• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAHAN DAN METODE

D. Analisis Data

a. Teknik Penangkaran T. h. helena dan T. h. hephaestus

Teknik penangkaran T. h. helena dan T. h. hephaestus di laboratorium dan kubah penangkaran, disajikan secara deskriptif.

b. Pengukuran Lingkungan Fisik Laboratorium dan Kubah Penangkaran

Suhu udara minimum dan maksimum, kelembaban udara, dan intensitas cahaya di laboratorium dan kubah penangkaran IPB ditampilkan dalam grafik.

c. Lama Waktu Setiap Stadia T. h. helena dan T. h. hephaestus

Lama waktu setiap stadia yang dibutuhkan oleh T. h. helena dan T. h. hephaestus pada stadia telur, stadia larva pada tiap fase, stadia prepupa, stadia pupa, dan stadia imago betina ditampilkan dalam tabel.

d. Kelangsungan Hidup T. h. helena dan T. h. hephaestus

Rataan Jumlah individu yang hidup pada setiap kelas umur dan fase (telur, larva instar ke 1 sampai instar ke 5, prepupa, pupa dan imago betina) dari 3

ulangan dihitung kemudian dimasukkan ke dalam life table (tabel neraca kehidupan) (Gomes-Filho 2003; Gabre et al. 2005). Harapan hidup dan peluang hidup dihitung, kemudian dibuat kurva kelangsungan hidup (Price 1984; Tarumingkeng 1994) dan dilanjutkan dengan pembuatan life table diagramatik. Neraca kehidupan disusun seperti gambar 22.

Gambar 22 Komponen-komponen yang digunakan untuk menyusun neraca kehidupan.

Rumus-rumus yang digunakan adalah: lx = ax/a0

dx= lx-lx+1 qx= dx/ax Lx= lx+lx+1)/2

Tx= x =0...w (x=w adalah kelas umur terakhir) ex= Tx/lx

px= x+1 (lx+1+lx+2/lx+ lx+1). Keterangan-keterangan: x = kelas umur

ax = jumlah individu yang hidup pada setiap kelas umur x

lx = proporsi individu yang hidup pada kelas umur x setelah distandarkan dx= jumlah individu yang mati padakelas umur x

qx= proporsi individu yang mati pada kelas umur x

Lx= jumlah rata-rata individu pada kelas umur x dan kelas umur berikutnya Tx= jumlah individu yang hidup Pada kelas umur x

ex= harapan hidup individu pada setiap kelas umur x

px= proporsi individu yang hidup pada kelas umur x dan mencapai kelas umur x+1. x (1) ax (2) lx (3) dx (4) qx (5) Lx (6) Tx (7) ex (8) Px (9)

e. Morfologi Telur, Larva, Pupa, dan Imago.

Data morfologi stadia telur, pupa, dan imago hasil penangkaran kemudian dibandingkan dengan data dari alam, selanjutnya dilakukan uji t dua sampel untuk mengetahui perbedaan dua populasi (Mattjik & Sumertajaya 2006).

f. Fekunditas (Keperidian) Imago Betina.

Jumlah telur yang diletakkan, total telur yang diletakkan, lama peneluran, dan persentase penetasan ditampilkan dalam tabel, kemudian jumlah telur yang diletakkan setiap hari ditampilkan dalam grafik.

g. Konsumsi Pakan Larva.

Bobot kering pakan yang dikonsumsi oleh larva diketahui dengan menghitung bobot kering pakan yang diberikan dikurangi dengan bobot kering pakan yang tersisa (Syamsu 2003). Bobot kering pakan yang dikonsumsi ditampilkan dalam tabel.

h. Perilaku Selama di Penangkaran.

Perilaku imago, larva, dan pupa yang diamati selama di penangkaran disajikan secara deskriptif.

HASIL

A. Teknik Penangkaran T. h. helena dan T. h. hephaestus

Langkah awal yang harus dilakukan pada penangkaran kupu-kupu adalah penyiapan sarana pemeliharaan dari stadia telur sampai imago. Bahan, alat dan sarana penunjang lainnya seperti alat pengukur suhu, kelembaban, dan intensitas cahaya juga terlebih dahulu dipersiapkan. Setelah semua bahan, alat, dan sarana penunjang tersedia, dilakukan pengukuran kondisi fisik lingkungan yang sesuai untuk kelangsungan hidup kupu-kupu.

Penyiapan pakan larva dan sumber nektar imago segera dilakukan secara berkesinambungan setelah semua sarana tersedia. Pembibitan pakan larva berupa A. tagala dapat dilakukan dengan stek tangkai atau biji. Penyiapan sumber nektar bagi imago bisa dilakukan dengan menanam berbagai tanaman berbunga di dalam kubah penangkaran. Sumber nektar bagi imago yang sering dikunjungi diperbanyak, sedangkan bunga yang tidak pernah dikunjungi dikeluarkan dari kubah penangkaran. Bagian tepi dalam kubah penangkaran ditanam bambu jepang dan sanseviera yang berfungsi sebagai tanaman pelindung bagi imago, pupa, dan bibit pakan larva.

Setelah pakan larva dan sumber nektar imago tersedia, selanjutnya dilakukan pemilihan pupa sebagai bibit untuk penangkaran. Pupa dipilih yang ukurannya besar, tidak cacat, dan umurnya sama. Pemilihan pupa sebagai bibit lebih menguntungkan karena dapat dilihat seks rasionya. Perbedaan pupa jantan dan betina dapat dilihat pada bagian abdomen (Gambar 23). Pupa ditempatkan di kandang pupa dengan menancapkan substrat tempat melekatnya pada styrofoam sampai imago keluar dari pupa. Pasangan imago dipilih yang berukuran besar dan sehat untuk dijadikan pasangan kawin di kubah penangkaran. Satu sampai dua hari setelah kawin, imago betina akan meletakkan telur pada pakan larva atau substrat lain yang dekat dengan pakan larva.

Telur yang telah diletakkan oleh betina segera ditempatkan dalam cawan petri agar terhindar dari parasitoid dan predator. Telur diambil dengan menggunting daun tempat melekatnya telur agar telur tidak rusak. Telur yang diletakkan oleh betina pada tiang dan dinding kubah penangkaran, serta tali

perambat A. tagala, diambil dengan menggunakan kuas secara hati-hati. Telur yang telah menetas menjadi larva instar ke 1 dipindahkan ke cawan petri yang berisi pakan larva sampai larva mencapai fase instar ke 3. Larva fase instar ke 4 sampai 5 ditempatkan di toples gelas berisi pakan sampai larva menjadi pupa. Larva dipindahkan dengan menggunakan kuas atau membiarkan berpindah ke daun baru yang masih segar. Larva menjelang prepupa diberi sarana untuk memanjat dan menggantung dan ditempatkan pada toples gelas yang tidak berisi pakan, sampai prepupa menjadi pupa. Pupa berumur sehari dipindahkan ke kandang pupa sampai imago keluar dari pupa. Pupa dengan kremaster dan serat suteranya yang terlepas dari substrat, direkatkan menggunakan lem fox pada bagian ventral. Imago yang keluar dari pupa dan telah membentangkan sayapnya dilepas ke kubah penangkaran.

Gambar 23 Perbedaan morfologi pupa T. h. hephaestus: betina (kiri) dan jantan (kanan).

Kondisi lingkungan fisik laboratorium dengan kisaran 20-38 ºC, kelembaban 50-75%, intensitas cahaya 500-1 000 lux sesuai untuk perkembangan telur-pupa. Kubah penangkaran dengan kisaran suhu 20-40 ºC, kelembaban 45-75%, dengan intensitas cahaya 2 000-7 500 lux sesuai untuk perkembangan imago.

Dokumen terkait