C. Teori Trias Politika
1. Ali bin Abi Thalib
Ali bin Abi Thalib adalah putra Abu Thalib. Penghulu Bani Hasyim. Abu Thalib adalah paman dan pelindung Nabi Muhammad, yang membawa ke rumahnya dan membesarkannya sebagai puteranya sendiri. Ali lahir dikota Mekkah pada hari Jum‟at, tanggal 13 Rajab tahun 3072
. Rasulullah mengawinkan
69
M.H. Thabathaba‟i, Islam Syi‟ah; op cit. hlm. 199
70
Rukun iman kaum Islam Syi‟ah yaitu: 1. Percaya kepada Ke-Esaan Allah 2. Percaya kepada keadilan 3. Percaya kepad Kenabian 4. Percaya kepada Imamah 5. Percaya kepada hari Kiamat
Lihat karya K. H. Irfan Zidny, MA, Bunga Rampai Ajaran Syi‟ah dalam buku Mengapa Kita
menolak Syi‟ah: Kumpulan Makalah Seminar Nasional Sehari Tentang Syi‟ah (Jakarta: LPPI,
2002) hlm. 33
71
S.V. Mir Ahmed Ali. The Everlasting Story of Prophet Muhammad's SAW Beloved Grandson,
Husein The King of Martyrs (Raja Para Syuhada). Jakarta: Lentera, 2007, hlm. 81
72
putrinya, Fatimah, dengannya. Ali adalah salah satu dari sepuluh orang sahabat yang mendapat jaminan langsung masuk surga dari Nabi.
Ali dilahirkan pada sepuluh tahun sebelum permulaan risalah kenabian dari Rosul. Ketika ia berusia enam tahun, tatkala terjadi bencana kelaparan di Mekkah dan sekitarnya, Nabi memintanya tinggal dirumah beliau. Disana dia langsung ditempatkan dibawah penjagaan dan perlindungan Nabi Muhammad. Maka pada saat Ali berusia delapan tahun, ia memeluk agama Islam. Oleh karena itu Ali adalah orang yang pertama masuk Islam dari kalangan anak-anak. Dan oleh sebab itu pula, Ali mendapat gelar karramallahu wajhah karena Ali tidak pernah menyembah berhala sama sekali73.
Ketika Nabi Muhammad wafat, Ali telah berusia tiga puluh tiga tahun. Meskipun dia paling menonjol dalam kesalehan agama dan paling terkemuka diantara sahabat-sahabat Nabi, dia disisihkan dari kekholifahan atas dasar alasan bahwa dia terlalu muda dan mempunyai banyak musuh diantara rakyat karena darah kaum musyrikin yang ditumpahkannya dalam peperangan yang ia ikuti bersama Nabi Oleh karena itu, Ali hampir tersisih sama sekali dari soal-soal kenegaraan. Dia menyendiri dirumahnya dan mendidik pribadi-pribadi yang cakap dalam ilmu-ilmu ketuhanan74. Ketika pemimpin ketiga (Usman bin Affan) terbunuh, dan umat memberikan dukungan kepadanya, dia-pun terpilih sebagai pemimpin ke-empat.
Selama masa kepemimpinannya, yang hampir berusia empat tahun sembilan bulan itu, Ali mengikuti jejak Nabi dan memberi bentuk pada kekholifahannya sebagai gerakan kerohanian dan pembaharuan serta mengadakan berbagai perbaikan. Akan tetapi hal ini tidak terlalu berjalan dengan lancar yang dikarenakan oleh faktor internal, yakni: Perang Unta (Perang Jamal), melawan Thalhah dan Zubair serta melibatkan juga istri Nabi Muhammad yaitu „Aisyah. Dia melancarkan peperangan lain melawan Mu‟awiyah diperbatasan Irak dan Syria yang berlangsung selama satu setengah tahun dan dikenal dengan Perang
Shiffin. Dia juga perang melawan golongan Khawarij75 di Nahrawan yang
73
Muhammad Ali Shabban. Teladan Suci keluarga Nabi; Akhlak dan Keajaiban-Keajaibannya. (Bandung; Al-Bayan, 1997) hlm. 107
74
M.H. Thabathaba‟i, Islam Syi‟ah; Lok.cit. hlm. 221
75
Golongan Khawarij adalah pasukan yang berada dipihak Ali bin Abi Tholib. Mereka malah melakukan pemberntakan kepada Ali setelah terjadinya arbitrasi dan mencopotnya dari
terkenal dengan Perang Nahrawan. Karena itu, sebagian besar masa kepemimpinannya, Ali dilanda kekacauan internal politik.
Dalam kuthbahnya Ali mengatakan mengenai hak kekuasaan bagi para ulama, khutbah tersebut juga sangat berkaitan erat dengan peristiwa Saqifah yang telah mengangkat Abu Bakar sebagai penguasa. Dengan khutbahnya Ali mengatakan sebagai berikut,
“Nabi (Muhammad Saw) adalah pengemban amanat wahyu Allah, yang terakhir dari Nabi-Nya, pemberi kabar (gembira) tentang rahmat-Nya dan pemberi peringatan tentang hukuman-rahmat-Nya.
Wahai manusia, yang berhak dari semua manusia untuk urusan (kekhalifahan) ini adalah orang yang paling mampu di antara mereka untuk menegakkannya, dan yang paling mengetahui perintah-perintah Allah tentang itu. Apabila suatu bencana diciptakan oleh seorang pembawa bencana, dia akan diseru untuk bertobat. Apabila dia menolak, dia akan diperangi. Demi hidupku, apabila masalah Imamah tidak dapat diputuskan tanda kehadiran semua orang maka tak akan ada hal seperti itu (di waktu lalu)76. Tetapi orang-orang yang menyetujuinya memaksakan keputusan pada yang tidak hadir, sehingga orang yang hadir tak dapat menolak dan orang yang tidak hadir dapat memilih (seseorang lainnya). Ketahuilah bahwa aku akan memerangidua orang, yang satu yang mengakui apa yang bukan kepunyaannya, dan yang lain yang mengabaikan apa yang wajib baginya.” 77
kekuasaannya dengan alasan bahwa dia menerima tahkim. Ahmad Al-Usairy, Sejarah Islam; Sejak
Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX. (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2003) hlm. 176
76
Ketika orang-orang yang berkumpul di Saqifah Bani Sa‟idah sehubungan dengan pemilihan Khalifah, bahkan orang-orang yang tidak hadir di sana terpaksa mengikuti keputusan yang diambil, dan dianutlah prinsip bahwa orang yang hadir pada pemilihan itu tidak berhak untuk mempertimbangkan kembali hal itu atau membetalkan bai‟at, dan orang yang tak hadir tak dapat berbuat apa-apa selain menyetujui keputusan yang telah disepakati itu. Tetapi, ketika orang Madinah membai‟at kepada Imam Ali as, Gubernur Suriah (Muawiyah) menolak mengikutinya atas dasar bahwa karena dia tak hadir pada peristiwa itu maka dia tidak terikat untuk berpegang kepadanya. Untuk itu Imam Ali as memberikan jawaban dalam khotbah ini, atas dasar prinsip yang telah diterima dan disetujui ini serta kondisi-kondisi yang telah dimapankan di kalangan rakyat dan sudah tak terbantah, yakni, “Ketika penduduk Madinah serta kaum Anshar dan Muhajirin telah membaiat aku, Muawiyah tidak berhak melepaskan diri darinya dengan alas an bahwa dia tidak hadir pada kesempatan itu, tidak pula Thalhah dan Zubair berhak membatalkan bai‟atnya.”
Pada kesempatan ini Ali tidak berhujah atas dasar ucapan Nabi yang merupakan kata kunci tentang kekhalifahan, karena dasar penolakannya berhubungan dengan modus operandi prinsip pemilihan. Sesuai dengan tuntutan situasi itu, jawaban berdasarkan prinsip-prinsip yang telah disepakati lawan saja yang dapat membungkamnya. Sekalipun misalnya dia telah berhujah atas dasar kekuatan perintah Nabi, hal itu akan mengalami pelbagai penafsiran, dan urusan itu akan diperpanjang ketimbang diselesaikan. Lagi pula Imam Ali as telah melihat bahwa segera setelah wafatnya NAbi, ucapan dan perintah beliau telah dikesampingkan. Setelah berlalunya waktu panjang, tak dapat diharapkan bahwa orang akan menerimanya, istimewa setelah mapannya kebiasaan untuk mengikuti kehendak semaunya bertentangan dengan ucapan-ucapan Nabi. Lihat Syarif Radhi, „Nahjul Balaghah:Mutiara Sastra Ali (edisi Khutbah)‟, cet. 2009, Al-Huda, Jakarta, Khutbah 172, hlm. 440.
77
Pada pagi hari tanggal 19 Ramadhan 40 H, ketika sedang melaksanakan sholat Subuh di Mesjid Kufah, Ali ditikam oleh seorang dari golongan Khawarij, Muhammad ibn Muljam, dan tewas pada tanggal 21 malam.