PJK Variabel
5.2. Analisis Bivariat Faktor Risiko PJK 1 Dislipidemia 1 Dislipidemia
Berdasarkan hasil penelitian di RS Islam Malahayati diketahui bahwa orang yang menderita PJK dan mempunyai riwayat dislipidemia sebanyak 18 orang (29,03%), sedangkan orang yang tidak menderita PJK dan mempunyai riwayat dislipidemia hanya berjumlah 8 orang (12,90%) sehingga Hasil uji statistik menunjukkan bahwa dislipidemia berpengaruh terhadap kejadian PJK (p <0,05). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Yuliani dkk tahun 2014, dengan nilai p = 0,000.
Gangguan pada pembuluh darah koroner merupakan akibat penimbunan plak dalam dinding arteri. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya aterosklerosis adalah adanya peningkatan kadar lipid darah seperti peningkatan kadar LDL darah, kolesterol total dan trigliserida darah serta penurunan HDL darah. Peningkatan kadar kolesterol total dan LDL darah dapat disebabkan oleh peningkatan konsumsi lemak jenuh dan kolesterol yang tinggi dalam makanan. Sedangkan peningkatan trigliserida darah atau hipertrigliserida dipengaruhi oleh faktor gen dan konsumsi makanan seperti karbohidrat, lemak dan alkohol. Oleh karena itu menurunkan kadar trigliserida darah selain lemak makanan, karbohidrat juga diperhitungkan. Selain itu, kadar trigliserida darah juga dipengaruhi oleh aktivitas enzim LPL (Lipoprotein Lipase) yang berfungsi untuk menghidralisis trigliserida menjadi asam lemak dan gliserol. Rendahnya aktifitas LPL ini akan dapat meningkatkan kadar trigliserida darah (Tsalissavrina dkk, 2006). Tingginya kolesterol
total dalam darah akan mengakibatkan timbulnya beberapa penyakit kardiovaskular seperti hipertensi, aterosklerosis, PJK,dan Stroke. (Nuraeni, 2012).
5.2.2 Hipertensi
Berdasarkan hasil penelitian di RS Islam Malahayati, diketahui bahwa orang yang menderita PJK yang memiliki hipertensi sebanyak 39 orang (62,90%), sedangkan orang yang tidak menderita PJK tetapi mempunyai riwayat hipertensi hanya berjumlah 23 orang (37,10%), sehingga hasil uji statistik menunjukkan bahwa hipertensi berpengaruh terhadap kejadian PJK (p < 0,05). Penelitian ini sejalan dengan penelitian Zahrawardani dkk (2012), dengan nilai p =0,002.
Peningkatan tekanan darah baik pada sistolik dan diastolik, atau dalam pengertian lain sebuah kondisi medis dimana tekanan darah dalam arteri meningkat secara kronik. Jika keadaan ini terus menerus terjadi akan menyebabkan stroke, serangan jantung, gagal jantung dan penyebab utama gagal ginjal kronik. Tekanan diastolik cenderung mencapai titik stabil setelah usia menengah, sedangkan tekanan darah sistolik cenderung meningkat setelah usia pertengahan yang mencerminkan pengerasan arteri besar (aterosklerosis). Secara sederhana dikatakan, peningkatan tekanan darah mempercepat aterosklerosis, sehingga ruptur terjadi sekitar 20 tahun lebih cepat dari pada orang normal. Sejumlah mekanisme terlibat dalam proses peninggian tekanan menyebabkan perubahan struktur di dalam arteri, tetapi tekanan sendiri dalam beberapa cara terlibat langsung. Akibatnya, lebih tinggi tekanan lebih besar jumlah kerusakan vaskular (Ekawati, 2010).
5.2.3 Rokok
Berdasarkan penelitian di RS Islam Malahayati diketahui bahwa orang yang menderita PJK dan memiliki kebiasaan merokok adalah berjumlah 32 orang (51,61%), sedangkan orang yang tidak menderita PJK tetapi memiliki kebiasaan merokok adalah berjumlah 36 orang (58,06%). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa merokok tidak berpengaruh terhadap kejadian PJK (p > 0,05). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Fitriani Umar dkk (2011), yang mengatakan bahwa merokok tidak berpengaruh terhadap kejadian PJK (p = 0,24) dan didukung oleh penelitian Simatupang dkk (2013) dengan nilai (p = 0,51).
Namun ada beberapa penelitian yang menjelaskan bahwa kebiasaan merokok memiliki pengaruh terhadap kejadian PJK, salah satunya seperti penelitian yang dilakukan oleh Yuliani dkk (2014). Mereka menjelaskan bahwa kebiasaan merokok berpengaruh terhadap kejadian PJK p = 0,000
Menurut American Hearth Assosiation (AHA) (2007), merokok sebagai faktor risiko independen dan ATP III sebagai faktor risiko mayor. Apabila merokok, maka iritan yang ada dalam asap rokok selain berpengaruh langsung pada paru-paru, juga masuk ke dalam darah yang mengakibatkan denyut jantung lebih cepat, pembuluh darah cepat kaku dan mudah spasme karena gas CO dan nikotin akan merusak endotel sehingga semakin reaktif, gas CO akan menurunkan oksigen sel darah merah, sel-sel darah lebih gampang menggumpal karena terjadi peningkatan fibrinogen, peningkatan agregasi platelet dan menurunkan HDL kolesterol yang semuanya akan menyebabkan terjadinya aterosklerosis yang mengarah pada
penyempitan pembuluh darah sehingga terjadinya PJK dan stroke iskemik (Kabo, 2008).
Penyebab rokok tidak berpengaruh terhadap kejadian PJK adalah karena sebagian besar responden tidak PJK memiliki kebiasaan merokok sebesar 29,03 % lebih tinggi dari pada kelompok penderita PJK yang merokok hanya 25,81%. Ini disebabkan karena faktor pekerjaan yang mengharuskan mereka untuk merokok seperti bekerja di BUMN bagian lapangan. Disamping itu juga responden (PJK dan tidak PJK) berjenis kelamin laki-laki yang akrab dengan kebiasaan merokok.
5.2.4 Aktivitas Fisik
Berdasarkan hasil penelitian di RS Islam Malahayati Medan, diketahui bahwa orang yang menderita PJK yang memiliki aktifitas fisik kurang sebanyak 36 orang (58,06%), sedangkan orang yang tidak menderita PJK tapi memiliki aktifitas fisik kurang berjumlah 39 orang (62,90%). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa aktivitas fisik tidak berpengaruh terhadap kejadian PJK (p > 0,05).
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Salim dan Nurrohmah (2013). Dalam penelitiannya disebutkan bahwa aktivitas fisik tidak berpengaruh terhadap kejadian PJK p = 0,121
Namun hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Sattelmair dkk (2011), yang menyatakan bahwa ada pengaruh aktifitas fisik terhadap kejadian PJK (p = 0,03). Aktivitas fisik berupa olahraga dan kegiatan harian yang dilakukan secara rutin dapat meningkatkan konsentrasi HDL dan bermanfaat untuk mencegah timbunan lemak di dinding pembuluh darah. Suatu
studi kasus kontrol melaporkan bahwa risiko PJK menjadi dua kali lipat pada wanita yang kurang aktivitas fisiknya. Pada orang-orang yang terbiasa melakukan aktivitas fisik secara rutin umumnya meningkatkan daya kontraksi jantung, memperlebar pembuluh darah jantung yang mempengaruhi pada peningkatan suplai darah dan oksigen sehingga meningkatkan stabilitas kerja sistem jantung (Rahmawati dkk, 2009).
Penyebab tidak adanya pengaruh aktivitas fisik terhadap kejadian PJK adalah karena banyaknya responden tidak PJK yang melakukan aktivitas fisik hanya < 30 menit per hari < 150 menit dalam satu minggu dan ada beberapa responden yang melakukan aktivitas fisik dari sedang sampai berat seperti pembongkar muat barang dagangan di toko- toko besar, penarik becak, kuli bangunan, pekerja di perkebunan dan lain sebagainya namum menderita PJK.
5.2.5 Diet
Berdasarkan hasil penelitian di RS Islam Malahayati. Orang yang menderita PJK yang memiliki kebiasaan diet tidak sehat sebanyak 24 orang (38,71%), sedangkan orang yang tidak menderita PJK tapi memiliki kebiasaan diet tidak sehat sebanyak 28 orang (45,16%), sehingga hasil uji statistik menunjukkan bahwa diet tidak berpengaruh terhadap kejadian PJK (p > 0,05). Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ascherio dkk (2014), yang menyatakan bahwa kebiasaan diet tidak berpengaruh terhadap kejadian PJK (p = 0,75). Namun diet sangat berpengaruh terhadap jumlah kolesterol dalam darah sehingga meningkatkan risiko terjadinya PJK.
Pada dasarnya status gizi lebih/tidak sehat akan berdampak pada obesitas, peningkatan resiko hipertensi, resistensi insulin/diabetes mellitus tipe 2, PJK dan dislipidemia seperti menurut World Heart Federation (2014), menyatakan bahwa diet tidak sehat merupakan faktor risiko terjadinya PJK.
Penyebab tidak adanya pengaruh diet terhadap kejadian PJK di RS Islam Malahayati adalah karena sebagian besar reponden (PJK dan tidak PJK) menyukai sayur-sayuran dan merasa kurang lengkap jika sayur-sayuran tidak tersedia pada tiap waktu makan, bahkan prevalensi konsumsi sayuran pada penderita PJK berjumlah 38 orang (61,%29) lebih tinggi dari pada pada responden yang tidak PJK, hanya 34 orang (54,84%) disamping itu juga makanan yang tinggi kolesterol seperti udang, cumi-cumi, kepiting, daging dan lainnya tidak mampu untuk dibeli dan dikunsumsi setiap hari karena hanganya relatif mahal.
5.2.6 Obesitas
Berdasarkan hasil penelitian di RS Islam Malahayati diketahui bahwa orang yang menderita PJK yang mengalami obesitas sebanyak 17 orang (27,42%), sedangkan orang yang tidak menderita PJK tetapi mengalami obesitas hanya ada 12 orang (19,36). Sehingga hasil uji statistik menunjukkan bahwa obesitas tidak berpengaruh terhadap kejadian PJK (p > 0,05). Penelitian ini sejalan dengan pernyataan William (2009) dalam symposium Internasional dengan tema “XV International Symposium on Atherosclerosis” Wiiliam menjelaskan bahwa obesitas bukanlah faktor risiko terjadinya PJK. Namun hasil penelitian ini berlawanan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Iniari dkk (2010), yang menjelaskan bahwa obesitas merupakan salah satu faktor terjadinnya PJK.
Obesitas adalah keadaan dimana terjadi akumulasi lemak yang berlebih atau abnormal yang dapat mengganggu kesehatan (WHO, 2011). Obesitas merupakan suatu keadaan tubuh yang perlu ditakuti, karena obesitas dapat membawa kita menuju penyakit yang lebih parah, yaitu penyakit degenaratif seperti PJK, DM hipertensi dan penyakit lainnya (Mayo Clinik, 2011).
Salah satu penyebab obesitas tidak berpengaruh terhadap kejadian PJK adalah kerena proporsi obesitas yang PJK dengan proporsi obesitas tidak PJK tidak jauh berbeda.
5.2.7 DM
Berdasarkan hasil penelitian di RS Islam Malahayati diketahui bahwa orang yang menderita PJK yang memiliki riwayat DM sebanyak 31 orang (50,0%), sedangkan orang yang tidak menderita PJK tetapi memiliki riwayat DM berjumlah 29 orang (46,78%). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa DM tidak berpengaruh terhadap kejadian PJK (p > 0,05). Hasil ini tidak sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa DM berpengaruh terhadap kejadian PJK, serta responden yang menderita diabetes melitus mempunyai peluang terkena PJK 3,479 (Septrianti, 2010).
Pada dasarnya DM merupakan salah satu faktor risiko terjadinya PJK yang telah banyak dibuktikan oleh penelitian baik dalam dan luar negeri, seperti penelitian yang dilakukan oleh Simatupang dkk (2010) dan penelitian yang dilakukan oleh
Kroeger dkk (2012), mereka mengatakan bahwa adanya hubungan kuat antara DM dengan kejadian PJK, dengan nilai uji statistik P <0,05. Namun penelitian di RS Islam Malahayati tidak sesuai dengan penelitian sebelumnya, ini dikarenakan antara pasien yang menderita DM yang PJK dengan pasien yang menderita DM tetapi tidak PJK hampir sama (31 orang (50,0%)/ 29 orang 46,78%), Sehingga mempengaruhi uji statistik.