• Tidak ada hasil yang ditemukan

AHLI DARI PIHAK TERKAIT: I GUSTI PUTU ARTHA

Terima kasih. Saya mencoba menjawab pertanyaan Mas Heru

seperti hak memilih dihilangkan, tidak bisa memilih, mencoblos lebih dari satu kali, dan seterusnya.

Berdasarkan penjelasan yang telah saya sampaikan tadi, maka kita harus memilah persoalan-persoalan tersebut terjadi di fase yang mana. Kami telah menyampaikan dan saya sebetulnya sependapat dengan Bung Saldi Isra bahwa tidak … tidak berarti kemudian persoalan-persoalan ketika masa tenang itu terjadi dan pada hari pemungutan suara tidak bisa diproses dan tidak bisa dibawa ke Mahkamah Konstitusi, bisa. Karena forum penyelesaiannya di situ belum tuntas. Berbeda halnya kalau kemudian fase itu terjadi di awal, saya memberi contoh dari kasus-kasus yang disampaikan tadi soal hak memilih misalnya.

Sebetulnya undang-undang yang ada sekarang sudah sangat longgar, sampai tiga kali proses pemuktahiran itu. Tapi, fakta juga di lapangan, hampir semua calon itu lalai untuk membangun infrastruktur.

Saya kebetulan sempat ada di Bali lama, kemudian di Lombok, dan dibeberapa tempat, saya meninjau. Di Bali misalnya, di Karangasem ada salah satu pasangan calon sampai menugaskan per TPS dua orang, satu bulan diupah untuk menyisir DPT, lalu ditemukan 1.600 DPT yang bermasalah. Saya ingin mengatakan, itulah seharusnya yang kita lakukan oleh pasangan calon untuk memuktahirkan DPT maka bersama-sama dengan KPU dan panwaslih melakukan proses permuktahiran itu karena saya juga tidak ingin manafikan bahwa proses politisasi DPT sangat bisa terjadi. Karena itu, calon harus merespon itu.

Pertanyaannya, kalau calon tidak melakukan itu, ya jangan salahkan juga penyelenggara dan pengawas karena bagian dari partisipasi calon untuk membuat pemilu ini berintegritas terabaikan. Ini yang sering kita lihat.

Nah, termasuk soal misalnya, ketika ada kasus-kasus di lapangan pada saat pemungutan suara. Kita mulai misalnya dari masa pemberian

… apa namanya … pembagian Formulir C-6 surat pemberitahuan. Maka seharusnya, tim kampanye yang baik harus mem-backup infrastruktur KPPS untuk menanyakan konstituennya sudah dapat C-6 atau tidak?

Kalau tidak, punya inisiatif untuk langsung kemudian meminta kepada ketua KPPS, dan ikut membantu, mengawal, dan membagikan.

Ketika … saya juga tidak menafikan bahwa punya potensi C-6 itu apakah karena problem teknis atau politis, tidak terdistribusi dengan baik. Nah, kalau di situ kemudian terjadi persoalan pelanggaran karena persoalan politis, maka segera pada saat itu juga dilaporkan ke panwas.

Di beberapa daerah, setidak-tidaknya saya sudah searching di lima daerah, Boyolali segala macam, itu memang ditemukan fakta ada misalnya di Karangasem membagikan C-6 sambil membawa baju kaos pasangan calon, ya, tetapi segera dilaporkan mekanismenya ke panwas, lalu segera dalam satu hari KPU setempat mengganti KPPS itu.

Sebentulnya respons cepat seperti ini yang diharapkan oleh undang-undang, partisipasi cepat, respons cepat, sehingga tidak

kemudian menjadi persoalan dikemudian hari. Sama halnya ketika menyangkut masalah disebutkan tadi, kalau ada orang memberikan pilihan lebih dari dua kali, jelas melanggar. Pasal 112 ayat (2) jelas mengatakan salah satu unsur saja dari itu terjadi, bisa pemungutan suara ulang di tempat itu. Pertanyaannya kemudian adalah apakah forum ini bisa membuktikan bahwa di situ ada dua kali pemilihan?

Pertanyaan yang kedua, apakah forum ini kemudian proses pelanggaran itu sudah diproses sesuai dengan peraturan yang berlaku di lapangan?

Saya memberi contoh di beberapa tempat yang terjadi di … di … di … seperti katakanlah di Denpasar ada enam orang, kemudian menggunakan C-6 orang lain memilih, diproses langsung hari itu, lalu enam orang masuk penjara. Nah, itu artinya respon dari pasangan calon dengan cepat. Tetapi, kalau kemudian ada pelanggaran semacam itu dibiarkan, maka saya mengkritik pasangan calon, kemudian menumpuk masalah dibawa ke MK karena saya juga harus mengkritisi pasangan calon. Kadang-kadang, Majelis, pasangan calon banyak yang bikin jebakan batman, jebakan batman yang saya maksud sengaja dibuat posisi itu terbuka longgar, pelanggaran-pelanggaran itu untuk dia tahu sepertinya itu pelanggaran, lalu mau dibawa ke MK, ini yang saya sebut jebakan batman dan Majelis harus melihat apakah itu jebakan batman atau murni karena terjadi pelanggaran, lalu tidak terjadi. Ini fakta-fakta yang terjadi di lapangan. Sehingga sebetulnya dengan seluruh pelanggaran itu, maka persidangan hari ini membawa hasilnya, oh, benar sudah dilaporkan ke panwas, lalu ka … KPPS-nya sudah dipecat, dibawa dalam sebagai bukti persidangan. Oh, benar, kemudian di proses di situ terjadi pemungutan suara ulang. Saya yakin pemungutan suara ulang kalau dilakukan di situ sudah terjadi karena limit waktunya tujuh hari untuk diproses dalam rekapitulasi di PPK, PPK merespons kemudian dengan pemungutan suara ulang. Sehingga, tidak perlu diminta di Mahkamah Konstitusi, pemungutan suara ulang misalnya. Ini … ini yang

… apa namanya … kita ingin jelaskan, hal-hal bagaimana sebetulnya persoalan-persoalan teknis di lapangan itu di setiap level, di setiap tahapan, dicoba oleh undang-undang ini diatur dengan sebaik-baiknya, sehingga tidak semua bermuara ke belakang.

Kemudian, menyangkut masalah PTUN dari cerita yang berkembang tadi itu masalah pencalonan. Sebetulnya, semua pihak sudah melaksanakan mekanisme sesuai dengan undang-undang, saya tangkap. Saya lihat kalau tidak salah, mohon dikoreksi, pasangan calon yang merasa dirugikan sudah mencoba melapor ke panwas. Artinya mekanisme itu sudah berjalan bahwa kemudian panwas nanti barangkali Bawaslu bisa memberikan keterangan bagaimana proses itu, silakanlah.

Kalau ternyata tidak memenuhi persyaratan kemudian gugur berarti dalam konteks yuridis, pokok perkara masalah itu memang tidak memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan, sehingga

memang menurut hemat saya menjadi tidak layak lagi. Apalagi, naik ke tingkat MK, harusnya masuknya dulu ke PTUN.

Sehingga menurut saya, Majelis memang tidak berwenang lagi mengadili persoalan itu ketika prosedur-prosedur awal yang seharusnya dilalui, itu tidak dilalui dengan baik, tetapi saya lihat malah tadi sudah melapor ke panwas dan tidak ada masalah. Kalau diangkat lagi sekarang di forum ini, dengan berat hati saya harus mengatakan, ya, memang untuk menambah-nambah pokok perkara, begitu.

Ya, ini … apa namanya … kemudian, menyangkut masalah soal politik uang dan seterusnya, saya kira tadi sudah saya sampaikan beberapa poin bahwa semua persoalan-persoalan yang berkaitan dengan pelanggaran-pelanggaran yang sifatnya kualitatif itu diselesaikan sesuai dengan tingkatan yang berlaku di sana. Sehingga, forum Sidang hari ini hanya kemudian, bayangan saya, membaca, “Oh, suara Pemohon berapa, suara Termohon berapa, suara calon lain berapa. Apa benar apa tidak.”

Menjawabnya kemudian, cek, adu data, “Oh, C1-nya bagaimana para pihak?”

“Oh, sama, selaras.”

“Oke, benar.”

Tetapi kita jangan percaya angka ini dahulu, bahwa angka ini benar. Betulkah bahan baku menuju angka ini benar? Lah karena itulah kemudian dilakukan proses cross-check. Ada namanya C-2, ada namanya fakta-fakta pelanggaran daripada … pada saat masa tenang sampai proses verifikasi. Sejauh mana kemudian, aspek-aspek yang bersifat kualitatif pelanggaran dari masa tenang sampai pemungutan suara itu.

Kemudian, bisa kita mengambil kesimpulan bahwa angka yang benar itu diperoleh melalui bahan baku yang kotor, atau yang bersih, atau yang agak kotor. Nah, pertanyaannya kemudian adalah sejauh mana bahan baku yang mungkin agak kotor atau apa ini mempengaruhi keterpilihan.

Karena bisa saja, misalnya kemudian di satu tempat akan ada masalah,

“Oh C-6 tidak dibagikan sekian, sekian begitu dijumlah.” Tidak ada lagi laporan yang lain, tetapi selisihnya terlalu jauh. Sehingga kemudian sudahlah kita kasih C-6 itu milik Anda semua, toh juga tidak mengejar, misalnya. Nah, saya kira nanti … saya kira, Majelis … karena pengalaman yang sudah luar biasa dari sidang ke sidang cukup cakap untuk menilai setiap persoalan. Tugas kami, sebagai Ahli untuk menjelaskan bagaimana sebetulnya undang-undang ini memberikan pembelajaran dan saya sepakat dengan pertimbangan hukum, Majelis dan saya juga punya keyakinan bahwa di tahun 2017 nanti, saya kira Majelis akan sepi perkara, begitu. Karena orang sudah paham semua, bagaimana harus menjalankan kewajibannya sebagai pasangan calon peserta pemilihan dan instrumen-instrumen yang ada di lapangan.

Demikian seluruh jawaban, saya mohon maaf apabila mungkin tidak menyenangkan semua Pihak dan tidak bisa memuaskan karena saya bukan alat pemuas. Terima kasih.

66. KETUA: ANWAR USMAN

Terima kasih, ada tambahan dari Majelis Panel. Silakan, Yang Mulia.

Dokumen terkait