• Tidak ada hasil yang ditemukan

Air Limbah/Sanitasi

Dalam dokumen peraturan daerah 2011 01 (Halaman 108-112)

Grafik Penempatan Transmigrasi Th.2005-2009

3) Terminal Penumpang

0.4.4. Air Limbah/Sanitasi

Sistem pembuangan air limbah di Kabupaten Bantul pada kegiatan domestik/rumah tangga maupun home industry saat ini masih dikelola secara individual/sendiri-sendiri (on site sanitation) yang dialirkan ke saluran pembuangan umum ke dalam tanah. Kenyataan tersebut dapat menimbulkan terjadinya pencemaran terhadap tanah dan air yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan. Adapun jumlah air limbah yang dihasilkan adalah sekitar 80 – 90% dari jumlah penggunaan air domestik.

Sumber air limbah di Kabupaten Bantul juga berasal dari fasilitas umum dan industri. Pengelolaan air limbah yang ada di Kabupaten Bantul di beberapa usaha industri sudah dilakukan untuk meminimalisir dampak terhadap pencemaran air, udara dan tanah. Pencemaran ini tentu saja perlu penanganan lebih lanjut termasuk juga pada limbah domestik dan home industry. Penetapan baku mutu dan pengelolaan, serta pengolahan air limbah sebelum dibuang merupakan alternatif terbaik yang menjamin kelangsungan dan kelestarian lingkungan di masa mendatang.

Di Kabupaten Bantul terdapat pula industri-industri skala kecil, menengah dan skala besar yang dipertahankan sebagai salah satu sektor penunjang kegiatan ekonomi wilayah. Untuk itu selain pengolahan limbah sebelum dibuang, penyiapan jaringan limbah yang terencana perlu dilakukan terutama pada daerah-daerah yang dialokasikan sebagai wilayah industri. Beberapa upaya pengelolaan limbah berikut jenis usaha tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 68. Jenis usaha industri dan penanganan limbah di Kabupaten Bantul Tahun 2008

Volume Volume

Air Limbah Limbah Padat

Rata‐rata/ Rata‐rata/ Bak Penanganan Tanpa

Unit Usaha 

/

Unit Usaha 

/

Individual Komunal Pengendap Lainnya Penanganan

Ja ga l a n, Ba ngunta pa n, 

Si ngos a ren,  12 50 pcs /ha ri 25 0.5 ons /bul a n √(10 uni t) √(2 uni t)

Ba ngunta pa n, Pri nggol a ya n 10 30 pcs /ha ri 30 0.3 ons /bul a n √(6 uni t) √(4 uni t)

14 20 pcs /ha ri 20 0.2 ons /bul a n √(10 uni t) √(10 uni t) √(4 uni t)

2 Teks ti l (ATBM) Kurni a (ATBM) Kra pya k Weta n, Pa nggungha rjo, 

Sewon 1 20 l b/ha ri 1 m3/ha ri

1 40 l b/ha ri 2 m3/ha ri

11 10 l b/ha ri 0,5 m3/ha ri √(5 uni t) √(6 uni t)

3 Ba ti k Wi ji rejo, Pa nda k, Ba ntul 4 12 l b/ha ri 1 m3/ha ri

4 Ta pi oka Na ngs ri , Sri ha rdono, Pundong 22 1 kwt/ha ri 150 30 Pa ka n terna k √(5 uni t) √(7 uni t)

Sa yega n, Sri ha rdono, Pundong 14 2 kwt/ha ri 300 60 Pa ka n terna k √(10 uni t) √(4 uni t)

5 Ta hu Bu Ha ri Gres o, Tri murti , Sra nda ka n 1 6 kwt/ha ri 400 120 Pa ka n terna k

KSM Sumber Rejeki Gres o, Tri murti , Sra nda ka n 13 1 kwt/ha ri 1000 20 Pa ka n terna k

KSM Ngudi Les ta ri Gunungs a ren, Tri murti , Sra nda ka n 54 1 kwt/ha ri 1000 20 Pa ka n terna k √(5 uni t) √(54 uni t)

Poncos a ri , Sra nda ka n 20 1 kwt/ha ri 1000 15 Pa ka n terna k √(14 uni t) √(6 uni t)

Ngoto, Ba ngunha rjo, Sewon 17 75 kg/ha ri 750 15 Pa ka n terna k √(komuna l )

Bogora n, Tri renggo, Ba ntul 15 75 kg/ha ri 750 15 Pa ka n terna k

Ba turetno, Ba ngunta pa n 10 75 kg/ha ri 750 15 Pa ka n terna k √(7 uni t) √(3 uni t)

Pa nggungha rjo, Sewon 3 1,5 kwt/ha ri 1500 30 Pa ka n terna k √(1 uni t) √(2 uni t)

6 Tempe Pendowoha rjo, Sewon 25 50 kg/ha ri 750 5 Pa ka n terna k √(10 uni t) √(15 uni t)

Pa nggungha rjo, Sewon 16 50 kg/ha ri 750 5 Pa ka n terna k √(6 uni t) √(10 uni t)

Poncos a ri , Sra nda ka n 34 60 kg/ha ri 900 6 Pa ka n terna k √(16 uni t) √(18 uni t)

Ca nden, Jeti s 19 50 kg/ha ri 750 5 Pa ka n terna k √(10 uni t) √(9 uni t)

7 Krecek Segoroyos o, Pl eret 35 40 kg/ha ri 1000 0,4 √(20 uni t) √(15 uni t)

Jl n. Wa tes , Km 13,5 Seda yu, 

Argos a ri , Seda yu

1 El ektropl oti ng

Pa di Subur

Upaya Penanganan

Upaya Penanganan Air Limbah

No Jenis Usaha Nama Usaha Alamat Sentra Non Sentra Limbah Padat

Dimanfaatkan Kapasitas Rata‐

rata per Hari Dibuang 

Langsung 

IPAL

Tabel 69. Instalasi Pengolahan Air Limbah di Kabupaten Bantul Tahun 2008

No Kegiatan Jenis Usaha Kapasitas Produksi Volume Limbah Keterangan

1 TPA – Piyungan Pembuangan akhir sampah 150 m3/hari Saluran irigasi S. Opak 2 IPAL – Sewon Instalasi pengolahan limbah RT 15.500 m3/hari 9.000 m3/hari S. Bedog

3 PT. Komitrando Pelapisan logam/electroplating 10.000 pcs/hari 2 m3/hari Saluran irigasi 4 PT. Samitex Industri tekstil 27.811.800 m/tahun 160 - 180 m3/hari S. Winongo 5 PG. Madukismo Industri gula tebu 500.000 - 600.000 ton/tahun 2 - 5 m3/jam S. Winongo Kecil 6 PS. Madukismo Industri alkohol/spiritus 24.000 l/hari 5 - 7 m3/jam S. Bedog 7 PT. Bintang Alam Semesta Penyamaan kulit 1.000 - 2.000 lmb/hari 200 - 260 m3/bulan S. Opak 8 PT. Adi Satria Abadi Penyamaan kulit 500.000 feet/bulan 250 m3/hari S. Opak

9 PT. Fajar Makmur Penyamaan kulit Saluran irigasi

10 PT. Digitone Industri tinta Saluran irigasi

11 PT. Pertamina UP IV Depot BBM

12 KRT. Daud Wiryo Hadinagoro Batik 20 lmb/bulan Disedot

13 Batik Indah Roro Jonggrang Batik

14 PT. Indo Hanzel Perkasa Gas Asitelin 576.000 kg/tahun 282,6 m3/bulan S. Semampir 15 Balai Besar Kulit Karet dan Plastik Laboratorium dan Pelayanan Jasa

Penyamaan Kulit S. Opak

16 PS. Panembahan Senopati Rumah Sakit 160 tempat tidur 40 m3/hari Saluran drainase 17 RS. PKU Muhamadiyah Rumah Sakit 108 tempat tidur 580 m3/bulan S. Winongo Kecil

18 PT. Indokor Daya Mina Cold Storage S. Gadjahwong

19 PT. Indokor Bangun Desa Tambak udang 7,2 ton/tahun Pantai Pandansimo 20 RS. Rajawali Citra Rumah Sakit 50 tempat tidur Saluran irigasi 21 RS. Permata Husada Rumah Sakit 30 tempat tidur Saluran irigasi 22 RSKIA. Ummi Khasanah Rumah Sakit 2 orang/hari Saluran irigasi

Jenis dan jumlah usaha industri sebagimana yang disajikan pada Tabel 68, dimungkinkan banyak mengalami perubahan dalam hal jumlah maupun variasi jenis produksinya, namun hal ini terbatas pada pendataannya karena sebagian besar industri yang baru tumbuh bersifat home industry dan belum terkontrol oleh pemerintah daerah. Selain itu juga aspek regularitas masih belum mampu menunjukkan posisi dan kemapanan jenis usaha yang berkelanjutan.

Ketersediaan sarana sanitasi rumah tangga berhubungan erat dengan kondisi kesehatan penduduk di Kabupaten Bantul serta menunjukkan tingkat kesadaran penduduk akan arti pentingnya kesehatan, dan kelestarian lingkungan. Ketersediaan kebutuhan sanitasi penduduk di Kabupaten Bantul dapat dilihat pada jumlah/kuantitas dari sarana jamban keluarga/rumah tangga yang disajikan pada tabel berikut:

Tabel 70. Ketersediaan Sarana Jamban di Kabupaten Bantul

No Kecamatan

Ketesediaan Jamban

Jumlah M K H

Jumlah % Jumlah % Jumlah % KK

1 Srandakan 847 9,59 1.859 21,05 4.242 48,02 8.833 2 Sanden 509 4,92 1.384 13,38 6.260 60,51 10.345 3 Kretek 1.126 13,86 1.856 22,84 4.514 55,54 8.127 4 Pundong 1.606 21,75 2.301 31,16 2.888 39,11 7.385 5 Bambanglipuro 887 7,85 1.447 12,81 8.548 75,68 11.295 6 Pandak 1.269 9,98 4.624 36,35 5.821 45,76 12.721 7 Bantul 2.071 13,25 1.547 9,90 10.157 65,00 15.627 8 Jetis 3.710 23,24 4.433 27,77 5.270 33,01 15.965 9 Imogiri 3.693 22,54 2.054 12,54 7.486 45,69 16.384 10 Dlingo 805 8,10 5.417 54,51 3.353 33,74 9.937 11 Pleret 3.795 29,41 1.233 9,56 4.878 37,81 12.902 12 Piyungan 4.198 34,92 625 5,20 8.263 68,73 12.022 13 Banguntapan 2.481 10,88 3.945 17,30 15.302 67,12 22.798 14 Sewon 1.848 6,94 604 2,27 19.355 72,69 26.626 15 Kasihan 1.948 7,97 1.085 4,44 14.173 57,96 24.454 16 Pajangan 1.377 17,58 1.791 22,86 4.171 53,25 7.833 17 Sedayu 2.412 24,04 1.456 14,51 6.726 67,05 10.032 Jumlah/Rata-rata 34.582 15,70 37.661 18,73 131.407 54,51 233.286

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, 2008

Berdasarkan data tersebut, secara umum dapat dikemukakan bahwa kondisi sanitasi penduduk di Kabupaten Bantul berdasarkan perbandingan jumlah dan

memenuhi standar dan persyaratan kesehatan. Hal ini didasarkan bahwa prosentase rata-rata sarana jamban keluarga yang tidak memenuhi standar persyaratan kesehatan sebesar 15,70% dari keseluruhan jumlah KK pada tiap kecamatan; prosentase jumlah yang kurang memenuhi standar persyaratan kesehatan sebesar 18,73% dan yang memenuhi standar persyaratan kesehatan sebesar 54,51%. Selebihnya dari perhitungan dan pendataan tersebut diasumsikan belum memiliki jamban keluarga sendiri ataupun satu jenis sarana jamban digunakan untuk kebutuhan bersama-sama.

Kecamatan Piyungan merupakan wilayah kecamatan di Kabupaten Bantul yang mempunyai kondisi sarana jamban tidak layak (tidak memenuhi standar kesehatan) paling banyak, yaitu sejumlah 4.198 buah; sedangkan jumlah yang paling sedikit dimiliki oleh keluarga di wilayah Kecamatan Sanden dengan 509 buah. Demikian juga halnya dengan perhitungan prosentasenya terhadap jumlah KK pada wilayah kecamatan yang bersangkutan, tampak kecenderungan dan posisi yang sama, yaitu Kecamatan Piyungan mempunyai prosentase jumlah jamban yang tidak memenuhi standard persyaratan kesehatan sebesar terbesar (34,92%) dan Kecamatan Sanden 4,92% (terkecil).

Dalam dokumen peraturan daerah 2011 01 (Halaman 108-112)

Dokumen terkait