Bab III Dunia yang Dibayangkan Muslim Melankolik:
B. Mencari Filmis: Objek (a) yang Hilang
2. Agama
Subjek neuroris obsesional menjadikan agama sebagai objek a. Empat film ini masih bersifat represif, belum sampai kepada sublimasi. Represif yang bersifat
97 melankolik. Beberapa contoh dari empat film ini menjadikan agama sebagai hasrat (objek a).
2.1 Agama (Islam) sebagai objek libidinal
Tindakan tokoh utama dalam film ini selalu ingin berada di koridor (hukum) Islam. Apa pun tindakan mereka selalu dipayungi oleh hukum Islam. Seperti perdebatan yang selalu terjadi antar tokoh utama dengan liyan selain Muslim. Ketika Rangga berdebat dengan Steven, Asmara dengan Zhongwen, selalu menjelaskan soal hukum Islam mengapa tak boleh berpacaran, makan babi, dan bersentuhan tangan karena bukan mahrom. Bahkan Mada pun dipertanyakan agamanya oleh bapaknya Su Chun. Jika ia tak beragama Kristen, Katolik, Budha, Hindu, dan justru beragama Islam, lalu mengapa tak salat?
Ketika Fahri salat (AAC) Rangga & Khan salat di ruang doa(99 Cahaya)
Mada salat di India (Haji Backpacker)
Asmara salat di Masjid Nijeu (Assalamualaikum Beijing) Gambar 15. Adegan salat oleh tokoh utama di setiap film
Di setiap film semua tokoh melaksanakan salat. Bahkan di dalam penjara yang kumuh sekalipun, Fahri tetap melaksanakan salat lima waktu. Salat menjadi masalah keseharian Rangga dan Khan karena harus dilaksanakan di ruang doa umum untuk
98 berbagai agama. Protes Khan juga karena lokasinya di sebelah dapur umum. Rangga bahkan membaca Al Quran di perpustakaan ketika galau akan jadwal ujian yang bertepatan dengan salat Jumat. Asmara bahkan salat di sebuah masjid tua di Beijing.93
Adegan penjilbaban menjadi salah satu hal yang penting di setiap film ini. Penjilbaban kepada Marion yang mualaf oleh Ayse, kepada Hanum di kuburan Ayse oleh Fatma Pasha, dan Marya kepada dirinya sendiri di depan cermin. Marya menutup rambutnya dengan kerudung ketika ia patah hati menemukan kenyataan bahwa Fahri sudah menikah dengan Aisya.94 Adegan penjilbaban ini dibuat sebegitu dramatis, tak jarang berurai air mata dan musik yang sendu. Seolah ingin menggambarkan ‘hidayah’ yang diterima oleh masing-masing tokoh.
Maria mengerudungi diri sendiri (AAC)
Marion dikerudungi Ayse (99 Cahaya)
Hanum dikerudungi atas keinginan sendiri di makam Ayse (99 Cahaya2)
Zhongwen dipasangkan peci (Assalamualaikum Beijing) Gambar 16. Adegan pelekatan simbol Islam (kerudung/peci) kepada tokoh
93Di film Ayat-Ayat Cinta 2, Fahri bahkan salat di ruang kelas. Adegan Fahri salat di ruang kelas sebelum memulai perkuliahan menjadi bahan perbincangan dan perundungan oleh mahasiswanya. Namun Fahri beralasan jika ia memilih di tempat lain, maka jadwal perkuliahan akan molor karena lokasinya lebih jauh. Sementara sebagai seorang dosen, Fahri punya kantor yang bersifat privat, mengapa ia tak salat di kantor?
94Di film Ayat-Ayat Cinta 2, Fahri meminta Hulya untuk memakai kerudung. Duduk di bangku taman, Fahri memasangkan selembar kain ke atas kepala Hulya. Adegan ini berlangsung secara dramatis dengan latar tempat yang eksotik di kala senja.
99 Begitu juga dengan adegan Zhongwen dipakaikan peci oleh Asmara. Meski Zhongwen mengatakan dirinya bukan Islam, Asmara tetap menghadiahkannya peci. Peci adalah simbol seorang Muslim. Memakaikan peci bagi Zhongwen layaknya memakaikan jilbab pada seorang perempuan. Adegan Zhongwen menjadi mualaf dibuat secara dramatis. Penandaan terhadap pemenuhan aturan-aturan Islam, menutup aurat, tidak berjabat tangan (laki-perempuan), taaruf (bentuk penolakan terhadap laku berpacaran), adalah kenikmatan dan kepatuhan dalam menjalankan aturan Tuhan.
Mada berkali-kali bermimpi dan mengalami kejadian ‘mistis’. Penyesalan-penyesalannya disalurkan di alam mimpi. Begitupun penyelesain terhadap berbagai masalahnya hadir di alam bawah sadar. Secara eksplisit disebutkan bahwa Mada sedang belajar Tasawuf.
Mimpi Mada Mada bertemu ayah (alm) di Mekkah Gambar 17. Penyesalan-penyesalan Mada yang muncul dalam mimpi (Haji Backpacker)
Pada awalnya, di Thailand dan Vietnam Mada mimpi melihat dirinya mati. Ia melihat dengan jelas wajahnya yang sudah mati. Kemudian mimpi terbang dengan balon udara yang besar, namun terjatuh karena balon tertusuk kubah. Di India, Mada bermimpi bertemu dengan Sofia. Masalah di antara mereka selesai di dalam mimpi. Sofia memberi Mada tasbih. Namun ketika terbangun di kala subuh, Mada menemukan tasbih tersebut berada di dalam genggaman tangannya.
100 Di Thailand Mada bermimpi bertemu dengan sang ayah. Di dalam mimipi sang ayah menyuruh pulang, namun Mada menolak. Ayahnya memakai pakaian ihram (pakaian haji), percakapan mereka berdua berujung ayah Mada terjun ke jurang. Ketika sampai di kuburan jemaah yang wafat ketika berhaji, Mada melihat ayahnya berjalan beriringan bersama jemaah lain dan tersenyum padanya.
Tulisan Arab kufik di kerudung Bunda Maria (lukisan The Virgin and Child) dan di artefak yang berada di Museum Louvre menjadi penanda sesuatu yang Islam bagi Hanum dan film ini. Ia melegitimasi Bunda Maria (yang Nasrani) sebagai Islam. Hanum dan Rangga pada akhirnya menunaikan ibadah haji ke Mekkah, begitu juga dengan Mada. Berhaji adalah bentuk kepatuhan ‘ideal’ yang menjadi pamungkas dalam rukun Islam kelima. Menandakan kepatuhan kepada sang Khalik dengan menjalankan perintahnya (lima rukun Islam).
Keyakinan/iman (pada Tuhan) merupakan salah satu bentuk paling jelas dari pemenuhan objek a agama. ‘Other’ dalam agama adalah liyan yang penuh, di film ini Mada mencari-cari Tuhan hingga mengelilingi sebagian dunia dan menemukannya hingga ke Mekkah. Rangga, Fahri, dan lainnya, menjadikan Tuhan sebagai alasan dari segala tindak-tanduknya. Asmara yakin bahwa Tuhan akan memberikan jodoh yang baik padanya.
2.2 Kehilangan kebanggaan Islam sebagai objek a (filmis)
Ada beberapa perasaan kehilangan terhadap kebanggaan Islam yang terlihat jelas dalam film ini. Kehilangan ini menjadi garis merah paling jelas dalam empat film ini. Hal ini dapat dijadikan gambaran/representasi dari masyarakat Muslim Indonesia zaman sekarang. Beberapa objek a yang menandai kehilangan tersebut adalah:
101 Pertama, Pencarian jejak kejayaan Islam. Ayat-Ayat Cinta mengafirmasi kejayaan Islam di Mesir. Bahwa Sungai Nil adalah ujung tombak dari peradaban (dunia). Tanpa Sungai Nil tak ada peradaban dunia. Hanum secara eksplisit mengatakan mempunyai misi untuk mencari jejak-jejak Islam di Eropa. Dengan hasrat itulah ia berkeliling di Eropa, melihat kota, masuk ke museum, dan menggunakan ‘logika historis’.95 Sementara pada Haji Backpacker dan Assalamualaikum Beijing mengafirmasi sejarah Jalur Sutra, yaitu sejarah penyebaran Islam di Asia.
Kopi Capuccino sebagai minuman khas Italia, menurut Fatma, berasal dari biji kopi yang ditinggalkan oleh pasukan Turki sewaktu melakukan ekspansi ke Austria. Biji-biji kopi inilah yang diolah menjadi Capuccino seperti yang kita kenal sekarang. Napoleon masuk Islam ungkap Fatma dan Marion Latimer. Pada saat memasuki Museum Louvre, Marion bertanya kepada Hanum, “Tahukah Hanum, kota mana yang disebut The City of light?” Hanum menjawab, “Paris kan, kota ini?” Marion melanjutkan, “Bukan. Ada kota yang menjadi inspirasi Eropa sehingga semaju sekarang ini. Filsuf Ibnu Rusyd atau Averroes, ilmuwan Muslim yang membuka jalan Eropa menjadi peradaban yang cerah. Yaitu Cordoba!”
Marion melanjutkan, “Paris itu tidak hanya Menara Eiffel, aku menemukan imanku di sini. Kota ini juga menyimpan banyak misteri peradaban Islam.” Hal yang dimaksud adalah lukisan The Virgin and Child.
Kedua, Hilangnya kebanggaan terhadap Islam. Perasaan kehilangan kebanggaan terhadap Islam ini selalu muncul di empat film ini. Bagi Fatma, kebanggaan terhadap Islam terkikis karena Kara Mustafa yang melakukan ekspansi ke Eropa. Sehingga citra terhadap Islam di Austria sangat dipengaruhi oleh hal ini. Pada
95Pada sekuel keempat 99 Cahaya yaitu Bulan Terbelah di Langit Amerika Part 2, film ini mengemukakan tesis (mengambang) soal penemuan benua Amerika oleh Muslim China,
102 saat mengunjungi Museum Albertina Austria, Fatma dan Ayse menangis dan terpaku menatap lukisan Kara Mustafa. Fatma mengatakan, “Ayo Hanum, kita biarkan Kara Mustafa menempati malam-malamnya di sini, menyesali sendiri atas apa yang dilakukannya.”
Fatma, Hanum dan Ayse di depan lukisan Kara Mustafa (99 Cahaya)
Hanum sujud di Mezzquita (99 Cahaya part 2)
Gambar 18. Respon Fatma menyesali Kara Mustafa ketika di museum Albertina Austria dan Hanum yang dengan spontan sujud di Mezzquita.
Mezzquita (sekarang menjadi katedral) dianggap sebagai salah satu bentuk jejak peradaban Islam di Eropa. Namun, seringkali terjadi orang Islam bersujud di dalam Mezzquita. Hanum sendiri secara spontan sujud di Mezzquita (99 Cahaya part 2) dan kemudian diusir oleh satpam setempat.
Begitu juga ketika menelusuri ‘jejak kejayaan Islam’ di Paris, Perancis, merupakan pengalaman yang berharga bagi Hanum. Secepatnya ia ingin menceritakannya kepada Fatma. Hanum dalam voice-over mengatakan:
“Fatma, sejarah telah mencatat ada garis imajiner lurus yang menghubungkan bangunan dan jalanan di Paris ini ke satu titik. Jalan yang membuat siapapun jatuh cinta dengan Eropa, Voie Triomphale yang artinya jalan menuju kemenangan….”
Perasan bangga dibagi dengan suaminya, Rangga. Rangga yang diliputi perasaan bangga sekaligus kehilangan (karena yang terlihat riil adalah Paris hari ini), melakukan azan di Menara Eiffel. Suaranya menggema ke penjuru kota Paris, menyapu hingga pelosok kota Paris di waktu senja.
103 Di zaman modern, hancurnya kebanggaan terhadap Islam dipertegas oleh Peristiwa 11 September 2001. Hal ini tampak pada sekuel 99 Cahaya ketiga yang berjudul Bulan Terbelah di Langit Amerika Part 1. Film ini mengatakan dunia terbelah sejak peristiwa tersebut. Voice-over suara Hanum sebagai narasi pembuka di film ini mengatakan;
“Dunia terbelah sejak peristiwa itu. Kami yang juga menjadi korban dan kerap disudutkan akan berteriak lebih lantang menjaga keyakinan ini…untuk menyatukan yang terbelah. Dunia tanpa Islam adalah dunia tanpa kedamaian.”
Pernyataan Hanum diiringi oleh video perang Israel-Palestina dan kliping koran penyerangan terhadap Islam di berbagai tempat. Tokoh pembantu utama film ini, Azima Hussein berganti nama menjadi Julia Collins, melepas hijab dan suaminya dituduh sebagai teroris penyebab hancurnya Gedung World Trade Centre (WTC). Namun, ternyata ia menutupi rambutnya dengan rambut palsu. Hanum bertanya, kapan ia terakhir menggunakan hijab dan kenapa mengganti nama? Azima melepas rambut palsunya dan mengatakan, “Aku tak pernah benar-benar melepaskannya. I love
Islam,but I lost the pride.”
Mengomentari hal ini, dalam voice-over Hanum mengatakan:
“Seharusnya kebanggaan berislam hadir di setiap hati seorang Muslim. Azima dan mungkin jutaan Muslim di luar sana kehilangannya karena segelintir manusia yang membajak nama Islam. Islam telah sempurna, namun manusia tidak akan pernah sempurna.”
Asmara sendiri mengatakan bahwa pada awalnya tidak percaya diri begitu akan ke Beijing. Ia merasa akan seperti alien nantinya di Beijing;
”Semula kubayangkan aku akan menjadi alien di negeri Tirai Bambu ini. Perempuan berkerudung di tengah masyarakat berkulit kuning. Ternyata bayanganku salah. Islam bukan sesuatu yang asing di sini. Mereka menyebut Islam, Yisilan Jiabao, artinya agama yang murni. Sementara
104 mereka menyebut Mekkah sebagai ‘Buddha Ma-hia-wu’ alias Nabi Muhammad SAW. Gadis berkerudung pun bukan hanya kami, aku dan Sekar sahabatku, tapi banyak juga Muslimah lainnya.” (Pernyataan Asmara ini diiringi visual kemegahan bangunan yang ada di Beijing).
Azima melepas rambut palsu
Gambar 19. Azima melepas rambut palsu, simbolisasi kehilangan kebanggaannya terhadap Islam (Bulan Terbelah di Langit Amerika)