BAB II HADITS DAN NAHWU
C. Aliran Pemikiran Nahwu
Pendiri madzhab ini adalah al-Khalîl bin Ahmad al-Farâhidî (w 1754 H), beliau dikarunia kecerdasan luar biasa, mampu mengungkap rahasia dan keluhuran bahasa Arab dengan cermat. Pemahamannya terhadap nadzam dan stilistik bahasa Arab menjadi inspirasi ulama yang datang kemudian, karenanya tidak mengherankan jika banyak santri yang mengaji dan berguru padanya. Di antara murid beliau yang paling populer adalah Sybawaih (w 188 H), beliau dikenal sebagai murid al-Farâhidî yang istimewa, ia merupakan ulama Nahwu yang paling produktif dan cerdas dalam mengkaji nahwu, sehingga para ulama menjulukinya sebagai imam para ahli nahwu. Abu Thayyib mengatakan bahwa dari sekian banyak murid yang belajar pada
124
Pendelegasian ulama kepada negeri-negeri yang belum mengenal Islam sudah terjadi pada masa Nabi SAW, misalnya Mush’ab bin Umair ke Yatsrib, satu rombongan yang dipimpin oleh al-Mundzir bin ‘Amir ke Najed, Abu Musa al-‘Asyari, Muadz bin Jabal dan sahabat lainnya yang diutus ke Yaman. Lihat Ali Mustafa Yaqub Sejarah, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi (Jakarta: Pustaka Firdaus 2000), cet. Ke-2, hal. 166-173
125
Adanya pengaruh ulama-ulama terhadap corak pemikiran pada suatu kota tertentu, tergambar dalam pernyataan Ibnu Taimiyah, yang merupakan pemikir Islam Abad pertengahan, dalam menghubungkan tingkat pengetahuan para sahabat dan tâbi’în mengenai tafsir, beliau mengatakan; “kelompok yang paling mengetahui tafsir adalah penduduk Makkah, karena mereka menyertai Ibnu Abbas. Selanjutnya adalah orang Kûfah karena mereka menyertai Ibnu Mas’ûd. Kemudian adalah para ahli dari Madinah, seperti Zaid bin Aslam, Abdurrahman bin Zaid, dan Mâlik bin Anas. Untuk mengetahui lebih mendalam penyebaran ulama tafsir lihat. Al-Hafidz Syamsuddin al-Dâwûdi, Thabaqât al-Mufassirin, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah 2002) cet. Ke-1, hal. 4
Farâhidî, tak satupun murid yang kecerdasannya serupa dengan Sybawaih, ia adalah orang yang paling memahami nahwu setelah al-Farâhidî, ini dibuktikan dengan karyanya yang disebut-sebut sebagai Qur’an-nya nahwu.126
Sebagai madzhab pertama dalam ilmu nahwu, Bashrah memiliki kekhususan dan keutamaan dalam pemikirannya, kaidah-kaidah yang lahir dari pena ulama Bashrah sangat kuat menghujam di kalangan ulama, maka itu tidaklah mengherankan jika pemikirannya banyak mempengaruhi sudut pandang ulama nahwu setelahnya, ciri yang paling menonjol dari madzhab ini adalah;
Pertama; ketelitian dan keselektifan. Ketelitiannya tergambar dalam memilih uslub yang fashih dan ketajamannya dalam memilih dalil-dalil kuat sebagai sumber penetapan kaidah nahwu. Bukti lain dari ketelitiannya adalah, meskipun mereka mendengar ungkapan bahasa Arab secara langsung dari mayoritas orang Arab, namun tidak semua ungkapan itu dijadikan dalil dalam penetapan kaidah nahwu, sebelum terlebih dahulu ungkapan-ungkapan tersebut dipastikan keshahihannya. Sikap ini muncul karena keteguhan prinsip ulama Bashrah untuk tidak bersandar pada riwayat yang lemah, juga pada syair yang kurang dikenal, ini dilakukan tidak lain karena ulama Bashrah menginginkan pondasi ilmu nahwu ini kuat, maka itu harus dibangun dari riwayat yang mutawatir, atau yang mendekatinya.127 Karena bangunan yang berdiri dari pondasi kuat, tidak akan mudah runtuh oleh hembusan angin dan badai.
Ketelitian dan selektifnya ulama Bashrah dalam memilih dalil terlihat juga dari beberapa ungkapan Sybawaih dalam Kitab-nya,128 ungkapan-ungkapan tersebut menunjukkan kehati-hatiannya dalam memilah-milah sumber ilmu bahasa, dan juga kesungguhannya dalam meletakkan dasar-dasar kaidah nahwu yang kokoh.
Kedua; kemampuannya dalam berdalil dengan dalil aqli, mantiq dan filsafat. Nampaknya kelebihan ini dimiliki oleh ulama Bashrah klasik, buktinya adanya
126
Untuk lebih mengenal keluhuran Sybawaih dan kecerdasannya dalam bidang nahwu, pembaca dapat merujuk pada buku; Sybawaih Imâm al-Nuhât karya Ali al-Najdi Nâshif (Kairo; Alam al-Kutub)
127
Musthafa Abd al-Aziz, al-Madzâ’hib al-Nahwiyyah, hal. 17.
riwayat yang mengatakan bahwa Abu Ishâq al-Hadramî (w. 117 H) adalah orang pertama yang mengembangkan nahwu dan menawarkan qiyas sebagai sumber kaidah ilmu nahwu.129 Keistimewaan-keistimewaan inilah yang menjadikan kota Bashrah sebagai rujukan utama dalam bidang nahwu. Kedua keistimewaan di atas tidaklah berdiri sendiri, pastinya ada beberapa faktor penting yang mendukungnya, antara lain;
a. Letak geografis kota Bashrah; Kota Bashrah sangat berdekatan dengan orang Badui yang merupakan oase bahasa fashih, keluhuran bahasa Arab Badui ini dibuktikan dengan terhindarnya bahasa yang mereka gunakan dari lahn dan kecacatan bahasa. Kelebihan ini nampaknya dimanfaatkan betul oleh ulama dan pelajar di Bashrah untuk menggali bahasa fashih dari sumber dan pakarnya. Pemanfaatan kesempatan emas ini terlihat dari adanya beberapa ulama Bashrah yang sering menyempatkan berkunjung ke wilayah Badui. Di lain kesempatan, masyarakat Badui pun sering berkunjung ke kota Bashrah, dan tentunya kedatangan mereka disambut baik bagai para pahlawan yang baru pulang dari medan peperangan. Karenanya jika menilik kitab Tarajum,130 akan ditemukan pada tarajum ulama nahwu Bashrah, sebagiannya pernah berkunjung ke wilayah Badui dan bertemu dengan orang-orang Arab, tujuannya antara lain mendengar dan mengkaji keluhuran bahasa Arab dari penutur aslinya. Bahkan tokoh ulama nahwu, yaitu al-Farâhidî131 pun melakukan hal yang sama. Sebagaimana diceritakan Kisâ’i, bahwa ia bertanya pada gurunya, al-Farâhidî, “Dari mana engkau mendapatkan ilmu nahwu ini?” al-Farâhidî menjawab, “Aku mengambilnya dari orang Badui Hijâz, Najd dan Tihâmah. Setelah mendengar
129
Al-Zubaidi, Thabaqât al-Nahwiyyîn wa Lughawiyyîn (Mesir; Dar al-Ma’ârif), cet. Ke-2, hal. 31
130
Pembaca dapat melihat pada kitab Bughyat al-Wu’ât karya al-Suyuthi, Mu’jam al-Udabâ’ karya Yâqût, al-Bidâyah wa al-Nihâyah karya Ibnu Katsîr dan lainnya.
131
Nama lengkapnya al-Khalîl bin Ahmad al-Farâhidi, ketokohannya dalam bidang bahasa tidak diragukan lagi, ia disebut-sebut sebagai Sayyid al-Udabâ’. Bahkan Sufyan al-Tsaurî memujinya dengan mengatakan, “Barang siapa yang ingin melihat seseorang yang diciptakan dari emas dan minyak Misk, maka lihatlah pada al-Khalîl bin Ahmad. Lihat Yâqût, Mu’jam al-Udabâ’ (Beirut; Dâr al-Fikr 1980), cet. Ke-3, juz. 11, hal. 74.
itu, al-Kisâ’i pun bergegas berkunjung ke wilayah Badui, untuk memahami bahasa Arab dari penutur aslinya, sebagaimana yang dilakukan gurunya.132
Maka itu dalam beberapa biografi ahli nahwu Bashrah, diketahui bahwa sebagian dari ulamanya pernah berkunjung ke wilayah Badui seperti; Yûnus bin Habib, al-Nadhr bin Syâmil al-Maznî dan Abu Zaid al-Anshârî. Bahkan sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa masyarakat Badui pun sering berkunjung ke kota Bashrah, mereka terkadang tinggal dalam waktu yang lama dan terkadang juga hanya sebentar. Tentunya kedatangan mereka disambut baik khususnya oleh pelajar bahasa Arab.133
b. Pasar Mirbad; Pasar Mirbad yang terletak di kota Bashrah merupakan pasar besar yang juga cukup terkenal, pasar itu merupakan tempat istirahat para musafir, bertemunya para saudagar dari berbagai kota dan Arab Badui. Di pasar Mirbad inilah terjadi komunikasi yang tinggi antara penduduk Bashrah dan para saudagar yang datang dari Arab Badui. Bahkan di pasar tersebut, para penyair kerap mengumandangkan syair, syair yang baik tentu akan mendapatkan pujian, dan pastinya para pelajar bahasa memanfaatkan keberadaan penyair tersebut untuk mendengar dan belajar bahasa Arab yang bebas dari penyimpangan dan kecacatan itu.134
Kondisi ini dimanfaatkan pula oleh para ulama bahasa, mereka menyengajakan datang ke pasar tersebut, bukan untuk berbelanja atau berniaga, namun sekedar untuk mendengar ungkapan bahasa fashih dari para penuturnya yang sedang berniaga di Mirbad. Karena itu, pasar ini menjadi faktor penting dalam menunjang lahirnya Madzhab Bashrah, sebagai madzhab nahwu pertama.
132
Yâqût, Mu’jam al-Udabâ, juz. 13, hal. 169.
133
Di antara Arab Badui yang terkenal sering berkunjung ke Bashrah adalah Abu Mahdiyyah yang kerap berbicara bahasa Arab dengan dialek Hijâj, dan al-Muntaji’ bin Nabhân yang berbicara dengan lahjat Tamîm. Musthafa abd Aziz, Madzâhib Nahwiyyah fi Dhau’i Dirâsat al-Lughawiyah al-Hadîtsah, hal. 19
134
Musthafa abd Aziz, Al-Madzâhib Nahwiyyah fi Dhau’i Dirâsat Lughawiyah al-Haditsah, hal. 18
c. Masjid Bashrah; Pada masa Rasulullah SAW dan para sahabat, masjid selain sebagai tempat ibadah shalat, juga merupakan tempat pembelajaran al-Qur’ân dan kegiatan belajar mengajar lainnya.135 Hal ini pun berlangsung hingga masa berikutnya, hingga masa berkembangnya ilmu pengetahuan di Bashrah. Masjid Bashrah tidak kalah terkenalnya dengan pasar Mirbad, masjid ini ramai didatangi oleh para ulama dan pelajar, untuk berdiskusi atau menuntut ilmu keislaman seperti ilmu bahasa, kalam, tafsir dan hadîts. Di Masjid Bashrah, pembelajaran berbagai ilmu Agama ini diasuh oleh penduduk Arab yang tinggal di Bashrah atau para utusan dari Arab Badui yang memiliki kemampuan luhur dalam bidang ilmu bahasa dan Agama. Maka itu setidaknya fakta ini menunjukkan bahwa masjid Bashrah memiliki peranan penting dan menjadi faktor berarti akan kelahiran madzhab nahwu Bashrah.
2. Madzhab Kûfah
Jika mengkaji kitab tarajum ahli nahwu dan melihat pendahulu ulama Kufah, maka akan ditemukan Abu Ja’far al-Ruwâsy136 dan Mu’âdz al-Harrâ’137 berada pada urutan pertama, namun ini tidak berarti bahwa mereka berdua peletak madzhab nahwu Kufah. Karena menurut kesepakatan ahli sejarah, peletak kaidah nahwu Kufah adalah murid mereka berdua yaitu al-Kisâ’i dan al-Farâ’, kedua murid inilah yang merumuskan pondasi ilmu nahwu Kufah, dengan penuh kesungguhan dan ketelitian, hasilnya kaidah-kaidah yang lahir dari Kufah memiliki corak tersendiri yang berbeda dengan madzhab Bashrah.138
Secara historis madzhab Kûfah muncul belakangan, sekitar seratus tahun setelah kemunculan madzhab Bashrah. Hal ini bukan lantaran ilmu nahwu dianggap
135
Al-A’zami, The History of The Qura’nic Text, Alih bahasa Ali Mustafa Yaqub (Jakarta: Gema Insani 2005), cet. Ke-1, hal 66
136
Ia adalah seorang ahli nahwu di Kufah, pernah berguru pada Isa bin Amr. Salah satu karyanya berkenaan dengan Jama’ dan Mufrad, ia dijuluki al-Ru’asi karena ia mempunyai kepala yang besar. Lihat di al-Zubaidi, Thabaqât al-Nahwiyyin wa al-lughawiyyin, hal. 125.
137
Dijuluki al-Harrâ, karena ia penjual pakaian al-Harwiyah, kemudian ia dinisbatkan pada Hirât yaitu salah satu kota di Khurasan. Ada yang mengatakan beliau adalah peletak ilmu sharaf yang wafat 187 H. lihat al-Suyuthi, Bughyat al-Wu’ât, hal. 393.
138
Syauqi Dhayf, al-Madâris al-Nahwiyyah, hal. 154. dan lihat juga di Musthafa abd al-Aziz, al-Madzâhib al-Nahwiyyah fi Dhau’i al-Dirâsat al-Lughawiyah al-Hadîtsah (Jeddah: al-Fayshaliyah 1986), hal. 38
tidak penting, melainkan ulama Kûfah lebih konsentrasi pada ilmu keislaman lainnya seperti Fiqih, Hadîts, dan Qirâ’at, sehingga perhatian mereka terhadap nahwu tidak seserius masyarakat Bashrah pada masa itu.139 Dengan kata lain, perhatian ulama Kûfah terhadap ilmu keislaman hampir berbarengan dengan perhatian ulama Kûfah terhadap Bahasa. Karenanya dari sisi penguasaan Sya’ir, ulama Kûfah lebih unggul dibandingkan dengan ulama Bashrah.140 Jika meneliti sikap para ulama Kûfah terhadap sumber kaidah nahwu, akan kita temukan bahwa mereka lebih banyak menggunakan sumber bahasa yang nota bene diabaikan oleh mayoritas ulama Bashrah. Sebagaimana penulis jelaskan di awal bahwa ulama Bashrah tidak banyak menggunakan uslub ahli kalam sebagai dalil nahwu, mereka lebih banyak memperhitungkan akal, dan bersandar pada dalil-dalil manthiq serta sumber-sumber filsafat, dengan demikian sikap ini berlainan sekali dengan ulama Kûfah.
Maka itu, ulama Kûfah lebih mengandalkan pendengaran, mereka banyak mendengar ungkapan bahasa Arab fashih dari kabilah-kabilah Arab, baik yang selama ini menjadi sumber ulama Bashrah maupun tidak, antara lain; masyarakat Arab yang hidup di kampung Sawâd di Baghdad, seperti Arab al-Hathamiyah dan lainnya. Selain itu ulama Kûfah juga menerima seluruh riwayat Syair dan ungkapan Arab, tanpa memperdulikan kualitas syair tersebut, mereka menerapkannya sebagai dalil dalam penetapan kaidah nahwu. Akibatnya, ulama Kûfah kerap menggunakan dalil yang jarang digunakan ulama lainnya, sehingga kaidah-kaidah yang lahir dari ulama mereka kerap berbeda dengan kaidah-kaidah yang selama ini dibangun oleh ahli nahwu Bashrah.141
Jika diamati secara historis lebih jauh, kebesaran kedua madzhab di atas tidaklah mengherankan, karena Irak yang merupakan tempat dua kota besar Bashrah dan Kufah, adalah negeri yang memiliki perkembangan signifikan dalam sisi ilmu pengetahuan, di negeri inilah awal berkembangnya ilmu-ilmu bahasa Arab.
139
Syauqi Dhayf, al-Madâris al-Nahwiyyah, (Mesir: Dar al-Ma’ârif 1976), hal. 153
140
Al-Suyûthi, al-Iqtirâh fi Ilm Ushul al-Nahwi, hal. 84
141
Lihat di Musthafa Abd al-Aziz, al-Madzâhib al-Nahwiyyah, hal. 41
Kebesaran kedua kota tersebut tidak terlepas dari peran ulama pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab r.a sekitar tahun 14 H yang menjadikan Bashrah dan Kufah sebagai pusat perkembangan ilmu pengetahuan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kedua kota besar tersebut memiliki perbedaan yang mencolok dari berbagai sisi, antara lain dari sisi letak geografis, kecenderungan dan tabiat masyarakatnya, kefasihan ucapannya dan metodologi penelitiannya dalam kaidah nahwu. Di bawah ini akan diuraikan keunggulan dan perbedaan antara kedua madzhab di atas;
Pertama; dari sisi letak georafis, Bashrah diuntungkan karena letak kota Bashrah berdekatan dengan masyarakat Badui, yang memiliki kefashihan dalam bahasa Arab. Sedangkan letak kota Kufah sangat jauh dari komunitas masyarakat Arab, jika dibandingkan dengan Bashrah. bahkan kota ini sering dikunjungi oleh utusan-utusan dari negeri non Arab, dan terjadilah hubungan diplomatis antara penduduk Kufah dan non Arab, akibatnya tabiat dan karakter Kufah telah bercampur dengan Ajam, dan bahasanya pun telah terpengaruhi oleh satu sama lainnya. Maka itu implikasinya dalam penetapan kaidah nahwu, Kufah lebih bersifat toleran dan sangat memudahkan, tidak seketat dan seselektif masyarakat Bashrah dalam menggunakan dalil bahasa.142
Kedua; dari sisi tabiat dan kecenderungan, penduduk Bashrah adalah masyarakat yang keras dan sulit bersosialisasi, mungkin karena itulah mereka menjadi pendukung Muawiyah. Adapun penduduk Kufah masyarakatnya lebih cenderung penurut dan pecinta ketenangan. Secara politik, mereka merupakan pendukung Ali bin Abi Thâlib yang pernah mendatangi kota mereka. Dan kelak Kufah menjadi penolong Daulah Abbasiyah, tidak heran jika Daulah Abbâsiyah sangat mengistimewakan masyarakat Kufah, bahkan dari sisi ilmu pengetahuan para khalifahnya mempercayakan ulama Kufah untuk mendidik anak-anaknya. Contohnya seorang ulama bahasa terkenal Kisâ’i pernah mengajarkan sastra pada khalifah
142
Abdul karim Muhammad al-‘Asad, al-Wasith fi tarikh al-Nahwi al-Arabi, hal. 35
Rasyîd dan kedua anaknya al-Amîn dan al-Ma’mûn, al-Farâ’ juga demikian yang merupakan murid dari al-kisâ’i mengajarkan anak-anak al-Ma’mûn. Ibnu Sikit murid dari al-Farâ ‘mengajarkan anak-anak al-Mutawakkil dan lainnya.143
Ketiga; Keluhuran bahasa, penduduk Bashrah memiliki karakter bahasa paling lembut dalam berbicara bahasa fashih, karena mereka bagian dari kabilah yang memiliki bahasa yang jernih. Di samping itu mereka sering berinteraksi dengan masyarakat Badui, keuntungannya adalah perkataan Arab yang dijadikan sebagai dalil nahwu oleh mereka adalah perkataan yang shahih. Ini bertolak belakang dengan penduduk Kufah, mereka tidak memiliki lingkungan yang masyarakatnya berbahasa luhur, sehingga terkadang mereka mengambil sumber bahasa dari kabilah yang kefashihannya jauh lebih rendah dari Bashrah, terlebih konsentrasi mereka terhadap ilmu nahwu, muncul jauh belakangan setelah masyarakat Bashrah.144
Keempat; penduduk Bashrah telah meletakkan undang-undang komprehensif bagi bahasa dalam hal Rafa’, Nashab, Jar, dan Jazm. Undang-undang dan kaidah-kaidah kebahasaan yang meeka bangun mendekati keshahihan, karena mereka mengambil saksi atau dalil kaidah dari sumber terpercaya dan teruji kefashihanya.145 Keteguhannya dalam mempertahankan kaidah yang telah mereka bangun tercemin dalam sikapnya ketika ada ungkapan Arab yang shahih namun bertentangan dengan kaidah mereka, maka mereka berusaha untuk meta’wilkannya agar keduanya sejalan, dan tidak melakukan qiyas sebagaimana yang dilakukan oleh ulama Kufah.146
Sikap Bashrah ini berbeda sekali dengan penduduk Kufah, ulama Kufah lebih cenderungan bersikap Mutasahhil, ini tercermin misalnya ketika ada ungkapan Arab
143
Muhammad Thanthâwi, Nasy’at al-Nahw wa Târîkh Asyhar al-Nuhât,hal 76
144
Muhammad Thanthâwi, Nasy’at al-Nahw wa târîkh Asyhar al-Nuhât,hal 75
145
Abdulkarim Muhammad al-‘Asad, al-Wasith fi tarikh al-nahwi al-Arabi, hal. 36
146
Ulama Bashrah kerap menyalahkan sebagian orang Arab yang perkataan dan qirâ’atnya tidak sejalan dengan kaidah yang mereka bangun, misalnya kaidah yang sudah masyhur di kalangan Arab نإ menashab isim dan merafa’kan khabar, namun didapati dalam sebagian kondisi نإ tidak melakukan itu padahal ungkapan itu bersumber dari yang shahih, seperti bacaan shahih yang diakui oleh Ulama Qira’at Sab’ah kecuali Abu Amr bin al-Ala’ yaitu ناﺮﺣﺎﺴﻟ ناﺬهنإ, meskipun ada riwayat lain dari Abu Amrناﺮﺣﺎﺴﻟﻦﻳﺬهنإ . lihat Ibnu Hisyâm, Syarh Syudzûr Dzahâb fi ma’rifat kalâm al-‘Arab (Makkah: Dar al-Baz) hal. 46
yang shahih padahal bertentangan dengan kaidah umum, maka ulama Kufah membolehkan qiyas, bahkan mereka menjadikan bahasa yang lemah ini sebagai pondasi bagi kaidah umum yang baru. Ibnu Darastawayh al-Baghdâdi yang merupakan ulama fanatik terhadap penduduk Bashrah mengatakan; al-Kisâ’i pernah mendengar bahasa yang syadz yang tidak boleh digunakan kecuali dalam keadaan darurat, akan tetapi ia menjadikan bahasa syadz tersebut sebagai dalil dan membolehkan berqiyas padanya, karena itulah ilmu nahwu menjadi rusak.147
3. Madzhab Baghdad
Kemajuan pertumbuhan dan perkembangan madzhab Baghdad dalam bidang nahwu, tidak akan terlepas dari peran aktif para pelajarnya yang menimba ilmu dari kedua madzhab besar pendahulunya, Bashrah dan Kûfah. Kontribusi pelajar-pelajar ini adalah kesungguhannya dalam mempelajari kaidah-kaidah nahwu yang dibangun oleh kedua Madzhab tersebut, kemudian memilahnya dengan cara mencari pendapat yang lebih unggul dari keduanya. Pendapat yang tepat menurut mereka akan dipegang sebagai corak pemikirannya, tanpa melihat asal kemunculan kaidah tersebut, dari Bashrah-kah atau Kûfah. Dengan demikian, tidak sedikit ulama nahwu yang menyebutkan bahwa madzhab Baghdad adalah madzhab gabungan antara pemikiran Bashrah dan Kûfah. Meskipun al-Zubaidi mengatakan bahwa Madzhab ini lebih cenderung pada Bashrah, karena dilihat dari banyaknya jumlah kaidah yang mereka gunakan, banyak kesesuaiannya dengan pemikiran Bashrah.148
Jika meneliti pergerakan pemikiran ahli nahwu Baghdad, akan ditemukan dalam generasi pertama madzhab ini, kecenderungan yang berbeda-beda, misalnya dari mereka ada yang lebih cenderung pada madzhab Kûfah, seperti Muhammad bin Sulaiman al-Hamidh (w 305 H) dan Ahmad bin Syaqir (w 327 H). Ada juga yang cenderung pada madzhab Bashrah misalnya Ibrâhim al-Zujaj (w 310 H), Muhammad bin Sirâj (w 316 H), Abdurrahman al-Zujaji (w 337 H), Abu Aly al-Shaffâr (w 341
147
Al-Suyûthi, Bughyah al-Wu’ât fi Thabaqât al-Lughawiyyin wa al-Nuhât, (Beirut: Maktabah al-Ashriyah 2003), juz. 2, hal. 164
148
Musthafa Ad al-Aziz, al-Madzâ’hib al-Nahwiyyah, hal. 73
H), dan Abdullah bin Darastawayh (w 347 H). Selain itu, ada juga sebagian ulama Baghdad yang menggabungkan antara kedua madzhab tersebut, seperti Abdullah bin Qutaibah al-Dînurî (w 276 H), Ali bin Sulaiman al-Akhfas al-Shaghîr (w 315 H) dan Muhammad al-Khayâth (w 320 H).149
Demikianlah fenomena pergerakan pemikiran generasi pertama di Baghdad, mereka memiliki kecenderungan yang berbeda-beda antara satu ulama dengan yang lainnya. Pendapat yang menurut mereka tepat, baik itu dari Bashrah atau Kûfah, maka itulah pendapat yang dianut. Bahkan terkadang para ulama Baghdad berijtihad sendiri, jika menurutnya kaidah dari kedua madzhab pendahulunya kurang tepat, atau ada dalil lain yang memberikan kaidah alternatif dari kedua pendahulunya. Maka itu ahli sejarah bahasa menegaskan bahwa sesungguhnya hasil ijtihad para ulama Baghdad inilah yang merupakan ciri dari pemikiran Madzhab Baghdad,150 karena kaidah tersebut berbeda dan tidak ditemukan pada madzhab sebelumnya.
4. Madzhab Andalus
Perkembangan pemikiran nahwu di Andalusia telah mengalami proses perkembangan dalam beberapa periode; Periode pertama, pemikiran nahwu madzhab ini lebih banyak dipengaruhi oleh Madzhab Kûfah, ini disebabkan ulama nahwu pertama di Andalus yaitu Jaudy bin Utsmân (w 198 H) pernah menuntut ilmu di Kûfah dan mengaji langsung kepada beberapa tokoh ulama Kûfah seperti al-Kisâ’i, al-Farâ’, dan lainnya. Dan ketika Jaudy kembali ke Andalusia, ia membawa kitab karya al-Kisâ’i dan mengajarkannya pada siswa dan pelajar di Andalusia.151
Periode kedua, adalah periode dimana pelajar Andalusia beramai-ramai berkunjung ke daerah Timur, termasuk Bashrah, di antaranya adalah Muhammad bin Musa al-Andalûsy, beliau belajar di daerah Bashrah, dan pernah mengaji Kitab karya Sybawaih pada Abu Ali al-Dinûrî, dan beliau juga pernah mengaji pada al-Maznî.