• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II AKTA KETERANGAN KETERANGAN KEPEMILIKAN

C. Akta Keterangan Kepemilikan Yang Dibuat Notaris Sebagai

Surat keterangan tanah merupakan proses awal alas hak guna mendapatkan sertipikat hak atas tanah. Namun dengan mengantongi surat keterangan tanah tersebut masyarakat merasa haknya sudah aman dan terlindungi walaupun dalam praktik penerbitan surat keterangan penguasaan tanah banyak hal negatif yang dijumpai.

Alas hak atas tanah berupa surat-surat yang dibuat oleh masyarakat dengan berbagai ragam bentuk yang ditujukan untuk menciptakan bukti tertulis dari objek atau bidang tanah yang dikuasai oleh masyarakat termasuk hak yang berasal dari Adat yang masing-masing daerah-daerah di Indonesia memiliki

102 Adjie Habib, Sanksi Perdata dan Administratif terhadap Notaris sebagai Pejabat Publik, Refika Aditama, Bandung, 2009, hlm 7 (selanjutnya disebut Adjie Habib 3)

48

penamaan yang berbeda-beda: Girik, Letter C, Petuk, Grant Sultan dan sejenis hak yang berasal dari hak-hak Adat, khusus di lokasi penelitian ini sebutannya disebut Surat Keterangan Tanah (SKT). Penerbitan bukti-bukti penguasaan bidang tanah tersebut ada yang dibuat diatas tanah yang belum dikonversi maupun tanah-tanah yang dikuasai oleh Negara dan kemudian tanah tersebut diduduki oleh masyarakat baik disengaja ataupun diatur oleh Kepala Desa/

Lurah bahkan sampai disahkan oleh camat, seolah-olah tanah tersebut telah merupakan hak seseorang ataupun termasuk kategori hak-hak adat.103

Didalam Pasal 24 ayat (1) PP No.24 Tahun 1997 diterangkan bahwa untuk keperluan pendaftaran hak, hak atas tanah yang berasal dari konversi hak-hak lama dibuktikan dengan alat bukti mengenai adanya hak tersebut berupa buktibukti tertulis, keterangan saksi dan atau pernyataan yang bersangkutan yang kebenarannya oleh panitia ajudikasi dalam pendaftaran tanah secara sistematik atau oleh Kepala Kantor Pertanahan dan Pendaftaran secara sporadik, dianggap cukup untuk mendaftar hak, pemegang hak dan hak-hak pihak-hak lain yang membebaninya. Sebelum lahirnya UUPA, surat keterangan tanah di atas masih diakui sebagai tanda bukti hak atas tanah, tetapi setelah UUPA lahir dan PP No. 24 Tahun 1997, hanya sertipikat hak atas tanah yang diakui sebagai bukti kepemilikan hak atas tanah. Sekalipun demikian, selain sertipikat hak atas tanah nampaknya tanda hak lain-pun masih ada yang berlaku yakni surat keterangan tanah yang masing-masing daerah punya penyebutan nama yang berbeda-beda. Umumnya masyarakat masih

103 Muhammad Nadzir dan Suwandi, Kekuatan Pembuktian Surat Keterangan Tanah Sebagai Bukti Hak Kepemilikan Atas Tanah, Jurnal De Facto Vol. 4 No. 1 Juli 2017, hlm 58-59

49

berkeyakinan bahwa surat keterangan tanah adalah sebagai tanda bukti hak atas tanah. Tidak mempermasalahkan apakah surat keterangan tanah itu produk sebelum tahun 1960 ataupun sesudahnya dan bagaimana status hukumnya.

Pokoknya kalau tanah tertentu sudah memiliki surat keterangan tanah, pemiliknya sudah merasa aman.104

Sebagai jaminan hukum yang diberikan oleh pemerintah atas tanah, maka pemerintah memberikan surat tanda bukti hak yang dinamakan sertipikat dan berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat. Artinya bahwa keterangan yang tercantum didalamnya mempunyai kekuatan hukum dan harus diterima oleh hakim sebagai keterangan yang benar sepanjang tidak ada alat pembuktian lain yang membuktikan sebaliknya.105

Akta yang dibuat oleh notaris atau di hadapan notaris merupakan suatu alat bukti, sehingga dalam membuat suatu akta seseorang notaris harus memperhatikan norma-norma selain kode etik dan ketentuan perundang-undangan lainnya. Berdasarkan ketentuan Pasal 1867 KUHPerdata, maka akta dibuat sebagai tanda bukti yang berfungsi untuk memastikan suatu peristiwa hukum dengan tujuan menghindari sengketa. Sehubungan dengan hal tersebut maka pembuatan akta harus sedemikian rupa, sehingga apa yang diinginkan untuk dibuktikan itu dapat diketahui dengan mudah dari akta yang dibuat.

Notaris dapat membuat akta-akta mengenai semua perbuatan, perjanjian dan ketetapan, yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam suatu akta autentik. Jadi wewenang notaris yaitu membuat akta

104Muhammad Nadzir dan Suwandi, hlm 59

105 Khairina, Sertifikat Cacat Hukum Dalam Hukum Pertanahan Di Indonesia, Juris Volume 13, Nomor 1 (Juni 2014), hlm 28-29

50

mengenal perbuatan tertentu dan bersifat umum. Pasal 15 ayat (2) huruf (f) UUJN merupakan bentuk bahasa hukum yang ambigu, hal ini disebabkan karena ketika UUJN disahkan mengandung polemik dan perdebatan tentang makna dari pasal tersebut, meski dalam Pasal 15 ayat (1) sendiri disebutkan

“bahwa sepanjang pembuatan akta tersebut tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh undang-undang”, karena dalam pelaksanaannya terdapat akta-akta yang berkaitan dengan pertanahan yang tidak dapat atau pejabat yang ditugaskan untuk membuatnya tidaklah berwenang.

Keadaan sebenarnya akta notaris sebagai alat bukti sempurna, apabila akta notaris tersebut mempunyai kekuatan formil, materil dan lahiriah. Akta dikatakan sebagai alat bukti sempurna bilamana dalam akta tersebut terdapat perpaduan dari beberapa kekuatan yang terdapat padanya yaitu kekuatan formil, materiil dan lahiriah. Akta dilihat dari segi hukum pembuktian mempunyai fungsi salah satunya sebagai formalitas kausa, artinya berfungsi sebagai syarat atas keabsahan suatu tindakan hukum yang dilakukan.106 Semua tindakan hukum yang apabila dilakukan tidak dengan akta, maka tindakan tersebut menurut hukum tidak sah. Bisa jadi perbuatan hukum yang dilakukan dianggap tidak pernah ada yang otomatis juga tidak dapat dipergunakan sebagai alat bukti. Nilai kekuatan pembuktian akta autentik. Akta autentik memiliki kekuatan pembuktian yang melekat, yaitu:

a. bila terpenuhi syarat formil dan materil maka:

106 M,Yahya Harahap, Permasalahan dan Penerapan KUHAP Pemeriksaan Sidang Pengadilan,Banding,Kasasi,dan Peninjauan Kembali, Sinar Grafika, Jakarta, 2006, hlm 563

51

1) Pada dirinya langsung mencukupi batas minimal pembuktian tanpa bantuan alat bukti lain.

2) langsung sah sebagai alat bukti.

3) pada dirinya langsung melekat nilai kekuatan pembuktian sempurna dan mengikat.

4) Hakim wajib dan terikat:

a) menganggap akta autentik tersebut benar dan sempurna.

b) harus menganggap apa yang didalilkan atau dikemukakan cukup terbukti.

c) hakim terikat atas kebenaran yang dibuktikan akta tersebut, sehingga harus dijadikan dasar pertimbangan mengambil putusan penyelesaian sengketa.

b. Kualitas kekuatan pembuktian akta autentik tidak bersifat memaksa atau menentukan dan terhadapnya dapat diajukan bukti lawan. Seperti yang dijelaskan, derajat kekuatan pembuktiannya hanya sampai pada tingkat sempurna dan mengikat, tetapi tidak memaksa dan menentukan.

Oleh karena itu, sifat nilai kekuatan pembuktiannya tidak bersifat imperative. Dapat dilumpuhkan dengan bukti lawan. Apabila terhadapnya diajukan bukti lawan, maka:

1) derajat kualitasnya merosot menjadi bukti permulaan tulisan.

52

2) Dalam keadaan yang demikian, tidak dapat berdiri sendiri mencukupi batas minimal pembuktian, oleh karena itu harus dibantu dengan salah satu alat bukti yang lain.107

Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah, Pasal 60 ayat (1) menyebutkan bahwa alat bukti tertulis mengenai kepemilikan tanah berupa alat bukti untuk pendaftaran hak baru dan pendaftaran hak-hak lama sebagaimana dimaksud masing-masing dalam Pasal 23 dan Pasal 24 ayat (1) PP. No. 24 Tahun 1997.

Pasal 102A Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2019 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah, menyebutkan bahwa PPAT juga dapat membuat surat pengantar akta untuk akta yang dibuat oleh notaris dalam rangka memenuhi persyaratan pelayanan pertanahan lainnya.

Berdasarkan hasil penelitian dalam point ini dapat disimpulkan bahwa akta keterangan kepemilikan atas tanah yang dibuat dengan akta notaris, Pasal 1 angka 7 UUJN dimaknai akta autentik yang dibuat oleh atau di hadapan Notaris menurut bentuk dan tata cara yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini. Oleh karena itu akta keterangan kepemilikan yangg dibuat di hadapan Notaris dapat dijadikan suatu alat bukti penguasaan atas tanah.

107 Ibid.

53

BAB III

KEABSAHAN AKTA KETERANGAN KEPEMILIKAN YANG DIBUAT DI HADAPAN NOTARIS SEBAGAI PENDUKUNG BUKTI

PENGUASAAN TANAH

A. Kewenangan Notaris dalam Membuat Akta Yang Berkaitan dengan Pertanahan

Notaris merupakan pejabat yang berwenang untuk membuat akta autentik. Kewenangan ini diberikan oleh KUHPerdata yang tertuang dalam Pasal 1868. Adapun untuk mempetkuat ketentuan yang tertuang dalam Pasal 1868 KUHPerdata, maka diundangkan UUJN sebagai salah satu produk hukum yang mengatur mengenai notaris. Salah satu hal yang diatur dalam UUJN yaitu mengenai kewenangan notaris.108

Kewenangan umum notaris diatur dalam Pasal 15 UUJN yaitu notaris berwenang membuat akta autentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan atau dikehendaki oleh yang berkepentingan supaya dinyatakan dalam suatu akta autentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanya itu sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh undang-undang.109

Kewenangan umum notaris ditegaskan didalam Pasal 15 ayat (1) UUJN, yaitu bahwa salah satu kewenangan notaris membuat akta secara umum, dengan batasan sepanjang:

108 Denico Doly, Kewenangan Notaris dalam Pembuatan Akta yang berhubungan dengan Tanah, Negara Hukum, Vol. 2, No. 2, November 2011, hlm 279

109 Jozan Adolf, Eksistensi Wewenang Notaris Dalam Pembuatan Akta Bidang Pertanahan, Notarius, Volume 13 Nomor 1 (2020), hlm 183

54

1. Tidak dikecualikan kepada pejabat lain yang telah ditetapkan Undang-Undang.

2. Berkaitan dengan akta yang wajib dibuat atau berwenang membuat akta autentik mengenai semua perbuatan hukum, perjanjian, dan ketetapan yang telah diwajibkan oleh aturan hukum atau dikehendaki oleh yang bersangkutan.

3. Berkaitan dengan subjek hukum (orang atau badan hukum) untuk kepentingan siapa akta tersebut dibuat atau dikehendaki oleh yang berkepentingan.110

Wewenang yang dimiliki oleh notaris yaitu wewenang atribusi, karena wewenang yang dimiliki oleh notaris tersebut berasal dari suatu peraturan perundang-undangan atau aturan hukum, dalam hal ini wewenang notaris berasal dari UUJN. Notaris sebagai sautu jabatan memiliki wewenangnya sendiri. Setiap wewenang tersebut harus ada dasar hukumnya. Berbicara tentang wewenang seorang pejabat tersebut harus secara jelas dan tegas diatur dalam peraturan undang-undang yang mengatur tentang jabatan tersebut.

Sehingga jika terjadi suatu perbuatan diluar wewenang tersebut oleh seorang pejabat disebut sebagai suatu perbuatan melanggar hukum. Oleh karena itu, suatu wewenang tidak muncul sebagai suatu hasil diskusi atau pembicaraan dibelakang meja ataupun pendapat-pendapat dari lembaga legislatif.

Kewenangan notaris tersebut diatur dalam Pasal 15 ayat (1), (2), dan (3) UUJN.111

110 M. Luthfan Hadi Darus, Hukum Notariat dan Tanggung Jawab Jabatan Notaris, UII Press, Yogyakarta, 2016, hlm 78

111 Jozan Adolf, Op.Cit, hlm 188

55

Pasal 15 ayat (2) huruf (f) UUJN memberikan kewenangan notaris untuk membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan. Ada 3 (tiga) penafsiran pasal tersebut, yaitu :

1. Notaris telah mengambil alih semua wewenang PPAT menjadi wewenang Notaris atau telah menambah wewenang notaris.

2. Bidang pertanahan menjadi wewenang notaris.

3. Tetap tidak ada pengambilalihan dari PPAT atau pengembalian wewenang kepada notaris, baik PPAT maupun Notaris telah mempunyai wewenang sendiri-sendiri.112

Berdasarkan hal tersebut maka ketika Pasal 15 ayat (2) huruf (f) UUJN muncul, hal tersebut lantas serta-merta diartikan dan dimanfaatkan oleh mereka yang selama ini memangku jabatan sebagai notaris saja (tidak merangkap sebagai PPAT) untuk dapat membuat akta di bidang pertanahan yang merupakan wewenang PPAT. Akan tetapi pasal tersebut dimanfaatkan juga oleh mereka yang telah memangku jabatan sebagai notaris dan PPAT, dengan melakukan penafsiran dan melaksanakan keinginan untuk tunduk apa adanya dan tunduk sepenuhnya kepada UUJN, sehingga rela meninggalkan jabatan PPATnya, karena hal tersebut dapat berarti bahwa notaris dapat membuat akta apa pun termasuk akta tanah yang merupakan kewenangan PPAT.

Kewenangan yang diberikan oleh notaris telah jelas disebutkan dalam Pasal 15 UUJN, akan tetapi dari beberapa kewenangan yang diberikan kepada

112 Dela Cahyani, Kewenangan Notaris Membuat Akta Yang Berkaitan Dengan Pertanahan Menurut Pasal 15 Ayat (2) Huruf (F) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan, Volume: 5 Issue: 1, Mei 2016, hlm 4-5

56

notaris tersebut di atas, ada kewenangan yang yang menjadi suatu permasalahan antara Notaris dan PPAT. Pasal 15 ayat (2) huruf f UUJN mengatakan bahwa notaris berwenang membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan. Kebijakan tersebut tidak akan berjalan dengan baik, hal ini dikarenakan adanya benturan yang terjadi antara kewenangan notaris dan kewenangan PPAT. Lingkup kewenangan notaris dalam pasal tersebut tidak diatur dengan jelas mengenai jenis akta apa saja di bidang pertanahan yang menjadi kewenangannya.113Berdasarkan ketentuan ini secara otomatis notaris memiliki kewenangan membuat akta tanah. Mengacu pada UUJN, maka notaris secara otomatis adalah pejabat yang berwenang membuat akta tanah dan risalah lelang. Namun kenyataan di lapangan, Notaris tidak secara otomatis dapat menjadi PPAT.

Terkait dengan objek pendaftaran tanah, maka diperlukan suatu akta dalam memperoleh hak atas tanah tersebut yaitu akta-akta yang berkaitan dengan pertanahan. Jika dilihat Pasal 15 ayat (2) huruf f, UUJN maka notaris di sini berhak untuk membuat akta-akta yang berkaitan dengan pertanahan terhadap hak atas tanah seperti jual beli, tukar menukar, hibah, pembagian hak bersama dan seterusnya yang berkaitan dengan pertanahan. Namun dalam praktiknya notaris tidak diperkenankan membuat akta pertanahan kalau belum lulus ujian yang dilakukan Departemen Kehakiman mengenai ujian untuk diangkat menjadi PPAT.114

113 Daniar Ramadhan, Kewenangan Notaris Dalam Pembuatan Akta Yang Berhubungan Dengan Pertanahan, Notarius, Volume 12 Nomor 2 (2019), hlm 682

114 Supriadi, Hukum Agraria, Sinar Grafika, Jakarta, 2012, hlm 171

57

Bertitik tolak dari definisi notaris sebagai pejabat umum yang berwenang membuat akta autentik, maka akta-akta tanah yang juga merupakan akta autentik apabila ditinjau dari pengertian akta autentik Pasal 1816 KUHPerdata, maka kewenangan pembuatan akta-akta tersebut sebenarnya dapat dilaksanakan dihadapan notaris, dalam hal ini notaris juga dapat merupakan pejabat umum yang yang dapat ditunjuk khusus oleh Menteri Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) sebagai pejabat umum yang berwenang mengkonstatir suatu perjanjian dengan objek tanah ke dalam suatu akta notariil, dengan tujuan untuk menghindari adanya spesialisasi dalam fungsi dan tugas notaris sebagai pejabat umum sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1 UUJN.115

Kewenangam notaris dalam bidang pertanahan bukan mengambil wewenang yang asalya dari lembaga atau pejabat lama melainkan berdasarkan aturan hukum yang baru yaitu Pasal 15 ayat (2) huruf f. UUJN. Kewenangan yang terdapat dalam Pasal 15 UUJN tidak hanya sebatas dalam membuat akta autentik saja, akan tetapi juga diberikan kewenangan lain seperti yang tercantum dalam Pasal 15 ayat (2) UUJN yaitu:

1. Mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus.

2. membukukan surat-surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus.

115 Irawan Soerodjo, Kepastian Hukum Hak Atas Tanah di Indonesia, Arloka, Surabaya, 2003, hlm. 161-162

58

3. Membuat kopi dari asli surat-surat di bawah tangan berupa salinan yang memuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam surat yang bersangkutan.

4. Melakukan pengesahan kecocokan fotokopi dengan surat aslinya.

5. Memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan akta.

6. membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan; atau 7. membuat akta risalah lelang.

Kewenangan yang diberikan kepada notaris merupakan kewenangan atribusi, hal ini dikarenakan kewenangan tersebut diberikan oleh UUJN.

Wewenang yang ada dalam seorang notaris bukan berasal dari lembaga pemerintah lainnya, akan tetapi kewenangan yang didasarkan dan diberikan oleh Undang-Undang. Oleh karena itu kewenangan yang dimiliki oleh seorang notaris merupakan kewenangan atribusi. Salah satu kewenangan yang diberikan oleh Undang-Undang yaitu kewenangan untuk membuat akta yang berhubungan dengan pertanahan. Kewenangan ini tercantum dalam Pasal 15 ayat (2) huruf f UUJN. Secara yuridis, kewenangan ini sudah diberikan oleh Undang-Undang, akan tetapi dalam pelaksanaannya notaris belum dapat membuat akta yang berhubungan dengan pertanahan. Pada saat ini pembuatan akta yang berhubungan dengan pertanahan yang dibuat oleh notaris masih dibatasi. Pembatasan kewenangan ini dimiliki oleh seorang Notaris dalam pembuatan akta tentang pertanahan dikarenakan ada pejabat lain yang

59

diberikan kewenangan dalam pembuatan akta tentang pertanahan yaitu PPAT.116

Berdasarkan batasan kewenangan Notaris dalam Pasal 15 ayat (2) UUJN, maka notaris berwenang untuk membuat akta-akta yang berkaitan dengan pertanahan adalah dalam bentuk semua perjanjian, sepanjang pembuatan akta-akta tersebut tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain. Aktaakta yang dimaksud yaitu akta kelahiran dan akta kematian yang dibuat oleh Pejabat Kantor Catalan Sipil, risalah lelang yang dibuat oleh Pejabat Lelang, dan akta-akta pemindahan hak atas tanah dan akta pembebanan hak atas tanah yang merupakan kewenangan dari Pejabat Pembuat Akta Tanah.

Meskipun pada Pasal 15 ayat (2) huruf f UUJN diberi kewenangan kepada notaris untuk membuat akta mengenai pertanahan, namun di lapangan notaris belum dapat untuk menjalankan kewenangannya karena produk aktanya tidak dapat dijadikan dasar untuk mendaftar ke Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota seperti halnya akta Pejabat Pembuat Akta Tanah yang juga diberi kewenangan membuat akta berkaitan dengan pertanahan.117

Notaris tidak dapat secara otomatis menjadi PPAT seperti UUJN 2014, karena untuk dapat diangkat menjadi PPAT seorang Notaris harus mengikuti pendidikan dan pelatihan serta lulus yang diselenggaran oleh BPN. Mengingat Notaris tidak secara otomatis sebagai PPAT, maka implementasi Pasal 15 ayat (2) huruf (f) UUJN 2014 di lapangan tidak dapat berjalan mulus karena

116 Daniar Ramadhan, Op.Cit, 686

117 Sari, I. G. A. D., Wairocana, I. G. N., dan Resen, M. G. S. K., Kewenangan Notaris Dan PPAT Dalam Proses Pemberian Hak Guna Bangunan Atas Tanah Hak Milik. Vol.

3 No 1, Acta Comitas: Jurnal Hukum Kenotariatan Universitas Udayana, Denpasar, Vol. 41-No 58, 2018, hlm. 49

60

berbenturan dengan Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 23 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1 Tahun 2006 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 Tentang Peraturan JabatanPejabat Pembuat Akta Tanah.118

Kewenangan notaris dalam membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan adalah terhadap tanah yang belum bersertipikat dan tanah negara.

Kewenangan notaris dalam membuat akta tanah adalah selain dari akta-akta yang berhubungan dengan jual beli, tukar menukar, hibah, pemasukan kedalam perushaan, pembagian hak bersama, pemberian hak tanggungan, pemberian hak guna bangungan dan pemberian hak pakai atas tanah hak milik dan SKHMHT, kewenangan tersebut adalah kewenangan dari PPAT, sehingga wewenang dari notaris itu sendiri antara lain adalah membuat PPJB dan PJB.

Dan wewenang notaris dalam membuat akta tanah itu berbeda dari wewenang PPAT sebagaimana yang diatur dalam Putusan Mahkama Kostitusi Indonesia Nomor 5/PUU-XII/2014 menyatkan bahwa notaris dan PPAT mempunyai kewenangan masing-masing sesuai dengan peraturan perundangundangan yang sangat tegas membedakan wewenang notaris dan PPAT selaku pejabat umum dalam menyelenggarakan kewenanganya, yang sifatnya permanen dan dalam prinsipnya tidak mengubah sistem hubungan antara kekuasaan dan pertanggujawaban yang telah ada.119

118 Romanda Arif Kurnia, Implementasi Tugas Dan Kewenangan Notaris Dalam Membuat Akta Yang Berkaitan Dengan Pertanahan (Studi di Wilayah KerjaNotarisKabupaten Kendal), Jurnal Akta Vol 5 No 1 Maret 2018, hlm 299

119 Jozan Adolf, Op.Cit, hlm 190

61

Akibat hukum dari akta yang seharusnya dibuat di hadapan PPAT, tetapi karena penerima hak tidak memenuhi syarat mendapatkan suatu hak atas tanah maka akta tersebut harus dibuat dihadapan notaris adalah tetap sah, akan tetapi dalam pembuatan aktanya sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan berpedoman pada UUJN.120 Selain itu ada lagi kewenangan yang dimiliki oleh Notaris yang diberikan oleh Undang-Undang yaitu Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan pada Pasal 15 ayat (1) yang menjelaskan bahwa Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan wajib dibuat dihadapan notaris atau PPAT.

B. Akta Keterangan yang Dibuat Di Hadapan Notaris Berkaitan dengan Pertanahan sebagai Pendukung Bukti Penguasan Atas Tanah

Tanah merupakan benda tidak bergerak yang dapat dimiliki oleh seseorang sehingga sudah sepantasnya hal mengenai tanah diatur dalam suatu undang-undang. Di Indonesia, undang-undang yang mengatur masalah pertanahan adalah UUPA. UUPA merupakan implementasi dari Undang-undang Dasar 1945 yang memberikan kekuasaan kepada negara untuk menguasai bumi, air dan ruang angkasa.121

Seiring dengan berkembangnya tuntutan kebutuhan hidup terhadap tanah, yang terus mengikuti dinamika perkembangan masyarakat sebagai dampak perkembangan di bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya, telah berkembang pula berbagai gagasan atau pemikiran berkenaan dengan

120 Ridodi, Batasan Kewenangan Notaris dan Ppat dalam Membuat Akta yang Berkaitan dengan Tanah, Lambung Mangkurat Law Journal, Vol. 2 No. (1), 2017, hlm. 106

121 Munyati Sullam, Proses Pembuatan Sertipikat Atas Tanah Negara Menjadi Hak Milik Akibat Peralihan Jual Beli Di Kantor Pertanahan Kota Jakarta Barat, Lex Jurnalica Volume 8 Nomor 2, April 2011, 101-102

62

pengelolaan pertanahan dan ruang untuk dapat merespon kebutuhan pembangunan disatu sisi dan sebagai sumber penopang kahidupan masyarakat, disisi lain dengan melibatkan partisipasi masyarakat.

Surat keterangan tanah merupakan alas hak yang banyak dipergunakan di berbagai daerah. Surat keterangan tanah isinya menyatakan bahwa tanah tersebut memang benar milik penjual dan menyatakan tentang letak tanah, batas-batasannya, merupakan tanah pertanian atau perumahan serta tidak dalam

Surat keterangan tanah merupakan alas hak yang banyak dipergunakan di berbagai daerah. Surat keterangan tanah isinya menyatakan bahwa tanah tersebut memang benar milik penjual dan menyatakan tentang letak tanah, batas-batasannya, merupakan tanah pertanian atau perumahan serta tidak dalam