menganggap semua teman-teman bermain sebagai teman dekatnya. Ketika ditanyakan tentang teman-teman untuk berbagi masalah, Fery berkata bahwa dia akan menceritakan masalahnya kepada siapa pun teman yang sedang bersama dengan dia. Fery tidak memilih-milih teman dalam berbagi suka dan duka.

“Selain kakak yang paling tua, para penghuni panti dan teman-teman sekolah juga orang yang penting buat aku. Bersama penghuni panti, kami sering menghabiskan waktu bersama. Kami juga mendapatkan perhatian yang sangat besar dari para pengurus panti. Mereka sangat menyayangi kami. Kalau ada masalah-masalah aku sering cerita ke teman-teman. Tidak ada satu orang yang spesifik tempat aku bercerita. Kalau aku lagi sedih dan siapa saja yang ada di dekatku yah aku ceritakan saja. Semua teman kuanggap teman dekat buatku.”

(P2. V.3/L. 37-49/p.1-2)

Bagi Fery masa-masa berkumpul dengan ayah, juga teman-teman sekolah dan panti adalah masa-masa yang paling disukainya dan selalu dinantikan. Fery sangat senang ketika ada kegiatan jalan bersama dengan teman-teman panti khususnya tergabung dalam kelompok brass band. Baik kegiatan yang bersifat penampilan maupun bersifat rekreasi, baginya pengalaman-pengalaman itu sangat menyenangkan. Fery sangat senang ketika mereka mendapatkan undangan untuk

mengisi acara dari Sun Plaza dan Griya Doom waktu bulan Desember 2007. Fery juga selalu bersemangat untuk berolahraga dan lari pagi di lapangan merdeka kalau sedang libur sekolah. Ada juga kegiatan gabungan antara panti putra dan putri X yang juga diminatinya.

“Yang paling aku suka waktu-waktu berkumpul bersama teman-teman brass band, panti, sekolah, bersama keluarga dan orang-orang yang kusayangi. Apalagi kalau kumpulnya sambil rekreasi. Misalnya pergi ke Sun Plaza sama anak-anak brass band. Pergi kunjungan BMG baru-baru ini sama kawan-kawan dari sekolah.”

(P2. V.3/L. 37-49/p.1-2)

Dari sekolah juga ada banyak kegiatan yang dilakukan bersama teman-teman yang disayanginya seperti ekskurikuler komputer. Kunjungan ke BMG yang dilaksanakan pada awal semester kelas X dan banyak kegiatan lain. Lingkungan sekolah dan panti yang banyak mempengaruhi kehidupan Fery.

4) Harga diri partisipan II a) Perasaan diterima

Fery tidak pernah merasa kesulitan dan minder dalam bergaul dengan orang-orang yang ada di sekitar. Fery merasa bahwa teman-teman Fery tidak pernah membedakan dia dengan orang lain walaupun mereka tahu bahwa Fery adalah seorang anak yatim piatu. Fery malah merasa bahwa teman-temannya merasa lebih perhatian kepadanya dan berusaha untuk lebih memahami keadaanya sebagai anak yatim piatu.

”Biasa aja. Yah…. Udah biasa. Aku gak pernah merasa minder. Malah makin banyak lagi kawanku. Kurang tau ya bang. Ada sebagian teman Fery yang gak tahu kalau Fery anak yatim piatu, tetapi lebih banyak yang tahu dan mereka tetap mau berteman kok sama aku. Kasihan kali lah kalau ada orang yang gak punya teman.”

(P2. V.2/L. 381-402/p.9)

Menurut Fery, semakin hari jumlah teman yang dimiliki Fery semakin bertambah. Menurut Fery, teman-teman yang ada di sekitar tidak pernah menghina keadaan Fery sebagai anak yatim piatu. Fery bahkan merasa kalau mereka sangat kompak satu dengan yang lain. Fery sering diongkosi oleh temannya jika mereka pergi ke suatu tempat dan Fery tidak mempunyai ongkos. Hal itu dilakukan oleh teman-teman karena mereka merasa tidak lengkap jika Fery tidak ikut pergi bersama mereka.

”Justru mereka malah mengerti keadaan kita ya. Aku enggak mau merasa kecil hati sebagai anak yatim piatu. Enggak bang. Justru karena ada teman-teman Fery enggak pernah merasa begitu. Kami kompak, ikut satu harus ikut semua.”

(P2. V.2/L. 321-326/p.7-8)

Fery merasa sangat senang jika bisa memiliki banyak teman. Hal inilah yang menjadi motivasi bagi Fery ingin bergabung di Pasukan Pengibar Bendera (PASKIBRA) sekolah Medan Putri. Jika bergabung dengan PASKIBRA Medan Putri Fery bisa lebih mudah menjalin persahabatan dengan teman-teman yang berasal dari Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Teknik Menengah Medan Putri. Sangat disayangkan Fery tidak memiliki waktu dan biaya yang cukup untuk dapat mengikuti organisasi ini. Diperlukan biaya yang besar untuk pengadaan seragam PASKIBRA pada saat pengibaran bendera pada upacara peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia dan upacara-upacara besar lain.

“Senanglah Bang banyak teman. Kan enak punya banyak teman. Aku mau masuk di PASKIBRA juga karena supaya tambah banyak lagi teman-temanku. Kalau masuk PASKIBRA juga bakal dapat teman-teman dari

SMA dan STM dan di sekolah Medan Putri.Karena PASKIBRAnya gabungan.”

(P2. V.3/L. 118-125/p.3)

Menurut Fery, dia adalah orang yang disukai oleh teman-teman yang ada di lingkungan sekitar. Fery berpendapat demikian karena menurut Fery dia dapat melakukan banyak hal. Fery juga percaya bahwa dia adalah orang yang menyenangkan dan tidak suka membuat teman-teman kesulitan.

b) Perasaan berharga

Fery berusaha menjalani hari-hari seperti biasa, walaupun sering menemukan hambatan dalam kehidupan. Fery berusaha memahami kondisi sebagai anak yatim piatu. Seperti kebanyakan anak yatim piatu, Fery juga memiliki masalah keuangan. Fery merasa kesulitan kalau guru sudah meminta uang buku dari mereka. Guru-guru juga pernah menanyakan apakah anak-anak panti bayar atau tidak yang membuat Fery sering merasa malu. Fery terkadang merasa pandangan dari para guru tentang anak yatim piatu tidak baik dan hal ini mengganggu perasaan Fery.

“Aku hanya menjalani hari-hariku seperti biasa, hanya saja terkadang menemukan masalah keuangan. Aku menerima saja keadaanku ini. Yang agak sulitnya, kalau guru sudah menagih pembayaran uang buku. Kadang-kadang menyebutkan anak-anak panti bayar tidak. Aku Kadang-kadang malu sendiri, padahal teman-teman yang lain biasa saja.”

(P2. V.2/L. 158-160/p.4)

Sebagai seorang anak yatim piatu yang sedang bersekolah di tingkat Sekolah Menengah Kejuruan, Fery merasa bahwa dia memiliki kekurangan dan kelebihan. Fery sering mendapatkan ranking kelas dan merasa bangga akan

prestasi yang telah dicapainya ini. Fery dengan bangga menunjukkan kepada saudara-saudara dan teman-teman bahwa Fery yang seorang anak yatim piatu dan kekurangan dalam hal finansial tetap bisa mendapatkan ranking kelas.

“Lumayan jugalah Bang. Aku Pernah juara 2, juara 3 waaktu di SMP. Orang kakak senang kali mendengar itu. Aku disuruh lebih rajin lagi belajar.”

(P2. V.2/L. 73-85/p.2)

Fery juga yakin dengan kemampuan yang dimiliki di bidang Matematika dan Akuntansi. Menurut Fery, Fery sering disuruh oleh guru mata pelajaran Matematika dan Akuntansi untuk mengerjakan tugas yang sulit ke papan tulis. Teman-teman sering bertanya kepada Fery soal-soal yang sulit tentang mata pelajaran ini. Fery juga selalu mengerjakan pekerjaan rumah mata pelajaran Akuntansi dan Matematika pada hari saat tugas itu diberikan. Fery selalu mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan pada hari tugas itu diberikan tetapi tugas yang dianggap mudah sering ditunda pengerjaannya.

Fery juga pernah menjadi pengurus kelas yaitu sebagai wakil ketua kelas di kelas I SMP. Dia menjadi pengurus kelas atas permintaan beberapa orang teman dan wali kelas. Sebenarnya teman-teman Fery meminta Fery menjadi ketua kelas, tetapi Fery tidak menyanggupi permintaan dari teman-teman. Akhirnya Fery memutuskan menjadi ketua kelas untuk tetap menghormati permintaan teman-teman. Walaupun pernah memiliki pengalaman sebagai pengurus kelas fery tidak pernah memiliki pengalaman berorganisasi di salah satu organisasi yang ada di sekolah baik di SMP maupun di SMA. Hal ini di karenakan Fery merasa memiliki waktu dan biaya yang sangat terbatas.

“Aku pernah jadi wakil ketua kelas waktu di SMP. Sebenarnya aku juga ditunjuk teman-teman untuk jadi ketua kelas, tapi aku takut gak bisa karena aku kan orang gak punya Bang.”

(P2. V.3/L. 82-86/p.2)

Seperti pada remaja lain secara umum. Fery juga mempunyai seorang teman wanita yang disukai yang bernama Nike. Nike juga menyukai Fery karena menurut Nike, Fery adalah anak yang baik dan pintar. Nike dan Fery duduk di

Dalam dokumen Harga Diri Remaja Yatim Piatu (Halaman 69-93)

Dokumen terkait