Konstruksi Baru Kebebasan Beragama
C. Signifikansi Rekonstruksi atas Problematika Konsep Kebebasan Beragama Berbasis Kemanusiaan yang Adil
1. Ambiguitas Produk Regulasi Jaminan Kebebasan Beragama: Problem Substansi Hukum
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, bahwa meskipun secara kerangka normatif-yuridis konsep kebebasan beragama sangat mapan, tetapi pada tataran legislasi dan peraturan penunjangnya masih mengandung banyak persoalan. Berikut beberapa bentuk legislasi dan peraturan yang penulis nilai sarat dengan ragam persoalan:
a. UU No. 1/PNPS/1965 tentang Penyalahgunaan dan/ atau Penodaan Agama
Pokok-pokok penting dalam undang-undang ini sesungguhnya adalah pelarangan melakukan penafsiran dan kegiatan keagamaan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama.31 Dalam Pasal 4 dikatakan bahwa:
“Pada KUHP diadakan pasal baru yang berbunyi sebagai berikut:
‘Pasal 156a
Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barangsiapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan:
a. yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia;
________________________
31 Pasal 1. Pada penjelasan pasalnya disebutkan bahwa yang dimaksud dengan agama tersebut adalah enam agama di Indonesia. Bagi Nicola Corlbran, Undang-undang tersebut menandakan bila persepsi negara tentang agama masih didominasi oleh pemahaman arus utama yang menyatakan bahwa suatu agama harus memiliki Tuhan, Nabi, dan kitab suci. Nicola Corlbran, ”Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan di Indonesia: Jaminan Secara Normatif dan Pelaksanaannya dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara”, dalam Tore Lindholm (dkk.), Kebebasan Beragam atau Berkeyakinan, Seberapa Jauh? Yogyakarta: Kanisius, 2010, hlm. 690.
b. dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apapun juga, yang bersendikan ke-Tuhanan Yang Maha Esa.’
Perundangan itu, bagi sebagian pegiat HAM, selain dianggap bertentangan dengan semangat kebebasan beragama sebagai amanat Konstitusi, juga dinilai sebagai bentuk intervensi negara yang sebenarnya tidak perlu—dan bahkan tidak boleh— dilakukan.32
Regulasi tersebut pada dasarnya lahir dalam konteks yang berbeda dengan realitas Indonesia yang dihadapi sekarang. Saat itu, demokrasi terpimpin adalah sistem kepemerintahan yang sedang digunakan. Konfigurasi politik pada era demokrasi terpimpin adalah otoriter, sentralistik, dan terpusat di tangan Presiden Soekarno. Sehingga, produk-produk hukum yang keluar pun tidak dapat keluar dari suasana politik tersebut, yakni otoritarian dan sentralistik.33
________________________
32 Menarik kategorisasi yang dibuat oleh As’ad Said Ali, menurutnya kewenangan negara dalam mengatur keagamaan dapat dipetakan menjadi lima hal.
Pertama, kehadiran negara bisa bermakna wajib untuk menjalankan kesempurnaan
pelaksanaan syariah Islam, keberadaan wali hakim dalam persoalan nikahnya umat muslim, misalnya. Kedua, kehadiran negara bisa bermakna menjadi syarat kesempurnaan ibadat, persoalan haji, misalnya, Ketiga, hampir sama dengan poin kedua. Kehadiran negara bisa memperlancar pelaksanaan ibadat, namun tingkat keterlibatan negara tidak seintensif poin kedua di atas, misalnya persoalan zakat.
Keempat, mubah. Negara bisa dan juga bisa tidak hadir, misalnya, dalam hal
perbaikan dan pengelolaan tempat-tempat ibadat, lembaga pendidikan keagamaan, dan sebagainya. Kelima, negara terlarang masuk dalam urusan agama bila menyangkut peribadatan. Otoritas masalah tersebut adalah para pemuka agama. Jika muncul silang sengketa menyangkut ibadat, negara harus bertindak adil dan dan tidak terlibat dalam pokok masalahnya. Namun, negara harus tetap berupaya keras menjaga kerukunan atau tertib sosial. Lihat, As’ad Said Ali, Negara Pancasila:
Jalan Kemaslahatan Bangsa, LP3ES, Jakarta, 2009, hlm. 198-202.
33 Sebagaimana terlansir dalam Surat Permohonan Pemohon Judicial Review UU No. 1 PNPS/ 1965 bernomor: 140/PUUVII/2009 tertanggal 20 Oktober 2009. Lebih dari itu, Ahmad Fedyani Syaifuddin mengungkapkan bahwa undang-undang tersebut dibuat dalam semangat positivistik, integrasi, pencegahan kekacauan politik, dan benturan kepercayaan masyarakat. Pernyataan Ahmad
Artinya, konstruksi hukum dalam undang-undang tersebut juga sangat kental dengan nuansa politis semacam itu. Sementara, Indonesia yang dihadapi sekarang berbeda, terlebih kaitannya dengan kehidupan beragama, yang cenderung partikular dalam arti tergantung pada kelompok keagamaannya masing-masing.
Pelarangan di atas secara tidak langsung berimplikasi pada asumsi adanya kebenaran tafsir yang bersifat tunggal. Padahal, kebenaran dalam agama dan keyakinan secara mendasar bersifat relatif. Relativitas yang selaras dengan semangat pluralisme ini kemudian dianggap dikebiri begitu saja oleh asumsi kebenaran tunggal di atas. Bagaimana tidak, benar dan tidaknya sebuah tafsir keagamaan oleh negara dikembalikan kepada Depag (Sekarang Kemenag). Berkaitan dengan hal tersebut, Kemenag telah membentuk lembaga otonom yang salah satu tugasnya adalah memberikan pandangan (baca: fatwa) tentang kebenaran suatu tafsir keagamaan tersebut. Lembaga-lembaga tersebut adalah: MUI, KWI, PGI, Walubi, PHDI, dan Matakin.34
________________________
Fedyani Syaifuddin dalam Sidang Judicial Review UU No. 1/PNPS/1965 pada Jumat, 19 Maret 2010 di Gedung MK, Jakarta. Sementara itu, menurut Moeslim Abdurrahman secara historis undang-undang tersebut muncul dalam situasi politik yang kacau, yakni banyaknya pertikaian antara Islam dan Komunis. Pernyataan Moeslim Abdurrahman dalam Sidang Judicial Review UU No. 1/PNPS/1965 pada Rabu, 24 Maret 2010 di Gedung MK, Jakarta.
34 Meskipun Kemenag menyerahkan kewenangannya pada lembaga-lembaga bentukannya, dalam konteks hukum pidana apa yang menjadi putusan lembaga-lembaga tersebut bagi penulistidak bisa serta-merta dijadikan dasar dalam merespons persoalan aliran sesat. Seharusnya, ragam ambiguitas di atas harus diperjelas sedemikian rupa, termasuk apa yang dimaksud dengan penafsiran menyimpang dan pokok-pokok ajaran agama. Karena, hal ini akan sangat tergantung kepada mazhab mainstream yang dianut oleh si penafsir. Sedangkan jika negara merumuskan pokok-pokok ajaran agama dan berpihak pada satu mazhab dari ajaran tersebut, maka negara sudah terjebak pada model negara agama. Oleh karena itu jika undang-undang ini masih ingin dipertahankan, maka rumusan-rumusan pasalnya harus diperbaiki. Mengingat pemidanaan seseorang atau suatu kelompok tidak bisa dilakukan berdasarkan suatu opini, melainkan harus
Oemar Senoadji, sebagaimana dikutip Barda Nawawi Arief, mengungkapkan bahwa teori-teori delik agama pada intinya terdapat tiga hal sebagai berikut:35
1) Religionesschutz-theorie (teori perlindungan agama).
Menurut teori ini, agama itu sendiri yang dilihat sebagai kepentingan hukum atau objek yang akan dilindungi (yang dipandang perlu untuk dilindungi) oleh negara, melalui peraturan perundang-undangan yang dibuatnya.
2) Gefuhlsschutz-theorie (teori perlindungan perasaan
keagamaan). Menurut teori ini, kepentingan hukum yang akan dilindungi adalah “rasa/perasaan keagamaan” dari orang-orang yang beragama.
3) Friedensschutz-theorie (teori perlindungan perdamaian/ ketentraman umat beragama). Objek atau kepentingan ________________________
memenuhi empat prinsip, sebagaimana diungkap oleh Machteld Boot dengan mengutip pendapat Jescheck dan Weigend. Pertama,nullum crimen, noela poena sine lege
praevia. Artinya, tidak ada pidana tanpa undang-undang sebelumnya. Kedua,nullum crimen, nulla peona sine lege scripta. Artinya, tidak ada perbuatan pidana, tidak ada
pidana tanpa undang-undang tertulis. Ketiga,nullum crimen nulla poena sine lege certa. Artinya, tidak ada perbuatan pidana, tidak ada pidana tanpa aturan undang-undang yang jelas. Keempat,nullum crimen noela poena sine lege stricta. Artinya, tidak ada perbuatan pidana, tidak ada pidana tanpa undang-undang yang ketat. Lihat, Eddy O.S Hiariej, Asas Legalitas dan Penemuan Hukum dalam Hukum Pidana, Erlangga, Jakarta, 2009, hlm 4-5. Dengan demikian, setiap tindakan yang akan dikriminalisasi atau dijadikan perbuatan pidana, seharusnya dirumuskan secara jelas dan tegas, tidak kabur dan ambigus. Hal ini semata-mata untuk menegakkan rasa keadilan dan menghindari tindakan kesewenang-wenangan dari penguasa, yang dalam hal ini penegak hukum. Hal senada juga dinyatakan oleh Andi Hamzah bahwa rumusan delik penodaan agama harus sesuai dengan asas legalitas nullum delictum
nulla poena sine praevia lege poenali. Harus ada ketentuan peraturan
perundang-undangan sebelum adanya perbuatan pidana. Seseorang baru dapat dijatuhi pidana apabila ada undang-undang yang melarang perbuatan pidana tersebut terlebih dahulu. Asas tersebut dianggap kurang memadai karena banyak undang-undang karet (baca: multitafsir), sehingga semua orang bisa menafsirkannya. Oleh karena itu, muncullah asas berikutnya yang berbunyi, nullum crimen sine lege scripta, yang berarti tidak ada delik tanpa undang-undang yang ketat sebelumnya. Pernyataan Andi Hamzah, sebagai Ahli, dalam Sidang Judicial Review UU No. 1/PNPS/1965pada Rabu, 3 Maret 2010 di Gedung MK, Jakarta.
35 Barda Nawawi Arief, Delik Agama dan Penghinaan Tuhan (Blasphemy) di
Indonesia dan Perbandingan Berbagai Negara, Badan Penerbit Undip, Semarang, 2010,
hukum yang dilindungi menurut teori ini adalah “kedamaian/ketentraman beragama interkonfessional (di antara pemeluk agama/kepercayaan). Dengan kata lain, ketertiban umum merupakan tujuan dari teori ini.
Bertolak dari tiga teori tersebut, lanjut Senoadji, adanya Pasal 156a KUHP tersebut dapat dipahami bahwa dilihat dari status dan penempatannya yang terletak pada bab V (Kejahatan dan Ketertiban Umum) maka ia termasuk delik terhadap ketertiban umum, di mana tujuannya bermaksud untuk melindungi ketentraman orang beragama. Jadi, objek yang dilindungi adalah “rasa ketentraman orang beragama yang dapat membahayakan ketertiban umum”. Namun demikian, berbeda jika dilihat secara redaksional teksnya, penodaan agama tersebut sudah dapat dipidanakan tanpa harus mengganggu ketenteraman orang beragama dan tanpa mengganggu/membahayakan ketertiban umum, sekalipun dilakukan di hadapan orang-orang yang tidak beragama.36
Dengan kata lain, yang menjadi objek perlindungan adalah agama itu sendiri, bukan pemeluknya (ketertiban umum). Hal demikian merupakan salah satu bentuk ambiguitas dalam undang-undang ini.37
Hingga saat ini, banyak gagasan yang muncul bahwa persoalan agama dan/atau penodaan agama tidak perlu diatur oleh negara. Dengan kata lain, negara tidak semestinya ________________________
36 Ibid., hlm. 5.
37 Pada saat undang-undang ini di-judicial review, Mahkamah Konstitusi (MK) sendiri mengakui bahwa baik dalam lingkup formal maupun secara substansial harus lebih diperjelas sehingga tidak menimbulkan multitafsir. Namun demikian, karena MK tidak memiliki kewenangan untuk melakukan perbaikan redaksional atau cakupan isi, melainkan hanya boleh menyatakan konstitusional atau tidak konstitusional, maka mengingat substansi undang-undang tersebut secara keseluruhan adalah konstitusional, MK tidak dapat membatalkan atau mengubah redaksionalnya. MK, Risalah Sidang Pengujian UU No. 1/PNPS/1965, MK, Jakarta, 2010, hlm. 304-305.
mencampuri urusan keyakinan warga negaranya. Kebijakan pemerintah yang hanya mengakui enam agama “resmi” membuat para penganut agama lain tidak mendapatkan hak-hak sipil mereka sebagai warga negara. Bahkan, muncul pendapat yang mengatakan bahwa kehidupan agama di Indonesia lebih baik bila tanpa negara. Artinya, negara tidak perlu ikut campur mengatur kehidupan beragama sebab negara justru membuat kehidupan agama menjadi tidak baik. Menanggapi persoalan ini, Adnan Buyung Nasution, sebagaimana dikutip Mahfud MD, berpendapat bahwa negara tidak berhak mencampuri urusan agama, terlebih lagi melakukan pengakuan terhadap agama tertentu.38 Argumen yang mendukung gagasan itu, negara mesti bersikap netral terhadap semua agama dan tidak boleh melarang timbulnya suatu aliran kepercayaan atau agama apapun. Jika terdapat suatu kelompok yang ingin mendirikan agama sendiri, artinya tidak bisa dilarang oleh negara. Menurut pendukung gagasan tersebut, ketentuan yang menunjukkan intervensi negara terhadap agama dalam UU No. 1/PNPS/1965 tidak lagi diperlukan. Kebebasan berpikir dan berkeyakinan melekat, tidak boleh dibatasi, tidak dapat ditunda, dan tidak patut dirampas.
Berkaitan dengan intervensi tersebut—dan kontroversi Ahmadiyah sebagai konteksnya—muncul SKB No. 3/2008, Kep-033/A/JA/6/2008 dan No. 199/2008 tentang Peringatan dan Perintah Kepada Penganut, Anggota, dan/atau Anggota Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia dan Warga Masyarakat, yang ditandatangani Menteri Agama, Jaksa Agung, dan Menteri Dalam Negeri pada tanggal 9 Juni 2008, dan merupakan hasil ________________________
38 Mahfud MD, “Kebebasan Beragama dalam Perspektif Konstitusi”,
Makalah, disampaikandalam Konverensi Tokoh Agama ICRP: Meneguhkan
Kebebasan Beragama di Indonesia Menurut Komitmen Presiden dan Wakil Presiden Terpilih, diselenggarakan oleh ICRP pada tanggal 5 Oktober 2009.
kontroversi panjang yang melelahkan. Meskipun di dalam SKB tersebut tidak terdapat istilah “pembekuan” atau “pelarangan dan pembubaran” JAI, seperti yang dituntut mereka yang anti terhadap Ahmadiyah, keluarnya SKB ditengarai merupakan salah satu titik panas dalam rangkaian tindak kekerasan terhadap Jemaat Ahmadiyah di seluruh pelosok negeri ini. Sebagaimana telah dilansir sebelumnya, kasus-kasus kekerasan terhadap anggota Ahmadiyah ini sangat mewarnai masa-masa setelah keluarnya SKB.
Beberapa bulan setelah diterbitkannya SKB tersebut, diterbitkan pula Surat Edaran Bersama (SEB) No. SE/SJ/1322/2008; SE/B-1065/D/Dsp.4/08/2008; dan SE/119/921/D.III/2008, yang dikeluarkan oleh Sekretaris Jenderal Departemen Agama, Jaksa Agung Muda Intelijen, dan Direktur Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik Departemen Dalam Negeri. Dalam SEB tersebut ditegaskan bahwa absahnya SKB sebagai tindak lanjut dari UU No. 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama jo. UU No. 5/1969, dengan mengacu pada Pasal 7 ayat (4) UU No. 10/2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.
b. Peraturan Bersama Menteri (PBM) Agama dan Menteri
Dalam Negeri No. 9 Tahun 2006, No. 8 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama, dan Pendirian Rumah Ibadat
Pada tahun 2006, Pemerintah (cq. Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri) mengeluarkan Peraturan Bersama No. 9 Tahun 2006/ No. 8 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, dan Pendirian Rumah Ibadat.
Aturan perundangan ini menggantikan Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 1/BER/MDN-MAG Tahun 1969 tentang Pendirian Rumah Ibadat. SKB tersebut dianggap belum mengatur secara rinci prosedur pendirian tempat ibadat, dan oleh karena itu adalah salah satu penyebab penutupan, perusakan, dan penyerangan tempat ibadat.
Menurut PBM di atas, pendirian rumah ibadat didasarkan pada keperluan nyata dan sungguh-sungguh berdasarkan komposisi jumlah penduduk bagi pelayanan umat beragama yang bersangkutan di wilayah kelurahan/desa.39 Sebelum didirikan, pemohon harus memenuhi persyaratan khusus yang meliputi; daftar nama Kartu Tanda Penduduk (KTP) pengguna rumah ibadat paling sedikit 90 orang yang disahkan oleh pejabat setempat sesuai dengan tingkat batas wilayah kecamatan atau kabupaten/kota atau propinsi; dukungan masyarakat setempat paling sedikit 60 orang yang disahkan oleh lurah/desa; rekomendasi tertulis kepala kantor departemen agama kabupaten/kota; dan rekomendasi rertulis Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).
Berkaitan dengan PBM tersebut, ada beberapa persoalan yang menurut penulis justru kurang sesuai dengan amanat konstitusi. Pertama, aturan perundangan tersebut menitikberatkan pada pembatasan pendirian rumah ibadat, padahal konstitusi, dan bahkan Kovenan Internasional, telah mengamanatkan bahwa suatu pembatasan dilakukan harus berdasarkan atau ditetapkan dengan hukum. Sementara itu, yang dimaksud dengan hukum adalah undang-undang, bukan dalam bentuk kebijakan berupa PBM. Kedua, yang dimaksud dengan rumah ibadat dalam peraturan tersebut ________________________
adalah “bangunan… yang dipergunakan untuk beribadat bagi para pemeluk masing-masing agama”, yakni agama resmi. Sementara itu, ragam kepercayaan yang tidak termasuk dalam agama tersebut juga hidup di negeri ini dan berhak untuk menjalankan kepercayaannya secara bebas dan aman. Namun demikian, dengan adanya aturan tersebut, secara tidak langsung dapat dipahami bahwa mereka tidak berhak untuk mendirikan tempat ibadat. Ketiga, kuantitas pemeluk agama di setiap daerah berbeda, ada yang berjumlah banyak dan tidak sedikit yang hanya beberapa orang. Aturan kuantitas dalam aturan di atas tampaknya tidak mampu mengakomodasi minoritas pemeluk agama dalam suatu komunitas. Kaum Muslim di Manokwari, Papua, Nusa Tenggara Timur (NTT), Bali dan Sulawesi Utara, misalnya, mayoritas daerah tersebut adalah non-muslim, sementara komunitas muslimnya adalah minoritas yang berjumlah kurang dari standart minimal di atas.40
c. UU No. 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik (ICCPR)
ICCPR merupakan salah satu intrumen internasional yang disahkan oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 16 Desember 1966 dan berlaku efektif pada tanggal 23 Maret 1976. Secara mendasar hak-hak sipil dan politik ini merupakan hak-hak yang bersumber dari martabat dan melekat pada setiap manusia yang dijamin dan dihormati keberadaannya oleh negara agar manusia bebas menikmati hak-hak dan kebebasannya dalam bidang sosial dan politik. Pasca-disahkannya kovenan tersebut, negara-negara anggota ________________________
40 Lihat, “Umat Islam juga Sulit Membangun Masjid”, dalam http:// www.berita2.com/nasional/umum/7070-umat-islam-juga-sulit-membangun-masjid.html, (Diakses pada tanggal 30 Maret 2011).
PBB tidak hanya diminta untuk melakukan tandatangan (baca: meratifikasi), bahkan meminta Sekretaris Jenderal untuk mendesak negara-negara anggota untuk melaporkan secara periodik mengenai kemajuan ratifikasi dan mempersilakan berbagai pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan Sekretaris Jenderal untuk mengumumkan teks kovenan seluas mungkin.41 Berkaitan dengan hal itu, Indonesia, melalui UU No. 12 Tahun 2005, telah turut serta menjadi bagian dari 192 states parties. Ditinjau dari tingkat ratifikasi, maka dapat dikatakan bahwa kovenan ini memiliki tingkat universalitas yang sangat tinggi bila dibanding dengan perjanjian internasional HAM lainnya.
Sebagai sebuah produk deklarasi internasional, sudah barang tentu nilai-nilai universalitas yang berbasis pada humanisme (individualistik) sangat kental dalam kandungannya. Artinya, tidak serta-merta jika kovenan tersebut diaplikasikan dalam sebuah negara tertentu akan relevan dengan akar budayanya, termasuk dalam hal ini adalah Indonesia. Secara umum, memang terdapat kesesuaian antara konstitusi dengan kovenan tersebut, tetapi tampaknya terdapat beberapa poin yang dalam pandangan penulis kurang sesuai dengan Pancasila. Salah satu bentuknya terdapat dalam Pasal 18 ayat (1).
Secara sepintas, Pasal 18 ayat (1) tampak tidak memiliki masalah dan sejalan dengan konstitusi, karena di dalamnya sarat dengan muatan jaminan atas hak seseorang dalam berpikir, berkeyakinan, dan beragama. Namun demikian, dalam penjelasannya disebutkan bahwa yang dimaksud dengan kebebasan berkeyakinan dan beragama tersebut termasuk pula kebebasan untuk tidak beragama (baca: ________________________
41 Ahmad Suaedy (dkk.), Islam, Konstitusi, dan Hak Asasi Manusia:
Problematika Hak Kebebasan Beragama, dan Berkeyakinan di Indonesia, The Wahid
atheis).42 Sementara itu, dengan jelas disebutkan dalam Pancasila bahwa Negara Indonesia pertama-tama berasaskan “Ketuhanan yang Maha Esa”, selain memang secara sosio-kultural keberagamaan dan/atau keberkeyakinan merupakan bagian di dalamnya.43
d. Perda-perda Bernuansa Syariah
Sejak awal tahun 2000-an, isu formalisasi agama menyeruak ke publik, meskipun ini bukan yang pertama dalam sejarah Indonesia. Isu tersebut berbentuk apa yang disebut dengan Peraturan Daerah (Perda) syariah Islam. ________________________
42 Lihat, Komentar Umum 22 untuk Pasal 18, Komite HAM, 1993. 43 Kasus yang sama, dalam pandangan penulis, juga tampak pada Pasal 18 ayat (4), yang berbunyi: “Negara Pihak dalam Kovenanini berjanji untuk menghormati
kebebasan orangtua dan apabila diakui, wali hukum yang sah, untuk memastikan bahwa pendidikan agama dan moral bagi anak-anak mereka sesuai dengan keyakinan mereka sendiri”. Ayat ini memberikan kepada orangtua jaminan untuk menentukan dan
menjamin pendidikan agama dan moral anak-anak mereka. Hal ini ditambahkan pada tahapan terakhir dalam perancangan. Hak ini merupakan bagian lingkup budaya dan sosial yang menjadi bagian dari kovenan mengenai hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya, dan ada dalam kaitan dengan hak tentang pendidikan (Pasal 13 ayat [3]). Sebagai state parties, mestinya Indonesia membebaskan orangtua untuk memutuskan pendidikan agama dan moral apa yang ingin mereka berikan kepada anak-anak mereka. Negara jelas tidak berkewajiban untuk mengarahkan sekolah-sekolah umum untuk mengikuti keyakinan religius dan filosofis dari orang-orang tua.
Kovenan ini tidak mengatur bagaimana dan di mana pendidikan religius ataupun moral seharusnya diadakan, apakah sebaiknya di dalam sekolah atau luar sekolah. Negara juga tidak dituntut untuk mendanai pendidikan religius, tetapi hanya sebatas memberi toleransi apabila para orangtua ingin menyediakan atau mendanai sendiri pendidikan religius dan moral tersebut. Lihat, Karl Josef Partsh, “Kebebasan Beragama, Berekspresi, dan Kebebasan Kerpolitik”, dalamIfdhal Kasim (ed.), Hak Sipil dan Politik: Esai-esai Pilihan, ELSAM, Jakarta, 2001, hlm. 246-247. Jika demikian pemahamannya, maka bagi penulisperundangan tersebut bertentangan dengan budaya bangsa, di mana masyarakat Indonesia, hingga saat ini, masih mendambakan pendidikan agama. Di samping itu, berkaitan dengan pilihan jenis agama di masyarakat masih mengenal dan mengidamkan kesamaan, meskipun dalam beberapa kasus tidak demikian halnya. Dengan kata lain, para orangtua masih menghendaki pendidikan keagamaannya anaknya dijamin dan diatur oleh pemerintah, dan penentuan pilihannya pun masih tergantung sama kehendak orangtua.
Sejauh ini terdapat beberapa argumentasi yang bisa direkam sebagai landasan adanya perda-perda bernuansa agama (Islam). Pertama, umat Islam di Indonesia adalah mayoritas, namun sepanjang sejarahnya umat Islam (tepatnya, Islam politik) belum pernah mengembalikan bangsa ini. Kedua, sejak tahun 1997 Indonesia diterpa krisis multidimensi dan hingga kini krisis itu belum dilalui dengan baik. Semua cara sudah dicoba, tetapi ternyata Indonesia belum sembuh dari penyakit “krisis”. Islam sebagai alternatif yang bisa mengobati krisis multidimensi belum pernah dicoba, hingga sekaranglah saatnya menerapkan sistem Islam itu. Ketiga, momentum otonomi daerah memberi keleluasaan daerah untuk membuat perda yang sesuai dengan karakteristik daerah. Keempat, para perumus perda itu juga berlindung di balik konstitusi, Pasal 29 UUD 1945, di mana negara memberi jaminan kepada warganya untuk beribadat menurut agama dan keyakinannya. Singkatnya, perda bernuansa agama dianggap sebagai bagian dari ekspresi kebebasan beribadat.
Saat buku ini disusun, tidak kurang dari 22 daerah (kabupaten/ kota) telah menetapkan jenis perda bernuansa agama. Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) pada dasarnya telah mempersoalkan puluhan perda yang