• Tidak ada hasil yang ditemukan

Akad yang Digunakan dalam Penghimpunan Dana

BAB II TEORI TENTANG STRATEGI PENGHIMPUNAN DANA

2. Akad yang Digunakan dalam Penghimpunan Dana

1) Pengertian

Secara umum wadi’ah adalah titipan murni dari pihak penitip (muwadd’i) yang mempunyai barang/aset kepada pihak penyimpan (mustawda’) yang diberi amanah/kepercayaan, baik individu maupun badan hukum, tempat barang yang dititipkan harus dijaga dari kerusakan, kerugian, keamanan, dan keutuhannya, dan dikembalikan kapan saja penyimpan menghendaki.22

Prinsip wadi’ah yang diterapkan adalah wadi’ah yad dhamanah yang diterapkan pada produk rekeninng giro. Wadi’ah dhamanah berbeda dengan wadi’ah

amanah. Dalam wadi’ah amanah23, pada prinsipnya harta titipan tidak boleh

dimanfaatkan oleh pihak yang dititipkan dengan alasan apapun juga, akan tetapi pihak yang dititipkan boleh mengenakan biaya administrasi kepada pihak yang

20

PINBUK, Peraturan Dasar, h. 15 21

Kerjasama Dewan Syariah Nasional MUI-Bank Indonesia, Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI, Ed. Revisi, Cet. III (Cipayung Ciputat : CV Gaung Persada, 2006) hal. 8, 14

22

Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah,(Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada), 2008, h. 42 23Muhammad Syafi’i Antonio,

Bank Syariah: Teori dan Praktik, Jakarta :Gema InsaniPress, 2001, h. 85

menitipkan sebagai kontraprestasi atas penjagaan barang yang dititipkan. Pada

wadi’ah yad dhamanah24

pihak yang dititipkan (bank) bertanggung jawab atas keutuhan harta titipan sehingga ia boleh memanfaatkan harta titipan tersebut. Dan pihak bank boleh memberikan sedikit keuntungan yang didapat kepada nasabahnya dengan besaran berdasarkan kebijaksanaan pihak bank.25

2) Landasan Hukum

1. Firman Allah (Q:S. Annisa/4: 58)

ٌَاَك ََُّلا ٌَِإ ُِِب ِهُكُظِعَٓ اَنِعِى ََُّلا ٌَِإ ِلِدَعِلاِب اُْنُكِحَت ٌَِأ ِساَيلا ًََِٔب ِهُتِنَكَح اَذِإَّ اٍَََِِّأ ىَلِإ ِتاَىاَمَأِلا اَُّّؤُت ٌَِأ ِهُكُرُمِأَٓ ََُّلا ٌَِإ

اّرِصَب اّعِٔنَس

(

ءاسيلا

/

:

)

“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum diantara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang Memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat”.

2. Hadist

َلاَق ةَرَٓرٍُ ِٕبََأ ًَِع

ُها ىَّص يَيلا َلَاق

َهَّسَّ ََُِّٔع

كَىاَخ ًَِم ًُِدَت َاَّ َكَيَنَتِئا ًَِم ىإ َةَىاَمَأا َِّأ

(

ّّاّ ْبأ ِاّر

)

“Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sampaikanlah (tunaikanlah) amanat kepada yang berhak menerimanya dan jangan

24

Ibid, h.87 25

M. Nur Rianto Al Arif, Dasar-dasar Pemasaran Bank Syariah, (Jakarta: Alfabeta, 2010), h. 36

membakas khianat kepada orang yang telah mengkhianatimu.” (HR. Abu Dawud dan menurut Tirmidzi hadist ini hasan, sedang Imam Hakim mengkategorikan sahih).

b. Mudharabah 1) Pengertian

Secara singkat mudharabah atau penanaman modal adalah penyerahan modal uang kepada orang yang berniaga sehingga ia mendapatkan persentase keuntungan.26

Dalam mengaplikasikan prinsip mudharabah, penyimpan dana atau deposan bertindak sebagai shahibul maal (pemilik modal) dan bank sebagai mudharib

(pengelola). Bank kemudian melakukan penyaluran pembiayaan kepada nasabah peminjam yang membutuhkan dengan menggunakan dana yang diperoleh tersebut baik dalam bentuk murabahah, ijarah, mudharabah, musyarakah atau bentuk lainnya. Hasil usaha ini selanjutnya akan dibagihasilkan kepada nasabah penabung berdasarkan nisbah yang disepakati. Dalam hal ini bank menggunakannya untuk melakukan mudharabah kedua, maka bank bertanggung jawab penuh atas kerugian yang terjadi.27

Berdasarkan kewenangan yang diberika pihak penyimpan dana, prinsip

mudharabah terbagi tiga, yaitu28 :

26

Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada, 2008, h.60 27

Ibid, h. 39 28

1. Investasi Umum (Mudharabah Mutlaqah)

Penerapan mudharabah mutlaqah dapat berupa tabungan dan deposito sehingga terdapat dua jenis penghimpunan dana, yaitu tabungan mudharabah dan deposito

mudharabah. Berdasarkan prinsip ini tidak ada pembatasan bagi bank dalam

menggunakan dana yang dihimpun.

2. Investasi Khusus (Mudharabah Muqayyadah on Balance Sheet)

Jenis mudharabah ini merupakan simpanan khusus dimana pemilik dana dapat menetapkan syarat-syarat tertentu yang harus dipatuhi oleh bank.

3. Investasi Khusus (Mudharabah Muqayyadah off Balance Sheet)

Jenis mudharabah ini merupakan penyaluran dana mudharabah langsung kepada pelaksana usahanya, dimana bank bertindak sebagai perantara (arranger)

yang mempertemukan antara pemilik dana dengan pelaksana usaha. Pemilik dana dapat menetapkan syarat-syarat tertentu yang harus dipatuhi oleh bank dalam mencari usaha yang akan dibiayai dan peaksana usahanya.

2) Landasan Hukum

1. Firman Allah (Q:S. Al-Baqarah/2: 198)

اَنَك ُُِّرُكِذاَّ ِواَرَحِلا ِرَعِشَنِلا َدِيِع ََُّلا اُّرُكِذاَف ٍتاَفَرَع ًِِم ِهُتِضَفَأ اَذِإَف ِهُكِبَر ًِِم اِّّضَف اُْغَتِبَت ٌَِأ ْحاَيُج ِهُكََِّٔع َسَِٔل

َنِلاَضلا ًَِنَل ُِِِّبَق ًِِم ِهُتِيُك ٌِِإَّ ِهُكاَدٍَ

(

ةرقبلا

/

:

)

“Bukanlah suatu dosa bagimu mencari karunia dari Tuhanmu. Maka apabila kamu bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram. Dan

berzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia memberi petunjuk kepadamu, sekalipun

sebelumnya kamu benar-benar termasuk orang yang tidak tahu.”

2.

Hadist

َلاَق هّسّ ُّٔع ها ىّص َِٕبَيلَا ٌََأ ُُيع ُها َِٕضَر ٍبََُِٔص ًَِع

:

ُةَكَرَبِلَا ًََِِٔف ْثاََّث

:

ُطَِّخَّ ،ُةَضَراَقُنِلاَّ ،ٍلَجَأ ىَلِإ ُعَِٔبِلَا

ِتَِٔبِِّل ِرِعَشلاِب ِرُبِلَا

،

ِعَِٔبِِّل اَل

(

َُِجاَم ًُِبِا ُِاََّر

)

“Dari Shalih bin Shuhaib r.a bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tiga hal yang didalamnya terdapat keberkatan: jual beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah,

bukan untuk dijual. (HR. Ibnu Majah, dalam kitab at-Tijarah).”29

Adapun simpanan-simpanan mitra pada BMT dapat berupa simpanan tabungan dan simpanan deposito.

1. Simpanan Tabungan (Saving Deposit) a. Pengertian

Pengertian tabungan menurut Undang-Undang Perbankan nomor 10 tahun 1998 adalah Simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro dan atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu.30

b. Landasan Hukum

29

Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, dalam kitab at Tijarah(Beirut: Darul Kitab Al-Banani), jilid 2, h.768 hadist no. 2289

Landasan hukum yang mengatur pemberlakuan simpanan tabungan di bank syariah adalah fatwa Dewan Syariah Nasional. Berdasarkan fatwa DSN No. 02/DSN- MUI/IV/2000 tentang Tabungan. Tabungan ada dua jenis yaitu tabungan yang tidak dibenarkan secara syariah, yaitu tabungan yang berdasarkan perhitungan bunga. Dan tabungan yang dibenarkan yaitu tabungan yang berdasarkan prinsip wadiah dan mudharabah.31

Akad wadiah pada tabungan disertai dengan kesepakatan bahwa bank syariah dapat mengelola dan menggunakan dana tersebut dan menjamin pembayaran kembali nominal simpanannya. Bank syariah tidak pernah berbagi hasil dengan pemegang dana berakad wadiah. Bank dapat mempergunakan dana tersebut untuk tujuan komersial dan tidak boleh menjanjikan imbalan dengan jumlah teertentu di awal akad. Hanya saja bank boleh memberikan bonus kepada nasabah dengan jumlah yang ditentukan pihak bank, sehingga pada prakteknya besaran bonus yang diberikan tidak sama antara satu bank syariah dengan bank syariah lainnya.32

Pada tabungan dengan akad mudharabah, bank bertindak sebagai mudharib

(pengelola) dan nasabah sebagai shahibul mal (penyandang dana). Dana tabungan akan dirotasi bank dan berpotensi memperoleh keuntungan. Bank dan nasabah melakukan kesepakatan pembagian keuntungan di awal akad, yaitu pada saat nasabah membuka tabungan, yang disebut nisbah bagi hasil.33

31

Dewan Syariah Nasional MUI, Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional, h. 13 32

Wiroso, Penghimpunan Dana dan Distribusi Hasil Usaha Bank Syariah, (Jakarta: PT. Grasindo, 2005), h. 21

33

2. Simpanan Deposito (Time Deposit) a. Pengertian

Pengertian deposito menurut Undang-Undang Perbankan nomor 10 tahun 1998 adalah Simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian nasabah penyimpan dengan bank yang bersangkutan34.

Berbeda dengan tabungan, deposito mengandung unsur jangka waktu (jatuh tempo) yang lebih panjang dan bersifat likuid, sebab penarikan atau pencairan dana hanya dapat dilakukan pada saat jatuh tempo saja. Akan tetapi, dari segi bagi hasil, bagi hasil yang diberikan deposito lebih tinggi disbanding tabungan. Untuk mencairkan deposito, deposan dapat menggunakan bilyet deposito atau sertifikat deposito.

b. Landasan Hukum

Landasan hukum yang mengatur pemberlakuan simpanan tabungan di bank syariah adalah fatwa Dewan Syariah Nasional. Berdasarkan fatwa DSN No. 03/DSN- MUI/IV/2000 tentang deposito. Deposito ada dua jenis yaitu deposito yang tidak dibenarkan secara syariah, yaitu deposito yang berdasarkan perhitungan bunga. Dan deposito yang dibenarkan yaitu deposito yang berdasarkan prinsip mudharabah.35

c. Jenis-jenis Deposito

Dalam prakteknya, paling tidak ada tiga jenis deposito, yaitu deposito berjangka, sertifikat deposito dan deposit on call. Masing-masing jenis deposito

34

UU No 10 tahun 1998, pasal 1 ayat 7 35

memiliki kelebihan tersendiri. Khusus deposito berjangka, diterbitkan pula dalam mata uang asing.36

1) Deposito Berjangka

Deposito berjangka adalah deposito yang diterbitkan dengan jenis jangka waktu tertentu. Jangka waktu deposito berjangka biasanya bervariasi mulai dari 1,3,6,12 bulan. Deposito berjangka diterbitkan atas nama baik perorangan maupun lembaga. Maksudnya di dalam bilyet deposito tercantum nama seseorang atau lembaga pemilik deposito tersebut.

Deposito berjangka yang diterbitkan dalam valuta asing, biasanya diterbitkan oleh bank devisa. Perhitungan, penerbitan, pencairan dan bagi hasil dilakukan dengan kurs devisa umum. Penerbitan deposito berjangka dalam valas yang kuat seperti US Dollar, Yen Jepang, DM Jerman atau mata uang kuat lainnya.37

2) Sertifikat Deposito

Sama halnya dengan deposito berjangka, sertifikat deposito diterbitkan dalam jangka waktu 1,3,6,12 bulan. Hanya perbedaannya sertifikat deposito diterbitkan atas unjuk dalam bentuk sertifikat, sehingga dapat diperjualbelikan dan dipindahkantangankan kepada pihak lain.38 Oleh karena itu, sertifikat deposito merupakan instrument dari pasar uang.

36

Kasmir, Manajemen Perbankan, h. 63 37

Ibid, h.64

38

3) Deposit On Call (DOC)

Deposit On Call merupakan deposito yang diperuntukkan bagi deposan yang

memiliki jumlah uang yang besar dan uang tersebut belum digunakan sementara waktu. Penerbitan DOC berjangka waktu minimal 7 hari dan paling lama 1 bulan. DOC diteerbitkan atas nama.

Pencairan bagi hasil dilakukan pada saat pencairan DOC. Namun sebelum dicairkan, 3 hari sebelumnya deposan harus memberitahukan kepada bank bahwa deposan akan mencairkan DOCnya. Besarnya bagi hasil DOC biasanya dihitung per bulan dan untuk menentukan nisbah bagi hasilnya terlebih dahulu dilakukan negosiasi antara nasabah dengan pihak bank.39

C. BMT (Baitul Mal wat Tamwil)

Dokumen terkait