• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Analisis Implementasi Good Corporate Governance

2. Akuntabilitas (accountability)

pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif dan ekonomis; 3) Pertanggungjawaban (responsibility), yaitu kesesuaian pengelolaan

perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip koporasi yang sehat;

4) Kemandirian (independence), yaitu suatu keadaan di mana perusahaan dikelola secara profesional tanpa konflik kepentingan dan pengaruh atau tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat;

5) Kewajaran (fairness), yaitu keadilan dan kesetaraan dalam memenuhi hak-hak pemangku kepentingan yang timbul sebagai akibat dari perjanjian dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Berikut ini adalah manfaat yang bisa dipetik dengan diterapkannya prinsip-prinsip GCG di BUMN.

1) Dapat meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses pengambilan keputusan yang lebih baik, meningkatkan efisiensi operasional perusahaan serta lebih meningkatkan pelayanan kepada pemangku kepentingan.

2) Mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah dan tidak rigit (karena faktor kepercayaan) yang pada akhirnya akan meningkatkan nilai perusahaan (corporate value).

3) Khusus untuk BUMN yang telah go public, dengan diterapkannya prinsip-prinsip GCG dapat meningkatkan minat investor untuk membeli saham BUMN tersebut.

C. Implementasi Good Corporate Governance 1. Implementasi Prinsip GCG

Implementasi prinsip transparansi (transparency), akuntabilitas

(accountability), pertanggungjawaban (responsibility), kemandirian

(independence), dan kewajaran (fairness) di dalam perusahaan, seharusnya

dijadikan sebagai pedoman ataupun acuan para pelaku usaha (bisnis) dalam menjalankan kegiatan usahanya. Perusahaan yang telah menerapkan prinsip-prinsip GCG dengan baik akan mampu memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi terhadap segala aktivitas bisnis yang dijalankannya dalam menghadapi persaingan usaha.

Dengan implementasi prinsip GCG, sebuah perusahaan akan memperlakukan para pesaingnya sebagai mitra bisnis yang setara, sehingga dapat tercapai win-win solution. Artinya, dalam menjalankan bisnis, kedua belah pihak akan mengutamakan prinsip saling menguntungkan, bukan

win-loss, yaitu salah satu perusahaan diuntungkan dan yang lain dirugikan.

Selain itu, implementasi prinsip-prinsip GCG di perusahaan diharapkan dapat membantu terwujudnya persaingan usaha yang sehat dan kondusif. 2. Manfaat Implementasi GCG

Pengelolaan SDM berdasarkan prinsip GCG memerlukan komitmen penuh dari top management dan konsistensi dalam implementasi di setiap jenjang organisasi. Menurut Effendi (2009), empat manfaat yang dapat diperoleh perusahaan yang mengelola SDM berdasarkan prinsip GCG adalah sebagai berikut:

a. Suasana kerja menjadi kondusif dan tenang karena terbina hubungan yang harmonis antara sesama karyawan serta antara karyawan dengan manajemen.

b. Kinerja perusahaan meningkat, karena karyawan lebih kreatif dan inovatif dalam bekerja, sehingga dapat memberikan hasil terbaik bagi perusahaan.

c. Terhindar dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang sangat merugikan perusahaan karena segala kebijakan atau keputusan ditetapkan secara transparan, dapat dipertanggungjawabkan, serta memenuhi prinsip keadilan (fairness).

d. Daya saing perusahaan akan meningkat, karena memiliki karyawan yang andal dan profesional.

Implementasi GCG di Indonesia sangat terlambat jika dibandingkan dengan negara-negara lain, mengingat masuknya konsep GCG di Indonesia relatif masih baru.

Pada April 2001, Komite Nasional Indonesia untuk kebijakan Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance Policies) mengeluarkan The

Indonesian Code For Good Corporate Governance (Kode Tata Kelola

Perusahaan yang Baik) bagi masyarakat bisnis Indonesia. Dalam Indonesian

Code for Good Corporate Governance tersebut dimuat hal-hal yang

a. Pemegang saham dan hak mereka; b. Fungsi dewan komisaris perusahaan; c. Fungsi direksi perusahaan;

d. Sistem audit;

e. Sekertaris perusahaan;

f. Pemangku kepentingan (stakeholders);

g. Prinsip pengungkapan informasi perusahaan secara transparan; h. Prinsip kerahasiaan;

i. Etika bisnis dan korupsi;

j. Perlindungan terhadap lingkungan hidup.

Pada tahap pertama, ketentuan tentang tata kelola perusahaan yang baik

(good corporate governance) tersebut (terutama) ditujukan bagi

perusahaan-perusahaan publik, badan usaha milik negara, dan perusahaan-perusahaan-perusahaan-perusahaan yang mempergunakan dana publik atau ikut serta dalam pengelolaan dana publik.

D. Kualitas Pelayanan 1. Pengertian Pelayanan

Menurut Algifari (2016), pelayanan adalah suatu bentuk layanan yang diselenggarakan oleh penyedia layanan (produsen atau instansi pemerintah) kepada pengguna layanan tersebut. Layanan dapat berupa barang yang dihasilkan dari suatu proses produksi atau dapat pula berupa pelayanan yang ditawarkan.

2. Dimensi Kualitas Pelayanan

Samapara (1999:14) dalam Hardiyansyah (2011:35) Mengemukakan bahwa kualitas pelayanan adalah pelayanan yang diberikan kepada pelanggan sesuai dengan standar pelayanan yang telah dibakukan sebagai pedoman dalam memberikan layanan. Menurut Tjiptono (1997:14) dalam Hardiyansyah (2011:53) dimensi atau ukuran kualitas yaitu:

a. Bukti langsung (tangibles), meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai, dan sarana komunikasi.

b. Keandalan (reliability), yakni kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera, akurat, dan memuaskan.

c. Daya tanggap (responsiveness), yaitu keinginan para staf untuk membantu para pelanggan dan memberikan pelayanan dengan tanggap.

d. Jaminan (assurance), mencakup pengetahuan, kemampuan, kesopanan, dan dapat dipercaya yang dimiliki para staf; bebas dari bahaya, resiko atau keragu-raguan.

e. Empati, meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan komunikasi yang baik, perhatian pribadi, dan memahami kebutuhan para pelanggan.

Menurut Parasuraman dalam Algifari (2016: 2) menyatakan bahwa terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi kualitas layanan, yaitu pelayanan yang diharapkan (expected service) dan pelayanan yang diterima oleh pengguna (perceived service). Apabila pelayanan yang diterima atau

yang dirasakan (perceived service) sesuai dengan pelayanan yang diharapkan, maka kualitas layanan dipersepsikan sebagai kualitas yang ideal. Sebaliknya jika pelayanan yang diterima lebih rendah daripada pelayanan yang diharapkan, maka kualitas layanan dipersepsikan buruk. Dengan demikian, baik tidaknya kualitas layanan tergantung pada kemampuan penyelenggara pelayanan dalam memenuhi harapan konsumennya secara konsisten.

E. Implementasi GCG dalam Meningkatkan Kualitas Pelayanan

Penelitian yang relevan dan dapat dijadikan dasar dalam penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Kurniati (2008), mahasiswi Institut Pertanian Bogor, dengan judul “ Analisis Pengaruh Pelaksanaan Good

Corporate Governance Terhadap Kualitas Pelayanan Pemberian Kredit (Studi

Kasus: PT Bank Lampung, Lampung)”. Penelitian tersebut bertujuan untuk (1) menganalisis pelaksanaan Good Corporate Governance yang diterapkan pada PT Bank Lampung, (2) Menganalisis kualitas pelayanan pemberian kredit pada PT Bank Lampung dan (3) Menganalisis pengaruh pelaksanaan Good

Corporate Governance terhadap kualitas Pelayanan pemberian kredit pada PT

Bank Lampung.

Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari pengamatan langsung di lapangan, hasil wawancara dan penyebaran kuesioner. Data sekunder diperoleh dari studi pustaka, internet, literatur dan laporan perusahaan. Dari hasil penelitian, dengan adanya kerjasama, koordinasi antar pegawai dan saling melengkapi atau membantu

menjadi salah satu faktor pendukung implementasi GCG dalam meningkatkan kualitas pelayanan. Inti dari diimplementasikannya GCG adalah agar pihak-pihak yang berperan dalam menjalankan perusahaan dapat memahami dan menjalankan peran sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab yang didukung oleh semangat karyawan yang tinggi dalam melaksanakan tugasnya yang tetap sesuai dengan Peraturan Undang-Undang Telekomunikasi. Pegawai Telkom juga dituntut untuk memberikan pelayanan yang ramah dengan unsur memiliki pengetahuan, sopan dan cepat tanggap untuk meningkatkan kualitas pelayanan sebab peningkatan pelayanan merupakan hal yang penting bagi kemajuan perusahaan.

25 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat kualitatif. Pada pendekatan kualitatif, data bersifat deskriptif, maksudnya data dapat berupa gejala-gejala yang dikategorikan ataupun dalam bentuk lainnya, seperti foto, dokumen, artefak, dan catatan-catatan lapangan pada saat penelitian dilakukan. (Sarwono, 2011)

B. Tempat dan waktu penelitian 1. Tempat penelitian

Dalam penelitian ini ada 4 lokasi yang digunakan yaitu kantor pusat PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko yang terletak di Jalan Raya Jogya – Solo Km 16 Prambanan Sleman, Yogyakarta; Candi Borobudur yang terletak di Jl. Badrawati, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah; Candi Prambanan yang terletak di Jalan Raya Jogya – Solo Km 16 Prambanan Sleman, Yogyakarta dan Candi Ratu Boko yang terletak di Bokoharjo, Kec. Prambanan, Kabupaten Sleman, DIY.

2. Waktu penelitian

Penelitian ini dimulai dari penyusunan proposal sampai penulisan penelitian yang direncanakan dari bulan November 2017 sampai dengan Mei 2018.

C. Subjek dan Objek Penelitian 1. Subjek penelitian

Subjek penelitian ini adalah pengunjung objek wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko; karyawan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (Persero), karyawan objek wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, dan salah satu anggota tim GCG yaitu Bapak Prima Bagus Indarjaya S.H, M.Hum.

Subjek penelitian dipilih dengan teknik penarikan sampel yaitu

convenience atau opportunity sampling. Dalam Sarwono (2011: 81)

dijelaskan bahwa convenience atau opportunity sampling yaitu memilih unit-unit analisis yang dianggap sesuai oleh peneliti. Dalam penelitian poin-poin sampel dari kerangka sampling dilakukan secara tidak terstruktur dan arbiter. Teknik ini digunakan pada situasi-situasi praktir tertentu. Pemilihan sampel didasarkan pada kemudahan akses, misalnya teman, teman kerja, para pengunjung mall pada saat belanja, dan sebagainya.

2. Objek Penelitian

Objek penelitian ini adalah informasi yang terkait dengan Good

Corporate Governance PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan

dan Ratu Boko (Persero) dan kualitas pelayanan objek wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko.

D. Teknik Pengumpulan Data 1. Kuesioner

Teknik dalam pengumpulan data primer adalah menggunakan kuesioner yang berisi pertanyaan yang akan dijawab oleh responden. Dari pertanyaan dalam kuesioner tersebut akan didapatkan data mengenai tanggapan pengunjung tentang kualitas pelayanan di objek wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, serta penilaian karyawan dan pengunjung terhadap GCG yang dilakukan oleh perusahaan. Jenis kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup, dalam arti alternatif jawaban sudah tersedia, dimana responden hanya memilih jawaban yang telah disediakan. Akan ada 2 kuesioner yang dibagikan karena akan menjawab 2 variabel yang berbeda dan daftar pernyataan pada kuesioner dapat dilihat pada Lampiran.

Responden yang akan dilibatkan dalam penelitian mengenai GCG yaitu karyawan dan pengunjung. Total karyawan yang ada di PT TWC, candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko adalah 1.170 orang yang terdiri dari pegawai organik, koperasi, outsourching, dan pegawai kontrak kantor. Rata-rata jumlah pengunjung per harinya yang ada di candi Borobudur sebanyak 6.000 pengunjung.

(

Prambanan sebanyak 5.000 pengunjung dan candi Ratu Boko sebanyak 650

pengunjung.(https://slemankab.bps.go.id/statictable/2017/11/15/242/jumla

h-pengunjung-wisata-candi-menurut-candi-wisatawan-asing-dan-domestik-per-bulan-di-kabupaten-sleman-2016.html, diakses pada tanggal

23 Agustus 2018). Dalam Arikunto (2009:94), mengatakan bahwa jika peneliti mempunyai beberapa ratus subjek dalam populasi, maka mereka dapat menentukan kurang lebih 25%-30% dari jumlah subjek tersebut. Jumlah karyawan yang akan diteliti adalah 25% dari 1.170 yaitu 292 orang. Jumlah pengunjung yang akan diteliti:

Candi Borobudur: 6000 x 25% = 1.500 Candi Prambanan: 5000 x 25% = 1.250 Candi Ratu Boko: 650 x 25% = 162

Dalam Arikunto (2009:94), mengatakan bahwa tiga puluh atau kurang bisa dikatakan sebagai sampel kecil sedangkan lebih besar dari tiga puluh merupakan sampel besar. Berdasarkan pernyataan tersebut, peneliti menggunakan sampel kecil sehingga hanya menyebarkan kuesioner kepada 60 orang pengunjung candi yang akan disebarkan ke 3 candi sehingga masing-masing candi 20 pengunjung dan 50 orang karyawan yang akan disebar ke beberapa tempat diantaranya kantor pusat 10 orang, unit teater dan pentas seni 10 orang, unit Borobudur 10 orang, unit Prambanan 10 orang dan unit Ratu Boko 10 orang.

Teknik dalam pengumpulan data primer adalah dengan wawancara yang dilakukan ke bagian timm GCG yang ada di PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (Persero) mengenai implementasi GCG. Daftar pertanyaan pada wawancara dapat dilihat pada Lampiran. E. Variabel Penelitian

1. Variabel implementasi prinsip-prinsip Good Corporate Governance. Variabel ini akan diukur dengan dua metode yaitu wawancara dan kuesioner. Materi kuesioner meliputi pernyataan yang berhubungan dengan Good Corporate Governance yang dilakukan oleh perusahaan. Daftar pernyataan pada kuesioner dan wawancara dapat dilihat pada Lampiran. Jawaban responden terhadap kuesioner dinilai dengan menggunakan skala Likert, dimana:

Bobot nilai 1 = sangat tidak baik Bobot nilai 2 = tidak baik Bobot nilai 3 = cukup baik Bobot nilai 4 = baik

Bobot nilai 5 = sangat baik.

2. Variabel penilaian tentang kualitas pelayanan di objek wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko.

Variabel ini akan diukur dengan menggunakan teknik pengumpulan data berupa kuesioner. Materi kuesioner meliputi pernyataan yang berhubungan dengan kualitas pelayanan yang dilakukan oleh perusahaan kepada pengunjung. Daftar pernyataan pada kuesioner dan wawancara dapat dilihat pada Lampiran. Jawaban responden terhadap kuesioner dinilai dengan menggunakan skala Likert, dimana:

STS = sangat tidak setuju TS = tidak setuju

AS = agak setuju S = setuju

SS = sangat setuju

F. Teknik Analisis Data

1. Variabel implementasi prinsip-prinsip Good Corporate Governance. a. Melakukan observasi lapangan dan membagikan kuesioner kepada

responden.

b. Melakukan wawancara kepada salah satu tim GCG yang ada di PT TWC Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (Persero).

c. Menghitung skor dari setiap item pertanyaan yang disediakan dalam bentuk kuesioner, untuk menjawab pertanyaan apakah perusahaan menerapkan prinsip GCG dalam pengelolaannya.

Rumus yang digunakan: Keterangan: ∑ 𝑥 = Rata-rata (mean) 𝑥̅ = Jumlah nilai N = Jumlah subjek Sumber: Partino (2009:60)

Untuk mengetahui penilaian karyawan dan pengunjung terhadap implementasi GCG, dapat ditunjukkan dengan memasukkan nilai rata-rata yang diperoleh dengan interval dibawah ini dengan dasar skala likert: i = 𝑥̅ =∑ 𝑥 𝑁 Rentang (R) Banyak kelas (b) 5 − 1 1

=

= 0.8

Rumus untuk mencari R: R = Xt - Xr

Keterangan : R = Rentang

Xt = Data (skor, nilai) terbesar Xr = Data (skor, nilai) terendah Sumber: Partino (2009,21)

Berdasarkan uraian tersebut agar hasil penelitian akhir berupa pernyataan kualitatif, besarnya skor dijadikan dasar bagi penentuan predikat (Arikunto, 2009).

Untuk penentuan sekor bagi setiap kategori tiap-tiap aspek adalah sebagai berikut:

Kategori “Sangat Baik” : sekor 13-15 Kategori “Baik” : sekor 10-12 Kategori “Cukup” : sekor 7-9 Kategori “Kurang” : sekor 4-6 Kategori “Sangat Kurang” : sekor 0-3

Peneliti mengadopsi model yang dikemukakan oleh Arikunto (2009) sebagai indikator penilaian untuk menarik simpulan dari hasil kuesioner.

Model yang diadopsi peneliti sebagai berikut:

Kategori “Sangat Tidak Baik” : 1,00 – 1,80 Kategori “Tidak Baik” : >1,80 – 2,60 Kategori “Cukup Baik : >2,60 – 3,40 Kategori “Baik” : >3,40 – 4,20 Kategori “Sangat Baik” : >4,20 – 5,00

d. Menganalisis data GCG yang didapat dari pengelola PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (Persero) melalui kuesioner dengan cara melihat jumlah skor yang didapatkan dan apakah jawaban yang diberikan sudah mendekati penerapan GCG yang tujuannya untuk mengetahui apakah prinsip-prinsip GCG sudah diimplementasikan sesuai dengan Pasal 3 Peraturan Menteri Negara BUMN No. PER-01/MBU/2011 tanggal 1 Agustus 2011 tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate

Governance) pada BUMN.

e. Informasi yang didapatkan dari wawancara akan dinarasikan untuk melihat apakah objek wisata sudah menerapkan prinsip GCG dalam menjalankan usahanya dan setelah diterapkannya GCG apakah berdampak pada peningkatkan kualitas pelayanan.

f. Menarik kesimpulan apakah GCG yang diterapkan di dalam perusahaan sudah dijalankan sesuai dengan peraturan yang ada yaitu jika objek wisata menjalankan prinsip transparansi (transparency), akuntabilitas (accountability), pertanggungjawaban (responsibility), kemandirian (independence), dan kewajaran (fairness) di dalam objek wisata dan apakah dengan dijalankannya prinsip tersebut akan berpengaruh dalam meningkatkan kualitas pelayanan.

2. Variabel peningkatan kualitas pelayanan di objek wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko.

a. Melakukan observasi lapangan dan membagikan kuesioner kepada responden

b. Menghitung skor dari setiap item pertanyaan yang disediakan dalam bentuk kuesioner, untuk menjawab pertayaan mengenai kualitas pelayanan yang dilakukan oleh objek wisata.

Rumus yang digunakan: Keterangan: 𝑥̅ = Rata-rata (mean) = Jumlah nilai N = Jumlah subjek Sumber: Partino (2009:60)

Untuk mengetahui penilaian pengunjung terhadap kualitas pelayanan, dapat ditunjukkan dengan memasukkan nilai rata-rata yang diperoleh dengan interval dibawah ini dengan dasar skala likert: i =

= = 0.8

Rumus untuk mencari R: R = Xt - Xr

Keterangan : R = Rentang

Xt = Data (skor, nilai) terbesar Xr = Data (skor, nilai) terendah Sumber: Partino (2009,21) 𝑥̅ =∑ 𝑥 𝑁 ∑ 𝑥 Rentang (R) Banyak kelas (b) 5 − 1 1

Berdasarkan uraian tersebut agar hasil penelitian akhir berupa pernyataan kualitatif, besarnya skor dijadikan dasar bagi penentuan predikat (Arikunto, 2009).

Untuk penentuan sekor bagi setiap kategori tiap-tiap aspek adalah sebagai berikut.

Kategori “Sangat Baik” : sekor 13-15 Kategori “Baik” : sekor 10-12 Kategori “Cukup” : sekor 7-9 Kategori “Kurang” : sekor 4-6 Kategori “Sangat Kurang” : sekor 0-3

Peneliti mengadopsi model yang dikemukakan oleh Arikunto (2009) sebagai indikator penilaian untuk menarik simpulan dari hasil kuesioner.

Model yang diadopsi peneliti sebagai berikut.

Kategori “Kualitas Pelayanan Sangat Rendah” : 1,00 – 1,80 Kategori “Kualitas Pelayanan Rendah” : >1,80 – 2,60 Kategori “Kualitas Pelayanan Cukup Baik : >2,60 – 3,40 Kategori “Kualitas Pelayanan Baik” : >3,40 – 4,20 Kategori “Kualitas Pelayanan Sangat Baik” : >4,20 – 5,00

c. Jumlah dari skor kuesioner yang dihitung akan dianalisis, semakin tinggi skor yang didapatkan memiliki arti bahwa kualitas pelayanan yang disediakan juga akan semakin baik.

d. Menarik kesimpulan apakah kualitas pelayanan yang dilakukan sudah sesuai dengan ukuran kualitas yaitu bukti langsung (tangibles), keandalan (reliability), daya tanggap (responsiveness), jaminan

(assurance), dan empati, jika sesuai maka kualitas pelayanan di objek

36 BAB IV

GAMBARAN UMUM PT TAMAN WISATA CANDI BOROBUDUR, PRAMBANAN DAN RATU BOKO (PERSERO)

A. Sejarah Pembangunan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (Persero)

PT TWC Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (Persero) adalah salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang pariwisata. Nama BUMN ini lebih sering disingkat menjadi PT Taman. Sesuai dengan namanya, BUMN ini mengelola pariwisata di tiga kawasan destinasi wisata yaitu Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, Candi Prambanan dan Komplek Ratu Boko di Sleman, Yogyakarta. PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero) berdiri dengan nama PT Taman Wisata Candi Borobudur & Prambanan, dengan Akta Notaris Soeleman Ardjasasmita, SH Nomor: 19 tanggal 15 Juli 1980 beserta perubahan-perubahannya.

Dengan keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 1 tahun 1992 tentang Pengelolaan Taman Wisata Candi Borobudur dan Prambanan serta Pengendalian Lingkungannya, kepada PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero) diberi kewenangan penuh untuk mengelola Taman Wisata dimaksud.

Dalam perkembangannya, dengan masuknya kawasan Ratu Boko menjadi bagian dari “Taman Wisata”, maka nama Perusahaan ini menjadi PT

Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero) sesuai Akta Notaris Soekeimi, SH Nomor: 123 tanggal 31 Desember 1997.

BUMN ini merupakan salah satu BUMN yang komposisi kepemilikan sahamnya 100% milik Pemerintah Republik Indonesia.

https://id.wikipedia.org/wiki/TWC_Borobudur,_Prambanan_dan_Ratu_ Boko (diakses 23 Maret 2018)

Borobudur adalah sebuah candiBuddha yang terletak

di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Candi ini berlokasi di

kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi berbentuk stupa ini didirikan oleh para penganut agamaBuddha

Mahayana sekitar abad ke-8 masehi pada masa

pemerintahan wangsaSyailendra. Borobudur adalah candi atau kuil Buddha terbesar di dunia, sekaligus salah satu monumen Buddha terbesar di dunia.

https://id.wikipedia.org/wiki/Borobudur (diakses 23 Maret 2018)

Candi Prambanan atau Candi Roro Jonggrang adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 masehi. Candi ini dipersembahkan untuk Trimurti, tiga dewa utama Hindu yaitu Brahma sebagai dewa pencipta, Wishnu sebagai dewa pemelihara, dan Siwa sebagai dewa pemusnah. Berdasarkan prasasti Siwagrha nama asli kompleks candi ini adalah Siwagrha (bahasa Sanskerta yang bermakna 'Rumah Siwa'), dan memang di garbagriha (ruang utama) candi ini

bersemayam arca Siwa Mahadewa setinggi tiga meter yang menujukkan bahwa di candi ini dewa Siwa lebih diutamakan.

https://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Prambanan (diakses 23 Maret 2018)

Situs Ratu Baka atau Candi Boko (bahasa Jawa: Candhi Ratu Baka), Nama "Ratu Baka" berasal dari legenda masyarakat setempat. Ratu Baka

(bahasa Jawa, arti harafiah: "raja bangau") adalah ayah dari Loro Jonggrang,

yang juga menjadi nama candi utama pada kompleks Candi Prambanan. Kompleks bangunan ini dikaitkan dengan legenda rakyat setempat Loro Jonggrang. https://id.wikipedia.org/wiki/Situs_Ratu_Baka (diakses 23 Maret 2018)

Situs ini menampilkan atribut sebagai tempat berkegiatan atau situs permukiman, namun fungsi tepatnya belum diketahui dengan jelas. Ratu Boko diperkirakan sudah dipergunakan orang pada abad ke-8 pada masa

Wangsa Sailendra (Rakai Panangkaran) dari Kerajaan Medang (Mataram

Hindu). Dilihat dari pola peletakan sisa-sisa bangunan, diduga kuat situs ini merupakan bekas keraton (istana raja). Pendapat ini berdasarkan pada kenyataan bahwa kompleks ini bukan candi atau bangunan dengan sifat religius, melainkan sebuah istana berbenteng dengan bukti adanya sisa dinding benteng dan parit kering sebagai struktur pertahanan. Sisa-sisa permukiman penduduk juga ditemukan di sekitar lokasi situs ini. Secara administratif, situs ini berada di wilayah dua Dukuh, yakni Dukuh Dawung,

Desa Bokoharjo dan Dukuh Sumberwatu, Desa Sambireja, Kecamatan

Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Indonesia.

B. Unit Usaha PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero)

1. Unit Taman Wisata Candi Borobudur di Borobudur, Kabupaten Magelang.

2. Unit Taman Wisata Candi Prambanan yang berkedudukan di Kabupaten Klaten.

3. Unit Teater dan Pentas yang berkedudukan di Prambanan, Kabupaten Sleman.

4. Unit Taman Wisata Candi Ratu Boko yang berkedudukan di kabupaten Sleman.

Tugas pokok PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero) adalah untuk meningkatkan nilai tambah taman wisata, dengan cara mengelola dan mengembangkan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero) serta teater dengan melandaskan pada 4 (empat) aspek pokok pengelolaan yang meliputi:

1. Aspek ekonomi yaitu usaha yang menguntungkan agar dapat mendirikan taman di dalam usaha melestarikan warisan budaya bangsa yang berupa candi dengan mengelola taman dan candi-candi sekitarnya.

2. Aspek sosial yaitu melakukan usaha yang dapat membuka kesempatan kerja pada masyarakat sekitarnya.

Dokumen terkait