HASIL PENELITIAN
4.2 Analisa hasil penelitian
Analisa normalitas merupakan syarat untuk melakukan test Anova untuk sampel n<50. Dari data analisis normalitas, (tabel 2) dapat dilihat hasil signifikan untuk semua kelompok A,B,C dan D adalah p>0.05. Ini menunjukkan data distribusi normal.
Tabel 2. Hasil analisa normalitas
Kelom pok
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Nilai A .179 6 .200* .948 6 .727
B .440 6 .061 .626 6 .051
C .153 6 .200* .962 6 .835
D .269 6 .198 .899 6 .367
Data hasil penelitian dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji ANOVA satu arah dengan tingkat kemaknaan p<0.05. Uji ANOVA satu arah didapatkan bahawa terdapat perbedaan yang signifikan yaitu 0.045 (p<0.05). Hasil uji ANOVA dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Uji Anova Satu Arah
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups Within Groups Total .010 .021 .031 3 20 23 .003 .001 3.202 .045 33
Untuk mengetahui lebih lanjut letak perbedaan tersebut, maka dilanjutkan dengan uji Pos Hoc Test (Tukey HSD) pada tabel 4. Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan uji ANOVA satu arah dengan Post Hoc LSD, didapatkan rerata perubahan warna resin akrilik polimerisasi panas antara kelompok kontrol dan kelompok perendaman selama 1 hari adalah sebesar 0.0043 dengan nilai signifikasi 0.823. Rerata perubahan warna resin akrilik polimerisasi panas antara kelompok kontrol dan kelompok perendaman selama 2 hari adalah sebesar 0.0306 dengan nilai signifikasi 0.118. Rerata perubahan warna resin akrilik polimerisasi panas antara kelompok kontrol dan kelompok perendaman selama 3 hari adalah sebesar 0.0447 dengan nilai signifikasi 0.027.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahawa terdapat perubahan warna resin akrilik polimerisasi panas setelah direndam dalam larutan kunyit selama 1,2 dan 3 hari. Namun, perubahan yang signifikan dapat dilihat pada kelompok sampel perendaman selama 3 hari apabila dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesa ditolak yang berarti ada perubahan warna resin akrilik polimerisasi panas setelah perendaman selama1,2 dan 3 hari dalam larutan kunyit.
Tabel 4. Signifikansi Nilai Absorbansi Resin Akrilik dengan Post Hoc Test (Tukey LSD)
Post Hoc Test (I) Group J (Group) Signifikan Tukey HSD Tidak direndam Direndam 1 hari
Direndam 2 hari Direndam 3 hari 0.823 0.118 0.027* Keterangan :
*Terdapat perbedaan signifikan (p<0,05) dengan uji Tukey HSD resin akrilik yang direndam selama 3 hari.
BAB 5 PEMBAHASAN
Pada pengukuran intensitas warna resin akrilik polimerisasi panas dengan menggunakan alat UV-Visible Spectrophotometer (Shimadzu, UV mini 1240) diperoleh data nilai absorbansi sebagaimana ditunjukkan pada tabel 1. Hasil penelitian menunjukkan nilai absorbansi untuk kelompok A adalah 0.2974 ± 0.0219921, untuk kelompok B adalah 0.2932 ± 0.0584548, untuk kelompok C adalah 0.3280 ± 0.0115682 dan untuk kelompok D adalah 0.3421 ± 0.0138149. Dari uji ANOVA satu arah diperoleh p=0,045 (p<0,05) pada kelompok D (sampel yang direndam dalam larutan kunyitselama 3 hari), hal ini menunjukkan bahwa lama resin akrilik polimerisasi panas yang direndam dalam larutan kunyit meningkatkan perubahan warna resin akrilik tersebut menjadi lebih kuning. Dari hasil uji ini terlihat bahwa makin lama waktu perendaman resin akrilik maka nilai absorbansi semakin meningkat.
Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa kelompok D mempunyai nilai absorbansi lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok A, B, dan C. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perubahan warna yang signifikan pada sampel yang direndam selama 3 hari dibandingkan dengan sampel yang tidak direndam dan dalam larutan kunyit selama 1 hari dan 2 hari.
Pengukuran perubahan warna pada resin akrilik yang dilakukan pada penelitian ini dinyatakan dalam nilai absorbansi dengan panjang gelombang 552 nm. Semakin lama perendaman dalam larutan kunyit menyebabkan warna resin akrilik polimerisasi panas berubah sehingga perubahan warna semakin besar. Hal ini dapat terlihat pada nilai rerata nilai absorbansi yang semakin lama semakin meningkat dengan bertambahnya lama perendaman. Penggunaan panjang gelombang ini didasarkan pada rentang panjang gelombang 552 nm. Panjang gelombang ini dipakai untuk melakukan uji absorbansi warna pada kelompok sampel yang diberi perlakuan.
Pada penelitian ini, terlihat tampilan visual resin akrilik yang direndam dalam larutan kunyit terlihat lebih kuning dibandingkan dengan resin akrilik yang tidak direndam.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang sebelumnya dilakukan oleh Prashanthi dan Ravindra (2013) yang membuktikan adanya perubahan warna lempeng resin akrilik polimerisasi panas yang direndam dalam larutan kunyit.11 Penelitian S.V Singh dan Aggarwal P. (2012) menunjukkan bahwa larutan kunyit menunjukkan efek staining yang paling signifikan terhadap stabilitas warna resin akrilik polimerisasi panas berbanding larutan lain seperti teh dan kopi.9 Akan tetapi resin akrilik polimerisasi panas memiliki sifat porositas sehingga masih tetap mungkin terjadi penyerapan air yang dapat mempengaruhi stabilitas warna resin akrilik. Porositas dapat disebabkan oleh pengadukan yang tidak tepat antara polimer dan monomer dan juga karena sisa monomer yang tidak berpolimerisasi sempurna dengan polimer. Hal ini karena tidak semua monomer akan bersatu dengan polimer, oleh karena itu monomer yang tersisa akan menguap dan menghasilkan porositas.19,20
Perubahan warna yang terjadi pada resin dapat bervariasi, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain adalah ukuran sampel, mikroporositas sampel dan lamanya kontak antar bahan. Lama kontak antara resin dan larutan perendaman yang mengandung zat warna berbanding lurus dengan perubahan warnanya, artinya semakin lama suatu bahan itu direndam maka semakin tinggi perubahan warna yang terjadi diikuti ikatan fisik dan kimia antara zat warna dan resin. Hal ini karena kecenderungan kontak zat warna dari larutan juga akan semakin besar.20
Peningkatan nilai absorbansi resin akrilik polimerisasi panas dipengaruhi oleh banyaknya warna dari larutan kunyit yang diserap pada resin akrilik. Warna kuning yang terdapat di dalam larutan kunyit ini adalah warna yang dihasilkan dari kurkuminoid, dimana terjadi interaksi antara kurkuminiod dengan zat warna resin akrilik yaitu merkuri sulfit sehingga akan menghasilkan warna yang lebih kuning.14-16 Reaksi antara merkuri dengan warna kuning dari kurkuminiod ini akan membentuk endapan kuning sehingga akan mempengaruhi intensitas warna resin akrilik polimerisasi panas.
Perubahan warna pada sampel resin akrilik polimerisasi panas dapat disebabkan oleh salah satu sifat resin akrilik polimerisasi panas yaitu menyerap air. Perubahan ini disebabkan oleh kemampuan menyerap cairan pada bahan dan lingkungan sekitar rongga mulut sehingga zat warna pada kunyit yang terserap dapat bereaksi dengan unsur dalam resin akrilik polimerisasi panas.11,19
Mekanisme penyerapan air yang terjadi adalah difusi. Masuknya cairan ke dalam resin melalui proses difusi diikuti oleh penyerapan substansi lain dari cairan tersebut seperti zat warna. Zat warna ini bersifat akumulatif terutama pada daerah yang terdapat porositas dan pada ruang-ruang kosong diantara matrik polimer. Akumulasi dari zat warna inilah yang menyebabkan perubahan dari resin yaitu perubahan warna.6,19
Hasil penelitian menunjukkan resin akrilik polimerisasi panas yang direndam dalam larutan kunyit mempengaruhi perubahan warna dilihat secara perhitungan statistik.
BAB 6