BAB II TINJAUAN PUSTAKA
D. Abrasi dan Penanggulangannya
Wilayah pesisir adalah suatu wilayah peralihan antara daratan dan lautan, apabila ditinjau dari garis pantai wilayah pesisir memiliki dua macam batas yaitu batas sejajar garis pantai dan batas tegak lurus garis pantai. Salah satu tujuan pengelolaan wilayah pesisir adalah untuk mengendalikan abrasi pantai.
Menurut Sunarto (2009) Abrasi merupakan peristiwa terkikisnya alur-alur pantai akibat gerusan air laut. Gerusan ini terjadi karena permukaan air laut mengalami peningkatan. Naiknya permukaan air laut ini disebabkan mencairnya es di daerah kutub/censor akibat pemanasan global, selain itu kurangnya kesadaran masyarakat untuk melestarikan hutan bakau atau mangrove.
Kawasan pesisir merupakan daerah pengembangan perekonomian yang mengalami degradasi serta penurunan produktivitas karena adanya abrasi pantai, pencemaran dan perusakan hutan pantai. Kegiatan aktifitas yang mengakibatkan penurunan kualitas pesisir di antaranya adalah:
1. Penambangan bahan galian C (pasir pantai) 2. Penebangan liar hutan pantai
3. Tekanan gelombang pada saat pasang yang mengakibatkan abrasi pantai.
Anonim (2011) Abrasi adalah suatu proses pengikisan pantai yang disebabkan oleh gerakan gelombang dan hempasan ombak. Ada beberapa faktor
24
yang menyebabkan hal tersebut. Faktor alam misalnya karena adanya perubahan bentuk dan posisi muara sungai. Sedangkan aktifitas manusia juga dapat menyebabkan proses abrasi terjadi karena adanya keterkaitan ekosistem yang satu dengan yang lainnya seperti perubahan iklim.
Hutabarat (2011) Gelombang ombak sendiri terbagi menjadi dua, yaitu gelombang menyebar dan gelombang memusat. Gelombang yang paling berbahaya tentunya gelombang memusat yang langsung mengarah ke pantai. Jika karang pantai hilang maka gelombang akan menggerus pantai dan menyebabkan abrasi. Dampak yang diakibatkan oleh abrasi ini sangat besar, garis pantai akan semakin menyempit dan apabila tidak diatasi lama-kelamaan daerah-daerah yang permukaannya rendah akan tenggelam.
Azman (2010) Wilayah pesisir adalah wilayah yang unik, di mana ekosistemnya terdiri dari komponen hayati dan fisik yang rentan terhadap perubahan, hal ini disebabkan dataran pesisir merupakan kawasan transisi antara pengaruh daratan dan laut, menyebabkan dataran pesisir merupakan kawasan yang dinamis. Sebagai daerah transisi menyebabkan kawasan pesisir memiliki perubahan fisik yang cepat, karena adanya proses Fluvial, marin dan eolian yang saling berinteraksi. Proses perubahan maju mundurnya garis pantai sangat ditentukan oleh proses tersebut, di mana perubahan maju (akresi) didominasi oleh proses fluvial, sedangkan perubahan mundur (rekresi) lebih ditentukan oleh proses marin yang kuat.
Azman (2010) menyatakan Ada 2 macam faktor penyebab perubahan pesisir, yaitu:
25
1. Faktor alami, seperti gelombang laut, arus, angin, sedimentasi, topograsi pesisir dan pasang surut.
2. Faktor manusia, seperti penambangan pasir, reklamasi pantai, pengrusakan vegetasi pantai.
Lebih lanjut Azman (2010) mengatakan bahwa pada saat gelombang mendekati pantai, bentuk gelombang akan berubah dan begitu sampai di pantai akhirnya pecah. Hal ini disebabkan oleh karena gerakan melingkar dari partikel-partikel yang terletak di bagian paling bawah gelombang dipengaruhi oleh gesekan dari dasar laut di perairan yang dangkal. Bekas jalan yang ditinggalkan oleh gerakan tersebut kemudian berubah menjadi elips. Hal ini mengakibatkan perubahan besar terhadap sifat gelombang. Gelombang yang memecah di pantai merupakan penyebab utama terjadinya proses erosi dan akresi (pengendapan) garis pantai. Karakteristik gelombang ini tergantung pada kecepatan angin, durasi dan daya seret gelombang (fetch). Pada saat gelombang memecah bibir pantai terjadi (run up) kemudian surut kembali ke laut, dan membawa sedimen/material di sekitar pantai. Sedimen ini disebut (littoral drift). Sebagian besar gelombang datang dengan membentuk sudut tertentu terhadap garis pantai (longshore current) yang menggerakkan littoral drift sekitar garis pantai dalam bentuk
zig-zag sebagai akibat datang dan surutnya gelombang laut. Gerakan zig-zig-zag ini terjadi karena sebagian besar gelombang yang datang membentuk sudut tertentu terhadap garis pantai. Gelombang yang datang ini memiliki energi yang besar yang mendorong sedimen searah dengan sudut datang gelombang sehingga mencapai tepi pantai. Ketika gelombang kembali turun ke arah laut, sedimen
26
yang berada di atas memiliki energi potensial. Dengan energi potensial ini, sedimen jatuh tegak lurus dengan garis pantai. Gerakan ini terjadi di sepanjang pantai.
Anonim (2008) Abrasi disebabkan oleh naiknya permukaan air laut di seluruh dunia karena mencairnya lapisan es di daerah kutub bumi. Mencairnya lapisan es ini merupakan dampak dari pemanasan global yang terjadi belakangan ini. Seperti yang kita ketahui, pemanasan global terjadi karena gas-gas CO2 yang berasal dari asap pabrik maupun dari gas buangan kendaraan bermotor menghalangi keluarnya gelombang panas dari matahari yang dipantulkan oleh bumi, sehingga panas tersebut akan tetap terperangkap di dalam atmosfer bumi dan mengakibatkan suhu di permukaan bumi meningkat. Suhu di kutub juga akan meningkat dan membuat es di kutub mencair, air lelehan es itu mengakibatkan permukaan air di seluruh dunia akan mengalami peningkatan dan akan menggerus daerah yang permukaannya rendah. Hal ini menunjukkan bahwa terjadinya abrasi sangat erat kaitannya dengan pencemaran lingkungan.
Wilayah pantai merupakan daerah yang sangat sensitif dimanfaatkan untuk kegiatan manusia, seperti kawasan pusat pemerintahan, pemukiman, industri, pelabuhan, pertambakan, pertanian/perikanan, pariwisata dan sebagainya. Adanya kegiatan tersebut dapat menimbulkan peningkatan kebutuhan akan lahan, prasarana dan sebagainya, yang selanjutnya akan timbul masalah-masalah yang ada di daerah pantai seperti abrasi, akresi, perubahan garis pantai, rusaknya sumber daya pantai dan pelindung alami pantai, permasalahan yang terjadi di wilayah muara pantai.
27
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melindungi pantai, yaitu:
1. Memperkuat atau melindungi pantai agar mampu menahan serangan gelombang,
2. Mengubah laju transportasi sedimen sepanjang pantai, 3. Mengurangi energi gelombang yang sampai ke pantai,
4. Reklamasi dengan menambah suplai sedimen ke pantai atau dengan cara lain.
Tak dapat dipungkiri bahwa permasalahan lingkungan akibat perubahan iklim telah sangat nyata dampaknya. Salah satu yang paling mendapat dampak tersebut adalah kawasan pantai. Akibatnya banyak kawasan pantai yang rusak dan terdegradasi. Untuk mengatasi dan menghambat dampak tersebut, Alat Pemecah Ombak (APO) menjadi salah satu sarana dan solusi.
Secara garis besar pemecah ombak / gelombang terbagi menjadi 2, yaitu pemecah gelombang natural (alami) seperti tanjung, hutan mangrove, karang atau terumbu karang. Dan pemecah gelombang buatan, seperti APO dari beton ataupun apo dari ban bekas.
Definisi Alat Pemecah Ombak (APO) adalah struktur yang dibangun di pantai sebagai bagian dari pertahanan pantai atau untuk melindungi kawasan pantai dari pengaruh cuaca, ombak, ataupun sedimentasi (umumnya pasir tetapi juga dapat terdiri dari sedimen kasar seperti kerikil dan lain-lain).
Tujuan Alat Pemecah Ombak (APO) dimaksudkan untuk mengurangi intensitas gelombang (ombak) di perairan dekat pantai sehingga dengan demikian dapat mengurangi erosi dan abrasi pantai. Pemecah ombak dapat berupa sesuatu
28
yang tetap ataupun mengambang. Umumnya pemecah ombak ini di buat dan tempatkan sekitar 1-300 meter dari lepas pantai di air yang relatif dangkal dengan salah satu ujungnya terkait dengan pantai.
Alat pemecah ombak, konstruksi biasanya sejajar atau tegak lurus pantai untuk menjaga kondisi ketenangan di pelabuhan. Sebagian besar konstruksi APO yang dipakai itu tergantung pada pendekatan gelombang dan mempertimbangkan beberapa parameter lingkungan lainnya. Mekanisme kerja pemecah ombak adalah ketika sebuah gelombang air laut datang mendekati hit pemecah ombak, kekuatan konsentrasi ombak yang akan menghantam pantai dipecah secara parsial oleh alat pemecah ombak. Deposisi ini menyebabkan adanya penurunan kekuatan konsentrasi gelombang ombak yang akan menghantam pantai. Gelombang ombak tidak lagi besar, sehingga bagian pantai yang berada di dekatnya lebih terlindungi dari bahaya erosi atau abrasi.
Melihat fungsi dan kegunaan tersebut, alat pemecah ombak ini sangat-sangat bermanfaat sekali dalam masalah konservasi kawasan pantai dan potensi-potensi lainnya seperti ekowisata pantai. Alat pemecah ombak ini juga menjadi sentral berkaitan dengan pemuliaan dan pengembangan kawasan mangrove. Bibit mangrove muda yang ditanam dalam usaha konservasi, sangat memerlukan
perlindungan dari terpaan ombak besar sampai mangrove tersebut dewasa dan memiliki akar yang kuat. Sehingga akan terbentuk hutan mangrove yang sangat berperan sebagai pelindung alami pantai.
29