BAB III ARENA DAN KELAS
3.2.1 Arena Agama
3.2.1.1 Agama Katolik
Dalam Novel Pengakuan Eks Parasit Lajang, Ditemukan bahwa tokoh “A” banyak melakukan protes dan kritik terhadap gereja Katolik dalam mempresentasikan posisi perempuan. Kritik feminisme tersebut terkait zinah, Adam dan Hawa, patriarki gereja, serta sakramen pernikahan.
3.2.1.1.1 Zinah
Tokoh “A” menunjukan tidak setuju terhadap sikap atau ajaran agama Katolik terdapat larangan berzinah. “ Dalam sistem Katolik zinah juga merupakan dosa berat. Hukum yang diterima oleh pezinah bukalah hukum fisik, melainkan seorang yang telah berbuat dosa berat tidak pantas menerima apa yang disebut Sakramen Mahakudus. Sakramen Mahakudus adalah Tubuh dan Darah Kristus sendiri dalam rupah Hosti. Seorang yang telah melakukan dosa berat harus lebih dulu melakukan pemeriksaan batin dan ibadat tobat dahulu sebelum layak menerima Sakramen Mahakudus. Pemeriksaan batin tersebut adalah dengan cara mengakui segala perbuatan dosa di depan pastor. Sistem Katolik yang demikian membentuk tokoh “A” untuk melakukan pemeriksaan batin. Tokoh “A” menolak
kesimpulan bahwa dia harus memilih salah satu di antara menjadi Katolik atau pezinah. Dan tokoh “A” memilih yang terakhir” (Utami, 2013: 45).
Dengan demikian tokoh “A” memilih untuk meninggalkan agama dan memilih menjadi seorang pezinah. Sikap ini diambil oleh tokoh “A” dikarenakan ia keberatan harus mengikuti ajaran Katolik yang mengharuskannya melakukan pengakuan dosa setiap kali ingin menyambut Tubuh Kristus.
3.2.1.1.2 Teks Kitab Suci Adam dan Hawa
Dalam novel ini juga terlihat tokoh “A” menunjukan protesnya terhadap penafsiran gereja terhadap teks Kitab Suci Adam dan Hawa. Hal ini terdapat dalam kutipan berikut.
(61) Sama seperti Adam seandainya ia menyalahkan Hawa karena buah Pohon Pengetahuan yang dimakannya. Wahai, dari mana sikap seperti itu datang? Sikap yang sungguh tidak adil? dan, sesungguhnya ada yang lebih mengherankan lagi. Kelak aku tahu bahwa kisah Hawa diciptakan dari rusuk Adam sesungguhnya tidak ada dalam kitab suci Nik. Cerita itu hanya ada dalam Alkitab Yudeo-Kristiani, yaitu kitab yang digunakan oleh orang Yahudi dan Kristen bersama-sama, yang oleh orang Kristen dinamakan Genesis atau Kitab Kejadian, buku pertama dalam Perjanjian Lama (Utami, 2013: 42).
(62) Si perempuan menerima bujukkan ular untuk makan buah Pohon pengetahuan, dan si lelaki menerimanya dari si perempuan. Mereka jatuh ke dalam dosa. (bagi A, mereka jatuh kedalam kesedihan. Pohon itu sendiri adalah dilema yang sedih. Tapi itu nanti dulu). Gara-gara perempuan, lelaki terbujuk ke dalam dosa. Semua gara-gara perempuan. Maka, perempuan harus menanggung akibatnmya. Ia harus dijauhi. Ia harus dikendalikan. Ia tidak boleh memegang kuasa (Utami, 2013: 220).
Berdasarkan kutipan (61) dan (62) terlihat tokoh “A” mengkritik gereja atas penafsiran teks Adam dan Hawa oleh pemuka agama. Penafsiran tersebut
menimbulkan pemahaman bagi umat gereja, bahwa perempuan adalah makhluk kelas dua yang tidak lebih penting dari laki-laki. Serta akibat kesalahan perempuanlah yang mengakibatkan manusia terjerumus dalam dosa.
3.2.1.1.3 Patriarki Gereja Katolik
Posisi “A” sebagai agen dalam arena agama juga terlihat memberikan kritikan terkait hirarki gereja Katolik yang terdiri dari laki-laki saja. Hal ini membuat “A” merasa gereja telah berlaku tidak adil kerena hanya menjadikan laki-laki sebagai imam. Hal ini berarti gereja menganggap perempuan tidak layak memimpin umat. Kritikan tersebut terlihat pada kutipan berikut.
(63) Di kastil Sri Paus tidak ada wanita. Semua yang ada di sana adalah lelaki. Sementara itu, di Kastil Raja ada banyak perempuan; tapi mereka adalah objek seks Raja dan para lelaki: istri, selir, gundik. Keadaan yang aneh, sesunggunya; tapi yang berada dalam kekuasaan Istana Patriarki ini tidak melihat keanehannya sebab mereka berada di dalam kekuasaan patriarki, Sri Paus maupun Kastil Raja sebetulnya sama-sama menyingkirkan perempuan dari pusat kekuasaam (Utami, 2013: 219).
Pada bagian ini, terlihat tokoh “A” tidak hanya memberikan kritikan terhadap hirarki gereja. Dia juga mencoba untuk memeriksa sistem patriarki apa saja yang terdapat dalam gereja Katolik dan mengapa hal itu terjadi. Ditemukan tokoh “A” menganalisis sistem menggunakan pertanyaan yang berusaha ia jawab. Pertayaan tersebut adalah mengapa imam hanya lelaki dan mengapa Yesus laki-laki? Kemudian, “A” mendapatkan jawabannya seperti yang ditunjukkan pada kutipan berikut.
Allah”. Jadi, sebagai kurban penebusan, ia harus jantan juga menurut tradisinya. 2) karena imam dalam tradisi Yahudi lelaki (Utami, 2013: 176).
Kemudian, tokoh “A” memeriksa kembali apakah Yesus menganut nilai-nilai partirki? Jawabanya Yesus 95% tidak patriarki. Hal tersebut dikarenakan bahwa sikap Yesus tidak merendahkan perempuan dan memiliki kedekatan dengan dunia feminis. Hal ini dapat ditunjukan pada kutipan berikut.
(65) Ia tidak pernah membuat peryataan melarang perempuan menjadi seorang imam atau pemimpin. Tidak terdeteksi ada ajaran atau perumpamaanya yang merendahkan perempuan. Ia sering mengumpamakan Tuhan sebagai perempuan. Ia membenarkan pilihan Martha untuk mendengarkan kuliahnya padahal ada yang menyuruh perempuan itu melayani di dapur. Ia membiarkan perempuan mens menyentuhnya padahal tradisinya menganggap najis. Ia tidak terdeteksi mengambil jarak dengan perempuan. Ia ngobrol bebas dengan cewek-cewek, ia membebaskan pelacur dari rajam. Tidak terdeteksi ia melecehkan sifat-sifat tambahan yang sering dianggap milik perempuan, seperti feminine-dramatis-sentimentil (dibandingkan maskulin –dingin-rasional (Utami, 2013: 277).
“Tokoh “A” menganalisis mengapa gereja Katolik tampak sangat patriarki. Tapi Yesus tidak patriarki. Dia kembali mendapatkan jawaban tersebut, dijelaskan bahwa hirarki gereja tersusun tidak oleh hanya lelaki yang tidak menikah atau selibat. Secara formal, mereka tidak menikah, tidak dapat beranak. Hirarki gereja diperumpamakan sebagai inorganik, yaitu penyangga tubuh dan agama Katolik sebagai tubuh. Hal ini berarti Paus dan bawahannya adalah kerangka bagi gereja Katolik. Tetapi kerangka tak bisa berbuat lebih banyak dari tubuh (gereja Katolik) itu sendiri” (Utami, 2013: 278-280). Hal ini juga didukung oleh kutipan berikut.
(66) Artinya, kau tidak bisa melihat hirarki sebagai indentik dengan gereja. Gereja lebih luas daripada hirarki. Seperti manusia lebih luas daripada lelaki (Utami, 2013: 281).
Tokoh “A” menerima pandangan bahwa Yesus tidak bersifat patriarki sebab tidak ditemukan adanya perilaku Yesus yang merendahkan perempuan. Akan tetapi “A” memandang gereja masih patriarki. Sebab, hirarki kepemimpinan dalam gereja Katolik hanya menempatkan laki-laki sebagai pemimpin bagi umat.
3.2.1.1.4 Sakramen Pernikahan
Sebagai seorang wanita yang memutuskan tidak menikah tokoh “A” tidak luput memeriksa Sakramen Pernikahan dalam gereja Katolik. Hal tersebut terlihat dalam kutipan berikut.
(67) Tapi kini A yang melakukan Penyelidikan Kanoniknya sendiri terhadap sistem gereja Katolik. Memangnya cuma gereja yang bisa menyelidiki orang. A telah memiliki sistemnya yang mandiri. Dan ia mau pasti bahwa sistem yang ia masuki ini tidak bertentangan dengan sistemnya (Utami, 2013: 274).
(68) Ia pergi ke toko buku Obor di Gunung Sahari dan membeli Kitab Hukum Kanonik. Ia mempelajari hukum perkawinan dan tidak menemukan pembedaan wewenang lelaki dan perempuan. Kedua Suami-istri memiliki kewajiban dan hak sama mengenai hal yang menyangkut persekutuan hidup perkawinan. Artinya, teknis pembagian kerja silakan diputuskan oleh individu yang menikah sesuai dengan kelebihan, kekurangan, dan keadaan masing-masing. A merasa itu fair (Utami, 2013: 274).
(69) Sistem A menemukan persoalan dalam perkawinan Katolik tidak ada ditemukan kesalahan ontologis. Tidak ada inkonsitensi internal perihal kesetaraan jender (Utami, 2013: 275).
Berdasarkan kutipan di atas, dijelaskan bahwa tokoh “A” tidak memiliki permasalah gender dalam sistem perkawianan dalam ajaran Katolik. Menurutnya sistem ini telah adil terhadap perempuan dan laki-laki. Setelah melewati
tidak bertentangan dengan sistem miliknya. Tokoh “A” memutuskan untuk menerima sistem itu dan menikah dalam ajaran Katolik. Hal ini ditunjukan dalam kutipan berikut.
(70) Usianya Sudah lewat empatpuluh ketika memutuskan untuk menjalani Sakramen Perkawinan. Ia sudah melampaui keinginan romantis. Ia ingin upacara yang sederhana dan praktis. Perkawinan ini tidak berarti apa-apa bagi dirinya sendiri. Sakramen ini hanya merupakan tanda solidaritas, dan tanda bahwa ia tidak lagi menemukan kesalahan ontologis dalam komunitas kecilnya (Utami, 2013: 292).
Dari kutipan tersebut dijelaskan bahwa tokoh “A” menerima Sakramen Perkawinan dalam sistemya sebagai tanda bahwa ia tidak lagi menemukan kesalahan dalam komunitas gereja Katolik terkait sistem perkawianan.