• Tidak ada hasil yang ditemukan

Review Rencana Tata Ruang Yang Ada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Nasional

ATAS DASAR HARGA KONSTAN 2000

2. Gol Mobil Sedan, Jeep, dan Station Wagon

4.3 Analisa Dimensi Jembatan

4.3.1 Alternatif 1 : Pararel Dengan Jembatan Kapuas I

Direncanakan jembatan dibuat secara paralel dengan Jembatan Kapuas 1. Dengan adanya jembatan ini volume lalu-lintas yang melewati jembatan

Kapuas 1 didistribusikan sehingga diharapkan kemacetan di Jembatan dapat diantisipasi.

Pembuatan jembatan ini hanya memperbesar kapasitas jembatan yang melintasi Sungai Kapuas saja. Sementara akses menuju dan setelah jembatan perlu dihitung juga kapasitasnya. Hal ini perlu dilakukan supaya kemacetan dapat diantisipasi secara tuntas, tidak hanya memindahkan kemacetan dari jembatan ke jalan aksesnya.

Pembangunan jembatan ini juga perlu didukung dengan pembangunan Jembatan Landak 2, karena kapasitas Jembatan Landak juga sudah tidak mencukupi lagi mengalirkan volume lalu-lintas yang ada.

Selain itu antisipasi pada persimpangan-persimpangan yang berhadapan langsung dengan kedua jembatan juga perlu dilakukan. Adanya rencana Jalan Layang (Fly Over) merupakan salah satu alternatif yang diharapkan mampu mengantisipasi masalah kemacetan ini.

Asumsi :

Jembatan hanya bisa dibuat dengan lebar maksimal 7 meter, karena kondisi lokasi.

Tipe jembatan dibuat satu arah, Co =1.650 (smp/jam) ---à per lajur Lebar satu arah 3,5 m, FCw = 1

Jalan 2-2 dan presentase 40 % : 60%, FCsp = 0,94

Hambatan samping sangat besar = VH dengan bahu <0,5, FCsf= 0,73

Hambatan samping sangat besar = VH dengan kerb <0,5, Fcsf = 0,68, digunakan FCsf =0,68 (yang terkecil)

Jumlah penduduk Kota Pontianak < 1 juta jiwa, FCcs = 0,86 C = Co x FCw x FCsp x FCsf x FCcs

C = 1.650 x 1 x 0,94 x 0,68 x 0,86 = 907.025 smp / jam

Untuk dua lajur = 907.0248 x 2 = 1.814,05 smp/jam -à (satu jembatan) Untuk 2 jembatan = 2 x 1.814,05 = 3.628,1 smp / jam > VJP saat ini

Untuk solusi saat ini alternatif I masih dapat digunakan, tetapi dalam jangka waktu 5 tahun mendatang dengan VJP sebesar 4.491,45 smp/jam, kapasitas dua jembatan ini juga tetap tidak akan mencukupi.

4.3.2 Alternatif 2 : Lokasi Di Fery Roro Penyebrangan (Jl.

Bardan Hadi – Siantan)

Direncanakan jembatan dibuat pada lokasi yang sekarang digunakan sebagai Dermaga Ferry Roro penyeberangan. Lokasi ini menyambungkan jalan Bardan Hadi dengan terminal/Pasar Siantan.

Rencana jembatan ini diharapkan dapat membagi volume lalu-lintas yang selama ini melalui Rute Jl. Situt Mahmud - Jembatan Landak - Jl. Sultan Hamid II - Jembatan Kapuas - Kota. Dengan adanya jembatan ini volume lalu-lintas di rute tersebut sebagian langsung diarahkan melalui jembatan ke pusat Kota Pontianak. Harapan dari pembagian ini volume lalu-lintas di Jalan Gusti Situt Mahmud, Jembatan Landak, Jalan Sultan Hamid II dan Jembatan Kapuas I dapat di kurangi. Hal ini juga berlaku untuk arah sebaliknya, volume lalu-lintas yang selama ini terpusat di Jalan Tanjungpura, Jl Pahlawan, dan Jalan Imam Bonjol dapat terdistribusi ke arah Jalan Rahadi Usman yang selama ini tidak terlalu padat.

Permasalahan yang timbul adalah bahwa di sisi “Siantan”, jembatan ini berada di Pasar Siantan yang selama ini sangat padat. Oleh karena itu perlu difikirkan antisipasi terhadap permasalahan ini.

Asumsi :

Tipe jembatan empat lajur terbagi, Co =1.650(smp/jam) ---àper lajur Lebar satu arah 3 m, FCw = 0,92

Jalan 2-2 dan presentase 40 % : 60%, FCsp = 0,94

Hambatan samping sangat besar = VH dengan bahu <0,5, FCsf= 0,73

Hambatan samping sangat besar = VH dengan kerb <0,5, Fcsf = 0,68, digunakan FCsf =0,68 (yang terkecil)

Jumlah penduduk kota pontianak < 1juta jiwa, FCcs = 0,86 C = Co x FCw x FCsp x FCsf x FCcs

C = 1.650 x 0,92 x 0,94 x 0,68 x 0,86 = 834,46 smp / jam Untuk 3 lajur (1 arah) = 834,46 x 3 = 2.503,38 smp/jam

Dengan kapasitas Jembatan Kapuas I (eksisting) ditambah dengan kapasitas Jembatan Kapuas III (Bardan Hadi-Siantan) sebesar 1.386,92 + 2.503,38 = 3.890 smp/jam, apabila dibandingkan dengan volume jam perencanaan tahun ke 2 sebesar 3.879,89 smp/jam, maka solusi ini hanya dapat mencukupi kebutuhan VJP pada tahun ke 2. Apabila pembangunan jembatan ditambah dengan 2 jembatan paralel Jembatan Kapuas I, di kanan dan kiri Jembatan Kapuas I, maka kapasitas jembatan adalah 3.890 smp/jam ditambah dengan 3.628,10 smp/jam, dengan jumlah kapasitas Jembatan Kapuas I sebesar 1.386,92 smp/jam ditambah Jembatan Kapuas III (Bardan Hadi-Siantan) sebesar 2.503,38 smp/jam ditambah 2 Jembatan Paralel Kapuas I 3.628,10 smp/jam dengan jumlah total kapasitas dalah 7.518,40 smp/jam. Sementara volume jam perencanaan tahun ke 16 adalah 7.681,91 smp/jam.

Dari analisis tersebut maka untuk menanggulangi kemacetan perlu dibangun jembatan baru, yaitu Jembatan Kapuas III (Bardan Hadi-Siantan) sekaligus dengan 2 Jembatan Paralel Kapuas I dan 2 Jembatan Paralel Jembatan Landak, dengan kemampuan mengatasi kemacetan sampai tahun ke 15.

Dengan demikian perlu dibangun jembatan baru pada tahun ke 16 setelah Jembatan Kapuas III (Bardan Hadi – Siantan) dan 2 buah Jembatan Paralel Kapuas I dan 2 Jembatan Paralel Jembatan Landak tidak mampu lagi menampung volume lalu-lintas kendaraan.

5.1 Umum

Sektor perdagangan berperan besar dalam menunjang perekonomian di Kota Pontianak ini. Konsekuensi atas meningkatnya standar hidup penduduk Kota Pontianak terhadap pelayanan jasa transportasi khususnya jalan raya adalah meningkatnya permintaan p

semakin meluas dan dengan kualitas yang meningkat pula, maka jalur transportasi harus diperhatikan dengan baik, agar pendistribusian barang dapat berjalan lancar, serta masyarakat dapat melakukan aktivitas sehar serta dapat memanfaatkan dan pemakaian jalan raya dengan aman, nyaman dan lancar di Kota Pontianak. Peningkatan arus lalu lintas yang terjadi harus diimbangi dengan peningkatan prasarana yang ada, karena dapat mengakibatkan terjadinya permasalahan l

kecelakaan.

Pergerakan intra zona terutama di Kota Pontianak yaitu akses Pelabuhan Pontianak ke arah utara yaitu menuju Kawasan Metropolitan Pontianak Sektor perdagangan berperan besar dalam menunjang perekonomian di Kota Pontianak ini. Konsekuensi atas meningkatnya standar hidup penduduk Kota Pontianak terhadap pelayanan jasa transportasi khususnya jalan raya adalah meningkatnya permintaan penyediaan jasa angkutan barang dan jasa yang semakin meluas dan dengan kualitas yang meningkat pula, maka jalur transportasi harus diperhatikan dengan baik, agar pendistribusian barang dapat berjalan lancar, serta masyarakat dapat melakukan aktivitas sehar serta dapat memanfaatkan dan pemakaian jalan raya dengan aman, nyaman dan lancar di Kota Pontianak. Peningkatan arus lalu lintas yang terjadi harus diimbangi dengan peningkatan prasarana yang ada, karena dapat mengakibatkan terjadinya permasalahan lalu lintas antara lain kemacetan dan

Pergerakan intra zona terutama di Kota Pontianak yaitu akses Pelabuhan Pontianak ke arah utara yaitu menuju Kawasan Metropolitan Pontianak Sektor perdagangan berperan besar dalam menunjang perekonomian di Kota Pontianak ini. Konsekuensi atas meningkatnya standar hidup penduduk Kota Pontianak terhadap pelayanan jasa transportasi khususnya jalan raya adalah enyediaan jasa angkutan barang dan jasa yang semakin meluas dan dengan kualitas yang meningkat pula, maka jalur transportasi harus diperhatikan dengan baik, agar pendistribusian barang dapat berjalan lancar, serta masyarakat dapat melakukan aktivitas sehari-hari serta dapat memanfaatkan dan pemakaian jalan raya dengan aman, nyaman dan lancar di Kota Pontianak. Peningkatan arus lalu lintas yang terjadi harus diimbangi dengan peningkatan prasarana yang ada, karena dapat alu lintas antara lain kemacetan dan

Pergerakan intra zona terutama di Kota Pontianak yaitu akses Pelabuhan Pontianak ke arah utara yaitu menuju Kawasan Metropolitan Pontianak

bagian utara, saat ini masih melewati pusat Kota Pontianak, yaitu melalui jalan arteri primer (nasional) yang dihubungkan hanya oleh Jembatan Kapuas I, sehingga terjadi campuran lalu lintas antara lalu lintas eksternal-eksternal, internal-eksternal dan lalu lintas intra zona Kota Pontianak yang menyebabkan rendahnya tingkat pelayanan jalan dan jembatan pada ruas-ruas jalan tersebut.

Solusi yang terbaik diperlukan salah satu Alternatif pembangunan Jembatan Kapuas III (Bardan-Siantan) untuk dapat menghubungkan akses Pelabuhan Pontianak ke arah utara yaitu menuju kawasan Metropolitan Pontianak bagian utara, yaitu melalui akses Jembatan Kapuas III (Bardan-Siantan) sehingga pengguna kendaraan di Pusat Kota tidak harus mengalami tundaan (macet) pada jam-jam sibuk.

Hal lain yang kemudian harus dilakukan untuk merencanakan pembangunan Jembatan Kapuas III (Bardan-Siantan) adalah melakukan analisis ekonomi. Analisis ini dimaksudkan agar mengetahui dengan jelas kelayakan ekonomi rencana pembangunan Jembatan Kapuas III tersebut, sehingga tidak sampai terjadi penggunaan sumber dana yang banyak yang merugikan ditinjau dari sisi ekonomi.

Dokumen terkait