M uhammad Azhar*
dan Wapres). Menurut saya tidak etis menginjak- Islam Laskar Jihad atau Majelis Mujahidin. Jadi injak simbol-simbol negara. Mbak Mega juga tidak saya tidak terlalu terfokus pada pemaknaan terlatih untuk merespon kasus tersebut secara toleransi. Sekarang kita harus melatih keluarga cerdas. “ Nanti saya pecat mahasiswa dari status kita untuk belajar berdemokrasi. Nabi Ibrahim kewarganegaraannya” . Termasuk juga generasi saja berdialog dahulu dengan Ismail ketika Gus Dur, mungkin juga Amien Rais, dll. Kalau m e m p e ro l e h w ah y u d ari A l l ah u n tu k generasi mahasiswa sekarang mungkin sudah menyembelihnya, apalagi kalau hanya perintah agak lumayan. Kalau generasi Gus Dur, Mega itu Megawati, ya harus lebih didialogkan.
generasi tertindas. Jadi mereka kurang lama Menurut saya, toleransi secara internal terlatih untuk bertoleransi. Inilah yang membuat terbagi dua. Internal umat, saya sepakat dengan bangsa kita menjadi kurang toleran, ada represi. Hassan al-Banna, itu juga problem. Mari Jangan-jangan selama ini yang dikatakan toleran bekerjasama dalam hal-hal yang sudah kita itu semu, toleran terhadap represi, atau dalam sepakati dan mari bertoleransi pada hal-hal yang bahasanya Emha, “ bangsa kita ini sudah terbiasa belum kita sepakati. Misalnya saja tentang pasal untuk menikmati penindasan” . Menurut saya 29. Saya melihat itu bisa kita padukan. NU dan kasus pornografi, tawuran, korupsi itu hanya Muhammadiyah menolak karena mereka itu pelampiasan saja. Pelampiasan dari suasana orang lapangan, orang bumi. Kalau Majelis konflik batin yang tidak tersalurkan. Bisanya Mujahidin itu orang langit, yang paradigmanya adalah dengan menyalurkannya melalui korupsi transedental, wahyu. Seperti itulah paradigma dan memanipulasi aturan. Rakyat miskin, kelangitan. Tapi saya melihat, mereka masih menyalurkan kesumpekan psikologisnya pada punya niat baik hanya saja masih kurang dukun, dangdut dan pornografi. Bahkan Menteri p e n g a l a m a n d i l a p a n g a n . N U d a n Agamapun juga percaya pada dukun. Gus Dur Muhammadiyah itu orang lapangan, paradigma sebenarnya sudah mencoba, tapi terlalu cepat. bumi, p arad igma ko ntekstual, p arad igma Menurut saya Gus Dur terlalu cepat jadi presiden, empiris. Mereka bukan melihat ini ide baik, tapi maka tidak bisa lama-lama, karena rakyatnya u m at s i ap atau ti d ak . Say a m e n c o b a belum siap. Dia ingin rakyatnya bebas, mandiri, mensinergikan ide Majelis Mujahidin. Ini bagus merdeka, tapi sayang tidak sebesar Gus Dur. Jadi juga, paling tidak semangatnya. Persoalannya Gus Dur bukan pemimpin ideal saat itu. bagaimana menerapkan syariat Islam yang
Kelima, adanya trauma. Indonesia trauma universal dan inklusif sehingga non-muslim bisa pada PKI. Kalau di Amerika, trauma pada menerimanya dengan rasional (dan umat muslim seluruhnya memahami dengan baik dan menjadi
komunis. Orang AS takut dan trauma pada tiga
tenang red). kata: komunis, radikalis dan teroris. Sedang orang
Bagaimana agar bangsa Indonesia kembali Indonesia trauma pada PKI, Muhammadiyah
pada nilai-nilai ketuhanan. Menurut saya, secara trauma sama NU. Orang NU trauma sama
internal kita tidak terlalu parah, kita masih cukup Muhammadiyah, jangan-jangan Muhammadiyah
toleran. Kalau secara eksternal, kita sudah berkuasa kembali. Maka ketika Gus Dur
m ento lerir d alam arti key akinan. Kalau berkuasa, ya “ kesempatan” . M umpung Gus Dur
keyakinan kita harus lakum dinukum waliyadin. berkuasa, banyak anak muda NU yang di cafe-
Dulu kita tidak toleran dengan bangsa Cina.
cafe. Selain itu ada trauma antara IslamKristen.
Mereka merasa bukan orang Indonesia. Itu salah Bagi saya itu sebuah kewajaran sosiologis-
kita. Kita tidak membuat mereka menjadi tuan kultural, walaupun bukan kewajaran religius.
rumah yang baik. Sikap kita selalu memusuhi Segi kelima itulah yang membuat bangsa
mereka. Secara eksternal keyakinan Islam kita semakin relevan untuk tidak toleran.
sebenarnya tidak seperti itu. Tapi kalau sudah Wacana-wacana HAM, pluralisme tinggal diisi
masalah publik, kita harus tegas. Tidak ada dengan nilai-nilai universal agama-agama.
toleransi wilayah publik, tapi bermain lewat Bagaimana HAM versi Islam, Kristen, Hindu,
aturan terutama menghadapi perilaku sosial Buddha, maupun local religions. Islam juga
yang destruktif seperti KKN, dll. macam-macam, Islam NU atau Muhammadiyah,
Tapi di tingkat lokal, saya kira kedekatan macam itu Sed angkan istilah empati merupakan
harus menjadi social contract. Ada etika universal, bahasa psikologi. Bagaimana orang Muham-
dimana kita hidup sebagai saudara, hidup dalam madiyah ketika melihat NU seolah-olah dirinya
cinta kasih. Ada juga etika di tingkat lokal, misalnya seperti orang NU. Banyak derivasinya. Tapi
soal rizki, inovasi, multikultural. Persoalannya, banyak juga hal-hal yang positif dari NU dan
bagaimana kita menderivasi nilai-nilai agama Muhammadiyah. Kita melihat kenapa Cina itu
universal di tingkat lokal? Sekarang bagaimana eksklusif? Karena kita melihatnya dari kacamata
m e n u ru n k an n y a. M i sal n y a k i ta d i su ru h kita. Wajar mereka eksklusif karena mereka
musyaw arah. Ini bisa kita lakukan d engan diasingkan.
pendekatan budaya. Etika harus universal, jangan Bagaimana kita harus mengerucutkan
disusun oleh satu kelompok atau dari pemimpin toleransi pada tingkat hukum kalau berkaitan
tertentu. dengan wilayah publik? Dalam negara hukum
Ada kesan konflik dijadikan alat legitimasi kita bermain lew at hukum, sekarang lew at politik, seolah-olah hanya negara dan militer yang undang-undang. Ada teori rekonsiliasi untuk bisa dan berhak menyelesaikan masalah. Sehingga menjawabnya. Ada arbitrase, bahwa lebih baik ada pemikiran bahwa konflik ini sebaiknya jika konflik itu diselesaikan oleh dua orang yang dipelihara, maka kita warga sipil harus hati-hati bersengketa. Di dalam rekonsiliasi ada pihak jangan sampai terjadi konflik di antara kita, dengan ketiga, med iato r. Dia harus rembug ap a. begitu militer akan mengambil alih peran sipil yang
Walaupun nanti yang rukun adalah antar mereka s u d a h b a g u s w a l a u p u n b e l u m b e g i tu saja. Kita hanya penengah, yaitu pihak yang berpengalaman.
Jelas sekali bahwa konflik Ambon itu konflik merukunkan.
horisontal, antarrakyat. Sedangkan konflik Aceh Kita harus bagi-bagi tugas. Dalam sejarah
adalah konflik vertikal, yaitu rakyat dengan Islam orang yang suka ngeyel itu termasuk Umar
pemerintah. Saya pernah beri solusi, sebaiknya bin Khattab. Kaum muda, Salman al Farisi. Lalu
Aceh itu dishodaqohkan saja. Saya tahu logika orang ada DSUQ, itu kelompok Usman bin Affan.
Aceh. Orang Aceh punya prinsip dan harga diri. Toleransinya disitu. Kita berempati, saling tahu
Kalau d ilep as m aka akan hab is- hab isan. kekuatan dan kelemahan. Ini sebagai contoh
Sebenarnya, kalau Aceh cerai, dia bisa jadi tetangga dalam Islam. Dalam agama lain saya kira juga
yang baik. Aceh kurang SDM, maka kita beri, kita seperti itu, tetap ada polarisasi keberagamaan.
barter dengan kekayaan. Maka bukan hanya Ketika sebuah wajah toleransi diletakkan
masalah ekonomi tapi juga harga diri. Sekarang pada konteks pimpinan non formal dan formal,
ribuan janda menjadi tentara, yang disebut pasukan m aka ini bisa m enjad i ind ikato r bahw a
p ara jand a (inong bale). Dulu saya p ernah masyarakat belum memiliki to leransi yang
mengusulkan, kalau Aceh pengin aman, segera sesu ng g u hny a. Lalu b ag aim ana c arany a
jenderal yang bermasalah di Aceh diproses secara membangun kesadaran kritis? Kita memang harus
hukum. Tapi ini yang tidak dilakukan, sehingga hati-hati, p ertam a setiap ko m unitas ad a
Aceh semakin berlarut-larut.
pemimpin. Namun selama ini bukan persoalan Apakah bangsa kita bisa dididik? Bagi orang elitis tapi bagaimana cara kita memfungsikan Islam, misalnya, kalau kita berpegang pada al- pemimpin itu. Selama ini pemimpinnya yang Qur'an dan Hadits tidak ada masalah. Apa sih dipertahankan tapi pemimpin tidak dilatih untuk bedanya NU dan Muhammadiyah. Sekarang malah mew ujudkan partisipasi baw ahan. Sekarang muncul fenomena terbalik. Orang Muhammadiyah pemimpin kita perlu dididik ulang, direkayasa banyak yang pakai sarung dan NU banyak yang ulang; salah satunya dengan memfungsikan pakai jas. Saya yakin, agama-agama di luar Islam kembali kepemimpinan lokal. Ciri-ciri pemimpin keinginan bertoleransinya sudah semakin tinggi. m asy arakat m ad ani (civ il society ) ad alah Jadi sebenarnya perlu ada pendekatan. Kalau partisipasi, mobilisasi, informal. Sekarang ada lewat pendidikan bisa saja pelan-pelan dan bisa juga kesadaran baru, bangsa kita emoh pada penguasa, lewat “ perut” . Yakni melakukan bantuan sosial
pejabat negara. secara lebih merata. Insya Allah masa depan Um at Islam , sebag ai m ay o ritas telah Indonesia menjadi lebih baik. Amien.[]
memberikan toleransi melalui seni bermusyawarah.
Sampai kapankah agama mendapat yang memiliki paling banyak. Dalam tempat dalam kehidupan manusia? Sam- situasi seperti ini hanya segelintir orang pai ketika manusia tidak percaya lagi yang sadar bahw a telah bertumbuh pada nilai-nilai dalam hidup. Lalu nilai jamur-jamur frustasi di kalangan yang apa yang paling lama bertahan? Nilai mengalami kekalahan bertubi-tubi. yang mensakralkan kehidupan. Sepan- Bagi mereka yang punya banyak jang manusia konsisten menjaga nilai kesanggupan, keamanan, kemapanan, hidup, selama itulah agama masih diper- kenyamanan, kepuasan dan kenikmatan caya berguna dalam kehidupan manusia.Hidup adalah nilai penting untuk dikembangkan dan ini sungguh luas bagi orang yang mempunyai dipertahankan. Tapi bagi yang frustasi tak ada kesanggupan untuk menguasainya. Tapi berapa lagi yang berharga kecuali menyingkirkan rasa banyak manusia yang mampu menguasai dan panas-cemburu dengan berbagai cara, termasuk mengarahkan hidup sebagaimana yang diingin- menyingkirkan kesenangan orang lain tanpa kannya, dibanding mereka yang berada dalam peduli dicap kriminal atau teroris. Sebagaimana himpitan keterbatasan? Kenyataannya, yang mereka yang punya banyak kesanggupan, mere- sedikit itu semakin berkuasa untuk mengatur ka yang merasa diperlakukan tidak adilpun, yang banyak dengan berbagai cara yang sangat mempunyai kecerdasan untuk menciptakan halus dan mempesona. Lihatlah televisi. Berapa paham-paham yang mampu menggerakkan jumlah pemilik modal yang menawarkan da- orang dengan penuh keyakinan.
gangan melalui iklan? Berapa juta pemirsa televisi Di manakah agama dalam situasi ketidak- yang tanpa sadar membenamkan diri dalam citra adilan global yang bisa melahirkan kebrutalan indah-baik-buruk berdasarkan apa yang diran- dan rontoknya sendi-sendi moral masyarakat? cang dalam iklan? Sekian juta pemirsa televisi Agama masih tergolek dengan bahasa purbanya, mengarahkan hidupnya dalam pola konsumtif dalam alam pikir yang mengandaikan waktu dan berusaha mewujudkan diri sebagaimana yang terhenti dan dunia yang terpilah-pilah. Se- yang dijajakan dalam iklan. bagian umatnya khusuk menikmati kesyahduan
Banyak orang berlomba dengan keinginan dan ketenangan dalam rasa percaya. Sebagian dan mimpi-mimpi dalam hidup yang serba menggelisahkan agama karena memikirkannya. konsumtif. “ Aku adalah apa yang aku miliki” , Sebagian hanya berkepentingan dengan agama demikian Eric Fromm menengarai faham serba untuk acara pernikahan dan kematian. Agama kebendaan (materialisme) yang makin mendarah masih ada dan menghabiskan energi demi me- daging dalam manusia modern. Sementara numbuhkan institusi-institusi untuk memelihara mimpi dan keinginan tak pernah habis dikejar, rasa syahdu dan tenang dalam rasa percaya bergelimpangan kelompok manusia tersisih u matnya.
d al am k e te rb atas an p e n g e tah u an d an Ada apa dengan agama? Bukankah di da- ketrampilan, hutan dibakar, lahan pertanian lamnya terdapat ensiklopedi kesalehan, kearifan digusur, warung jualan dirobohkan. Tapi siapa dan kesucian yang menyerukan rahmat, cinta peduli! Paham serba kebendaan sangat sedikit kasih, damai atau kebijaksanaan? Mengapa harus menyisakan ruang bagi diskursus keadilan. Yang menghabiskan energi demi institusi-institusi? berlaku adalah siapa yang paling berkuasa dialah Sebagai suatu sistem tanggapan manusia atas