BAB II ASPEK HUKUM MENDASAR MENGENAI
C. Akuisisi, Merger dan Backdoor Lisiting
1. Akuisisi
10 M. Irsan Nasaruddin, Aspek Hukum Pasar Modal Indonesia, (Jakarta : Kencana, 2008), hlm. 216
11 Akuisisi menurut UU No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas Pasal 1 Angka 11 disebut dengan Pengambilalihan.
12 Felix Oentoeng Soebagjo (a), Hukum Tentang Akuisisi Perusahaan di Indonesia, (Jakarta : Pusat Pengkajian Hukum, 2006), hlm. 1-2
5
membuka kemungkinan terjadinya konsolidasi atas suatu laporan keuangan yang dapat memperbaiki kondisi keuangan suatu perusahaan.13
Akuisisi yang terjadi tidak hanya dilakukan oleh perusahaan swasta terhadap perusahaan swasta yang lainnya, tetapi dapat dilakukan oleh perusahaan milik Negara (atau yang dikenal dengan Badan Usaha Milik Negara atau
“BUMN”) yang dilakukan terhadap perusahaan swasta ataupun sebaliknya.
Akuisisi juga dapat dilakukan antar sesama perusahaan yang berada didalam satu naungan grup perusahaan, atau oleh suatu perusahaan yang telah menawarkan sahamnya kepada masyarakat umum (perusahaan yang sudah go public) terhadap perusahaan yang belum melakukan go public ataupun sebaliknya dari perusahaan yang belum go public terhadap perusahaan yang sudah go public.14
Sejalan dengan berbagai upaya yang dilakukan oleh perusahaan untuk melakukan penawaran umum maka berbagai resiko-resiko yang akan muncul jika menjadi perusahaan publik. Salah satu hal yang paling signifikan adalah besarnya biaya yang harus dikeluarkan dalam melakukan penawaran umum. Biaya yang harus dikeluarkan pada saat melakukan penawaran umum tersebut meliputi biaya proses, pelaksanaan dan biaya-biaya yang akan dikeluarkan setelah terjadinya penawaran umum.15 Sehingga atas begitu banyak perusahaan yang ingin melakukan penawaran umum, timbullah cara lain untuk mendapatkan keuntungan di pasar modal sebagaimana perusahaan publik namun tanpa melakukan go public.16
13 Ibid., hlm.3
14 Ibid
15 Asril Sitompul, op.,cit., hlm. 18
16 David N.Feldman, Reverse Mergers : Taking A Company Without an IPO, (New York : Bloomberg Press, 2006), hlm. 7, (Dalam Pratiwi Puspitho Andini, Backdoor Listing sebagai alternatif Go Public, Tesis, (Depok : Fakultas Hukum Universitas Indonesia,2012), hlm. 2)
6
Cara lain yang dapat memberikan keuntungan bagi suatu perusahaan adalah dengan melakukan backdoor listing/ reverse takeover. Hal ini dinilai sangat menguntungkan khususnya bagi perusahaan-perusahaan kecil dan perusahaan yang tidak memenuhi syarat untuk melakukan penawaran umum.
Dengan cara ini suatu perusahaan dapat menjadi perusahaan publik tanpa harus melakukan penawaran umum melalui pengambilalihan perusahaan publik yang telah tercatat di bursa (listed company) yang dilakukan oleh perusahaan tertutup atau yang belum melakukan penawaran umum (go public). Strategi ini disebut juga dengan pencatatan saham lewat pintu belakang. Transaksi yang sering disebut dengan backdoor listing ini melakukan akuisisi atas perusahaan publik, sehingga suatu perusahaan yang belum go public dapat menikmati berbagai keuntungan sebagaimana perusahaan publik tanpa perlu melakukan penawaran umum. Dengan melakukan hal ini maka tentu suatu perusahaan yang belum menjadi perusahaan publik akan mengeluarkan biaya yang jauh lebih rendah, proses yang lebih cepat, tidak banyak menyita manajemen perusahaan, dilusi17 kepemilikan saham dapat diminimalisir, serta tidak diperlukannya penjamin emisi (underwriter).18 Bila dibandingkan dengan perusahaan yang melakukan proses penawaran umum yang sebagaimana mestinya tentunya hal ini sangat berbanding terbalik. Karena didalam penarwaran umum selain memakan waktu yang cukup lama juga membutuhkan biaya yang sangat besar. Sehingga adanya transaksi ini tentunya menjadi angin segar bagi para pelaku usaha yang menginginkan kemudahan untuk menjadi emiten.
17 Dilusi saham adalah penurunan dalam porsi kepemilikan pemegang saham yang sudah ada sebagai hasil dari penerbitan saham baru.
18 Ibid, hlm.23-28
7
Dengan berbagai kesulitan yang ada didalam industri pasar modal (efek) menjadikan transaksi backdoor listing ini mulai dilakukan di Indonesia dengan menjadikan negara lain sebagai acuannya. Akan tetapi, perusahaan-perusahaan non publik yang ingin melakukan transaksi ini tentunya harus menyesuaiakan dengan hukum yang ada di Indonesia. Perkembangan pasar modal di Indonesia tentunya tidak terlepas dari berbagai kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah melalui produk hukumnya yaitu undang-undang yang akan memberikan jaminan kepastian hukum bagi para investor, khususnya para investor di pasar modal.
UU Pasar Modal sebagai produk hukum yang dibuat pemerintah untuk memberikan kepastian hukum didalam pasar modal. Dalam Pasal 3 ayat (1) UU PM menyatakan Badan Pengawas Pasar Modal (selanjutnya disebut BAPEPAM) melakukan pembinaan, pengaturan, dan pengawasan sehari-hari kegiatan Pasar Modal. Kedudukan BAPEPAM di pasar modal saat ini telah beralih kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sehingga OJK merupakan lembaga yang mempunyai kekuasaan kepolisian serta dapat bertindak dan berwenang menggunakan kekuasaan yang bersifat “quasi-judicial”19.
Sejalan dengan perkembangan perekonomian, pada tahun 2011 pemerintah memberlakukan UU No. 21 tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (selanjutnya disebut UU OJK), selanjutnya UU OJK yang memberikan jaminan dan kepastian hukum bagi lembaga jasa keuangan, terutama dampak pengaturan dan struktur pengawasan pada aspek kesehatan sistem lembaga jasa keuangan yang meliputi keselamatan dan kesehatan lembaga jasa keuangan, stabilitas sistemik dan
19 Yang dimaksud dengan Quasi Judicial adalah setengah sah. Maksudnya kedudukan OJK yang bertugas menyelidiki suatu perkara, tetapi OJK bukan pejabat dalam jajaran kehakiman.
8
pengembangan sistem lembaga jasa keuangan. Kehadiran UU OJK untuk mewujudkan “Otoritas Jasa Keuangan” (selanjutnya disebut OJK) yang memiliki fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan didalam sektor jasa keuangan secara terpadu, independen, akuntabel. Disini, OJK mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penyidikan terhadap lembaga jasa keuangan. Seperti, lembaga yang melaksanakan kegiatan disektor Perbankan, Pasar Modal, Perasuransian, Lembaga Jasa Keuangan lainnya.20 Sehingga dengan jelas bahwa OJK menggantikan kedudukan BAPEPAM sebagai pengawas di pasar modal. Hal ini dapat dilihat pada peraturan peralihan UU OJK khususnya pasal 55 yang menyatakan “sejak tanggal 31 Desember 2012 fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan dan pengawasan kegiatan jasa keuangan disektor Pasar Modal dan jasa keuangan non bank seperti Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya beralih dari Menteri Keuangan dan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan ke Otoritas Jasa Keuangan”.
Pasar modal sebagai salah satu elemen penting dalam perkembangan perekonomian tentunya mengalami berbagai permasalahan, salah satunya adalah perilaku para pelaku pasar modal yang senantiasa mengupayakan berbagai kemudahan didalam bertransaksi di pasar modal. Sehingga peran aktif OJK sebagai pengawas di pasar modal sangatlah penting mengingat bahwa perkembangan transaksi yang dilakukan oleh para pelaku pasar dengan
20 Dalam Makalah Pengaturan dan Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan Menurut Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan, Bismar Nasution, hlm.2
9
melakukan transaksi yang belum diatur dalam UUPM maupun UU OJK dimana transaksi tersebut memiliki banyak resiko dan berpengaruh terhadap keputusan investor di pasar modal. Transaksi yang saat ini mulai marak dilakukan di pasar modal adalah backdoor listing, OJK diharapkan mampu memberikan kepastian hukum akan transaksi backdoor listing dan lakukan pengawasan yang diharapkan mampu melindungi investor pasar modal Indonesia.21 Adanya praktik transaksi backdoor listing yang terjadi di pasar modal tentunya memberikan berbagai dampak terhadap keputusan investor untuk berinvestasi dan kepada emiten di pasar modal. Disinilah perlu adanya pengawasan OJK untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif di pasar modal. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dipilih judul : “PENGAWASAN OTORITAS JASA KEUANGAN DALAM MENANGGULANGI TRANSAKSI BACKDOOR LISTING DIPASAR MODAL”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan pengamatan dan uraian yang telah penulis lakukan dari berbagai literatur peraturan perundang-undangan, penulis mengemukakan beberapa permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini sebagai berikut :
1. Bagaimana aspek hukum mendasar mengenai backdoor listing ? 2. Bagaimana transaksi backdoor listing di pasar modal ?
3. Bagaimana pengawasan Otoritas Jasa Keuangan dalam menanggulangi transaksi backdoor listing di pasar modal ?
21 M. Irsan Nasaruddin, op.cit., hlm. 46
10
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan
1. Adapun tujuan dari penulisan ini adalah :
a. Memahami aspek hukum mendasar tentang transaksi backdoor listing.
b. Memberikan gambaran mengenai transaksi backdoor listing yang terjadi di pasar modal.
c. Mengetahui pengawasan Otoritas Jasa Keuangan dalam menanggulangi transaksi backdoor listing di pasar modal.
2. Adapun manfaat dari penulisan ini adalah : a. Manfaat Teoritis
Hasil dari penulisan ini diharapkan memberikan sumbangsih pemikiran yang dapat bermanfaat dalam perkembangan Hukum Ekonomi, khususnya mengenai hukum Pasar Modal di Indonesia.
b. Manfaat Praktis
Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan masukan bagi para pembaca, khususnya para pelaku pasar modal yang ingin melakukan penawaran umum di pasar modal untuk mengetahui bagaimana pengawasan dari Otoritas Jasa Keuangan. Tulisan ini dapat menjadi bahan kajian bagi Otoritas Jasa Keuangan dan pemerintah sebagai pembuat kebijakan agar dapat menjadikan pertimbangan dalam pembuatan regulasi terkait pengawasan Otoritas Jasa Keuangan dalam menanggulangi transaksi backdoor listing di pasar modal.
11
D. Keaslian Penulisan
Penulisan skripsi yang diberikan judul “Pengawasan Otoritas Jasa Keuangan dalam Menanggulangi Transaksi Backdoor Listing di Pasar Modal”
telah penulis lakukan penulusuran terhadap berbagai skripsi yang tercatat diperpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan melalui internet.
Adapun terdapat salah satu penelitian tesis yang terkait dengan transaksi backdoor listing oleh Alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia dengan judul “Backdoor Listing sebagai alternatif Go Public” oleh Pratiwi Pusphito Andini pada tahun 2012, perbedaannya dengan penelitian ini adalah penelitian tersebut mengkaji transaksi backdoor listing sebagai salah satu alternatif untuk go public. Sedangkan penelitian ini berfokus pada pengawasan Otoritas Jasa Keuangan dalam menanggulangi transaksi backdoor listing yang terjadi di pasar modal.
Pada tanggal 2 Juni 2016 telah diperiksa judul : Pengawasan Otoritas Jasa Keuangan dalam Menanggulangi Transaksi Backdoor Listing di Pasar Modal
“tidak ada judul yang sama” pada Arsip Perpustakaan Universitas Sumatera Utara Cabang Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara/Pusat Dokumentasi dan Informasi Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, serta dilakukan pemeriksaan melalui internet untuk membuktikan bahwa judul skripsi ini belum ada di Perpustakaan Universitas Sumatera Utara atau ditempat lainnya.
Apabila ada penelitian yang dilakukan dalam topik dan pembahasan yang sama hal ini diluar dari pengetahuan penulis. Pembahasan yang dibahas dalam skripsi ini adalah hasil dari proses penemuan kebenaran ilmiah, sehingga penelitian ini
12
dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Apabila dikemudian hari ditemukan skripsi yang sama maka dapat diminta pertanggungjawaban.
E. Tinjauan Kepustakaan 1. Otoritas Jasa Keuangan
Otoritas jasa keuangan adalah sebuah lembaga independen yang didirikan oleh pemerintah yang menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan (audit) yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan. Berdasarkan itu, seluruh kegiatan jasa keuangan yang dilakukan oleh berbagai lembaga keuangan untuk tunduk pada sistem pengaturan dan pengawasan OJK.22
Menurut Pasal 1 ayat (1) UU OJK : “ Otoritas Jasa Keuangan, yang selanjutnya disingkat OJK adalah lembaga yang independen dan bebas dari campur tangan pihak lain, yang mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penyelidikan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini”. Dengan melihat fungsi dan tugas dari OJK dapat diketahui bahwa OJK merupakan lembaga yang mempunyai kewenangan dalam melakukan pengawasan didalam sektor jasa keuangan, khususnya pengawasan di pasar modal.
OJK sebagai lembaga yang menggantikan kedudukan BAPEPAM-LK maka seluruh fungsi dan wewenang BAPEPAM-LK menjadi tanggungjawab OJK. Sebagai sebuah lembaga yang mempunyai kewenangan dalam melakukan pembinaan, pengaturan, dan pengawasan sehari-hari di pasar modal untuk
22 Dalam makalah Struktur Regulasi Independensi Otoritas Jasa Keuangan oleh Bismar Nasution, hlm. 4
13
memastikan adanya tranparansi, stabilitas serta dapat memberikan perlindungan konsumen dan masyarakat dalam industri jasa keuangan23.
Kewenangan OJK di pasar modal dapat melakukan tindakan penyelidikan dari segi pidana dan administratif, melakukan gugatan perdata untuk memperoleh kembali harta kekayaan milik dari pihak-pihak/investor yang dirugikan dalam transaksi jasa keuangan, memperoleh ganti rugi dari dari pihak penyedia jasa keuangan yang menyebabkan kerugian kepada investor dan konsumen24, serta mengenakan sanksi dengan pembatasan dan pembekuan kegiatan usaha, pencabutan izin usaha, membatalkan persetujuan dan pendaftaran25.
Dengan adanya UU OJK maka tugas BAPEPAM-LK di pasar modal yang diambil alih oleh OJK dari BAPEPAM-LK sejak terbentuknya UU OJK, diharapkan OJK dapat menjalankan fungsi dan kewenangan BAPEPAM-LK sebagaimana yang diatur didalam UUPM serta memberikan rasa aman dan perlindungan bagi masyarakat, khususnya para pelaku pasar modal.
2. Pasar Modal
Pasar modal atau yang disebut capital market/stock exchange/stock market dalam pengertian klasik diartikan sebagai suatu bidang usaha perdagangan surat-surat berharga seperti saham, sertifikat saham dan obligasi atau efek-efek pada umumnya.26 Sedangkan menurut kamus hukum ekonomi dikatakan27 :
23 Pasal 4 UU OJK
24 Pasal 30 ayat (1) UU OJK
25 Pasal 102 UU PM
26 Najib A. Gisymar, Insider trading dalam transaksi efek, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 1999), hlm. 10
27 A.F.Elly Erawaty dan J.S. Badudu. Kamus Hukum Ekonomi, (Jakarta : Proyek ELIPS, 1996), hlm. 14
14
“Pasar modal diartikan sebagai pasar atau tempat bertemunya penjual dan pembeli yang memperdagangkan surat-surat berharga jangka panjang, misalnya saham dan obligasi”.
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal dalam pasal 1 angka 13 memberi pengertian yaitu :
“Pasar Modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek”.
Sehingga, pasar modal merupakan sebuah tempat memperdagangkan efek yang diterbitkan oleh perusahaan publik yang melibatkan lembaga dan profesi yang terkait dengan efek. Karena pasar modal adalah tempat untuk memperdagangkan efek, maka pasar modal juga disebut dengan Bursa Efek.28
Keberadaan pasar modal mempertemukan pemilik dana (supplier of fund) dengan pengguna dana (user of fund) yang bertujuan untuk investasi jangka menengah (middle-term investment). Kedua pihak melakukan jual beli modal yang berwujud efek. Pemilik dana menyerahkan sejumlah dana dan perushaan terbuka sebagai penerima dana menyerahkan bukti kepemilikan berupa efek.29 Sehingga, secara umum pasar modal mempunyai peran penting bagi perekonomian suatu negara karena pasar modal dapat berfungsi sebagai :
a. Sarana untuk menghimpun dana-dana masyarakat untuk disalurkan ke dalam kegiatan-kegiatan produktif;
28 Tavinayati, op.cit., hlm. 2
29 M. Irsan Nasaruddin, op.cit., hlm. 10
15
b. Sumber pembiayaan yang mudah, murah, dan cepat bagi dunia usaha dan pembangunan nasional;
c. Mendorong terciptanya kesempatan berusaha dan sekaligus menciptakan kesempatan kerja;
d. Mempertinggi efisiensi alokasi sumber produksi;
e. Memperkokoh beroperasinya mechanism financial market dalam menata sistem moneter, karena pasar modal dapat menjadi sarana open market operation sewaktu-waktu diperlukan oleh Bank Sentral;
f. Menekan tingginya bunga suatu rate yang reasonable;
g. Sebagai alternatif investasi bagi para pemodal.30 3. Transaksi Backdoor Listing
Backdoor listing adalah suatu upaya yang dilakukan perusahaan untuk mendapatkan akses ke pasar modal dan bursa dengan segala fasilitasnya secara tidak langsung, tetapi hal ini dilakukan tidak melalui proses penawaran umum (IPO) melainkan melalui perusahaan lain yang sudah tercatat di bursa.31 Undang-Undang tentang pasar modal dan Undang-Undang-Undang-Undang tentang Perseroan Terbatas belum mengatur dan memberikan pengertian yang jelas mengenai backdoor listing. Akan tetapi transaksi ini sudah mulai marak dilakukan di Indonesia yang aturannya mengacu kepada aturan-aturan mengenai akuisisi.
30 Departemen Keuangan Republik Indonesia, Seluk Beluk Pasar Modal, (Jakarta :Departemen Keuangan RI, Tanpa Tahun), hlm. 5
31 Hasan Zein, Backdoor Listing Di Bursa Perlu Segera Diatur, (Bisnis Indonesia tanggal 15 Juli 1997), hlm. 7
16
F. Metode Penelitian 1. Jenis dan Sifat Penelitian
Jenis penelitian ini adalah yuridis normative, yaitu peneliti menelaah bahan hukum baik primer, sekunder, maupun tersier untuk menjawab permasalahan yang menjadi fokus penelitian. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Pendekatan perundang-undangan (statute-approach), yaitu dengan menelaah Peraturan Perundang-undangan32 yang berkaitan dengan pasar modal dan otoritas jasa keuangan.
b. Pendekatan konsep (conseptual approach), yaitu dengan menelaah dan memahami konsep-konsep33 transaksi dan pengawasan di pasar modal.
Penelitian ini bersifat deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan secara tepat mengenai peraturan hukum dalam konteks teori-teori hukum dan pelaksanaannya serta menganalisis fakta secara cermat tentang keadaan yang menjadi fokus penelitian sehingga akan mempertegas hipotesa dan dapat membantu memperkuat teori lama atau membuat teori baru.
2. Jenis Bahan Hukum
Jenis bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini sebagai bahan hukum utama, yakni terdiri dari:
a. Bahan Hukum Primer, yakni berupa peraturan perundang-undangan yang meliputi :
1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
32 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta : Kencana, 2007), hlm. 96
33 Johnny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, (Malang : Bayumedia, 2007), hlm. 391
17
2) Undang-Undang Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal
3) Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas 4) Undang-Undang Nomor 21 tahun 2011 tentang Otoritas Jasa
Keuangan
5) Peraturan BAPEPAM No. X.A.1 tentang Laporan Bursa Efek
6) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1998 tentang Penggabungan, Peleburan, Dan Pengambilalihan Perseroan Terbatas
7) Peraturan Bapepam No. IX.H.1 tentang Pengambilalihan Perusahaan Terbuka
8) Peraturan Nomor VI.A.2 (Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal Nomor KEP-47/PM/1997
9) Peraturan Pencatatan Efek No. I-A. tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas selain Saham yang Diterbitkan oleh Perusahaan Tercatat (Keputusan Direksi PT. Bursa Efek Jakarta No. Kep-305/BEJ/07-2004 tanggal 19 Juli 2004)
b. Bahan Hukum Sekunder, yang meliputi literatur-literatur yang terkait dengan permasalahan yang dikaji yang berasal dari buku-buku, surat kabar, pendapat ahli hukum dari segi kepustakaan, jurnal, tesis, disertasi, presentasi pakar dalam seminar (makalah), dan artikel internet.
c. Bahan Hukum Tersier atau penunjang, berupa kamus yang terdiri dari kamus bahasa Indonesia, kamus hukum, dan data lainnya yang dibutuhkan untuk melengkapi bahan bagi penulis dalam penelitian ini.
3. Teknik Penelusuran Bahan Hukum
Teknik yang digunakan di dalam pengumpulan data adalah library research atau studi kepustakaan. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan landasan dalam menganalisis data – data yang diperoleh dari berbagai sumber yang dapat dipercaya, langsung maupun tidak langsung (internet). Dengan demikian akan diperoleh suatu kesimpulan yang lebih terarah dari pokok bahasan. Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan ini adalah studi dokumen terkait dengan topik penulisan.
18
4. Teknik Analisis Data
Seluruh data yang berhasil dikumpulkan, selanjutnya diinventarisasi, diklasifikasi, dan dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif yang bertujuan untuk menguraikan berbagai permasalahan yang ada. Sehingga didapatkan solusi yang tepat, guna memberikan formulasi baru dalam konsep pengawasan otoritas jasa keuangan dalam menanggulangi transaksi backdoor listing di pasar modal.
Metode deskriptif, yaitu suatu metode yang digunakan untuk mempelajari permasalahan yang ada dalam masyarakat, serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat sehari-hari serta situasi-situasi tertentu.34
Tujuan dari penulisan deskriptif ini adalah untuk membuat gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan yang antar fenomena yang teliti untuk mendapatkan suatu pemecahan. Setelah proses analisis, dilakukan proses sintesis dengan menarik dan menghubungkan rumusan masalah, tujuan penulisan serta pembahasan yang dilakukan. Berikutnya ditarik simpulan yang bersifat umum kemudian direkomendasikan beberapa hal sebagai upaya transfer gagasan.
G. Sistematika Penulisan
Bab I yaitu pendahuluan. Bab ini merupakan bab pendahuluan yang terdiri atas latar belakang mengenai gambaran umum yang menjadi dasar penulisan, perumusan masalah, tujuan dan manfaat dari penulisan, keaslian penulisan, tinjauan pustakaan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
34 Moh Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 2005), hlm. 35
19
Bab II yaitu tentang aspek hukum mendasar mengenai backdoor listing.
Bab ini akan membahas mengenai perseroan, initial public offering (IPO), akuisisi, Merger, dan backdoor listing.
Bab III yaitu tentang transaksi backdoor listing di pasar modal. Bab ini akan membahas mengenai mekanisme transaksi keuangan dalam pasar modal, faktor yang mempengaruhi transaksi backdoor listing di pasar modal, dan keterbukaan perusahaan publik (emiten) di pasar modal.
Bab IV yaitu pengawasan otoritas jasa keuangan dalam menanggulangi transaksi backdoor listing di pasar modal. Bab ini akan membahas mengenai fungsi dan tugas otoritas jasa keuangan, kewenangan otoritas jasa keuangan dalam praktik transaksi backdoor listing di pasar modal, dan pengawasan serta bentuk tindakan otoritas jasa keuangan dalam sengketa yang terjadi dalam transaksi backdoor listing menurut UU No. 21 tahun 2011 tentang otoritas jasa keuangan.
Bab V yaitu penutup. Bab ini merupakan bab terakhir, yang berisikan kesimpulan yang merupakan intisari dan saran-saran dari penulis yang dibuat sebagai masukan mengenai masalah yang termuat dalam penulisan ini.
BAB II
ASPEK HUKUM MENDASAR MENGENAI BACKDOOR LISTING
A. Tinjauan Umum mengenai Perseroan 1. Pengertian Perseroan Terbatas
Perseroan adalah suatu bentuk usaha yang berbadan hukum yang pada awalnya dikenal dengan nama naamloze vennootschap (NV). Istilah “terbatas” di dalam perseroan terbatas tertuju pada tanggung jawab pemegang saham yang hanya terbatas pada nilai nominal dan semua saham yang dimilikinya. Pada awalnya, perseroan terbatas diatur didalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD), kemudian diganti dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 yang seiring dengan perkembangan zaman undang-undang ini kemudian dicabut dan diganti dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan terbatas (selanjutnya disebut UUPT).35
Persereoan terbatas atau yang sering juga disebut Limited Liability Company merupakan bentuk yang paling popular dari semua bentuk usaha bisnis. Secara
Persereoan terbatas atau yang sering juga disebut Limited Liability Company merupakan bentuk yang paling popular dari semua bentuk usaha bisnis. Secara