BAB IV: KERAHIMAN ALLAH YANG MENYELAMATKAN
4.4 Pelaksanaan Pastoral Kemurahan Rohani
4.4.3 Pastoral Kemurahan Rohani dengan Mengedepankan Prinsip
Orang yang bersalah tidak mungkin dihukum selamanya kalau ia telah bertobat atas segala kesalahannya. Hukuman adalah putusan terakhir dan waktunya terbatas. Hukuman merupakan sarana drastis dan terakhir yang dipakai oleh kerahiman. Hukuman ini dapat disebut mempunyai makna praksis pertobatan yang edukatif dan kuratif (bersifat mendidik dan menyembuhkan). Akhirnya praksis itu memiliki suatu makna eskatologis yakni sebagai antisipasi pengadilan eskatologis dan menyelamatkan umat dari hukuman kekal dengan melaksanakan hukuman sementara (temporal) sekarang ini. Apabila dipahami secara demikian, praksis pertobatan Gereja bukanlah suatu kekerasan, melainkan lebih merupakan tindakan kerahiman.350 Setiap orang dituntun untuk menemukan jalannya yang benar untuk berpartisipasi di dalam komunitas eklesial dan karenanya boleh mengalami disentuh oleh belas kasihan yang tanpa pamrih, tanpa syarat, dan tanpa alasan.351 Orang dalam situasi apapun akhirnya terdorong untuk mengalami kehadiran dan rencana Allah dalam hidupnya.352
Untuk melihat perspektif hukum kanonik dan kerahiman, sebuah tradisi dari Gereja Ortodoks akan membantu. Tradisi Ortodoks mengembangkan prinsip oikonomia (ekonomi). Menurut prinsip ini, perlu untuk mengatakan kebenaran
dengan jelas dan tidak ambigu, tanpa dikurangi atau ditambah. Sangat perlu menerangkan kebenaran dengan teliti (akribeia), tetapi juga perlu menafsirkannya
350 Kardinal Walter Kasper, Mercy: The Essence of the Gospel and the Key to Christian Life, 263.
351 AL, art. 297.
352 Toni Rowland, Amoris Laetitia and a Spirituality of Family Life: A Personal and Professional Response, 244.
171
secara ekonomis dalam kasus-kasus khusus, menurut maksudnya yang otentik, yakni menurut oikonomia, seluruh rencana keselamatan Ilahi.353
Tradisi Katolik tidak terlalu erat hubungannya dengan prinsip ekonomi, tetapi mengenal epikeia, suatu prinsip yang serupa.354 Aristoteles tahu bahwa aturan-aturan umum tidak akan bisa mengatasi secara memadai semua kasus individual yang sangat kompleks. Prinsip epikeia mengakui bahwa hukum resmi yang umum tidak selalu memadai ketika diaplikasikan untuk persoalan-persoalan yang partikular dan situasional.355 Oleh karena itu, epikeia harus mengisi kekosongan-kekosongan dan sebagai kebenaran yang lebih tinggi, tidak mencabut norma legal yang objektif dalam kasus individual, tetapi sebaliknya menggunakannya secara bijaksana sehingga aplikasi yang bersangkutan sungguh benar dan bukan dalam kenyataan yang tidak benar. Kisah dalam Kitab Suci yang menampakkan prinsip epikeia ini adalah nasihat Yesus tentang perceraian (Mat 19: 1-12; Mrk. 10: 1-12). Hukum/aturan yang umum tentang perkawinan khususnya perceraian amat jelas disampaikan oleh Yesus. Namun dalam kasus
353 Kardinal Walter Kasper, Mercy: The Essence of the Gospel and the Key to Christian Life, 264.
354 James A. Coriden, Conscience and Communion: What’s a Remarried Catholic to Do? The Furrow Vol. 63, No. 4 (April 2012), 209. Tersedia dari http://www.jstor.org/stable/23219050;
(diakses 11 Mei 2018).
Page Count: 6; (diakses 16 April 2018). Epikeia adalah sebuah interpretasi terhadap hukum positif, tidak menurut kata-katanya melainkan menurut “semangatnya” atau suasana kebatinannya.
Epikeia ini dipergunakan bila dalam menangani kasus-kasus yang dibatasi oleh suatu hukum mengalami kesulitan penanganannya atau penerapan hukum positif tidak pernah mencapai sasarannya. Epikeia dapat pula diartikan sebagai upaya orang untuk membebaskan diri dari beban yang harus ditanggungnya setelah ia dengan jujur menganggap bahwa sebenarnya pembentuk hukum tidak bermaksud memaksakan beban itu dalam setiap kasus khusus macam apapun atau setidak-tidaknya dalam hal-hal khusus yang diatur dalam peraturan hukum positif. Jelaslah bahwa epikeia bukan merupakan dalaih atau pengingkaran atas hukum melainkan justru suasana
kebatinan dari kebebasan atau perasaan terbebas dari pernyataan hukum yang bersifat intrinsik dan tidak tertulis, yang di dalam kodrat manusia adalah inheren, atau kodifikasi norma-norma dalam hukum positif. Indrayusman Pulungan, Prinsip-prinsi Epikheia, tersedia dari
https://www.academia.edu/30135593/Prinsip_Prinsip_Epikeia?auto=download; (diakses 16 April 2018).
355 James A. Coriden, Conscience and Communion: What’s a Remarried Catholic to Do?, 209.
172
lain mengenai kisah Perempuan yang Berzinah (Yoh 8: 1-11), Yesus tidak menghukum perempuan itu bahkan mengampuninya. Sabda Yesus tentang cinta kasih dan kerahiman Ilahi menyangkut setiap orang yang benar-benar mau bertobat. Kerahiman itu terikat pada kebenaran, tetapi kebenaran juga terikat pada kerahiman. Kebenaran harus diamalkan dengan suasana kasih sayang.356
Umat yang memohon kemurahan rohani dari Gereja hendaknya menunjukkan bukti-bukti pertobatannya, yang harus diperkuat dengan kesaksian-kesaksian dari berbagai pihak. Kesaksian itu antara lain diperoleh dari Pastor paroki, Ketua lingkungan/wilayah dan beberapa orang sekitarnya yang mengetahui kehidupan mereka. Kemurahan rohani hanya akan diberikan kalau memang pemberiannya tidak akan menimbulkan batu sandungan (scandalum) bagi umat Katolik sekitarnya. Kardinal Ratzinger mengajarkan bahwa penyelidikan seperti ini benar dan merupakan interpretasi dari apa yang disebut praktek yang sudah terbukti dalam forum internal. Tetap ada kewajiban untuk menghindari skandal, dan dengan demikian orang beriman ini harus menerima sakramen-sakramen di tempat-tempat di mana kondisi mereka (berpisah dan menikah kembali) tidak diketahui.357
Sebelum memberikan izin penerimaan sakramen-sakramen tersebut (Rekonsiliasi dan Ekaristi), Panitia Pastoral Kemurahan Rohani hendaknya
356 Ef 4: 15.
357 Joseph Cardinal Ratzinger,Congregation for The Doctrine of The Faith:Concerning Some Objections to The Church's Teaching on The Reception of Holy Communion by Divorced And Remarried Members Of The Faithful, Teks ini mereproduksi bagian ketiga dari Pengantar Kardinal Ratzinger untuk Volume 17 dari seri yang diproduksi oleh Kongregasi untuk Ajaran Iman,
berjudul “Documenti e Studi”, Tentang Reksa Pastoral dari Pasangan yang Bercerai dan Menikah Kembali, LEV, Vatican City 1998, 20-29. Tersedia dari
http://www.vatican.va/roman_curia/congregations/cfaith/documents/rc_con_cfaith_doc_19980101 _ratzinger-comm-divorced_en.html; (diakses 16 April 2018).
173
meneliti kasusnya sambil mendengarkan pendapat Pastor paroki setempat mengenai ada/tidaknya sandungan yang akan muncul atas permasalahan tersebut.
Dengan cara demikian, sedikit banyak disingkirkan kekhawatiran Paus Yohanes Paulus II bahwa umat beriman akan disesatkan dan dibingungkan oleh ajaran Gereja mengenai sifat tak terceraikannya perkawinan, manakala mereka hidup dalam perkawinan yang tidak sah namun diperkenankan untuk menyambut Komuni.358
4.5 RANGKUMAN
Keluarga yang berpisah dan menikah untuk kedua kalinya secara sipil saja menyadari bahwa perkawinan kedua adalah tidak sah menurut hukum Gereja Katolik. Akan tetapi tidak mungkin lagi mereka berpisah tanpa menimbulkan kerugian besar, misalnya pendidikan anak-anak. Anak-anak akan sangat dirugikan jika terjadi perpisahan. Apalagi tuntutan untuk hidup seperti “saudara-saudari”
atau hidup bersama tidak mungkin dipenuhi secara kodrat manusiawi. Hati mereka tidak merasa nyaman karena hidup perkawinan yang dijalani sekarang ini bukanlah perkawinan yang “beres” sehingga salah satu konsekuensinya harus taat untuk tidak sambut komuni. Sementara mereka tetap merindukan untuk sambut sakramen-sakramen khususnya Ekaristi yang diimani sebagai Sakramen keselamatan bagi jiwanya.
Gereja dipanggil untuk memperhatikan, ngrengkuh umat yang berada dalam kondisi perkawinan seperti ini. Pastor atau gembala umatlah yang menjadi tempat
358 FC, art. 84.
174
berlabuh mencari ketenangan batin/kesegaran hidup rohani. Dalam kasus seperti itu masih dapat dipertimbangkan terutama kepada pihak yang kiranya tidak bersalah atau yang menjadi kurban jodoh yang tidak setia, kiranya mereka ini layak mendapat kemurahan hati untuk komuni kudus. Pihak yang tidak setia atau pihak yang bersalah meninggalkan pasangannya yang sah, perlu mendapat perhatian dan tidak boleh dikucilkan.
Di setiap keuskupan perlu dibentuk semacam Komisi/Panitia Pastoral Perkawinan yang berkarya di bawah koordinasi Komisi Keluarga. Komisi ini bertugas mempertimbangkan kasus-kasus perkawinan sehubungan dengan bisa tidaknya menerima komuni kudus. Dalam mengambil keputusan atas kasus-kasus perkawinan hendaknya Uskup dan Vikaris Yudisial dilibatkan. Dengan demikian, keluarga-keluarga Katolik yang mengalami permasalahan dan merindukan kelegaan dalam hidup perkawinannya dapat diberi bantuan pastoral dengan baik.
175
BAB V PENUTUP
5.1 PENGANTAR
Ajaran Gereja Katolik mengenai pernikahan yang terus-menerus dipegang teguh sampai saat ini adalah pernikahan yang satu dan tak terpisahkan (unitas dan indisolubilitas), yang setia dan terbuka pada kehidupan demi kebaikan pasangan
dan anak-anak. Pernikahan menurut Gereja Katolik diangkat ke dalam martabat sakramen karena menunjukkan sebuah cinta yang berkualitas sebagaimana cinta Allah kepada manusia.
Meski demikian, tidak dapat dimungkiri bahwa banyak permasalahan keluarga yang dapat mengakibatkan hancurnya relasi suami istri. Sungguh memprihatinkan bahwa kasus-kasus perpisahan ini juga terjadi pada pasangan-pasangan yang menikah secara Katolik. Selain persoalan sosial, persoalan spesifik yang muncul adalah pasangan-pasangan ini telah berpisah secara sipil, namun secara gerejawi masih diakui sebagai pasangan suami-isteri yang sah. Hal ini menyebabkan perkawinan kedua tidak bisa disahkan menurut tata cara Gereja Katolik. Konsekuensinya, pasangan yang berpisah dan menikah kembali secara tidak sah menurut ajaran Gereja Katolik tidak boleh sambut sakramen-sakramen, terutama Sakramen Tobat dan Ekaristi kecuali yang bersangkutan berada dalam bahaya maut.
176
Realitas umat yang menikah secara Katolik, berpisah, dan kemudian menikah kembali secara sipil saja sehingga tidak boleh menerima sakramen-sakramen khususnya Sakramen Tobat dan Sakramen Ekaristi juga terjadi di Gereja Keuskupan Agung Semarang. Sebagai terobosan atas permasalahan pastoral ini, dibentuklah Panitia Kemurahan Rohani. Ide dasar dari langkah pastoral ini adalah untuk menampakkan Kerahiman Allah yang penuh belas kasih dan pengampunan kepada siapa saja yang mau bertobat dan berbalik kembali kepada Allah.
Kerahiman dan belas kasih Allah itu berpuncak pada kurban salib Kristus yang menyelamatkan jiwa manusia yang setiap saat hadir dalam Sakramen Ekaristi. Umat yang secara yuridis tidak mungkin lagi untuk menyambut komuni kudus karena terhalang oleh situasi pernikahannya, dituntun untuk berdiskresi secara jernih dan bertobat atas sejarah hidup perkawinan yang dialaminya.
Apabila dipandang cukup maka umat tersebut dicarikan solusi pastoral yang bersifat forum internum agar dapat kembali menyambut Sakramen Ekaristi sebagai Sakramen keselamatan Allah atas jiwanya.
5.2 KESIMPULAN
Tulisan ini bertujuan untuk mendalami sebuah tesis bahwa pemberian kemurahan rohani Sakramen Ekaristi bagi orang yang hidup dalam kondisi perkawinan berpisah dan menikah kembali, mendukung penghayatan spiritualitas ekaristis yang menyelamatkan jiwanya. Bab II dari tesis ini menguraikan mengenai Ekaristi sebagai keselamatan jiwa. Ekaristi disebut sebagai sakramen
177
keselamatan jiwa manusia (dimensi soteriologis Ekaristi) karena di dalam Ekaristi manusia mengenangkan kembali sengsara dan wafat Kristus demi keselamatannya. Yesus Kristus menyerahkan diri-Nya bagi kita demi pengampunan dosa (Mat 26: 28, Mrk 14: 24, Luk 22: 19, 1 Kor 11: 24). Dalam teks Yesaya 53 digambarkan mengenai hamba Yahwe yang bersengsara. Kristus wafat untuk penebusan dosa semua orang. Maka merayakan Ekaristi berarti merayakan karunia penebusan dan pengampunan dosa yang diberikan Allah kepada manusia melalui wafat Yesus Kristus. Menyambut Ekaristi berarti menyambut Yesus sang juru selamat yang hadir secara nyata (realis praesentia) dalam rupa roti dan anggur.
Ekaristi berarti “persekutuan (communio) dengan Kristus.” Dan memang, semua manusia “dipanggil kepada persekutuan dengan Anak Allah, Yesus Kristus Tuhan kita” (1 Kor 1: 9). Hal itu berarti pertama-tama “persekutuan Roh Kudus”
(2 Kor 13: 13), sebab kesatuan dengan Kristus berarti “persekutuan iman” (Flm.
6). Persekutuan iman berarti persekutuan jemaat, sebab semua bersama-sama menghayati iman Gereja. Sakramen itu “sakramen iman”, dan Ekaristi sebagai pusat dan puncak semua sakramen merupakan perayaan iman bersama. Pusatnya bukanlah roti dan anggur, melainkan Yesus Kristus yang diimani hadir dalam seluruh umat. Menyambut Ekaristi berarti menyatukan diri dan mau dihidupi oleh Yesus Kristus dengan Tubuh dan Darah-Nya sendiri yang menyelamatkan dan memberikan hidup abadi kepada jiwa manusia.
Dalam bab III yang mengulas mengenai kemurahan rohani, ditemukan bahwa ada sebagian umat yang tidak bisa/terhalang untuk menyambut Komuni
178
secara reguler. Mereka adalah umat yang menikah sah secara Katolik, berpisah secara sipil saja, dan menikah kembali. Perkawinan kedua ini tidak sah karena salah satu atau keduanya masih terikat dengan perkawinan yang sah secara Gerejani. Berdasarkan wawancara dengan narasumber diungkapkan berbagai perasaan yang tidak nyaman berkaitan dengan larangan untuk sambut Komuni yang diterimanya. Mereka merasa kurang percaya diri dalam hidup menggereja dan memasyarakat. Saat mengikuti Perayaan Ekaristi mereka merasa bersalah, merasa berat di hati, sedih, kangen (Jawa)/rindu, tidak bahagia, gelisah, gemeter (Jawa)/gemetar, isin (Jawa)/malu, dan merasa berdosa kepada Tuhan.
Mereka merasa putus asa karena terbayang sedemikian lamanya sanksi tidak boleh terima Komuni yang akan dijalani. Mereka merasakan “kehausan” rohani, kecewa/gelo (Jawa), merasakan dorongan yang luar biasa untuk bisa segera menyambut Komuni/kemecer (Jawa), merasa diri tidak pantas, merasa jauh dari Tuhan, merasa tertekan, merasa kehilangan kontak dengan Tuhan, kagok (Jawa)/susah ketika ingin melakukan sesuatu saat orang di sampingnya sambut Komuni, memeng, aras-arasen (jawa)/malas, puasa rohani, bingung, berjalan dalam kegelapan, dan merasa hampa.
Keluarga yang berpisah dan menikah kembali menyadari bahwa perkawinan kedua adalah tidak sah, baik dilihat dari ajaran Gereja maupun moral perkawinan.
Akan tetapi dalam kondisi perkawinan yang baru, tidak mungkin lagi bagi mereka untuk berpisah tanpa menimbulkan kerugian besar. Tanggung jawab dan pendidikan terhadap anak-anak akan sangat dirugikan jika terjadi perpisahan.
Apalagi tuntutan untuk hidup seperti “saudara-saudari” atau hidup bersama secara
179
manusiawi tidak mungkin dipenuhi. Hati mereka merasa tidak nyaman karena ketidakberesan perkawinannya.
Salah satu Komisi Pastoral Perkawinan yang sudah menjalankan fungsi pertimbangan dan pemberian kemurahan rohani adalah Panitia Pastoral Kemurahan Rohani Keuskupan Agung Semarang. Panitia pastoral ini menjadi jalan alternatif atau terobosan pastoral untuk menjawab kerinduan umat yang terhalang untuk sambut Komuni karena hidup dalam situasi perkawinan berpisah dan menikah kembali. Dengan demikian, keluarga-keluarga keluarga Katolik yang mengalami permasalahan dalam hidup perkawinannya dapat terbantu, terlebih dalam penghayatan imannya akan Yesus Kristus Sang Juru Selamat Dunia dan senantiasa hadir dalam Sakramen Mahakudus.
Dalam bab IV diuraikan visi teologis yang melandasi pastoral kemurahan rohani ini. Penulis sadar bahwa pro-kontra yang terjadi di dalam Gereja berkaitan pemberian Komuni bagi pasangan yang berpisah dan menikah kembali amatlah tajam. Penulis mencoba untuk menghubungkan pemberian kemurahan rohani Ekaristi bagi pasangan yang berpisah dan menikah kembali dengan Kerahiman Allah. Allah yang maharahim itu selalu menghendaki agar manusia yang dikasihi-Nya memperoleh keselamatan. Jejak-jejak kerahiman Allah terbentang dari kisah Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru. Puncak dari karya keselamatan Allah itu terwujud dalam inkarnasi Putra-Nya Yesus Kristus ke dunia. Yesus menampakkan wajah kerahiman Allah kepada umat-Nya. Puncak kerahiman Allah itu adalah kerelaan Putra untuk melaksanakan kehendak Bapa dengan menderita sengsara dan wafat di kayu salib sebgai penebusan atas dosa-dosa manusia.
180
Gereja tidak boleh mengucilkan umat yang sesungguhnya mempunyai kerinduan yang besar untuk menghidupi kesatuan dengan Kristus. Sebagai kumpulan murid-murid Kristus, Gereja dipanggil untuk memperhatikan, ngrengkuh (Jawa) umat yang berada dalam kondisi yang serba terbatas dan
berkekurangan, baik jasmani terlebih rohani. Umat yang berada dalam situasi perkawinan berpisah dan menikah kembali juga perlu diperhatikan.
Pastor atau gembala umat menjadi tempat berlabuh bagi umat yang mencari ketenangan batin/mencari kesegaran hidup rohani. Tanpa harus mengesampingkan situasi objektif yang dialami pasangan-pasangan ini, pelayanan pastoral Kemurahan Rohani berusaha untuk memperhatikan situasi subjektif yang mereka alami. Di satu pihak ajaran Gereja mengenai ketidakceraian perkawinan harus tetap diindahkan karena diajarkan oleh Yesus sendiri (Mat 19: 12; Mrk. 10: 1-12). Di lain pihak Gereja harus tetap menghadirkan belas kasih Allah dalam karya pastoralnya.
Untuk menyikapi adanya tegangan sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, maka serangkaian pertimbangan dan discernment yang baik perlu dijalankan agar langkah-langkah pastoral yang ditempuh tidak menimbulkan scandalum di tengah jemaat. Dengan langkah ini, Gereja dapat membantu setiap
keluarga Katolik yang mengalami permasalahan dan merindukan kelegaan dalam hidup perkawinannya.
Gereja menjadi rumah yang nyaman dan penuh harapan terlebih bagi keluarga-keluarga yang kesepian dan menganggap diri mereka gagal dan tidak terselamatkan. Berdasarkan uraian dari bab-bab sebelumnya dapat dibuktikan
181
bahwa pemberian izin bagi pasangan-pasangan yang berpisah dan menikah kembali untuk menyambut Ekaristi, dapat menumbuhkan kembali spiritualitasnya akan Ekaristi yang menjadi sakramen keselamatan Allah bagi jiwanya.
5.3 SARAN
Persoalan umat yang berpisah dan menikah kembali adalah salah satu penderitaan besar Gereja Katolik saat ini. Gereja mengakui bahwa solusi untuk persoalan itu tidaklah sederhana. Pendampingan selama kehidupan pernikahan terhadap keluarga-keluarga itu diperlukan agar tidak pernah merasa sendiri, bersalah, dan gagal dalam perjalanan mereka. Keluarga-keluarga ini harus dapat melihat dan merasakan bahwa Bunda Gereja sedemikian mengasihi anak-anak Allah. Paroki, komunitas Katolik, klerus/awam pelayan pastoral hendaknya melakukan segala hal yang mungkin sehingga pasangan-pasangan ini merasa dicintai dan diterima. Mereka tidak merasa dikucilkan terlebih karena menanggung kerinduan rohani yang amat sangat karena tidak diperkenankan menerima Sakramen Tobat dan Ekaristi.
Penulis mengusulkan langkah-langkah pastoral yang bisa dijalankan untuk mendampingi keluarga-keluarga yang berpisah dan menikah kembali:
1. Bagi keluarga-keluarga Kristiani
Keluarga-keluarga Kristiani menjadi ujung tombak Gereja untuk menyapa dan merengkuh umat yang terpinggirkan karena situasi hidup yang dialaminya, bukan menjauhi apalagi mengucilkannya. Misi Gereja bagi setiap keluarga Katolik ini juga berlaku bagi orang-orang yang berpisah dan menikah kembali.
182
Pandangan dan perlakuan umat yang cenderung negatif terhadap umat yang sedang terlilit masalah khususnya yang hidup dalam situasi perkawinan berpisah dan menikah kembali sangatlah merugikan kesatuan jemaat. Mereka yang bermasalah itu cenderung menutup diri, malu, minder, tidak percaya diri, dan menghindar dari segala kegiatan kegerejaan dan kemasyarakatan. Keluarga-keluarga Katolik harus peka dan tanggap akan segala persoalan yang mengganggu bahkan merusak keutuhan jemaat sebagai communio.
Jemaat Gereja khususnya keluarga-keluarga kristiani hendaknya percaya bahwa Allah tetap mencurahkan belas kasih dan pengampunan kepada pasangan-pasangan yang berpisah dan menikah kembali. Allah mengampuni umat yang bertobat. Ia memberi kesempatan bagi umat untuk berbalik kepada-Nya. Allah itu penuh kerahiman dan belas kasih sebagaimana digambarkan dalam Kitab Mazmur, “Seperti Bapa sayang pada anak-anak-nya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia” (Mzm 103: 13). Keluarga-keluarga ini hendaknya mewujudkan kepercayaannya akan Sabda Tuhan dengan mengasihi keluarga-keluarga yang hidup dalam situasi perkawinan berpisah dan menikah kembali.
Peran keluarga-keluarga dalam pemberian pastoral kemurahan rohani sangat konkrit dan tidak bisa ditinggalkan. Keluarga-keluarga dapat memberikan rekomendasi/kesaksian mengenai hidup pemohon: apakah hidupnya sungguh sesuai dengan ajaran dan moral Gereja? Ataukah sebaliknya, hidupnya amburadul dan sangat bertentangan dengan ajaran dan moral Gereja?
183
Keluarga-keluarga kristiani hendaknya menjadi pendorong bagi keluarga pemohon kemurahan rohani untuk terus aktif dalam berkegiatan, baik di lingkungan setempat maupun di lingkup yang lebih luas lagi, misalnya Gereja dan masyarakat. Keluarga-keluarga di lingkungan hendaknya mampu menciptakan situasi yang kondusif bagi seluruh umat tanpa terkecuali sehingga Gereja sebagai Bunda yang penuh belas kasih dapat ditampakkan secara nyata. Kerinduan untuk sambut Komuni kembali bukan semata kerinduan pribadi dari pemohon kemurahan rohani semata, melainkan menjadi kerinduan seluruh umat agar senantiasa disatukan oleh Tubuh dan Darah Tuhan Yesus sendiri yang menyelamatkan jiwa.
2. Bagi pelayan pastoral
Para gembala umat wajib memberikan pendampingan kepada setiap umatnya yang mengalami kesulitan dan perpecahan dalam hidup berkeluarga.
Keluarga-keluarga ini membutuhkan uluran pelayanan rohani dan solusi dari para gembala umat agar hidup mereka pulih kembali dan tidak berada di bawah sanksi/hukuman (tidak boleh menyambut komuni kudus). Pelayan pastoral membimbing dan mengarahkan mereka agar menyadari situasi yang dialami dan berusaha mencari jalan keluar agar pelayanan rohani terpenuhi dalam hidup keluarga.
Pandangan legalistik yang sempit hendaknya ditinggalkan oleh pelayan pastoral. Hukum gerejani tentang perkawinan memerlukan pembaruan penafsiran dalam semangat pastoral dan rohani. Kemutlakan yang membelenggu dan merugikan umat dalam penafsiran hukum tidak sesuai dengan semangat
184
keselamatan dan kebaikan orang yang bersangkutan. Pelaksanaan hukum hendaknya terarah pada suatu semanagt dasar bahwa keselamatan jiwa merupakan hukum yang utama (salus animarum suprema lex) . Hal yang perlu dibina adalah spiritualitas pastoral yang baru yakni spiritualitas pastoral yang senantiasa menampakkan wajah kerahiman Allah bagi seluruh umat-Nya.
Para Imam perlu menemani orang beriman, supaya melalui situasi-situasi sulit tetap dapat mencapai tujuan hidup perkawinan mereka. Jalan pertobatan harus digalakkan lagi sehingga setiap umat beriman dapat menikmati buah-buah rahmat dari sakramen-sakramen yang diterimanya. Dalam konteks pendampingan atau penyelesaian kasus umat yang berpisah dan menikah kembali situasi yang terjadi perlu diperhatikan dengan seksama. Apabila pembatalan perkawinan yang pertama tidak memungkinkan, maka pasangan yang hidup sendirian perlu diberi perhatian khusus dan bagi mereka yang menikah lagi secara sipil perlu dibukakan
Para Imam perlu menemani orang beriman, supaya melalui situasi-situasi sulit tetap dapat mencapai tujuan hidup perkawinan mereka. Jalan pertobatan harus digalakkan lagi sehingga setiap umat beriman dapat menikmati buah-buah rahmat dari sakramen-sakramen yang diterimanya. Dalam konteks pendampingan atau penyelesaian kasus umat yang berpisah dan menikah kembali situasi yang terjadi perlu diperhatikan dengan seksama. Apabila pembatalan perkawinan yang pertama tidak memungkinkan, maka pasangan yang hidup sendirian perlu diberi perhatian khusus dan bagi mereka yang menikah lagi secara sipil perlu dibukakan