• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III STUDI HADIS DALAM PEMIKIRAN SARJANA

C. Ali Mustafa Yaqub

Ali Mustafa Yaqub lahir pada tanggal 2 Maret 1952 di Desa Kemiri, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Provinsi Batang Jawa Tengah. Ia hidup dalam nuansa taat beragama sejak kecil. Pada masa kecilnya setiap hari setelah pulang sekolah, Ali Mustafa menghabiskan waktunya menemani

55 Fithriady Ilyas dan Ishak bin Hj. Sulaiman, “Muhammad Syuhudi Ismail (1943-1995); Tokoh Hadis Profilik, Ensiklopedik, dan Ijtihad,” h. 18

56 M. Syuhudi Ismail, Kaidah Kesahihan Sanad Hadis, h. 270

kawan yang mengembala kerbau di lereng-lereng bukit pesisir utara Jawa Tengah. Kebiasaan ini kelak membentuk karakter dan kepribadian Ali Mustafa yang tegas, disiplin, kritis, dan peduli antar sesama. Ali Mustafa dan saudara-saudaranya dididik oleh kedua orang tuanya untuk hidup sederhana dan tidak berfoya-foya serta hidup mandiri.57

Ayahnya bernama Yaqub, seorang pendakwah terkemuka pada zamannya dan imam di masjid-masjid Jawa Tengah, mempunyai misi menegakkan amar makruf dan memberantas kemungkaran. Sejak terbit hingga terbenamnya matahari, rutinitas ayahnya dihabisakan dengan belajar dan mengajar. Mayoritas penduduk di lingkungannya adalah orang-orang yang belum mengerti agama secara mendalam, akhirnya ayahnya bersama dengan kakeknya mendirikan pondok pesantren yang santrinya adalah penduduk sekitar. Ayahnya mengajar tanpa pamrih dan hanya mengharap rida Allah. Ibunya bernama Zulaikha, seorang ustazah dan ibu rumah tangga yang ikut membantu perjuangan suaminya, pada tahun 1996 ibunya meninggal dunia.58 Pada tahun 1986, Ali Mustafa menikah dengan Hj. Ulfah Uswatun Hasanah. Dari pernikahannya ia dikaruniai seorang putra yang bernama Ziaul Haramain.59

Ali Mustafa dikenal sebagai orang yang memiliki sikap moderat, walaupun pernah mengeyam pendidikan di Timur Tengah, tepatnya di

57 Nasrullah Nurdin, “Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA. Muhaddis Nusantara Bertaraf Internasional,” Jurnal Lektur Keagamaan 14, no. 1 (2016), h. 198

58 Ni‟ma Diana Cholidah, “Kontribusi Ali Mustafa Yaqub Terhadap Perkembangan Kajian Hadis Kontemporer di Indonesia,” (Skripsi Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011), h. 11-12

59 AM. Waskito, KH. Ali Mustafa Yaqub Menjaga Sunnah Mengawal Aqidah (Jakarta:

Pustaka Al-Kautsar, 2016), h. 60

82

Riyadh selama sembilan tahun tidak menjadikannya mempunyai sikap yang keras. Sebagaimana Ali Yafie (mantan Ketua MUI) memberikan komentar tentangnya: “Meskipun tercatat sebagai salah seorang alumnus Timur Tengah, yang sering diklaim sebagai daerah yang jumud, statis dan cenderung agak keras dalam menyikapi berbagai fenomena keagamaan, tak menjadikan beliau (Ali Mustafa) bersikap keras.” Sepertinya interasksi Ali Mustafa dengan tradisi pesantren NU Tebuireng Jombang dari jenjang SMA sampai perguruan tinggi menjadi salah satu penyebabnya, di sini Ali Mustafa dididik untuk menghargai perbedaan. Demikian juga bimbingan Muhammad Mustafa Azami selama di Riyadh, semakin menguatkan jiwa moderat dan toleran Ali Mustafa.60

Setelah menyelesaikan studinya di Riyadh dan pulang ke Indonesia pada tahun 1985, Ali Mustafa mengisi kegiatannya dengan menjadi pengajar di Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ) Jakarta, dan menjadi dosen tetap di sana.

Disamping itu ia juga mengajar di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur‟an (PTIQ), Pengajian Tinggi Islam Masjid Istiqlal, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Institut Agama Islam Shalahuddin Al-Ayyubi (INISA) Tambun Bekasi, Pendidikan Kader Ulama (PKU) MUI, dan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STIDA) Al-Hamidiyah Jakarta. Pada tahun 1989, ia bersama keluarganya mendirikan Pesantren Darussalam di desa kelahirannya, Kemiri.61

60 Ni‟ma Diana Cholidah, “Kontribusi Ali Mustafa Yaqub Terhadap Perkembangan Kajian Hadis Kontemporer di Indonesia,” h. 24-25

61 Ali Mustafa Yaqub, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008), h. 240

Ali Mustafa memiliki riwayat sebagai Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Riyadh, ia juga pernah menjadi Pengasuh Pesantren Al-Hamidiyah Depok (1995-1997) dan Ketua STIDA Al-Hamidiyah Jakarta (1991-1997). Ali Mustafa juga rajin menulis dan mengajarkan hadis dan ilmu hadis, di samping aktif dalam organisasi dakwah. Tahun 1990-1996 ia diamanati sebagai Sekretaris Jendral Pimpinan Pusat Ittihadul Muballighin.

Kemudian untuk tahun 1996-2000 ia diamanati menjadi Ketua Dewan Pakar, merangkap Ketua Departemen Luar Negeri DPP Ittihadul Muballighin. Ia juga aktif sebagai Ketua Lembaga Pengkajian Hadis Indonesia (LepHi), dan Pengasuh Rubrik Hadis/Mimbar Majalah AMANAH, Jakarta. Ali Mustafa juga pernah menjadi Wakil Ketua Tim Penerjemahan Al-Qur‟an dan Terjemahannya dan juga anggota Tim Penyempurnaan Al-Qur‟an dan Tafsirnya Depag RI yang diketuai oleh Ahsin Sakho Muhammad, selain itu ia pernah menjadi anggota Komisi Fatwa MUI Pusat (1986-2005) sebelum akhirnya menjadi Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat (2005-2010), Rois Syuriah PBNU masa khidmat 2010-2015 bidang Fatwa, Imam Besar Masjid Istiqlal (2005-2016), Penasihat Darul Uloom New York Amerika Serikat, Wakil Ketua Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI (1997-2010), Penasihat Syariah Halal Transactions of Omaha, dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) se-Indonesia.62 Ali Mustafa juga tercatat sebagai Direktur Darus-Sunnah International Institute for Hadith

62 Nasrullah Nurdin, “Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA. Muhaddis Nusantara Bertaraf Internasional,” h. 203

84

Sciences,63 Guru Besar Hadis dan Ilmu Hadis Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ) Jakarta, Guru Besar Hadis-Ilmu Hadis Pascasarjana Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pekalongan Jawa Tengah, Guru Besar Hadis-Ilmu Hadis Pascasarjana Fakultas Dirasat Islamiyah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, dan juga pernah mendapatkan penghargaan Satya Lencana Wirakarya dari Presiden RI pada tahun 2008.64

Sosok ahli hadis Indonesia ini menghembuskan nafas terakhirnya pada 28 April 2016 di Rumah Sakit Hermina Ciputat, Tangerang Selatan. Ali Mustafa dimakamkan di belakang Masjid Muniroh Salamah yang berada di kompleks Pondok Pesantren Darus-Sunnah.65

2. Perjalanan Intelektual

Ali Mustafa memulai pendidikannya di SD dan SMP di daerahnya.

Semula ia mempunyai keinginan untuk terus belajar di sekolah umum, tetapi keinginan itu harus ia tinggalkan dan mengikuti arahan orang tuanya demi memperoleh kaweruh ilmu agama di pesantren. Maka dengan di antar ayahnya, pada tahun 1966 ia mulai mondok untuk menerima piwulang di Pondok Seblak Jombang, sampai tingkat tsanawiyah (1966-1969). Kemuidan ia nyantri lagi di Pesantren Tebuireng Jombang yang lokasinya hanya beberapa ratus meter dari Pondok Seblak (1969-1971). Selanjutnya pada

63 Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences merupakan pondok pesantren atau institut yang fokus dalam bidang hadis dan ilmu hadis. Didirikan oleh Ali Mustafa pada tahun 1997 yang lokasinya berada di Ciputat, Nasrullah Nurdin, “Prof. Dr.

KH. Ali Mustafa Yaqub, MA. Muhaddis Nusantara Bertaraf Internasional,” h. 210

64 Ali Mustafa Yaqub, Kriteria Halal-Haram Untuk Pangan, Obat, dan Kosmetika Menurut Al-Qur‟an dan Hadis, terj. Mahfud Hidayat (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2013), h.

347-348

65 Nasrullah Nurdin, “Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA. Muhaddis Nusantara Bertaraf Internasional,” h. 199-200

pertengahan tahun 1972 ia melanjutkan pengembaraan ilmu pada Program Studi Syariah Universitas Hasyim Asy‟ari Jombang. Di Tebuireng ia menekuni kitab-kitab kuning di bawah asuhan para kiai senior, di samping mengajar kitab-kitab kuning dan bahasa Arab kepada santri junior lainnya, sampai awal tahun 1976.66

Di antara yang pernah menjadi gurunya adalah KH. Idris Kamali, KH.

Adhlan Ali, KH. Shobari, dan KH. Syamsuri Badawi. Dari KH. Idris Kamali, ia belajar ilmu-ilmu alat (gramatika bahasa Arab), hadis, dan tafsir dengan metode sorogan (individu) di mana ia diwajibkan menghafal lebih dari sepuluh kitab, antara lain: kitab Alfiyyah Ibn Mālik, Matan al-Baiqūniyyah, al-Waraqāt dalam bidang ushul fikih, dan lain-lain, ini sebagai prasyarat untuk boleh membaca kitab di hadapan beliau. Dari KH. Adhlan Ali, ia belajar ilmu akhlak dan lain-lain. Dari KH. Shobari, ia beajar ilmu hadis dan lain-lain. Sementara dari KH. Syamsuri Badawi ia belajar hadis dan ushul fikih. Di ponpes Tebuireng, ia juga pernah belajar dengan KH. Abdurrahman Wahid (Gusdur) khususnya untuk bidang studi bahasa Arab dan kitab Qatr al-Nada.67

Pada tahun 1976 atas beasiswa penuh dari pemerintah Arab Saudi, Ali Mustafa melanjutkan pengembaraan ilmunya di Fakultas Syari‟ah Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Riyadh, Arab Saudi, sampai tamat dengan ijazah Licence (Lc) tahun 1980. Masih di kota yang sama ia

66 Nasrullah Nurdin, “Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA. Muhaddis Nusantara Bertaraf Internasional,” h. 199-200

67 Nasrullah Nurdin, “Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA. Muhaddis Nusantara Bertaraf Internasional,” h. 200-201

86

melanjutkan lagi studinya di Universitas King Saud Departemen Studi Islam Jurusan Tafsir Hadis sampai tamat dengan ijazah Master tahun 1985.

Dipilihnya Fakultas Syari‟ah (S1) dan Departemen Tafsir Hadis (S2) oleh Ali Mustafa bukanlah tanpa alasan, tetapi karena menurut Ali Mustafa sendiri ilmu-ilmu ini (syari‟ah dan hadis) sangat diperlukan oleh masyarakat.68 Di Universitas King Saud, Ali Mustafa belajar kepada Muhammad Mustafa Azami, salah satu ulama terkemuka dalam bidang ilmu hadis. Dari ulama inilah Ali Mustafa benyak memperoleh pendidikan ilmu hadis dan kritik hadis serta mendapat izin untuk mengalih bahasakan salah satu karya Mustafa Azami yang berjudul Studies in Early Hadith Literature ke dalam bahasa Indonesia.69 Selain itu, selama 9 tahun di Arab Saudi, Ali Mustafa juga rajin menghadiri halakah-halakah di luar kampus, misalnya halakah kitab hadis kutub al-sittah yang diasuh oleh Syaikh „Abd al-„Azīz b.

„Abdullāh b. Bāz yang berjarak 30 km dari tempat tinggalnya di Riyadh. Di samping itu Ali Mustafa juga menghadiri perkuliahan-perkuliahan yang dibawakan oleh Syaikh „Abd al-„Azīz Alu al-Syaikh (Mufti Besar Arab Saudi sekarang) dan tokoh-tokoh lain.70

Pada tahun-tahun Ali Mustafa kuliah di Saudi, program doktor belum dibuka pada universitas-universitas di Riyadh. Hal tersebut karena rendahnya minat orang Saudi untuk kuliah S2 waktu itu. Pihak universitas bersedia untuk membuka program doktor dengan syarat mahasiswa asli Saudi harus

68 Ni‟ma Diana Cholidah, “Kontribusi Ali Mustafa Yaqub Terhadap Perkembangan Kajian Hadis Kontemporer di Indonesia,” h. 13

69 Ramli Abdul Wahid, Sejarah Pengkajian Hadis di Indonesia, h. 36

70 Nasrullah Nurdin, “Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA. Muhaddis Nusantara Bertaraf Internasional,” h. 205

lebih dari 50 persen. Tetapi, saat itu dari 20 orang mahasiswa program S2 di Universitas King Saud Riyadh hanya 2 orang saja yang asli Saudi sehingga program S3 tidak dilaksanakan. Kondisi ini membuat Ali Mustafa tidak bisa langsung melanjutkan kuliahnya, sehingga akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke Indonesia pada tahun 1985.71 Kemudian pada tahun 2005, Ali Mustafa melanjutkan studinya yang sempat tertunda di Universitas Nizamia Heyderabad India. Ia mengambil program doktoral, konsentrasi Hukum Islam. Hal ini atas saran gurunya, Muhammad Hasan Hitou, Guru Besar Fikih dan Ushul Fikih Universitas Kuwait dan Direktur Lembaga Studi Islam International di Frankfurt, Jerman. Ali Mustafa menyelesaikan studinya di India pada tahun 2008,72 dengan desertasi berjudul Ma„āyīr Ḥalāl wa Ḥarām fī Aṭ„imah wa Asyribah wa Adwiyah wa Mustaḥḍarāt al-Tajmīliyyah „alā Ḍau‟ al-Kitāb wa al-Sunnah.73 Disertasi ini telah dicetak dan diterbitkan dalam dua bahasa, Arab dan Indonesia. Dalam terbitan bahasa Indonesia buku ini berjudul Kriteria Halal-Haram Untuk Pangan, Obat, dan Kosmetika Menurut Al-Qur‟an dan Hadis. Disertasi ini diuji oleh tim penguji internasional, dipimpin oleh Muhammad Hasan Hitou. Para anggota dewan

71 Ni‟ma Diana Cholidah, “Kontribusi Ali Mustafa Yaqub Terhadap Perkembangan Kajian Hadis Kontemporer di Indonesia,” h. 13-14

72 AM. Waskito, KH. Ali Mustafa Yaqub Menjaga Sunnah Mengawal Aqidah, h. 64-67

73 Yang menjadi pembahasan dalam disertasi ini, di antaranya berbicara tentang kriteria halal dan haram untuk pangan (makanan dan minuman), obat, dan kosmetik. Produk-produk tersebut bisa dikatakan halal jika memiliki kriteria ṭayyib (baik). Dan haram jika memiliki beberapa kriteria yaitu, khabīts (buruk), najis, berbahaya, memabukkan, dan berbahan dari organ tubuh manusia. Menurut Ali Mustafa sendiri hal ini perlu menjadi perhatian karena banyaknya produk-produk luar negeri yang tidak diketahui bahan bakunya karena tidak mencantumkan label komposisi bahan baku pembuatannya, sehingga sulit untuk diketahui halal atau tidaknya produk-produk tersebut, Ali Mustafa Yaqub, Kriteria Halal-Haram Untuk Pangan, Obat, dan Kosmetika Menurut Al-Qur‟an dan Hadis, h. 335-336

88

penguji terdiri dari: Muḥammad Taufīq Ramaḍān al-Būṭī (Guru Besar dan Ketua Jurusan Fikih dan Ushul Fikih Universitas Damaskus, Syria), Mohammed Khaja Sharief M. Shahabuddin (Guru Besar dan Ketua Jurusan Hadis Universitas Nizamia Heyderabad, India), dan Saifullah Mohammed Afsafullah (Guru Besar dan Ketua Jurusan Sastra Arab Universitas Nizamia Heyderabad, India). Mereka menyatakan Ali Mustafa lulus dan berhak menyandang gelar doktor.74

3. Pemikiran dan Karya-karya

Ali Mustafa Yaqub merupakan salah satu ulama terdepan di Indonesia yang berupaya mengembangkan pemikiran ilmu hadis serta membela hadis dari serangan orientalis. Menurut Ramli Abdul Wahid, Ali Mustafa berhasil menggenapi pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab secara ilmiah tentang pemikiran para orientalis yang cenderung skeptis terhadap orisinalitas hadis Nabi, dengan menyampaikan buah pemikiran gurunya, Mustafa Azami.75 Selain itu Ali Mustafa dikenal gigih membela sunnah dan menyerang balik pendapat kelompok inkār al-sunnah, menurutnya mengingkari sunnah sama dengan mengingkari Nabi.76 Ali Mustafa juga memiliki pandangan bahwa pada dasarnya hadis harus dipahami secara tekstual, namun apabila pemahaman tekstual ini dinilai tidak mungkin dilakukan, maka pemahaman kontekstual boleh digunakan.77

74 Ni‟ma Diana Cholidah, “Kontribusi Ali Mustafa Yaqub Terhadap Perkembangan Kajian Hadis Kontemporer di Indonesia,” h. 23

75 Ramli Abdul Wahid, Sejarah Pengkajian Hadis di Indonesia, h. 37-39

76 Ramli Abdul Wahid, Sejarah Pengkajian Hadis di Indonesia, h. 39

77 Nasrullah Nurdin, “Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA. Muhaddis Nusantara Bertaraf Internasional,” h. 209

Ali Mustafa juga merespon hadis-hadis yang sudah beredar di masyarakat Indonesia yang ternyata bermasalah. Ia menyeleksi dan mengevaluasi hadis-hadis daif dan palsu yang populer dan diamalkan oleh masyarakat, dan menuangkan hasilnya dalam karyanya yang berjudul, Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadhan dan Hadis-Hadis-hadis Bermasalah.78 Ali Mustafa menjelaskan dalam salah satu karyanya, Hadis-hadis Bermasalah, bahwa hadis yang sudah memasyarakat seperti hadis “Carilah ilmu meskipun di negeri Cina” ternyata bermasalah. Ali Mustafa memaparkan bahwa hadis yang seperti ini tergolong sebagai hadis masyhūr non-terminologis, artinya hadis ini sudah sangat populer di masyarakat meskipun terkadang hal itu belum berarti bahwa ia benar-benar hadis yang berasal Nabi. Sebab yang menjadi kriteria di sini adalah ia disebut hadis oleh masyarakat umum, dan ia populer di kalangan mereka. Lalu Ali Mustafa melanjutkan bahwa kualitas hadis ini mauḍū‟ (palsu), karena semua rawi pada sanadnya menerima hadis ini dari Abū „Ātikah Ṭarīf b. Sulaimān, yang menurut para kritikus hadis tidak memiliki kredibelitas sebagai rawi hadis. Ali Mustafa lalu mengakhiri penjelasannya dengan menerangkan bahwa ungkapan tersebut boleh jadi mulanya adalah kata-kata mutiara, karena konon Cina adalah negeri yang sudah dikenal memiliki budaya yang tinggi. Kemudian lambat laun ungkapan itu disebut sebagai hadis.79

Ali Mustafa mempunyai filosofi yang kerap disampaikan kepada para santrinya sebagai motivasi untuk menulis atau menghasilkan sebuah karya,

78 Ramli Abdul Wahid, Sejarah Pengkajian Hadis di Indonesia, h. 39

79 Ali Mustafa Yaqub, Hadis-hadis Bermasalah (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2006), h. 1-6

90

yaitu: “Walā Tamūtunna Illā wa Antum Kātibūn!” maksudnya jangan kalian meninggal sebelum menjadi penulis. Menurut Ali Mustafa sebuah tulisan akan menjadi guru lintas generasi, sedangkan kata-kata hanya untuk orang dan waktu terbatas. Sebuah buku/karya tulis akan selalu bisa dibaca oleh banyak kalangan masyarakat di setiap waktu dan tak pernah lekang dimakan masa. Tulisan menjadi warisan ilmu yang sangat berharga, karena ulama-ulama besar terdahulu juga menulis kitab, bahkan karya ilmiah yang dibaca dan dikaji hingga saat ini, walaupun penulisnya sudah wafat.80

Walaupun Ali Mustafa dikenal sebagai ahli hadis, tetapi tulisan/karya-karyanya meliputi lintas keilmuan. Berikut karya-karya Ali Mustafa Yaqub:

Memahami Hakikat Hukum Islam (alih bahasa dari karya Prof. Dr. Bayānūnī, 1986), Nasihat Nabi kepada Para Pembaca dan Penghafal al-Qur‟an (1990), Imam Bukhari dan Metodologi Kritik dalam Ilmu Hadis (1991), Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya (alih bahasa dari karya Prof. Dr. Muhammad Mustafa Azami, 1994), Kritik Hadis (1995), Bimbingan Islam untuk Pribadi dan Masyarakat (alih bahasa dari karya Muhammad Jameel Zino, 1418 H), Sejarah dan Metode Dakwah Nabi (1997), Peran Ilmu Hadis dalam Pembinaan Hukum Islam (1999), Kerukunan Umat dalam Perspektif Al-Qur‟an dan Hadis (2000), Islam Masa Kini (2001), Kemusyrikan Menurut Mazhab Syafi‟i (alih bahasa dari karya „Abd al-Raḥman al-Khumais, 2001), Aqidah Imam Empat: Abu Hanifah, Malik, Syafi‟i, dan Ahmad (alih bahasa dari karya „Abd al-Raḥman al-Khumais,

80 Nasrullah Nurdin, “Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA. Muhaddis Nusantara Bertaraf Internasional,” h. 216-217

2001), Fatwa-fatwa Kontemporer (2002), MM. Azami Pembela Eksistensi Hadis (2002), Pengajian Ramadhan Kiai Duladi (2003), Hadis-hadis Bermasalah (2003), Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadhan (2003), Nikah Beda Agama dalam Perspektif Al-Qur‟an dan Hadis (2005), Imam Perempuan (2006), Haji Pengabdi Setan (2006), Fatwa Imam Besar Masjid Istiqlal (2007), Ada Bawal Kok Pilih Tiram (2008), Toleransi Antar Umat Beragama (dua bahasa, Arab dan Indonesia, 2008), Islam di Amerika (dua bahasa, Inggris dan Indonesia, 2009), Kriteria Halal dan Haram Untuk Pangan, Obat, dan Kosmetika Menurut Al-Qur‟an dan Hadis (2009), Mewaspadai Provokator Haji (2009), Islam between War and Peace (2009), Kidung Bilik Pesantren (2009), Ma„āyīr al-Ḥalāl wa al-Ḥarām fī al-Aṭ„imah wa al-Asyribah wa al-Adwiyah wa al-Mustaḥḍarāt al-Tajmīliyyah „alā Ḍau‟

al-Kitāb wa al-Sunnah (2010), Kiblat: Antara Bangunan dan Arah Ka‟bah (dua bahasa, Arab dan Indonesia, 2010), Qiblah „alā Ḍau‟ Kitāb wa al-Sunnah (2010), 25 Menit Bersama Obama (2010), Kiblat Menurut Al-Qur‟an dan Hadis: Kritik atas Fatwa MUI No. 5/2010 (2011), Ramadhan Bersama Ali Mustafa Yaqub (2011), Cerita dari Maroko (2012), Makan Tak Pernah Kenyang (2012), Ijtihad, Terorisme, dan Liberalisme (dua bahasa, Arab dan Indonesia, 2012), Dalil al-Hisbah (2012), Panduan Amar Makruf Nahi Munkar (dua bahasa, Arab dan Indonesia, 2012), Itsbāt Ramaḍān wa Syawāl Dzī al-Ḥijjah Ḍau‟ al-Kitāb wa al-Sunnah (2013), Isbat Ramadan, Syawal, Zulhijjah Menurut Al-Kitab dan Sunnah (2013), Menghafal Al-Qur‟an di Amerika Serikat (2014), Ṭurūq Ṣaḥīhah fī Fahm Sunnah al-Nabawiyyah (2014), Cara Benar Memahami Hadis (2014), Setan Berkalung

92

Sorban (2014), al-Wahabiyyah wa Nahḍah al-„Umalā‟: Ittifāq fī Uṣūl lā Ikhtilāf (2015), Titik Temu Wahabi-NU (2015), Islam is Not Only for Muslims (2016), Teror di Tanah Suci (2016).81

81 AM. Waskito, KH. Ali Mustafa Yaqub Menjaga Sunnah Mengawal Aqidah, h. 42-45

93 BAB IV

KLASIFIKASI HADIS TASYRĪ‘ DAN NON-TASYRĪ‘ MENURUT SARJANA HADIS INDONESIA

Secara eksplisit, baik Hasbi Ash-Shiddieqy, Syuhudi Ismail, ataupun Ali Mustafa Yaqub tidak menyebutkan bahwa mereka mengklasifikasi hadis ke dalam tasyrī„ dan non-tasyrī„, tetapi pemikiran dan cara pandang mereka terhadap hadis memiliki kesamaan substansial dengan kelompok yang pro terhadap klasifikasi hadis tasyrī„ dan non-tasyrī„ yang beberapa telah disebutkan di awal, yaitu memandang bahwa apa yang datang dari Nabi ada yang bersifat mengikat sehingga wajib diikuti dan juga ada yang tidak bersifat mengikat sehingga tidak wajib diikuti, yang disebut dengan hadis tasyrī„ dan non-tasyrī„. Pada bab ini akan dipaparkan mengenai konsep hadis tasyrī„ dan non-tasyrī„ dalam pemikiran Hasbi, Syuhudi, dan Ali Mustafa.

A. Klasifikasi Hadis Tasyrī‘ dan Non-Tasyrī‘ Menurut T. M. Hasbi Ash-Shiddieqy

Pemikiran Hasbi Ash-Shiddieqy tentang hadis tasyrī„ dan non-tasyrī„

paling tidak diawali dari bacaannya terhadap pemikiran Syah Waliyullah Ad-Dihlawi yang tertuang dalam karyanya Ḥujjatullah al-Bālighah, dalam bukunya ini Syah Waliyullah Ad-Dihlawi membahas bahwa segala sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi dan telah ditulis dalam kitab-kitab hadis saat ini ada dua macam, pertama adalah berbagai hal yang diriwayatkan dari Nabi dalam konteks penyampaian risalah, dan kedua adalah yang diriwayatkan

94

dari Nabi bukan dalam konteks penyampaian risalah.1 Dalam membahas hadis tasyrī„ dan non-tasyī„, Hasbi bisa dikatakan banyak mengikuti pemikiran Syah Waliyullah Ad-Dihlawi, dalam bukunya sendiri pun Hasbi banyak mengutip pemikiran dari Syah Waliyullah Ad-Dihlawi, terutama dalam penyebutan kriteria hadis-hadis mana saja yang termasuk tasyrī„ dan mana yang termasuk non-tasyrī„. Selain itu, pemahaman Hasbi terhadap hadis tentang penyerbukan kurma yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Mūsā b. Ṭalḥah, Rāfi„ b. Khadīj, dan Anas b. Mālik juga menjadi dasar dari pemikirannya ini.2

Pertama, hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari Mūsā b. Ṭalḥah, yaitu:3

ًسكيءير ىىلىع وـٍوىقًب ىمَّلىسىك ًوٍيىلىع يَّللّا ىَّلىص ًَّللّا ًؿويسىر ىعىم يتٍرىرىم ًء ىلَيؤىى يعىنٍصىي اىم ىؿاىقىػف ًلٍخَّنلا

ىسىك ًوٍيىلىع يَّللّا ىَّلىص ًَّللّا يؿويسىر ىؿاىقىػف يحىقٍلىػيىػف ىىثٍػنيٍلأا ًفِ ىرىكَّذلا ىفويلىعٍىيَ يوىنويحًٌقىليػي اويلاىقىػف اىم ىمَّل

ىًبٍِخيأىف يهويكىرىػتىػف ىكًلىذًب اكيًبٍِخيأىف ىؿاىق انئٍػيىش ىكًلىذ ًنٍغيػي ُّنيظىأ ىمَّلىسىك ًوٍيىلىع يَّللّا ىَّلىص ًَّللّا يؿويسىر

َّظلًبِ ًنّكيذًخاىؤيػت ىلَىف اِّنىظ يتٍنىػنىظ اىَّنًَّإ ًٌنًّإىف يهويعىػنٍصىيٍلىػف ىكًلىذ ٍميهيعىفٍػنىػي ىفاىك ٍفًإ ىؿاىقىػف ىكًلىذًب ًٌن َّلىجىك َّزىع ًَّللّا ىىلىع ىبًذٍكىأ ٍن ىل ًٌنًّإىف ًوًب اكيذيخىف انئٍػيىش ًَّللّا ٍنىع ٍميكيتٍػثَّدىح اىذًإ ٍنًكىلىك

Aku berjalan bersama Rasulullah Saw. melewati suatu kelompok orang yang sedang memanjat pohon kurma. Rasulullah bertanya, “Apa yang mereka lakukan?” Dijawab bahwa mereka sedang melakukan penyerbukan kurma dengan membubuhkan serbuk jantan pada putik betina sehingga keduanya dapat dikawinkan. Rasulullah bersabda, “Saya kira hal itu tidak ada gunanya.” Ṭalḥah berkata, “Kemudian mereka

1 Syah Waliyullah Ad-Dihlawi, Argumen Puncak Allah: Kearifan dan Dimensi Batin Syariat, terj. Nurdin Hidayat dan C. Romli Bihar Anwar (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2005), h. 535-536, lihat juga: T. M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadis (Jakarta: Bulan Bintang, 1967), j. 2, h. 348-349

2 T. M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Falsafah Hukum Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), h.

90-91

3 Imām Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim (Kairo: Dār al-Ḥadīts, 2001), j. 8, h. 127

diberi tahu mengenai hal itu, karenanya mereka tidak melakukan penyerbukan kurma lagi. Rasulullah diberi tahu (bahwa mereka tidak

diberi tahu mengenai hal itu, karenanya mereka tidak melakukan penyerbukan kurma lagi. Rasulullah diberi tahu (bahwa mereka tidak