PRAKRTI – ALAM SEMESTA
1. Alam Material
Dalam kosmologi veda, ada dua macam alam, yaitu alam rohani (daivi prakrti) dan alam material (mohini prakrti). Alam material (prakrti) berada di dalam alam rohani, sebagai tempat kegiatan mahluk hidup, bagaikan segumpal mendung mengambang diangkasa rohani, yang pada suatu saat akan pralaya (hilang atau hancur). Sedangkan alam rohani yang juga disebut Vaikuntha adalah kerajaan TYM beserta perbanyakan paripurnanya dan para abdi setianya, dengan didampingi oleh ribuan Dewi Keberuntungan (Laksmi). Alam rohani ini bersifat kekal (ada untuk selamanya). Jika diperbandingkan secara keseluruhan, maka 0,25 bagian alam material, dan 0,75 bagian alam rohani.
Alam material tempat penderitaan, kebahagian sementara, sedangkan alam rohani tempat kebahagian sejati. Di Alam material termasuk yang didalamnya terdapat alam semesta–alam semesta, hidup berbagai macam mahluk hidup seperti Manusia, Hewan, Dewa, Raksasa, Yaksha, Gandarva, Vidyadara/I, Kimpurusa, Kin-nara, Rsi rsi, Rudra, Vasu, Prajapathi, Siddha, Ular, Naga, tumbuhan, jenis ikan, se-rangga, burung, dan lainnya, semuanya mengalami suka duka, disebabkan oleh sifat-sifat alam (tri guna).
Manusia (jiva), didalam veda disebut sebagai para-prakrti-tenaga TYM yang lebih tinggi dari materi, sedangkan materi adalah apara
prakrti-tenaga TYM yang lebih rendah dari jiwa. Mayadhyaksena
prakrtih–prakrti (para-prakrti/manusia dan apara-prakrti/materi) ini dibawah pengendalianKU (Bg. 9.10). Jadi status prakrti tidak bebas– dikendalikan oleh TYM. Tetapi manusia yang mempunyai badan material, terletak dibagian pinggir (marginal) sehingga manusia mudah
0
sekali ditarik kedalam dan keluar. Keluar ditarik oleh pengaruh materi yang sifatnya rendahan, dan kedalam ditarik oleh tenaga rohani Tuhan.
Kalau manusia ditarik oleh apara prakrti maka manusia akan terpikat dengan Maya (tanaga luar TYM) yang menghayalkan. Maya terdiri dari Ma–bukan/tidak dan Ya–itu. Maya berarti bukan itu. Maya bersifat menyesatkan. Misalnya manusia yang dipengaruhi oleh maya menganggap bahwa dirinya adalah badan jasmani, bukan spirit. Kalau manusia ditarik oleh tenaga rohani TYM, maka manusia terpikat untuk melaksanakan bhakti, dia mengerti bahwa dirinya bukan badan jasmani tetapi sang roh, yang merupakan bagian kecil (percikan) atau bunga api rohani dari Tuhan.
Dalam Bg. 10.8 Sri Krsna bersabda :
aham sarvasya prabhavo mattah sarvam pravartate Iti matva bhajante mam budha bhava- samanvitah
“Aku adalah sumber dunia rohani dan seluruh alam ini. Segala sesuatu berasal dari Aku. Orang orang bijaksana yang mengenal hal ini dengan sempurna menjadi sibuk dalam berbhakti kapadaKU dan memujaKU dengan hati sanubari”
Benda-benda di alam material seperti yang dapat kita lihat, yang kita dengar, yang kita rasakan, kita sentuh, kita makan, yang kita cium semuanya atas karunia Krisna-Narayana, tiada satupun eksistensinya di luar sebab dari Krisna.
Selanjutnya :
isavasyam idam sarvam, yat kinca jagatyam jagat tena tyaktena bhunjitha, ma grdhah kasya svid dhanam “TYM memiliki dan mengendalikan segala sesuatu di alam semesta, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Karena itu seseorang sebaiknya menerima benda-benda yang diperlukan sebagai jatah, dan dia harus tidak menerima benda-benda yang lain, karena dia mengetahui semua benda itu milik Tuhan”. (Sri Isopanisad, mantra. 1).
Orang yang menerima lebih dari jatahnya disebut koruptor atau pencuri, kegitan berdosa, dan patut untuk dihukum.
Di dalam Kitab Brahma samhita (Bs.5.40) dikatakan bahwa di alam material ini terdapat berjuta-juta alam semesta, dan di dalam alam semesta ada planet yang jumlahnya tidak bisa dihitung. Semua planet itu terletak di satu sudut dalam brahmajyoti. Brahmajyoti adalah cahaya pribadi dari TYM, yang sering disebut Brahman. Setiap alam semesta dikendalikan oleh seorang Brahma. Alam semesta, dimana bumi ini berada didalamnya, dikendalikan oleh Brahma yang berkepala empat (Catur Mukha).
Etika manusia menurut Veda adalah mesti memposisikan diri sebagai pelayan/abdi TYM. Seluruh hidupnya tergantung dari karunia TYM. Tuhan Yang Maha Kuasa berhak memperlakukan apa saja kepada pelayannya, sementara pelayan menerima dengan senang hati perlakuan Tuhan itu, tanpa ada masalah tanpa ada komplin. Itulah sikap tunduk hati (bertaqua kepada TYM). Bagi manusia yang ingin menikmati ala Tuhan, maka Tuhan menciptakan prakrti agar manusia dapat memenuhi keinginannya, selanjutnya manusia yang demikian diikat oleh triguna atau nenek maya. Ikatan itu berupa nasib baik buruk, sakit sehat, hidup mati, suka duka, dan lainnya. Orang yang tidak bertaqua kepada Tuhan disebut Naradama.
2. Tiga Sifat Alam (Tri Guna) yang Mengikat
Kita hidup di alam semesta material ini tidak dapat bebas atau berada dalam keadaan terikat. Sifat alam yang mempengaruhi kita sangat halus dan sangat sulit diatasi. Apa yang disebut kebahagian sebenarnya bukan kebahagian, kelap-kelip kebahagian terlihat mirip fatamorgana. Jika kita tidak dapat bebas/mengatasi sifat alam itu kita diikat oleh alam dengan cara yang sangat halus, sehingga selamanya berada di alam semesta ini, untuk menerima 4 (empat) macam penyakit yaitu : lahir (janma), mati (mrtyu), tua (jara) dan penyakit (vyadi).
Dalam Kitab suci Bhagavata purana (Sb. 2.23), disebutkan bahwa tiga sifat alam (tri guna : satvam, rajas dan tamas), diciptakan oleh Tuhan hanya untuk ciptaan, pemeliharaan, dan peleburan). Visnu
penguasa sifat kebaikan, Brahma sifat nafsu dan Siva sifat tamas. Bagi mereka yang duniawi menyembah Bhrahma dan mereka yang kurang pengetahuan menyembah Siva. Tiga keperibadian ini dimaksudkan untuk menjadi penguasa, tetapi manusia terperangkap oleh tiga sifat itu, yang mneyebakan penderitaan. Manu leluhur manusia memberikan tanda-tanda orang yang berada dalam tiga macam sifat itu (Manu smrti. 12.31-33)
Pertama, sifat satvam adalah mereka yang mempunyai sifat: mempelajari Veda, bertapa, belajar segala macam ilmu pengetahuan, suci, mengendalikan indria, melakukan perbuatan bijak, bersemadi tentang jiwa.
Kedua, sifat rajas adalah mereka yang mempunyai sifat : sangat aktif/bergairan melakukan tugas pekerjaan, kurang tekun, melakukan perbuatan berdosa, selalu terikat akan kesenangan-kesenangan jasmani.
Ketiga, sifat tamas adalah mereka yang mempunyai sifat : loba, pemalsu, kecil hati, kejam, atheis, berusaha pada hal-hal yang tidak baik, kebiasaan hidup atas belas kasihan orang lain, dan tidak perhatian.
Semua mahluk manusia diikat oleh tiga sifat ini, serta mengalami empat penyakit, sehingga tujuan untuk mendapatkan kebahagiaan tidak akan pernah tercapai. Karena alam semesta material ini diciptakan sebagai penyebabkan penderitaan atau tempat penderitaan. Oleh karena itu Veda menganjurkan: jangan kembali lagi ke dunia material ini (dunia
fana ini). Selain neraka, alam ini juga sebetulnya tempat hukuman, meng hukum orang-orang yang tidak mengendalikan nafsu. Alam akan mengikat nafsu dengan menyediakan objek–objek indria.
Bekerjanya hukum alam dinyatakan oleh Rsi Narada, sbb. Mahluk hidup yang tidak bertangan adalah mangsa bagi yang bertangan; yang tidak berkaki merupakan mangsa dari yang berkaki; Yang lemah adalah mangsa bagi yang kuat, dan aturan umum mempertahankan bahwa mahluk hidup adalah makanan bagi mahluk hidup lainnya (Sb.1.13.47 dan Manu smrti.5.29). Inilah keberadaan hukum alam material (prakrti). Masyarakat binatang tidak diajarkan hukum ini, tetapi manusia harus mengetahui dan mempunyai pengetahuan lebih, yaitu bagaimana caranya keluar dari hukum ini.
Ajaran agamalah yang menuntunnya, bagaimana cara keluar dari prakrti ini.
Cara keluar dari ikatan alam, diuraikan dalam Sb. 1.2.18, Sb.1.8.36, dan Sb.2.1.5-6 sbb:
“Mereka yang terus menerus mendengarkan, memuji, dan membacakan kegiatan rohani Tuhan Krishna, atau berbahagia apabila orang lain melakukan demikian, mereka itu pasti melihat kaki padma Tuhan Krishna, satu satunya yang bisa menghentikan kelahiran dan kematian yang dialami berulang kali”.
“Orang yang ingin bebas dari segala penderitaan harus mendengar, mengagungkan, dan juga mengingat Persoinalitas Tuhan, Roh Yang Utama pengendali dan penyelamat dari segala penderitaan”.
“Kesempurnaan tertinggi kehidupan manusia ialah dapat mengingat Personalitas Tuhan Yang Maha Esa pada akhir kehidupannya”.
Dengan melakukan kegiatan yang berhubungan dengan Tuhanlah yang dapat membebaskan diri kita dari ikatan triguna, tanpa kegiatan seperti itu kita akan tetap diikat oleh tri guna.
Sebaliknya, bagaimana sifat Alam Rohani-tempat tinggal Tuhan, dijelaskan dalam Bg. 8.16, berikut,
Bg. 8.16. menyatakan,
a-brahma bhuanal lokah, punar avartino ‘rjuna mam upetya tu kaunteya, punar janma na vidyate
“Dari planit tertinggi di dunia material ini sampai dengan planet terendah, semuanya tempat-tempat kesengsaraan, tempat kelahiran dan kematian dialami berulangkali. Tetapi orang yang mencapai tempat tinggal-KU tidak akan pernah dilahirkan lagi, wahai putra Kunti”.
Ada alam lain yaitu alam rohani, dimana alam ini memberikan kebahagiaan sejati, kenyamanan, ketenteraman, selalu berbahagia. Tidak ada istilah haus, kelaparan, kemiskinan, tidak ada usia tua, tidak
ada penyakit, tidak mengalami kematian. Di Alam yang kekal inilah dianjurkan untuk hidup selamanya (kekal) dan memang kita sebetulnya berasal dari alam ini. Karena sesuatu hal (icca duesa) kita dijebloskan kedalam penjara alam material untuk mengalami illusi.
Kalau kita ingin pergi kesuatu negara atau ke planet tempat Tuhan berada, kita terlebih dahulu harus mempunyai keterangan tentang tempat tersebut. Kita tidak dapat membuat percobaan langsung ke sana. Ada banyak uraian tentang planet yang paling utama didalam pustaka suci Veda. Misalnya dalam pustaka suci Brahma-samhita 5.29 planet rohani diuraikan sbb :
cintamani-prakara-sadmasu kalpa-vrksa,laksavrtesu susurabhir abhipalayantam
laksmi-sahasra-sata-sambhrama–sevyamanan, govindam adi pususam tam aham bhajami
“Aku menyembah Govinda, Tuhan Yang Mahaesa, asal keturunan, yang memelihara sapi-sapi, memenuhi segala keinginan, di tempat tinggal yang didirikan dengan permata-permata rohani, dikelilingi dengan berjuta-juta pohon yang memenuhi keinginan, selalu dilayani dengan penghormatan dan cinta kasih yang berlimpah-limpah oleh beratus-ratus ribu lakmi atau gopi”. Masih banyak uraian lagi dalam Brahma-samhita tentang dunia rohani-Goloka Vrndavana.
Tiga sifat alam yang dimaksud adalah: satvam (kebaikan), rajas (nafsu), dan tamas (kebodohan) yang terkenal dengan sebutan TRI GUNA. GUNA artinya tali pengikat, tri guna berarti tiga tali pengikat, yaitu satvam, rajas dan tamas. Harus dimengerti bahwa roh yang terikat, diikat ketat oleh tali-tali hayalan. Tiga sifat ini dimiliki oleh planet-planet di alam semesta, yang mengikat/mempengaruhi para mahluk hidup yang sangat terikat dengan alam sebagai tempat kegiatannya. Tiga energi ini merupakan energi rohani Tuhan, sangat sulit di-atasi.
sattvam rajas tama iti, gunah prakrti-sambhavah nibadhnanti maha baho, dehe dehinam avyayam
“Alam material terdiri dari tiga sifat–kebaikan, nafsu dan kebodohan. Bila makhluk hidup yang kekal berhubungan dengan alam, ia diikat oleh sifat-sifat tersebut, wahai yang berlengan perkasa.” (Bg.14.5)
Mahluk hidup seperti manusia yang dihayalkan oleh tiga sifat ini (maya) menyebabkan mereka tidak mengenal sifat rohani TYM. Planet diatas bumi dikatakan mempunyai sifat satvam, Planet Bumi bersifat rajas dan planit Planet dibawah bumi bersifat tamas. Para Deva bersifat
satvam, raskasa bersifat tamas, dan manusia bersifat rajas. Demikian pula binatang : sapi, gajah, dan lainnya yang makan dedaunan bersifat
satvam, sedangkan harimau, macan, singa bersifat rajas, sementara anjing dan sejenisnya bersifat tamas. Tanaman mangga, pisang, kelapa bersifat satvam, sedangkan durian, salak, peer, bawang merah/putih bersifat rajas, tanaman yang hanya bisa digunakan untuk kayu bakar dan reboisasi bersifat tamas. (Untuk lengkapnya baca Kitab
Srimad-bhagavatam).
Orang yang didominir oleh sifat satvam, dikenal sebagai orang saleh/dermawan, suka belajar kitab suci, bajik, berpengetahuan, bangun pagi, pembersih, rajin. Orang yang didominir oleh sifta rajas, jika dia sibuk bekerja mencari uang/binismen, mengumpulkan kekayaan, pelit, pamerih dan serakah/loba. Sementara orang yang didominir oleh sifat
tamas, adalah orang yang pemalas, bangun siang/suka tidur, senang melakukan kekerasan, suka mabuk, berpesta ria, tidak cerdas/bodoh, suka melanggar peraturan/tata tertib.
Mahluk hidup sesungguhnya rohani, namun karena ia diikat oleh dunia material (maya), maka ia bertindak dibawah pesona tiga sifat alam material. Akibatnya, mahluk hidup menerima berbagai jenis badan, menurut berbagai sifat alam, mereka didorong supaya bertindak menurut sifat alam itu. Sesungguhnya hidup berdomisili di planet-planet material tetap mengalami penderitaan, apakah tinggal di planet yang lebih tinggi, apalagi di planet yang lebih rendah. Hidup di planet material
ini sangat berrisiko. Oleh karena itulah disarankan oleh kitab suci untuk meninggalkan dunia material ini. Ikatan inilah yang menyebabkan berbagai suka dan duka. Bekerjanya sifat-sifat alam dijelaskan panjang lebar dalam Bg. bab 14. yang antara lain mengatakan :
Bila seseorang meninggal dalam sifat satvam, ia mencapai planet yang lebih tinggi tempat para Deva dan Rsi yang mulya. Bila seseorang meninggal dalam sifat nafsu, dilahirkan ditengah-tengah mereka yang sibuk didalam kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil. Bila seseorang meninggal dalam sifat rajas/ kebodohan ia dilahirkan dalam masyarakat binatang (Bg 14.14-15).
Jadi, tidak benar bahwa manusia hanya akan lahir di keluarga manusia, dia bisa saja lahir di kaluarga para dewa, ia bisa lahir di keluarga para hantu, atau lahir di keluarga binatang, atau di keluarga jenis ikan atau ungas. Tergantung dari kualitas kesadaran seseorang, bagaimana ia hidup untuk mempersiapkan masa depannya.
3. Cara Mudah Mengatasi Tiga Sifat Alam (Tri Guna)
Dunia material termasuk bumi ini, di dalam Veda dikatakan nityam asukam lokam–dunia ini bersifat sementara dan penuh penderitaan, tidak cocok dihuni oleh orang yang santun dan waras. Sementara tujuan asli sang jiwa adalah ingin mukti atau bebas. Para jiwa sangat sulit untuk lepas dari ikatan tri guna, karena tri guna ini adalah tenaga TYM, tenaga yang sangat kuat. Tanpa karunia dari TYM, jiva tidak akan bisa lepas dari guna ini, yang berarti akan selamanya hidup menderita. Sloka berikut menjelaskan bagaimana cara kita bisa keluar dari ikatan jeratan alam material
Sb.1.2.18
nasta – prayesu abhadresu nityam bhagavata sevaya bhagavaty uttama sloke bhaktir bhavati naisthiki
“Dengan menghadiri pelajaran-pelajaran Bhagavatam secara terarur, terus melakukan pelayanan kepada penyembah-penyembah
murni, segala sesuatu yang mengganggu didalam hati dibinasakan secara tuntas, pengabdian suci bhakti terwujud dan tidak dapat dibatalkan”. Jadi dengan dimulai dari mempelajari Bhagavata Purana, dan melakukan pelayanan kepada bhagavata (penyembah murni) bhakti itu akan tumbuh didalam hati seseorang.
Bg. 7.14,
daivi hy esa gunamayi, mama maya duratyaya mama eva ye prapadyante, mayam etam taranti te
“Tenaga-KU yang rohani ini terdiri dari tiga sifat alam, amat sulit untuk diatasi. Tetapi orang yang sudah menyerahkan diri kapadaKU, dengan mudah sekali dapat menyeberangi melampaui tenaga itu”.
Selanjutnya Bg.14.26.
mam ca yo vyabhicarena, bhakti yogena sevate sa gunan samatityaitan, brahma –bhuyaya kalpate
“Orang yang menekuni bhakti sepenuhnya, dan tidak gagal dalam segala keadaan, segera melampaui sifat-sifat alam material, dan dengan demikian mencapai tingkat brahman.”
Kedua sloka ini, memberikan jalan pemecahan agar kita tidak diikat oleh sifat alam, dengan kata lain dapat keluar dari ikatan sifat alam, yaitu dengan melak- sanakan-menekuni bhakti. Bhakti yang ditekuni hendaknya mendapat bimbingan dari Guru-guru kerohanian, agar tidak menyimpang dari jalan bhakti yang sebenarnya. Bhakti sangat perkasa, dapat membalikan arah indria dari objek indria kearah Tuhan Yang maha Esa yang RupaNya sangat menarik, menawan, menyenangkan hati.
Sb.7.15.27.
Rajas tamas ca sattvena sattvam copasamena ca Etat sarvam gurau bhaktya purusa hy anjasa jayet
“Nafsu dan kegelapan hendaknya ditaklukkan dengan cara mengembangkan sifat kebaikan (satvam), kemudian harus membebaskan diri dari satvam dengan cara menaikkan diri ke suddha-satvam. Semua ini dapat terlaksana jika seseorang tekun dalam pelayanan guru spiritual dengan penuh keyakinan dan bhakti. Dengan cara demikian akan dapat menaklukkan pengaruh sifat alam”. Untuk bisa lepas dari sifat-sifat alam, seseorang harus mempunyai Guru Spiritual dan melayaninya setiap saat. Itulah cara yang ditunjukkan oleh sloka diatas.
4. Susunan Alam Semesta
⃝Kailasa (Siva,Parwati, Ganesha, Kartikeya)
⃝Satyaloka (stana Brahma, Siddha,Narada) ⃝ Tapaloka (stana Vaibhraja)
⃝ Janaloka (stana anak Brahma)
⃝ Mahaloka (stana para Rsi : Markandya ) ⃝ Druva Mahaja (kekal), dan Bintang 7 ⃝ Shanni (Dewa Saniscara)
⃝ Sukra (Rsi Sukra/guru para Raksasa) ⃝ Buddha ( para Buddha/bijaksana) ⃝ Brihaspati (Brhaspati/guru para Dewa) ⃝ Anggrak (Manggala)
⃝ Soma (Dewa Candra)
Alam rohani Vaikuntahloka Di pusatnya Golokavrndavan
Alam material
Alam material
⃝ Surya (Dewa Surya)
⃝ Yakhsa, Gandarva, Kinara, Kim Purusa, Apsara, dll
⃝ Rahu (Rhau)
⃝ Para hantu,setan, jin, dedemit, dll ⃝ Bumi (Manusia/Prtivi)
⃝ 7 Patala (Naga, ular, burung, gajah, dll) 1. Attala
2. Vittala 3. Sutala 4. Maha tala 5. Rasa tala 6. Tala tala, dan 7. Petala
⃝ Pitraloka (Roh para Leluhur/Aryama)
⃝Naraka (28 provinsi/Yama raja)