Menurut ajaran sifat melawan hukum formil, suatu perbuatan dikualifikasikan sebagai melawan hukum apabila bertentangan dengan perundang-undangan (tertulis), demikian juga sifat melawan bukum perbuatan tersebut hanya bisa dihapus dengan alasan pembenar yang dirumuskan dalam perundang-undangan (tertulis) atau dapat juga disebut sebagai dekriminalisasi. Dalam ajaran sifat melawan hukum formil untuk mengkualifikasi suatu perbuatan sebagai melawan hukum maupun untuk menghapuskan sifat melawan hukum harus berdasar perundang-undangan (tertulis), sehingga hukum tidak tertulis sama sekali tidak mendapat tempat dalam hukum pidana.4
Dalam hal melawan hukum formil, maka yang dijadikan sebagai acuan adalah undang-undang di mana suatu perbuatan hanya akan dianggap salah dan melawan hukum apabila
2 Van Bemmelen, Hukum Pidana 1 (Hukum Pidana Materiil Bagian umum), (Bandung: Binacipta, 1984), hlm. 150
3 Sudarto, Op.Cit., hal. 92
4 Prastowo, RB Budi. "Delik formil/materiil, sifat melawan hukum formil/materiil dan pertanggungjawaban pidana dalam tindak pidana korupsi." Jurnal hukum pro Justitia 24, no. 3 (2006): 215
5
telah diatur dalam hukum yang tertulis saja.5 Maka setiap perbuatan yang walaupun dianggap jahat oleh masyarakat, tetapi tidak diatur dalam hukum positif tidak dapat dikatakan melawan hukum berdasarkan ajaran sifat melawan hukum formil.
Terdapat beberapa catatan dalam menentukan perbuatan yang melanggar hukum formil, apakah akibatnya atau penyebabnya yang dilarang dalam hukum tertulis. Dalam menentukan perbuatan yang melanggar hukum formil diperlukan kecermatan agar tidak terjadi salah penafsiran undang-undang. Dengan artian, perlu adanya pengamatan pada perbuatan yang melawan hukum formil, pada bagian mana perbuatan tersebut melawan hukum formil.
Dapat disimpulkan bahwa pengertian dari ajaran sifat melawan hukum formil ini meliputi dua hal, yang pertama menyatakan bahwa suatu perbuatan dapat disebut melawan hukum apabila perbuatan tersebut telah ada dan dirumuskan dalam undang-undang sebagai tindak pidana kemudian perbuatan tersebut harus memiliki sanksi pidana. Hal yang kedua menyatakan bahwa menurut ajaran melawan hukum formil, sifat melawan hukumnya perbuatan yang telah ada dan dirumuskan dalam undang-undang sebagai suatu tindak pidana, sifat melawan hukumnya kemudian hanya dapat dihapuskan oleh undang-undang melalui proses pencabutan oleh undang-undang atau yang dikenal dengan istilah dekriminalisasi.6
Contoh dari ajaran sifat melawan hukum formil yaitu polisi menahan seseorang yang diduga telah melaksanakan suatu perbuatan pidana. Perbuatan polisi ini sesungguhnya telah memenuhi ketentuan Pasal 333 KUHP. Tetapi karena perbuatan itu tidak dapat dikatakan bersifat melawan hukum karena polisi menjalankan kewajibannya berdasarkan Undang - Undang hukum acara pidana. Dan oleh sebab itu sifat melawan hukumnya hapus karena ketentuan Pasal 50 KUHP.
Contoh lainnya adalah regu penembak yang menembak mati seseorang yang telah dijatuhi pidana mati, perbuatan regu penembak tersebut memenuhi unsur-unsur delik pada
5 Eleanora, Fransiska Novita. "Pembuktian Unsur Sifat Melawan Hukum dalam Tindak Pidana Penyuapan." Jurnal Ilmiah Hukum dan Dinamika Masyarakat 9, no. 2 (2016). Hlm. 207
6 Wedanti, I. Gusti Ayu Jatiana Manik, and AA Ketut Sukranatha. "Unsur Melawan Hukum Dalam Pasal 362 KUHP Tentang Tindak Pidana Pencurian." Jurnal Kertha Semaya 1, no. 03 (2013). Hlm.3
6
Pasal 338 KUHP, tetapi perbuatan mereka tidak melawan hukum karena menjalankan perintah jabatan yang sah sesuai dengan Pasal 51 ayat (1) KUHP.
2. Ajaran Sifat Melawan Hukum Materiil
Ajaran sifat melawan hukum memahami bahwa suatu perbuatan harus dilarang berdasarkan ukuran tertentu yang sudah ada sebelum perbuatan dilakukan. Titik pemahaman dalam ajaran sifat melawan hukum berada pada ukuran apa yang digunakan dalam menilai suatu perbuatan sebagai perbuatan yang dilarang.
Munculnya ajaran sifat melawan hukum materiil ini dari pemikiran Rudgers sebagaimana dikutip Utrecht yang menekankan taatbestandmassigkeit dalam perbuatan pidana berkembang menjadi pemikiran van Bemmelen yang menekankan “idee”
wesenschau dalam perbuatan pidana. Berbeda dengan pandangan tersebut, van Bemmelen sebagaimana dikutip Utrecht berpandangan bahwa suatu perbuatan lebih dapat dinilai sebagai perbuatan pidana apabila perbuatan tersebut “dem Wesen nach” dalam arti sifat dari perbuatan (wesen) sesuai dengan makna atau inti dari ketentuan hukum pidana yang dimaksudkan.”7
Berdasarkan makna dari sifat melawan hukum tersebut, ajaran sifat melawan hukum materiil pada dasarnya diletakkan pada ada atau tidaknya kepentingan hukum yang dilanggar. Ukuran dari keberadaan melawan hukum perbuatan tidak terletak pada pengaturan perbuatan sebagai perbuatan yang dilarang oleh undang-undang (sifat melawan hukum formil) melainkan adanya kepentingan hukum yang dilanggar (sifat melawan hukum materiil).
Pemberlakuan ajaran sifat melawan hukum materiil bermula dari pemikiran Von Liszt dan Zu Dohna. Von Liszt sebagaimana dikutip Utrecht menegaskan bahwa tiap perbuatan yang anti-sosial merupakan wederrechtelijkheid.8 Zu Dohna pun memberikan pemahaman bahwa perbuatan yang sudah memenuhi rumusan ketentuan hukum pidana (formeel wederrechtelijkheid) tetapi secara materiil tidak merupakan wederrechtelijkheid. Tinjuan dari sisi ruang lingkup perbuatan yang dapat dikenakan terhadap ketentuan hukum,
7 Utrecht., E. 1986. Hukum Pidana I. Surabaya: Pustaka Tinta Mas. Hlm.261-263
8 Utrecht, E. Op.cit., Hlm. 268-269
7
pemberlakuan ajaran sifat melawan hukum materiil menunjukkan perluasan melawan hukum secara tidak hanya melawan hukum yang tertulis akan tetapi melawan hukum yang tidak tertulis, yaitu melawan asas-asas hukum umum (algemene beginselen van recht).
Contoh dari ajaran sifat melawan hukum materiil yaitu seorang dokter hewan di kota Huizen dengan sengaja memasukan sapi - sapi yang sehat ke dalam kandang yang berisi sapi yang sudah terjangkit penyakit mulut dam kuku,sehingga membahayakan sapi-sapi yang sehat tersebut. Perbuatan dokter hewan itu tegas-tegas melanggar Pasal 28 Undang-Undang ternak, yaitu "dengan sengaja menempatkan ternak dalam keadaan membahayakan". Ketika dituntut, dokter hewan mengemukakan bahwa apa yang dilakukannya itu untuk kepentingan peternakan. Putusan Mahkamah Agung Belanda: Pasal 82 Undang-Undang Ternak tidak dapat diterapkan kepada dokter hewan itu, dengan pertimbangan bahwa: “Tidak dapat dikatakan bahwa seorang yang melakukan perbuatan yang diancam pidana itu mesti di pidana, apabila undang-undang sendiri tidak dengan tegas-tegas menyebut adanya alasan-alasan penghapus pidana. Karena dalam hal ini sifat melawan hukumnya perbuatan tidak ada, sehingga oleh karena pasal yang bersangkutan tidak berlaku terhadap perbuatan yang secara tegas memenuhi unsur delik."
Terkait dengan ukuran yang digunakan oleh ajaran sifat melawan hukum materiil terdapat beberapa istilah yang digunakan antara lain:
1. Asas-asas hukum umum 2. Kepentingan hukum
3. Kepentingan hukum yang hendak dilindungi pada saat aturan ditetapkan (schutznorm).
Perbedaan penggunaan istilah tersebut memiliki dampak yang luas pada penerapan sifat melawan hukum materiil. Pengunaan istilah asas-asas hukum umum memberikan ruang lingkup yang sangat luas terhadap ukuran sifat melawan hukum materiil. Pengertian asas-asas hukum umum meliputi semua asas hukum yang berlaku dalam semua bidang hukum, tidak hanya hukum pidana. Artinya, ruang lingkup dari sifat melawan hukum materiil pun tidak hanya dibatasi pada pemahaman sifat dan fungsi dari hukum pidana itu sendiri.
Penggunaan istilah kedua “kepentingan hukum” memiliki perbedaan makna dengan istilah ketiga “kepentingan hukum yang hendak dilindungi pada saat aturan ditetapkan”.
8
Istilah “kepentingan hukum” dijelaskan oleh Schaffmeister dengan menunjuk pada kepentingan umum yang dimaksud oleh pembentuk undang-undang melalui pembentukan norma perilaku menjadi norma hukum. Berdasarkan pemahaman ini maka pemahaman terhadap norma perilaku yang dijadikan dasar atau acuan penilaian perbuatan pidana sangat bergantung pada pemaknaan norma tersebut pada tiap perkembangan masyarakat. Berbeda halnya dengan penggunaan istilah “kepentingan hukum yang hendak dilindungi pada saat aturan ditetapkan” memberikan batasan pemaknaan kepentingan hukum yang ditegaskan dalam norma perilaku yang ditunjuk melalui sebuah penafsiran tekstual undang-undang.
Pemahaman terhadap pemaknaan norma perilaku yang ditetapkan sebagai norma hukum harus didasarkan pada pemahaman tujuan pembentuk undang-undang membuat pengaturan ketentuan hukum pidana tersebut.
Terkait dengan ukuran penilaian terhadap sifat melawan hukum materiil ini perlu dibedakan:
1. Dalam fungsinya yang negatif
Ajaran sifat melawan hukum yang materiil dalam fungsinya yang negatif mengakui kemungkinan adanya hal-hal yang ada diluar undang-undang menghapus sifat melawan hukumya perbuatan yang memenuhi rumusan undang-undang. Jadi hal tersebut sebagai alasan penghapus sifat melawan hukum,
2. Dalam fungsinya yang positif
Pengertian sifat melawan hukum yang materiil dalam fungsinya yang positif menganggap sesuatu perbuatan tetap sebagai satu delik, meskipun tidak nyata diancam dengan pidana dalam undang-undang, apabila bertentangan dengan hukum atau ukuran-ukuran lain yang ada diluar undang-undang. Jadi disini diakui hukum yang tertulis sebagai sumber hukum yang positif.9
Dari pembahasan diatas, dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan antara pandangan material dengan pandangan formal yaitu:
1. Pandangan materiil mengakui adanya pengecualian/penghapusan dari sifat melawan hukumnya perbuatan menurut hukum yang tertulis dan tidak tertulis; sedangkan
9 Sudarto. 2018. Hukum Pidana 1 Edisi Revisi. Semarang: Yayasan Sudarto
9
pandangan yang formil hanya mengakui pengecualian yang tersebut dalam undang-undang saja.
2. Pandangan materiil menganggap sifat melawan hukum adalah unsur mutlak dari tiap perbuatan pidana, juga bagi yang dalam rumusannya tidak menyebutkan unsur-unsur tersebut; sedangkan bagi pandangan yang formil, sifat tersebut tidak selalu menjadi unsur dari perbuatan pidana. Hanya jika dalam rumusan delik disebutkan dengan nyata-nyata, barulah menjadi unsur delik.10
10 Moeljatno, S. H. "Asas-asas Hukum Pidana." Rineka Cipta, Jakarta (2002).
10 BAB III PENUTUP