BAB IV HASIL PERHITUNGAN DAN ANALISIS
IV.3. Hasil Perhitungan Tekanan
IV.3.4. Analisa Tekanan
a. Analisa Tekanan Permukaan Helideck (Ketinggian 0 Meter dari Deck)
Grafik IV-35 Perbandingan Tekanan Sumbu Melintang pada Permukaan Helideck terhadap Variasi Ketinggian Helikopter
Grafik IV-35 menggambarkan hubungan tekanan pada permukaan helideck atau ketinggian 0 m dengan jarak melintang. Titik 0 m menunjukkan pusat baling-baling helikopter, titik 11 m menunjukkan tepi helideck. Garis teratas adalah garis 0 m, artinya rata-rata tekanan angin tertinggi pada permukaan helideck dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 0 m. Garis terbawah adalah garis 5 m, artinya rata-rata tekanan angin terendah pada permukaan helideck dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 5 m. Garis 2,5 m berada di tegah garis grafik, artinya rata-rata tekanan angin yang dihasilkan pada permukaan helideck oleh helikopter dengan ketinggian 2,5 m di antara keduanya.
Dilihat dari pertitik, tekanan angin tertinggi dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik 2 m yaitu sebesar 411,253 Pa. Tekanan angin terendah dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik 11 m yaitu sebesar -65,427 Pa.
Grafik IV-36 Perbandingan Tekanan Sumbu Memanjang pada Permukaan Helideck terhadap Variasi Ketinggian Helikopter
Grafik IV-36 menggambarkan hubungan tekanan pada permukaan helideck atau ketinggian 0 m dengan jarak memanjang. Titik 0 m menunjukkan pusat baling-baling helikopter, titik -22 m dan 22 m menunjukkan tepi helideck. Garis teratas adalah garis 0 m, artinya rata-rata tekanan angin tertinggi pada permukaan helideck dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 0 m. Garis terbawah adalah garis 5 m, artinya rata-rata tekanan angin terendah pada permukaan helideck dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 5 m. Garis 2,5 m berada di tegah garis grafik, artinya rata-rata tekanan angin yang dihasilkan pada permukaan helideck oleh helikopter dengan ketinggian 2,5 m di antara keduanya.
Dilihat dari pertitik, tekanan angin tertinggi dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik 0 m yaitu sebesar 347,675 Pa. Tekanan angin terendah dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik -20 m yaitu sebesar -70,163 Pa.
b. Analisa Tekanan Ketinggian 0,85 Meter dari Deck
Grafik IV-37 Perbandingan Tekanan Sumbu Melintang pada Ketinggian 0,85 Meter dari Helideck terhadap Variasi Ketinggian Helikopter
Grafik IV-37 menggambarkan hubungan teknan pada ketinggian 0,85 m dari helideck dengan jarak melintang. Titik 0 m menunjukkan pusat baling-baling helikopter, titik 11 m menunjukkan tepi helideck. Garis teratas adalah garis 0 m, artinya rata-rata tekanan tertinggi pada ketinggian 0,85 m dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 0 m. Garis terbawah adalah garis 5 m, artinya rata-rata tekanan terendah pada ketinggian 0,85 m dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 5 m. Garis 2,5 m berada di tegah garis grafik, artinya rata-rata tekanan yang dihasilkan pada ketinggian 0,85 m oleh helikopter dengan ketinggian 2,5 m bernilai di antara keduanya.
Dilihat dari pertitik, tekanan tertinggi dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik 2 m yaitu sebesar 348,831 Pa. Tekanan angin terendah dihasilkan oleh helikopter pada
Grafik IV-38 Perbandingan Tekanan Sumbu Memanjang pada Ketinggian 0,85 Meter dari Helideck terhadap Variasi Ketinggian Helikopter
Grafik IV-38 menggambarkan hubungan tekanan pada ketinggian 0,85 m dari helideck dengan jarak memanjang. Titik 0 m menunjukkan pusat baling-baling helikopter, titik -22 m dan 22 m menunjukkan tepi helideck. Grafik anomaly dan sulit dijelakan.
Dilihat dari pertitik, tekanan tertinggi dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 2,5 m di titik 1 m yaitu sebesar 273,937 Pa. Tekanan terendah dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik -20 m yaitu sebesar -73,758 Pa.
c. Analisa Tekanan Ketinggian 1,7 Meter dari Deck
Grafik IV-39 Perbandingan Tekanan Sumbu Melintang pada Ketinggian 1,7 Meter dari Helideck terhadap Variasi Ketinggian Helikopter
Grafik IV-39 menggambarkan hubungan tekanan pada ketinggian 1,7 m dari helideck dengan jarak melintang. Titik 0 m menunjukkan pusat baling-baling helikopter, titik 11 m menunjukkan tepi helideck. Garis teratas adalah garis 0 m, artinya rata-rata tekanan tertinggi pada ketinggian 1,7 m dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 0 m, namun mulai titik 7 m turun drastis meliwati dua garis lain hingga di titik 11 m. Garis terbawah adalah garis 5 m, artinya rata-rata tekanan terendah pada ketinggian 1,7 m dihasilkan oleh helikopter dengan
ketinggian 5 m. Garis 2,5 m berada di tegah garis grafik, artinya rata-rata tekanan yang dihasilkan pada ketinggian 1,7 m oleh helikopter dengan ketinggian 2,5 m di antara keduanya.
Dilihat dari pertitik, tekanan tertinggi dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik 3 m yaitu sebesar 276,797 Pa. Tekanan terendah dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik 11 m yaitu sebesar -52,354 Pa.
Grafik IV-40 Perbandingan Tekanan Sumbu Memanjang pada Ketinggian 1,7 Meter dari Helideck terhadap Variasi Ketinggian Helikopter
Grafik IV-40 menggambarkan hubungan tekanan pada ketinggian 1,7 m dari helideck dengan jarak melintang. Titik 0 m menunjukkan pusat baling-baling helikopter, titik -22 m dan 22 m menunjukkan tepi helideck. Garis 2,5 m konsisten di atas garis 5 m, artinya tekanan helikopter dengan ketinggian 2,5 m cenderung lebih tinggi dibanding dengan helikopter dengan ketinggian 5 m, kecuali di titik tertentu. Garis 0 m bergerak anomali dibandingkan yang lain, namun memiliki konsistensi di titik -22-(-9) m dan 9-22 m selalu paling bawah, artinya pola tekanan yang dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 0 m berbeda dengan ketinggian yang lain, pada titik -22-(-9) m dan 9-22 m konsisten memiliki tekanan terendah.
Dilihat dari pertitik, tekanan tertinggi dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 2,5 m di titik 1 m yaitu sebesar 228,433 Pa. Tekanan terendah dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik -21 m yaitu sebesar -83,152 Pa.
d. Analisa Umum Tekanan
Grafik IV-41 Perbandingan Rata-rata Tekanan Melintang
Grafik IV-41 menggambarkan hubungan tekanan rata-rata pada helideck dengan jarak melintang. Titik 0 m menunjukkan pusat baling-baling helikopter, titik 11 m menunjukkan tepi helideck. Garis teratas adalah garis 0 m, artinya tekanan rata-rata angin tertinggi dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 0 m, kecuali di titik 8-11 grafik bergerak menurun menjadi yang terbawah. Garis terbawah adalah garis 5 m, artinya tekanan rata-rata angin terendah dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 5 m. Garis 2,5 m berada di tegah garis grafik, artinya tekanan rata-rata angin yang dihasilkan oleh helikopter dengan ketinggian 2,5 m di antara keduanya.
Pada ketinggian helikopter 0 m tekanan tertinggi sebesar 344,823 Pa pada titik 2 m, tekanan terrendah sebesar -48,163 Pa pada titik 11 m. Pada ketinggian helikopter 2,5 m tekanan tertinggi sebesar 241,661 Pa pada titik 2 m, tekanan terrendah sebesar -15,897 Pa pada titik 11 m. Pada ketinggian helikopter 5 m tekanan tertinggi sebesar 156,235 Pa pada titik 0 m, tekanan terrendah sebesar -9,122 Pa pada titik 11 m. Secara umum, tekanan rata-rata angin tertinggi dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik 2 m yaitu sebesar 344,823 Pa. Tekanan angin terendah dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik 11 m yaitu sebesar -48,163 Pa.
Grafik IV-42 Perbandingan Rata-rata Tekanan Memanjang
Grafik IV-14 menggambarkan hubungan tekanan rata-rata pada helideck dengan jarak memanjang. Titik 0 m menunjukkan pusat baling-baling helikopter, titik -22 m dan 22 m menunjukkan tepi helideck. Garis 2,5 m konsisten di atas garis 5 m, artinya kecepatan rata-rata helikopter dengan ketinggian 2,5 m cenderung lebih tinggi dibanding dengan helikopter dengan ketinggian 5 m, kecuali di titik -5-7. Garis 0 m bergerak anomaly dibandingkan yang lain, namun memiliki konsistensi di titik -22-(-10) m dan 9-22 m dengan selalu di bawah, dan pada titik -7-7 m selalu di atas artinya pola tekanan rata-rata yang ditimbulkan oleh helikopter dengan ketinggian 0 m berbeda dengan ketinggian yang lain, pada titik -22-(-10) m dan 9-22 m memeliki tekanan tertinggi dan di titik -7-7 m memiliki tekanan terrendah.
Pada ketinggian helikopter 0 m tekanan tertinggi sebesar 250,478 Pa pada titik 5 m, tekanan terrendah sebesar -73,731 Pa pada titik -20 m. Pada ketinggian helikopter 2,5 m tekanan tertinggi sebesar 264,645 Pa pada titik 1 m, tekanan terrendah sebesar -17,705 Pa pada titik -15 m. Pada ketinggian helikopter 5 m tekanan tertinggi sebesar 200,337 Pa pada titik 2 m, tekanan terrendah sebesar -9,147 Pa pada titik 22 m. Secara umum, tekanan rata-rata tertinggi dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 2,5 m di titik 1 m yaitu sebesar 264,645 Pa. Tekanan rata-rata terendah dihasilkan oleh helikopter pada ketinggian 0 m di titik -20 m yaitu sebesar -73,731 Pa. IV.4. Pembahasan