• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

Peta 1. Administrasi Kecamatan Jenar

commit to user

2. Iklim

Iklim adalah rata - rata cuaca di suatu tempat atau daerah yang luas serta berlangsung dalam waktu yang lama (sedikitnya sepuluh tahun). Cuaca adalah keadaan udara di suatu tempat yang sempit selalu berubah- ubah di setiap waktu. Pengamatan cuaca dilakukan di stasiun-stasiun pengamatan/ observatorium meteorologi.

Tipe iklim di daerah penelitian didasarkan pada tipe iklim menurut Koppen dan tipe iklim menurut Schmitd dan Ferguson, terdapat tiga unsur yang menjadi faktor penentu iklim yaitu temperatur, angin, dan curah hujan. Dalam penelitian ini untuk menentukan tipe curah hujan hanya menggunakan dua faktor yaitu temperatur dan curah hujan. Mengingat di Kecamatan Jenar tidak terdapat stasiun pencatat curah hujan maka data diambilkan dari stasiun pencatat curah hujan terdekat yaitu stasiun Ketro yang terletak di Kecamatan Tanon.

a. Temperatur

Temperatur rata-rata Kecamatan Jenar belum diketahui, untuk mengetahui suhu rata-rata di daerah penelitian dilakukan dengan cara penghitungan menggunakan rumus Braak (Braak dalam Arsyad, 1989: 223), dalam hal ini ketinggian daerah penelitian sebagai penentu suhu rata-rata daerah penelitian. Berdasarkan pada Peta Rupa Bumi digital Indonesia, Kecamatan Jenar berada pada ketinggian 62-163 m dari permukaan air laut.

Rumus Braak:

t = 26,3 0C – 0,61 h Keterangan :

t : Suhu udara rata – rata

26,3 0C : Temperatur rata-rata di permukaan air laut tropis

h : Ketinggian tempat yang dinyatakan dalam ratusan meter.

Diketahui : hmin = 0,62 hmax = 1,6

commit to user

Dihitung : tmax = 26,3 – 0,61 (0,62) = 26,3 – 0,38 = 25,92 0C

tmin = 26,3 – 0,61 (1,63) = 26,3 – 0,99 = 25,31 0C

Maka temperatur tertinggi adalah 25,92 0C dan temperatur terendah adalah 25,31

0C.

b. Curah Hujan

Data curah hujan Kecamatan Jenar diperoleh dari Dinas Pekerjaan Umum Sub Dinas Pengairan Kabupaten Sragen. Mengingat di Kecamatan Jenar tidak terdapat stasiun pengamat curah hujan terdekat yaitu stasiun Ketro di Kecamatan Tanon, dan dianggap dapat mewakili. Data yang diperoleh adalah data curah

hujan harian yang berlangsung selama 10 tahun (2000-2009). Dari hasil

perhitungan curah hujan rata-rata bulan terendah selama 10 tahun (2000-2009) di daerah penelitian sebesar 14,3 mm/hari yang terjadi pada bulan Agustus. Curah hujan tertinggi rata-rata sebesar 311,9 mm/hari yang terjadi pada bulan Januari. Adapun besar curah hujan rata-rata tahunan untuk sepuluh tahun terakhir (2000- 2009) sebesar 1982,2 mm/tahun. Data curah hujan tersebut dirangkum dalam Tabel 25 berikut ini.

commit to user

c. Tipe Iklim Koppen

1) Tipe Iklim Koppen

Metode Koppen adalah metode klasifikasi iklim yang berdasarkan rata- rata curah hujan dan temperaturnya, baik temperatur bulanan maupun temperatur tahunan. Metode ini membagi permukaan bumi ini menjadi 5 tipe iklim yaitu : iklim hujan tropika (A), iklim kering (B), iklim sedang (C), iklim dingin (D) dan iklim kutub (E). Berdasarkan pembagian ini, maka lokasi penelitian termasuk iklim hujan tropik (A). Wilayah iklim ini adalah daerah yang memiliki temperatur bulan terdingin lebih besar dari 18°C. Koppen membagi iklim A lebih lanjut menjadi :

a) Tropika Basah (Af)

Wilayah iklim ini memiliki ciri-ciri yaitu pada saat bulan terkering masih memiliki hujan rata-rata lebih besar dari 60 mm.

b) Tropika Lembab (Am)

Wilayah ini memiliki ciri-ciri yaitu pada bulan-bulan basah dapat mengimbangi kekurangan hujan pada bulan kering. Tipe ini memiliki bulan basah dan bulan kering, tetapi bulan-bulan kering masih dapat diimbangi oleh bulan-bulan basah sehingga pada wilayah ini masih terdapat hutan yang cukup lebat.

c) Tropika Kering (Aw)

Jumlah hujan pada bulan-bulan basah tidak dapat mengimbangi kekurangan hujan pada bulan-bulan kering sehingga vegetasi yang ada adalah padang rumput dengan pepohonan yang jarang.

(Wisnubroto, 1983 : 70)

Berdasarkan Tabel 25 dapat diketahui bahwa rata-rata curah hujan bulan terkering adalah 15 mm yaitu pada Bulan Agustus. Rata-rata jumlah hujan tahunan 1.965,1 mm. Data rata-rata curah hujan tahunan dan curah hujan bulanan terkering digunakan untuk menentukan tipe iklim Af, Am atau Aw. Data ini dimasukkan dalam grafik Koppen yang menunjukkan garis batas Tipe Iklim Af, Am dan Aw. Berdasarkan analisis tersebut Kecamatan Jenar termasuk dalam tipe Am. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 6 sebagai berikut

commit to user 1000 2500 20 2000 1500 40 80 60

Gambar 7. Diagram Tipe Iklim Kecamatan Jenar Menurut Koppen Periode 2000-2009

2) Tipe Iklim Schmidt dan Ferguson

Penentuan tipe curah hujan menurut Schmidt dan Ferguson dinyatakan

dengan nilai “quotient” (Q) yang merupakan perbandingan rerata bulan kering dan

rerata bulan basah. Informasi tentang rata-rata bulan kering dan basah dapat dilihat pada Tabel 24 diatas.

Rumus perhitungan nilai “Q” adalah sebagai berikut: Rata – Rata Bulan Kering (BK)

Q = x 100 % Rata – Rata Bulan Basah (BB)

Tipe iklim berdasarkan curah hujan menurut Schmidt dan Ferguson yang didasarkan pada nilai “Q”. Penghitungan besarnya nilai “Q”, dari tabel 24

diketahui bahwa rata-rata bulan kering 3,4 dan rata-rata bulan basah 8,6 sehingga:

Af

Am

Aw

0

Rata-rata Curah Hujan Tahunan (mm)

R at a -r at a C u rah H u jan T er k er in g (m m ) (1982,2 ; 14,3)

commit to user

Secara topogarfi Kecamatan Jenar terletak pada ketinggian 62 – 163 m di atas permukaan laut. Keadaaan reliefnya terbagi atas datar sampai bergelombang. Datar sampai landai tersebar di sebagian besar daerah Kecamatan Jenar, sedangkan bergelombang persebarannya cukup sempit hanya sekitar 4,21% dari luas seluruh Kecamatan Jenar.

Daerah penelitian merupakan suatu zona lipatan yang mengalami depresi dan merupakan kelompok dari igir Pegunungan Kendeng bagian timur, yang merupakan geosinklin muda yang terlipat sangat kuat sehingga terjadi lipatan terbalik yang terjadi pada gerak orogenesa pada periode plestosen tengah.

Di Kecamatan Jenar juga terdapat bentuklahan asal fluvial. Secara genetik bentuklahan hasil bentukan fluvial pada umumnya merupakan hasil proses pengendapan dari daerah lain. Bentuklahan ini terutama berkaitan dengan penimbunan seperti lembah-lembah sungai besar dan dataran aluvial. Secara alami, proses yang berlangsung diakibatkan oleh kinerja sungai yang meliputi tiga aktivitas yang berkaitan erat antara satu dengan lainnya yaitu erosi, transportasi dan penimbunan/pengendapan.

Peristiwa penimbunan biasanya diawali oleh proses erosi (material yang terkikis), kemudian terangkut oleh air dan akhirnya diendapkan di tempat lain yang lebih rendah seperti di dataran rendah dan cekungan. Pengendapan ini bisa terjadi karena kemiringan lereng/gradien sungai yang relatif kecil sehingga menyebabkan kecepatan dan energi aliran berkurang. Akibatnya terjadi penurunan tenaga untuk mengangkut material hasil erosi sehingga kemungkinan besar material itu mengendap.

Di lokasi penelitian terjadi pengendapan di bagian selatan, yaitu tepatnya di tepi Bengawan Solo yang melalui Desa Japoh, Desa Mlale, Desa Dawung, dan Desa Kandang Sapi . Hal ini disebabkan karena berkurangnya daya transport akibat perubahan gradien sungai yang sebelumnya bergradien besar dari hulu yaitu Vulkan Merapi, Merbabu dan Pegunungan Selatan menjadi kecil di bagian selatan Kecamatan Jenar serta meander Bengawan Solo juga menyebabkan kecepatan aliran berkurang dan diendapkan pada alur-alur sungai serta di tepi kanan-kiri alur sungai saat terjadi banjir.

commit to user

b. Geologi

Berdasarkan hasil interpretasi Peta Geologi Jawa skala 1:250.000, struktur batuan yang menyusun daerah penelitian meliputi:

a) Alluvium (Qa), batuannya tersusun atas lempung, lanau, pasir dan

kerikil. Umumnya lempung dan lanau berwarna kehitaman, bersifat lunak, plastisitas sedang – tinggi, sedangkan pasir dan kerikil bersifat lepas, tebal antara 1,00 – 2,00 m. Luas penyebarannya 43,35 Ha dan hanya terdapat di Desa Kandang Sapi.

b) Formasi Kabuh (Qk), batuaanya berupa batu pasir, berwarna abu-abu

terang, berbutir sedang sampai kasar, keras, berstruktur silangsiur. Pelapukan batuan berupa lanau lempungan, berwarna coklat kemerahan, konsistensi teguh sampai kaku, plastisitas rendah sampai sedang. Luas penyebarannya hanya 3,10 Ha dan hanya terdapat di Desa Kandang Sapi.

c) Endapan Lahar Lawu (Qlla), terdapat pada bagian lereng bawah Gunung

Lawu. Batuannya tersusun oleh andesit. Luas penyebarannya 510,12 Ha. Tersebar di Desa Japoh, Mlale, Dawung dan Kandang Sapi.

d) Kelompok litologi Formasi Kerek (Tmk), batuannya berupa perselingan

batu pasir, batu lempung, tuf napal dan batugamping. Luas penyebarannya 2484,03 Ha. Tersebar di Desa Ngepringan, Jenar dan Banyurip.

e) Kelompok litologi Formasi Kalibeng (Tmpk), batuannya berupa napal,

setempat sisipan tuf, batu pasir tufaan dan kalkarenit. Luas penyebarannya 3638,44 Ha. Tersebar di Desa Banyurip, Ngepringan, Japoh, Mlale, Dawung dan Kandang Sapi.

f) Kelompok litologi Formasi Klitik dan Formasi Kalibeng (Tpkk),

batuannya berupa batugamping putih kekuningan kecoklatan, berlapis (20–60 cm) dan di beberapa tempat mengandung kepingan koral serta napal. Luas persebarannya 569,21 Ha. Tersebar di Desa Mlale, Dawung dan Kandang Sapi.

commit to user

Dokumen terkait