Menurut Hilman Hadikusuma, pemberian tanah yang terjadi dalam kehidupan masyarakat adat dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu sebagai berikut :
1. Sebagai tanda pengabdian, dimana telah diberikan kepada penghulu adat atau raja sebagai tanda pengabdian atau untuk mendapatkan perhatian sukarela sebagaimana yang pernah berlaku di Minahasa.
2. Sebagai tanda kekeluargaan, dimana tanah diberikan sebagai tanda mengaku saudara (Mewari) di daerah Lampung atau sebagai tanda mengangkat tanah yang terjadi di Minahasa.
3. Sebagai pembayaran denda, dimana tanah diberikan kepada kerabat orang yang mati terbunuh untuk digunakan sebegai tempat perkuburan, tempat kediaman atau usaha.
4. Sebagai pemberian perkawinan, misalnya tanah pei pamoyadi Minahasa dan sunrang sanra di Sulawesi Selatan yang berfungsi sebagai mas kawin sementara.
5. Sebagai barang bawaan dalam perkawinan di mana tanah diberikan oleh kerabat isteri ke dalam suatu perkawinan yang disebut sebagai pauseang, bangunan atau indahan arian di Batak dan tanah sesan dalam bentuk perkawinanjujurdi Lampung.101
Berkaitan dengan pemberian orang tua kepada anak perempuan melalui hareuta peunulang selain dalam konteks sejarah sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, ditemui berbagai pendapat tentang latar belakang orang tua di Kabupaten Aceh Besar dalam memberikan hareuta peunulang. Adapun tujuan/alasan-alasan pemberian hareuta peunulang di Kabupaten Aceh Besar dapat dilihat dari berbagai aspek, sebagaimana yang dapat dikelompokkan sebagai berikut ini :
1. Faktor sebagai bekal anak di kemudian hari
Tidak semua anak, entah itu laki-laki maupun perempuan yang sudah berumah tangga bila kelangsungan hidup secara mandiri, tentunya kondisi pasca nikah, bisa jadi sesuatu mengkhawatirkan bagi orang tua. Itulah sebabnya mengapa orang tua sedini mungkin berfikir akan nasib anak-anak mereka kelak, dengan cara memilih-milih harta kekayaan mereka untuk diberikan kepada anak perempuan, dengan suatu pemikiran bahwa bila anak perempuan dikemudian hari membina suatu rumah tangga (keluarga), belum
tentu suaminya mampu, sebagaimana yang di jelaskan oleh beberapa responden bahwa sebagai upaya membantu dan berjaga jika nantinya mereka memulai membina rumah tangga baru dengan suaminya.
2. Faktor Kasih Sayang
Wujud rasa kasih sayang orang tua kepada anaknya dapat dilakukan dengan berbagai cara dan salah satunya adalah dengan pemberian. Pada masyarakat Kabupaten Aceh Besar secara umum dikenal adanya pemberian yang dilakukan orang tua kepada anak perempuannya setelah melangsungkan perkawinan, dimana pemberian ini disebut denganhareuta peunulang.
Peunulang diberikan kepada anak perempuat pada saat telah melangsungkan perkawinan dalam proses pemengkleh dilakukan karena ingin menunjukkan rasa kasih sayangnya yang tidak putus kepada anak perempuannya walaupun anaknya telah berumah tangga dan membentuk keluarga baru bersama suaminya.102
Orang tua perempuan dengan suka rela memberikan bagian dari hartanya untuk keperluan hidupnya misalnya dengan memberikan lahan kebun untuk menambah sumber mata pencaharian dari keluarga anak perempuannya. Sebagaimana yang dilakukan oleh MI, warga Desa Jantho Makmur yang memberikan lahan kebun yang dimilikinya agar anak perempuan dan menantunya tersebut dapat memenuhi
102
kebutuhan rumah tangganya mengingat menantunya yang memiliki pekerjan berkebun sebelum menjadi menantunya.103
3. Faktor Ekonomi
Dari aspek ekonomi pemberian hareuta peunulang dimaksudkan untuk memberi bekal bagi anaknya dalam memasuki keluarga baru dengan suaminya. Sebagaimana yang dilakukan oleh Aminah terhadap anaknya yang tidak memiliki pekerjaan tetap.104
Menurut AM warga desa Lhieb yang memberikan peunulang berupa sawah karena menantunya mengalami kesulitan ekonomi karena tidak memiliki pekerjaan tetap dan harus menghidupi anak perempuannya dikemudian hari beserta cucu-cucunya nanti, hasil dari mengusakan sawah tersebut nantinya diharapkan dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka dalam keluarga.
Sebagaimana diketahui bahwa setelah seorang anak perempuan kawin untuk beberapa waktu tinggal dalam keluarga ibu bapaknya dan secara social masih dianggap satu keluarga, setelah melewati waktu, anak perempuan yang telah kawin ini dipisahkan (dipeumengkleh) untuk membentuk keluarga sendiri. Sudah pasti dalam memasuki keluarga baru, mereka membutuhkan bekal dan tempat tinggal, dalam rangka memenuhi inilah maka oleh orang tuanya diberikan atau disediakan persiapan berupa harta-harta tertentu.105
103 Wawancara dengan M.I, penduduk Desa Jantho Makmur, Jantho, tanggal 23 November 2013
104Wawancara dengan AM, penduduk Desa Jantho Baru, Jantho, tanggal 24 November 2013
Peunulang diberikan kepada anak perempuan sebagai modal awal dalam membina keluarga barunya bersama suaminya, orang tua yang memiliki cukup harta, biasanya akan memberikan peunulang dalam bentuk sawah, tanah kebuh, lahan, rumah, perhiasan maupun emas. Akan tetapi bagi orang tua yang tingkat ekonominya lemah maka yang diberikan dapat berupa hewan peliharaan, seperti sapi, lembu, ayam atau bebek, dan alat produksi lainnya seperti cangkul,pangkidan piring.106
Tujuan lain dari pemberian peunulang aspek sosial ekonomi adalah untuk modal atau pegangan bagi seorang anak perempuan jika dalam kehidupan berkeluarga mendapatkan musibah ditinggalkan suami, baik ditinggal meninggal atau ditinggal cerai.107
Dalam hal ini pemberian peunulang berupa rumah tempat tinggal. Jika seorang isteri ditinggal cerai oleh suaminya, maka ia tidak akan terusir dari rumah dan tidak akan terlantar. Seorang isteri yang menerimapeunulangberupa rumah tidak akan terusir dari rumah, tidak hannya dari rumah yang diterimanya itu, tetapi juga dari rumah lain di mana ia bertempat tinggal bersama suaminya, kalau misalnya ia dibawa oleh suami ketempat lain.
Hal inilah yang paling diperhatikan dan dijaga oleh para orang tua di Kabupaten Aceh Besar, akan merupakan aib besar kalau seseorang perempuan
106 Wawancara dengan Abdurrahman Kaoy,Wakil Sekretaris MAA,Banda Aceh, Tanggal 19 November 2013
107 Wawancara dengan SF, Penduduk Desa Teudayah, Kuta Makmur, tanggal 22 November 2013
seorang perempuan harus keluar dari rumah dalam hal terjadinya perceraian atau ditinggal meninggal oleh suaminya.108
4. Faktor Yuridis
Dari aspek yuridis pemberian hareuta peunulang adalah untuk menggantikan mas kawin yang diambil oleh orang tua untuk persiapan perkawinan anak perempuannya.109
Dalam masyarakat Kabupaten Aceh Besar orang tua mempunyai kebiasaan untuk mengawinkan (termasuk mengadakan acara perkawinan). Dalam hal, tidak jarang biaya untuk acara perkawinan anaknya diambil dari mas kawin yang telah diterima yang seharusnya menjadi hak anaknya. Untuk ini, sebagai ganti mas kawin yang telah diambil tersebut kapada anak perempuan diberikan sesuatu benda yang bermanfaat dalam wujudhareuta peunulang.
Sebagaimana yang dilakukan oleh JU warga desa Teudayah terhadap anak perempuannya, dimana mas kawinnya dipergunakan untuk mempersiapkan acara resepsi pernikahan anaknya tersebut, kemudian sebagai penggantinya bagi anak perempuan tersebut diberikan tanah sawah miliknya kepada anak perempuannya tersebut, untuk digunakan sebagai modal dalam membina rumah tangga bersama dengan suaminya.110
108Wawancara dengan Abdurrahman, Mantan Ketua PPISB Unsyiah, Banda Aceh, tanggal 21 November 2013
109
Wawancara dengan ABD, penduduk Desa Lhieb, Seulimeum, tanggal 24 November 2013
110 Wawancara dengan JU, Penduduk Desa Teudayah, Aceh Besar, tanggal 24 November 2013
Pengertian lain sebagai pengganti mas kawin adalah sebagai pihak yang menerima mas kawin, maka orang tua dari si anak perempuan memberikan sesuatu kepada kehidupan keluarga anaknya sekalipun mas kawin tidak diambil oleh orang tua.111
Oleh karena itu di dalam Masyarakat Kabupaten Aceh Besar penentuan mas kawin bagi anak perempuan oleh orang tuanya sangat tergantung atau sangat memperhatikan objek apa saja dan seberapa besar nantinya orang tua dapat memberikan hareuta peunulang. Di sini berarti penentuan mas kawin didasari pada jenis dan kuantitas darihareuta peunulangyang dapat diberikan.112
5. Faktor Budaya
Tujuan pemberian hareuta peunulang dari aspek budaya ini berkaitan dengan budaya pemberian hareuta peunulang yang turun-temurun, dimana orang tua yang juga pernah menerima pemberian peunulang maka orang tua tersebut selanjutnya akan memberikan hal yang sama kepada anaknya yang perempuan juga. Sudah menjadi hal yang lumrah dalam masyarakat Aceh Besar pemberian ini sebagai budaya yang baik yang terus dipertahankan sampai dengan sekarang. Sebagaimana yang dilakukan oleh ZU warga desa Lam Ara Tunoeng terhadap anaknya, dia
111
Wawancara dengan Abdurrahman,Mantan Ketua PPISB Unsyiah, Banda Aceh, tanggal 21 November 2013
112
Wawancara dengan Abdurrahman Kaoy, Wakil Ketua MAA, Banda Aceh, tanggal 23 November 2013
memberikan lahan kebun yang sebelumnya juga diberikan oleh orang tua ZU kepadanya disaat melangsungkan perkawinan.113
Tujuan lainnya dari aspek budaya berkaitan dengan hubungan darah, dalam masyarakat Aceh Besar secara emosional anak perempuan lebih dekat dengan orang tuanya dibandingkan dengan anak laki-laki. Selain itu anak laki-laki lebih cenderung mencari nafkah jauh dari rumah, sedangkan anak perempuan tinggal dan bekerja tidak jauh dari rumah, anak perempuan menjadi pengurus dan melayani orang tuanya. Dalam rangka menjaga kondisi ini, maka diusahakan anak perempuan tidak tinggal jauh dari keluarga ayah/ibu. Untuk itu maka kepada anak perempuan yang telah kawin diberikan rumah sebagai objek darihareuta peunulang.114
Berkaitan dengan ini dalam masyarakat dikenal ungkapan “Ureung inoeng mate ditempat ureung agam mate beuranggapat”. Artinya orang perempuan meninggal di rumah, orang laki-laki meninggal bisa di mana saja.115 Maksud dari ungkapan ini adalah orang perempuan hendaknya kalau meninggal tidak jauh dari rumah atau lingkungan keluarga dan orang laki-laki tidak ada masalah dan wajar saja kalau meninggal di mana saja, jauh dari lingungan keluarga. Untuk ini maka orang tua merasa berkewajiban untuk menyediakan rumah bagi anak perempuan.
Tujuan pemberian hareuta peunulang dari aspek budaya lainnya adalah berkaitan dengan hubungan perkawinan. Dalam hal ini tujuan pengadaan peunulang
113Wawancara dengan ZUJ, penduduk desa Lam Ara Tunoeng, tanggal 22 November 2013
114Abdurrahman,Op. Cit,hal. 29
adalah untuk memberikan kedudukan tertentu bagi isteri dalam keluarga.116 Dalam suatu keluarga atau rumah tangga di masyarakat Aceh Besar isteri adalah sosok pengatur yang menjadi pengatur kehidupan rumah tangga. Dalam persoalan intern rumah tangga isteri adalah managernya. Isteri sebagai orang yang punya rumah, yang punya wewenang mengatur persoalan intern keluarga sehari-hari. Sehingga, dalam masyarakat Aceh Besar dan masyarakat Aceh lainnya isteri disebut sebagai “po rumoh”(pemilik Rumah).117
Dalam memposisikan dan memperkuat posisi inilah maka kepada anak perempuan yang sudah menjadi isteri seseorang diberikanhareuta peunulang berupa rumah oleh orang tuanya. Dengan berkedudukan sebagai pemilik rumah maka isteri berkuasa mengatur persoalan intern rumah tangga, sekalipun demikian posisi suami tetap, tidak hilang sebagai kepala keluarga. Hannya hak mengatur dan menata rumah tangga ada pada isteri. Kedudukan isteri sebagai pemilik rumah ini, tidak hannya terbatas dalam rumah yang dia terima sebagai objek peunulang saja, tetapi terus melekat pada isteri kemanapun ia dibawa dan di manapun ia ditempatkan oleh suaminya. Seandainya isteri dibawa ke daerah lain dan disediakan rumah lain oleh suaminya, posisi isteri sebagai pemilik rumah dengan wewenang sebagaimana terssebut di atas tetap melekat padanya.
6. Faktor agama
116
Wawancara dengan D.A, penduduk Desa Peukan Seulimum, Seulimeum, tanggal 25 November 2013
Dari aspek agama, tujuan pemberian hareuta peunulang adalah untuk memperkuat hukum /syariat, maksudnya adalah untuk mencegah anak perempuan dalam hal ini isteri yang ditinggal suami melakukan hal-hal yang dilarang agama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.118
Bagi orang-orang yang berada dalam kondisi terjepit atau kondisi sulit seperti sulit memperoleh kebutuhan pangan atau sandang lebih terbuka kemungkinan untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan syariat agama guna memenuhi kebutuhan tersebut. Bagi masyarakat Aceh, dalam hal ini masyarakat Aceh Besar yang dikenal sangat Islami sangat menentang hal-hal begitu, apalagi kalau hal itu dilakukan oleh kaum perempuan yang diringgal suami. Syariat Islam telah mengatur secara tegas mengenai hal ini dan masyarakat Aceh sangat berpegang pada hukum /syariat. Masyarakat Aceh sejak dari kecil sudah dibekali dengan ilmu tentang syariat untuk mencegah dilakukan perbuatan-perbuatan yang tidak sejalan dengan ajaran agama. Untuk memperkuat pelaksanaan syariat ini, maka salah satu usaha lain yang bisa dilakukan adalah membekali seseorang anak dalam hal ini anak perempuan dengan bekal hidup untuk mengantisipasi kemungkinan itu kalau-kalau nantinya ditinggal suami dan tidak ada peninggalan apa-apa. Bekal hidup inilah yang diberikan melalui pemberian hareuta peunulang. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan pemberian hareuta peunulang dalam hal ini adalah untuk memperkuat hukum /syariat.
118
Wawancara dengan Abdurrahman,Mantan Ketua PPISB Unsyiah, Banda Aceh, tanggal 22 November 2013
7. Faktor Keadilan
Dari aspek keadilan tujuan dari pemberian hareuta peunulang adalah untuk mengimbangi ketetapan hukum waris Islam (faraid) yang berprinsip bagian anak laki-laki dua kali bagian anak perempuan.119
Masyarakat Aceh atau masyarakat Aceh Besar yang secara keseluruhan dapat dikatakan beraga Islam, dan patuh serta taat kepada aturan agama Islam percaya bahwa ketetapan agama mempunyai maksud dan tujuan yang baik, begitu pula larangan dalam agama mempunyai akibat kemudharatan yang memang harus ditaati untuk ditinggalkan120.
Ketentuan hukum waris Islam yang memberikan bagian anak laki-laki lebih besar bagiannya dari pada anak perempuan secara keseluruhan ditaati dan dipatuhi, namun melihat kondisi anak laki-laki yang dimiliki oleh keluarga sebagian warga desa Jantho Baro terutama T.I yang memiliki dua anak laki-laki dan satu orang anak perempuan, dimana anak laki-laki keduanya telah memiliki kemampuan secara ekonomi dalam menghidupi kehidupannya sendiri yang masing-masing memiliki pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil dan pengusaha dianggap telah mapan, sementara anak perempuannya yang selama ini membantu keluarga orang tuanya dirumah lebih sebagai pelindung orang tua dan tinggal bersama orang tuanya, ditambah belum memiliki penghasilan atau pekerjaan yang tetap maka sudah sepantasnya diberikan tambahan harta warisan, pemberian selain dari ketentuan
119
Wawancara dengan T.I, penduduk Desa Jantho Baru, Jantho, tanggal 24 November 2013
120
bagian warisan di dalam Hukum Islam diberikan dalam bentuk wasiat, hadiah dan hibah, maka dalam ini orang tua lebih memilih hibah, di dalam masyarakat Aceh Besar hibah di sini bentukpeunulang,sebagai upaya memberikan keadilan terhadap ketentuan bagian anak laki-laki lebih besar dari bagian anak perempuan dalam hal tentuanfaraid.
Keberadaan lembagahareuta peunulangyang hingga kini masih dilaksanakan di dalam masyarakat Aceh Besar ini sesuai dengan teori Urf yang digunakan dalam penelitian ini, adat kebiasaan adalah suatu yang telah dibiasakan oleh masyarakat dan dijalankan terus-menerus baik berupa perkataan maupun perbuatan.121
Lebih lanjutUrfitu sendiri dibagi menjadi dua jenis : 1. Urf Shahih(benar)
2. Urf Fasid(salah, rusak)
Urf(adat)Shahihialah kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertentangan dengan dalil syara’, tidak menghalalkan yang haram dan tidak membatalkan yang wajib. Sebagai mana dalam hal ini pemberian hareuta peunulang yang diberikan kepada anak perempuan yang telah menikah, dalam hal warisan tidak menyalahi aturan syara’, dimana pemberian itu sendiri di lakukan pengontrolan oleh kepala desa dan tetua kampung agar tidak melebihi 1/3 (sepertiga) dari keseluruhan harta yang dimiliki oleh orang tua dan
121
Hasballah Thaib,Tajdid, Reaktualisasi dan Elastisitas Hukum Islam,(Medan : Konsentrasi Hukum Islam Program Pasca Sarja USU, 2002), hal. 32
mengedepankan asas keadilan dalam keluarga secara proporsional terhadap bagian waris anak laki-laki dan semua anak dalam keluarga.
Urf (adat) Fasid adalah kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang yang berlawanan dengan ketentuan syari’at karena membawa kepada yang menghalalkan yang haram dan membatalkan yang wajib.122