Prinsip dari persetujuan diri dan celaan diri
1. Pada dua bagian sebelumnya dari buku ini, saya telah mem-pertimbangkan asal-usul dan landasan penilaian kita mengenai sentimen dan perilaku orang lain. Saya sekarang akan membahas asal-usul landasan penilaian khususnya yang berkaitan dengan diri kita sendiri.
2. Prinsip yang secara alami kita setujui ataupun tolak dari perilaku kita sendiri, tampaknya serupa dengan yang kita lakukan pada penilaian kita atas perilaku orang lain. Kita menyetujui atau menolak perilaku orang lain berdasarkan apa yang kita rasa ketika kita membayangkan masalahnya ke diri kita sendiri, kita bisa atau tidak bisa sepenuhnya bersimpati dengan sentimen dan motif yang mengaturnya. Dan, dengan cara yang sama, kita menyetujui atau menolak perilaku kita sendiri, menurut apa yang kita rasakan ketika kita menempatkan diri dalam situasi orang lain, dan melihatnya dengan sudut pandang dan dari posisinya, kita dapat atau tidak dapat sepenuhnya merasakan dan bersimpati dengan sentimen dan motif yang mengaturnya.
Kita tidak pernah bisa meneliti sentimen dan motif kita sendiri. Kita tidak pernah dapat membentuk penilaian apapun tentang mereka kecuali kita seolah-olah menghapus diri kita sendiri dari posisi alami kita sendiri dan berusaha untuk melihat sentimen dan motif kita sendiri pada jarak tertentu dari kita. Tapi kita tidak bisa melakukan hal ini dengan cara lain, selain dengan berusaha untuk melihat masalah ini dari sudut pandang orang lain, atau sebagaimana orang lain cenderung akan melihat mereka.
pasti selalu akan menunjukkan beberapa referensi rahasia yang pasti akan menjadi penilaian orang lain. Kita berusaha meneliti perilaku kita sendiri seperti yang kita bayangkan akan dilakukan oleh setiap pengamat yang adil dan tidak memihak. Jika, setelah menempatkan diri dalam situasinya, kita benar-benar masuk ke dalam semua perasaan dan motif yang mempengaruhi hal itu, kita menyetujuinya dengan rasa simpati dan persetujuan hakim yang adil. Jika sebaliknya, maka kita memasuki penolakannya, dan mengutuknya.
3 Jika dimungkinkan seorang manusia bisa tumbuh dewasa di tempat terasing tanpa komunikasi dengan sesama manusia, maka ia tidak bisa lagi memikirkan mengenai karakter diri sendiri, mengenai kepatutan atau penghinaan atas sentimen dan perilakunya sendiri, mengenai keindahan atau keburukan pada pikirannya sendiri, mengenai keindahan atau keburukan wajahnya sendiri. Semua ini adalah objek yang tidak dapat ia lihat dengan mudah. Objek yang secara alami tidak bisa ia lihat karena ia tidak disediakan cermin di hadapannya. Bawa dia ke masyarakat, dan segera sediakan cermin yang sebelumnya telah ia inginkan.1
Cermin tersebut ditempatkan untuk wajah dan perilaku orang yang sehari-hari tinggal dengannya. Cermin itu akan selalu menandai ketika mereka masuk ke dalam sentimennya dan juga ketika mereka menolak sentimennya. Dari sinilah ia pertama kali akan memandang kepatutan dan ketidakpantasan perasannya, serta keindahan dan keburukan pikirannya sendiri. Bagi seseorang yang sejak lahir asing bagi masyarakat, objek-objek dari perasaannya dan juga badan eksternal, baik yang membuatnya senang ataupun yang menyakitinya, akan menyita seluruh perhatiannya.
Perasaan-perasaan itu sendiri, keinginan atau keengganan,
1 Cf. Hume, Treatise, II.ii.5: ‘pikiran manusia merupakan cermin satu sama lain’.
kegembiraan atau kesedihan, dipicu oleh objek-objek tersebut. Meskipun segala sesuatu itu segera hadir untuknya, namun hal yang paling jarang muncul adalah hal-hal yang bisa menjadi objek-objek pikirannya. Ide mengenai mereka tidak pernah bisa menariknya untuk melakukan pertimbangan yang penuh perhatian. Pertimbangan atas kegembiraannya bisa saja memicu perasaan suka cita yang tidak baru dalam dirinya, sebagaimana kesedihannya bisa memicu rasa sedih baru, meskipun pertim-bangan mengenai penyebab perasaan tersebut mungkin akan memantik perasaan yang kedua. Bawa dia ke masyarakat, dan semua perasaannya akan segera menjadi penyebab timbulnya perasaan baru.
Dia akan melihat bahwa manusia menyetujui beberapa perasaannya, dan muak dengan perasaannya yang lain. Posisinya akan meningkat dalam satu kasus, dan menurun di kasus yang lain. Keinginan dan keengganannya serta suka dan dukanya sekarang akan sering menjadi penyebab keinginan baru dan keengganan baru serta kegembiraan baru dan duka baru. Oleh karena itu, mereka sekarang akan membuatnya sangat tertarik dan akan membuatnya sering mengambil pertimbangan yang paling penuh perhatian.2
2 Dalam edisi pertama, diikuti dengan satu paragraph yang diedisi berikutnya didistribusikan pada tempat lain di bab ini, kecuali bahwa salah satu paragraph tersebut dihilangkan seluruhnya pada edisi keenam. Bunyi dalam versi aslinya seperti ini:
Makhluk moral merupakan makhluk yang bertanggung jawab. Makhluk yang bertanggung jawab, seperti kata-katanya artinya, makhluk yang harus bertanggung jawab memberikan penjelasan terkait tindakannya kepada sesame dan yang lainnya, dan memiliki konsekuensi harus mengatur mereka sesuai dengan keinginan baik yang lainnya. Manusia bertanggung jawab kepada Tuhan dan sesama makhluknya. Namun tidak dapat diragukan lagi, secara prinsip bertanggung jawab kepada Tuhan, dan dalam waktu-waktu tertentu ia juga harus memahami bahwa dirinya juga memiliki pertanggung jawaban kepada sesama makhluk ciptaan-Nya, sebelum ia membentuk gagasan mengenai ketuhanan atau aturan-aturan ilahi yang akan menilai perilakunya.Seorang anak pasti memiliki
4 . Ide pertama kita mengenai keindahan pribadi dan keburukan diiambil dari bentuk dan penampilan orang lain, bukan dari kita sendiri. Kita akan segera sadar bahwa orang lain melatih kritik yang sama pada kita. Kita sangat senang ketika mereka menerima bentuk tubuh kita, dan tersinggung ketika mereka tampaknya jijik olehnya. Kita jadi ingin tahu seberapa jauh penampilan kita layak atas penyalahan atau persetujuan mereka. Kita memeriksa anggota-anggota tubuh kita dengan menempatkan diri kita di depan cermin dan berusaha sebanyak mungkin untuk melihat diri kita sendiri dari kejauhan dan dengan mata orang lain. Jika setelah pemeriksaan ini kita merasa puas dengan penampilan kita sendiri, kita dapat lebih mudah menerima penilaian yang paling buruk dari orang lain. Dan jika, sebaliknya, kita sadar bahwa kita adalah objek-objek alami ketidaksukaan, maka setiap penolakan mereka mempermalukan kita melampaui semua ukuran.
Seseorang yang lumayan tampan akan membiarkanmu menertawakan setiap keanehan kecil pada dirinya. Tapi semua tawa seperti itu umumnya tidak akan diterima oleh orang yang benar-benar cacat. Bagaimanapun, jelas bahwa kita cemas tentang keindahan dan keburukan kita sendiri hanya berdasar pengaruhnya pada orang lain. Jika kita tidak punya hubungan dengan masyarakat, maka kita harus sama sekali acuh tak acuh tentang hal-hal ini.
5. Dengan cara yang sama kritik moral pertama kita dilakukan pada karakter dan perilaku orang lain; dan kita semua sangat berharap untuk mengamati bagaimana masing-masing hal ini mempengaruhi kita. Tapi kita segera mempelajari bahwa orang lain sama-sama jujur atas hal yang berkaitan dengan kita.
Kita jadi ingin tahu seberapa jauh kita pantas menerima penghinaan atau pujian mereka, dan apakah bagi mereka kita muncul sebagai makhluk menyenangkan atau tidak
tanggung jawab terhadap orang tuanya, sebelum pembentukan gagasan mengenai tanggung jawab yang lebih tinggi lagi yaitu terhadap Tuhan.
menyenangkan sebagaimana mereka merepresentasikan kita. Kita mulai memeriksa perasaan dan kelakuan kita sendiri dan juga mulai mempertimbangkan bagaimana semua ini nampak pada mereka dengan mempertimbangkan bagaimana semuanya tadi akan nampak ke kita jika kita berada dalam situasi mereka. Kita menganggap diri kita adalah pengamat perilaku kita sendiri dan berusaha membayangkan apa efeknya yang akan dihasilkan kepada kita. Ini adalah satu-satunya cermin yang bisa kita gunakan, dalam beberapa ukuran, dengan mata orang lain untuk meneliti kepatutan perilaku kita sendiri.
Jika pandangan ini menyenangkan kita, maka kita akan lumayan puas. Kita bisa lebih acuh tak acuh pada pujian dan, dalam beberapa ukuran, membenci kecaman dari dunia; mengamankan diri kita, seberapapun disalahpahami atau disalahartikan, jika seandainya kita adalah objek alami dan tepat atas persetujuan. Sebaliknya, jika kita ragu-ragu tentang itu, kita sering cemas untuk mendapatkan persetujuan mereka, dan, asalkan kita belum melakukannya, sebagaimana mereka katakan, misalkan kita berjabatan tangan dengan keburukan, kita akan sangat terganggu karena memikiran kecaman mereka, yang kemudian menyerang kita dengan kekejaman berlipat ganda.3
6. Ketika saya berusaha untuk memeriksa perilaku saya sendiri, ketika saya berusaha untuk menjatuhkan hukuman atasnya, dan baik untuk menyetujui ataupun mengutuknya, jelas bahwa, dalam semua kasus tersebut, saya membagi diri menjadi dua orang; dan bahwa saya sebagai pemeriksa dan hakim, memeriksa karakter
3 Edisi 1 menambahkan paragrap lebih lanjut:
Sayangnya moral yang rapuh seperti kaca ini tidak selalu menjadi yang paling baik. Yang seperti kaca pada umumnya, dapat dikatakan, sangat licik, dan oleh kilauan yang ia miliki pada wajahnya, ia menyembunyikan cacat yang ia miliki pada tubuhnya. Meskipun di dunia ini tidaklah ada yang halus seperti keriput pada imajinasi setiap manusia, dan berhubungan dengan kecacatan pada karakternya sendiri.
yang berbeda dari saya yang lain, yaitu saya sebagai orang yang perilakunya diperiksa dan diadili. Saya yang pertama adalah pengamat yang sentimennya berkaitan dengan perilaku saya sendiri di mana saya berusaha untuk masuk ke dalamnya dengan menempatkan diri dalam situasi, dan dengan mempertimbangkan bagaimana hal ini nampak pada saya jika dilihat dari sudut pandang tertentu.
Yang kedua adalah pelaku, orang yang saya sebut sebagai diri saya sendiri, dan orang yang melakukan perbuatan yang saya amati dengan sungguh-sungguh untuk membentuk pendapat dengan menggunakan karakter pengamat. Yang pertama adalah hakim; yang kedua adalah orang yang dihakimi. Tapi dalam segala hal, kondisi di mana hakim itu sama dengan orang yang dihakimi adalah kemustahilan, sama mustahilnya ketika penyebabnya harus, dalam segala hal, sama dengan efek yang dihasilkan.
7. Untuk menjadi ramah dan berharga; yaitu, untuk layak mendapatkan cinta dan ganjaran, adalah karakter besar kebajikan; sedangkan menjadi najis dan dihukum adalah karakter besar kejahatan. Tapi semua karakter ini memiliki referensi langsung pada sentimen orang lain.
Kebajikan tidak dikatakan ramah atau juga menjadikan seseorang berharga karena kebajikan adalah objek rasa cinta atau rasa syukur itu sendiri, tetapi karena kebaijkan memantik perasaan serupa pada orang lain. Kesadaran bahwa hal itu adalah objek perhatian yang menguntungkan adalah sumber ketenangan batin dan kepuasan diri dengan secara alami muncul, sebagaimana dugaan sebaliknya yang memberikan kesempatan kepada siksaan kejahatan. Apakah kebahagiaan yang begitu besar untuk dicintai, dan untuk mengetahui bahwa kita pantas untuk dicintai? Apakah penderitaan yang begitu besar untuk dibenci, dan untuk mengetahui bahwa kita pantas untuk dibenci?
BAB II
Tentang kecintaan akan pujian, dan kelayakan atas pujian; dan tentang ketakutan atas penyalahan, dan mengenai
kelayakan atas penyalahan
1. Secara alami, orang ingin tidak hanya dicintai, tetapi juga untuk menjadi menyenangkan; atau menjadi objek yang alami dan tepat dari perasaan cinta. Dia secara alami takut tidak hanya untuk dibenci, tetapi juga penuh kebencian atau menjadi objek yang alami dan tepat dari perasaan benci. Dia tidak hanya menginginkan pujian, tapi juga kelayakan atas pujian; atau menjadi objek yang, meskipun dipuji oleh tak satupun orang, adalah objek alami dan tepat atas pujian. Dia tidak hanya takut penyalahan, tapi kelayakan atas penyalahan; atau menjadi objek yang, meskipun disalahkan oleh tak satupun orang, adalah objek alami dan tepat atas penyalahan.4
2. Cinta pada kelayakan atas pujian ini sama sekali tidak berasal dari cinta pada pujian. Kedua prinsip ini meskipun mirip satu sama lain, meskipun mereka terhubung, dan sering dicampuradukkan satu sama lain, dalam banyak hal, adalah berbeda dan tak terikat satu sama lain.
3. Cinta dan kekaguman yang secara alami kita bayangkan pada mereka yang karakter dan kelakuannya kita setujui, tentu cenderung membuat kita untuk ingin membuat diri kita menjadi objek sentimen menyenangkan seperti itu, dan juga untuk menjadi ramah dan mengagumkan sebagai orang-orang yang paling kita cintai dan kagumi. Emulasi yang merupakan keinginan supaya kita menjadi unggul awalnya didirikan atas kekaguman kita pada keunggulan orang lain. Kita tidak bisa puas karena dikagumi atas apa yang orang juga bisa kagumi pada
orang lain. Kita harus setidaknya percaya diri kita bisa dikagumi karena diri kita mengagumkan. Tapi, untuk mencapai kepuasan ini, kita harus menjadi pengamat pada karakter dan perilaku kita sendiri. Kita harus berusaha untuk melihat karakter dan perilaku kita dengan mata orang lain atau sebagaimana orang lain cenderung melihat mereka. Bila dilihat dalam sudut pandang ini, jika mereka nampak kepada kita seperti yang kita inginkan, maka kita senang dan puas. Tapi akan sangat menegaskan kebahagiaan dan kepuasan ini ketika kita tahu bahwa orang lain juga melihat karakter dan perilaku dengan mata yang kita, dalam imajinasi saja, pinjam untuk melihat mereka, dan melihat mereka secara akurat sesuai dan sama dengan apa yang telah kita lihat.
Persetujuan mereka selalu menegaskan persetujuan kita sendiri. Pujian mereka tentu mengokohkan perasaan kelayakan atas pujian kita sendiri. Dalam hal ini, semakin jauh cinta pada kelayakan atas pujian untuk ditarik dari cinta pada pujian; bahwa cinta pada pujian tampaknya, setidaknya dalam ukuran besar, ditarik dari cinta pada kelayakan atas pujian.
4. Pujian yang paling tulus dapat memberikan sedikit kese-nangan ketika ia tidak dianggap sebagai semacam bukti pada kelayakan atas pujian. Hal ini tidak berarti bahwa harga diri dan kekaguman, dalam beberapa cara atau lainnya, akan dianugerahkan pada kita. Jika kita sadar bahwa kita tidak layak dipikirkan, dan bahwa jika itu adalah kebenaran yang diketahui, kita harus dipandang dengan sentimen yang sangat berbeda, bahwa kepuasan kita masih sangat tidak lengkap.
Orang yang memuji kita, baik untuk tindakan yang tidak kita lakukan, atau untuk motif yang tidak memiliki pengaruh apapun terhadap perbuatan kita, tidak sedang memuji kita, tapi orang lain. Kita tidak dapat memperoleh kepuasan dari pujian tersebut. Bagi kita, hal seperti ini lebih memalukan daripada kecaman apapun, dan hal ini akan terus-menerus menyerukan ke pikiran kita sesuatu yang paling merendahkan dari semua refleksi, refleksi
mengenai apa yang kita seharusnya lakukan, tapi kita tidak lakukan. Seorang wanita yang melukis hanya bisa mendapatkan, bisa dibayangkan, sedikit kesenangan dari pujian akan kehalusan kulitnya.
Kita bisa duga, bahwa pujian ini takkan membuatnya merasakan perasaan yang muncul dari pujian atas kehalusan kulitnya, tapi malah akan membuatnya malu. Senang atas pujian tak berdasar adalah bukti kesembronoan paling dangkal dan kelemahan. Inilah apa yang secara wajar disebut kesombongan, dan merupakan dasar dari sifat buruk yang paling konyol dan hina, keburukan dari kepura-puraan dan kebohongan; kebodohan yang, jika pengalaman tidak mengajarkan kita bagaimana umumnya mereka, seseorang harus membayangkan setidaknya percikan akal sehat untuk menyelamatkan kita darinya.
Pembohong bodoh yang berupaya untuk memantik keka-guman orang-orang di sekitar dengan petualangan yang tidak ia lakukan; sang pesolek penting, yang memberi dirinya sendiri perilaku orang berderajat dan terhormat yang ia sadari bahwa ia tidak memilikinya selain hanya kepura-puraan belaka. Dua orang ini, tidak diragukan lagi, senang dengan pujian yang mereka harapkan. Tapi kesombongan mereka muncul dari begitu kotornya ilusi imajinasi mereka, bahwa sulit untuk membayangkan bagaimana makhluk rasional dihadapkan pada mereka.
Ketika mereka menempatkan diri mereka dalam situasi orang yang mereka menurut mereka telah tertipu, mereka merasa dihantam dengan kekaguman tertinggi pada diri mereka sendiri. Mereka memandang diri mereka sendiri, tidak menggunakan sudut pandang di mana mereka sebaiknya terlihat bagi sahabat mereka, tetapi dalam sudut pandang di mana mereka percaya teman mereka akan benar-benar memandang mereka. Kelemahan dan kebodohan dangkal mereka ini menghalangi mereka sendiri untuk melihat ke diri mereka sendiri, atau untuk melihat diri mereka dari sudut pandang tercela yang hati nurani mereka
sendiri pasti memberitahu mereka bagaimana mereka terlihat bagi setiap orang, jika kebenaran sejati memang perlu diketahui. 5. Karena pujian bodoh dan tak berdasar tidak dapat mem-berikan suka cita yang sebenarnya, maka tidak ada rasa kepuasan yang akan membuat kita melakukan pengamatan serius. Sebaliknya, pujian seperti itu sering memberikan kenyamanan nyata untuk merefleksikan bahwa meskipun tidak ada pujian yang harus benar-benar diberikan pada kita, namun perilaku kita nampaknya layak untuk mendapatkannya, dan telah dalam segala hal sesuai dengan langkah-langkah dan aturan di mana pujian dan persetujuan secara alami biasa diberikan. Kita sangat senang tidak hanya dengan pujian tetapi juga karena telah melakukan sesuatu yang layak atas pujian.
Kita sangat senang berpikir bahwa kita telah membuat diri kita sendiri menadi objek alami dari persetujuan, meskipun tidak ada persetujuan yang benar-benar perlu diberikan kepada kita. Dan kita merasa malu untuk merefleksikan bahwa kita secara adil layak mendapat penyalahan dari orang-orang yang hidup dengan kita meskipun sentimen ini seharusnya tidak pernah benar-benar diarahkan pada kita.
Orang yang menyadari bahwa dirinya sendiri telah menga-mati nilai-nilai perilaku yang menurut pengalamannya cenderung menyenangkan, akan merefleksikannya pada kepatutan perila-kunya sendiri. Ketika ia memandang hal itu dari sudut pandang yang sama dengan pangamat yang adil, ia benar-benar masuk ke dalam semua motif yang mempengaruhi hal itu. Dia melihat kembali pada setiap bagian dari itu dengan rasa senang dan persetujuan, dan meskipun manusia lain tidak boleh mengetahui apa yang telah ia lakukan, ia akan menganggap dirinya sendiri tidak begitu sesuai dengan sudut pandang yang mereka gunakan untuk melihatnya, tapi sesuai dengan sudut pandang yang akan mereka gunakan padanya jika mereka memiliki cukup informasi tentangnya. Dia mengantisipasi tepuk tangan dan kekaguman
yang dalam hal ini akan diberikan kepadanya, dan dia memuji dan mengagumi dirinya sendiri menggunakan simpati dan dengan sentimen, yang memang tidak benar-benar terjadi, tapi keacuhan masyarakat membuat mereka tidak menyadarinya, yang ia ketahui adalah efek alami dan normal dari perilaku tersebut, yang imajinasinya sangat berhubungan dengan hal itu, dan ia telah memperoleh kebiasaan untuk membayangkan sesuatu yang secara alami dan menurut kepatutan pasti mengikuti dari situ. Orang yang secara sukarela membuang hidup mereka sekarang untuk memperoleh kehidupan setelah mati akan memperoleh suatu keadaan yang tidak bisa mereka nikmati lagi. Imajinasi mereka saat ini mengantisipasi ketenaran yang akan diberikan pada mereka di masa yang akan datang.
Tepuk tangan yang tidak pernah mereka dengar bergema pada telinga mereka serta pikiran akan kekaguman yang efeknya tidak tidak pernah mereka rasakan, mempermainkan hati mereka, semua ketakutan alami yang dibuang dari kalbu mereka dan digunakan untuk melakukan tindakan yang tampaknya hampir di luar jangkauan manusia. Tapi pada kenyataannya, tidak ada perbedaan besar antara persetujuan yang tidak akan diberikan sampai kita tidak bisa lagi menikmatinya, dan persetujuan yang memang tidak diberikan, tetapi yang akan diberikan, jika dunia sudah bisa memahami situasi nyata perilaku kita. Jika seseorang sering menghasilkan efek kekerasan seperti itu, kita tidak bisa bertanya-tanya mengapa orang lain harus selalu sangat dihargai. 6. Ketika Alam menciptakan manusia bagi masyarakat, Ia memberkahi manusia tersebut dengan keinginan asli untuk me-nyenangkan berikut keengganan asli untuk menyinggung saudara-saudaranya. Alam mengajarkannya untuk merasakan kesenangan atas perbuatan menyenangkan yang ia lakukan serta rasa sakit atas perbuatan tidak menyenangkan yang mereka lakukan. Dia menjadikan persetujuan mereka menjadi hal yang paling bagus dan paling menyenangkan baginya demi kepentingan ia sendiri;
dan sebaliknya, celaan mereka adlah hal yang paling memalukan dan paling ofensif.5
7. Tapi keinginan atas persetujuan dan keengganan atas celaan saudara-saudaranya ini bukan satu-satunya hal yang membuatnya cocok dengan masyarakat di mana ia berada. Alam telah mengaruniainya tidak hanya dengan keinginan untuk disetujui tetapi juga dengan keinginan untuk menjadi apa yang disetujui; atau menjadi sesuatu yang dia sendiri akan setujui pada orang