dengan siklus yang kembar dan sendiri
G. Amanada Clarke
a). Memahami antara perilaku Lusi dan aspek gempabumi:
Data ini akan menjadi sangat penting untuk menentukan adanya hubungan antara perilaku LUSI dan berbagai tingkat getaran tanah yang ditimbulkan oleh gempabumi.
Respon LUSI pada getaran tanah, selalu berada pada pusat dari perdebatan antara pemicu pengeboran atau dipicu oleh gempa Yogyakarta.
b). Gunung Merapi dan Semeru merespon Gempabumi Yogyakarta:
Karya Amanda Clarke dan rekan menunjukkan bahwa kedua gunung berapi yaitu Merapi dan Semeru, telah menanggapi terhadap gempa bumi yang terjadi
37 dengan pusat di Yogyakarta. Ditunjukkan oleh adanya peningkatan fluks panas, dalam beberapa hari setelah gempa.
Hal ini jelas bahwa pencarian (dan menemukan) dengan menerapkan metoda penginderaan jauh termal untuk gerakan tanah dan proses tektonik lainnya.
Merupakan suatu pendekatan yang kuat, dan tentu saja akan menghasilkan banyak pengamatan yang menarik.
Amanda telah menunjukkan bahwa perubahan tekanan statis miniscule, sedangkan perubahan stres dinamis, meskipun lebih besar, masih hanya pada urutan puluhan kPa.
Masa depan mencoba untuk model Nevertheless, korelasi antara respon sistem terbuka Merapi dan Semeru terhadap gempa bumi Yogyakarta yang kuat, sehingga diperlukanpenjelasan berbasis fisika.
c). Hubungan Lusi dengan gempabumi bersumber jauh: Analogi Gempa Oaxaca di Meksiko
Clarke et. al. melaksanakan suatu studi yang berbeda dengan lainnya, untuk mencoba melihat hubungan LUSI pada sistem yang khusus dimana telah dipicu oleh gempa bumi dari sumber jauh.
Untuk itu telah dipresentasikan suatu hasil dari studi pemicu kegempaan jauh dalam merespon terjadinya gempa Oaxaca di Meksiko M6.4.
Dalam kaitan ini ukuran dan lokasi, gempa ini tidak spektakuler, namun banyak gempa bumi yang dipicu di Amerika Utara (seribu beberapa km).
Menariknya, korelasi terbaik antara gempa Oaxaca dan kegempaan telah memicu vulkanisme muda, hidrotermal dan cairan yang kaya diubah, sebagaimana deskripsi LUSI seperti disimpulkan oleh Mazzini.
d). Ada korelasi kuat kegempaan dengan sistem panasbumi dan hidrotermal Hasil dari studi Oaxaca konsisten dengan yang pertama mengamati studi kegempaan dipicu setelah gempa tahun 1992, yang menunjukkan bahwa kegempaan berkorelasi kuat dengan sistem panas bumi dan hidrotermal (misalnya Long Valley, CA, dan Cosos, CA).
ditargetkan untuk menentukan bagaimana korelasi tersebut.
Hasil temuan ini dapat ditempatkan pada kontek yang lebih besar dari tektonik regional (These new findings can be put into the larger context of the regional
tectonics).
e). Lusi sebagai sistem alami dihasilkan dari geodinamika yang komplek
Sehubungan dengan hal tersebut laporan terkait dengan tektonik daerah (the
tectonics of the region) telah dipresentasikan oleh Profesor. Dr. Sukendar Asikin
(ITB).
Dimana telah menempatkan Lusi sebagaimana apa yang dimaknasi (put LUSI into
the context to which it belongs) sebagai suatu sistem alam (a natural system).
Dihasilkan dari gsuatu eodinamika yang komplek dari wilayah tersebut (as a
result of the complex geodynamics of the region).
f). Pemicu Lusi sepenuhnya murni alami
Hal ini salah satu cara memberikan bukti tentang apa yang telah memicu LUSI (what triggered LUSI), dimana disebutnya bahwa LUSI sepenuhnya murni alami (LUSI exists for purely natural reasons).
g). Hal-hal penting dapat diringkas sebagai berikut
Proses Tektonik Lempeng, hasil dari sistem Busur Sunda
Subduksi dari Lempeng Australia di bawah lempeng Sunda (Subduction of the
Australian Plate beneath the Sunda plate) telah menghasilkan fenomena
pengangkatan, vulkanisme, dan pemekaran di busur belakang (di mana LUSI berada) (produces uplift, volcanism, and back-arc spreading).
Pembentukan cekungan busur belakang diisi sedimen yang cepat
Pemekaran menghasilkan penurunan di busur belakang (Spreading results in
39 Dimana sedimen yang tererosi, secara cepat menumpuk ke dalam cekungan
(eroding sediments quickly pile into the basin).
Pengendapan sediman yang cepat membentuk lapisan overpressure
Jika intensitas sedimentasi lebih cepat dari keluaran, sehingga cairan dapat melarikan diri (sedimentation is faster than the entrained fluids can escape). Mengubur lapisan overpressured (buried layers of overpressured) dan terbentuk dibawah konsolidasi pada kedalaman (underconsolidated form at
depth).
Transformasi sedimen kaya organis menjadi gas alam, kerogen dan minyak
bumi:
Karena sedimen yang kaya organis dikubur dan dimatangkan oleh suhu bumi
(buried and cooked through the geotherm). Sehingga mereka berubah menjadi
gas alam (they transform to natural gas).
Dimana pada suhu dan tekanan yang lebih tinggi lagi (at higher temperatures
and pressures), dapat berubah menjadi kerogen dan akhirnya ke minyak (to kerogen and finally to oil).
Gunung lumpur sebagai indikator yang baik untuk terjebaknya minyak dan
gas bumi
Inilah sebabnya mengapa perusahaan-perusahaan minyak tertarik pada lokasi tersebut, karena biasanya gunung lumpur adalah indikator yang baik (typically
mud volcanoes are a good indicator) untuk terjebaknya gas dan minyak (for trapped gas and oil).
Karena dapat menandai suatu daerah dengan proses sedimentasi (mark
regions of the sedimentation processes) yang dapat untuk produksi sebagai
bahan bakar fosil (amenable to fossil fuel production).
Sumber lumpur Lusi lapisan dengan overpressure dan di bawah konsolidasi
underconsolitated layers).
Dimana dihasilkan dari skala besar (result from large-scale) dan proses tektonik jangka panjang (long-term tectonic processes).
Bukti terdapatnya gunung lumpur yang alami di Jawa Timur mendukung
semburan Lusi adalah sistem alam:
Bukti untuk gunung lumpur yang alami di wilayah ini telah dikenal secara baik (Evidence for natural mud volcanoes in the region is well-established). Sehingga dapat mendukung terhadap gagasan bahwa fenomena semburan Lusi adalah sistem alami (this is a natural system).
41 a). Hubungan jatuhya kerajaan Jawa Kuno dan semburan gunung lumpur
Satyana menyajikan suatu kemungkinan hubungan antara jatuhnya kerajaan Jawa kuno dengan semburan gunung berapi didekatnya.
b). Spekulasi didasarkan revelansi hubungan langsung dengan semburan Lusi Meskipun spekulasi yang menarik dalam dirinya sendiri, itu adalah spekulasi, dan satu-satunya relevansi langsung dengan semburan LUSI saat ini.
c). Berkembangnya beberapa mud volcano purba di wilayah sekitarnya
Sebagaimana bukti geologis dari mud volkanisme purba yang berkembang di dekatnya (neighboring geologic evidence of ancient mud volcanism).
Dimana gunung lumpur yang besar berkembang di beberapa lokasi di wilayah tersebut (large mud volcanoes are ubiquitous in the region).
d). Semburan terjadi secara spontan dengan analogi Lusi dapat terjadi dengan atau tanpa bantuan pengeboran lokal:
Aspek yang menarik dari sejarah ini adalah bahwa semburan terjadi secara spontan (tanpa pengeboran) (that historical eurptions occurred spontaneously). Hal ini merupakan suatu bukti yang dapat dianalogikan, bahwa LUSI akhirnya akan terjadi (LUSI would have ultimately happened) dengan atau tanpa bantuan dari pengeboran local with or without an assist from local drilling).
e). Pemodelan secara Numerik dari Lusi menjadi bagian cukup mendasar: Panjang Umur Semburan Lusi
Pemodelan secara numerik dari LUSI sampai saat ini masih cukup mendasar (Numerical modelling of LUSI to date is still fairly rudimentary), dengan banyak ruang untuk kemajuan dan kecanggihan dari model-model.
might erupt).
a). Model Davies, USA.
* Penerapan simulasi Monte-Carlo:
Kedua model menggunakan teknik yang disebut simulasi Monte-Carlo (a
technique called Monte-Carlo simulations).
Dimana pada dasarnya ada hal ketidakpastian untuk menetapkan sifat material yang tidak diketahui (for assigning material properties to the
unknowns), dibatasi dalam batas-batas yang wajar (constrained within reasonable limits).
Jenis penelitian ini berguna untuk mendapatkan probabilitas, karena ribuan simulasi yang dilakukan dengan beberapa hasil yang lebih mungkin daripada yang lain.
43 * Panjang umur semburan Lusi 26 Tahun
Mengasumsikan suatu model pengeringan dari sumber cairan bersumber dari batugamping Kujung (assumes a model of draining the Kujung limestone fluid
source), yang mengalir melalui suatu pipa vertikal (vertical through a vertical pipe).
Menggunakan volume yang diamati di permukaan ,sebagai kriteria penolakan/penerimaan untuk termasuk hasil pemodelan ke dalam analisis statistik.
Davies juga menyatakan menemukannya hal yang membingungkan bahwa kurang dari 400 simulasi dari 10.000 model yang realisasi memenuhi kriteria penerimaan dari pencocokan volume ekstrusi.
Hal ini menunjukkan bahwa model konseptual cacat (this indicates that the
conceptual model is flawed), namun demikian, hasil penelitian ini
memperkirakan bahwa sekitar 26 tahun adalah jawaban dengan probabilitas tertinggi.
Davies mengatakan bahwa hal ini mungkin berlebihan (probably an
overestimate), dan pengamatan masa depan akan membantu membatasi
pemodelan untuk realisasi ke masa depan.
* Mempresentasikan hasil dari model, dimana lumpur juga lolos melalui geometri sederhana (mud also escaped through the simplified geometry) dari pipa melingkar of a circular pipe).
Tetapi aspek yang menarik dari pendekatan mereka adalah bahwa aspek hidro - mekanis dan persamaan H2O - CO2 - CH4 dari kondisi ini juga dimasukkan.
Dalam model ini, sumber cairan eksternal (external fluid source) diperlukan untuk mendorong sistem, tetapi kegagalan geser dari batas antara lumpur cair dan lumpur padat (shear failure of the boundary between liquid mud
and solid mud) telah dimasukkan untuk memungkinkan erosi mekanik dari
daerah sumber (was included to allow mechanical erosion of the source
region).
Sehingga dengan demikian rongga berkembang (thus a growing cavity) yang mempengaruhi penurunan (that influence both subsidence), secara terus-menerus meningkatkan sumber lumpur dari lapisan (perpetually
45 Rudolph Juga menggunakan pendekatan Monte-Carlo, untuk menyelidiki kemungkinan dua mekanisme untuk berhentinya semburan (probability of two mechanisms to stop the eruption).
Baik oleh mekanisme pembentukan kaldera (caldera formation), atau tekanan fluida rendah (a fluid pressure lower) dari yang dibutuhkan untuk mendorong (than that needed to drive the eruption).
* Hubungan dengan Proses Pembentukan Kaldera
Selanjutnya ditunjukkan bahwa pembentukan kaldera (kegagalan sepanjang bidang geser dari ruang ke permukaan), mungkin tidak menghentikan semburan tetapi hanya bahwa model mereka tidak berlaku lagi.
Berbagai hasil yang dibahas, dan untuk sebagian besar set parameter durasi semburan pendek (the eruption duration was short) dan semburan jangka panjang cenderung mengurangi pembentukan kaldera (the longer eruption
durations tended to reduce caldera formation).
* Sumber lumpur telah setabil, semburan berlanjut karena diduga adanya fluide dari sumber dalam:
Sebuah konsekuensi yang menarik hasil Randolph, dan satukan bersama-sama dengan ide-ide Mazzini, adalah bahwa sumber lumpur telah stabil (is
that the mud source has stabilize).
Tetapi sistem terus menyembur (the system keeps erupting). Karena sumber cairan jauh lebih besar (the much larger fluid sources), sehingga diduga adanya sumber yang sangat dalam (implied by a very deep source).
* Semburan Lusi telah berubah ke sistem geyser, sedikit dengan tanpa material lumpur yang disemburkan:
Bahwa kondisi aktual bahwa sistem telah berubah seperti geyser (the system
has transformed to a geyser-like system), dengan sedikit atau tanpa lumpur
yang menyembur (with little or no mud being erupted).
Sehingga hal ini merupakan berita baik untuk penurunan (therefore good
news for subsidence).
Pada hakekatnya sebagai respon terhadap hilangnya material pada kedalaman (Subsidence occurs in response to the loss of material at depth). Sedangkan suatu kaldera dapat terbentuk (a caldera could form) dengan konsentrasi tegangan pada batas sumber lumpur mengikis (by stress
concentrations at the boundaries of the eroding mud source).
* Struktur geometri lebih stabil dan penurunan bisa memudar:
Jika kondisi tegangan telah stabil (If the stress state has stabilized), karena geometri volume diekstrusi di kedalaman (the geometry of the extruded
volume at depth) mendistribusikan tekanan pada lapisan lebih kompeten di
atas dan di bawah sumber (more competent layers above and below the
source).
Sehingga secara sistem secara struktural setidaknya berbunyi untuk saat ini
(the system is structurally sound (at least for now)), dan penurunan harus
47
IV. HARAPAN KE DEPAN DARI BENCANA KE MANFAAT
Apakah masih ada harapan dari bencana Lusi: