KERANGKA TEOR
2.3 Alex Inkles dan David H Smith : Manusia Modern
Alex Inkles dan David Smith pada dasarnya juga berbicara tentang pentingnya faktor manusia sebagai komponen penting penopang pembangunan. Pembangunan bukan sekedar perkara pemasokan modal dan teknologi saja. Tetapi dibutuhkan manusia yang dapat mengembangkan sarana material tersebut supaya menjadi produktif untuk ini, dibutuhkan apa yang disebut Inkles sebagai manusia modern.
Apakah manusia modern itu? Dalam buku mereka yang terkenal, Becoming Modern, kedua tokoh itu mencoba memberikan ciri-ciri dari manusia yang dimaksud, yang antara lain meliputi hal-hal seperti keterbukaan terhadap pengalaman dan ide baru, berorientasi ke masa sekarang dan masa depan, punya kesanggupan merencanakan, percaya bahwa manusia menguasai alam dan bukan sebaliknya, dan sebagainya. Ciri-ciri yang diberikannya tentu saja ditambah lagi, atau dikurangi, atau dikritik ketepatannya. Dalam hal ini, Inkles dan Smith tidak berbeda dengan Weber dengan konsep etika protestannya, atau Mclelland dengan konsep n-Achnya. Bedanya, Inkeles dan Smith menguraikan secara lebih rinci dan menguji konsep-konsep ini dalam sebuah penelitian emperis yang meliputi penduduk di enam negara berkembang.
Untuk tujuan buku ini, yang lebih penting adalah teori Inkeles dan Smith tentang proses pembentukan manusia modern. Pertama-tama, mereka menyatakan “kami beranggapan bahwa, bagaimanapun juga, manusia bisa diubah secara mendasar setelah dia menjadi dewasa, dan karena itu tak ada manusia yang tetap menjadi manusia tradisional dalam pandangan dan kepribadiannya hanya karena dia dibesarkan dalam sebuah masyarakat yang tradisional”. Artinya, dengan
memberikan lingkungan yang tepat, setiap orang bisa diubah menjadi manusia modern setelah dia mencapai usia dewasa.
Dari hasil penelitiannya, Inkeles dan Smith menjumpai bahwa pendidikan adalah paling efektif untuk mengubah manusia. Dampak pendidikan tiga kali lebih kuat dibandingkan dengan usaha-usaha lainnya. Kemudian, pengalaman kerja dan pengenalan terhadap media massa merupakan cara kedua yang efektif. Penemuan ini mendukung pendapat Daniel Lerner yang menekankan pentingnya media massa sebagai lembaga yang mendorong proses modernisasi.
Inkeles dan Smith kemudian menekankan faktor pengamatan kerja, terutama pengalaman kerja di pabrik, sebagai peran dalam mengubah manusia tradisional menjadi modern. Dengan kata lain, seorang manusia tradisional bisa diubah menjadi manusia modern bila dia diterjunkan dalam lembaga-lembaga kerja yang modern. Seorang yang bekerja di pabrik misalnya, dipaksa bekerja untuk menepati waktu, untuk membuat perencanaan, untuk bekerja sama dengan orang lain, dan sebagainya. Dalam penelitiannya, Inkeles dan Smith menemukan bahwa seorang manusia tradisional yang diterjunkan dalam lembaga kerja yang modern bukan saja bisa melakukan adaptasi yang cepat (berbeda dengan persangkaan bahwa dia menjadi bingung dan kehilangan orientasi), tetapi dia juga bisa menyerap nilai-nilai kerja ini kedalam sikap, nilai dan tingkah lakunya. Dengan lain perkataan dia menjadi manusia modern.
Untuk menjelaskan hal ini, Inkeles dan Smith mengambil teori Karl Marx menyatakan bahwa kesadaran manusia ditentukan oleh lingkungan materialnya. Hubungan manusia dengan alat produksinya memberi bentuk dan isi pada kesadarannya. Pendapat itu tampaknya dibenarkan oleh hasil penelitian Inkeles
dan Smith, di mana manusia tradisional berubah menjadi manusia modern karena bekerja pada lembaga-lembaga kerja yang modern, seperti misalnya di pabrik- pabrik.
Bahkan kedua peneliti ini menemukan bahwa perbedaan etnis dan perbedaan agama, yang dianggap sebagai faktor penting dalam mengubah tingkah laku manusia oleh para ahli ilmu sosial yang menekankan faktor kebudayaan, ternyata kurang berperan penting dalam pembentukan manusia modern. Lebih penting, seperti sudah diungkapkan di atas, adalah faktor pendidikan dan pengalaman kerja di lembaga kerja yang modern. (Arief, 2000: 34-36)
Seperti yang dikatakan oleh Alex Inkeles pendidikan merupakan hal yang paling efektif untuk merubah manusia. Dalam penelitian ini Perusahaan PTPN VI Jambi memberikan pendidikan kepada petani plasma melalui pembinaan dan pelatihan kepada petani plasma mulai dari pelatihan manajemen hingga pelatihan teknis. Disini akan dilihat bagaimana hasil dari pelatihan dan pembinaan yang dilakukan Perusahaan kepada petani, apakah petani mampu menyerap pendidikan dan pelatihan yang diajarkan?, serta apakah petani mampu menerapkan apa yang telah diajarkan perusahaan, seperti penggunaan alat dan mesin pertanian untuk perkebunan kelapa sawit. Inkeles juga menyatakan bahwa manusia tradisional bila diterjukan pada lembaga kerja dapat beradaptasi dengan lingkungan kerja dan menjadi manusia modern, disini akan dilihat apakah petani plasma yang dilibatkan oleh pihak perusahaan dalam pengelolaan perbunan kelapa sawit mulai dari penggunaan teknologi hingga melakukan perencanaan, pengambilan keputusan dan berdiskusi melalui kelompok tani oleh pihak perusahaan bisa merubah pola pikir petani sehingga petani menjadi lebih mandiri.
Menurut Inkeles, manusia modern memiliki karakteristik sebagai berikut: memiliki sikap hidup untuk menerima hal-hal yang baru dan terbuka untuk perubahan; menyatakan pendapat atau opini mengenai lingkungan sendiri atau kejadian yang terjadi jauh diluar lingkungan serta dapat bersikap demokratis, menghargai waktu dan lebih banyak berorientasi ke masa depan daripada masa lalu, memiliki perencanaan dan pengorganisasian, percaya diri, perhitungan, menghargai harkat hidup manusia lain, lebih percaya pada ilmu pengetahuan dan teknologi dan menjunjung tinggi suatu sikap bahwa imbalan yang diterima seseorang haruslah sesuai dengan prestasinya di masyarakat. (Nanang, 2011; 60- 61).
2.4 Perubahan Sosial : Difusi dan Transformasi Nilai A.Difusi
Masyarakat yang paling inventif pun hanya menemukan sendiri sebagaian dari seluruh inovasi yang ada dalam masyarakat itu. Kebanyakan perubahan sosial pada masyarakat yang dikenal merupakan hasil dari proses difusi, yakni penyebaran unsur-unsur budaya dari suatu kelompok ke kelompok lainnya. Difusi berlangsung baik di dalam masyarakat maupun antar masyarakat. Difusi terjadi manakala beberapa masyarakat saling berhubungan. Masyarakat juga dapat mengelakan diri dari difusi dengan cara mengeluarkan larangan dilakukannya kontak dengan masyarakat lain. (Suwarsono, 1990: 76)
Difusi selalu merupakan proses dua-arah. Unsur-unsur budaya tidak dapat menyerap tanpa adanya kontak terntentu antar manusia dan kontak tersebut selalu melahirkan difusi pada kedua belah pihak. Dengan adanya sistem kebun plasma, maka antara pihak perusahaan dengan petani plasma terjadi kontak dan
komunikasi, hal ini terjadi melalui pelatihan dan pembinaan yang dilakukan perusahaan kepada pihak petani plasma, dimana petani plasma menyerap nilai- nilai yang diajarkan oleh pihak perusahaan. Seperti pengajaran bagaimana cara menanam, memupuk dan merawat tanaman kelapa sawit dengan benar sesuai dengan standar operasional. Manakala terjadi kontak budaya antar dua masyarakat, maka pada umumnya masyarakat yang tingkat teknologinya sederhanalah yang lebih banyak menyerap unsur budaya masyarakat lainnya. Kelompok sosial berstatus rendah biasanya menyerap lebih banyak unsur budaya dari kelompok berstatus tinggi, bukan sebaliknya. Sepertinya halnya perusahaan dengan petani plasma. Dimana petani plasma lebih banyak menyerap nilai-nilai yang diajarkan perusahaan kepada petani, seperti penggunaan dan penerapan teknologi pertanian. Maka akan dilihat apakah petani mampu mengadopsi teknologi yang diajarkan oleh perusahaan kepada petani untuk meningkatkan hasil produksi mereka.
Difusi merupakan suatu proses selektif. Sebuah kelompok menerima beberapa unsur budaya dari kelompok lainnya, dan pada saat bersamaan kelompok itu menolak unsur-unsur budaya dari kelompok lain tersebut. Difusi biasanya disertai dengan modifikasi tertentu terhadap unsur-unsur serapan. Sebagaimana yang telah disinggung terdahulu, setiap unsur budaya memiliki prinsip, bentuk, fungsi, dan makna. Salah satu atau bahkan semua segi tersebut dapat mengalami perubahan ketika suatu unsur budaya diserap. Maka melalui teoti difusi akan dilihat apakah ada terjadinya proses difusi antara perusahaan PTPN VI Jambi dengan petani plasma Kebun Bunut Unit X Sungai Bahar Jambi
Transformasi menurut Kuntowijoyo adalah konsep ilmiah atau alat analisis untuk memahami dunia. Karena dengan memahami perubahan setidaknya dua kondisi/keadaan yang dapat diketahui yakni keadaan pra perubahan dan keadaan pasca perubahan.
Transformasi merupakan perpindahan atau pergeseran suatu hal ke arah yang lain atau baru tanpa mengubah struktur yang terkandung didalamnya, meskipun dalam bentuknya yang baru telah mengalami perubahan. Kerangka transformasi budaya adalah struktur dan kultur. Sementara itu menurut Capra, transformasi melibatkan perubahan jaring-jaring hubungan sosial dan ekologis. Apabila struktur jaring-jaring tersebut diubah, maka akan terdapat didalamnya sebuah transformasi lembaga sosial, nilai-nilai dan pemikiran-pemikiran. Transformasi budaya berkaitan dengan evolusi budaya manusia. Transformasi ini secara tipikal didahului oleh bermacam-macam indikator sosial. Transformasi budaya semacama ini merupakan langkah-langkah esensial dalam perkembangan peradaban. Semua peradaban berjalan melalui kemiripan siklus proses-proses kejadian, pertumbuhan, keutuhan dan integritas. (Elly dan Usman, 2011: 670)
Berdasarkan uraian di atas, dapatlah disimpulkan bahwa transformasi adalah perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain, dan menyebabkan perubahan pada satu objek yang telah dihinggapi oleh sesuatu tersebut.Jadi transformasi dapat menyebabkan perubahan pada satu objek tertentu. Perubahan tersebut terjadi pula pada masyarakat yang mampu mentransformasi nilai-nilai budaya lokal.
Dalam teori moral socialization atau teori moral sosialisasi dari Hoffman menguraikan bahwa perkembangan moral mengutamakan pemindahan (transmisi)
norma dan nilai-nilai dari masyarakat kepada anak agar anak tersebut kelak menjadi anggota masyarakat yang memahami nilai dan norma yang terdapat dalam budaya masyarakat. Teori ini menekankan pada nilai dan norma yang tadinya terdapat dalam budaya masyarakat ditransformasikan atau disampaikan kepada masyarakat lain agar masyarakat secara umum memiliki dan memahami nilai-nilai budaya dan dapat dijadikan dasar dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
(https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=8&cad=r ja&uact=8&ved=0CHkQFjAH&url=http%3A%2F%2Fjurnal.upi.edu%2Ffile%2F rasid_yunus.pdf&ei=PGsYU4OeAYmLrQfKzYDoCg&usg=AFQjCNHknqKgMc _-k6wQ0sJqhhkrIDIWkg)
Transformasi tidak hanya perubahan berupa mekanisasi dan teknologi tetapi lebih jauh lagi berdampak pada kemampuan ekonomi dan sosial petani, seperti pada terjalin gotong royong dan mampunya petani dalam pembentukan kelompok tani. Penelitian ini akan melihat bagaimana transformasi yang terjadi antara pihak perusahaan dengan petani plasma. Transformasi bisa terjadi bila pihak yang menerima terbuka akan perubahan itu dan melalui perubahan itu apakah masyarakat mampu menghilangkan pikiran negatif sehingga mau menerima peruabahan itu sendiri. Pada teori transformasi nilai akan dilihat apakah ada terjadinya transformasi tentang nilai-nilai yang diajarkan oleh pihak perusahaan kepada petani melalui pelatihan dan pembinaan kepada petani, seperti bagaimana acara penggunaan teknologi, apakah petani mampu menerapkannya atau tidak. Apakah petani mampu menerapkan bagaimana cara penanaman,
pemupukan dan perawatan tanaman kelapa sawit sesuai standar operasional seperti yang diajarkan oleh pihak perusahaan atau tidak?