BAB III: PENARIKAN KENDARAAN BERMOTOR YANG DILAKUKAN
C. Alasan Hukum Ditariknya Kendaraan Bermotor
Dalam kasusdi Pengadilan Nomor Perkara:33/Pdt/Sus/BPSK/2016PN.Tjb yaitupenarikan kendaraan bermotor terhadap konsumen yang dilakukan oleh Kreditur (Lembaga Pembiayaan Konsumen) melakukan penarikan kendaraan Bermotor secara sepihak terhadap Debitur. Dimana pihak Debitur mengajukan permohonan kepada pihak Kreditur untuk mendapatkan fasilitas berupa 1 unit kendaraan bermotor yaitu mobil Merk Isuza NKR71 HD E2-2 Dump Truck Nomor Polisi BK 8055 VR, dengan jangka waktu kontrak 48 bulan sekali angsuran, yang mana telah dituangkan dalam perjanjian pokok dan diikuti perjanjian tambahan (Accesoir)dalam Pembiayaan Konsumen, dan setelah beberapa bulan memakai fasilitas pembiayaan konsumen Kreditur melakukan penarikan kendaraan bermotor secara sepihak tanpa memberi peringatan terlebih dahulu kepada Debitur (Somasi).
Rujukan alasan hukum Kreditur melakukan penarikan kendaraan bermotor terhadap Debitur yaitu sesuai dengan perjanjian pembiayaan konsumen Pasal 10 Akibat Kelalaian yang berbunyi kelalaian dengan sendirinya terjadi tanpa perlu adanya teguran terlebih dahulu apabila:
1. Pembayaran angsuran tidak atau belum dibayar penuh menurut jumlah dan jadwal yang ditetapkan pada perjanjian ini.
2. Tindakan-tindakan atau kelalaian yang melanggar atau bertentangan dengan ketentuan dalam perjanjian ini, dan tidak atau belum diperbaiki menurut jadwal waktu yang ditentukan dalam surat peringatan pertama.
Dapat diartikan bahwa pasal ini menjelaskan tanpa adanya teguran terlebih dahulu (somasi) apabila Debitur atau Konsumen tidak membayar angsuran maka debitur atau konsumen dinyatakan telah melakukan kelalaian terhadap pembayaran angsuran kendaraan bermotor.
Lembaga Pembiayaan dalam melakukan penarikan terhadap objek jaminan kendaraan bermotor ada acara-acara yang mesti ditempuh oleh perusahaan pembiayaan, pertama, pelaksanaan harus melalui lembaga Parate Eksekusi, Kedua, penjualan benda menjadi objek jaminan fidusia atas kekuasaan penerima fidusia sendiri, melalaui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan, dan ketiga, penjualan di bawah tangan yang dilakukan berdasarkan kesepakatan pemberi dan penerima fidusia jika dengan cara demikian dapat diperoleh harga setinggi yang menguntungkan para pihak.40
Lebih lanjut dapat dilihat pendapat Bachtiar Sibarani, yang menyatakan bahwa eksekusi adalah pelaksanaan secara paksa putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap/pelaksanaan secara paksa dokumen perjanjian yang dipersamakan dengan putusan Pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.41
Eksekusi jaminan fidusia diatur dalam Pasal 29 sampai dengan Pasal 34 Undang-Undang jaminan Fidusia (UUJF). Yang dimaksud dengan eksekusi jaminan fidusia adalah penyitaan dan penjualan benda yang menjadi objek jaminan fidusia. Penyebab timbulnya eksekusi jaminan fidusia ini adalah karena
40Bachtiar Sibarani.,Perate Eksekusi dan Paksa Badan,Jurnal Hukum Bisnis Vol. 15 September
41 Bachtiar Sibarani, Perate Eksekusi dan Paksa Badan, Jurnal Hukum Bisnis Vol. 15, September 2001, hal. 6
debitur atau pemberi fidusia cedera janji atau tidak memenuhi prestasinya walaupun sudah diberikan somasi.
Dari pengertian diatas dapat diketahui bahwa eksekusi tidak hanya di artikan dalam arti sempit tetapi juga dalam arti luas. Eksekusi tidak hanya pelaksaan terhadap suatu putusan yang telah berkekuatan hukum kepada pihak yang kalah, yang tidak mau menjalankan isi putusan secara sukarela, tetapi eksekusi dapat dilaksanakan terhadap grosse surat hutang notaril dan benda jaminan eksekusi serta eksekusi terhadap perjanjian. Eksekusi atau penarikan terhadap objek kenderaan bermotor dalam arti luas merupakan suatu upaya realisasi hak, bukan hanya merupakan pelaksanaan putusan pengadilan saja.
1. Jenis-Jenis Eksekusi Jaminan Fidusia
Di dalam Pasal 29 UUJF diatur jenis-jenis eksekusi jaminan fidusia, yaitu42
a. Secara fiat eksekusi ( dengan memakai title eksekutorial), yakni lewat suatu penetapan pengadilan. menyatakan bahwa Grosse dari Akta hipotik dan surat hutang yang dibuat dihadapan notaris di Indonesia dan yang kepalanya berbunyi “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” berkekuatan hukum sama dengan kekuatan suatu putusan hakim.
Jika tidak dengan jalan damai, maka surat yang demikian dieksekusi dengan perintah dan di bawah pimpinan Ketua Pengadilan Negeri, yang dalam daerah hukumnya tempat diam atau tempat tinggal debitur atau pemberi fidusia atau tempat kedudukan yang dipilihnya, yaitu menurut cara yang dinyatakan dalam Pasal-pasal sebelumnya dari pasal 224 HIR.
:
43
42 Bachtiar Sibarani. Op. Cit, hal. 6
43 Munir Fuady, Op.Cit, hal. 58
Menurut Kitab Undang-Undag Hukum Acara Perdata (HIR), setiap akta yang mempunyai title eksekutrial dapat dilakukan fiat eksekusi. Pasal 224 HIR
Selanjutnya Pasal 15 dari Undang-Undang Jaminan Fidusia, sertifikat jaminan fidusia mencantumkan irah-irah “DEMI KEADILAN BERDASARKAN TUHAN YANG MAHA ESA”. Sertifikat jaminan fidusia tersebut mempunyai kekuatan eksekutorial sama hal nya dengan putusan pengadilan yang memperoleh kekuatan hukum yang tetap.
Irah-irah yang ini lah yang memberikan title eksekutorial, yakni title yang mensejajarkan kekuatan akta tersebut tinggal dieksekusi (tanpa adanya keputusan pengadilan)
b. Eksekusi Fidusia Secara Parate Lewat Pelelangan Umum
Eksekusi fidusia dapat juga dilakukan dengan jalan mengeksekusinya oleh penerima fidusia lewat lembaga pelelangan umum (kantor lelang), dimana hasil pelelangan tersebut diambil untuk melunasi pembayaran piutang-piutangnya.
Parate eksekusi lewat pelelangan umum ini dapat dilakukan tanpa melibatkan pengadilan sama sekali. Yang mana diatur dalam Pasal 29 ayat 1 huruf b yang menyatakan bahwa “penjualan benda yang menjadi objek jaminan fidusia atas kekuasaan penerima fidusia sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan”.
Ketentuan ini mengahapuskan keraguan-raguan sebelumnya seolah-olah setiap eksekusi lewat kantor pelelangan umum haruslah dengan suatu penentapan pengadilan, yang mana ternyata anggapan ini tidak benar sama sekali.
c. Eksekusi Fidusia secara Parate Eksekusi Secara Penjualan Di bawah Tangan.
Jaminan fidusia dapat juga dieksekusi secara parate eksekusi
(mengeksekusi tanpa lewat pengadilan) dengan cara menjual benda objek fidusia yakni kenderaan bermotor milik debitur secara di bawah tangan, asalkan
terpenehuni syarat-syarat untuk itu.
Menurut UUJF pasal (29), maka syarat-syarat agar suatu fidusia dapat dieksekusi secara di bawah tangan adalah sebagai berikut :
1. Dilakukan berdasarkan kesepakatan antara pemberi dengan penerima eksekusi.
2. Jika dengan cara penjualan di bawah tangan tersebut dicapai harga tertinggu yang menguntungkan para pihak.
3. Diberitahukan secara tertulis oleh pemberi dan/atau penerima fidusia kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
4. Diumumkan dalam sedikit-dikitnya dalam dua surat kabar yang beredar di daaerah yang bersangkutan.
5. Pelaksanaan penjualan dilakukan setelah lewat waktu 1 (satu) bulan sejak diberitahukan secara tertulis.
Dalam Kementerian Keuangan telah mengeluarkan peraturan yang melarang perusahaan pembiayaan untuk menarik secara paksa kendaraan dari nasabah yang menunggak kredit kendaraan.Hal itu tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.130/PMK.010/2012, tentang pendaftaran Jaminan Fidusia Bagi Perusahaan Pembiayaan Yang Melakukan Pembiayaan Konsumen Untuk Kenderaan Bermotor Dengan Membebanan Jaminan Fidusia.44
44Julius Ardhyantama, Perjanjian Fidusia Syarat Pihak Leasing, http://mobildanmotorbekas.blogspot.co.id/2017/06 htm, diakses tgl 12 Juni 2017. Pkl 11.48 WIB
Diterangkan dalam aturan Menteri Keuangan No. 130/PMK/010/120 Tentang Persyaratan Pengamanan Eksekusi Jaminan Fidusia Pasal 6 yang berbunyi :
a. Ada permintaan dari pemohon.
b. Objek tersebut memiliki akta jaminan fidusia.
c. Objek jaminan fidusia terdaftar pada kantor pendaftaran fidusia.
d. Objek jaminan fidusia memiliki sertifikat jaminan fidusia.
Dapat diartikan apabila debitur wanprestasi maka kreditur dapat melakukan eksekusi tersebut dengan persyaratan yang telah disebutkan diatas dan juga harus mengajukan terlebih dahulu kepada kepolisian supaya terselenggaranya pelaksanaan eksekusi jaminan fidusia secara aman, tertib,lancar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dari hasil penulis cermati bahwa yang dilakukan kreditur atau lembaga pembiayaan konsumen dalam melakukan penarikan kendaraan bermotor milik konsumen tidaklah sesuai dengan peraturan yang telah di tetapkan oleh pemerintah karena menurut penulis yang dilakukan oleh Kreditur tanpa terlebih dahulu memberikan somasi terhadap Konsumen, dan lebih fatal lagi yang melakukan penarikan tidak adanya akta Eksekutorial disaat melakukan eksekusi kendaraan bermotor di tengah jalan. Didalam Peraturan PERKAPOLRI No.8 Tahun 2011 Tentang PengamananEksekusi Jaminan Fidusia Terhadap Penarikan Kendaraan Bermotor diperintahkan bahwa dalam melakukan Eksekusi Jaminan Fidusia terhadap kendaraan bermotor haruslah didampingi oleh Kepolisian
setempat agar dalam pelaksanaan Eksekusi Jaminan Fidusia dapat terjadi secara aman, tertib, lancar dan dapat dipertanggung jawabkan oleh kedua belah pihak.
D. PERKAPOLRI No.8 Tahun 2011 Tentang PengamananEksekusi