• Tidak ada hasil yang ditemukan

133. AHLI DARI PEMOHON: HADAR NAFIS GUMAY

Terima kasih atas pertanyaannya, saya akan coba menjawab. Tentang.., sebetulnya Ibu Endang sama Ibu Andi ini mirip sama yang satu ini. Pengawas itu siapa yang mengawasi? Nanti menjadi badan yang super power dan seterusnya.

Saya kira kita memang harus dalam satu poin harus berhenti, tidak harus berputar-putar. Tetapi kemudian juga kita kan tetap mempunyai pengawas-pengawas yang lain yang seperti saya sampaikan di awal tadi, itu ada elemen masyarakat. Masyarakat bisa mengadukan apa yang mereka temukan. Kemudian ada elemen penegak hukum lainnya yang juga lembaga-lembaga ini tidak lepas dari para penegak hukum ini. Dan yang terakhir, lembaga-lembaga yang menciptakan atau yang membentuk lembaga ini, lembaga pengawas, itu juga bisa melakukan pengawasan dan bahkan mencabut mereka yaitu memberhentikan. Dan di dalam lembaga pengawas ini pun kan juga dibangun sistem internal dengan dewan kehormatan.

Kemudian apakah ada contoh negara lain yang dimana tidak ada lembaga pengawas yang terpisah di luar dan berhasil. Tentu banyak sekali negara-negara demokrasinya sudah sangat maju, itu mereka dibangun secara internal di dalam. Tetapi yang bicara di sini kan kemudian bukan hanya ada tidaknya lembaga dan mereka berada dimana? Tetapi justru yang banyak bicara di sini adalah kultur dari masyarakat setempat. Perjalanan demokrasi masyarakat setempat, mungkin kita perlu agak mengurut dada ya? Mungkin untuk Indonesia kita harus lebih pasang banyak kuda-kuda begitu, harus banyak pagarnya begitu. Karena memang akal-akalan di negeri ini luar biasa besarnya. Di negara yang sudah maju demokrasinya mereka tidak perlu repot-repot dan betul memang dikatakan tadi bahwa Bawaslu itu unik Indonesia, tetapi keunikan Indonesia ini ternyata juga tidak begitu efektif, karena memang sejak dibangunnya itu lemah sekali. Oleh karena itu saya kira satu segi kita penting melihat komparasi dari negara lain tetapi dari segi lain kita juga harus melihat konteks negara masing-masing, bagaimana perkembangan masyarakatnya, politiknya? Demokrasinya itu sendiri?

Nah tentang apakah fungsi di Thailand ataupun Filipina itu punya fungsi yang lebih besar, jauh lebih besar dari pengawas kita atau Bawaslu kita di Indonesia? Oh besar sekali mereka. Bahkan di Filipina itu dia bisa mengambil alih kekuasaan judicial tertingginya, supreme court pada masa Pemilu bisa diambil alih oleh “komelek.” Panglima angkatan bersenjata dalam masa Pemilu bisa diambil oleh “Komelek.” Jadi luar biasa besar, tidak sebesar yang di Thailand tetapi di Thailand juga lebih besar dari Bawaslu kita.

Tetapi setelah saya ceritakan tadi, pengalaman mereka besarnya itu sendiri justru membuat beban di dalam, mengawasi diri sendiri karena ada faktor konflik interest itu menjadi kesulitan, kemudian untuk mengurus hal yang paling utama di diri mereka, mereka menjadi kerepotan. Oleh karena itu gagasan untuk menguatkan, sekaligus ada tambahnya dibuat tribunal tersendiri, pengadilan tersendiri, itu lebih banyak terjadi di banyak negara dan dua negara ini sedang berusaha merubah menuju ke sana.

Bahwa Ibu Andi ceritakan ada juga pengawasan internal di dalam, ya, dan saya memang mengetahui itu. Sangat disayangkan ini tidak terlalu banyak diberitakan keluar. Tetapi kalau itu berjalan baik saja, tetapi kan persoalannya sekarang bagaimana hal-hal lain yang kemudian dibawa oleh pengawas kita di luar yaitu Bawaslu? Dan ini kan diargumentasikan, ah itu kasus dan sebagainya. Tetapi kasus sekalipun itu adalah hal yang penting karena kalau ini tidak dijalankan, apalagi kalau itu diakibatkan suatu kesengajaan untuk melindungi diri misalnya, akhirnya integritas dari proses Pemilu yang sangat penting untuk terciptanya Pemilu demokratis menjadi terhambat.

Kemudian, pertanyaan Mas Bambang tadi. Saya kira, saya memahaminya Pasal 30, 29 tadi ya. Memang tidak ada prosedur lain

seharusnya, kalau sudah ada masukan dari Bawaslu, dewan kehormatan inilah yang harus kemudian memutuskan apa jadinya. Jadi tidak seharusnya ada proses-proses sebelumnya yang bisa jadi itu menjadi proses untuk memproteksi diri, sehingga proses penegakkan hukum internal melalui dewan kehormatan ini menjadi tidak berfungsi atau terhambat.

Pasal 117 dan 118 saya kira memang di sini sebetulnya bisa dilihat bahwa kedua yang satu lembaga yang satu badan. Karena sama-sama mempunyai fungsi untuk membuat peraturan dan mengambil keputusan, bisa dilihat ini setara mereka. Tetapi sekali lagi persoalannya kalau saja dari hal yang paling basis yang paling awal yaitu seleksinya saja sudah dimanfaatkan untuk memproteksi diri, menghambat penegakkan hukum, akhirnya tidak akan jalan, gitu ya? Saya tidak ingin mengatakan ini praktik yang umum atau ini hanya sebagai satu kasus, tetapi mekanisme yang model seperti ini itu lebih membuka ruang untuk sulitnya pengawasan itu menjadi efektif. Sehingga sekali lagi saya selalu mengulang-ulang integrity atau integritas dari proses Pemilu itu menjadi pertaruhannya dan itu menjadi hal yang penting untuk terciptanya Pemilu demokratis.

Mengenai apa tadi ada dibicarakan, apakah perlu kembali pembentukan melalui DPRD Pengawas Pemilu kita? Saya kira itu jangan dipikirkan, itu mundur menurut hemat kami. Karena sekali lagi issue conflict of interest akan sangat kencang, Pak Hakim, Pak Akil maksud saya sudah menyebutkan juga bagaimana mungkin kita membiarkan lembaga yang mengawasi itu dibentuk oleh lembaga yang menjadi pesertanya. Tentu akan diatur saja, karena kita sudah mempunyai pengalaman bagaimana kemarin Panwas-Panwas yang dibentuk oleh DPRD di dalam Pilkada-Pilkada itu memang tenang, tetapi kejadian tidak menjalankan fungsinya itu. Jadi orang meragukan juga hasil Pilkadanya.

Saya kira itu saja respon dari saya mudah-mudahan menjawab, sekali lagi saya sangat berharap kepada Majelis Hakim Yang Mulia Mahkamah Konstitusi untuk bisa menuntaskan persoalan ini karena memang sistemik, yang saya kira kita harus melihatnya jauh ke depan.

Jadi kalau kemudian ini dibiarkan terus kepada pembuat undang-undang bisa jadi akan ditarik ke sana kemari dan akhirnya kita akna kembali kepada persoalan membangun suatu sistem yang sebetulnya tidak akan efektif

Terima kasih, wassalamualaikum wr. wb. 134. KETUA: PROF. DR. MOH. MAHFUD MD.,S .H.

Baik, saya kira sudah lengkap. Jadi di Amerika itu tidak ada Bawaslu tapi di Filipina ada Komileg yang bisa mengambil alih panglima angkatan perang.

Bayangkan kalau di sini Pak Hidayat Sardini ngambil alih panglima. Tapi baik, mari sidang ini akan diputus minggu depan, oleh

sebab itu kepada Pemohon, kepada Pemerintah dan kepada Pihak Terkait KPU diminta membuat kesimpulan dan diserahkan selambat-lambatnya jam 16.00 sore besok, hari Jumat tanggal 12 Maret. Jadi Jumat tanggal 12 Maret jam 16.00 sore kesimpulan kalau dari Pemerintah sekaligus kesimpulan dan keterangan-keterangan yang tadi dijanjikan supaya kalau besok jam 16.00 sore tidak ada ya dianggap tidak menyerahkan dan menyerahkan sepenuhnya kepada bahan-bahan yang ada di Mahkamah Konstitusi untuk mengambil keputusan.

Nanti kapan pengucapan keputusan itu akan diberi tahu Senin oleh Kepaniteraan

Dengan demikian sidang dinyatakan (…)

135. PEMERINTAH: YUDAN ARIF FAKRULLOH (STAF AHLI

Dokumen terkait