BAB VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
6.2 Aliran Perdagangan Ekspor Anggrek Indonesia
penelitian ini dianalisis dengan menggunakan gravity model. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor- faktor yang mempengaruhi ekspor anggrek Indonesia ke negara tujuan. Pengolahan data panel dalam penelitian ini, dilakukan dengan menggunakan metode pooled OLS dan fixed effect. Hal ini karena jumlah cross section lebih sedikit daripada jumlah variabel yang digunakan dalam model sehingga metode random effect tidak dapat dilakukan. Secara umum gravity model aliran perdagangan ekspor anggrek Indonesia yang dilakukan telah memenuhi beberapa asumsi seperti multikoleniaritas, heteroskedastisitas dan autokolerasi.
Kondisi terjadinya multikolinearitas ditunjukkan dengan menghitung koefisien korelasi antar variabel independen. Apabila koefisiennya rendah, maka tidak terdapat multikolinearitas. Dari perolehan nilai hasil estimasi, terlihat bahwa nilai R² cukup besar (>0.8) dan hanya terdapat satu koefisien dugaan yang tidak berpengaruh nyata, sehingga patut diduga adanya hubungan linear antar variabel. Multikolinearitas dapat diatasi dengan memberi perlakuan GLS (cross section weights), sehingga parameter dugaan pada taraf uji tertentu menjadi signifikan.
Asumsi selanjutnya yang telah dipenuhi adalah heteroskedastisitas. Heteroskedasitas ditunjukkan dengan ragam yang tidak konstan. Untuk melihat kehomogenan ragam dapat dilakukan dengan uji Barlett. Selain itu dapat pula dideteksi dengan membandingkan sum square residual pada weighted statistics dengan sum square residual unweigthed statistics. Apabila sum square residual pada weighted statistics lebih kecil dibandingakan sum square residual unweigthed statistics maka dapat disimpulkan terjadi heteroskedasitas. Berdasarkan perolehan hasil nilai estimasi, dapat dilihat bahwa pada taraf nyata lima persen, nilai P-value kurang dari lima persen yang berarti bahwa ragam tidak homogen (terjadi heteroskedasitas).
Untuk mengetahui ada atau tidaknya autokolerasi dapat dilakukan dengan uji Durbin Watson (DW) yang dapat dilihat pada hasil output estimasi data panel. Berdasarkan hasil output estimasi dengan metode pooled OLS maupun fixed effect, dapat dilihat bahwa tidak terdapat autokorelasi. Ini terlihat pada output pooled OLS dimana nilai DW sebesar 1.69 serta pada output fixed effect nilai DW sebesar 2.02. Kedua nilai tersebut berada dalam selang 1,56-2,46 yang artinya tidak ada autokorelasi.
6.2.1 Analisis Regresi Gravity Model Aliran Perdagangan Ekspor Anggrek Indonesia ke Negara Tujuan
Untuk mengetahui metode yang terbaik diantara keduanya dalam mengestimasi aliran perdagangan ekspor anggrek Indonesia di negara tujuan maka perlu dilakukan pengujian kesesuaian model dengan Chow Test (uji F) yang perhitungannya adalah sebagai berikut.
Chow test
Ho: Model PLS (Restricted)
H1 : Model Fixed Effect (Unrestricted) (RRSS-URSS)/(N-1) URSS/(NT-N-K) Dimana:
RSSS = Restricted Residual Sum Square (Sum Square Residual PLS) URSS = Unrestricted Residual Sum Square (Sum Square Residual Fixed) N = Jumlah data cross section
T = Jumlah data time series K = Jumlah variabel penjelas
(132,2102-99,2724)/(5-1) 99,2724/(5X 11-5-6) Ftabel = F(4,44) = berkisar antara 2,53 – 2,61
Hasil Chow Test dari metode pooled OLS dan metode fixed effect menghasilkan nilai Fhitung sebesar 3,65 sedangkan nilai F tabel yang diperoleh berkisar diantara 2,53-2,61. Dari perhitungan tersebut, maka dapat disimpulkan tolak Ho, yang berarti bahwa metode fixed effect merupakan metode yang sesuai
F hitung =
= 3,65 F hitung =
dalam gravity model aliran perdagangan ekspor anggrek Indonesia ke negara tujuan. Estimasi gravity model yang menggunakan metode fixed effect telah diberi bobot dengan estimasi GLS dan white heteroscedacity untuk menghilangkan adanya heteroskedasitas. Dari hasil output estimasi diketahui bahwa variabel independent atau peubah bebas yang berpengaruh nyata terhadap aliran perdagangan ekspor anggrek Indonesia ke negara tujuan berdasarkan nilai probabilitas yang diperoleh pada selang kepercayaan 95 persen (taraf nyata lima persen) adalah pendapatan per kapita di negara tujuan, waktu tempuh dari Indonesia ke negara tujuan, populasi negara tujuan, biaya transportasi dari Indonesia ke negara tujuan dan nilai tukar mata uang asing negara tujuan. Sedangkan variabel yang tidak signifikan pada selang kepercayaan 95 persen adalah harga anggrek Indonesia yang diekspor ke negara tujuan. Hasil estimasi dari pengolahan regresi gravity model dengan fixed effect sebagai berikut :
Tabel 14. Hasil Pengolahan Gravity Model Dengan Menggunakan Metode Pooled OLS
Variabel Koefisien Probabilitas
C 0.31072 0.0011
Log(Waktu Tempuh) -0.01563 0.0000*
Log(Pendapatan per Kapita) 0.22737 0.0000*
Log(Populasi) -0.29735 0.0000*
Log(Harga Anggrek Negara Tujuan) -0.34675 0.7412 Log(Harga Anggrek Indonesia) -0.06965 0.0000* Log(Nilai Tukar USD di Negara Tujuan) 1.42956 0.0000* Fixed Effects (Cross)
_JPN—C -2.25470 _KOR--C -0.63758 _SING--C 0.97279 _NETH--C 0.40076 _USA--C 1.51873 R-squared 0.8420 Adjusted R-squared 0.80609
Berdasarkan hasil analisis regresi gravity model aliran perdagangan ekspor anggrek Indonesia ke negara tujuan dengan metode fixed effect diperoleh persamaan :
Log(Xij) = 31.073 + Cd - 0.015*log(Dij)d + 0.227*log(Yj)d - 0.297*log(Nj)d -0.346*log(Pj)d - 0.069*log(Pi)d – 1.429*log(ERj)d
Ket : d = dummy untuk negara Jepang, Korea, Singapura, Belanda dan Amerika Serikat.
Berdasarkan hasil estimasi output pada Tabel 14 menunjukkan bahwa yang mempengaruhi aliran perdagangan anggrek Indonesia ke negara tujuan adalah waktu tempuh, pendapatan perkapita, populasi, harga anggrek Indonesia dan nilai tukar mata uang USD terhadap negara tujuan. Nilai koefisien determinasi (R2) yang diperoleh dari metode fixed effect adalah sebesar 84,2 persen. Hal ini menunjukkan bahwa 84,2 persen perubahan volume ekspor anggrek yang diperdagangkan dari Indonesia ke negara tujuan dapat diterangkan oleh variasi peubah-peubah bebas dalam model, sedangkan sisanya diterangkan oleh faktor-faktor lain yang tidak terdapat dalam model.
6.2.2 Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Aliran Perdagangan Ekspor Anggrek Indonesia Ke Negara Tujuan
Waktu Tempuh (Dij)
Variabel waktu tempuh dalam gravity model merupakan proksi dari jarak antar negara yang melakukan perdagangan. Lamanya waktu tempuh pengiriman ekspor anggrek terhitung mulai dari barang dikirim sampai dengan tiba di negara tujuan melalui jalur laut. Variabel waktu tempuh memiliki nilai koefisien -0,0156 yang berarti setiap penambahan waktu tempuh antara Indonesia dengan negara tujuan ekspor maka akan menurunkan volume ekspor anggrek sebesar 0,0156 satuan, cateris paribus. Selain berpengaruh negatif, variabel jarak juga signifikan
pada taraf lima persen yang artinya berpengaruh terhadap aliran perdagangan ekspor anggrek Indonesia ke negara tujuan.
Dalam hal ini, waktu tempuh merupakan hambatan pada kinerja ekspor anggrek Indonesia ke negara tujuan. Semakin jauh jarak antar kedua negara berimplikasi terhadap biaya pengiriman yang harus ditanggung. Selain itu pengiriman anggrek melalui jalur laut berarti semakin membutuhkan waktu yang lama, maka teknologi yang digunakan pun akan semakin tinggi, seperti menggunakan kotak pendingin atau perlakuan khusus agar kualitas anggrek tetap terjaga. Variabel waktu tempuh dapat dipengaruhi oleh Indonesia, artinya Indonesia dapat beralih sarana transportasi untuk ekspor anggrek seperti menggunakan jalur udara. Namun pengiriman ekspor anggrek melalui jalur udara akan menurunkan daya saing anggrek itu sendiri karena harga anggrek Indonesia di negara tujuan akan lebih mahal karena biaya pengiriman ekspor melalui jalur udara lebih besar.
GDP Per Kapita Negara Tujuan
Sebagai ukuran ekonomi suatu negara, GDP per kapita yang nilainya besar maka mengindikasikan semakin besar peluang kemampuan dari negara tersebut untuk menyerap produk yang dihasilkan oleh negara pengekspor. Dari hasil estimasi regresi gravity model menunjukkan variabel GDP per kapita negara tujuan (Yj) memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan volume ekspor anggrek Indonesia. GDP per kapita negara tujuan berpengaruh positif dengan nilai koefisien 0.227. Jika pendapatan per kapita di negara tujuan meningkat sebesar satu satuan maka volume ekspor anggrek yang diperdagangkan dari Indonesia ke negara tujuan akan mengalami peningkatan sebesar 0.227 satuan, cateris paribus.
Apabila terjadi peningkatan GDP per kapita dari salah satu negara tujuan ekspor anggrek Indonesia, maka hal ini akan berdampak pada peningkatan ekspor anggrek Indonesia. Hasil ini sesuai dengan hipotesis yang ditetapkan pada kerangka pemikiran penelitian, dimana diharapkan variabel GDP per kapita negara tujuan ekspor berpengaruh positif pada peningkatan ekspor anggrek Indonesia. Dapat dikatakan juga bahwa dengan meningkatnya GDP per kapita suatu negara, maka peluang daya beli masyarakat akan meningkat termasuk kemampuan membeli komoditi anggrek. Mengingat kebutuhan akan tanaman hias merupakan kebutuhan tersier dan harga jual tanaman hias di pasar bervariasi menurut jenisnya, maka diasumsikan bahwa pasar tanaman hias terutama anggrek secara umum adalah masyarakat kelas menengah atas. Dengan demikian variabel GDP per kapita negara tujuan menjadi variabel yang penting dalam model aliran perdagangan ini, namun variabel ini tidak dapat dipengaruhi oleh Indonesia. Pendapatan per kapita negara tujuan merupakan faktor yang mempengaruhi permintaan ekspor anggrek Indonesia, oleh karena itu hal ini dapat dijadikan strategi oleh para eksportir untuk memperluas pasarnya.
Populasi Negara Tujuan (Nj)
Jumlah populasi di negara tujuan berpengaruh negatif dan signifikan pada taraf lima persen terhadap aliran perdagangan ekspor anggrek Indonesia ke negara tujuan. Nilai koefisien populasi negara tujuan adalah sebesar -0.297 yang artinya setiap penambahan jumlah populasi negara tujuan maka akan mengakibatkan penurunan ekspor anggrek ke negara tujuan sebesar 0,297 satuan, cateris paribus. Hal ini tidak sesuai dengan hipotesis yang diharapkan bahwa populasi akan berpengaruh positif terhadap ekspor anggrek Indonesia ke negara tujuan.
Jumlah populasi suatu negara merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi jumlah komoditas yang dibeli. Namun fakta yang terjadi justru sebaliknya, negara yang mempunyai populasi cukup besar memiliki jumlah impor anggrek Indonesia yang lebih rendah dibandingkan negara dengan populasi lebih kecil. Hal ini kemungkinan terjadi karena negara tujuan ekspor anggrek Indonesia yang memiliki jumlah populasi tinggi berada pada jarak yang jauh sehingga membutuhkan waktu tempuh yang cukup lama dalam pengiriman ekspor anggrek Indonesia.
Harga Anggrek Indonesia
Harga anggrek Indonesia berpengaruh negatif dengan nilai koefisien sebesar -0.069. Hal ini berarti kenaikan harga anggrek Indonesia sebesar satu satuan akan menurunkan volume anggrek yang diperdagangkan, cateris paribus. Hasil yang diperoleh sesuai dengan hipotesis yang diharapkan bahwa jika harga anggrek Indonesia lebih mahal dibandingkan dengan harga di negara tujuan maka anggrek Indonesia tidak memiliki daya saing terhadap anggrek dari negara lain. Dengan demikian hal tersebut akan berdampak pada penurunan kuantitas ekspor anggrek Indonesia ke negara tujuan.
Variabel harga anggrek Indonesia dalam aliran perdagangan anggrek ke negara tujuan dapat dipengaruhi oleh eksportir maupun pengusaha anggrek dari dalam negeri. Para pengusaha anggrek dalam negeri dapat memperluas skala usaha maupun efisiensi produksi sehingga dapat menekan harga anggrek, sehingga diharapkan anggrek Indonesia memiliki harga yang bersaing di pasar internasional.
Nilai Tukar USD Negara Tujuan (ERj)
Nilai tukar yang digunakan dalam aliran perdagangan ekspor anggrek Indonesia adalah nilai tukar mata uang Dollar Amerika Serikat terhadap negara tujuan. Berdasarkan hipotesis yang diharapkan, nilai tukar mata uang USD berpengaruh positif terhadap ekspor anggrek Indonesia ke negara tujuan. Hal ini sesuai dengan parameter yang diharapkan. Variabel nilai tukar berpengaruh positif dan signifikan pada taraf lima persen dengan nilai koefisien sebesar 1.429. Hal ini berarti setiap terjadi peningkatan nilai tukar USD terhadap mata uang negara tujuan maka akan meningkatkan ekspor anggrek ke negara tujuan sebesar 1.429 satuan, cateris paribus.
Nilai tukar USD yang tinggi terhadap mata uang negara tujuan maka akan meningkatkan keuntungan bagi eksportir Indonesia karena memperoleh peningkatan nilai ekspornya. Dengan demikian para eksportir akan berupaya untuk meningkatkan kuantitas ekspor anggrek ke negara yang memiliki nilai tukar yang relatif besar terhadap USD. Variabel nilai tukar mata uang USD terhadap mata uang negara tujuan merupakan faktor yang mempengaruhi penawaran ekspor anggrek Indonesia, sehingga variabel ini tidak dapat dipengaruhi. Akan tetapi variabel ini dapat menjadi penentuan strategi bagi eksportir untuk perluasan pasarnya.
Berdasarkan data yang diperoleh, negara tujuan ekspor yang memiliki nilai tukar relatif lebih tinggi terhadap USD adalah Korea dan Jepang. Hal ini sesuai dengan perolehan nilai ekspor tanaman hias Indonesia ke kedua negara tersebut merupakan nilai tertinggi dibandingkan ke negara tujuan lainnya. Dengan demikian, Korea dan Jepang dapat dikatakan sebagai negara yang mempunyai potensi besar untuk usaha peningkatan ekspor tanaman hias Indonesia terutama
anggrek karena akan memberikan perolehan nilai ekspor yang cukup besar bagi