• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Akuntansi Sektor Publik dan Basis Akuntansi

a. Definisi Akuntansi Sektor Publik

Kebutuhan akan informasi yang akurat berguna untuk mengambil keputusan yang tepat, hal inilah yang mendorong lahirnya akuntansi. Definisi Akuntansi menurut Kementerian Keuangan Republik Indonesia (Kemenkeu) dalam Dasar-dasar akuntansi (2012:4) dapat dilihat dari dua sudut pandang yaitu:

1) Fungsi dan Kegunaan

Akuntansi merupakan aktivitas jasa yang berfungsi memberikan informasi kuantitatif mengenai kesatuan-kesatuan ekonomi terutama yang bersifat keuangan yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan.

2) Proses Kegiatan

Akuntansi adalah proses kegiatan mencatat, mengklasifikasi dan mengikhtisarkan transaksi-transaksi kejadian yang sekurang-kurangnya atau sebagian bersifat keuangan dengan cara menginterpretasikan hasil-hasilnya.

Dari dua sudut pandang diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa akuntansi berperan untuk menghasilkan informasi kemudian digunakan untuk bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan oleh entitas ekonomi. Entitas adalah satuan yang dapat diartikan sebagai satuan organisasi. Contoh satuan organisasi

22

ini adalah organisasi swasta dan organisasi sektor publik. Oleh karena itu akuntansi juga dapat digunakan di sektor publik sehingga lahirlah akuntansi sektor publik.

Bastian (2009:6) mengatakan “Akuntansi sektor publik adalah mekanisme teknik dan analisis akuntansi yang diterapkan pada pengelolaan dana masyarakat di lembaga – lembaga tinggi Negara dan departemen – departemen di bawahnya, pemerintah daerah, BUMN, LSM dan yayasan sosial, maupun pada proyek – proyek kerjasama sektor publik dan swasta.”

b. Tujuan Akuntansi Sektor Publik

Menurut American Accounting Association dalam Mardiasmo (2012:14) menjelaskan tujuan akuntansi sektor publik adalah :

1) Memberikan informasi yang diperlukan untuk mengelola secara tepat, efisien dan ekonomis atas suatu operasi dan alokasi sumber daya yang dipercayakan kepada organisasi. Tujuan ini terkait dengan pengendalian manajemen (management control)

2) Memberikan informasi yang memungkinkan bagi manajer untuk melakukan pelaksanaan tanggung jawab mengelola secara tepat dan efektif program dan penggunaan sumber daya yang menjadi wewenangnya dan memungkinkan bagi pegawai pemerintah untuk melaporkan kepada publik atas hasil operasi pemerintah dan penggunaan dana publik. Tujuan ini terkait dengan akuntabilitas (accountability)

Akuntansi sektor publik terkait dengan tiga hal pokok yaitu penyediaan informasi, pengendalian manajemen dan akuntabilitas. Informasi akuntansi

23

bermanfaat untuk pengambilan keputusan, terutama untuk membantu manajer dalam melakukan alokasi sumber daya. Dengan informasi akuntansi, pemerintah dapat menentukan biaya pelayanan (cost of services) yang diberikan kepada publik dan menetapkan biaya standar. Bagi pemerintah, informasi akuntansi digunakan dalam proses pengendalian manajemen mulai dari perencanaan strategik, pembuatan program, penganggaran, evaluasi kinerja dan pelaporan kinerja. Pada tahap akhir dari proses pengendalian manajemen, akuntansi dibutuhkan untuk menjadi bagian penting dari proses akuntabilitas publik yang nantinya menghasilkan laporan keuangan.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa akuntansi sektor publik bertujuan untuk menggambarkan atau memberikan informasi kegiatan ekonomi sektor publik yang kemudian dijadikan alat pertanggunggungjawabkan dan pengawasan. Akuntansi sektor publik memiliki fungsi untuk menyediakan informasi dalam rangka mendukung keputusan manajerial agar organisasi sektor publik dapat berjalan efisien dan efektif.

2. Basis Akuntansi

Untuk menentukan kapan suatu transaksi dicatat, digunakan basis/dasar pencatatan. Partono dalam Halim dan Syam (2011:52) menjelaskan basis akuntansi adalah himpunan dan standar – standar akuntansi yang menetapkan kapan dampak keuangan dari transaksi – transaksi dan peristiwa – peristiwa lainnya harus diakui untuk tujuan pelaporan keuangan. Basis – basis tersebut berkaitan dengan penetapan waktu (timing) atas pengukuran yang dilakukan, terlepas dari sifat pengukuran tersebut.

24

Terdapat dua basis pencatatan utama, yakni basis kas (cash basis) dan basis akrual (accrual basis). Di antara kedua basis tersebut terdapat dua basis lain, yakni basis kas modifikasian (modified cash basis) dan basis akrual modifikasian (modified accrual basis). Basis modifikasi ini biasanya digunakan dalam transisi dari kas menjadi akrual.

Organisasi bisnis menggunakan basis akrual, begitu pula organisasi pemerintah yang melakukan aktivitas bisnis (misalnya BUMN/BUMD), sementara sebagian besar organisasi pemerintah menggunakan basis kas. Untuk penggunaan di organisasi pemerintah, basis kas dan basis akrual dapat dimodifikasi. Pada dua dekade terakhir terjadi pergeseran basis akuntansi dan anggaran, dari basis kas ke basis akrual dan penggunaan anggaran berbasis kinerja di seluruh pemerintahan. Menurut Vonck dalam Pusat Pendidikan dan Pelatihan Badan Pemeriksa Keuangan (2010:46) pergeseran ini merupakan suatu langkah maju menuju pada konteks yang lebih luas dari reformasi pengelolaan keuangan sektor publik.

a. Basis Akuntansi Akrual

Bastian (2009:123) menjelaskan akuntansi akrual mengakui dan mencatat transaksi dan kejadian keuangan pada saat terjadi atau pada saat perolehan.

Elemen dasar akrual ini adalah aktiva, kewajiban, net worth, pendapatan dan biaya. Akuntansi dasar akrual berfokus pengukuran sumber daya ekonomis dan perubahan sumber daya pada suatu entitas. Sedangkan Komite Standar Akuntansi Pemerintah Indonesia (2006:3) menjelaskan Akuntansi berbasis akrual adalah suatu basis akuntansi di mana transaksi ekonomi dan peristiwa lainnya diakui, dicatat, dan disajikan dalam laporan keuangan pada saat terjadinya transaksi

25

tersebut, tanpa memperhatikan waktu kas atau setara kas diterima atau dibayarkan. Dalam akuntansi berbasis akrual, waktu pencatatan (recording) sesuai dengan saat terjadinya arus sumber daya, sehingga dapat menyediakan informasi yang paling komprehensif karena seluruh arus sumber daya dicatat.

Sementara itu akuntansi akrual didefinisikan Khan dan Mayes (2009:3) sebagai metodologi dalam akuntansi dimana transaksi diakui berdasarkan aktivitas ekonomi bukan pada saat kas diterima atau dikeluarkan. Mengikuti metode ini maka pendapatan akan diterima ketika pekerjaan telah diselesaikan dan beban akan diakui sebagai utang ketika sumber daya telah digunakan. Akuntansi akrual mengakui bahwa pembelian, memproduksi, menjual, mendistribusikan, dan operasi lainnya dari suatu entitas selama suatu periode, serta peristiwa lain yang mempengaruhi kinerja entitas, sering tidak bertepatan dengan penerimaan dan pembayaran kas dari periode.

Dari beberapa uraian diatas kita dapat menarik kesimpulan bahwa basis akrual akan mengakui transaksi ekonomi tidak didasarkan diterima atau dikeluarkannya uang tetapi ketika terjadi perubahan posisi keuangan perusahaan yang ditandai dengan adanya aliran masuk atau keluar manfaat ekonomi. Jadi basis akrual akan memberikan informasi yang lebih akurat dan mencatat transaksi sesuai waktunya sehingga konsep periodesasi dapat terpenuhi.

Di pihak Pemerintah sendiri sudah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 71 tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah (pengganti Peraturan Pemerintah tahun 2005) mempertegas bahwa akuntansi berbasis akrual dilaksanakan selambat-lambatnya untuk pelaporan keuangan tahun anggaran 2015. Menurut Pemerintah pengertian basis akrual adalah suatu basis akuntansi

26

dimana transaksi ekonomi atau peristiwa akuntansi diakui, dicatat dan disajikan dalam laporan keuangan pada saat terjadinya transaksi tersebut, tanpa memperhatikan waktu kas diterima atau dibayarkan, seperti pendapatan diakui/dicatat pada saat timbulnya hak dan tidak semata-mata pada saat kas masuk ke kas Negara dan berlaku juga terhadap akun belanja.

Selain itu urgensi implementasi akuntansi berbasis akrual adalah sebagai bentuk penerapan Internasional Best Practise dalam pertanggungjawaban pengelolaan keuangan Negara khususnya untuk meningkatkan keandalan penyajian nilai hak dan kewajiban pemerintah, perhitungan biaya lebih akurat untuk mencapai suatu output tertentu sebagai dasar penilaian kinerja dibandingkan jika hanya berdasarkan basis kas dan penyajian asset di neraca menjadi lebih handal, karena adanya perhitungan beban penyusutan, amortisasi dan penyisihan piutang tak tertagih untuk dapat menyajikan asset sesuai dengan nilai bersih yang dapat direalisasikan (net realizable value)

Manfaat akuntansi akrual menurut Bastian (2009:124) dapat dilihat dari dua perspektif. Dari perspektif masyarakat dasar akrual dapat memperlihatkan tingkat akuntabilitas pemerintah menjalankan pemerintahan sekaligus menilai pemerintah. Sedangkan dari sisi pemerintah lebih menekankan pada manfaat manajerial yang dapat didapatkan pemerintah sehingga mampu mengambil keputusan yang tepat.

27 D. Akuntansi Pemerintah Berbasis Akrual

Dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) menjadi penegas untuk segera dilaksanakan standar akuntansi pemerintah berbasis akrual. Penegasan ini diuraikan pada Bab II Penerapan Standar Akuntansi Pemerintah Pasal 4 Ayat 1 “Pemerintah menerapkan SAP Berbasis Akrual” dan Pasal 7 Ayat 1 “Penerapan SAP berbasis akrual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 Ayat (1) dapat dilaksanakan secara bertahap dari penerapan SAP berbasis kas menuju akrual menjadi penerapan SAP berbasis akrual”.

Standar akuntansi pemerintah berbasis akrual adalah prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah, yang mengakui pendapatan, beban, aset, utang dan ekuitas dalam pelaporan finansial berbasis akrual serta mengakui pendapatan, belanja dan pembiayaan dalam pelaporan pelaksanaan anggaran berdasarkan basis kas yang ditetapkan dalam anggaran pendapatan dan belanja Negara (APBN).

Penyusunan sistem akuntansi pemerintah mengacu pada Peraturan Pemerintah nomor 71 tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah. Sistem akuntansi pemerintah pada pemerintah pusat (SAPP) akan diatur oleh Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang nantinya menjadi pedoman teknis bagi unit-unit organisasi dalam lingkup pemerintahan.

Salah satu upaya untuk mewujudkan sistem akuntansi pemerintah berbasis akrual adalah melalui bagan akun standar. Bagan akun standar merupakan daftar kodefikasi dan klasifikasi terkait transaksi keuangan yang disusun dan digunakan secara sistematis sebagai pedoman dalam perancanaan, penganggaran,

28

pelaksanaan anggaran dan pelaporan keuangan pemerintah. Kodefikasi ini digunakan dalam sistem yang terintegrasi. Integrasi dilaksanakan dengan penggunaan klasifikasi atau kode pengukuran yang sama untuk setiap tahapan dalam siklus pengelolaan keuangan Negara. Dengan menggunakan klasifikasi yang sama pada tahapan perencanaan, penganggaran hingga pertanggungjawaban, bagan akun standar merupakan suatu pedoman dalam pencatatan seluruh transaksi keuangan pemerintah. Selain itu, bagan akun standar digunakan sebagai pusat aliran data dari sistem pengelolaan keuangan, alat pengendalian disiplin fiskal melalui pengaturan pengendalian dan kerangka struktur pelaporan dan mendukung proses pengambilan keputusan pemerintah yang lebih baik.

Untuk menjurnal transaksi akrual pada aktivitas keuangan pemerintah, ada beberapa kententuan ayat jurnal yang harus dipatuhi sesuai Peraturan Menteri Keuangan nomor 215/PMK.05/2013 tentang Jurnal Akuntansi Pemerintah pada Pemerintah Pusat dan berpedoman terhadap bagan akun standar yang sudah ditetapkan dalam bentuk Peraturan Menteri Keuangan nomor 214/PMK.05/2013.

Dibawah ini akan dijelaskan beberapa jurnal akrual yang menghasilkan laporan keuangan akrual:

1. Saat diterimanya DIPA (Daftar isian Pelaksanaan Anggaran) oleh satuan kerja, yang dilakukan satker adalah mencatat estimasi pendapatan yang akan dialokasikan (Estimasi Pendapatan pajak yang dialokasikan, estimasi pendapatan bukan pajak yang dialokasikan, estimasi pendapatan hibah yang dialokasikan) sedangkan pada sisi debit dicatat allotment belanja/transfer (allotment belanja pegawai, belanja barang, belanja

29

modal, belanja pembayaran bunga utang, belanja subsidi, belanja hibah, belanja bantuan social, belanja lain-lain dan allotment transfer ke daerah).

Selanjutnya jurnal standart DIPA ini dicatat dalam buku besar akrual.

2. Jurnal standar saldo awal dilakukan pada saat penyusunan neraca untuk pertama kali oleh satuan kerja. Untuk mencatat saldo seluruh jenis aset, ayat jurnal yang dipakai adalah aset lancar/investasi jangka panjang/aset tetap/piutang jangka panjang/aset lainnya pada Ekuitas. Selain itu bisa juga untuk mencatat saldo awal aset yang mempunyai akun lawan kewajiban (kewajiban jangka pendek/kewajiban jangka panjang). Yang terakhir mencatat saldo awal seluruh jenis kewajiban dengan ayat jurnal berupa ekuitas pada kewajiban jangka pendek/kewajiban jangka panjang.

3. Jurnal standar realisasi dilakukan pada saat terjadinya berita acara serah terima (BAST) atau perolehan persediaan atau aset tetap, resume tagihan, piutang, pendapatan, penerimaan pembiayaan, belanja, pengeluaran pembiayaan, pemakaian persediaan dan pengembalian uang persediaan.

Jadi banyak terdapat jenis jurnal pada realisasi anggaran:

a. Jurnal Standar BAST/Perolehan Aset tetap dan persediaan.

Debit (D)/

Kredit (K) Uraian

D Aset tetap/Persediaan yang belum diregister K Utang yang belum diterima tagihannya

Digunakan untuk mencatat transaksi perolehan asset tetap baik yang berdasarkan BAST maupun yang tidak melalui BAST yang belum dilakukan verifikasi

30 Debit (D)/

Kredit (K) Uraian

D Aset tetap/Persediaan

K Aset tetap/Persediaan yang belum diregister

Digunakan untuk mencatat transaksi perolehan asset tetap baik yang berdasarkan BAST maupun yang tidak melalui BAST setelah dilakukan verifikasi

b. Jurnal standar resume tagihan Debit (D)/

Kredit (K) Uraian

D Pengeluaran transito

K Pengeluaran transito yang masih harus dibayar

Digunakan untuk mencatat transaksi pada saat adanya resume tagihan atas permintaan uang persediaan

Debit (D)/

Kredit (K) Uraian

D Piutang dari uang persediaan yang akan diterima K Pengeluaran transito

Digunakan untuk mencatat transaksi pada saat adanya resume tagihan atas permintaan uang persediaan

Debit (D)/

Kredit (K) Uraian

D Beban

K Belanja/Transfer yang masih harus dibayar

Digunakan untuk mencatat transaksi pada saat adanya resume tagihan atas belanja menurut jenis belanja, kecuali belanja barang untuk perolehan persediaan dan belanja modal.

31 Debit (D)/

Kredit (K) Uraian

D Utang yang belum diterima tagihannya

K Belanja barang/modal yang masih harus dibayar

Digunakan untuk mencatat transaksi pada saat adanya resume tagihan atas belanja barang untuk perolehan persediaan belanja modal.

c. Jurnal standar piutang pendapatan Debit (D)/

Kredit (K) Uraian

D Piutang pendapatan K Pendapatan

Digunakan untuk mencatat terjadinya piutang dan pendapatan baik perpajakan, PNBP dan hibah.

d. Jurnal standar realisasi pendapatan Debit (D)/

Kredit (K) Uraian

D Diterima dari entitas lain K Piutang pendapatan

Digunakan untuk mencatat terjadinya penerimaan kas yang berasal dari pelunasan piutang perpajakan, PNBP dan hibah.

Debit (D)/

Kredit (K) Uraian

D Diterima dari entitas lain K Pendapatan

Digunakan untuk mencatat terjadinya penerimaan kas pendapatan baik perpajakan, PNBP dan hibah, tanpa didahului adanya piutang

32 e. Jurnal standar realisasi belanja

Debit (D)/

Kredit (K) Uraian

D Belanja/transfer yang masih harus dibayar K Ditagihkan ke entitas lain

Digunakan untuk mencatat pembayaran belanja/transfer, sesuai dengan jenis belanja/transfer.

f. Jurnal standar pemakaian persediaan Debit (D)/

Kredit (K) Uraian

D Beban persediaan K Persediaan

Digunakan untuk mencatat realisasi beban persediaan karena adanya pemakaian persediaan. Jurnal dibuat dalam hal pencatatan persediaan menggunakan metode perpetual.

g. Jurnal standar penerimaan/pengeluaran transito (uang persediaan) Debit (D)/

Kredit (K) Uraian

D Ditagihkan ke entitas lain K Kas di bendahara pengeluaran

Digunakan untuk mencatat penyetoran uang persediaan oleh satuan kerja.

Debit (D)/

Kredit (K) Uraian

D Pengeluaran transito yang masih harus dibayar K Diterima dari entitas lain

Digunakan untuk mencatat penerimaan uang persediaan oleh satuan kerja

33 Debit (D)/

Kredit (K) Uraian

D Kas di bendahara pengeluaran

K Piutang dari uang persediaan yang akan diterima Digunakan untuk mencatat penerimaan uang persediaan oleh satuan kerja

4. Penyesuaian merupakan suatu keharusan dalam akuntansi berbasis akrual.

Jurnal standar penyesuaian digunakan pada saat akhir periode pelaporan keuangan untuk menyesuaikan akun-akun pendapatan dan beban akrual.

Jurnal standar penyesuaian terdiri dari:

a. Jurnal standar beban penyusutan asset tetap Debit (D)/

Kredit (K) Uraian

D Beban penyusutan asset tetap K Akumulasi penyusutan asset tetap

Digunakan untuk mencatat beban penyusutan dan akumulasi penyusutan asset tetap sesuai dengan metode penyusutan yang telah ditetapkan.

b. Jurnal standar beban amortisasi asset tak berwujud Debit (D)/

Kredit (K) Uraian

D Beban amortisasi asset tak berwujud K Akumulasi amortisasi asset tak berwujud p

Digunakan untuk mencatat beban amortisasi dan akumulasi amortisasi asset tak berwujud sesuai dengan metode amortisasi yang telah ditetapkan.

34 c. Jurnal standar beban persediaan

Debit (D)/

Kredit (K) Uraian

D Beban persediaan K Persediaan

Digunakan untuk mencatat beban persediaan sebesar nilai persediaan yang dikonsumsi selama periode akuntansi. Jurnal ini digunakan untuk metode periodik dalam penilaian persediaan.

Debit (D)/

Kredit (K) Uraian

D Beban persediaan K Persediaan

Digunakan untuk menyesuaikan jumlah persediaan berdasarkan hasil inventaris fisik dalam hal hasil inventarisasi fisik lebih kecil dari catatan persediaan. Jurnal ini digunakan untuk metode perpetual dalam penilaian persediaan.

d. Jurnal standar belanja yang masih harus dibayar Debit (D)/

Kredit (K) Uraian

D Beban

K Belanja yang masih harus dibayar

Digunakan untuk mencatat beban dan belanja yang masih harus dibayar pada tanggal pelaporan.

e. Jurnal standar belanja dibayar dimuka Debit (D)/

Kredit (K) Uraian

D Beban dibayar dimuka

K Beban

35

Digunakan untuk mencatat beban dibayar dimuka dan untuk menyesuaiakan jumlah beban yang belum menjadi kewajiban sampai dengan akhir periode pelaporan. Jurnal ini digunakan untuk metode/pendekatan beban dalam pencatatan beban dibayar dimuka.

Debit (D)/

Kredit (K) Uraian

D Beban

K Beban dibayar dimuka

Digunakan untuk mencatat beban yang telah terjadi selama periode pelaporan dan untuk menyesuaikan jumlah beban dibayar dimuka yang masih ada sampai dengan akhir periode pelaporan. Jurnal ini digunakan untuk metode/pendekatan aset dalam pencatatan beban dibayar dimuka.

f. Jurnal standar pendapatan diterima di muka Debit (D)/

Kredit (K) Uraian

D Pendapatan

K Pendapatan diterima dimuka

Digunakan untuk mencatat pendapatan diterima di muka dan untuk menyesuaikan jumlah pendapatan yang belum menjadi hak sampai dengan akhir periode pelaporan. Jurnal ini digunakan untuk metode/pendekatan pendapatan dalam pencatatan pendapatan diterima dimuka.

Debit (D)/

Kredit (K) Uraian

D Pendapatan diterima dimuka K Pendapatan

Digunakan untuk mencatat pendapatan yang telah menjadi hak selama periode pelaporan dan untuk menyesuaiakan jumlah pendapatan diterima di muka yang masih ada sampai dengan akhir periode pelaporan. Jurnal ini digunakan untuk metode/pendekatan kewajiban dalam pencatatan pendapatan diterima dimuka.

36

5. Jurnal standar pengembalian dilakukan pada saat terjadinya pengembalian pendapatan dan belanja. Pencatatan dilakukan oleh satuan kerja dan dicatat dalam buku besar akrual. Jurnal standar pengembalian terdiri dari:

a. Jurnal standar pengembalian pendapatan Debit (D)/

Kredit (K) Uraian

D Pendapatan

K Diterima dari entitas lain

Digunakan untuk mencatat pengembalian atas pendapatan tahun berjalan/atas pendapatan tahun anggaran sebelumnya yang bersifat sistematik/berulang, seperti pengembalian pendapatan perpajakan.

b. Jurnal standar pengembalian belanja Debit (D)/

Kredit (K) Uraian

D Ditagihkan kepada entitas lain

K Beban

Digunakan untuk mencatat pengembalian atas belanja/transfer tahun anggaran berjalan.

Debit (D)/

Kredit (K) Uraian

D Diterima dari entitas lain K Pendapatan lain-lain

Digunakan untuk mencatat pengembalian atas belanja/transfer tahun anggaran sebelumnya.

6. Jurnal standar penutup dilakukan pada saat penyusunan laporan keuangan oleh satuan kerja. Jurnal standar penutup terdiri dari:

37 a. Jurnal standar penutup pendapatan

Debit (D)/

Kredit (K) Uraian

D Pendapatan

K Surplus/Defisit-LO

Digunakan untuk mencatat penutupan pendapatan ke surplus/deficit laporan operasional (LO).

b. Jurnal standar penutup belanja/transfer dan beban Debit (D)/

Kredit (K) Uraian

D Surplus/Defisit-LO

K Beban

Digunakan untuk mencatat penutupan beban ke surplus/deficit-LO.

c. Jurnal standar penutup surplus/defisit-LO Debit (D)/

Kredit (K) Uraian

D Surplus LO K Ekuitas

Digunakan untuk mencatat penutup surplus-LO.

Debit (D)/

Kredit (K) Uraian

D Ekuitas K Defisit LO

Digunakan untuk mencatat penutupan Defisit-LO

38

Dalam rangka menghasilkan laporan operasioanal, laporan perubahan ekuitas dan neraca disediakan buku besar akrual. Buku besar ini menampung semua transaksi akrual yang akan tersaji ke dalam laporan keuangan selain laporan realisasi anggaran. Buku besar akrual akan memuat akun nominal yang ada di laporan operasional dan laporan perubahan ekuitas, serta akun riil yang ada di neraca. Dengan demikian termasuk di dalamnya transaksi kas dan non kas.

Transaksi kas misalnya yang berkaitan dengan kas di bendahara penerima dan kas di bendahara pengeluaran dan transaksi non kas misalnya penyusutan, amortisasi dan transaksi akrual lainnya.

Sebelum laporan keuangan disusun dilakukan penyesuaian terhadap transaksi pendapatan akrual maupun beban akrual, sehingga prinsip periodesitas dapat terpenuhi untuk penyajian pos-pos dalam laporan keuangan. Proses pelaporan dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1.1

39

Dapat dilihat dari penjelasan diatas, bahwa rangkaian proses akuntansi berbasis akrual membentuk sebuah sistem akuntansi pemerintah. Jadi bisa di definisikan Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat yang selanjutnya disingkat SAPP adalah rangkaian sistematik dari prosedur, penyelenggara, peralatan, dan elemen lain untuk mewujudkan fungsi akuntansi sejak analisis sampai dengan pelaporan keuangan pada pemerintah pusat. Ciri-ciri pokok sistem akuntansi pemerintah pusat (SAPP) menurut PMK nomor 213 /PMK.05/2013 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat adalah

1) Basis Akuntansi

Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan pemerintah adalah basis akrual. Penerapan basis kas tetap digunakan dalam penyusunan laporan realisasi anggaran sepanjang APBN disusun menggunakan pendekatan basis kas.

2) Sistem pembukuan berpasangan

Sistem pembukuan berpasangan didasarkan atas persamaan dasar akuntansi yaitu aset = kewajiban + ekuitas. Setiap transaksi dibukukan dengan mendebet perkiraan dan mengkredit perkiraan yang terkait.

Namun demikian untuk akuntansi atas anggaran dilaksanakan secara single entry (pembukuan tunggal)

3) Desentralisasi pelaksanaan akuntansi

Kegiatan akuntansi dan pelaporan keuangan entitas dilaksanakan secara berjenjang oleh unit-unit akuntansi dan pelaporan keuangan baik kantor pusat instansi maupun di daerah.

40 4) Bagan akun standar

Sistem akuntansi pemerintah pusat menggunakan bagan akun standar yang ditetapkan oleh menteri keuangan yang berlaku untuk tujuan penganggaran maupun akuntansi.

5) Standar akuntansi pemerintahan (SAP)

Sistem akuntansi pemerintah pusat mengacu pada standar akuntansi pemerintah (SAP) dalam melakukan pengakuan, pengukuran, penyajian dan pengungkapan terhadap transaksi keuangan entitas pemerintah pusat.

E. Kerangka Pikir

Bagan Kerangka pikir

BALAI PEMANTAUAN PEMANFAATAN HUTAN PRODUKSI WILAYAH XV MAKASSAR

Laporan Keuangan Berbasis Akrual (PP no.71/th.2010)

Akuntansi Sektor Publik

Basis Akrual

Gambar 1.2

41 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi Dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi Wilayah XV Makassar yang beralamat di Jalan Perintis Kemerdekaan Km.9 Makassar, sedangkan waktu penelitian kurang lebih 2 bulan.

B. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penulisan ini adalah :

Data Kualitatif adalah data yang tidak dapat diukur atau dinilai dengan angka-angka secara langsung atau sifat datanya adalah deskriptif misalnya gambaran suatu objek, pedoman dan peraturan – peraturan yang berlaku. Data kualitatif ini pada umumnya berupa variasi-variasi persepsi bisa dari para

Data Kualitatif adalah data yang tidak dapat diukur atau dinilai dengan angka-angka secara langsung atau sifat datanya adalah deskriptif misalnya gambaran suatu objek, pedoman dan peraturan – peraturan yang berlaku. Data kualitatif ini pada umumnya berupa variasi-variasi persepsi bisa dari para

Dokumen terkait