Step III – Management III.1 Disease notification
ACUTE FEBRILE ILLNESS
Demam adalah peninggian suhu tubuh dari variasi suhu normal sehari-hari yang berhubungan dengan peningkatan titik patokan suhu di hipotalamus (Dinarello & Gelfand, 2005). Suhu tubuh normal berkisar antara 36,5-37,2°C. Derajat suhu yang dapat dikatakan demam adalah rectal temperature ≥38,0°C atau oral temperature ≥37,5°C atau axillary temperature ≥37,2°C (Kaneshiro & Zieve, 2010).
Istilah lain yang berhubungan dengan demam adalah hiperpireksia. Hiperpireksia adalah suatu keadaan demam dengan suhu >41,5°C yang dapat terjadi pada pasien dengan infeksi yang parah tetapi paling sering terjadi pada pasien dengan perdarahan sistem saraf pusat (Dinarello & Gelfand, 2005).
Demam adalah keluhan utama yang umum di negara berkembang. Karena tinggi prevalensi penyakit demam maka dibutuhkan diagnosa diferensial untuk membedakan penyakit demam akut (AFI). Penyakit demam akut didefinisikan sebagai akut timbulnya demam (demam lebih dari 38 derajat Celsius berlangsung selama kurang dari 2 minggu) dan tidak ada penyebab yang jelas berdasarkan riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik(Kashinkunti MD et al,2010).
Penyakit demam akut adalah sindrom yang timbul dari berbagai penyebab diantaranya infeks saluran pernafasan atas, infeksi saluran pernafasan bagian bawah, diare, infeksi saluran kencing, influenza, thypoid, leptospirosis, riketsia, malaria, dan penyebeb lainnya.
Tahun 1971-1972 oleh Anderson et al, dilakukan pengambilan spesimen untuk pemeriksaan serologis dari pasien rawat inap dengan penyakit demam yang belum jelas penyebabnya . Dari hasil pemeriksaan tersebut infeksi Salmonella dan arbovirus menjadi etiologi utama yang paling banyak ditemukan, sedangkan leptospira, rickettsia, brucella
dan infeksi toksoplasma ditemukan hanya pada beberapa pasien. Pada tahun 1978 oleh Olson et al, dilakukan Studi lain di Klaten, Jawa Tengah dan ditemukan alphavirus dan flavivirus sebagai etiologi demam. Pada tahun 1995, Suharti dkk menemukan bahwa dengue terdiri hanya 49% dari total klinis dicurigai kasus DBD di Semarang, Jawa Tengah. Etiologi lainnya termasuk rickettsia, hantavirus, leptospira, rubella, chikungunya, dan influenza.
Pada tahun 2002-2003, Vollaard et al ditemukan tingginya prevalensi SalmonelIa typhi dan infeksi parathyphi (9% dan 3%) yang dikonfirmasi dengan kultur bakteri, pada pasien demam rawat jalan dan rawat inap di Jakarta. Pada tahun 2005-2006, Gasem dkk. menekankan pentingnya mempertimbangkan leptospira dan rickettsia infeksi pada pasien dengan demam akut di pusat-pusat kesehatan primer dan rumah sakit di Semarang. Selama periode yang sama Suwandono et al, menegaskan bahwa dengue harus dipantau secara hati-hati, karena memberikan kontribusi 15% dari penyakit demam akut pada pasien yang melakukan perawatan di fasilitas kesehatan primer di Jakarta. Chikungunya memiliki prevalensi yang sama, tetapi tidak ada bukti dari endemisitas. Pada tahun 2000-2008 oleh Alisjahbana et al, sebuah studi observasional yang dilakukan pada pasien dewasa. Dalam studi tersebut didapatkan hasil etiologi demam yang berbeda- beda, masing-masing dengan proporsi: dengue 12%, influenza 10%, chikungunya 8%, dan tifus 2,4%. Tidak seperti di Jakarta, kasus chikungunya di Bandung ditemukan sepanjang tahun. Studi-studi ini dan surveilans influenza nasional juga terdeteksi dan muncul agen infeksi seperti virus zika di Klaten, hantavirus di Semarang dan Bandung, dan influenza subtipe H5N1 di banyak daerah. Meskipun sudah banyak studi yang telah dilakukan, namun sebagian besar kasus masih belum ditemukan etiologinya dengan pasti. Menurut Ellis et al., Leelarasamee et al, Brown et al, etiologi yang paling sering ditemukan pada studi ini juga merupakan etiologi atau agen penting yang ditemukan di Thailand, Myanmar, perbatasaThailand dan Malaysia.
Demam dapat disebabkan oleh faktor infeksi ataupun faktor non infeksi. Demam akibat infeksi bisa disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, jamur, ataupun parasit. Infeksi bakteri yang pada umumnya menimbulkan demam pada anak-anak antara lain pneumonia, bronkitis, osteomyelitis, appendisitis, tuberculosis, bakteremia, sepsis, bakterial gastroenteritis, meningitis, ensefalitis, selulitis, otitis media, infeksi saluran kemih, dan lain-lain (Graneto, 2010). Infeksi virus yang pada umumnya menimbulkan demam antara lain viral pneumonia, influenza, demam berdarah dengue, demam chikungunya, dan virus-virus umum seperti H1N1 (Davis, 2011). Infeksi jamur yang pada umumnya menimbulkan demam antara lain coccidioides imitis, criptococcosis, dan lain-lain (Davis, 2011). Infeksi parasit yang pada umumnya menimbulkan demam antara lain malaria, toksoplasmosis, dan helmintiasis (Jenson & Baltimore, 2007).
Demam akibat faktor non infeksi dapat disebabkan oleh beberapa hal antara lain faktor lingkungan (suhu lingkungan yang eksternal yang terlalu tinggi, keadaan tumbuh gigi, dll), penyakit autoimun (arthritis, systemic lupus erythematosus, vaskulitis, dll),
keganasan (Penyakit Hodgkin, Limfoma nonhodgkin, leukemia, dll), dan pemakaian obat- obatan (antibiotik, difenilhidantoin, dan antihistamin) (Kaneshiro & Zieve, 2010). Selain itu anak-anak juga dapat mengalami demam sebagai akibat efek samping dari pemberian imunisasi selama ±1-10 hari (Graneto, 2010). Hal lain yang juga berperan sebagai faktor non infeksi penyebab demam adalah gangguan sistem saraf pusat seperti perdarahan otak, status epileptikus, koma, cedera hipotalamus, atau gangguan lainnya (Nelwan, 2009).
Pada tahun 2010 Kashinkunti MD et al, melakukan penelitian observasional prospektif selama satu tahun pada pasien dewasa (usia > 16 tahun) rawat inap di Rumah Sakit tersier Karnataka dengan lama demam < 15 hari. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui etiologi penyakit demam akut dan menggambarkan profil klinis penyakit demam akut. Penelitian ini dilakukan pada 100 pasien rawat inap. Data dikumpulkan untuk mengidentifikasi jenis kelamin, rentang usia dan lamanya demam. Penegakkan diagnosis dilakukan dengan pendekatan anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium. Pemeriksaan Kultur darah, parasit malaria dan serologi demam dilakukan. Adapun hasil yang ditemuakan dari penelitian ini adalah : scrub typhus (33%), demam berdarah (25%), demam enterik (14%), malaria (8,0%), melihat demam rickettsiosis (6,0%), H1N1 (5.0%), dan diagnosa tidak jelas (9,0%) (Kashinkunti MD et al,2010).
Penelitian sebelumnya yang dilakukan di Mesir menunjukkan bahwa infeksi, seperti salmonellosis (5%), demam tifoid (18%), dan brucellosis (11%), adalah penyebab umum dari AFI. Di Amerika Selatan, infeksi dengan Leptospira, malaria, Rickettsia, virus dengue, dan Venezuela kuda virus ensefalitis diidentifikasi sebagai penyebab utama AFI. Di beberapa daerah, seperti sub-Sahara Afrika dan Asia Tenggara, penelitian rumah sakit berbasis sanitasi telah dibentuk untuk mendapatkan data klinis dan kesehatan masyarakat tentang penyebab AFI sepanjang tahun dan untuk mengidentifikasi pola kerentanan dan prediktor klinis. Penyebab dengue tidak pasti, meskipun diyakini sebagai penyebab substansial seluruh daerah tropis. Kurangnya informasi tentang etiologi spesifik yang membentuk diagnosis demam berdarah memperlambat kemampuan kita untuk membuat diagnosis yang akurat, memberikan pengobatan yang efektif, dan efektif menargetkan langkah-langkah kesehatan masyarakat (Mali et al,2011)
Diagnosis penyakit menular, mirip dengan penyakit lain didasarkan pada anamnesis, pemeriksaan, dasar investigasi dan konfirmasi diagnostik. Namun perbedaannya dalam presentasi klinis berdasarkan evolusi agen atau faktor host etiologi, risiko eksposur untuk agen re-emerging atau muncul karena kegiatan dan perjalanan manusia sehingga menimbulkan tantangan besar pada penegakan diagnosis tepat waktu terhadap penyakit ini . Tumpang tindih yang signifikan dari gejala, tanda dan parameter laboratorium dasar penyakit tropis akan menambah tantangan dalam menegakkan diagnosis. Meskipun konfirmasi diagnostik wajib dalam menegakkan diagnosis definitif demam tropis, namun didalam penerapannya ditemukan ketidaktersediaan atau tidak terdapat aksesibilitas sehingga menyebabkan pendekatan berbasis klinis untuk diagnosis
dugaan penyakit demam. Pendekatan tersebut dapat menyebabkan tidak memadai evaluasi klinis, keterlambatan dalam diagnosis, penggunaan antibiotik yang tidak rasional, serta meningkatnya morbiditas dan mortalitas (Premaratna R,2013).
Tipe-tipe Demam
Jenis Demam Penjelasan
Demam septik
Demam hektik Pada demam ini, suhu badan berangsur naik
ke tingkat yang tinggi sekali pada malam hari dan turun kembali ke
Demam remiten Pada demam ini, suhu badan dapat turun
setiap hari tetapi tidak pernah mencapai suhu normal
Demam intermiten Pada demam ini, suhu badan turun ke tingkat yang normal selama beberapa jam dalam satu hari
Demam Kontinyu Pada demam ini, terdapat variasi suhu sepanjang hari yang tidak berbeda lebih dari satu derajat
Demam Siklik Pada demam ini, kenaikan suhu badan
selama beberapa hari yang diikuti oleh periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuti oleh kenaikan suhu seperti semula
(Sumber: Nelwan, Demam: Tipe dan Pendekatan, 2009)
Demam terjadi karena adanya suatu zat yang dikenal dengan nama pirogen. Pirogen adalah zat yang dapat menyebabkan demam. Pirogen terbagi dua yaitu pirogen eksogen adalah pirogen yang berasal dari luar tubuh pasien. Contoh dari pirogen eksogen adalah produk mikroorganisme seperti toksin atau mikroorganisme seutuhnya. Salah satu pirogen eksogen klasik adalah endotoksin lipopolisakarida yang dihasilkan oleh bakteri gram negatif. Jenis lain dari pirogen adalah pirogen endogen yang merupakan pirogen yang berasal dari dalam tubuh pasien. Contoh dari pirogen endogen antara lain IL-1, IL-6, TNF-α, dan IFN. Sumber dari pirogen endogen ini pada umumnya adalah monosit, neutrofil, dan limfosit walaupun sel lain juga dapat mengeluarkan pirogen endogen jika terstimulasi (Dinarello & Gelfand, 2005).
Proses terjadinya demam dimulai dari stimulasi sel-sel darah put ih (monosit, limfosit, dan neutrofil) oleh pirogen eksogen baik berupa toksin, mediator inflamasi, atau reaksi imun. Sel-sel darah putih tersebut akan mengeluarkan zat kimia yang dikenal dengan pirogen endogen (IL-1, IL-6, TNF-α, dan IFN). Pirogen eksogen dan pirogen endogen akan merangsang endotelium hipotalamus untuk membentuk prostaglandin (Dinarello & Gelfand, 2005). Prostaglandin yang terbentuk kemudian akan meningkatkan patokan termostat di pusat termoregulasi hipotalamus. Hipotalamus akan menganggap
suhu sekarang lebih rendah dari suhu patokan yang baru sehingga ini memicu mekanisme-mekanisme untuk meningkatkan panas antara lain menggigil, vasokonstriksi kulit dan mekanisme volunter seperti memakai selimut. Sehingga akan terjadi peningkatan produksi panas dan penurunan pengurangan panas yang pada akhirnya akan menyebabkan suhu tubuh naik ke patokan yang baru tersebut (Sherwood, 2001).
Demam memiliki tiga fase yaitu: fase kedinginan, fase demam, dan fase kemerahan. Fase pertama yaitu fase kedinginan merupakan fase peningkatan suhu tubuh yang ditandai dengan vasokonstriksi pembuluh darah dan peningkatan aktivitas otot yang berusaha untuk memproduksi panas sehingga tubuh akan merasa kedinginan dan menggigil. Fase kedua yaitu fase demam merupakan fase keseimbangan antara produksi panas dan kehilangan panas di titik patokan suhu yang sudah meningkat. Fase ketiga yaitu fase kemerahan merupakan fase penurunan suhu yang ditandai dengan vasodilatasi pembuluh darah dan berkeringat yang berusaha untuk menghilangkan panas sehingga tubuh akan berwarna kemerahan (Dalal & Zhukovsky, 2006).