Demi Allah, saya bersumpah, sebagai ahli, akan memberikan keterangan yang sebenarnya, sesuai dengan keahlian saya.
27. KETUA : Prof. Dr. MAHFUD MD, S.H.,
Saudara Surya Candra, silakan maju, Saudara beragama Kristen protestan atau Katolik? Ibu Maria, silakan Ibu Maria.
28. HAKIM KONSTITUSI : Prof. Dr. MARIA FARIDA INDRIATI, S.H., M.H.
Ya, ikuti lafal saya.
Saya berjanji, sebagai ahli, akan memberikan keterangan yang sebenarnya, sesuai dengan keahlian saya, semoga Tuhan menolong saya.
29. AHLI DARI PEMOHON : Dr. SURYA CANDRA, S.H., LL.M., Ph.D Saya berjanji, sebagai ahli, akan memberikan keterangan yang sebenarnya, sesuai dengan keahlian saya, semoga Tuhan menolong saya.
30. KETUA : Prof. Dr. MAHFUD MD, S.H.,
Baik, persyaratan undang-undang bahwa Saudara ahli harus disumpah sudah selesai. Selanjutnya Pemohon, apakah Saudara akan membimbing keterangan ini dengan pertanyaan-pertanyaan atau mempersilakan secara bebas kepada ahli untuk menyampaikan pandangan-pandangan secara umum terhadap substansi permohonan ini?
31. KUASA HUKUM PEMOHON : Dr. ANDI MUHAMMAD ASRUN, S.H., M.H.
Kami telah mempersiapkan beberapa pertanyaan, mungkin nanti berkembang dengan pendapat pribadi, dipersilakan saja begitu.
32. KETUA : Prof. Dr. MAHFUD MD, S.H.,
Baik, Saksi Dr. Rizal Ramli bisa ke mimbar kalau mau.
33. KUASA HUKUM PEMOHON : Dr. ANDI. MUHAMMAD ASRUN, S.H., M.H.
Saudara Ahli, pertama-tama konfirmasi atau pendapat setuju atau tidak terhadap pendapat yang kami utarakan.
Saudara Ahli, Majelis Hakim yang terhormat, bahwa Undang-Undang Kepailitan ini adalah keberlanjutan dari Perppu Nomor 1 Tahun 1998 yang kemudian menjadi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 yang merupakan satu mata rantai dari perjanjian IMF dengan pemerintah Indonesia. Jadi ruhnya di sana itu, jadi paketnya adalah katakanlah kerja atau perjanjian dengan IMF. Dimana bahwa pada saat itu dirasakan perlu satu perubahan hukum acara untuk menyatakan pailit atau tidak pailit seseorang di muka pengadilan. Karena itu dinyatakan
hukum acaranya adalah hukum acara sederhana. Jadi lahirnya Undang-Undang Kepailitan ini terkait dengan krisis ekonomi yaitu keinginan dari pemodal asing agar modal mereka terlindungi dalam transaksi bisnis di Indonesia. Karena itu yang dimintakan adalah bagaimana memudahkan proses pailit sehingga modal asing ini atau modal asing yang ikut di dalam perusahaan patungan di Indonesia menjadi terlindungi, itu intinya. Jadi ini yang konfirmasi pertama kami mintakan, oleh karena latar belakangnya adalah melindungi kepentingan pemodal, maka kepentingan buruh itu yang merupakan adalah aset produksi, maka tidak didahulukan atau tidak disamakan kepentingan dengan kreditur separatis. Sebagai seorang ahli ekonomi politik, pertama-tama saya minta pendapat Anda tentang persoalan yang kami kemukakan?
Kami persilakan.
34. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD, MD, S.H. Silakan Ahli!
35. AHLI DARI PEMOHON : Dr. RIZAL RAMLI Terima kasih, Pak Ketua.
Namun sebelumnya kami ingin mengucapkan selamat kepada Pak Ketua dan Pak Wakil Ketua dan Anggota Majelis Konstitusi yang baru. Mudah-mudahan pimpinan dan anggota Mahkamah Konstitusi ini betul-betul merupakan bagian dan upaya untuk Indonesia lebih baik.
Nah, kami sebetulnya terus terang tadi waktu mendengarkan keterangan dari wakil Pemerintah dan DPR. Yang Mulia, kami agak prihatin, karena kok saya—mohon maaf DPR, Pemerintah lebih banyak hanya membela kepentingan pemilik modal ketimbang untuk adil untuk semua pihak. Jadi kami ingin menjelaskan di dalam kesempatan yang pendek ini apa sebetulnya latar belakang daripada Undang-Undang Kepailitan. Seperti Bapak Ibu ketahui kita mengalami krisis moneter dan ekonomi pada akhir 1997 dan pada awal tahun 1998 Pemerintah Indonesia menandatangani sejumlah agreement di bawah tekanan dari dunia internasional dan IMF apa yang disebut sebagai letter of intent
yang ditandatangani oleh Camdessu, managing director IMF pada waktu itu berlipat tangan di depan mantan Presiden Soeharto.
Nah, banyak sekali daripada letter of intent itu lebih dari seratus poin lebih itu yang justru pada saat Indonesia sedang kesulitan, sedang kepepet, dipaksakan pikiran-pikiran aliran berpikir new liberal di dalam ekonomi Indonesia sekaligus terutama tujuannya untuk memberikan pengamanan terhadap kepentingan modal-modal asing. Padahal modal asing itu dilindungi secara ganda dan multiple di dalam berbagai kasus. Nanti saya ada paper sepuluh tahun krisis evaluasi tentang apa yang terjadi pada waktu krisis itu sebagaimana banyak policy dan kebijakan yang tidak memihak kepada kepentingan nasional kita. Paper itu
dipublikasikan di jurnal ilmiah di luar negeri dan mudah-mudahan bisa jadi referensi untuk Yang Mulia, untuk melihat latar belakang berbagai macam undang-undang dan ekonomi pada saat krisis tersebut. Ada dua hal penting:
1. kalau di media massa dikatakan IMF memberikan pinjaman atau bantuan kepada RI senilai lebih dari 20 miliar Dollar itu adalah pinjaman, bukan bantuan.
2. Segera setelah penandatanganan pinjaman tersebut, Pemerintah Indonesia dan dibujuk untuk menandatangani apa yang disebut sebagai
Frankfurt agreement yaitu seluruh kewajiban BUMN Indonesia maupun perusahan-perusahaan swasta Indonesia di bank asing harus segera diambil alih oleh Pemerintah Indonesia, dicicil dan dibayar. Jadi dalam bahasa sederhana Yang Mulia, agreement itu bagaikan terima uang dari kantong kiri kalau bentuk pinjaman IMF, begitu itu selesai kita tandatangani di kantong kanan untuk segera membayar kewajiban kepada bank-bank asing. Sebetulnya bank-bank asing atau perusahaan-perusahaan asing yang melakukan investasi di Indonesia sebelum mereka melakukan investasi atau memberikan pinjaman mereka telah terlebih dahulu melakukan studi, melakukan due dilligence, memahami resikonya bahkan mengambil langkah-langkah untuk mengurangi resiko termasuk untuk membayar asuransi. Adalah tidak wajar dan tidak masuk akal begitu terjadi sesuatu, Indonesia diwajibkan untuk mengambil alih utang-utang yang dibuat pada waktu itu secara voluntary. Artinya kalau mereka bersedia mengambil untung harusnya mereka juga bersedia mengambil resiko jika terjadi kerugian. Tetapi karena sistem keuangan internasional yang memang tidak adil justru RI dan secara tidak langsung rakyat Indonesia harus mengambil alih hutang-hutang tersebut dan terlebih dahulu memenuhi kewajibannya kepada bank-bank asing. Sebetulnya pinjaman IMF itu tidak lain dan tidak bukan upaya untuk menyelamatkan bank-bank asing. Apa yang di dalam literatur ekonomi dikenal sebagai moral hazard.
3. Kemudian Undang-Undang Kepailitan. Pada waktu itu tentu di bawah tekanan dan di bawah persetujuan beberapa pejabat Indonesia yang bahasa aktivisnya merupakan antek dari dunia internasional menandatangani berbagai undang-undang yang lebih mengutamakan kepentingan pihak asing daripada pihak nasional maupun pihak Indonesia.
Sebetulnya setelah sepuluh tahun krisis ekonomi Indonesia relatif sudah normal, perusahaan-perusahaan asing bahkan dibayar duluan dan kerugiannya sangat sedikit daripada krisis ekonomi karena Pemerintah mengambil alih kewajibannya kepada kreditur-kreditur asing dan usaha besar juga sudah jauh lebih baik, tetapi undang-undang yang dibuat di dalam kondisi yang relatif tidak normal tersebut sangat masih disayangkan masih berlanjut. Pada Undang-Undang tentang Kepailitan itu kreditur dibagi dalam beberapa kelompok. Satu apa yang disebut kreditur separatis, saya juga Yang Mulia kaget mendengar separatis ini,
kok istilah separatis begitu, memang bukan dari bagian RI, ini apa maksudnya ini? Tetapi ini didefinisikan kreditor separatis tersebut adalah negara termasuk biaya perkara, pajak, kreditur, pemilik collateral pada dasarnya, atau secure lender. Kemudian ada juga yang disebut sebagai kelompok preferens, yaitu buruh, kreditur tanpa jaminan, dan yang terakhir adalah konkueren atau supplier. Saya pelajari Undang-Undang Kepailitan di negara-negara maju termasuk di negara super kapitalis seperti di Amerika. Jelas sekali pengelompokannya sangat berbeda, yang pertama adalah apa yang disebut sebagai kelompok yang punya hak administratif. Yang kedua adalah statutary claim yaitu pajak, kewajiban pajak, sewa, upah dan benefit, upah dan tunjangan. Jadi rankingnya untuk upah karyawan dan tunjangan karyawan itu masuk dalam nomor dua dari urutan kalau ada uang dari hasil likuidasi dari suatu perusahaan yang pailit. Yang ketiga baru secure creditor yaitu kreditur yang memiliki jaminan. Yang keempat, unsecure creditor yaitu kreditur yang tidak memiliki jaminan. Yang kelima baru pemilik usaha atau pemilik pemegang saham. Jadi aneh bin ajaib, bin luar biasa di negara super kapitalis itu buruh, upah buruh, dan kewajiban buruh prioritas rangkingnya itu nomor dua baru kemudian kreditur yang memiliki jaminan atau secure creditor tetapi di negara kita ini yang mengaku Pancasila yang Undang-Undang Dasar 1945-nya adil sekali secara kata-kata justru ada undang-undang yaitu Undang-Undang Kepailitan dimana hak dan kewajiban buruh masuk dalam kategori nomor dua setelah
secure creditor, lah kok bisa? IMF yang kami tahu Undang-Undang kepailitan itu di-draft oleh konsultan-konsultan asing yang dibayar dan diminta secara tidak langsung ditunjuk oleh IMF, itu memberikan satu prioritas paling penting kepada kreditur yang dijamin atau secure creditor
dan menaruh hak buruh itu setelah itu, padahal di negara asalnya sendiri di negara super kapitalis hak buruh dan kewajiban tunjangan buruh itu jauh lebih penting daripada secure creditor.
Yang Mulia, kami menganggap ini suatu hal yang tidak adil dan juga tidak bijaksana tidak sesuai dengan cita-cita kita mendirikan Republik ini karena cita-cita mendirikan Republik ini tentu semua pihak harus dilindungi, negara harus dilindungi, investor pemilik modal harus dilindungi, tapi buruh juga harus dilindungi. Dan menurut hemat kami itulah dengan sengaja saya kira ini orang-orang yang bikin draft undang ini bukan orang yang bodoh, orang-orang yang bikin undang-undang ini orang yang cerdas hanya saja dia punya kepentingan atau diikatkan oleh kepentingan oleh para pemodal asing lewat IMF dan itu bukan barang yang tidak aneh. Kami berikan contoh pada saat kami jadi Menko IMF menekan supaya ada letter of intent, ada beberapa itu yang sungguh-sungguh murni ekonomi demi kepentingan kita tapi banyak yang sifatnya titipan. Saya berikan contoh ada satu pasal di situ yang menyatakan bahwa supermarket skala besar itu bisa dibuka di seluruh lokasi di seluruh Indonesia. Jadi waktu kami negosiasi dengan tim IMF kami tanya, ini berikan contoh kami di negara maju dimana supermarket
skala besar bisa berlokasi dimana saja, di negara Eropa atau di Amerika? Mereka bilang tidak ada karena memang di negara-negara maju tersebut di negara-negara kapitalis supermarket yang skala besar harus lokasinya hanya di luar kota satu jam atau dua jam naik mobil sehingga di dalam kota ada kesempatan untuk usaha kecil dan menengah.
Akhirnya kami uber, apa hubungannya membuka supermarket dengan upaya menyelesaikan krisis ekonomi di Indonesia? Apa hubungannya antara krisis moneter dengan liberalisasi pemilik pasar swalayan besar bisa berlokasi di Indonesia? Maka jawabnya tidak ada, akhirnya kami tanya ini sponsornya siapa? Akhirnya mengaku asosiasi pedagang skala besar. Contoh yang kedua, mereka kepengen di salah satu prasyarat itu agar ABRI diaudit, kami setuju sekali ABRI diaudit. Karena memang banyak ketidakberesan, banyak missmanagement di keuangan ABRI tapi kami tidak setuju audit itu dilakukan oleh IMF melibatkan orang asing. Akhirnya saya tanya apa hubungannya ini dengan upaya menstabilkan moneter dan ekonomi? Tidak ada. Saya tanya siapa di belakangnya? Akhirnya mengaku Pentagon. Jadi banyak kasus-kasus Bapak, Ibu di dalam perjanjian-perjanjian seperti ini dan undang-undang kita itu dipesan, diorder, digadaikan di bawah tekanan, ancaman, pinjaman yang diberikan oleh IMF atau Bank Dunia.
Bapak Ibu semua, ada beberapa hal tadi yang dikutip dan kami ingin mengingatkan kembali Pasal 22 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945, “setiap orang berhak untuk bekerja dan mendapatkan imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja”. Seandainya kaum buruh dan kebanyakan di sini memang mereka bukan buruh lagi karena sudah di-PHK dan mereka tidak dapat apa-apa. Jadi kalau tadi ada yang tanya status mereka bukan buruh lagi, tidak bisa menuntut haknya. Mereka telah dirugikan karena mereka di-PHK tanpa dapat imbalan oleh satu perusahaan yang pailit. Yang ingin kami katakan, yang adil dan layak. Mereka sudah bekerja kadang-kadang malam dengan upah yang sangat minim dan Bapak Ibu ketahui upah itu hanya sering cukup untuk makan, biaya transportasi, sisa sedikit untuk keluarga, sudah bekerja berbulan-bulan sudah pailit tidak dibayar. Alasannya karena kreditur yang
secure creditor itu punya hak lebih awal dari semuanya.
Menurut kami Yang Mulia Bapak-Bapak Hakim, ini betul-betul tidak adil karena mereka telah bekerja perusahaan bangkrut bukan karena salah mereka dan banyak karena kebangkrutan perusahaan di Indonesia itu ada dua, yaitu satu karena faktor-faktor eksternal di luar kewenangan atau kekuatan pengusaha. Saya berikan contoh, pada tahun 1998 IMF memaksa menutup sejumlah bank di Indonesia sehingga bank-bank di Indonesia bangkrut, rontok, banyak perusahaan di Indonesia itu bangkrut. Baik pengusaha Indonesianya sendiri maupun buruhnya hanya korban dari satu kebijakan IMF yang tidak dipikirkan matang. Yang kedua adalah banyak kasus di Indonesia banyak kasus-kasus kepailitan itu karena missmanagement banyak sekali saya rasa contoh-contoh dimana perusahaannya bangkrut tapi pemiliknya kaya raya manajemennya kaya
raya. Jadi adalah tidak adil jika dalam kondisi seperti itu dimana kepailitan akibat faktor eksternal terhadap atau karena faktor
missmanagement apalagi kemudian imbalan gaji buruh itu dibayarkan. Kemudian kami mengutip Pasal 33 Undang-Undang Dasar 2002 ayat (4), “perekonomian nasional diselenggarakan berdasarkan demokrasi ekonomi dan efisiensi berkeadilan”. Pengertian di dalam demokrasi ekonomi tentu ada banyak pelaku, ada pengusaha, pemilik modal, ada buruh (labor). Kalau satu demokrasi ekonomi tentu harusnya melindungi kedua belah pihak tidak mengataskan hanya pemilik modal, yang lain tidak penting, belakangan, kalau ada sisa boleh ambil. Dan kemudian efisiensi berkeadilan karena kalau hanya efisiensi sering itu yang diuntungkan hanya pemilik modal, tetapi di dalam Undang-Undang Dasar Pasal 33 Tahun 2002 dikatakan efisiensi berkeadilan, artinya okey
efisiensi dalam pengertian untuk modal tetapi juga ada dimensi keadilannya ini yang kami appeal kepada Bapak yang mulia untuk betul-betul bijaksana. Karena kami sedih sekali tadi, saya mohon maaf kepada wakil Pemerintah Anggota DPR lebih banyak justru membela kepentingan pemilik modal dan kami percaya Hakim-Hakim yang mulia di sini, Mahkamah Konstitusi akan berpihak kepada kepentingan yang lebih adil untuk semua pihak.
Assalamu’alaikum wr. wb.
36. KUASA HUKUM PEMOHON : Dr. ANDI MUHAMMAD ASRUN,S.H., M.H.
Masih ada pertanyaan lagi.
37. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD, MD, S.H.
Saudara Pemohon mungkin kalau pertanyaan yang agak spesifik nanti akan dibuka forumnya.
38. KUASA HUKUM PEMOHON : Dr. ANDI MUHAMMAD ASRUN,S.H., M.H.
Ini ada yang sedikit harus diklarifikasi satu pernyataan yang penting
Tadi dikatakan (...) Akhir kaset 10
39. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD, MD, S.H. Sebentar saya sampaikan (...)
40. DPR-RI : NURSYAMSI NURLAN, S.H. (KOMISI III DPR-RI) Ketua Majelis yang mulia, saya intrupsi boleh?
41. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD, MD, S.H.
Sebentar dulu, Saudara sidang ini menurut ketentuan atau apa namanya jadwal yang ditentukan oleh Mahkamah ini biasanya berakhir biasanya pukul 12.00 untuk makan siang, lalu kalau masih diperlukan sidang dibuka lagi kalau masalahnya panjang. Tapi nampaknya ini tidak perlu terlalu panjang sehingga sidang mungkin bisa kita akhiri pada jam pukul 12:30 begitu, sehingga tidak perlu istirahat tapi langsung selesai dan tidak perlu dibuka sesi kedua. Oleh sebab itu pertanyaan dan jawaban lebih baik yang pokok-pokonya saja, silakan.
Sebentar dulu tadi ada intrupsi sangat penting?
42. DPR-RI : NURSYAMSI NURLAN, S.H. (KOMISI III DPR-RI)
Kami menyatakan keberatan terhadap dua hal. Yang pertama dikatakan terutama kami dari DPR membela pihak pemilik modal dengan menyampaikan keterangaN DPR, itu tidak benar. Kemudian yang kedua penyebutan Undang-Undang Dasar Tahun 2002 itu tidak ada, yang ada adalah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.
Terima kasih.
43. KETUA : Prof. Dr. MOH. MAHFUD, MD, S.H. Panitera mencatat pernyataan Saudara, silakan
44. KUASA HUKUM PEMOHON : Dr. ANDI MUHAMMAD ASRUN,S.H., M.H.
Saya hanya ingin konfirmasi saja karena ada sanggahan dari DPR. Itu maksudnya Undang-Undang Dasar 1945 yang diamandemen bukan Undang-Undang Dasar 2002, Jadi sudah dikoreksi.
Kemudian sesuai dengan arahan dari Majelis pada sidang panel bahwa yang dimintakan betul adalah analisa ekonomi makanya kami tampilkan Dr. Rizal Ramli jadi ada relevansinya dengan panel terdahulu. Tadi Saudara Ahli mengatakan ketika perusahaan ingin mulai usahanya dia harus siap untung dan rugi tidak terkecuali perusahaan asing yang ingin melakukan investasi di Indonesia. Mohon elaborasi dari pendapat Saudara kira-kira apa maksudnya siap untung dan rugi? Apakah ada persoalan dengan due diligence atau apa?
Terima kasih.
45. AHLI DARI PEMOHON : Dr. RIZAL RAMLI
Pak Asrun yang namanya bisnis itu selalu ada hubungannya antara resiko dan return dan lost. Bahkan diajarkan di sekolah-sekolah, di ekonomi segala sesuatu yang resikonya tinggi pasti juga return-nya juga tinggi, dan potensi lost-nya juga tinggi. Segala sesuatunya yang resikonya rendah maka potensi untungnya juga sedikit, potensi lost-nya juga sedikit. Nah, perusahaan-perusahaan asing atau bank-bank asing yang memberikan pinjaman kepada perusahaan-perusaan Indonesia sebelum krisis dan sampai saat ini, biasanya, satu akan melakukan studi dulu bagus tidak tingkat keuntungannya, baik apa tidak? Yang kedua mereka akan melakukan due diligence tentang berbagai hal sehingga resiko itu sebetulnya sudah di acces, sudah diperkirakan. Nah, tetapi di dalam kasus Indonesia pada saat krisis mereka kebanyakan memberikan pinjaman ke IndonesIA pada tahun 1996, 1997 pada saat ekonomi Indonesia guling, happy-happy saja untungnya tinggi sekali, Indonesia termasuk negara yang paling menguntungkan tetapi begitu terjadi krisis ekonomi mereka merugi. Nah, untuk menjamin agar kerugian mereka itu sekecil mungkin mereka pakai tangan IMF sampai tangan bank dunia yaitu di dalam bentuk, satu meminta Pemerintah Indonesia buat mengambil over seluruh kewajiban perusahaan-perusahaan BUMN maupun swasta di Bank-bank asing, itu saja sebetulnya sudah menyalahi aturan. Kok bisa Pemerintah ambil over tanggung jawab dari pada swasta asing maupun swasta dalam negeri, itulah yang menyebabkan sampai saat sekarang dikita ini menanggung hutang lebih dari 1000 trilyun lebih yang beban cicilannya di anggaran kita puluhan trilyun karena adanya keputusan hutang swasta kepada asing diambil alih, dan asing-asing ini meminta harus segera didahulukan pembayarannya dan Pemerintah Indonesia pada waktu itu mungkin karena panik atau memang sebagian karena antek-antek asing langsung saja setuju. Sangat berbeda dengan di Korea, Korea pada waktu itu pemerintahnya meminta supaya seluruh hutang asing itu direnegoisasikan,
di-restructure, diperpanjang lima sampai sepuluh tahun. Sehingga Pemerintah Korea ada ruang untuk manuver dan akibatnya ekonomi Korea tidak kena dampak krisis yang berarti sama sekali, atau juga ada yang ekstrim seperti Perdana Menteri Mahatir di Malaysia dia menolak seluruh campur tangan IMF, mereka yakin mereka bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tidak perlu obat, tidak perlu undang-undang pesanan IMF dan akhirnya Malaysia keluar dari krisis tanpa sekat sama sekali.
Nah, dalam kasus ini Indonesia bank-bank asing ini ingin dibayar duluan, padahal biasanya Bapak Ibu, setiap bank memberikan pinjaman dia sudah acces resiko kreditnya, kalau ada kemungkinaN lost dia sudah taruh di cadangannya potensial losses-nya. Nah, bahkan sebagian itu untuk kredit yang besar dia diasuransikan, kok tiba-tiba Pemerintah
Indonesianya lagi kesulitan malah ditekan untuk bayar mereka duluan, diiming-imingi ditukar dengan pinjaman dari pada IMF itu tadi. Nah, yang kedua adalah soal dimana sih masuknya upah tenaga kerja dan tunjangan pajak dan lain-lain itu masuknya kalau di accounting itu masuknya di expands, di pengeluaran, baru setelah pengeluaran itu dibagi. Artinya dari segi situ saja bisa dilihat bahwa prioritas untuk membayar pajak, untuk membayar expands itu lebih tinggi dari pada kewajiban-kewajiban yang lainnya. Seperti kami katakan tadi, asing-asing ini mau aman pakai tanda tangan IMF, bank dunia dan kebetulan banyak pejabat Indonesia yang memang anteknya begitu. Tidak pernah membandingkan di Amerika sendiri negara kapitalis bagaimana? Di Eropa bagaimana ? Ternyata disitu hak buruh dalam bentuk gaji dan tunjangan prioritasnya lebih tinggi daripada secure creditor, demikian.
46. KUASA HUKUM PEMOHON : Dr. ANDI MUHAMMAD ASRUN,S.H., M.H.
Terima kasih, apakah bisa beralih ke ahli yang berikutnya?