4 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
5.2 Faktor Dominan Yang Mempengaruhi KKL
5.2.2 A’WOT untuk Daerah Perlindungan Laut Blongko
Berdasarkan analisis yang dilakukan telah teridentifikasi faktor faktor yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi kegiatan pengelolaan KKL berbasis masyarakat (DPL Blongko) (Tabel 18).
Tabel 18 Faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang teridentifikasi dalam pengelolaan DPL Blongko.
Berdasarkan Tabel 18, untuk pengelolaan KKL berbasis masyarakat (DPL Blongko), diperoleh faktor kekuatan berturut turut sebagai berikut : sesuai dengan aspirasi dan budaya masyarakar sehingga mudah diterima masyarakat, proses perencanaannya bersifat dari bawah (bottom up), adanya dukungan peraturan perundangan seperti Undang Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan dan Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, pengawasan lebih efisien, tingginya dukungan LSM lokal, nasional dan internasional dalam pengembangan KKL, serta adanya hukum adat/aturan desa yang menunjang pengelolaan perikanan berkelanjutan.
Faktor kelemahan yang teridentifikasi adalah tidak mampu mengatasi permasalahan yang bersifat interkoneksitas karena bersifat spesifik lokal, sangat
Kekuatan (St rengt hs) Kelemahan (Weaknesses)
a. Sesuai aspirasi dan budaya masyarakat b. Proses perencanaan dari bawah
(bot t om up)
c. Dukungan perat uran perundangan yang t erkait dengan pengat uran dan pengembangan KKL
d. Pengawasan lebih ef isien e. Tingginya dukungan LSM lokal dan
nasional dalam pengembangan KKL f . Adanya hukum adat / at uran lokal yang
menunj ang Pengelol aan perikanan berkelanj ut an
a. Tidak mampu mengat asi permasalahan yang bersif at int erkomunit as karena bersif at spesif ik lokal
b. Sangat rent an t erhadap perubahan ekst ernal c. Biaya inst it usional t inggi
d. Tidak mampu mengat asi dan menj awab persoalan yang bersif at global dan universal
Peluang (Opport unit ies) Ancaman (T hreat s)
a. Tingginya keinginan/ t arget pemerint ah unt uk mengembangkan KKL.
b. Tingginyan dukungan LSM lokal, nasional , int ernasional dan negara donor t ent ang pembiayaan. c. Adanya penghargaan dunia
int ernasional
a. Adanya dampak pariwisat a
b. Terj adinya kerusakan habit at akibat kegiat an penangkapan ikan yang t idak ramah
lingkungan
c. Adanya pencemaran (sampah) rumah t angga d. Adanya permint aan ikan karang dan biot a
lainnya.
e. Degradasi SDA secara alami (Nat ural). f . Tingginya ket ergant ungan masyarat t erhadap
rentan terhadap perubahan eksternal, biaya institusional tinggi dan tidak mampu mengatasi dan menjawab persoalan yang bersifat global dan universal.
Untuk faktor peluang yang mendukung pengelolaan KKL berbasis masyarakat adalah tingginya keinginan/target pemerintah untuk mengembangkan KKL, tingginya dukungan LSM lokal, nasional, internasional dan negara donor tentang pembiayaan serta adanya penghargaan dunia internasional.
Untuk faktor ancaman dalam pengelolaan KKL berbasis masyarakat adalah tingginya dampak pariwisata, tingginya kerusahan habitat akibat penangkapan ikan tidak ramah lingkungan, tingginya pencemaran rumah tangga (sampah), tingginya permintaan ikan karang dan biota lainnya, tingginya ketergantungan masyarat terhadap sumberdaya perikanan, degradasi SDA secara alami dan tingginya ketergantungan masyarakat terhadap sumberdaya perikanan.
Untuk lebih merinci tentang faktor dominan dalam pengembangan pengelolaan KKL berbasis masyarakat di DPL Blongko sebagaimana analisis yang telah dilakukan, berikut ini disampaikan uraian tingkat prioritas dari masing- masing faktor:
Tabel 19 Hasil analisis komponen SWOT pengelolaan DPL Blongko.
Komponen SWOT Bobot Prioritas
Relatif
St rengt hs (S) 0. 246592 P2
Weaknesses (W) 0. 111337 P3
Opport unit ies (O) 0. 382605 P1
Threat s (T) 0. 093066 P4
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan ternyata faktor peluang/kesempatan menjadi prioritas utama dalam kegiatan pengembangan dan pengelolaan DPL Blongko yaitu sebesar 0.38, baru kemudian diikuti oleh faktor kekuatan sebesar 0.25, faktor kelemahan sebesar 0.11 dan faktor ancaman sebesar 0.09.
Adanya target pemerintah untuk mengembangkan KKL, adanya dukungan LSM lokal, nasional, internasional dan negara donor dalam hal pembiayaan serta adanya penghargaan dunia internasional untuk mengembangkan kawasan
konservasi laut ternyata merupakan faktor dominan dalam kegiatan pengelolaan KKL berbasis masyarakat di kawasan DPL Blongko.
5.2.2.1 Prioritas pada faktor kekuatan
Berdasarkan pengamatan dan analisis yang dilakukan telah teridentifikasi faktor kekuatan yang mendukung dalam pengembangan pengelolaan DPL Blongko- KKL berbasis masyarakat (Tabel 20).
Tabel 20 Hasil analisis faktor kekuatan pengelolaan DPL Blongko.
Faktor Kekuatan (Strength) Bobot Prioritas Relatif Sesuai aspirasi dan budaya masyarakat sehingga mudah
dit erima masyarakat 0. 047691 P3
Proses perencanaannya bersif at dari bawah (bot t om up) 0. 058518 P2 Dukungan perat uran perundangan yang t erkait dengan
pengat uran dan pengembangan KKL 0. 059353 P1 Pengawasan lebih ef isien 0. 036448 P4 Tingginya dukungan LSM lokal dan nasional dalam
pengembangan KKL 0. 019397 P5
Adanya at uran desa/ hukum adat yang menunj ang
pengelolaan perikanan berkelanj ut an 0. 014412 P6
Berdasarkan hasil analisis yang ditampilkan pada Tabel 20, adanya dukungan peraturan perundangan yang terkait dengan pengaturan dan pengembangan KKL seperti UU No. 31 tahun 2004 tentang Perikanan dan UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi faktor prioritas utama dalam pengelolaan KKL berbasis masyarakat dengan nilai sebesar 0.06, diikuti proses perencanaan yang bersifat dari bawah (0.06), kesesuaian dengan aspirasi dan budaya masyarakat yang mudah diterima masyarakat (0.05), pengawasan lebih efisien (0.04), tingginya dukungan LSM lokal dan nasional dalam pengembangan KKL (0.02), serta adanya hukum adat/aturan desa yang menunjang pengelolaan perikanan berkelanjutan sebesar 0.01.
Adanya dukungan peraturan perundangan seperti Undang Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan menjadi faktor prioritas utama dalam kekuatan untuk mengembangan pengelolaan KKL berbasis masyarakat, karena undang- undang merupakan produk hukum tertinggi sehingga akan memberikan kepastian hukum dalam pengembangan KKL berbasis masyarakat tersebut. Diuraikan secara jelas dalam pasal 1 ayat 8 UU No 31 tahun 2004 bahwa konservasi
sumberdaya ikan adalah upaya perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya ikan, termasuk ekosistem, jenis dan genetik untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragaman sumberdaya ikan. Selain itu diuraikan juga dalam pasal 13 ayat 1 bahwa dalam rangka pengelolaan sumberdaya ikan, dilakukan upaya konservasi ekosistem, konservasi jenis ikan dan konservasi genetika ikan. Demikian juga dalam Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, pasal 18 ayat 1, menerangkan bahwa daerah memiliki kewenangan dalam mengelola sumberdaya di wilayah laut yang salah satunya diperuntukan untuk konservasi.
5.2.2.2 Prioritas pada faktor kelemahan
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dapat dirumuskan bahwa faktor utama dalam kelemahan pada pengembangan pengelolaan DPL Blongko adalah besarnya biaya institusional dengan nilai 0.02 (Tabel 21). Sebagai sebuah upaya yang berasal dari masyarakat tentunya faktor biaya menjadi faktor yang dominan, baru kemudian diikuti oleh tidak mampunya mengatasi permasalahan yang bersifat interkomunitas karena bersifat spesifik lokal, kemudian diikuti sangat rentannya terhadap perubahan eksternal dan ketidakmampuan mengatasi dan menjawab persoalan yang bersifat global dan universal.
Tabel 21 Hasil analisis faktor kelemahan pengelolaan DPL Blongko.
Faktor Kelemahan (Weaknesses) Bobot Prioritas Relatif Tidak mampu mengat asi permasalahan yg bersif at
int erkomunit as 0. 013235 P2
Sangat rent an t erhadap perubahan ekst ernal 0. 011013 P3 Biaya inst it usional t inggi 0. 018393 P1 Tidak mampu mengat asi dan menj awab persoalan yang
bersif at global dan universal 0. 010632 P4
Dukungan operasional untuk institusi yang mengelola kawasan konservasi laut memerlukan biaya yang cukup tinggi, sebagai sebuah pilot project DPL yang berbasis masyarakat tentunya memerlukan proses cukup lama (3-5 tahun) dalam pembentukannya serta dengan dukungan pendanaan proyek pesisir (1996-2002). Jadi cukup beralasan apabila masalah pembiayaan institusional menjadi faktor utama sebagai pilot project pengelolaan KKL berbasis masyarakat.
5.2.2.3 Prioritas pada faktor peluang
Berdasarkan hasil analisis diatas terlihat bahwa prioritas utama pada faktor peluang dalam pengembangan pengelolaan KKL berbasis masyarakat adalah ternyata terlihat pada adanya penghargaan dunia internasional (0.12), baru kemudian diikuti oleh tingginya dukungan LSM daerah, nasional dan internasional serta adanya negara donor yang siap memberikan pembiayaan dengan nilai 0.09, baru kemudian diikuti oleh adanya target pemerintah untuk mengembangkan kawasan konservasi laut (0.09).
Tabel 22 Hasil analisis faktor peluang pengelolaan DPL Blongko.
Faktor Peluang (Opportunities) Bobot Prioritas Relatif Tingginya keinginan/ t arget pemerint ah
unt uk mengembangan KKL 0. 087891 P3
Tingginyan dukungan NGO daerah, nasional, int ernasional dan negara donor dalam pembiayaan
0. 091933 P2 Adanya penghargaan dunia int ernasional
di bidang konservasi 0. 116379 P1
5.2.2.4 Prioritas pada faktor ancaman
Berdasarkan pengamatan dan analisis yang dilakukan telah teridentifikasi faktor ancaman dalam pengembangan pengelolaan DPL Blongko sebagai KKL berbasis masyarakat.
Tabel 23 Hasil analisis faktor ancaman dalam pengelolaan DPL Blongko.
Faktor Ancaman (Threats) Bobot Prioritas Relatif
Adanya dampak pariwisat a 0. 006778 P5
Terj adinya kerusahan habit at akibat kegiat an penangkapan
ikan yang t idak ramah lingkungan 0. 020073 P2 Adanya pencemaran (sampah) rumah t angga 0. 005803 P6 Adanya permint aan ikan karang dan biot a lainnya 0. 013494 P3
Degradasi SDA secara alami (Nat ural) 0. 007023 P4
Tingginya ket ergant ungan masyarakat t erhadap sumberdaya
perikanan 0. 023856 P1
Tabel 23 menunjukkan bahwa ancaman utama dalam pengelolaan DPL Blongko sebagai KKL berbasis masyarakat adalah adanya tingkat ketergantungan
yang tinggi pada masyarakat terhadap sumberdaya perikanan dengan nilai 0.02, baru kemudian diikuti dengan adanya kerusahan habitat akibat penangkapan ikan tidak ramah lingkungan, kemudian diikuti oleh tingginya permintaan ikan karang dan biota lainnya, degradasi SDA secara alami, dampak pariwisata, kemudian baru diikuti oleh pencemaran rumah tangga.
Jadi tingginya tingkat ketergantungan masyarakat pada sumberdaya perikanan menjadi faktor ancaman utama dalam pengembangan kawasan konservasi laut berbasis masyarakat, hal ini sangat beralasan karena apabila masyarakat sangat menggantungkan pada sumberdaya perikanan sebagai satu satunya mata pencaharian, maka akan mempercepat proses degredasi sumberdaya tersebut dan mengancam kelestarian ekosistem.
5.2.2.5 Alternatif kebijakan pengelolaan DPL Blongko
Pengamatan dan analisis yang dilakukan dapat ditentukan berbagai alternatif kebijakan pengelolaan DPL Blongko sebagai KKL berbasis masyarakat
Tabel 24 Hasil analisis kebijakan pengelolaan DPL Blongko.
Kebij akan Pengelolaan KKL Bobot Prioritas Relatif Penguat an perat uran perundangan yang menunj ang
pengelolaan perikanan berkelanj ut an 0. 091419 P6 Penguat an model pengelolaan KKL skala lokal dan nasional 0. 186751 P1 Pengembangan KKL baru dalam j aringan KKL t erpadu agar
pengelolaan ef ekt if 0. 077513 P8
Pengembangan sist em zonasi KKL berbasis keilmuan dan
kepent ingan masyarakat lokal 0. 126198 P3 Pengembangan kegiat an perikanan dan penggunaan alat
t angkap ramah lingkungan di KKL 0. 087593 P7 Peningkat an kualit as SDM dan pemberdayaan masyarakat
(mat a pencaharian Alt ernat if ) 0. 090871 P5 Pengembangan sist em pengawasan berbasis masyarakat
dan penegakan hukum 0. 114922 P4
Peningkat an kerj asama & membangun co-management
dengan st akehol ders 0. 132529 P2
Alternatif kebijakan prioritas dalam pengelolaan DPL Blongko sebagai KKL berbasis masyarakat secara berturut turut sebagai berikut :
1) Penguatan model pengelolaan KKL skala lokal dan nasional
3) Pengembangan sistem zonasi KKL berbasis keilmuan dan kepentingan masyarakat lokal
4) Pengembangan sistem pengawasan berbasis masyarakat dan penegakan hukum
5) Peningkatan kualitas SDM dan pemberdayaan masyarakat (mata pencaharian alternatif)
6) Pengembangan kegiatan perikanan dan penggunaan alat tangkap ramah lingkungan di KKL
7) Penguatan peraturan perundangan-undangan yang menunjang pengelolaan perikanan berkelanjutan
8) Pengembangan KKL baru dalam jaringan KKL terpadu untuk mendukung pengelelolaan yang efektif
Berdasarkan hasil analisis pada kedua model kawasan konservasi laut, yaitu taman nasional dan daerah perlindungan laut dapat kita lihat faktor-faktor dominan yang terdapat pada kedua KKL (Tabel 25).
Tabel 25 Sandingan faktor-faktor dominan dan alternatif kebijakan pengembangan TN Bunaken dan DPL Blongko.
TN Bunaken DPL Blongko Keterangan
Kekuatan
UU No. 5 t ahun1990, UU No. 41 t ahun 1999
UU No. 31 t ahun 2004, UU No. 32 t ahun 2004, Perda No. 2 t ahun 2002 dan Keput usan Desa Blongko
Sebagai aspek legal yang menj adi priorit as ut ama Sist em pengelolaan diat ur
oleh at uran f ormal
Proses perencanaannya bersif at dari bawah (bot t om up)
Mampu menj awab persoalan yang bersif at global
Sesuai dgn aspirasi dan budaya masyarakat dan mudah dit erima masyarakat
Masalah yang sif at nya int erkomunit as dapat diat asi karena bersif at nasional
Pengawasan lebih ef isien
Tingginya dukungan LSM lokal dan nasional dal am pengembangan KKL
Tingginya dukungan LSM lokal dan nasional dalam pengembangan KKL
Tingginya keinginan pemerint ah dalam pengembangan perikanan berkelanj ut an
Adanya at uran desa/ hukum adat yang menunj ang pengelolaan perikanan berkelanj ut an
Kelemahan
proses perencanaan bersif at dari at as (t op down)
besarnya biaya inst it usional (biaya pil ot proj ect)
Adanya perbedaan pada priorit as pert ama f akt or kelemahan
kurang sesuai dengan aspirasi dan budaya masyarakat lokal
t idak mampunya mengat asi permasalahan yang bersif at int erkoneksit as-spesif ik lokal kebij akan t umpang t indih
dan konf lik kepent ingan
sangat rent an t erhadap perubahan ekst ernal
Penegakan hukum relat if lemah dan pengawasan kurang ef isien sebesar
ket idakmampuan mengat asi dan menj awab persoalan yang bersif at global dan universal Peluang
t ingginya dukungan LSM daerah, nasional dan int ernasional sert a adanya negara donor yang siap memberikan pembiayaan
adanya penghargaan dunia int ernasional
Adanya perbedaan pada urut an priorit as f akt or peluang
adanya penghargaan dunia int ernasional
t ingginya dukungan LSM daerah, nasional dan int ernasional sert a adanya negara donor yang siap memberikan pembiayaan t ingginya t arget pemerint ah
unt uk mengembangkan kawasan konservasi laut
adanya t arget pemerint ah unt uk mengembangkan kawasan konservasi laut
Ancaman
adanya dampak pariwisat a adanya ket ergant ungan yang t inggi masyarakat t erhadap sumberdaya perikanan
Adanya perbedaan pada urut an priorit as f akt or ancaman
adanya pencemaran rumah t angga (sampah)
adanya kerusahan habit at akibat penangkapan ikan t idak ramah lingkungan
adanya kerusahan habit at akibat penangkapan ikan yang t idak ramah lingkungan
adanya permint aan ikan karang dan biot a lainnya
adanya ket ergant ungan masyarakat t erhadap sumberdaya perikanan
degradasi SDA secara alami
(Nat ural)
degredasi SDA secara alami adanya dampak pariwisat a adanya permint aan ikan
karang dan biot a lainnya unt uk perdagangan
adanya pencemaran rumah t angga (sampah)
Alternatif Kebij akan
Penguat an model Pengelolaan KKL skala
nasional dan j aringan KKL skala lokal
Penguat an model pengelolaan KKL skala lokal dan nasional
Adanya persamaan pada priorit as penet apan
alt ernat if kebij akan Peningkat an kerj asama dan
membangun co-management
dengan seluruh st akehol ders
Peningkat an kerj asama & membangun co-management
dengan seluruh st akehol ders
Penguat an sist em zonasi KKL berbasis keilmuan & kepent ingan masyarakat lokal
Penguat an sist em zonasi KKL berbasis keilmuan & kepent ingan Masyarakat Lokal
Penguat an sist em pengawasan berbasis masyarakat dan penegakan hukum
Pengembangan sist em pengawasan berbasis masyarakat dan penegakan
hukum Pengembangan KKL baru dalam j aringan KKL t erpadu agar pengelolaan ef ekt if
Peningkat an kualit as SDM melalui pemberdayaan masyarakat (mat a
pencaharian alt ernat if ) Penguat an kegiat an
perikanan dan penggunaan alat t angkap ramah lingkungan di KKL
Penguat an kegiat an perikanan dan penggunaan alat t angkap ramah lingkungan di KKL
Penguat an perat uran perundangan yang menunj ang pengelolaan perikanan berkelanj ut an
Penguat an perat uran perundangan yang menunj ang
pengeloaan perikanan berkelanj ut an
Peningkat an kualit as SDM melalui pemberdayaan masyarakat (mat a pencaharian Alt ernat if )
Pengembangan KKL baru dalam j aringan KKL t erpadu agar pengelolaan ef ekt if .
Berdasarkan Tabel 25, faktor kekuatan untuk pengelolaan kawasan konservasi laut baik TN Bunaken maupun DPL Blongko, adalah adanya aspek legal yang mendukung dan tingginya dukungan LSM baik lokal, nasional dan internasional sebagai faktor dominan yang mempengaruhi pengelolaan kedua kawasan konservasi laut tersebut. Sedangkan faktor kelemahan relatif berbeda. Faktor kelemahan TN Bunaken adalah perencanaan yang bersifat dari atas (top down) sedangkan untuk DPL Blongko adalah tingginya biaya institusional. Untuk faktor peluang baik TNL maupun DPL relatif sama yaitu adanya penghargaan dari dunia internasional, dukungan LSM dan target pemerintah untuk mengembangkan kawasan konservasi laut, sedangkan untuk faktor ancamannya juga relatif sama, yaitu adanya aktivitas tidak ramah lingkungan baik ancaman pencemaran rumah tangga, dampak pariwisata, dan adanya degredasi habitat secara alami akibat abrasi serta ketergantungan masyarakat terhadap sumberdaya alam di kawasan konservasi laut yang tinggi.
Berdasarkan beberapa persamaan faktor dominan baik dalam kekuatan, peluang dan ancaman, maka alternatif kebijakan yang ditetapkan pun hampir sama
baik TN Bunaken maupun DPL Blongko yaitu pengembangan model pengelolaan KKL skala nasional dan skala lokal sebagai satu jaringan kawasan konservasi laut, peningkatan kerjasama dan membangun co-management dengan seluruh stakeholders, pengembangan sistem zonasi KKL berbasis keilmuan & kepentingan masyarakat lokal, pengembangan sistem pengawasan berbasis masyarakat dan penegakan hukum, pengembangan kegiatan perikanan dan penggunaan alat tangkap ramah lingkungan di KKL, penguatan peraturan perundangan yang menunjang penglelolaan perikanan berkelanjutan dan peningkatan kualitas SDM pengelola kawasan konservasi laut dan pemberdayaan masyarakat dengan mengembangkan mata pencaharian alternatif yang mengarah pada pengurangan ketergantungan pemanfaatan sumberdaya alam secara langsung maupun melalui pengaturan pemanfaatan yang jelas dalam zonasi kawasan konservasi laut yang dikembangkan serta mengembangkan usaha perikanan dengan cara cara penangkapan ikan yang ramah lingkungan.