BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.5 Studi Banding Proyek Sejenis
2.5.3 Agrowisata Turi
(sumber : www.google.com)
Agrowisata Turi atau Agrowisata Salak Pondoh Turi terletak di Kampung Gadung Desa, Bangunkerto, Turi, Kabupaten Sleman. Dengan tanah seluas 27 hektare, Agrowisata Turi dijadikan kompleks taman salak pondoh, tempat bermain anak, tempat pemancingan dan kolam renang. Memiliki letak yang strategis yaitu dekat dengan objek wisata Gunung Merapi, Kaliurang dan Kaliadem. Agrowisata Turi juga menjadi lokasi untuk menjalankan program pemerintah dalam melindungi flora khas Kabupaten Sleman yaitu salak pondoh.
Gambar 2. 4. Agrowisata Turi
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi Penelitian
Penelitian terletak di Desa Meat, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. Desa Meat berjarak 180 km dari kota Medan dan memakan waktu tempuh sekitar 30 menit dari Bandar Udara Silangit. Desa Meat memiliki bentang alam yang luas dan kaya akan potensi wisata berupa pantai Desa Meat, hamparan sawah, ladang buah dan sayur, dan perkebunan kopi. Selain bentang alamnya, Desa Meat memiliki potensi wisata berupa rumah adat tradisional Batak Toba, kerajinan tenun ulos dan tarian adat Batak Toba serta pengenalan budaya suku Batak Toba dan pemaparan ilmu arsitektur Batak Toba.
Gambar 3. 1. Peta Desa Meat dalam Kecamatan Tampahan (Sumber : www.google.com)
3.2 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian yang menghasilkan model penataan kawasan distrik agrowisata dalam tinjauan dan penampilan fisik kawasan yang mempunyai konsep penguatan tujuan wisata yang berangkat dari kegiatan agro pertanian dan perladangan setempat, pengungkit bagi kegiatan ekonomi local, penguatan modal sosial komunitas local, penguatan budaya masyarakat di kawasan wisata, pelestarian kawasan konservasi agro di tepi Danau Toba. Karenanya penelitian ini bersifat design by research dengan pendekatan deskriptif kualitatif yang dilanjutkan dengan penataan kawasan secara incremental design (Moughtin, 2007).
Penelititan ini berjenis kualitatif. Metodologi kualitatif adalah proses penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati (Bogdan dan Taylor, 1975 dalam Moleong, 2012). Sedangkan penelitian deskriptif adalah sautu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun rekayasa manusia (Moleong, 2010) 3.3 Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah daya tarik tempat untuk mencari genius loci (kearifan tempat) Desa Meat. Menurut Norberg-Schulz (1980:45) Genius Loci merupakan konsep yang berasal dari bangsa Romawi yang mempercayai bahwa tempat-tempat tertentu memiliki jiwa. Genius Loci merefleksikan keunikan dari sebuah tempat, yang membedakan satu tempat dengan tempat yang lain. Genius
Loci dalam arsitektur adalah jiwa dari ruang dan waktu, lokalitas dan region-region di mana arsitektur tumbuh dan berkembang. Norberg-Schulz mengeksplorasi karakter dari sebuah tempat dan maknanya terhadap penduduk setempat. Norberg-Schulz mengusulkan penggunaan metode fenomenologis untuk memahami dan menggambarkan “spirit/jiwa” dari sebuah tempat melalui penggambaran ciri– ciri fisik dan interpretasi pengalaman manusia pada tempat tersebut.
Berikut ini adalah Tabel 3.1 Variabel Penelitian
Tabel 3. 1. Variabel Penelitian
NO. VARIABEL DEFINISI INDIKATOR
1.
Boundary / batas
Heidegger (dalam Norberg-Schultz, 1980) mengatakan bahwa boundary bukanlah akhir dari suatu daerah atau kawasan tetapi, seperti yang dikatakan bangsa Yunani, boundary adalah darimana suatu daerah atau kawasan
mulai menunjukkan
keadaannya.
Boundary terbagi menjadi dua yaitu boundaries of built spaces dan boundaries of a landscape
Tugu
Gerbang
(Harbang)
atau batas ruang yang dibangun dan batas alam atau bisa juga disebut man-made boundaries dan natural boundaries.
Boundaries of built spaces
Central atau pusat dalam suatu konteks yang lebih luas berarti suatu area yang dibatasi atau dianggap memiliki wilayahnya tersendiri bisa menjadi pusat dimana berfungsi menjadi fokus dari keadaan sekelilingnya. Hal ini berlaku juga pada sacred places atau
Orientation atau arah adalah suatu struktur spasial yang
Danau (Danau Toba)
memfasilitasi sebuah gambaran terbentuk dari dua aspek, yakni aspek fisik (tangible) berupa situs, bangunan, lingkungan, rute, dan benda-benda buatan manusia, serta aspek non fisik (intangible) berupa memori, narasi, dokumen tertulis, festival, acara peringatan, ritual, pengetahuan tradisional, makna, tekstur, warna, dan lain sebagainya, dimana kedua aspek tersebut saling berkaitan satu sama lainnya. Aspek tangible berperan dalam membentuk suatu tempat, dimana aspek intangible berperan dalam memberikan
Perayaan
Kuliner
Budaya
“spirit” terhadap tempat tersebut.
5
Narasi / cerita setempat
Garnham (1985) mengatakan bahwa narasi masuk kedalam aspek non fisik (intangible) bersama dengan memori, dokumen tertulis, festival, acara peringatan, ritual, pengetahuan tradisional, makna, tekstur, dan warna.
Narasi yang bersifat intangible memperkuat spirit atau jiwa dari suatu tempat.
Mitos
6 Landscape
Landscape membutuhkan space yang bersifat alami seperti pepohonan, bukit, bebatuan, dan sebagainya yang memiliki karakteristik berupa karakteristik kondisi alam seperti iklim dan angin yang membantu proses pembentukan ruang landscape tersebut. dari
Tanah
Horizon
Langit
boundary (batas) yang pada skala landscape berupa ground, horizon, dan sky (tanah, horizon dan langit).
3.4 Jenis, Sumber Dan Perolehan Data
Jenis data yang diperlukan untuk penelitian ini terbagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. Data primer berupa hasil survey lapangan dan observasi pada lokasi penelitian. Data sekunder berupa kajian pustaka yang berhubungan dengan penelitian. Sumber perolehan data yaitu observasi dan survey pada lokasi penelitian dan kajian pustaka dengan materi terkait.
3.5 Sampel
Menurut Sugiyono (2012) sampel adalah bagian dari jumlah atau karakteristik tertentu yang diambil dari suatu populasi yang akan diteliti secara rinci. Sampel penelitian ini adalah keadaan penduduk dan agrowisata di Desa Meat.
3.6 Metode Pengumpulan Data
Pendekatan kualitatif dilakukan dengan observasi dan wawancara. Melalui observasi, peneliti belajar tentang perilaku, dan makna dari perilaku tersebut (Marshall dalam Sugiyono, 2008). Observasi dilakukan di Desa Meat untuk mencari data dan menjadi sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini.
Wawancara menurut Moleong (2012:186) adalah percakapan dengan maksud tertentu. Dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara dan terwawancara.
Wawancara dengan narasumber berguna untuk melengkapi data yang tidak ditemukan pada waktu observasi.
Tinjauan pustaka untuk mendapatakan gambaran penelitian yang akan dilakukan dari penelitian yang ada sebelumnya sekaligus menjadi studi banding.
Dokumentasi atau dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu (Sugiyono, 2008). Dokumentasi yang berbentuk gambar, catatan dan lainnya berguna untuk mendukung hasil observasi, wawancara, dan pustaka.
3.7 Metode Analisa Data
Bogdan dan Biklen dalam Moleong (2012) mengatakan analisis data adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesistkannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan dapat dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan pada orang lain.
BAB IV
GAMBARAN KAWASAN PENELITIAN
4.1 Gambaran Umum Kawasan
Lokasi Desa Meat yang menjadi lokasi penelitian terletak di Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba Samosir dengan titik koordinat 2o19’19o lintang utara dan 99o00’13o bujur timur (Google Earth, 2019). Desa Meat memiliki luas 3,00 km2 dan jumlah penduduk sebanyak 670 orang. Desa Meat berjarak 180 km dari kota Medan dan menempuh waktu 30 menit dari Bandar Udara Silangit. Berjarak sekitar 10 km dari kota Balige, waktu tempuh dari Desa Meat ke Balige memakan waktu sekitar 30 menit karena jalan yang kecil dan pada beberapa titik terdapat jalan yang rusak dan berbatu akibat tanah longsor. Jalan yang menuju Desa Meat yang relatif kecil dan hanya bisa dilalui dua mobil dengan jarak yang sangat tipis membuat pengendara kendaraan bermotor haru memperlambat laju kendaraan dan berhati-hati.
Gambar 4. 1. Desa Meat dilihat dari Satelit (Sumber: earth.google.com)
4.2 Sejarah Kawasan
Desa Meat berumur kurang lebih 300 tahun dan sekarang sudah dihuni oleh keturunan ke 13 marga Silalahi. Awal mula nama Desa Meat berasal dari kata
‘parmeatan’ yang berarti tambat. Hal ini karena pada zaman dahulu banyak nelayan yang singgah dan menambatkan kapalnya di pesisir Desa Meat.
Pada awalnya Desa Meat dijadikan tempat persinggahan bagi nelayan yang berasal dari sekeliling Danau Toba sebelum menuju daerah satunya lagi. Desa Meat yang terletak didalam lembah dan letak pesisirnya yang menjorok kedalam menjadikan Desa Meat tempat berlabuh yang bagus bagi para nelayan.
Gambar 4. 2. Bentang Sawah Desa Meat
Desa Meat yang memiliki lahan landai yang luas dan subur serta terletak di dalam lembah membuat banyak nelayan yang singgah dan berlabuh di Desa Meat memutuskan untuk bermukim di Desa Meat. Nelayan yang bermukim di Desa Meat ini bertani sawah dan mencari ikan apabila tidak sedang musim panen atau lebih banyaknya, kaum ibu bertani sawah dan kaum bapak menjadi nelayan.
Gambar 4. 3. Dermaga Desa Meat
4.3 Potensi Wisata Desa Meat
Terdapat beberapa potensi wisata yang ditawarkan Desa Meat. Rumah adat tradisional Batak Toba, penenun ulos tradisional, tarian adat tor-tor, perkuburan kuno Batak Toba, dan bentang alam Danau Toba yang indah. Terdapat dua pantai yang berada di Desa Meat yaitu Pantai Simanjuntak dan Pantai Pakodian. Banyak terdapat undak-undak sawah di Desa Meat. Desa Meat yang terletak di dalam lembah juga membuatnya dikelilingi pegunungan.
Gambar 4. 4. Rumah Adat Batak Toba di Desa Meat (sumber : images.google.com)
Rumah Bolon atau rumah adat tradisional Batak Toba yang terletak di Desa Meat baru saja di renovasi ketika Desa Meat ditetapkan sebagai desa wisata. Warga-warga yang tinggal di rumah-rumah adat ini menyediakan rumahnya sebagai tempat menginap para wisatawan karena sebagian wisatawan ingin merasakan pengalaman
menginap di rumah adat. Selain rumah adat ini terdapat juga satu penginapan di Desa Meat yaitu Meat Homestay.
Selain rumah adat, penenun ulos juga menjadi salah satu atraksi wisata di Desa Meat. Hampir seluruh kaum wanita di Desa Meat ini mempelajari kerajinan menenun ulos. Tarian tor-tor juga menjadi atraksi wisata Desa Meat. Tetapi tarian tor-tor biasanya dipersembahkan apabila tamu dari luar kota atau pemerintah datang dalam jumlah yang banyak. Para wisatawan diperbolehkan untuk ikut menari bersama. Jamuan tari tor-tor ini digelar di pekarangan huta atau perkampungan yang terdapat di Desa Meat.
Gambar 4. 5. Suasana Perkampungan Desa Meat
Tarian tor-tor juga ditampilkan ketika upacara adat diselenggarakan.
Upacara adat Batak yang biasa diselenggarakan di Desa Meat berupa Upacara Kematian bagi Saur Matua, Mangokkal Holi, dan peresmian Rumah Bolon. Namun upacara ini tidak sering diadakan karena pada umumnya upacara perayaan ini membutuhkan biaya yang sangat besar dan untuk Upacara Kematian Saur Matua waktunya tidak bisa diduga.
Perkuburan kuno Batak Toba yang terdapat di Desa Meat terlihat menarik bagi wisatawan karena budaya Batak Toba menganggap semakin besar dan megah perkuburan leluhurnya, semakin bagus. Hal ini menandakan bahwa keturunan dari leluhur tersebut merupakan orang yang berhasil dan sukses. Kuburan yang besar dan berwarna-warni bisa menjadi atraksi wisata yang menarik untuk dilihat.
Gambar 4. 6. Perkuburan Kuno Batak Toba di Desa Meat
Desa Meat terletak di tempat yang strategis untuk mendapatkan pemandangan optimal Danau Toba. Terletak didalam lembah dan teluk yang menjorok masuk kedalam membuat penampakan panorama Danau Toba bisa dinikmati dari sudut pandang yang berbeda. Bentang sawah yang luas juga memperindah pemandangan Desa Meat.
Gambar 4. 7. Hamparan sawah Desa Meat (Sumber : earth.google.com)
Dermaga Desa Meat
Bentang Sawah Desa Meat
Huta Ragi Hotang
Meat Homestay
BAB V ANALISA
5.1 Analisa Boundary (Batas)
Setiap bagian tanah yang memiliki pagar atau batas dapat diartikan sebagai boundary (Norberg-Schultz, 1980). Heidegger (dalam Norberg-Schultz, 1980) mengatakan bahwa boundary bukanlah akhir dari suatu daerah atau kawasan tetapi, seperti yang dikatakan bangsa Yunani, boundary adalah darimana suatu daerah atau kawasan mulai menunjukkan keadaannya. Boundary terbagi menjadi dua (Norberg-Schultz, 1980) yaitu boundaries of built spaces dan boundaries of a landscape atau batas ruang yang dibangun dan batas alam. Boundaries of built spaces berupa dinding, gerbang, dan lantai sedangkan boundaries of landscape berupa tanah, langit, dan garis horizon.
5.1.1 Boundaries of Built Spaces
Boundaries of built spaces berupa dinding, gerbang, dan lantai. Pada umumnya, batas suatu daerah itu ditandai dengan sebuah penanda atau landmark.
Pada Desa Meat, terdapat semacam gapura (harbang) yang menandakan bahwa pengunjung sudah berada dalam wilayah Desa Meat. Gapura ini merupakan salah satu dari dua gapura yang terdapat di Desa Meat. Gapura satu lagi terletak sekitar 100m setelah gapura yang pertama. Gapura kedua terletak diatas jembatan.
Gambar 5. 1. (a) Gapura Pertama (b) Gapura Kedua
Kondisi kedua gapura tersebut terlihat berbeda. Gapura pertama terlihat lebih baru daripada gapura kedua. Gapura pertama terlihat seperti baru dicat.
Gapura kedua terlihat sudah lama dan usang. Papan besi dari gapura kedua terlihat sudah berkarat. Terdapat gapura ketiga yang menuju kearah Huta Ginjang tetapi tidak dapat diakses karena tertimbun longsor.
Gambar 5. 2. Longsor yang Menutup Akses Gapura Ketiga
Gapura yang terdapat di Desa Meat ini terlihat tidak sesuai sebagai penanda sebuah desa wisata. Ukurannya yang kecil dan desain yang sederhana membuat awal suatu kawasan sulit diketahui. Awal mula kawasan yang jelas juga membingungkan karena terdapat dua gapura. Gapura ketiga yang menghubungkan
(a) (b)
Desa Meat dengan Huta Ginjang tertutup longsor sehingga hanya terdapat satu akses menuju Desa Meat.
5.1.2 Boundaries of Landscape
Boundaries of landscape berupa tanah, langit, dan garis horizon. Desa Meat terletak didalam lembah dan pesisir teluk yang menjorok kedalam lembah. Barisan perbukitan menjadi batas antar Desa Meat dan desa lainnya. Perbukitan ini membentuk lembah yang mengelilingi Desa Meat. Pantai pesisir danau Toba menjadi batas antara Desa Meat dan kawasan lainnya disekitar Danau Toba.
Dermaga yang terdapat di Desa Meat ini didirikan karena garis pantai
Gambar 5. 3. Perbukitan yang mengelilingi Desa Meat
Lokasi Gapura Desa Meat
Peta Desa Meat
Gapura Pertama
Gapura Kedua Gambar 5. 4. Letak Gapura Desa Meat
5.2 Analisa Central (Pusat)
Dikutip dari bukunya, Genius Loci, Towards a Phenomenology of Architecture (1980), Norberg-Schultz mengatakan bahwa central atau pusat dalam suatu konteks yang lebih luas, suatu area yang dibatasi atau dianggap memiliki wilayahnya tersendiri yang bisa menjadi pusat dimana berfungsi menjadi fokus dari keadaan sekelilingnya. Hal ini berlaku juga pada sacred places atau tempat-tempat sakral.
Desa Meat memiliki beberapa tempat yang dianggap sakral seperti sebuah pohon beringin tua dan kompleks pemakaman kuno Batak Toba. Pohon beringin dan kompleks pemakaman ini menjadi fokus oleh daerah sekelilingnya karena mereka memiliki batas wilayahnya masing-masing. Untuk pohon beringin memiliki batas yang virtual atau berdasarkan cerita-cerita masyarakat setempat, sedangkan kompleks pemakaman memiliki batas yang nyata, dapat dilihat melalui pagar yang mengelilingi kompleks perkuburan.
Gambar 5. 5. Pohon Beringin di Desa Meat
Gambar 5. 7. Danau Toba
Gambar 5. 6. Salah Satu Kompleks Pemakaman
Danau Toba bisa dianggap sebagai central sesuai dengan teori sacred place.
Danau Toba dianggap sakral oleh masyarakat sekitar Danau Toba terutama yang menganut agama Parmalim. Sesuai kepercayaan agama Parmalim, terdapat penguasa air di Danau Toba yang bernama Siboru Saniang Naga. Untuk menghormati Siboru Saniang Naga ini, para penduduk disekitar Danau Toba menjaga perilaku mereka apabila berada di sekitar Danau Toba.
Menurut warga sekitar, pusat atau central tersebut tidak terdapat pada dua tempat sakral yang telah disebutkan diatas. Ketika ditanyakan tentang pusat atau central, warga cederung memahami definisi pusat atau central itu sebagai tempat warga berkumpul apabila ada suatu acara atau kegiatan.
Terdapat tiga tempat berkumpul sesuai dengan fungsi masing-masing di Desa Meat. Warga berkumpul di pekarangan rumah Bolon apabila ada acara seperti menyambut tamu, pesta pernikahan, dan kematian. Pertemuan yang membahas permasalahan di Desa Meat biasanya diadakan di Kantor Kepala Desa dan dipimpin langsung oleh Kepala Desa dan jajarannya. Meat Homestay sering dijadikan tempat berkumpul warga bersama tamu apabila ada tamu dari luar kota yang biasanya menginap di homestay. Untuk sehari-hari, warga banyak berkumpul di kedai kopi sekitar.
Gambar 5. 8. Meat Homestay
Gambar 5. 9. Pekarangan Rumah Bolon
Perbedaan pemahaman masyarakat tentang central atau pusat bisa membuat pengunjung sedikit bingung. Pusat yang berorientasi pada tempat-tempat sakral memiliki kondisi yang tidak tertata. Lokasi pohon beringin yang dianggap sakral bagi warga Desa Meat dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah. Lokasi pohon beringin dan pemakaman bisa dijadikan potensi sebagai pusat atau central yang baik karena lokasinya berdekatan dengan pekarangan Rumah Bolon tempat dimana acara adat atau festival sering diadakan.
Pekarangan Rumah Bolon
Meat Homestay (sumber : dokumentasi pribadi)
Kompleks Pemakaman Keluarga Siahaan Pohon Beringin di Desa Meat
(sumber : dokumentasi pribadi)
5.3 Analisa Orientation (Arah)
Orientation atau arah adalah suatu struktur spasial yang memfasilitasi sebuah gambaran perkembangan lingkungan yang baik (Norberg-Schultz, 1980:32). Dalam suatu kalimat lainnya, Norberg-Schultz juga mengatakan bahwa orientasi atau arah berpusat pada sacred place atau tempat sakral.
Danau Toba selalu dijadikan tempat yang sakral ataupun suci bagi Suku Batak karena menurut mitos Suku Batak, Danau Toba yang berasal dari kisah ikan mas ajaib membuat Danau Toba menjadi sakral dan memiliki beberapa hal yang dianggap tabu seperti tidak boleh berlaku sembarangan disekitar Danau Toba, dan lainnya. Tidak hanya Danau Toba, Gunung Pusuk Buhit juga menjadi suatu elemen penting bagi Suku Batak. Dikisahkan bahwa nenek moyang Suku Batak Toba turun dari langit di Pusuk Buhit.
Kedua mitos ini memengaruhi banyak orientation atau arah pada perkampungan Batak Toba yang terletak dipinggir Danau Toba. Pada Desa Meat, terdapat dua arah perkampungan yaitu kearah Danau Toba dan Gunung Pusuk Buhit. Perkampungan yang berusia sekitar 100 tahun memiliki bangunan yang cenderung berorientasi kearah Gunung Pusuk Buhit. Pada perkampungan ini, bangunan-bangunan yang dibangun baru saja ikut berorientasi sesuai dengan Rumah Bolon dan pola perkampungan.
Untuk bangunan yang dibangun diluar perkampungan, bangunan tersebut berorientasi kearah Danau Toba. Bangunan-bangunan tersebut dibangun berorientasi kearah Danau Toba karena mengikuti pola jalan. Selain mengikuti pola
jalan, pemandangan kearah Danau Toba yang indah juga menjadi alasan mengapa warga membangun rumahnya menghadap Danau Toba.
Terdapat beberapa cluster perkampungan yang berorientasi sesuai dengan orientasi Rumah Bolon.
Gambar 5. 11. Peta Arah Orientasi Desa Meat
Orientasi Rumah Bolon yang menghadap kearah Gunung Pusuk Buhit membuat pemandangan kea rah Danau Toba menjadi tidak maksimal. Lokasi perkampungan yang terletak jauh dari Danau Toba membuat pengunjung yang ingin merasakan menginap didalam Rumah Bolon tidak mendapatkan pemandangan optimal dari dalam Rumah Bolon.
Danau Toba
Keterangan :
: Danau Toba : Sawah : Permukiman : Kuburan : Jalan
5.4 Analisa Local Activity
Genius Loci sangat penting dalam memahami arsitektur sebagai suatu budaya. Local activity merupakan kegiatan sehari-hari yang menjadi budaya turun-temurun. Pada Desa Meat, kegiatan seperti perayaan, kuliner, dan budaya menjadi local activity.
Perayaan yang diadakan di Desa Meat tidak diadakan sering karena pada umumnya perayaan adat suku Batak Toba bisa menggunakan biaya yang sangat besar. Perayaan yang diadakan di Desa Meat adalah Upacara Kematian bagi Saur Matua, Mangokkal Holi, dan Peresemian Rumah Bolon. Upacara Kematian Saur Matua adalah perayaan besar yang diadakan bagi orang tua yang meninggal.
Upacara yang bisa memakan waktu sampai tujuh hari tujuh malam ini diadakan oleh anak-anak orang tua yang meninggal. Upacara ini diadakan sebagai tanda sukacita keluarga yang ditinggalkan karena orang tua mereka telah berhasil dalam hidupnya membesarkan anak-anaknya menjadi orang yang berhasil sehingga bisa mengadakan upacara ini. Mangokkal Holi atau menggali kubur adalah perayaan membersihkan tulang-tulang leluhur dan menempatkannya kembali dalam kuburan yang sudah dibangun. Peresmian Rumah Bolon diadakan ketika Rumah Bolon baru selesai di renovasi dan Desa Meat diresmikan sebagai desa adat.
Gambar 5. 12. Peresmian Desa Adat Meat (sumber: images.google.com)
Terletak di tepi Danau Toba, nelayan menjadi salah satu profesi utama warga Desa Meat selain bertani. Ikan menjadi salah satu makanan yang biasa dikonsumsi masyarakat Desa Meat. Menu khas Batak dengan bahan pokok ikan mas atau biasa disebut Nani Ura menjadi salah satu kuliner di Desa Meat. Cara mengolah Nani Ura ini bisa dibilang unik karena Nani Ura tidak dimasak melainkan hanya dibalurkan bumbu andaliman keseluruh tubuh ikan mas. Panas dari bumbu andaliman akan membuat daging ikan matang.
Gambar 5. 13. Ikan Mas Nani Ura (sumber: images.google.com)
Budaya adalah cara hidup yang berkembang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Pada Desa Meat, budaya Batak Toba masih dijaga dengan sangat baik
oleh warganya. Kesenian seperti tari tor-tor dan kain ulos masih banyak diajarkan kepada generasi-generasi penerus. Upacara dan adat istiadat juga masih banyak diadakan. Rumah Bolon yang berusia ratusan tahun di konservasi agar tidak
oleh warganya. Kesenian seperti tari tor-tor dan kain ulos masih banyak diajarkan kepada generasi-generasi penerus. Upacara dan adat istiadat juga masih banyak diadakan. Rumah Bolon yang berusia ratusan tahun di konservasi agar tidak