REPRESENTASI UNSUR-UNSUR MULTIKULTURALISME
5.2 Adat dan Tradisi
Adat serta tradisi menjadi salah satu komponen penting sebuah kebudayaan masyarakat dan dalam masyarakat multikultur keduanya menjadi hal yang paling sering menimbulkan gesekan. Multikulturalisme sebagai sebuah wadah kultural mengakomodasi banyak adat serta tradisi sebagai bagian yang terintegrasi dalam sebuah masyarakat heterogen. Salah satu fenomena dari sisi tradisi yang terjadi dalam masyarakat multikultur adalah pernikahan eksogami. Pernikahan eksogami merupakan pernikahan yang terjadi antaretnik, klan, atau suku dalam satu lingkungan yang sama. Pernikahan ini hanya mungkin terjadi pada masyarakat
27 Hal ini sesuai dengan teori sosial Culture Pluralism: Mosaic Analogy, setiap individu yang berbeda latar belakang agama, etnik, bahasa, dan budaya, memiliki hak untuk mengekspresikan identitas budayanya secara demokratis.
Ricardo L. Garcia, Teaching in a Pluralism Society: Consepts, Models, Strategies. New York, Harper& Row Publisher, hal. 37-42.
multikultur, baik dengan latar belakang etnik, suku, maupun klan yang beragam dan berinteraksi dalam satu lingkungan sama. Tokoh-tokoh yang menjalani pernikahan eksogami berawal dari persahabatan serta interaksi dalam satu lingkungan. Meskipun terdapat perbedaan di antara mereka, tampaknya cinta telah meleburkan batas yang diciptakan oleh perbedaan. Pernikahan eksogami bisa saja dijadikan indikator sejauh mana tingkat penerimaan masyarakat terhadap multikulturalisme.28
Pernikahan eksogami terjadi pada tokoh utama, yaitu Gusti Ngurah Darsana dan Lale Dumilah. Gusti Ngurah Darsana yang baru saja pindah tugas di BRI Mataram menjalin persahabatan dengan Lale Dumilah, Wayan Galang, Gusti Ayu Sri, Luh Purnama, dan Made Sinar. Awal hubungan mereka adalah ketika Lale Dumilah ikut dalam perjalanan mendaki ke puncak Gunung Rinjani bersama rombongan Gusti Ngurah Darsana. Gusti Ngurah Darsana pun memiliki perasaan yang sama dan menyatakan cintanya pada Lale Dumilah. “Nah Denda sampunang ragu, né bungkung tiangé anggon paingetan. Né cirinné tresnan tiangé pamuput serahang tiang...” (Sembalun Rinjani, 198).29 Hubungan mereka menginjak ke arah pernikahan setelah Gusti Ngurah Darsana mengetahui bahwa ia akan dipindahtugaskan ke BRI Atambua.
Rupanya keinginan Gusti Ngurah Darsana dan Lale Dumilah untuk menikah ditentang oleh kedua orang tua Lale Dumilah. Sikap ini ditunjukkan oleh ayah Ratna Dumilah, yaitu Mamiq30 Wira yang dimintai pendapat oleh Lalu Wiradana jika benar adiknya akan menikah dengan Gusti Ngurah Darsana. Berikut kutipannya:
28 Eksogami adalah perkawinan antaretnis, suku, klan dalam lingkungan yang berbeda.
29 “Nah Denda jangan ragu lagi, cincin saya ini sebagai pengingat. Ini bukti cinta saya telah saya serahkan sepenuhnya...”
30 Mamiq merupakan panggilan bapak dalam masyarakat etnik Sasak
“yen alih keberatané dong saja keberatan, ngelah panak nganten ajak anak uli joh buina malenan agama. Elek saja teken pisagané mirib tusing taen mituturin pianak.” (Gitaning Nusa Alit, 31).31
Pernyataan yang diutarakan oleh ayah Ratna Dumilah menegaskan bahwa ia tidak dapat menerima pernikahan beda agama yang akan dijalani putrinya. Ia merasa malu dengan keluarga besar jika sampai anaknya menikah dengan orang berbeda keyakinan. Namun, tanpa sadar ia sendiri rupanya menyetujui saat dulu anak pertamanya, yaitu Lalu Wiradana ketika akan menikah dengan Gusti Ayu Sasih yang juga berbeda agama. Sikap ambivalen yang diperlihatkan Mamiq Wira menjadikannya sebagai individu yang tidak bisa menerima begitu saja adanya multikulturalisme. Di samping itu terlihat juga bahwa sistem patriarki masih menjadikan perempuan sebagai objek yang harus tunduk dan takluk pada aturan adat serta keyakinan usang.
Akhirnya atas dukungan Lalu Wiradana, kakak Lale Dumilah, mereka memutuskan untuk ngarorod (kawin lari) atau dalam istilah Sasak dikenal dengan merarik.
Ngarorod merupakan salah satu sistem perkawinan adat Bali yang dilakukan apabila kedua mempelai tidak mendapat persetujuan menikah dari salah satu pihak keluarga (biasanya dari pihak keluarga wanita). Hal itulah menyebabkan mereka sepakat untuk ngarorod (kawin lari) dan si wanita akan disembunyikan di rumah kerabat mempelai laki-laki yang disebut pengkeban (Arnati, 2002:9). Proses ngarorod Gusti Ngurah Darsana dan Lale Dumilah berlangsung dengan bantuan warga Banjar Jeruk Manis, lingkungan masyarakat Bali yang tinggal di Mataram.
Pernikahan antara dua etnik yang berbeda ini tetap berlangsung dengan meriah meskipun tidak mendapat persetujuan penuh pihak keluarga perempuan. Upacara dilangsungkan dengan adat
31 ”Jika dicari masalah keberatan, memang benar keberatan,mempunyai anak menikah dengan orang dari jauh dan berlainan agama. Malu terhadap tetangga disangka tidak pernah menasihati anak.”
Bali dan dibagi dalam dua tahap, yaitu mabiakala32 dan makala-kalaan33. Prosesi mabiakala dilangsungkan di rumah Pan Kobar, sedangkan makala-kalaan dilangsungkan di Jro Baledan Karangasem rumah asal Gusti Ngurah Darsana. Lale Dumilah resmi menjad istri Gusti Ngurah Darsana dan mendapat nama baru, yaitu Jro Ratna Dumilah. Nama ini diberikan oleh Gusti Ngurah Bagus dan Gusti Biang Suci, orang tua Gusti Ngurah Darsana. “Inggih yen wantah asapunika titiang amung ngawewehin antuk “RATNA” mangda dados “RATNA DUMILAH”
(Gitaning Nusa Alit, 93).34 Pemberian nama oleh orang tua laki-laki kepada menantunya merupakan tradisi masyarakat Hindu Bali dari kalangan tri wangsa. Hal ini terjadi ketika anak laki-laki mereka menikah dengan wanita yang tidak sewangsa atau dari etnik lain. Umumnya penambahan nama pada pengantin wanita menggunakan nama jenis-jenis bunga dengan diawali kata jro.
Pernikahan antaretnik tidak hanya terjadi pada tokoh utama, beberapa tokoh sekunder juga melakukan pernikahan eksogami. Kakak Ratna Dumilah, yaitu Lalu Wiradana juga menikah tidak dengan wanita seetnik. Ia menikah dengan wanita Bali bernama Gusti Ayu Sasih, seorang perawat yang bertugas di rumah sakit Mataram. Selanjutnya ada tokoh Hendun seorang gadis Lombok yang menikah dengan Pak Kirno yang berasal dari etnik Jawa. Hendun sendiri masih memiliki hubungan keluarga dengan Ratna Dumilah, ayah mereka adalah saudara sepupu. Putra pertama Gusti Ngurah Darsana dan Ratna Dumilah, yaitu Gusti Ngurah Anantha Bhuana juga menikah dengan sorang gadis dari etnik Dayak bernama Diah Rengsi Pitaloka (Suryak Suwung Mangmung). Selain itu, pernikahan antaretnik juga terjadi pada Meina Victoria dengan Dokter
32 Mabiakala merupakan bagian dari upacara pernikahan Hindu Bali yang merupakan simbol penyambutan masuk dalam lingkungan keluarga laki-laki bagi mempelai wanita (Sudharta, 1993: 122).
33 Makala-kalaan adalah bagian terpenting dalam prosesi pernikahan Hindu Bali. Pada upacara ini dilakukan simbol pembersihan terhadap kedua mempelai. Dengan upacara ini secara ritual pernikahan sudah dianggap sah, karena upacara itu disaksikan oleh Tuhan dalam bentuk api takepan dan saksi dari keluarga serta perangkat desa.
34 “Baiklah, jika begitu saya hanya akan menambahkan dengan “RATNA” agar menjadi “RATNA DUMILAH.”
Agung Khrisna Meina sendiri adalah seorang gadis etnik Timor yang dijadikan pembantu oleh Gusti Ngurah Darsana saat bertugas di BRI Atambua. Karena kebaikan Gusti Ngurah Darsana dan Ratna Dumilah, Meina Victoria berhasil dipertemukan dengan kakak kandungnya yang ternyata teman sepermainan mereka saat di Lombok, yaitu Wayan Galang (Suryak Suwung Mangmung, 84).
Meskipun tidak semua pernikahan eksogami yang dijalani tokoh-tokoh dalam novel dapat diterima begitu saja oleh pihak keluarga, semuanya mengalami proses yang cukup panjang.
Misalnya, keluarga besar Ratna Dumilah yang tidak bisa begitu saja menerima ketika anaknya akan menikah dengan orang yang berbeda keyakinan dan berbeda etnik. Akan tetapi, pada akhirnya kedua orang tua Ratna Dumilah dapat menerima pernikahan anaknya dengan Gusti Ngurah Darsana setelah anaknya berangkat ke Atambua bersama suaminya. Bentuk penerimaan yang diperlihatkan oleh kedua orang tua Ratna Dumilah adalah wujud dari integrasi sebagai akhir dari konflik sosial akibat multikulturalisme. Meleburnya batas-batas etnik melalui perkawinan memang bukan hal yang mudah. Namun, merupakan salah satu jalan terbaik membangun multikuturalisme permanen.
Masyarakat dengan latar belakang tradisional yang kuat akan menjaga adat serta tradisinya masing-masing dengan kuat pula. Bahkan, ketika menjadi kaum minoritas pun tradisi serta adat yang dibawa dari tanah kelahirannya akan tetap dipertahankan.35 Namun, demikian dalam multikulturalisme persinggungan yang tak terhindarkan dari adat dan tradisi menjadikan masyarakatnya lebih menghargai serta memahami satu sama lain tanpa harus meninggalkan prinsip serta identitasnya masing-masing. Hak-hak untuk tetap eksis serta tetap dapat
35 Bagi masyarakat tradisi kebudayaan merupakan pandangan hidup (world view). Jadi, kemana pun mereka pergi, pandangan hidup mereka tidak akan pernah ditinggalkan.
mengindentifikasikan jati diri tradisi terlihat ketika Gusti Ngurah Darsana dan Ratna Dumilah melakukan upacara pemelaspasan rumah barunya saat di Atambua:
“Rabiné menekang banten perani, kelanan lan daksina di pelangkiran kamaré muah ulun pekarangané. Suud malukat Gusti Ngurah Darsana lantas ngenjit dupa, ngantebang bantené nunas laluputan lan keselametan ring Ida Sang Hyang Widhi Wasa, mina kadi sang sapa sira ugi ané milu nongos drika.” (Gitaning Nusa Alit, 169). 36
Upacara pemelaspasan yang dilakukan oleh Gusti Ngurah Darsana serta Ratna Dumilah menunjukkan bahwa sebagai masyarakat tradisi Gusti Ngurah Darsana tetap menjalankan tradisi serta adatnya meskipun berada di daerah yang jauh dari tanah kelahirannya. Pemelaspasan menjadi bagian dari tradisi masyarakat Hindu Bali saat akan menempati rumah yang baru. Bagi masyarakat Hindu di Bali, upacara ini merupakan hal yang wajib dilaksanakan serta menjadi hal yang lumrah di Bali. Pelaksanaan tradisi ini membawa kesan yang berbeda ketika dilaksanakan di luar Bali. Kesan ini muncul dari orang-orang di luar komunitas Hindu Bali. Para pegawai bank yang diundang oleh Gusti Ngurah Darsana untuk hadir pada upacara pemelaspasan merasa heran sekaligus kagum melihat jalannya upacara tersebut. Banyak buah, kue, serta bunga-bungaan yang menjadi sarana upacara, begitu pula dengan prosesi upacara yang di mata mereka terlihat asing. “Ibu-ibu patulungé bengong pakerimik mabalih” (Gitaning Nusa Alit, 169).37 Para pegawai bank yang diminta bantuannya oleh Gusti Ngurah Darsana saling berbisik melihat prosesi pemelaspasan yang baru pertama kali dilihat. Setelah upacara selesai, Gusti Ngurah Darsana menjelaskan apa makna serta fungsi dilaksanakannya upacara pemelaspasan tadi kepada para pegawai bank yang hadir. Hal yang paling penting di sini adalah adanya toleransi dari
36 “Istrinya menaikkan banten perani, kelanan dan daksina di pelangkiran kamarnya dan arah ke pekarangan. Sesudah melukat lalu Gusti Ngurah Darsana menghidupkan dupa.
Mempersembahkan banten meminta pembebasan dan keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan siapa pun yang benar-benar ikut tinggal di sini.”
37 “Ibu-ibu yang ikut membantu bengong sambil berbisik-bisik menyaksikan.”
masyarakat sekitar rumah Gusti Ngurah Darsana. Para tetangga tidak merasa terganggu dengan pelaksanaan tradisi tersebut. Malah mereka saling menolong untuk menyelesaikan persiapan upacara pemelaspasan tersebut.
Selain melakukan upacara pemelaspasan, sebagai orang Hindu Bali, Gusti Ngurah Darsana juga melakukan upacara magedong-gedongan saat usia kandungan Ratna Dumilah sudah menginjak bulan. Upacara ini juga dihadiri orang-orang di sekitar kediaman Gusti Ngurah Darsana. Mereka hadir untuk ikut membantu persiapan pelaksanaan upacara tersebut sekaligus ikut berpartisipasi saat pelaksanaan upacara. Hal ini terlihat ketika prosesi penyiraman Ratna Dumilah.
“Magilihan pada nyiramin Ratna Dumilah baan yeh kumkuman lan bunga kembang rampe sarwa miyik limang macem nganti ngilgilang, saha doa.” (Gitaning Nusa Alit, 184).38
Semua undangan yang datang ikut berpartisipasi melakukan prosesi penyiraman Ratna Dumilah serta turut memberikan doa agar bayi dalam kandungannya sehat. Setelah prosesi penyiraman dilanjutkan dengan medagang-dagangan. Ini merupakan prosesi di mana Ratna Dumilah diandaikan menjadi pedagang. Medagang-dagangan merupakan bagian dari ritual magedong-gedongan yang bermakna agar si anak murah rezeki, rezeki anak diwakilkan melalui sang ibu yang berjualan dan barang dagangannya laris dibeli (Sudharta, 1993: 11). Semua tamu yang hadir ikut berpartisipasi dalam prosesi ini dengan menjadi pembeli. “Ané mabelanja tuah tamiuné makejang. Marebut pada mabelanja takut ten kebagian rujak lan cendol.” (Gitaning Nusa Alit, 185).39 Semua undangan berpartisipasi aktif dalam rangkaian prosesi magedong-gedongan.
38 “Bergiliran menyirami Rare Dumilah dengan yeh kumkuman dan bunga kembang rampe yang serba harum lima macam hingga menggigil, serta doa.”
39 “Yang ikut berbelanja adalah semua tamu. Saling berebut takut tidak kebagian rujak dan cendol.”
Selain upacara magedong-gedongan, Gusti Ngurah Darsana juga melangsungkan upacara nelu bulanin40 yang dilangsungkan ketika anaknya berusia tiga bulan. Pada upacara inilah anak Gusti Ngurah Darsana untuk pertama kali diberi nama, yaitu Gusti Ngurah Anantha Bhuwana.
Pada upacara ini pun banyak undangan yang hadir untuk menyaksikan nelu bulanin putra pertama Gusti Ngurah Darsana. Para pegawai bank, anggota TNI, pengusaha, serta pedagang semua berbaur dalam acara yang diselenggarakan oleh Gusti Ngurah Darsana. Semua menikmati serta mengikuti prosesi nelu bulanin putra pertama Gusti Ngurah Darsana.
Keterlibatan orang-orang yang berlatang belakang tidak hanya etnik Bali menjadikan prosesi pemelaspasan, magedong-gedongan, dan nelu bulanin yang berlangsung di rumah Gusti Ngurah Darsana unik sekaligus menarik. Unik karena sebagai orang Hindu Bali, Gusti Ngurah Darsana tetap memegang teguh tradisinya. Ia tetap melangsungkan prosesi pemelaspasan, magedong-gedongan dan nelu bulanin meskipun tidak berada di tanah kelahirannya. Bahkan, Gusti Ngurah Darsana mengajak serta orang-orang nonetnik Bali untuk ikut terlibat dalam prosesi tersebut, tidak ada kecanggungan yang diperlihatkan, baik oleh Gusti Ngurang Darsana maupun para undangan yang ikut terlibat. Sisi menariknya adalah tumbuh dan berkembang rasa kebersamaan, toleransi, serta rasa memiliki di antara masyarakat multikultur melalui sebuah tradisi yang dilangsungkan oleh kaum minoritas.
Bentuk tradisi yang juga menjadikan komunitas heterogen berbaur baik dalam satu lingkungan adalah magibung. Tradisi magibung atau makan bersama-sama dalam satu kelompok memang tidak hanya dikenal di Bali, di Lombok atau daerah lain pun dikenal tradisi makan
40 Nelu bulanan dilaksanakan saat bayi berumur tiga bulan. Upacara ini merupakan simbol perpisahan dengan eampat saudara bayi yang mengikuti serta menolong bayi saat lahir. Perpisahan ini hanya melepaskan unsur negatif yang dibawa oleh empat saudara bayi tersebut. Namun, unsur jiwanya masih tetap dekat dan membantu bayi hingga tua nanti.
bersama semacam ini41. Hanya dalam trilogi novel Sembalun Rinjani tradisi magibung menjadi salah satu ikon tradisi masyarakat Bali yang menjadi media berbaurnya multietnik. Lalu Wiradana sebagai etnik Sasak ingin mencoba magibung pada saat persiapan upacara otonan cucu pertama Gusti Ngurah Darsana. “Nggih Yan, Beliq masih lakar magibung. Apang taen magibung cara sameton di Bali” (Suryak Suung Mangmung, 83).42 Upacara otonan yang dilaksanakan di Jro Baledan Karangasem mengundang seluruh keluarga besar Gusti Ngurah Darsana dan Ratna Dumilah. Keluarga dari Lombok semua hadir untuk mengikuti upacara tersebut. Pada kesempatan inilah Lalu Wiradana dan Inaq Wira untuk pertama kalinya mengikuti tradisi magibung ala Bali. Posisi Lalu Wiradana dan Inaq Wira memang berada pada kaum minoritas karena mereka hadir di tengah-tengah komunitas Hindu Bali di Jro Baledan Karangasem.
Meskipun demikian, mereka diterima dengan baik serta dapat masuk ke dalam tradisi lokal tanpa rasa ragu. Hanya mereka harus menyesuaikan diri dengan masakan yang dihidangkan pada saat magibung. Hal serupa juga sempat dialami oleh Ratna Dumilah dan Diah Rengsi Pitaloka saat baru pertama kali menjadi bagian keluarga Gusti Ngurah Darsana.
Berbicara mengenai adat serta tradisi sebuah etnik, tentu tidak akan lepas dari kekhasan yang menjadi ciri-ciri etnik tersebut di antaranya adalah kuliner. Makanan merupakan bagian terpenting dalam proses hidup manusia. Untuk itu, makanan serta prosesnya pun mengalami perkembangan dan perubahan seperti halnya manusia. Proses awalnya manusia mendapatkan makanan dengan berburu, kemudian berkembang menjadi bercocok tanam lalu meramu. Pada fase meramu inilah ketersediaan bahan di alam yang berbeda menjadikan tiap-tiap etnik memiliki masakan yang berbeda dan kemudian menjadi ciri khas yang dikenal dengan masakan daerah.
41 Magibung sendiri diciptakan oleh I Gusti Anglurah Ktut Karangasem. Raja Karangasem yang memimpin ekspansi ke Lombok. Magibung ini awalnya berfungsi sebagai sarana absensi pasukan yang ikut berperang.
42 “Baik Yan, kakak juga akan magibung. Supaya pernah magibung dengan cara Bali.”
Hal seperti itulah yang terlihat dalam novel, yaitu tidak hanya orang-orangnya yang berbaur dalam keberagaman, tetapi masakan daerah juga hadir sebagai pelengkap suasana multikultur.
Perpaduan kuliner ini terlihat ketika acara pernikahan Gusti Ngurah Darsana dan Ratna Dumilah, seperti dalam kutipan.
“Sejaba masakan Bali, timbungan, lawar, sate, lan jukut olah, masih mimbuh masakan cara Sasak, ayam taliwang, plecing kangkung, lan beberok.” (Gitaning Nusa Alit, 140).43
Dalam kutipan itu terlihat bahwa multikulturalisme tidak hanya dapat terjadi pada individu, tetapi juga pada masakan daerah yang dibawa oleh tiap-tiap etnik. Perpaduan hidangan yang disuguhkan pada acara pernikahan Gusti Ngurah Darsana dan Ratna Dumilah seolah turut menjadi bagian bersatunya dua etnik dalam ikatan perkawinan.
Setelah menikah dan pindah tugas ke Atambua, Gusti Ngurah Darsana dan Ratna Dumilah untuk pertama kalinya mencicipi masakan khas Timor saat diundang makan di rumah Pak Abu. Pak Abu adalah kepala cabang BRI Atambua yang digantikan tugasnya oleh Gusti Ngurah Darsana. Pada jamuan makan tersebut, Gusti Ngurah Darsana dan Ratna Dumilah merasa puas menikmati masakan laut khas Timor. Kepuasan mereka terlihat dengan menghabiskan semua hidangan yang disajikan. “Mangkin ajaka patpat pada madaar namtamin kaluihan masakanné, uli sop kepiting, kakap lan bandeng bakar telah ludes” (Gitaning Nusa Alit, 154).44 Gusti Ngurah Darsana dan Ratna Dumilah benar-benar menikmati masakan khas Timor meskipun baru pertama kali mencobanya, dari situ muncul keinginan Ratna Dumilah untuk belajar memasak makanan ala Timor. Ini menunjukkan bahwa penerimaan terhadap perbedaan kuliner bisa langsung terjadi meskipun baru pertama kali mencobanya. Artinya, tak
43 “Selain merasakan masakan Bali, timbungan, lawar, dan olahan berbagai sayur, masih ditambah lagi dengan masakan khas Sasak, ayam taliwang, plecing, dan beberok.”
44 “Sekarang mereka berempat mulai makan, menikmati masakan, dari sop kepala ikan, kakap dan bandeng bakar, semuanya habis.”
butuh waktu lama bagi Gusti Ngurah Darsana dan Ratna Dumilah untuk beradaptasi dengan lingkungan kulinernya yang baru.
Meskipun telah berada pada lingkungan kuliner yang baru, Gusti Ngurah Darsanan tetap membawa ciri khas masakan Bali dan Lombok. Pada setiap acara yang dilangsungkan di rumah jabatannya tidak pernah absen hidangan perpaduan Bali, Lombok, dan ditambah pula hidangan khas Timor. Hadirnya perpaduan kuliner dari tiga etnik tersebut dapat diihat ketika Gusti Ngurah Darsana menggelar upacara telu bulanan45 putra pertamanya. Acara yang diadakan dengan meriah di rumah jabatannya mengundang banyak tamu dengan berbagai latar belakang. Masakan khas Bali dibuat oleh Pak Made dan Pak Cerik dibantu oleh Gusti Ngurah Darsana. Masakan khas Lombok dibuat sendiri oleh Ratna Dumilah, sedangkan masakan khas Timor dikerjakan oleh Ibu Markus dan Meina.
Semua undangan yang hadir merasakan aneka masakan yang memadukan sekaligus masakan khas Bali, Lombok dan Timor. Latar belakang etnik yang berbeda tidak menghalangi keinginan untuk berbaur serta mencicipi kekhasan masakan masing-masing. Bahkan, kepuasan terlihat dari David dan Alex ketika mencicipi masakan khas Bali. Hal serupa juga dirasakan Cik Kong Amio, seorang etnik Tionghoa, yang merupakan salah satu nasabah Gusti Ngurah Darsana.
”David lan Alex nganti pindo mimbuh. Cik Kong Amio ajak kurenané masih tuara nyak keserian naar be guling, lawar, lan jukut ares” (Gitaning Nusa Alit, 242).46 Kepuasan yang ditunjukkan oleh David, Alex, serta Cik Kong Amio bisa dijadikan cermin penerimaan yang dilakukan tokoh terhadap heterogenitas kuliner di lingkungan mereka. Ekspresi kepuasan menjadi indikator seberapa jauh mereka dapat betul-betul menerima serta masuk dalam tradisi kuliner yang bukan
45 Sama dengan nelu bulanin
46 “David dan Alex dua kali menambah makan. Cik Kong Amio dan istrinya juga tidak ketinggalan menikmati babi guling, lawar, dan sayur ares.”
milik mereka. Hal ini diungkapkan dalam novel bahwa David dan Alex sampai membuka ikat pinggangnya karena kekenyangan dan Cik Kong Amio mengundang Gusti Ngurah Darsana dalam acara uang tahun anaknya nanti sebagai juru masak. Cik Kong Amio meminta Gusti Ngurah Darsana membuatkan lawar dan babi guling pada saat acara ulang tahun anaknya.
Kuliner juga mendapat imbas dari multikturalisme yang secara langsung mampu menghadirkan interaksi perbedaan, terutama masalah rasa (taste) dalam menikmati makanan.
Terdapat satu hal menarik dalam hal tradisi yang berkaitan dengan multikulturalisme dalam trilogi novel Sembalun Rinjani, yaitu pengadopsian atau pengangkatan anak (memeras sentana). Hukum adat Bali mengenal pengangkatan anak (memeras sentana) serta aturannya mengacu pada peraturan 13 Oktober 1900 tentang Hukum Waris berlaku bagi penduduk Hindu Bali dari Kabupaten Buleleng yang dikeluarkan oleh Residen Bali Lombok. Aturan adat
Terdapat satu hal menarik dalam hal tradisi yang berkaitan dengan multikulturalisme dalam trilogi novel Sembalun Rinjani, yaitu pengadopsian atau pengangkatan anak (memeras sentana). Hukum adat Bali mengenal pengangkatan anak (memeras sentana) serta aturannya mengacu pada peraturan 13 Oktober 1900 tentang Hukum Waris berlaku bagi penduduk Hindu Bali dari Kabupaten Buleleng yang dikeluarkan oleh Residen Bali Lombok. Aturan adat