• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisa Pembahasan

Dalam dokumen LAPORAN PENELITIAN TUGAS AKHIR (Halaman 69-75)

METODE PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.6 Analisa Pembahasan

Gambar 4.11. Hasil pengujian sampel A1 dan A3.

Karbon (

1 Standart 0.18 0.35 0.6 0.035 0.035

2 Pipa sampel Baik (A1) 0.028 0.212 0.55 0.016 0.01 3 Pipa sampel Pecah(A3) 0.028 0.208 0.55 0.019 0.012

4 Selisih rata - rata 0.15 0.14 0.06 0.017 0.024

0

Jumlah unsur kimia sampel A1 dan A3 (%)

56

Hasil grafik diatas menunjukkan nilai komposisi kimia Karbon, Silikon, Mangan, Fasfor, Belerang antara sampel A1 dan A3 mengalami penurunan dari persyaratan standart JIS3461 Grade STB35 STB 340 dan dilihat dari perbedaan presentase unsur antara sampel A1 dan A3 perbedaan nilai unsur tidak terlalu signifikan. Dengan rata – rata selisih Karbon (C) 0,15 %, Silikon (Si) 0,14 %, Mangan (Mn) 0,06 %, Fasfor (P) 0,017 %, Belerang (S) 0,024 %. serta nilai persentase unsur kimia pada paduan lain ( Cr, Ni, Mo, Al, Cu, Co, Ti, Nb, V, W, Pb, B, Sb, Sn, Zn, As, Bi, Ta, Ca, Ce, Zr, La, Fe, N, Se ) dengan kadar persentase unsur perbedaan yang tidak terlalu signifikan antara sampel A1 dan A3 data tersebut dapat dilihat dari lampiran. Dan dilihat dari perbedaan antara standart JIS G3461 Grade STB35 dengan sampel A1 dan A3 nilai unsur tidak ada yang menunjukkan persentase unsur yang menghilang total.

Berdasarkan hasil pengujian sampel A1 dan sampel A3 maka material tersebut termasuk baja karbon yang rendah dengan dilihat dari presentase unsur Karbon (C) standart 0,18 % kerena unsur Karbon tersebut kurang 0,30 %.sehingga material tersebut tidak tahan pada temperatur diatas 350 oC secara terus menerus. Pada penelitian sebelumnya pada pengujian komposisi kimia pernah dilakukan dengan “judul Analisis Kerusakan Pipa Superheater yang digunakan pada Boiler Pipa Air”. Dimana terjadi kerusakan pipa super heater JIS G3461 STB 340 mengalami pecah, dengan kesimpulan pipa superheater memiliki kandungan baja karbon yang rendah sehingga material pipa tersebut tidak tahan terhadap temperatur diatas 400o C secara terus menerus, mengingat unsur paduan yang tahan terhadap temperatur tinggi seperti Cr, Mo, V, Cu relatif sangat kecil (Hermansyah.A.Adid,2005) Berdasarkan hal tersebut, terjadinya perubahan nilai masing – masing unsur dikarenakan adanya perlakuan panas yang berlebih selama proses penggunaan secara terus menerus. Adapun maksud perlakuan panas tersebut adalah menghilangnya sifat – sifat dari material tersebut karena pemanasan

57 rendah akan mengarah pada sifat kekakuan (Stiffness), ketahanan korosi, mudah rapuh dan mudah berkarat, yang akan menyebabkan pipa tersebut pecah.

Kegagalan pada boiler dapat menyebabkan kerugian didalam industri, yang dampaknya akan menyebabkan terhentinya proses operasional. Dari pengujian komposisi kimia material pipa terjadinya pengurangan unsur komposisi kimia, hal ini dikarenakan perlakuan panas yang berlebih secara terus menerus pada boiler, yang dampaknya akan menyebabkan berubahnya sifat – sifat dari suatu material maka mennyebabkan terjadinya kegagalan.

Kegagalan pada boiler dapat diidentifikasikan terjadi karena :

1. Pada saat pengoprasian awal boiler, dimana adanya proses pemanasan yang secara tiba – tiba yang kemudian penambahan bahan bakar yang berlebih, sehingga kondisi panas pada boiler akan meningkat secara tiba – tiba.

2. Pada saat berjalannya operasi boiler, dimana kurangnya pengawasan dari operator terhadap tekanan dan suhu pada saat boiler beroperasi yang menyebabkan seringnya terjadi overheating.

3. Pada saat boiler dioffkan, dimana adanya kesalahan pada saat dioffkan adanya kesalahan operator yang tiba – tiba mengoffkan dengan menyiram air pada ruang bakar, hal ini akan menyebabkan terjadinya proses pendinginan secara tiba – tiba, serta akan menempelnya debu – debu pada kontruksi alat boiler.

4. Perawatan kurang baik, seperti penggecekkan dan pembersihan boiler tidak dilaksanakan dengan rutin, akibatnya kontruksi boiler berkerak dan dapat menyebabkan breakdown secara tiba - tiba.

58

5. Mutu pengolahan air tidak dijaga, hal ini akan berdampak terjadinya kerak – kerak pada pipa yang akan menyebabkan terhambatnya dan tidak meratanya pemanasan pada pipa – pipa hal tersebut dapat terjadi overheating.

6. Penggunaan bahan bakar yang tidak seimbang,misalnya terlalu banyak menggunakan cangkang yang dampaknya kan terjjadi pemanasan yang berlebih karena nilai kalor cangkang tinggi.

7. Kesalahan pada Sumber daya manusia yaitu kurangnya kepedulian, pengawasan, tidak mengikuti SOP yang berlaku dan tidak memahami perkejaan sehingga akan berdampak terjadinya kesalahan pada saat berkerja yang menyebabkan kegagalan yang fatal. Seringnya terjadi penghambatan pada pihak manajemen apabila terjadi kerusakan yang harusnya dilakukan pergantian, namun hanya dilakukan penambalan dan pengelasan.

Berdasarkan identifikasi permasalahan diatas, agar tidak terjadi kegagalan yang sama pada masa yang akan datang dan untuk meningkatkan efektifitas dan efesiensi pada Boiler perlu dilakukan tindakan perawatan, pemeliharaan ataupun perbaikan pada boiler. Berikut tindakan pemeliharaan yang perlu dilakukan yaitu :

a. Preventive Maintenance (Pemeliharan pencegahan).

Pemeliharaan preventive dilakukan dengan terlebih dahulu menyusun jadwal kerja maintenance sehingga dapat dilaksanakan secara periodik.

Kegiatan yang dilakukan didalam perawatan preventif diantaranya kegiatan inspeksi meliputi kegiatan pengecekkan dan pemeriksaan secara berkala terhadap mesin sesuai dengan rencana yang bertujuan untuk menjamin kelancaran proses produksi. Kegiatan tersebut meliputi :

1. Rountine Maintenance

 Mengamati mutu pengolahan air yang akan digunakan, karena jika mengisi ketel uap dengan kualitas air isian dengan baik yang terjaga mutunya akan mengurangi endapan dan kerak, jika endapan dan kerak

59

terlalu tebal maka akan menganggu proses penyaluran panas dari dinding pemanas menuju air, memasukkan atau menggunakan bahan bakar kualitas baik dengan menggunakan bahan bakar yang baik maka akan mengurangi tumpukan jelaga pada sekitar ruang bakar.

 Pemeriksaan bagian – bagian luar boiler seperti penyetellan bagian yang kendur.

 Perbaikan bagian – bagian yang cacat.

 Melakukan pencatatan pada suku cadang yang perlu diganti untuk perawatan berikutnya.

 Melakukan pembersihan pipa – pipa serta cerobong asap, pembersihan rangka abu pada ruang bakar, dan kerak – kerak pada pipa.

 Melakuakan pergantian apabila terjadi kerusakan pada suatu alat.

 Melakukan pengecatan bagian badan boiler .

 Lakukan pemeriksaan khusus sesuai dengan anjuran dari pabrik pembuatan boiler.

2. Periodic Maintenance

Periodic Maintenance adalah kegiatan pemeliharaan dan perawatan secara periodik atau dalam jangka waktu tertentu, misalnya setiap seminggu sekali, sebulan sekali dan akhir setiap setahun sekali. Kegiatan tersebut meliputi :

 Melakukan pembongkaran seluruh komponen untuk melakukan kegiatan pembersihan dan pengecekkan.

 Melakukan pergantian seluruh bagian – bagian pipa.

b. Corective Maintenance (Pemeliharaan perbaikan).

Perawatan yang dilakukan secara korektif pada boiler dapat dilakukan dengan cara memperbaiki kerusakan – kerusakan kecil seperti pengelasan, pembersihan dan pelumasan. Dengan tujuan agar tidak terjadi kerusakan yang fatal dan agar boiler tetap siap beroperasi.

60 c. Predictive Maintenance

Perawatan yang dilakukan secara prediktif pada boiler biasanya dilakukan dengan bantuan panca indra atau pengelihatan, pendengaran didasarkan kondisi aktual pada mesin itu sendiri.

d. Breakdown Maintenance

Perawatan yang dilakukan secara breakdown maintenance pada boiler adalah kegiatan – kegiatan perawatan yang dilakukan setelah terjadinya kerusakan atau kelainan pada fasilitas mesin sehingga tidak berfungsi dengan baik, maka diperlukan peralatan, suku cadang, dan tenaga kerja untuk melakuka pembongkaran

Perawatan ini dilakukan agar boiler dapat beroperasi dengan baik dan mendeteksi kerusakan lebih awal sebelum terjadinya kerusakan lebih parah, untuk memperpanjang usia komponen – komponen mesin, serta agar tidak terjadinya kerusakan yang sama pada masa yang akan datang dan sesuai umur penggunaanya sehingga meminimalisir terjadinya kerugian yang terlalu tinggi serta untuk menjamin keselamatan kerja dari pada hal – hal yang tidak diinginkan.

61 pecah. Proses pengujian dilakukan sebanyak 4 kali pengulangan untuk masing – masing sampel dengan tujuan mendapatkan nilai komposisi kimia lebih akurat yang kemudian dibandingkan dengan standart JIS G3461 grade STB35 STB 340. Berdasarkan hasil pengujian komposisi kimia pada masing – masing sampel dapat disimpulkan sebagai berikut :

a. Standart JIS G3461 Grade 35 komposisi kimia Carbon (C) Max 0,18 %, Silikon Max 0,35 %, Mangan (Mn) 0,30 -0,60 %, Posfor (P) Max 0,035 %, Sulfur (S) 0,035 %.

b. Hasil pengujian Sampel A1 komposisi kimia Carbon (C) 0,028 %, Silikon (Si) 0,212 %, Mangan 0,55 %, Posfor (P) 0,016 %, Sulfur (S) 0,01 %.

c. Hasil pengujian sampel A3 komposisi kimia Carbon (C) 0,028 %, Silikon (Si) 0,208 %, Mangan (Mn) 0,55 %, Posfor (P) 0,019 %, Sulfur (S) 0,012

%.

d. Dari hasil pengujian sampel A1 dan A3 dibandingkan dengan standart dengan selisih rata – rata komposisi kimia Carbon (C) 0,15 %, Silikon (Si) 0,14 %, Mangan (Mn) 0,06 %, Posfor (P) 0,017 %, Sulfur (S) 0,024 %.

2. Berdasarkan data menunjukkan selisih dari masing – masing nilai komposisi kimia bahan tersebut dengan rata – rata dibandingkan dengan standart yakni Karbon (C) 0,15 %, Silikon (Si) 0,14 %, Mangan (Mn) 0,06 %, Posfor (P) 0,017 % , Belerang (S) 0,024 %. Dan berdasarkan data nilai komposisi kimia pada pipa superheater antara sampel A1 dan A3 mengalami penurunan dari persyaratan standart JIS G3461 Grade STB35 STB 340 dan perbedaan presentase antara sampel A1 dan A3 perbedaan nilai unsur tidak terlalu signifikan, serta pada nilai persentase unsur kimia pada paduan lain ( Cr, Ni,

Dalam dokumen LAPORAN PENELITIAN TUGAS AKHIR (Halaman 69-75)

Dokumen terkait