• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. KONDISI UMUM

4.2. Taman Kyai Langgeng

4.2.3. Aspek Wisata

5.1.2.3. Aksesibilitas dan Sirkulasi

Kebun Anggrek dapat diakses dengan mudah walaupun letaknya berada di sisi belakang atau sebelah barat laut TKL. Jarak yang harus ditempuh untuk mencapai Kebun Anggrek cukup jauh dari gerbang yakni sekitar 500 m. Kondisi topografi jalan yang bergelombang menambah kesan jauh tersebut.

Di sebelah barat Kebun Anggrek terdapat akses dari Desa Buku berupa jalan yang ditutupi oleh perkerasan berupa plester dari semen yang mulai berlumut. Hal ini membahayakan karena jalan menjadi licin jika turun hujan. Akses masuk utama Kebun Anggrek berupa jembatan yang menghubungkan Kebun Anggrek dengan areal TKL lainnya yang terpisah oleh Kali Bangkong. Jembatan ini terletak di sisi selatan Kebun Anggrek, berdekatan dengan Bumi Perkemahan. Setelah melintasi jembatan, untuk mencapai ke dalam kawasan Kebun Anggrek terdapat akses berupa jalan yang ditutupi oleh conblock. Jalan ini dapat dilewati oleh kendaraan bermotor roda dua maupun empat milik pengelola. Saat ini kondisi jalan tersebut cukup baik meskipun di sela-sela conblock ditumbuhi oleh rumput liar. Kondisi jalan akses menuju Kebun Anggrek dapat dilihat pada Gambar 19.

Gambar 19 Kondisi jalan akses menuju Kebun Anggrek

Jembatan menuju Kebun Anggrek Akses utama menuju Kebun Anggrek Akses dari desa buku Akses Kebun Anggrek dari barat

Dalam area Kebun Anggrek, terdapat jalur sirkulasi yang menghubungkan pintu gerbang dan rumah kaca maupun rumah pengelola berupa tangga. Adanya tangga ini dikarenakan beda ketinggian sebesar 2 m antara letak pintu gerbang dengan rumah kaca dan pengelola. Terdapat pula akses antar rumah kaca berupa jalan bersemen yang saat ini kondisinya mulai ditumbuhi rumput liar di sisi sampingnya.

Di sebelah selatan rumah kaca, tepatnya di area yang dipenuhi oleh pohon jati terdapat akses menuju Sungai Progo. Akses ini tidak mudah dilalui karena kondisi jalur sirkulasi di dalamnya belum memberikan keamanan dan kenyamanan bagi pengguna. Sirkulasi hanya berupa jalan setapak hasil bukaan dari semak yang tumbuh di sela-sela pohon jati sehingga orang yang melintasinya mengalami kesulitan dengan semak yang masih melintang dan menghalangi orang untuk melangkah. Kondisi jalur sirkulasi di dalam Kebun Anggrek dapat dilihat pada Gambar 20.

Gambar 20 Kondisi jalur sirkulasi di dalam Kebun Anggrek

Sirkulasi berupa jalan setapak hasil bukaan dari semak yang tumbuh di sela- sela pohon jati ini memungkinkan pengunjung dapat mengakses Sungai Progo dari dalam Kebun Anggrek padahal keberadaan Sungai Progo dapat membahayakan bila sungai sedang mengalir deras. Bahaya yang ditimbulkan

berupa kemungkinan pengunjung terseret ke dalam aliran sungai mengingat antara Kebun Anggrek dengan Sungai Progo tidak dibatasi oleh pengaman berupa pagar maupun vegetasi. Hal ini memungkinkan pengunjung Kebun Anggrek memiliki kesempatan mengakses Sungai Progo dengan bebas. Untuk itu perlu pembatas antara Kebun Anggrek dan Sungai Progo untuk membatasi pengunjung mengakses Sungai Progo secara bebas. Pembatasnya dapat berupa vegetasi yang ditanam rapat. Vegetasi yang dipilih berupa semak agar pemandangan Sungai Progo masih bisa terlihat dari dalam Kebun Anggrek. Kondisi akses dan sirkulasi Kebun Anggrek saat ini secara keseluruhan dapat dilihat pada Gambar 21.

5.1.2.4. Hidrologi

Air merupakan elemen yang dibutuhkan di Kebun Anggrek karena menyangkut aktivitas budidaya anggrek mulai dari pembibitan sampai pembesaran anggrek yang tidak lepas dari kebutuhan akan pengairan. Sistem pengairan di Kebun Anggrek menggunakan air tanah. Air tanah dari sumur diteruskan ke tandon, dari tandon kemudian dialirkan melalui kran-kran yang telah dipasang pada masing-masing rumah kaca. Limbah air kemudian dibuang melalui saluran drainase yang telah dibuat menuju ke Kali Bangkong. Kali Bangkong ini terletak di selatan Kebun Anggrek. Kali Bangkong merupakan irigasi sekunder kota yang berasal dari Kali Bening. Kali Bening sendiri adalah irigasi primer Kota Magelang. Dari Kali Bangkong ini air limbah Kebun Anggrek dialirkan menuju ke Sungai Progo. Gambar 22 menunjukkan diagram alir sistem pengairan di Kebun Anggrek saat ini.

Gambar 22 Diagram alir sistem pengairan di Kebun Anggrek

Sumber air di Kebun Anggrek berasal dari air tanah yang digali dari sumur yang terletak di belakang rumah pengelola (Gambar 23). Keberadaan air tanah ini

Air Tanah Sumur Tandon Kran

Saluran Drainase Kali Bangkong

Sungai Progo

sangat penting karena digunakan untuk kegiatan budidaya anggrek dalam kebun. Oleh karena itu, keberadaan air tanah tersebut harus dipertahankan agar ketersediannya dapat menunjang kebutuhan air rumah kaca. Selain itu, ketersediaan air bersih dibutuhkan untuk menunjang wisata yaitu pelayanan wisata seperti toilet yang keberlangsungannya tergantung pada air bersih.

Gambar 23 Kondisi hidrologi di Kebun Anggrek dan sekitarnya

Pola drainase pada Kebun Anggrek mengikuti topografi yang miring dari utara ke selatan. Ada dua bentuk pola drainase pada tapak, yaitu drainase alami dan buatan (Gambar 24). Sistem drainase yang sering dijumpai pada tapak adalah draianse alami. Drainase alami ini mengalir dari bagian yang tinggi ke bagian yang lebih rendah dan akhirnya ke Sungai Progo sebagai buangan terakhir. Dari drainase alami ini dapat terlihat aliran permukaan yang terdapat pada tapak.

Kali Bangkong Sungai Progo

Tandon Saluran drainase Saluran drainase

Untuk mempertahankan ketersediaan air dalam tanah, maka siklus hidrologi di tapak harus dijaga agar berlangsung dengan baik. Aliran permukaan (run-off) yang merupakan bagian dari siklus hidologi berpengaruh terhadap ketersediaan air tanah karena jika aliran permukaan ini cepat, maka kesempatan air untuk tersimpan dalam tanah kecil sekali begitupun sebaliknya. Aliran permukaan yang cepat ini juga dapat mengakibatkan erosi tanah. Oleh karena itu, area-area yang berpotensi memiliki aliran permukaan cepat perlu untuk tindakan yang dapat menekan laju aliran permukaannya, misalnya melalui penanaman penutup lahan berupa vegetasi yang dapat menahan air dalam tanah.

5.1.2.5. Kualitas Visual

Secara umum kondisi visual yang ada di Kebun Anggrek didominasi oleh Pohon Jati yang tumbuh menyebar di sisi selatan rumah kaca. Pohon Jati yang tumbuh menyebar dan tak terawat ini mengakibatkan pandangan dari luar ke rumah kaca maupun sebaliknya menjadi terhalangi padahal Kebun Anggrek dikelilingi oleh area-area yang memiliki pemandangan indah. Pemandangan indah yang mengelilingi Kebun Anggrek antara lain Sungai Progo yang meander aliran airnya menarik dan dapat dinikmati dari sebelah barat Kebun Anggrek. Pemandangan area TKL lainnya menarik dengan kontur TKL yang berbukit-bukit memberikan kesan alami yang banyak diminati oleh pengunjung tetapi spot-spot menarik tersebut tidak dapat dinikmati dengan maksimal dikarena terhalang oleh Pohon-pohon Jati yang memenuhi bagian selatan Kebun Anggrek. Peta kondisi visualdapat dilihat pada Gambar 25.

Dari luar bagian TKL lainnya seperti Bumi Perkemahan, Kebun Anggrek dapat terlihat dengan jelas. Tidak ada penghalang pandangan karena pada sisi tersebut tidak ada bentukan-bentukan seperti vegetasi atau bangunan yang menghalangi. Rumah kaca dalam Kebun Anggrek dapat terlihat dengan jelas dari Bumi Perkemahan.

Dari Desa Buku yang letaknya berada di sebelah selatan Kebun Anggrek, Kebun Anggrek masih dapat terlihat dengan jelas. Terutama akses menuju Kebun Anggrek berupa jembatan, dapat terlihat tanpa halangan dari Desa Buku. Dari

akses jalan TKL yang menghubungkan Desa Buku dan Kebun Anggrek, pemandangan menuju Kebun Anggrek terhalang oleh pohon-pohon jati yang memenuhi sisi depan Kebun Anggrek.

Di dalam Kebun Anggrek, kondisi rumah kaca catnya mulai kusam yang menimbulkan pemandangan kurang baik (bad view). Bad view semakin bertambah dengan kondisi di sekitar rumah kaca yang tidak terurus seperti rumput tumbuh liar dan tidak terpangkas, serta pohon-pohon di sebelah selatan dan barat rumah kaca yang ditanam tak tertata. `

5.1.2.6. Tanah

Berdasarkan data BAPPEDA tahun 2009, jenis dan sifat tanah di Kota Magelang umumnya seragam, sehingga untuk tanah di Kebun Anggrek ini sama halnya dengan kondisi tanah di Kota Magelang yaitu berjenis alluvial coklat tua kekelabuan. Jenis tanah ini merupakan akibat dari pelapukan batuan yang cukup tinggi dan endapan alluvial di sepanjang Sungai Progo dan Sungai Elo. Menurut Darmawijaya (1990), tanah yang berasal dari Sungai Progo umumnya subur karena berasal dari Gunung Merapi yang masih muda dan kaya akan unsur-unsur hara. Jenis tanah ini mudah menyerap air (permeable).

Dalam hal pengadaan fasilitas di area dengan jenis tanah ini memerlukan perlakuan khusus karena jenis tanah ini rentan longsor. Perlakuan yang dapat dilakukan seperti penanaman vegetasi untuk membantu dalam menahan air.

5.1.2.7. Iklim Mikro

Menurut data BAPPEDA (2009), Kota Magelang memiliki temperatur rata- rata maksimum 32°C dan terendah 20°C. Suhu yang relatif rendah ini membuat Kota Magelang berhawa sejuk. Begitu pula iklim di Kebun Anggrek yang termasuk di dalam kawasan Kota Magelang secara umum tergolong sejuk. Karena pengukuran sampel hanya dilakukan pada siang hari didapatkan suhu rata-rata 32,5ºC yang tidak berbeda jauh dengan suhu rata-rata maksimum Kota Magelang, maka iklim di Kebun Anggrek dapat dikatakan sejuk pula. Hal ini dikarenakan di

sekeliling maupun di dalam Kebun Anggrek masih banyak pohon yang dapat mereduksi panas matahari.

Pengukuran iklim mikro dilakukan di 4 titik dimana pada masing-masing titik tersebut diambil 3 kali pengukuran suhu. Indikator iklim yang diamati meliputi suhu dan kelembaban yang keduanya digunakan dalam perhitungan THI (Thermal Humidity Index). Keempat titik pengambilan suhu dan kelembaban adalah daerah dengan penutup lahan berupa: rumput, bangunan, naungan (pohon) serta perkerasan. Pemilihan di keempat penutupan lahan ini ditujukan untuk mendapatkan suhu tertinggi dan terendahnya. Pemilihan ini dimaksudkan untuk mengetahui suhu yang nantinya akan tercipta apabila penutupan lahan dibuat seperti empat jenis penutupan lahan tersebut. Berdasarkan hasil pengukuran iklim mikro di tapak, maka didapatkan hasil THI dari keempat jenis penutupan tersebut adalah sebagai berikut: jenis penutupan lahan berupa rumput dan bangunan memiliki kesamaan THI sebesar 31 serta jenis penutupan lahan berupa naungan (pohon) dan perekerasan masing-masing memiliki THI 27. Hasil pengukuran THI secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Hasil pengukuran THI

Umumnya orang tropis merasa tidak nyaman berada pada THI > 27. Hasil pengukuran THI pada Tabel 4 memperlihatkan bahwa pada 2 jenis penutupan lahan yakni rumput dan bangunan yang tidak ada penaung di atasnya tingkat kenyamannya adalah tidak nyaman. Sedangkan 2 jenis penutupan lahan lainnya yaitu perkerasan dan di bawah naungan menunjukkan THI yang nyaman. Jenis

Jenis Penutupan Lahan Indikator Titik Rata-rata THI

yang Diamati a b C

Rumput Suhu (°C) 34 34 35 34,3 31

Kelembaban (%) 51 55 54 53,3

Bangunan Suhu (°C) 35 35 35 35 31

Kelembaban (%) 46 45 43 44,7

Naungan (Pohon) Suhu (°C) 30 30 31 30 27

Kelembaban (%) 51 48 50 49,7

Perkerasan di bawah naungan Suhu (°C) 32 31 32 31 27

penutupan lahan dengan perkerasan masih menunjukkan THI yang nyaman dikarenakan di Kebun Anggrek perkerasannya masih di bawah naungan. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan naungan berpengaruh terhadap THI.

Pengukuran suhu ini juga memperlihatkan bahwa suhu di sekitar Kebun Anggrek sesuai apabila diperuntukkan dalam mengembangkan komoditi anggrek. Suhu yang baik untuk pertumbuhan anggrek berkisar 15-35ºC. Tetapi kelembaban udara menjadi kendala di sini dikarenakan kelembaban udara yang dimiliki berkisar antara 43-55% sedangkan kelembaban udara optimal untuk pertumbuhan anggrek berkisar antara 65-70%. Hal ini dapat diatasi dengan membudidayakan anggrek di dalam rumah kaca yang suhu dan kelembabannya dapat direkayasa. Menurut Brown dan Gillespie (1995), untuk merekayasa kelembaban udara dapat dilakukan dengan cara mengisolasi sebuah lanskap dari area sekitarnya dengan bangunan solid, penyediaan naungan penuh, dan sumber air.

5.1.3. Aspek Wisata 5.1.3.1. Atraksi Wisata

Menurut Gunn (1994), atraksi memiliki dua fungsi utama dalam wisata. Pertama, atraksi berfungsi menarik minat seseorang untuk melakukan sebuah perjalanan wisata. Kedua, atraksi berfungsi memberikan kepuasan kepada pengunjung. Hingga saat ini belum ada atraksi wisata yang dapat menarik pengunjung untuk melakukan kegiatan wisata di Kebun Anggrek. Kegiatan pembibitan dan pembesaran yang saat ini terdapat di dalam Kebun Anggrek kurang menarik minat pengunjung. Hal ini dikarenakan pengunjung umumnya lebih tertarik dengan anggrek yang sudah berbunga sedangkan yang terdapat dalam Kebun Anggrek saat ini adalah anggrek yang belum berbunga.

Kebun Anggrek memiliki dua potensi wisata yang dapat dikembangkan. Pertama, bunga anggrek berpotensi menjadi obyek dalam kawasan wisata Kebun Anggrek. Anggrek dengan spesies, bentuk, dan corak yang beragam yang dimilikinya berpotensi untuk menjadikannya obyek wisata. Kedua, budidaya anggrek dapat dikembangkan sebagai atraksi wisata yang menarik minat pengunjung untuk datang. Aktivitas pembibitan anggrek yang saat ini sedang

berlangsung di dalam kebun berpotensi untuk dikembangkan menjadi sebuah atraksi wisata yang menarik misalkan pengelola menampilkan pula anggrek yang sudah berbunga. Kegiatan budidaya anggrek yang saat ini hanya sebatas pembibitan dan pembesaran ditingkatkan aktivitasnya sampai tahap pembungaan. Iklim tapak yang tidak mendukung dalam pembungaan anggrek dapat diatur melalui perekayasaan suhu dan kelembaban yang sesuai untuk pembungaan anggrek di dalam rumah kaca.

Daya tarik lainnya yang dapat meningkatkan minat pengunjung untuk datang ke Kebun Anggrek adalah pengadaan event-event yang kegiatannya masih berhubungan dengan anggrek. Event-event tersebut diselenggarakan secara reguler maupun isidental. Event-event yang dimaksud antara lain:

1. Workshop anggrek dimana kegiatan di dalamnya meliputi rangkaian wisata edukatif berupa pelatihan yang kegiatannya terdiri dari pengenalan anggrek secara teoritis, praktik langsung budidaya sampai merangkai bunga anggrek. Gambar 26 menunjukkan image reference mengenai kegiatan workshop anggrek.

Gambar 26 Kegiatan workshop anggrek

(Sumber: eventtransagro.files.wordpress.com dan www.gchonolulu.org)

2. Festival anggrek yang diadakan secara reguler setiap 6 bulan sekali, dimana dalam festival tersebut terdapat berbagai acara seperti pameran anggrek yang menampilkan anggrek-anggrek langka atau khas yang sedang

berbunga dari daerah lain. Selain pameran, di dalam festival tersebut juga diadakan berbagai perlombaan yang berhubungan dengan anggrek. Adapun perlombaan yang dapat diadakan antara lain:

a. Lomba menggambar dan mewarnai untuk anak-anak, dimana obyek lukisnya merupakan obyek-obyek dalam kebun anggrek.

b. Lomba foto anggrek, dimana obyek fotonya adalah anggrek-anggrek yang berada dalam kebun.

c. Lomba keindahan bunga anggrek (orchid contest), dimana pesertanya adalah para penghobi dan pengkoleksi anggrek. Koleksi anggrek para penghobi dilombakan untuk dinilai keindahannya.

d. Lomba merangkai bunga anggrek. Referensi gambar untuk kegiatan perlombaan yang berhubungan dengan anggrek dapat dilihat pada gambar 27.

Gambar 27 Aneka perlombaan dalam festival anggrek

(Sumber: gedepangrango.org, www.orchidstudygroup.org, 1.bp.blogspot.com, prasetya.ub.ac.id) Orchid contest Lomba merangkai bunga Lomba menggambar dan mewarnai Lomba foto

5.1.3.2. Fasilitas Penunjang

Fasilitas yang tersedia di Kebun Anggrek terdiri dari dua buah rumah kaca dan satu rumah pengelola. Sekilas tampak tidak ada perbedaan antara rumah kaca dan rumah pengelola, karena ketiganya sama-sama memiliki bentuk bangunan yang hampir sama dan dicat dengan warna yang sama. Setelah dilihat lebih seksama, rumah kaca memiliki ukuran yang lebih luas dibandingkan ruang pengelola. Dua rumah kaca yang terletak berhadapan memiliki ukuran yang berbeda. Rumah kaca yang tepat berada di sisi barat rumah pengelola memiliki ukuran panjang 36,7 m dan lebar 9,85 m. Ukuran rumah kaca tersebut lebih besar dibanding rumah kaca yang berada tepat di depannya yang berukuran panjang 24,2 m dan lebar 9,85 m. Rumah pengelola sendiri memiliki ukuran panjang 16 m dan lebar 8,88 m. Di rumah pengelola pun tidak terlihat adanya aktivitas, karena selama ini hanya digunakan untuk menyimpan barang pengelola seperti sepeda motor dan alat-alat pembibitan. Kondisi fasilitas di Kebun Anggrek dapat dilihat pada Gambar 28.

Gambar 28 Fasilitas di Kebun Anggrek

5.1.3.3. Pengelolaan a. Pengelola

Pengelola Kebun Anggrek merupakan pihak-pihak yang terkait dalam pengelolaan Kebun Anggrek. Adapun pihak-pihak terkait tersebut antara lain

Perusahaan Daerah Obyek Wisata (PDOW) Taman Kyai Langgeng, Dinas Pertanian, serta Asosiasi Tanaman Hias Kota Magelang.

Kebun Anggrek merupakan bagian dari Perusahaan Daerah Obyek Wisata (PDOW) Taman Kyai Langgeng yang pengelolaannya di bawah Dinas Pertanian Kota Magelang. Bagian dari Dinas Pertanian yang membidangi Kebun Anggrek ini adalah seksi produksi. Seksi produksi ini bertanggung jawab terhadap keberadaan Kebun Anggrek dimana terdapat lima pegawai Dinas Pertanian yang ditugaskan dalam seksi ini. Selain lima pegawai dari Dinas Pertanian, Kebun Anggrek ini juga memiliki dua orang pegawai non-Dinas Pertanian yang secara penuh bekerja di dalam Kebun Anggrek. Asosiasi Tanaman Hias Kota Magelang berperan selaku penyedia bibit anggrek dalam pengelolaan Kebun Anggrek saat ini.

b. Kegiatan

Kebun Anggrek merupakan tempat budidaya anggrek untuk kemudian dijual dalam keadaan berbunga. Kegiatan pengelolaan yang dilakukan pada Kebun Anggrek terbagi menjadi dua yakni kegiatan budidaya anggrek serta kegiatan pemeliharaan fisik terhadap Kebun Anggrek dan sekitarnya. Kegiatan- kegiatan tersebut di lapangan dilakukan oleh kedua pegawai non-Dinas Pertanian. Kedua Pegawai non-Dinas Pertanian bekerja dari pukul 07.00-12.00 setiap hari Senin-Jumat. Kedua pegawai tersebut memiliki tugas untuk mengadakan pemeliharan terhadap anggrek hingga anggrek yang sudah dibesarkan berumur 4 bulan dan siap untuk dikirim ke Kopeng untuk dibungakan. Selain itu kedua pegawai tersebut bertugas untuk melakukan pemeliharaan terhadap kebersihan sekitar rumah kaca.

Kelima pegawai Dinas Pertanian melakukan pemantauan terhadap Kebun Anggrek setiap 3 kali seminggu. Setiap kunjungan dilakukan oleh 3 orang secara bergantian. Dalam kunjungan tersebut, pegawai yang sedang bertugas melakukan pengecekan mengenai perkembangan pembibitan anggrek yang sedang berlangsung serta pemantauan terhadap kebersihan dan keamanan Kebun Anggrek.

Bibit anggrek yang dibudidayakan di Kebun Anggrek berasal dari Asosiasi Tanaman Hias Kota Magelang. Bibit tersebut di dapatkan dari 4 kota yaitu Yogyakarta, Semarang, Malang, dan Jakarta. Selama 4 bulan, bibit tersebut mengalami pembesaran vegetatif di Kebun Anggrek. Setelah pembesaran vegetatif, anggrek dibawa ke Kopeng untuk pembesaran generatifnya selama 2 bulan. Kopeng adalah sebuah desa di Kecamatan Getasan, Semarang, Jawa Tengah. Desa ini memiliki iklim dataran tinggi yang sesuai untuk pembungaaan anggrek. Setelah berbunga, kemudian anggrek didistribusikan oleh pihak Asosiasi Tanaman Hias Kota Magelang ke Yogyakarta, Semarang, dan Jakarta untuk dipasarkan. Hasil penjualan anggrek ini kemudian masuk ke dalam kas Asosiasi Tanaman Hias Kota Magelang. Saat ini Dinas Pertanian hanya bertindak sebagai fasilitator agar agribisnis berkembang di Kota Megalang sehingga tidak memperoleh keuntungan dari penjualan anggrek. Tetapi untuk rencana jangka panjang, Dinas Pertanian akan menarik uang sewa.

5.1.3.4. Pengunjung

Pemantauan lapang di saat TKL padat pengunjung yaitu pada hari Sabtu dan Minggu tetapi tidak terlihat pengunjung TKL yang berkunjung ke Kebun Anggrek. Padahal areal TKL lainnya seperti wahana permainan ramai dikunjungi.

Kebun Anggrek berpotensi untuk didatangi pengunjung karena berdasarkan data dari pengelola TKL, pengunjung TKL meningkat setiap tahunnya dengan jumlah kunjungan rata-rata per tahunnya sebanyak 854.473 pengunjung. Dari rata- rata kunjungan sebanyak itu, hampir tidak ada yang menyediakan waktunya untuk berkunjung ke Kebun Anggrek. Tidak adanya pengunjung ke Kebun Anggrek dikarenakan letaknya yang berada di bagian paling belakang TKL dimana bagian ini jarang dilintasi pengunjung karena letaknya yang jauh dari pintu gerbang utama. Di sisi belakang TKL tersebut, terdapat Bumi Perkemahan yang letaknya tepat di sisi kiri Kebun Anggrek. Bumi Perkemahan ini ramai ketika ada rombongan dari sekolah yang berkemah saja. Kemudian di sebelah selatan Kebun Anggrek terdapat Desa Buku yang jarang pengunjungnya juga.

Di dalam Kebun Anggrekpun belum ada obyek dan atraksi wisata yang menarik pengunjung untuk mendatanginya. Banyaknya pepohonan yang menutupi Kebun Anggrek menambah keberadaannya tidak terlihat. Selain itu, dalam peta wisata yang dibuat oleh pengelola TKL tidak dicantumkan Kebun Anggrek ini sebagai salah satu obyek wisata di dalamnya. Hal ini menyebabkan pengunjung tidak mengetahui keberadaan Kebun Anggrek tersebut.

Berdasarkan hasil penyebaran kuisioner didapatkan kesimpulan bahwa umumnya pengunjung TKL berusia 15-59 tahun. Golongan usia 15-59 tahun rata- rata merupakan pelajar dan pekerja. Wisata yang dapat dikembangkan lebih bersifat rekreasi. Hal ini dikarenakan pada usia tersebut, mereka cenderung membutuhkan sebuah kegiatan yang dapat memulihkan kesegaran jasmani mereka setelah penat beraktivitas di sekolah maupun di kantor. Usia anak-anak pun berpotensi untuk menjadi pengunjung Kebun Anggrek. Menurut Ernawulan (2003), usia anak-anak cenderung memiliki rasa keingintahuan yang tinggi terhadap sesuatu. Sehingga hal inilah yang menjadikan potensi Kebun Anggrek untuk dikembangkan menjadi sebuah obyek wisata bertujuan edukasi. Untuk menggabungkan kedua tujuan yakni tujuan rekreasi dan edukasi, maka aktivitas di dalam Kebun Anggrek diarahkan pada aktivitas-aktivitas yang dapat memberikan nilai edukatif dan rekreatif bagi pengunjung.

5.1.4. Hasil Analisis

Berdasarkan peta komposit (Gambar 29) hasil overlay aspek biofisik yang telah dianalisis, didapatkan area dengan 3 tingkat intensitas terhadap aktivitas

Dokumen terkait