KETUA RAPAT :
F- ABRI (SOEWARNO) : Terima kasih Ketua
Supaya tidak mengulang, saya F-ABRI sependapat sekali dengan apa yang disampaikan baik oleh F-KP maupun oleh F-PDI. Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Terima kasih. barangkali penegasan dari Pemerintah.
PEMERINTAH :
Ini untuk memberikan kepastian saja, karena itu kami kira ini perlu tetap ada dan saya kira ini bisa di Panjakan. Terima kasih.
KETUA RAPAT : Terima kasih.
Apakah saya kembalikan kepada F-PP Pak, barangkali ini memang
untuk memudahkan menurut fraksi-rraksi dalam kaitan membahas RUU ini. Jadi saya persilakan.
F-PP (DRS. H. JUSUF SYAKIR) :
Sebelum kami menyetujuii itu di Panjakan, kami setuju di Panjakan.
Cuma rasa-rasanya tidak ada u:ndang-undang lain yang mengatur mengenai hak tanah, hanya ada di UU Agraria, itu satu. Kemudian kalau ini hak atas tanah di jelaskan, nanti Hak Atas Bangunan itu berdasar apa?, tidak ada.
Jadi saya kira lebih bagus itu dihilangkan, tetapi bagaimanapun juga kami setuju untuk di Panjakan. Terima kasih.
KETUARAPAT:
Baik, terima kasih, bagaimana usul di lPanjakan dapat disetujui ? (RAPAT : SETUJU)
Terima kasih.
DIM nomor 23, dari F-KP saya kira ini, menanti say a kilra ini, jadi kita tunda pending sama saja F-ABRIjuga, F-PP juga. Jadi DIM nomor 23 kita pending.
(RA1PAT : SETUJU)
DIM nomor 24, sarna saya kira "Bea Balik Nama" diganti dengan kata
"Pajak Perolehan Hak Atas tanah".
Terima kasih, saya diingatkan bahwa pending ini dalam kaitan "Bea", kalau masalah "perolehan hak atas" ini sudah disepakati. Jadi pendingnya
"Bea", jadi "Bea" dan "Pajak" ini saya kira yang kita pending. Saya kira setujui.
(RAPAT : SETUJU)
DIM Nomor 25 sarna, pending.
(RAPAT : SETUJU) DIM Nomor 26.
INTERUPSI F-KP (BEN MESAKH, SE) :
Tanpa mengurangi ketukan palu tadi, F-KP itu sebenamya tidak hanya berganti nama tetapi masalah kata "dapat" itu diPanjakan juga dan singkatan-singkatan, pada nomor ... .
KETUA RAPAT :
Baik, jadi saya kira itu nanti Pak saya harapkan besok pagi sudah ada keputusan, kita coba ulangi kembali, yang Panja kita lemparkan ke Panja, karena ini masalah "Bea" dan "Pajak" saja ini, yang lainnya sudah ada kesepakatan.
DIM nomor 26, saya kim kita pending juga ini. F-PDI persilakan.
F-PDI (SETYIADJI LAWI, BA):
Saudara Pimpinan dan Saudara-saudara sekalian Untuk DIM nomor 26 kami telah menyampaikan ralat, bahwa untuk DIM nomor 26 ini kami mengusulkan untuk dihapus. Oleh karena seperti yang kami sampaikan pada Pengantar Musyawarah, apakah sekiranya kebijaksanaan atau ketentuan ini patut karena Kami merasa bahwa itu tidak adil. Tidak adil karen a orang yang telah membayar apa itu "Bea" atau "Pajak Balik Nama" sudah dibayar itu masih ada Kemungkinan untuk membayar lagi sebagai kurang bayar setelah ada temyata dapat ditemui dokumen yang menunjukkan bahwa dia kurang bayar, dalam pasal diusulkan 5 tahun itu nanti kita bicarakan lebih Ian jut.
Setelah itu, setelah dia misalnya kemudian membayar kurang bayar dia masih harus menunggu Iagi atau dibayangi lagi akan Kemungkinan membayar kurang bayar tam bahan" itu diusulkan lagi perlode berikutnya.
Jadi kami membayangkan bahwa orang yang membeli sela,a jangka waktu dua kali usulan yang ada yaitu 5 tahun ditambah 5 tahun dibayang-bayangi Kemungkinan membayar lagi. Orang yang tidak tahu setelah membayar uang Bea Balik Nama tadi 5 tahun sudah lupa tenltang peristiwa itu sekonyong-konyong datang tagihan untuk membayar Bea Balik Nama Kurang Bayar, mungkln dia sudah terkejut dengan itu.
Kemudian terjadi lah dialog yang mungkln sarna-sarna keras untuk tidak sampai terjadi mungkin dia membayarnya. Tetapi setelah itu 5 talmn kemudiaR1 datang lagi tagihan, yaitu kurang bayar tambahan ini untuk yang kedua kali mungkln orangnya jadi mati. Jantungan Pak ini selama 10 talmn ini nantinya. Apakah ini dapat dikatakan adil, menurut kami ini tidak manusiawi untuk tagihan yang kedua. Bukankah sudah cukup kalau dikenakan kepada kurang bayar tadi 5 tahun pertama itu tagihan kurang bayar itu mungkin itu sudah dengan macam-macam persoalan. Kita tidak boleh berpikir ini nanti yang besar-besar yang penguasaan lahannya sampai ratusan, ribuan hektar, bagaimana itu harus dikejar. Tetapi UU ini berlaku dari mulai yang harus yang kena wajib pajak, mungkin dia orang yang membeli dengan Rp. 35 juta yang dikenakan itu toh berlaku tentang kemungkinan tagihan kurang bayartambahan itu. Ini mungkin akan menjadi problema masyarakat yang rasanya sangat mencekam, kami mengusulkan dihapus demi keadilan Pak.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Terima kasih.
Jadi pada nomor 26 ini untuk Bea dan Pajak ini memang kita pending tetapi dengan ada usulan bam atau ralat, maka saya mahan sebelum kita Panjakan kalau nanti terpaksa kita Panjakan, kami mahan penjelasan dari Pemerintah atas usul daripada F-PDI. Saya persilakan.
INTERUPSI F-ABR][ (SOEWARNO) : F-ABRI nya belum ditanya Pak.
KETUA RAPAT :
Bukan Pak, ini penjelasan dari dihapusl1ya ini,jadi nanti saya kira nanti setelah itu kita lihat. Karena ini saya kira sebetulnya kalau tidak ada ini kita pending karena pending masalah pajak dan bea. Tetapi dengan adanya ralat bam, maka saya lang sung saja kepada Pemerintah kalau sudah ada kejelasan itu apa yang dimaksud langsung kita Panjakan saja kalau Saudara-saudara setuju, saya kiira Pemerintah pak.
PEMERINTAH:
Mengapa perlu ketentuan ini, karena ini pada dasamya self assessment Pak. Kemudian tentunya kita tidak main pukul bahwa seperti tidak ada kepastian hukum. Ketentuan ini atau kita bam perumusannya atau pasalnya mengenai ini adalah hanya dikenakan dalam hal terjadi ada nyata bahwa misalnya transaksi karena yang akan memllngut adalah BPH dan notaris di bawah NJOP dan biasanya kalau kita salahkan notaris atau PPAT dia bilang tidak. Kami ini hanya mencatat saja apa yang disampaikan oleh pihak-pihak yang bertransaksi dan tidak tertutup kemungkinan bahwa mereka Ibemsaha merendahkan. Karena dengan demikian ini suatu presentase tertentll atas nilai transaksi ini yang pertama.
Kemudian yang kedua dan kita tidak bisa menyalahkan Notaris atau PPAT itu terns terang saja menurnt ketentuan yang berlaku, begitulah, kami hanya mencatat.
Kemudian yang kedua adalah dalam hal terjadi ada temuan baru, dalam hal itu memang harus ada ketentuan mengenai ini dan ini adalah analog juga dengan PPH. Jadi ini juga mengambil ketentuan dari KUP, tentunya kalau lebih bayar juga kita adlil Pak, ada di Pasal 27 imbang, kalau lebih juga kita kembalikan, Surat Ketetapan Lebih Bayar,jadi adil, kalau kurang ya harus nambah kalau lebih kita kembalikan. Jadi orang tidak main-main, kalau tidak ada pasalini semua diturunkan nilainya di Notaris yang begituan tidak, bisa ngapain Notarisnya itu, PPAT juga. Paling kalau PPAT kalau dia itu masih Pegawai Negeri, Camat itu, dia kena PP 30 sanksi hukuman. Lha kalau Notaris mau diapain, wong dia itu blUkan pegawal kok.
Jadi karena dengan ketentuan ini untuk mencegah hal-hal sebagaimana yang kami kemukakan tadi Pak, ini sarna dengan PPH sebetulnya. Terima kasih.
Ketua ini diperdalam di Panja, ini cuma tambahan keterangan, mengapa perlunya dicatumkan ketentuan mengenal ini.
KETUA RAPAT : Terima kasih.
Jadi DIM nomor 26 ini untuk "Bea" dan "Pajak" kita pending, kemudian usulan perubahan yang nomor 2 dan 3 dari F-KP dan ralat baru dari F-PDI kita Panjakan.
Apakah bisa disetujui ?
F-PDI (SETYlADn LAW, BA) :
Untuk hanya tambahan penjelasan saja, memudahakan nanti pada waktu di Panja. Pak Menteri, kalau kelebihan dikembalikan memang, tetapi tidak ada kelebihan tambahan dikembalikan tidak ada. Jadi ada dihitung, lebih,
kernbalikan, tidak ada hitungan lagi lebih tambahan kembalikanjuga tidak ada, di sini cuma sekali mengembalikan. Tetapi kalau kurang bayar bisa dua kali, kurang bayar ada lagi kurang bayar tambahan bayar lagi ini yang kami anggap kurang menentramkaru, demikian Pak. Terima kasih.
KETUA RAPAT : Terima kasih.
PEMERINTAH:
Maaf Saudara Ketua, pada setiap self assessment sanksinya hams diperberat, ini prinsipnya pajak universal,. ini sesuai dengan KlJP. Jadi semakin jauh kita menerapkan self assessment, maka kewajiban hak-hak yang diberikan kepada wajib pajak untuk melunasi penyetoran untuk membayar sel1diri itu hams diikuti dengan sanksi yang berat, itu adalah suatu asas universal, kecuali ini kalau official assessment. Jadi semakin jauh kita menerapkan sistim self assessment, maka sanksi hams makin diperberat. Masalahnya adalah maksudnya agar supaya dengan sanksi yang berat itu dari pagi-pagi wajib pajak yang bersangkutan itu jangan sampai menyalahgunakan haknya untuk menghituJl1g" membayar dan melaporkan kewajiban perpajakannya. Demikian Saudara Ketua.
KETUA RAPAT : Terima kasih.
Jadi saya tawarkan untuk butir 2 dan dari F-PDI, lalu ralat yang bam ini kita Panjakan. Sedangkan untuk "Bea" dan "Pajak" kita pending. Dapat kita setujui ?
INTERUPSI F-PP (DRS. H. JUSUF SYAKIR) : Mau tanya dulu Pak.
Saya mau menanyakan kepada F-PDI, apakah yang diusulkan itu hanya penghilangan SKBKBT kah atau termasuk SKBKB ?
F-PDI (SETYIADJI LAWI, BA):
SKBKBT saja.
Jadi kurang Bayar Tambahannya itu yang dihapus. Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Jadi bagaimana kita Panjakan ?
(RAPAT : SETUJU) Terima kasih.
Kita lanjutkan pada DIM nomor 27.
Ini kelihatanya F-KP ada ralat penyusunan atas. Usul perubahannya dari F-KP ada ralat, yaitu "penyesuaian atas usul peru bah an judul".
Jadi saya kira ini termasuk di pending Pak ya" pending menunggu hasil konsultasi termasuk juga F-ABRI ini juga dipellding, usul F-PP saya kira ini sudah putus,jadi dengan demikian kita pending sampai hasil konsultasi bisa disampaikan.
DIM nomor 28 ini juga sarna ini, pending. Karena itu juga ada ralat dari F-KP tentang penyesuaian daripada judu!. Saya kira memang harus pending sesuai dengan kesepakatan tadi, sedangkan tadi setelah dipending memang sebaiknya mernang harus kita di Panjakan, jadi kita rnenunggu mudah-mudahan besok pagi bisa kita selesaikan.
Bapak dan Ibn sekalian.
Saya kira kurang empat rnenit, ini waktunya saya kira kelihatannya
sudah perlu istirahat Pak. Jadi apabila disetujui kita selesai sampaidi sini, Kemudian rapat kita skors dan Insya Allah besok siang kita kumpul kembali di ruang ini pukul 13.00 WIB, makan siangjam 12-00 seperti biasa.
Saya kira demikian dengan ini, maka Rapat saya skors. Terima kasih.
PEMERINTAH :
Maaf Saudara Ketua.
Besok itu adalah Tingkat IV RAPBN, jadi kami tidak bisa janji jam berapa. Selesai disitu, Saya tidak bisa tidak muncul. Jadi begitu Sidang Pleno ke sini Pak Ketua, Jadi kita tidak bicara waktu. Begitu selesai Sidang Pleno ke sini (Pansus). Terima kasih.
KETUARAPAT:
Saya kira demikian. Jadi memang jam 12.00 WIB disiapkan makan di sini, terserah kalau memang sempat, mudah-mudahan jam 13.00 sudah selesai, selesailllya dari Pleno, kita akan teruskan. Dengan demikian rapat saya skors sampai besok siang setelah makan siang.
(Rapat diskors Pukul 16.00 WID.)
Jakarta, 26 Februari 1997 A.N. KETUA RAPAT
PANSUS 5 RUU BIDANG PERPAJAKAN