• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. PERANAN DAN KEDUDUKAN ANAK

2. Akses Terhadap Sumber Daya

Oey-Gardiner (1989) dalam Ihromi mengetakan secara umum perempuan Indonesia tidak tergantung secara ekonomi pada laki-laki. Hal ini tidak berarti bahwa mereka diperlakukan dengan sama dengan laki- laki. Perbedaan dalam hak, kewajiban, dan kegiatan antara laki-laki dan perempuan ditemukan di berbagai bidang. Misalnya dalam UUD 45 pasal 31 ayat 1 dinyatakan bahwa “Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran”. Meskipun pernyataan itu mengandung arti baik laki-laki maupun perempuan masing-masing mempunyai hak yang sama dalam mengecap pendidikan formal, namun dalam kenyataannya masih ada anggapan yang menghambat perempuan untuk mengikuti pendidikan formal (1995:227).

Pandangan gender ternyata bisa menimbulkan subordinasi terhadap perempuan. anggapan bahwa perempuan itu irrasional atau emosional sehingga perempuan tidak bisa tampil memimpin, berakibat munculnya sikap yang menetapkan perempuan pada posisi yang tidak penting. Subordimasi karena gender tersebut terjadi dalam segala macam bentuk yang berbeda dari tempat ke tempat dan dari waktu ke waktu. Di Jawa, dulu ada anggapan bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi- tinggi, toh akhirnya akan ke dapur juga. Bahkan, pemerintah pernah memiliki peraturan bahwa jika suami akan pergi belajar (jauh dari keluarga) dia bisa mengambil keputusan sendiri. Sedangkan bagi istri yang hendak tugas belajar ke luar negeri harus seizin suami. Dalam rumah tangga masih sering terdengar jika keuangan keluarga sangat terbatas, dan harus mengambil keputusan untuk menyekolahkan anak- anaknya maka anak laki-laki akan mendapat prioritas utama (Fakih, 1996:15-16).

Pendidikan merupakan hal sangat penting bagi setiap individu, jika seseorang tidak memiliki maka ia akan dikatakan orang yang ketinggalan, pemikirannya ketinggalan jaman, kolot. Mengingat pendidikan sangat penting bagi setiap orang maka, masyarakat di desa Lingga khususnya orangtua selalu berusaha untuk menyekolahkan anak-anak sampai setinggi mungkin, namun walaupun demikian masih ada juga anak yang kita temui yang tidak sekolah, dengan berbagai macam alasan yaitu karena keadaan ekonomi, karena anak tersebut tidak mau atau malas sekolah dan lain sebagainya.

Masyarakat desa Lingga dapat dikatakan masyarakat yang mengutamakan nama baik keluarga oleh karena itu masyarakat desa Lingga ini selalu mengutamakan pendidikan. Karena masyarakat desa Lingga menganggap dengan menyekolahkan anaknya setinggi-tinggi mungkin akan dapat mengangkat martabat mereka baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat, oleh karena itu orangtua akan selalu mengusahakan bagaimana caranya anak sekolah setinggi mungkin.

Bagi orangtua yang ada di desa Lingga, selalu memberikan kesempatan yang sama untuk merasakan pendidikan baik itu kesempatan untuk anak perempuan maupun kesempatan untuk anak laki-laki. Tergantung dari kemauan dan kemapuan anak, jika anak perempuan mempunyai kemauan dan kemampuan yang lebih tinggi daripada anak laki-laki maka yang akan disekolahkan adalan anak perempuan. Begitu juga kalau anak laki-laki juga mempunyai kemampuan dan kemauan maka anak laki-laki juga akan disekolahkan. Seperti yang dituturkan (bapak Rudi Purba: 40 tahun) “ siapai singgit sekolah, e sisekolahken, sisuruh gia kari anak dilaki sekolah tapi latena sekolah padin kapna ngasuhi lembu asangken sekolah me padin pengadi timbang paksa gia kari muat keringnang sen. Padin turangne sekolahken adi turangne tutus tena sekolah. Pokokna siapai singgit sekolah e sekolahken adi duana tena sekolah, sekolahken dua-duana” (yang mana mau sekolah itu yang disekolahkan, disuruhpun nanti anak laki-laki sekolah tapi tidak mau dia sekolah lebih baik rasanya mengasuhi lembu daripada sekolah kan lebih baik diberhentikan ketimbang dipaksapun nanti membuat habis uang.

Mending saudara perempuannya yang disekolahkan kalau saudara perempuannya serius sekolah. Yang pasti siapa yang mau sekolah itu yang disekolahkan kalau dua-dua mau sekolah, ya disekolahkan dua- duanya).

Bila dibandingkan masyarakat desa Lingga yang sekarang dengan masyarakat desa Lingga yang pada jaman dulu sangat berbeda di mana masyarakat desa Lingga jaman dulu lebih mengutamakan pendidikan untuk anak laki-laki daripada anak perempuan karena menurut masyarakat desa Lingga jaman dulu hanya anak laki-lakilah yang dapat mengangkat martabat keluarga baik di tengah-tengah keluarga maupun pada masyarakat. Selain itu anak laki-laki dianggap penurus marga dari ayahnya, oleh karena itu jaman dulu banyak anak perempuan yang tidak merasakan pendidikan walaupun sebenarnya ia mempunyai kemauan dan kemampuan yang sama dengan saudara laki-lakinya. Memang pada saat sekarang masih ada juga yang kita temui anak perempuan yang berhenti sekolah untuk meringankan beban orangtuanya karena alasan ekonomi yang rendah, namun jumlah anak perempuan yang tidak sekolah ini jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Lain halnya dengan anak laki-laki malah yang banyak tidak sekolah adalah anak laki-laki hal ini disebabkan sebagian karena ekonomi tapi yang lebih berpengaruh karena anak laki- laki lebih malas dan bandel dibandingkan dengan anak perempuan. Oleh sebab itu orangtua pada umumnya pada masyarakat desa Lingga pada saat sekarang melihat kemampuan dan kemauan anak bukan lagi melihat

siapa yang mengangkat martabat orangtua dalam keluarga dan masyarakat.

Jumlah pendidikan yang diterima anak perempuan berbeda dari satu negeri dengan yang lainnya. Di Afrika sub-Sahara, 93 persen anak laki-laki terdaftar di tingkat sekolah dasar, tetapi anak perempuannya hanya 77 persen. Ini sangat berbeda dengan Amerika Latin dan Karibia di mana hampir semua anak perempuan terdaftar di sekolah dasar. Pada tingkat sekolah menengah, hanya 22 persen anak perempuan yang menerima pendidikan menengah di Afrika sub-Sahara, perbandingannya 36 persen anak laki-laki. Tetapi berlawanan dengan ini, di Amerika Latin dan Karibia anak perempuan agak lebih banyak mendapatkan pendidikan menengah dibandingkan anak laki-laki 53 persen hingga 51 persen. Angka-angka di sebagian besar Asia Selatan mencerminkan pola serupa dengan angka-angka di Afrika sub-Sahara. Dengan pengecualian Amerika Latin dan Karibia, anak-anak perempuan di dunia mungkin lebih sedikit mendapatkan pendidikan dibandingkan saudara laki-lakinya. Oleh karena itu, tidaklah mengejutkan jika dua pertiga penduduk dunia yang buta huruf adalah perempuan (Mosse, 1992:101).

Pada masyarakat Lampung, Kecamatan Padang Ratu, merupakan campuran masyarakat asli dan pendatang dari Jawa. Di sini digambarkan, laki-laki mendapatkan kesempatan pendidikan lebih tinggi daripada perempuan, mempunyai hak untuk menceraikan istri atau tidak sebaliknya. Keputusan tentang kehidupan (pengolahan tanah, penentuan

jenis tanaman, dan sebagainya) ada di tangan laki-laki (Murniati, 2004:89).

Pada suatu ketika kaum perempuan dihadapkan kepada dua alternatif yaitu: menghabiskan waktu mereka untuk merenda, memasak, belajar menari dan kegiatan kesenian lainnya, menjadi buruh kasar, ataupun mereka berjuang untuk hak-hak asasinya untuk mendapatkan pendidikan tinggi menurut ilmu di perguruan tinggi atau universitas. Semenjak adanya revolusi industri persentase perempuan yang memasuki sekolah perguruan tinggi bertambah meningkat jumlahnya, akibatnya mereka lebih terbuka matanya yang sebelumnya itu dirasakan serba gelap adanya. Mereka bertambah mengerti kan dirinya, mengerti dan menyadari bahwa mereka pun mampu dan dapat berbuat seperti apa yang dikerjakan oleh laki-laki. Hal ini terbukti dari banyaknya kaum perempuan dewasa ini yang telah berhasil menduduki jabatan-jabatan tinggi, apakah ia hakim, jaksa, pengacara, dokter, insinyur ataupun arsitek, guru besar, sosiolog, psikiater, artis demikian pula anggota angkatan bersenjata, dan lain-lain (Notopuro, 1983:37-53).

Semakin tinggi tingkat pendidikan, sedikit proporsi anak perempuan bersekolah dibanding anak laki-laki. Ada tiga alasan yang dapat menjelaskan gejala ini. Pertama, semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin terbatas jumlah sekolah yang tersedia. Karena SD terdapat di hampir semua desa di Indonesia, maka seorang murid SD tidak perlu keluar desa untuk pergi ke sekolah. Tetapi seorang murid harus menempuh perjalanan yang lebih jauh bila ia bersekolah di SLTP, karena

SLTP umumnya masih terkonsentrasi di kota. Masih banyak orangtua yang enggan bila anak perempuan mereka pergi ke sekolah yang jauh. Kedua, semakin tinggi tingkat pendidikan semakin mahal biaya untuk bersekolah. Di keluarga miskin, orangtua lebih memilih untuk menyekolahkan anak laki-laki daripada anak perempuan. Ketiga, keinginan orangtua untuk menyekolahkan anak perempuan berkaitan dengan keinginan untuk memperbaiki hidup mereka dengan mendapatkan suami untuk anak perempuan mereka yang berpendidikan juga. Tetapi seringkali orangtua tidak bisa melakukan investasi dalam pendidikan anak perempuan mereka karena tenaga anak perempuan dibutuhkan di rumah. Investasi dalam pendidikan juga seringkali tidak dapat mereka rasakan karena anak perempuan menjadi anggota keluarga suami setelah mereka menikah (Ihromi, 1995:230-231).

2.2. Harta Warisan

Di banyak masyarakat, kekayaan diwariskan melalui garis patrilineal, tetapi tidak demikian di sebagian kecil masyarakat di mana pewarisan mengikuti garis matrilineal (seperti masyarakat Asante di Ghana, dam masyarakat Rembau di Malaysia), kontrol atas kekayaan dan tanah cenderung tetap berada di tangan laki-laki atau anak laki-laki, perbedaannya adalah bahwa dalam sistem matrilineal laki-laki adalah paman dari garis ibu, saudara laki-laki dan anak laki-laki dari perempuan. Di banyak negara Afrika Sub-Sahara: di Peru, Bolivia dan Paraguay: dan di negara-negara Islam, perempuan tidak memiliki hak-hak waris yang

sama dengan laki-laki. Menurut hukum Islam, waris yang diterima seorang anak perempuan dibatasi setengah dari yang diterima oleh anak laki-laki (karena anak perempuan diharapkan menikah dan kebutuhannya dipenuhi oleh suaminya, berarti membiarkan mereka tetap tergantung kepada laki- laki). Di Afrika Sub-Sahara, hukum adat melakukan diskriminasi terhadap perempuan, hak tanah sering berpindah kepada laki-laki (Mosse, 1996:72- 73).

Di beberapa daerah, kebanyakan adalah daerah yang mempunyai hukum parental, walaupun hal ini tidak selalu berlaku, terdapat aturan bahwa anak perempuan dan anak laki-laki mendapat bagian warisan yang sama. Demikianlah di Temiang (Aceh), bagian anak laki-laki dan perempuan sama, sedangkan di bagian lain di Aceh berlaku dalam garis besarnya hukum Islam. Di beberapa daerah Minahasa terdapat penyimpangan dari aturan biasa. Bahwa di daerah ini anak-anak perempuan mendapat bagian yang lebih kecil. Begitu pula beberapa bagian pulau Jawa, misalnya di Banyuwangi menurut peribahasa “anak lanang mikul, anak wadon nyunggi” (seorang anak laki-laki memikul, seorang anak perempuan menjungjung), dengan perkataan lain bahwa tanggungan seorang anak laki-laki adalah lebih berat dari pada tanggungan seorang anak perempuan, sehingga seyogyanyalah bahwa ia memperoleh lebih banyak.

Menurut suatu pemberitahuan asisten-residen wilayah Timor dalam Adatrechtbundel XXIX, halaman 273, maka anak perempuan ikut mewarisi barang bergerak dan barang tak bergerak yang diperoleh semasa hidup,

walaupun bagian anak perempuan kurang dari pada bagian anak laki-laki. Demikianlah misalnya keadaan di Nias, anak-anak perempuan di sana mempunyai hak atas barang milik ibu, terutama pakaian dan perhiasan dan di beberapa temapat pula ayam. Demikianlah keadaannya di daerah Gayo, anak-anak perempuan baru mendapat bagian yang penting dari harta bapaknya, bila mereka tidak mempunyai saudara laki-laki dan kawin dengan orang luar daerah dengan perkawia “angkap”. Yang dimaksudkan di sini ialah “angkap ayah” yang berlainan dengan “angkap janji”, karena perkawinan “angkap janji” hanya diadakan dengan orang Gayo yang belum dapat mengumpulkan emas kawin (“onjok”) dengan lengkap (Ihromi, 1994:231-244).

Setiap orangtua selalu ingin mengumpulkan hatra sebanyak- banyaknya untuk dapat ia wariskan kepada anak-anaknya atau bahkan untuk cucunya, terlebih lagi orangtua pada masyarakat Karo desa Lingga mereka merasa jika mereka mempunyai harta atau tanah yang luas maka harga diri mereka terangkat atau mereka merasa prestise mereka di tengah-tengah keluarga dan masyarakat terangkat. Oleh karena itu setiap orangtua selalu gigih untuk mencari uang dan menambah atau memperluas tanah mereka dan setelah mereka tua, harta mereka akan diwariskan kepada anak-anaknya terutama kepada anak laki-laki, jikalaupun anak perempuan dapat hanya bersifat pemberian dari saudara laki-lakinya seperti yang dituturkan informan saya (Rudi Purba: 40 tahun) “adi herta warisen man anak dilaki kin. Soalna, adi anak sidiberu enca erjabu me ikut dilakina, ia kerajangenna sibagin dilakina kalah, lang gia

adi anak dilaki, bicara orang tua sakit anak dilaki sinanggung jawapisa aminna gia usuren nge anak sidiberu kari njagaisa orangtua i rumah sakit soalna adi anak dilaki me sibuk erdahin tapi adi masalah biaya pertambar eanak dilaki si ngusahakenca bicara anak diberu ngurupi tena paling- paling siberekenna penukur gulen kai kari merhat orangtua, enca adi lit utang orang tua ibebanken man anak dilaki, anak dilakilah singgalarisa, emaka herta e iserahken man anak dilaki, situhu tergantung orang tuana nge, tapi buen nge simerekenca man anak dilaki, adi anak diberu bicara dat pe, perban mekuah te turangna, bekenna sepertelu herta warisen ndai” (kalau harta warisan diserahkan kepada anak laki-laki. Karena, kalau anak perempuan sudah menikah dia ikut suaminya dan bagian dia milik suaminya. Lagian anak laki-laki kalau orang tua sakit menjadi tanggung jawabnya walaupun lebih sering anak perempuan yang menjagai dan merawat orangtua di rumah sakit karena anak laki-laki sibuk bekerja tapi masalah biaya pengobatan anak laki-laki yang mengusahakannya kalaupun anak perempuan mau membantu paling-paling yang diberikanya uang untuk membeli sayur atau makanan apa yang diinginkan orang tua, terus kalau orang tua juga punya utang dibebankan kepada anak laki-laki atau yang membayar anak laki-laki. Sebenarnya tergantung kepada orang tuanya, tetapi kebanyakan orang tua memberikan kepada anak laki- laki. Kalau anak perempuan dapat, karena saudara laki-lakinya merasa kasihan, maka dikasilah sepertiga dari harta warisannya).

Secara mendasar dapat dikatakan bahwa pada masyarakat Karo desa Lingga pemberian harta warisan diberikan berdasarkan garis

keturunan Patrilineal, di mana berdasarkan garis keturunan ayah, oleh sebab itu semua harta warisan diberikan kepada anak laki-laki, karena anak laki-lakilah kelak yang menggantikan posisi ayahnya dalam keluarga atau dapat dikatakan anak laki-laki adalah penerus marga ayahnya jika ayahnya nanti sudah meninggal. Anak perempuan jikalaupun dapat hanya bersifat pemberian dari saudara laki-lakinya, namun jika seperti pakaian, perhiasan, perkakas dapur dari orang tua selalu diberikan sebagian kepada anak perempuan atau dapat dibilang dibagi dua (sama rata antara anak laki-laki dan anak perempuan).

Namun pada saat ini sudah banyak kita jumpai bahwa pada masyarakat Karo sering terjadi pertengkaran antara anak laki-laki dan anak perempuan karena terjadi pembagian harta warisan yang tidak seimbang antara anak perempuan dan anak laki-laki, namun karena pembagian harta warisan ini merupakan keputusan orang tua maka anak perempuan tidak dapat berbuat apa-apa, yang dilakukannya hanyalah tidak mau lagi dekat atau tidak lagi mau berbicara (tidak kompak lagi) dengan saudara laki-lakinya dalam beberapa waktu bisa 4 (empat) tahun sampai 5 (lima) tahun. Walaupun nantinya sudah baikan ia tidak akan sekompak dulu lagi dengan saudara laki-lakinya (nemjaga jarak), begitu juga sebaliknya dengan saudara laki-lakinya karena merasa kesal dengan sikap saudara perempuannya, ia juga menjaga jarak dengan saudara perempuannya.

2.3. Ekonomi

Masalah yang dihadapi oleh tenaga kerja perempuan pedesaan di Indonesia seperti halnya di negara-negara yang sedang berkembang lainnya merupakan masalah yang kompleks. Hal ini disebabkan karena masalah itu mengandung banyak muatan kultural, serta menyangkut masalah dasar yakni harkat dari perempuan itu sendiri dan bukan hanya sekedar memberi kesempatan bekerja bagi perempuan. Berbeda dengan seorang laki-laki yang mencari pekerjaan yang dapat mencari dan mengambil pekerjaan secara bebas maka tidak demikian halnya perempuan pedesaan di Indonesia. Mereka dalam mencari dan menemukan pekerjaan tidak sebebas seperti halnya dengan kaum laki- laki, ada pembatasan kultural yang membatasi kaum perempuan pedesaan. Keadaannya menjadi lebih kompleks disebabkan karena hambatan lain yakni rendahnya keterampilan mereka yang pada hakikatnya merupakan akibat dari persepsi kultural masyarakat tehadap perempuan.

Pembatasan kebudayaan yang masih kuat adalah pendapat masyarakat agar perempuan dalam mencari dan memilih pekerjaan tidak melanggar kodrat mereka sebagai perempuan. Pembatas kebudayaan lain adalah persepsi bahwa perempuan dan laki-laki itu memiliki kemampuan yang berbeda, perempuan masih dianggap mempunyai kemampuan fisik maupun intelektual yang lebih rendah daripada laki-laki (Soetrisno, 1997:105).

Setiap orang tua selalu menginginkan anak-anaknya sukses baik dalam pendidikan maupun dalam pekerjaan, begitu juga orang tua yang ada pada masyarakat Karo desa Lingga mereka selalu menginginkan anak-anaknya sukses dalam pendidikan dan pekerjaan. Setiap orang tua yang anaknya pergi merantau ke luar kota dan sukses di tanah perantauan selalu bangga dan mersa harga dirinya telah naik di tengah- tengah masyarakat dan keluarga. Apa lagi yang pergi merantau itu adalah anak laki-laki.

Setiap orang tua pada masyarakat desa Lingga selalu memberikan kesempatan kepada anak-anaknya untuk pergi merantau ke luar kota seperti ke Jakarta, Bandung, Lampung, Batam, Medan dan lain-lain, terutama anak laki-laki. Di desa Lingga anak laki-laki selalu di berikan kesempatan pergi merantau ke luar kota untuk memperbaiki keadaan ekonomi keluarga. Namun kesempatan yang dialami anak perempuan untuk pergi merantau ke luar kota tidak seperti kesempatan yang diberikan orang tua kepada anak laki-laki, karena orang tua pada umumnya khususnya para ibu merasa tidak tenang kalau anak perempuannya pergi merantau ke luar kota dengan alasan siapa yang memperhatikan dan menjaga anaknya nanti di daerah perantauan.

Seperti yang dituturkan informan saya (Setiawan br Tarigan: 42 tahun) “padin kami kujuma jenda asangken lawes ia ku Batam, jah kari lenga kabo tentu datna dahin sisikap, lang gia lalit jah ise pe tandai bicara ugaga ia jah lalit simetehsa janah lalit singidahsa, jenda gia bicara kujuma pe kami man kang kami lang gia anak diberu la bagi anak dilaki banci

jagana dirina teh lenga gia datna dahinna sitetap ia banci jadi buruh kasar adi anak diberu me la ngasup” (lebih baik kami ke ladang di sini daripada pergi dia ke Batam, disana nani belum tentu dapat kerjaan yang baik, lagian tidak ada disana saudara seandainya dia kenapa-napa dia di sana tidak ada orang yang tahu, tidak ada prang yang melihat, di sinipun kalau kami ke ladang makannya kam lagian anak perempuan tidak sama dengan anak laki-laki yang bisa menjaga dirinya sendiri kalau belum dia dapat pekerjaan yang tetap dia bisa jadi buruh kasar atau buruh bangunan kalau anak perempuana kan tidak sanggup). Anak perempuan di desa Lingga jarang yang ada pergi merantau ke luar kota kalaupun ada hanya satu dua orang saja hal ini disebabkan karena kesempatan yang diberikan orang tua tidak sama dengan kesempatan yang diberikan orang tua terhadap anak laki-laki, selain itu pengetahuan mereka yang sangat terbatas yang hanya tamatan SMA sederajat, kebanyakan anak perempuan di desa Lingga kesempatannya dalam ekonomi hanya dalam bidang pertanian dan perdagangan ini dapat dilihat dari banyaknya anak perempuan dan para ibu yang pergi ke ladang pada pagi hari, kalaupun ada yang tidak pergi ke ladang mereka itu berprofesi sebagai pedagang sayur-sayuran di pajak Kaban jahe.

Anak laki-laki pada masyarakat desa Lingga selalu diberi kebebasan jika mau pergi merantau keluar kota, orang tua pada masyarakat desa Lingga jika anak laki-lakinya pergi merantau tidak seresah (serisau) anak perempuan pergi merantau, karena menurut orang tua di desa Lingga anak laki-laki dapat menjaga diri dan sanggup kerja

kasar atau sebagai buruh jika belum mendapat pekerjaan yang menetap, bagi anak laki-laki yang tidak merantau ke luar kota biasanya bekerja ke ladang juga dan ada sebagian yang bekerja sebagai supir, pembuat keranjang dan lain-lain. Namun secara keseluruhan yang sibuk bekerja di ladang adalah anak perempuan dan para ibu, biasanya anak laki-laki dan para ayah pergi ke ladang setelah siang hari dan pada pagi hari mereka berada di kedai kopi untuk membaca koran atau bermain catur.

B. Pengaruh Anak Terhadap Kebudayaan

Pada bab sebelumnya telah kita singgung bahwa anak sangat penting dalam keluarga, keluarga akan terasa kurang lengkap bila tidak terdengar suara tawa dan tangis dari seorang anak di tengah-tengah keluarga tersebut. Begitu pentingnya anak bagi suatu keluarga maka akan

Dokumen terkait