BAB IV KONDISI ISLAM
KEPADA MASYARAKAT PALEMBANG
E. Adat dan Islam: Uluan Palembang Ketika Tahun 1853- 1853-1881
Dibawah pengaruh kebudayaan kota Palembang, Iliran mengalami proses Islamisasi, tetapi masyarakat Uluan tetap memperlihatkan ciri khas yang berbeda.26 Penyebab utama harus dicari dalam komunikasi yang sulit dengan Palembang, yang terpisah lebih dari seminggu waktu perjalanan, dan jelas tidak mendorong interaksi antara Uluan dengan masyarakat kota.
Abad ke-19 infrastruktur agama di sebagian besar wilayah Uluan masih sangat lemah. Indikasi penting taraf Palembang agama ialah jumlah masjid. Di Uluan Palembang, tempat ibadah ini tidak hanya dipakai untuk ritual agama, tapi juga merupakan satu- satunya tempat untuk pengajaran agama Islam. Walaupun begitu, masjid hanya di dapati di dekat pemukiman kepala adat, dan selain dirinya jarang dijumpai orang yang melakukan kewajiban ibadah sholat.
Oleh sebab itu, di Uluan Palembang, mayoritas penduduk Pedesaan tidak memiliki akses ke masjid maupun pelajaran Islam. Bukti yang lebih kongret tetang rendahnya taraf lembaga agama di Uluan Palembang dapat dijumpai dalam laporan tahun 1847 yang disusun kepala divisi Musi Ulu,
26 Jeroen Peeters, Kaum Tou Kaum mudo: Perubahan Religius di Palembang 1821-1942…. hal 77
106
Raden Demang Abdurahman.27 Daftar sensus ini juga mencatat nama desa yang sudah memiliki masjid. Peta Musi Ulu yang disusun berdasarkan laporan ini menunjukan, bahwa diantara lebih dari 100 pemukiman di hulu Sungai Musi, hanya dijumpai 17 masjid. Jika hasil ini diringkaskan, dari 15 marga atau distrik di Musi Ulu, 11 tidak memiliki masjid.
Dalam konteks yang sama, menarik pula untuk membaca ketentuan agama dalam peraturan pedesaan yang dilakukan pada paroh kedua abad ke-19. Untuk meningkatkan kualitas pegawai agama, pemerintah kolonial misalnya menentukan syarat minimum, seorang khatib harus dapat membaca dan menulis tulisan Jawi. Lagi pula, khatib diwajibkan memberi pelajaran mengaji kepada kaum mudo di desa, di tambah menulis dalam huruf Jawi. Mengenai jabatan lebai penghulu ditetapkan, kepala adat harus mengirimkan calonya ke Palembang untuk dikukuhkan ke residenan, sesudah ujian diberikan Pangeran Penghulu Nata Agama. Ketentuan ini antara lain bermaksud untuk melibatkan pegawai urusan agama dalam kampanye uang jujur.
Langka berikutnya guna melepaskan hubungan kebudayaan kota dan pedesaan ialah penghapusan ketentuan yang mewajibkan lebai penghulu menempuh ujian di depan pangeran penghulu di Palembang. Dengan keputusan residen tanggal 24 Juli 1873 no.42, peraturan ini dicabut kembali dengan maksud agar pengaruh hukum Islam atau hukum adat dibatalkan lagi.
Akibat tindakan ini, di Uluan Palembang taraf pengetahuan hukum Islam tetap rendah. Sebagian besar pegawai agama hanya memiliki sedikit pengertian tentang syarat hukum Islam, sehingga pengaruh fiqih atas hukum adat sedikit sekali. Berkat politik kolonial ini penghulu dan khotib tidak cenderung mengahiri status qou antara adat dan Islam, bahkan sebaliknya tak kalah rapat kepala adat,
27 Jeroen Peeters. Kaum Tou Kaum Modo: Perubahan Religius di Palembang 1821-1942 ….Hal 77
107
biasanya lebai penghulu sering mengukuhkan keputusan adat yang jelas yang bertentangan dengan hukum Islam.
Konsensus tentang hubungan antara adat dan Islam sangat didorong oleh pengaruh kepala adat atas pengangakatan pegawai agama. Undang-undang Simbur Cahaya dari tahun 1873 menetapkan, baik lebai maupun penghulu harus dipilih dengan suara terbanyak oleh angota atau marga. Pada pemilihan demikian, kepala adat biasanya mempunyai banyak kepentingan, agar jabatan yang berpengaruh ini diduduk oleh salah seorang kerabat terdekatnya. Bentuk pemerintahan keluarga yang berkembang pada abad ke-19 menjamin bahwa kedudukan lebai penghulu ditetapkan sepenuhnya oleh sistem adat. Kebijakan informal ini kemudian dengan resmi diperkuat dengan keputusan resedin tanggal 22 juli 1873 no 324 yang menetapkan bahwa penghulu tidak boleh menghadiri pengadilan adat, kecuali hanya untuk mengambil sumpah dengan al-Qur’an.
Meskipun usaha untuk memisah kebudayaan pedesaan Uluan Palembang terus dilakukan. Dengan bertambahnya lalu lintas ekonomi, bertambah pulah minat naik haji ke Mekkah, sedangkan sebaliknya guru agama dari Palembang juga bertolak ke pedesaan dalam jumlah yang lebih besar. Rangsangan penting perkembangan ini ialah pembukaan terus Suez tahun 1869 yang juga memberi implus baru bagi hubungan pelayaran dengan Timur Tengah. Di Palembang minat untuk naik haji juga bertambah banyak.
Sebelum tahun 1852, jamaah masih harus membayar pungutan besar sebanyak Nlg. 110 untuk paspor ke Mekkah, sehingga banyak orang kaya yang bisa naik haji di keresedinan Palembang terutama berasal dari lapisan atas penduduk kota.
Kemajuan teknologi tersebut membawa perubahan fundamental dalam teknik produksi yang menyebar ke seluruh dunia. Pengangkutan jamaah haji mulai memakai kapal laut bermesin uap. Dibukanya terusan Suiz semakin memperpendek jalan pelayaran antara perairan Asia Tenggara, termasuk Nusantara dengan Dunia Timur,
108
membawa pengaruh atas minat masyarakat Palembang pergi naik haji.28
Meningkatnya peminat naik haji ke Mekka tidak begitu berpengaruh pada kebudayaan masyarakat pedesaan.
Akan tetapi, menginjak tahun 1870-an makin nyata perubahan pola kebudayaan agama di berbagai kebudayaan di pedesaan. Namun sesudah tahun 1870M. jumlah orang Palembang yang menetap di Mekkah untuk menuntut ilmu meningkat cepat, sedangkan gejala yang sama pada taraf yang lebih kecil, juga didapati pada jamaah dari pedesaan.
Terciptalah saluran untuk menyebarkan kode ritual.
Peran perantara ini terutama dalakukan oleh para kyai Palembang, yang hampir semata-mata memilih dataran rendah sebagai lapangan kerja, khususnya daerah Musi Ilir dan Lematang Ilir. Daerah ini terus menerus dikunjungi pedagang keliling dari Palembang. Diantara pemborong dari Palembang terdapat pula kyai, yang berkeliling sambil berdakwah dan memberi pelajaran agama. Pada kesempatan itu mereka juga sering bertindak sebagai tabib, dan menjual benda-benda kramat untuk melawan penyakit dan panen yang gagal. Kyai yang berdagang seperti itu keliling dengan menggunakan perahu dagang mereka, yang didayung oleh muridnya sendiri. Adapun bentuk parahu yang digunakan para kyai adalah perahu yang masih didayung sendiri.
Perahu-perahu tersebut mengunakan atap, sehingga ketika mengadakan perjalanan tidak kepanasan dan juga tidak kehujanan ketika hujan datang.29
Kyai lain mengarakan strategi khusus mereka terhadap kepala adat dan memberi pelajaran di masjid desa pada hari Jum’at. Guru agama ini biasanya memilih menetap di pedesaan kemudian mengawini saudara perempuan atau putri kepala adat, dan pada giliranya juga membantu kepala adat dengan pekerjaan tulis menulis. Sebelum kedatangan
28 Dr. M . Dien Majid. Berhaji Di Masa Kolonial. (Jakarta CV Sejahtra 2008).
hlm 56
29 Jeroen Peeters. Kaum Tou Kaum Mudo Perubahan Religius di Palembang 1821-1942 …. Hlm.82
109
kyai Palembang, di desa telah diberi pelajaran agama pada taraf yang amat sangat sederhana oleh khotib, yang mengajarkan mengaji al-Qur’an serta huruf Jawi kepada anak-anak dusun.30 Akan tetapi, kedatangan kyai Palembang menurukan derajat guru agama setempat ke taraf yang lebih rendah. Perantara kota menganggap dirinya sebagai wakil sesungguhnya kebudayaan besar agama Islam, yang sering bertentangan dengan kyai pedesaan yang lebih berakar pada norma masyarakat desa, dan oleh karena itu menepati kedudukan ambivalen terhadap kebudayaan dominan elite kota. Maka guru agama pedesaan diangap rendah oleh kyai yang berkeliling dari Palembang, suatu penilaian yang ditambah dengan perbedaan taraf pengetahuan mereka.
Berbeda dengan Iliran Palembang, yang ramai dikunjungi oleh para kyai Palembang. Guru agama ini dalam pandangan masyarakat pedesaan, memiliki status yang khusus. Oleh sebab itu, agama dan politik ini sulit sekali diawasi Belanda, mengingat kepala adat tidak begitu berani melaporkan ini kepada kepala pengawas di Palembang. Rasa takut pemerintahan kolonial bertambah lagi karena penyebaran propaganda Pan -Islam melalui saluran ini tanpa pengawasan dapat masuk kekalangan penduduk Iliran Palembang.