• Tidak ada hasil yang ditemukan

AN GGARAN BELAN JA PEM ERI N TAH PU SAT

Dalam dokumen Nota Keuangan RAPBN 2013 (Halaman 116-120)

4 .1 U m um

Secara normatif, Pemerintah mempunyai dua kelompok fungsi yang harus dijalankan, yaitu fungsi nonekonom i dan fungsi ekonom i . Fungsi nonekonom i yang har us di j al ankan Pemerintah adalah fungsi pertahanan dan keamanan, fungsi peradilan dan fungsi pelayanan umum; sedangkan fungsi ekonomi pemer intah yang lahir karena kegagalan pasar adalah fungsi alokasi, fungsi distribusi, dan fungsi stabilisasi. Terkait dengan upaya pencapaian kesejahter aan r akyat (soci al w elfar e), fungsi ekonomi pemer intah lebih mengar ah pada aspek kuantitas kesejahter aan (antara lain tingkat pendapatan dan pertumbuhan), sedangkan fungsi nonekonom i lebih m engar ah kepada aspek kual i tas kesej aht er aan (ant ar a l ai n keam anan, kenyam anan, dan kualitas lingkungan). Dengan dem ikian, dalam mencapai kesejahteraan masyar akat yang ideal, dua aspek ter sebut harus mendapat perhatian yang set ar a. Konsekuensinya, alokasi anggar an dalam APBN har us mem ber ikan bobot yang sepadan untuk dua aspek kesejahteraan rakyat tersebut.

Sejalan dengan itu, anggar an belanja Pemerintah Pusat, sebagai bagian dari belanja negara, setidaknya memiliki dua peranan yang sangat penting dalam pencapaian tujuan nasional, terutama tujuan yang ter kait dengan peningkatan kesejahteraan rakyat. Pertama, besar an dan komposisi belanja Pemerintah Pusat dalam operasi fiskal Pemerintah, memiliki dampak yang signifikan pada permintaan agregat yang merupakan penentu output nasional, ser ta dapat mempengaruhi alokasi dan efisiensi sumber daya dalam perekonomian. Selanjutnya, peran yang kedua berkaitan dengan keter sediaan dana untuk melaksanakan ketiga fungsi ekonomi pemerintah, yaitu fungsi alokasi, fungsi distribusi, dan fungsi stabilisasi. Oleh karena itu, kualitas kebijakan dan alokasi anggar an belanja Pemer intah Pusat, menempati posisi yang sangat st r at egi s dal am m enduk ung pencapai an t uj uan nasi onal sebagai m ana digar iskan, baik dalam rencana pembangunan jangka panjang, jangka menengah maupun r encana pembangunan tahunan.

Dalam operasi fiskal Pemerintah, peranan belanja Pemerintah Pusat terkait fungsi alokasi dilakukan melalui pendanaan untuk berbagai pr ogr am dan kegiatan investasi produktif, seperti belanja untuk penyediaan berbagai infrastruktur , maupun untuk membiayai berbagai pengeluar an at au bel anj a bar ang dan j asa (konsum si ) pem er i nt ah dalam m endor ong per mi nt aan agr egat. Selanj ut nya, per anan t er kai t fungsi stabi li sasi di l akukan melalui penyediaan berbagai jenis subsidi, baik subsidi harga barang-barang kebutuhan pokok (pr i ce subsi dies), maupun subsidi langsung ke objek sasaran (tar geted subsi dies). Peranan ini sangat penting untuk mer ingankan beban masyarakat dalam memperoleh kebutuhan dasar nya, dan sekal igus m enjaga agar pr odusen mam pu m enghasil kan pr oduk, khususnya yang mer upakan kebutuhan dasar masyar akat, dengan har ga yang terjangkau.

Sel anj ut nya, per anan t er k ai t f ungsi di st r i busi di l akuk an m el al ui dukungan unt uk pem ber dayaan ber bagai kel om pok m asyar akat yang ber penghasi l an r endah, kur ang ber untung atau ber kemampuan ekonomi ter batas. Dukungan ter sebut diber ikan dalam ber bagai bent uk pem bayar an t r ansfer bai k ber upa bant uan langsung seper ti Pr ogr am

Keluar ga Harapan (PKH), alokasi anggaran bagi progr am-pr ogram dan kegiatan-kegiatan yang mendukung upaya pengentasan kemi ski nan, pem er ataan kesem pat an ker ja, dan kesempat an ber usaha, seper t i pr ogr am nasi onal pem ber dayaan m asyar akat (PNPM ), maupun berbagai program perluasan kesempatan memperoleh pelayanan dasar di bidang pendidikan dan kesehatan seperti bantuan operasional sekolah (BOS) dan jaminan kesehatan masyar akat (Jamkesmas).

Sejalan dengan hal ter sebut, kebijakan alokasi anggar an belanja Pemer intah Pusat juga dapat berperan sebagai stabilisator bagi perekonomian atau menjadi kebijakan counter cyclical yang efektif dalam meredam siklus bisnis atau gejolak ekonomi. Apabila kondisi perekonomian sedang mengalami kelesuan usaha dan perlambatan aktivitas bisnis akibat resesi atau bahkan depresi, besaran dan kebijakan alokasi anggaran belanja negara, termasuk belanja Pemer intah Pusat, perlu dirancang lebih ekspansif agar mampu ber peran dalam memberikan stimulasi pada pertumbuhan ekonomi serta menjaga stabilitas dan memperkuat fundamental ekonomi makr o. H al ter sebut secar a khusus per nah ditempuh oleh I ndonesia melalui kebi jakan stimulus fiskal tahun 2009 dan dinilai cukup berhasil. Sebaliknya, pada saat kondisi ekonomi ter lalu ekspansif (over heating), kebijakan dan alokasi anggar an belanja Pemer intah Pusat dapat dijadikan alat kebijakan yang efektif dalam mendinginkan roda kegiatan perekonomian menuju kondisi yang lebih kondusif.

Secara sinergi, pelaksanaan ketiga fungsi ekonomi Pemerintah tersebut, selain memainkan per anan yang sangat str ategis dalam meningkatkan kiner ja ekonomi makr o, juga dapat mendukung ter capai nya per baikan dan penguatan fundamental per ekonomian, seper ti mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan; mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas ekonomi khususnya stabilitas harga; menciptakan dan memper luas lapangan kerja pr odukt i f unt uk m enur unkan t i ngkat penganggur an; ser t a m em per bai ki di st r i busi pendapatan dalam mengurangi tingkat kemiskinan.

Dalam prakteknya untuk tahun 2013, penyusunan kebijakan dan alokasi anggaran belanja negara mengacu pada prior itas, program dan kegiatan yang ter tuang dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2013, yang merupakan satu mata rantai dari pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka M enengah Nasional (RPJM N) tahun 2010–2014. Untuk itu, desain dar i kebijakan dan alokasi belanja negar a tahun 2013 juga diar ahkan pada pencapaian prioritas utama dan strategi RPJM N 2010–2014 yang ditujukan untuk lebih memantapkan penataan kembali I ndonesia di segala bidang dengan menekankan pada upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia termasuk pengembangan kemampuan I ptek ser ta penguatan daya sai ng per ekonom ian. Pr i or it as utama dan str at egi ter sebut akan di capai melalui pel aksanaan l i m a agenda pem bangunan nasi onal , yang m er upak an ar ah k ebi j ak an pem bangunan j angka m enengah, yai t u: (1) pem bangunan ekonom i dan peni ngkat an kesejahteraan rakyat; (2) perbaikan tata kelola pemer intahan; (3) penegakan pilar demokr asi; (4) penegakan hukum dan pember antasan korupsi; serta (5) pembangunan yang inklusif dan berkeadilan.

Kelima agenda tersebut, secara berkesinambungan dilaksanakan untuk menghadapi berbagai tantangan pembangunan nasional, baik dalam jangka menengah maupun tahunan. Untuk tahun 2013, tantangan yang akan dihadapi terutama ter kait dengan kondisi perekonomian global yang diperkirakan tetap mengandung ketidakpastian. Krisis utang negara-negara maju terutama Er opa, ketegangan politik di Timur Tengah, Afr ika Utara, dan Semenanjung Korea,

perubahan iklim dan potensi bencana alam di tingkat global, serta harga energi yang tinggi dapat memengar uhi stabilitas keuangan global dan pemulihan ekonomi dunia yang pada gilir annya akan berpengaruh pada perekonomian nasional.

Sel ai n i t u, pot ensi di t em puhnya upaya pr ot eksi ser t a l angk ah t i dak sehat unt uk m emenangkan pasar domest i k dan ekspor pada banyak negar a, sebagai akibat l ebi h rendahnya per kiraan per tumbuhan ekonomi dunia tahun 2013 (4,1 persen) dibandingkan dengan tahun 2011 (5,3 per sen), cenderung meningkat. H al tersebut pada akhir nya semakin m em per k et at per sai ngan ant ar negar a unt uk m em enangk an pasar per dagangan dan investasi. Kondisi ini menuntut penguatan perekonomian domestik serta peningkatan daya saing secar a sinergis, baik di lingkup global maupun dalam negeri.

Selanjutnya, peningkatan kesejahter aan r akyat juga menjadi tantangan utama di tengah kemajuan pembangunan ekonomi. Untuk itu, percepatan dan perluasan upaya pengurangan jumlah pengangguran terbuka dan jumlah penduduk miskin yang pada tahun 2011 masing-m asi ng masing-m encapai 7,7 j ut a or ang dan 29,9 j ut a or ang akan di l ak ukan dengan t et ap memerhatikan aspek penurunan kesenjangan kesejahteraan, baik antarkelompok masyar akat maupun antar daer ah.

Ber dasar kan tantangan dan masalah yang dihadapi, serta memerhatikan capaian kinerja dan potensi yang dimiliki, ser ta sasar an-sasar an pembangunan yang akan dicapai, maka tema pembangunan nasional dalam RKP Tahun 2013, sebagaimana disepakati Pemerintah bersama-sama dengan DPR dalam forum pembicaraan pendahuluan RAPBN tahun 2013, adal ah: “ M em per k uat Per ek onom i an Dom est i k bagi Peni ngk at an dan Per l uasan Kesejahter aan Rakyat” .

Sejalan dengan tema tersebut dan sebagai r angkaian dari pelaksanaan RPJM N 2010-2014, maka dalam RKP 2013 ditetapkan pr ior itas pembangunan nasional, yaitu: (1) Refor masi Birokrasi dan Tata Kelola; (2) Pendidikan; (3) Kesehatan; (4) Penanggulangan Kemiskinan; (5) Ketahanan Pangan; (6) I nfrastr uktur; (7) I klim I nvestasi dan I klim Usaha; (8) Ener gi; (9) Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana; (10) Daer ah Tertinggal, Terdepan, Terluar, dan Pasca-Konflik; (11) Kebudayaan, Kreativitas, dan I novasi Teknologi; serta 3 (tiga) prioritas bidang lainnya, yaitu (1) Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan; (2) Bidang Perekonomian; dan (3) Bidang Kesejahteraan.

Untuk mendukung pencapaian tujuan pembangunan tersebut, serta dengan memperhatikan dinam ika yang ber kembang, bai k domest ik m aupun global , Pem er i ntah mem er l ukan l angk ah- l angk ah t er obosan (br eakt hr ough) ser t a l angk ah- l angk ah st r at egi s unt uk mempercepat perwujudan visi pembangunan. Langkah-langkah terobosan dan strategis ini di tuangkan dal am : (1) M ast er pl an Per cepatan dan Per luasan Pembangunan Ekonomi I ndonesia (M P3EI ) 2011– 2025; (2) M aster plan Per cepatan dan Per luasan Pengur angan Kemiskinan I ndonesia (M P3KI ) 2011–2025; (3) Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Pr ovinsi Papua Bar at; dan (4) Pengarusutamaan Pembangunan yang Ber kelanjutan ter kait dengan Rencana Aksi Nasional Penur unan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK) dan Reducing Emi ssions fr om Defor estation and For est Degr adation (REDD+).

Sebagai sal ah sat u langkah t er obosan dan st r at egi s, M P3EI m er upakan per wuj udan transformasi ekonomi nasional dengan or ientasi yang berbasis pada pertumbuhan ekonomi yang kuat, inklusif, berkualitas, dan berkelanjutan. Pelaksanaan M P3EI dihar apkan mampu menjadi mesin pengger ak per tumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja sekaligus

mendorong pemer ataan pembangunan wilayah di seluruh tanah air . M P3EI dilaksanakan melalui tiga strategi besar , yaitu (1) mengembangkan enam kor idor ekonomi I ndonesia, yang meliputi: koridor ekonomi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali-Nusa Tenggara, dan koridor Papua-M aluku; (2) memperkuat konektivitas nasional yang terintegrasi secara lokal dan terhubung secar a inter nasional; dan (3) mempercepat kemampuan SDM dan I ptek, untuk mendukung pengembangan pr ogr am utama, dengan meningkatkan nilai tambah di setiap koridor ekonomi. M P3EI merupakan pr oduk dar i hasil kerja sama dan kemitr aan antar a pem er i nt ah pusat, pem er intah daer ah, BUM N, BUM D, swast a, dan akadem isi. Sementara itu, pendanaan kegiatan M P3EI dilakukan melalui keterpaduan pendanaan dari APBN, APBD, BUM N, BUM D, serta pihak swasta dan masyarakat.

Selanjutnya, M P3KI merupakan kebijakan afirmatif untuk memper cepat dan memperluas upaya pengur angan kemiskinan di I ndonesia dengan menjabarkan secara khusus konsep dan desain, arah kebijakan, dan strategi penanggulangan kemiskinan dalam jangka panjang ( 20 12- 20 25) , t er m asuk m enggam bar k an t r ansf or m asi dar i pr ogr am - pr ogr am penanggulangan kemiskinan yang telah ada saat ini menuju terwujudnya sistem jaminan sosi al yang menyelur uh. M P3KI juga m engur ai kan konsep dan desain pengem bangan sustainable livelihood (mata pencaharian yang mapan) bagi masyarakat untuk peningkatan tar af hidup dan kesejahter aan secar a ber kel anjut an. Dengan M P3KI pr ogr am-pr ogr am penanggulangan kemiskinan pada klaster I -I V akan dilaksanakan secar a siner gi dengan target yang jelas.

Sel ai n i t u, l angkah st r at egi s yang j uga t el ah dan akan di t em puh adal ah per cepat an pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. Hal ini dilakukan mengingat kondisi kesejahteraan masyarakat Papua dan Papua Barat yang masih jauh tertinggal dibandingkan dengan wilayah lainnya. Permasalahan penting yang dihadapi dalam pembangunan Provinsi Papua dan Papua Bar at terutama adalah tingkat kemiskinan yang masih tinggi ser ta kualitas pelayanan pendidikan dan kesehatan yang masih r endah yang ber ujung pada rendahnya kualitas sumber daya manusia di Pr ovinsi Papua dan Papua Barat, serta keterisoliran daerah yang hingga saat ini belum ditembus jalur tr ansportasi darat. Langkah-langkah yang akan dilaksanakan pada tahun 2013 antar a lain meliputi: (1) pengur angan angka kemiskinan melal ui peningkatan ketahanan pangan dan peningkatan pember dayaan per ekonomian masyarakat; (2) penyediaan tenaga pengajar berkualitas, dengan sertifikasi tenaga pengajar dan pemberian jaminan kebutuhan dasar bagi pengajar yang ditempatkan di kedua provinsi; (3) pembangunan dan peningkatan beberapa ruas jalan darat yang menembus dar i pesisir selatan hingga ke pegunungan tengah; dan (4) pelaksanaan kegiatan yang berpihak kepada masyarakat asli Papua (affir mative actions) berupa pener imaan masyar akat asli Papua di institusi pendidikan tinggi unggulan di luar papua, di instansi-instansi pemerintah strategis seper ti kepol isi an dan m i li t er , ser t a untuk pr ogr am pem agangan di i nst ansi -i nst ansi Pemerintah di luar Papua.

Sementara itu, langkah str ategis pengarusutamaan pembangunan yang ber kelanjutan ter kait RAN-GRK dan REDD+ juga akan dilakukan sebagai tindak lanjut komitmen nasional untuk menurunkan emisi gas r umah kaca (GRK) di lima sektor utama yaitu: (1) kehutanan dan lahan gambut; (2) pertanian; (3) energi dan transportasi; (4) industr i; dan (5) limbah. Sebagai bagian ter besar dar i penur unan emisi GRK, untuk penurunan emisi di sektor kehutanan dan lahan gambut telah disusun Strategi Nasional Penur unan Emisi dari Defor estasi dan Degradasi H utan (Str anas REDD+). Langkah yang akan dilakukan antara lain mencakup

penundaan izin baru selama dua tahun 2012-2013 yang diir ingi dengan perbaikan tata kelola k ehut anan dan l ahan gam but . Sej al an dengan hal t er sebut , dal am pengel ol aan keanekar agaman hayati (bi odi ver si ty) yang menjadi bagian penting dar i ekosistem dan merupakan aset untuk pembentukan ekonomi hijau ke depan, akan dilakukan pemutakhiran Rencana Aksi Nasional Keanekar agaman H ayati/I ndonesi an Bi odi ver si ty Str ategy and Action Plan (I BSAP) 2003-2020 untuk menyesuaikan dengan dinamika yang terjadi baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Dengan memper t im bangkan sasar an-sasar an pembangunan yang ingi n dicapai sesuai dengan prioritas RKP tahun 2013, ser ta memperhatikan langkah-langkah kebijakan fiskal yang akan diambil dan perkiraan situasi perekonomian dalam tahun 2013, maka anggaran bel anj a Pem er int ah Pusat dal am RAPBN 2013 dialokasikan sebesar Rp1.139,0 t r il iun (12,3 persen terhadap PDB). Anggar an belanja Pemerintah Pusat tersebut dialokasikan untuk mendukung pelaksanaan kebijakan Pemerintah, yang antar a lain meliputi: (1) penyesuaian gaji pokok dan pensiun pokok pegawai neger i sipil (PNS) dan anggota TNI / Polr i sebesar rata-rata tujuh per sen (termasuk penyesuaian gaji hakim), serta pemberian gaji dan pensiun ke-13; (2) mengar ahkan peningkatan anggar an infr astr uktur dalam r angka mendukung domestic connectivity, ketahanan energi dan ketahanan pangan, serta destinasi pariwisata; (3) menguatkan program perlindungan sosial dalam upaya menurunkan tingkat kemiskinan termasuk penguatan program pro rakyat (klaster 4) dan sinergi antarklaster dalam rangka mendukung M aster plan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan di I ndonesia (M P3KI ); (4) penyediaan alokasi subsidi, dengan melaksanakan kebijakan subsidi yang efisien dengan penerima subsidi yang tepat sasar an, serta meningkatkan efisiensi subsidi listrik melalui penyesuaian tarif tenaga listrik (TTL) rata-rata sebesar 15 per sen; (5) memper kuat jaring pengaman sosial di bidang pendidikan dan kesehatan; dan (6) mengantisipasi persiapan tahapan pelaksanaan Pemilu 2014.

4 .2 Per kem ban gan K ebijakan dan Pelaksanaan Anggar an

Dalam dokumen Nota Keuangan RAPBN 2013 (Halaman 116-120)