BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.8 Analisis Budaya Materialis dan Dampaknya
Saat ini penulis masuk pada permasalahan yang lebih spesifik yaitu budaya Materialis. Materialis diartikan sebagai seseorang yang mengalami gangguan memanfaatkan orang lain untuk mendapatkan apa yang dia inginkan atau untuk mewujudkan impiannya. Sehingga mereka rela melakukan apa saja, termasuk mengorbankan perasaannya sendiri, sebagaimana yang dilakukan Libby sebagai pecandu budaya materialis yang tercantum pada leksia di bawah.
“Maksudku, aku tahu waktu itu aku mengatakan mau makan malam dengannya, tapi aku tidak terlalu peduli, lagi pula apa gunanya? Aku tidak naksir dia, tidak ada rasa mulas sekaligus deg-degan yang menyenangkan seperti ketika aku bersama Nick pertama kali.
“Aku yakin dia baik, namun aku belum ingin terlibat dengan seseorang sekarang ini, bahkan kalaupun dia mengendarai Porsche. Aku merasa capek. Letih luar biasa. Masalah Nick itu membuatku lelah, dan sekarang ini kalau tidak bisa
mendapatkannya, aku tidak menginginkan orang lain.” (hal.
216)
Sebagian besar waktu Libby telah dihabiskan untuk memikirkan masalahnya dengan Nick yang timbul akibat sifat materialisnya. Libby sadar bahwa sebenarnya dirinya tidak menyukai Ed sepenuh hati, Libby tidak memiliki perasaan luar biasa yang dirasakan ketika dirinya bersama Ed, perasaan itulah yang juga membuat Libby tidak ingin menjalin hubungan dengan seseorang, meskipun orang tersebut yang selama ini telah dinanti-nanti oleh Libby, sesseorang yang kaya raya, etapi Libby tetap tidak menginginkan hubungan itu terjadi. Libby mulai merasa capek, letih, dan lelah dengan semua masalah tentang Nick. Karena rsa capek luar biasa itulah yang membuat Libby berpikir, jika dirinya tidak bisa mendapatkan Nick, maka dia tidak akan pernah ingin untuk mendapatkan orang lain juga, meskipun dia kaya.
“Tapi Nick tidak akan pernah memberiku kehidupan yang
kudambakan, dan lagi pula hasrat kan tidak penting. Tidak
terlalu penting juga apakah seseorang cocok dengan teman-temanku.
Yang penting dia cocok denganku. Ed jelas cocok.” (hal. 415)
Tetapi ditengah-tengah rasa gundahnya, ternyata Libby juga menyadari bahwa Nick adalah pria yang tidak pernah diinginkannya, Nick tidak akan pernah memberikan apa yang Libby mau, karena Nick adalah seorang penulis miskin
yang tidak punya apa-apa dan hanya hidup dari tunjangan pemerintah saja. Libby tidak ingin semua impiannya tentang hidup mewah hancur begitu saja, maka Libby akhirnya memutuskan bahwa perasaan dan hasrat itu tidak penting, dirinya lebih mementingkan materialis yang telah bersarang dalam dirnya. Dan dia memutuskan bahwa Ed lah yang cocok dengannya.
Materialis sedikit berbeda dengan gaya hidup. Menurut pandangan penulis, gaya hidup adalah suatu pilihan, dimana individu sengaja memilih pilihan hidup tersebut. entah itu gaya hidup mewah, sedang-sedang, ataupun sederhana. Sedangkan materialis, dilakukan dengan sadar ataupun tidak sadar oleh individu. Akan tetapi disini juga terdapat suatu relevansi, bahwa gaya hidup yang diadopsi seseorang dapat menimbulkan atau menumbuhkan materialis dalam diri individu. Hal ini diperkuat dengan adanya leksia berikut ini.
“Aku harus menikah dengan pria kaya demi gaya hidup yang sudah mulai kukenal baik.” (hal. 19)
“Oke, bisa jadi dompetnya tebal, dan ya, aku sedang mencari pria kaya, tapi aku tidak menginginkan cowok yang lurus dan kaku banget.” (hal. 196)
“Dan kalau aku berniat mengadopsi gaya hidup yang kuinginkan, aku harus menyukai pria yang lebih tua, karena pria seumurku tak memiliki cukup banyak uang.” (hal. 314)
Gaya hidup yang diadopsi oleh Libby membuatnya berasumsi bahwa dia harus menikah dengan pria, bukan cowok, karena baginya cowok sama saja dengan remaja yang masih ingin berfoya-foya dan tidak pernah berpikir tentang masa depan, dan pria yang lebih tua lah yang dapat menunjang gaya hidup Libby.
Terlebih lagi, Libby berpikiran bahwa pria kaya berdompet tebal lah yang sedang dicarinya agar dia bisa mewujudkan semua impiannya dan bisa meneruskan gaya hidup mewah yang terlanjur dikenalnya. Hal itulah yang membuat sifat materialis dalam diri Libby semakin kuat, dan akan menjadi suatu masalah yang kemudian tidak akan mendapatkan solusi atau menemukan jalan keluar yang salah sehingga semakin memperkeruh keadaan.
“Dia harus kaya, benar-benar kaya. Dia tinggal di rumah besar
di Holland Park. Tapi bukan apartemen, harus rumah. Dan dia
mondar-mandir di dalamnya sambil menunggu istrinya dan desain interior teman istrinya untuk mendekorasi ulang seluruh rumah.” (hal. 212)
Sekali lagi, telah dijelaskan sebelumnya bahwa Holland Park adalah sebuah distrik dan taman umum di Royal Borough of Kensington dan Chelsea, di London barat. Holland Park memiliki reputasi sebagai daerah kaya dan modis yang dikenal untuk menarik penggila belanja kelas tinggi dan penikmat makanan di restoran-estoran mewah. Ada banyak daerah yang menjadi pusat perbelanjaan di sekitar Holland Park, seperti High Street Kensington, Notting Hill, Holland Park Avenue, Prtobello Market, Westbourne Grove, Clarendon Cross, dan Ledbury Road. Meskipun tidak memiliki batas resmi, warga sekitar menggunakan Kensington High Streetsebagai batas selatan, Holland Street sebagai batas barat, Holland Park Avenue sebagai batas utara, dan Kensington Church sebagai batas timur.
“Dia mungkin pengusaha, punya bisnis sendiri, entah apa, dan
naik Ferrari.” (hal. 212)
“Benar juga. Tidak, dia punya Mercy, dan Range Rover untuk
berakhir pekan di pondok pedesaannya, dan dia membelikanku
BMW baru, itu lho, yang sport, apa sih? F3 atau Z3 atau apa?” (hal. 212)
Itulah hal-hal yang menjadi impian Libby, tinggal di rumah besar di Holland Park, yang merupakan deretan rumah-rumah mewah yang hanya mampu dimiliki oleh seorang yang kaya raya, hampir sama dengan Hanover Terrace, memiliki suami seorang pengusaha sukses yang mempunyai Mercy, Range Rover, dan akan memberikannya sebuah mobil mewah, BMW Z3 Dan itulah gaya hidup yang menjadi impian Libby, gaya hidup materialis, karena dia membutuhkan seorang pria kaya raya untuk mewujudkannya, bukan pria miskin yang tidak punya uang seperti Nick.
“Nick, sebaliknya, tidak punya uang sekepeng pun. Well,
mungkin itu berlebihan, tapi dia tidak seperti pacar-pacarku dulu, yang bergelimang uang.” (hal. 9)
“Kau yang terbaik selama bertahun-tahun ini, dan kalau aku bertemu denganmu setahun dari sekarang, atau bahkan beberapa bulan, aku tahu kita akan bahagia bersama, tapi aku tidak bisa memberimu apa yang kauinginkan.” (hal. 182)
“Memang sudah kuduga kau membenciku karena aku tidak punya uang,” ujar Nick tiba-tiba.” (hal. 282)
“Nick bukan orang yang tepat untukmu. Nick tidak punya uang.
Nick, seorang yang seksi, ganteng, tapi berkantong kering, karena dia hanyalah penulis fiksi miskin yang sudah beberapa kali mendapatkan penolakan dari para penerbit tentang tulisannya. Nick tidak memiliki uang sepeser pun, dan dia tidak seperti pacar-pacar Libby yang dulu, yang kaya raya, bergelimang harta, memiliki banyak uang, dan memiliki hidup yang penuh dengan kemewahan. Nick juga menyadari bahwa dirinya tidak bisa memberi apa yang diinginkan Libby, Nick juga yakin bahwa Libby membencinya karena dirinya tidak mempunyai uang dalam jumlah banyak ataupun dalam jumlah sedikit, karena Nick berangapan bahawa hanya uang yang dibutuhkan Libby dari seseorang yang sedang mendekatinya, termasuk Nick, untuk mewujudkan impian hidup mewahnya. Terlebih lagi Nick hanya tinggal di sebuah paviliun jelek, berantakan, dan kecil di Highgate. Dan Nick tidak akan pernah bisa menhajak Libby ke tempat-tempat mewah seperti Ed.
“Dan,” lanjut Jules, “dia mungkin akan mengajakmu ke tempat yang asyik, karena dia jelas-jelas kaya.” (hal. 199)
“Aku ingin menikah dengan pria kaya, pria seperti Ed, aku
ingin tinggal di Hanover Terrace, tapi aku juga mengerti maksud Jules.” (hal. 357)
“Menurutku dia jelas-jelas kasmaran denganmu. Dalam soal materi, dia bisa memberimu segala yang kaubutuhkan. Tapi...” Dan dia berhenti.” (hal. 394)
Dibandingkan Nick, Ed jelas lebih berkelas, karena Ed seorang bankir investasi kaya yang dijamin dapat memenuhi akan hidup yang mapan, meskipun Ed berkumis dan Libby sangat membenci pia berkumis dan memiliki kebiasaan
mengucapkan bahasa perancis dengan logat yang mengerikan, tapi dia tidak peduli. Karena keinginan Libby adalah menikah dengan pria kaya, pria seperti Ed yang tinggal di Hanover Terrace. Jules, sahabat baik Libby yang telah meyakinkan Libby bahwa jika dirinya berhasil mendapatkan Ed, dan menikah dengannya, Ed akan mengajak Libby ke tempat-tempat asyik dan mewah, tentu saja, karena Ed jelas-jelas kaya. Dan jika dlihat dari segi materi, Ed jelas bisa memberi segala yang dibutuhkan Libby ketimbang Nick.
Dari kutipan wacana di atas tampak jelas sekali perbedaan antara si kaya dan si miskin, yaitu perbedaan yang terdapat dalam diri Ed, seorang bankir investasi yang kaya raya, dengan Nick yang hanya seorang penulis dan hidup dari tunjangan pemerintah. Libby jelas sudah sangat mengetahui tentang perbedaan itu. Jika dilihat dari segi materi, Ed lah pria kaya raya yang sedang dicari Libby, karena Ed bisa memberikan segala apa yang dibutuhkan olehnya. Ed akan mengajak Libby ke tempat-tempat asyik, mengantarnya kemana-mana dengan Porsche, dan Libby bisa mendapatkan baju rancangan desainer.
“Dia membelikanku gaun paling menakjubkan yang pernah
kulihat sepanjang hidupku, rancangan Donna Karan, dan aku suka sekali, aku tidak percaya dia menghabiskan uang sebanyak itu untukku, dan kau pasti tidak percaya betapa indah gaun itu, kau percaya harganya semahal itu, kau percaya harganya semahal itu!” (hal.300)
“Ed masuk sambil membawa kotak karton di satu tangan, jenis
kotak kue yang kaudapatkan di pattiserie mahal. Tangannya yang lain membawa tas plastik.” (hal. 301)
“Tampaklah eclair cokelat, gula-gula berbentuk binatang, tart stroberi, kue vanila dengan isian creme anglaise yang lumer.”
“Aku juga beli ini,” katanya sambil memberikan tas plastik itu, dan
di dalamnya terdapat berbagai bungkus kue chocolate chip,
biskuit Swiss, dan biskuit havermut dan cokelat yang menarik, yang hanya kautemukan di supermarket mewah.” (hal. 302)
Dan benar saja, Ed sudah mulai memanjakan Libby dengan membelikannya gaun paling menakjubkan yang pernah dilihat sepanjang hidupnya, gaun yang sangat mahal dari perancang Donna Karan, Libby sagat menyukai gaun itu, dan Libby sangat tidak percaya bahwa Ed akan menghabiskan uang sebanyak itu untuknya. Ed juga membelikanya makanan-makanan superlezat, seperti eclair cokelat, gula-gula berbentuk binatang, tart stroberi, kue vanila dengan isian creme anglaise yang lumer, dealam kemasan kotak karton, kotak kue yang hanya akan ditemui di pattiserie mahal, serta kue chocolate chip, biskuit Swiss, dan biskuit havermut dan cokelat yang menarik yang hanya akan dapat ditemui di supermarket mewah. Meskipun makanan-makanan itu dapat membuah berat badan Libby bertambah dengan cepat, Libby sama sekali tidak peduli, karena dirinya sudah tergiur dengan kelezatan makanan tersebut.
Dua leksia di bawah ini akan menjelaskan tentang betapa kayanya Ed McMann sebagai bankir ivestasi.
“Terutama kalau dia punya begitu banyak uang. Tapi, kalau kau kencan dengannya, tentunya kau juga menganggap dia seksi.” (hal. 289)
“Dia bankir investasi...” Olly bersiul keras. “Wah. Dia pasti kaya raya.” “Memang,” sahutku, tersenyum senang. “Tapi yang lebih penting, dia baik sekali padaku, dia memperlakukanku seperti ratu.” (hal. 314)
Saat ini yang ada di pikiran Libby hanyalah uang, uang, dan uang, yang tanpa disadarinya bahwa itu akan semakin membawanya ke dalam sebuah masalah besar. Libby hanya menginginkan pria kaya yang memiliki banyak uang, tanpa memedulikan perasaannya sendiri. Olly, adik kandung Libby pun juga mengakui bahwa Ed adalah seorang yang kaya raya, karena Olly mengetahui dari Libby bahwa Ed adalah seorang bankir investasi. Dan Libby sangat bangga ketika menceritakan tentang Ed pada Olly, Libby bangga ketika Olly juga mengakui bahwa Ed kaya raya. Dan Libby menjadi semakin materialis ketika dirinya membayangkan hal-hal yang bisa dimilikinya ketika dia menikah dengan Ed nantinya.
“Tapi akhir-akhir ini aku semakin sering membayangkan diriku tidak bekerja. Hidup bergelimang kemewahan. Makan siang di Daphne’s dan belanja di Joseph setiap hari. Ah, surga dunia.” (hal. 288)
“Aku sudah merancang semuanya, dari gaunku yang didesain
Bruce Oldfield, sampai ke pengiring pengantin, sampai pandangan kagum semua orang yang kukenal, karena ini bukan pernikahan kecil-kecilan, tapi akan menjadi pernikahan abad ini.” (hal. 371) “Aku merayap turun dari ranjang dan berjalan ke seluruh rumah, membuka pintu-pintu dan memasuki semua kamar kosong, berdiri disana sambil meringis lebar, tahu bahwa semua ini akan menjadi milikku secara sah.” (hal. 408)
“Aku turun ke lantai bawah dan membuat secangkir teh, lalu duduk meringkuk di sofa, masih meringis seperti orang gila menghadapi kemungkinan tinggal di rumah yang luar biasa ini. Aku tidak perlu lagi belanja di toko-toko biasa. Aku bisa memamerkan rumahku yang besar pada Jules. Dan Sally. Dan Nick.” (hal. 408) “Cincin Deborah sangat cantik, dengan batu zamrud antik dikelilingi berlian kecil-kecil. Cincin itu memang luar biasa, tapi aku tidak
mau batu zamrud, aku mau berlian besar, dan berlian di sekelilingnya itu terlalu kecil.” (hal. 416)
Hal-hal yang bersifat materi, termasuk uang semakin membuat Libby sering membayangkan hidup bergelimang kemewahan. Semakin sering Libby membayangkan dirinya tidak bekerja, hidup bergelimang kemewahan, makan di restoran-restoran mahal seperti Daphne’s, dan belanja di Josep setiap hari, yang bagi Libby itu merupakan surga dunia. Bahkan Libby sudah merancang semua yang dapat dia lakukan jika dia berhasil menikah dengan Ed. Mulai dari gaun pengantin yang akan didesain oleh perancang gaun pengantin paling terkenal di London, yang juga pernah mendesainkan gaun pengantin untuk pasangan-pasangan selebriti, Bruce Oldfield, cincin pernikahan yang luar biasa, bertahtahkan berlian yang sangat besar, sampai pada pesta pernikahan super duper mewa yang akan menjadi pesta pernikahan termewah abad ini. Ketika Libby membuka pintu-pintu dan memasuki semua kamar yang masih kosong di rumah Ed, Libby telah membayangkan bahwa semua itu akan menjadi milik Libby secara sah, Libby membayangkan bahwa sebentar lagi dirinya akan tinggal di rumah Ed yang luar biasa ini, Libby tidak perlu lagi belanja di toko-toko biasa, dan yang paling penting Libby bisa memamerkan rumahnya yang besar itu pada Jules, Sally, dan Nick. Penulis juga menemukan leksia yang menjelaskan bagaimana Libby semakin materialis, sebagai berikut.
“Tidak ada gunanya menelepon restoran Nobu dan membuat reservasi atas nama Libby Mason, tapi akan banyak gunanya memesan meja atas nama istri Ed McMann.” (hal. 392)
Norbu adalah sebuah restoran mewah di London yang sering dikunjungi oleh selebriti-selebriti kelas atas. Nobu juga merupakan pelopor restoran sebuah kerajaan yang terbentang dari LA, Miami, hingga London. Ruang makan modern minimalis Jepang yang menghadap Park Lane dan Hyde Park. Nobu menyajikan hidangan yang merupakan kombinasi klasik Jepang, seperti sushi dan sup miso. Yang terpenting adalah pelayanan Nobu sangat baik dan ramah, sehingga orang-orang betah berlama-lama di dalamnya. (Lampiran 29, Sumber: www.londononline.com)
Libby berpikir bahwa akan sangat berguna jika dirinya memesan tempat di sebuah restoran mewah atas nama Ed McMann. Bahkan Libby sangat senang sekali ketika tahu bahwa semua benda-benda mewah, termasuk rumah mewah yang dimiliki Ed akan dimilikinya juga kelak.
Dari ketiga leksia di bawah ini memberika deskripsi bahwa ternyata ibu Libby juga merupakan seorang yang materialis.
“Pertanyaan itu akan diikuti pertanyaan tentang pekerjaannya, mobil apa yang dikendarainya, di mana dia tinggal, dan pokoknya, apakah orang ini cukup pantas untuk putrinya.” (hal. 93)
“Mewah sekali,” komentarnya, dan aku yakin dia bakal kena serangan jantung kalau melihat apartemen Nick. “Penghasilannya pasti besar kalau dia bisa punya rumah di Highgate. Kalau begitu rumahnya besar, ya?” (hal. 110)
“Oke. Dia baik, dan---“ aku menatap wajah Mum dalam-dalam, “---dia mengendarai Porsche.” (hal. 252)
“Kau kan kenal Mum. Dia memutuskan bahwa apa pun yang terjadi, aku harus menikah dengan Ed, karena dia kaya, dan
“Aku tidak percaya putriku akan tinggal di Hanover Terrace,”
kata mum, hampir menangis saking sukacitanya. “Bukan rumah,
tapi mansion.” (hal. 433)
Perilaku materialis tidak hanya terdapat dalam diri Libby, karena ternyata ibu Libby pun juga seorang materialis. hal itu terbukti dari kutipan 5 wacana di atas yang menjelaskan bahwa ibu Libby sangat mempermasalahkan pekerjaan, mobil yang digunakan, tempat tinggal, dan kepantasan pria yang sedang dekat dengan putrinya. Sampai-sampai dirinya memutuskan bahwa apa pun yang terjadi, Libby harus menikah dengan pria kaya seperti Ed, dan agar dirinya dapat sesumbar pada teman-temannya.
Penderita materialis seperti Libby dan ibunya merasa hidup seperti dalam dunia khayalan, bayangan mereka dipenuhi dengan keindahan atau kesenangan saja. Mereka tidak sadar akan kehidupan nyata yang sebenar-benarnya, dan seolah-olah tidak mau sadar akan adanya kehidupan nyata yang penuh dengan masalah. Dan ketika mereka menyadari hal tersebut, bukan lagi rasa gembira yang di peroleh dari segala benda-benda mewah yang mereka dapatkan, melainkan perasaan bersalah dan panik karena masalah yang dihadapinya akan semakin membesar.
“Tiga bulan yang lalu kau pasti sudah menerkam kesempatan untuk
mengenakan pakaian bagus dan bertemu cowok-cowok kaya.”
(hal. 187)
“Kemudian pergilah kami ke Mezzo, dan tempat itu dipenuhi cowok-cowok yang bekerja di City dan cewek-cewek berdandan glamor.” (hal. 196)
Karena berbagai permasalahan yang tidak dapat teratasi akhirnya Libby menggunakan perilaku materialis nya sebagai alat untuk mengatasi permasalahanya, dengan menggunakan cara lamanya, pergi ke tempat-tempat mewah seperti Mezzo, tempat yang dipenuhi oleh cowok-cowok yang bekerja di City, yang berarti kota London, dan cewek-cewek dengan dandanan yang glamor, dengan mengenakan pakaian terbagusnya untuk bertemu, mendekati, bahkan menggaet cowok-cowok kaya yang ada di sana. Libby tidak pernah menyadari bahwa dengan cara ini Libby malah akan memperburuk masalah yang sedang dihadapinya, seperti yang dijelaskan pada beberapa leksia berikut ini.
“Kenapa gadis secantik kau tidak punya pacar?” tanya Ed,
yang sama sekali bukan tipeku. Tinggi, kekar, punya kumis,
padahal aku tidak suka kumis. Bukan, sebenarnya aku benci kumis, lagipula cowok itu amat sangat kaku.” (hal. 196)
“Bagaimana dengan Ed?” “Sepertinya lumayan diajak kencan sekali-sekali. Dia sih jelas tertarik padamu.” (hal. 197)
“Ed menyetop seorang pelayan dan meminjam bolpoin, lalu dia menuliskan nomor teleponku dengan hati-hati di semacam dompet kulit hitam kecil yang mahal dengan lembaran-lembaran notes kecil di dalamnya.” (hal. 198)
“Dan,” lanjut Jules, “dia mungkin akan mengajakmu ke tempat yang asyik, karena dia jelas-jelas kaya.” (hal. 199)
“Libby, segala hal yang kuketahui kupelajari darimu. Jangan bilang kau tidak memerhatikan jam Rolex-nya.” (hal. 199)
Libby sangat gelisah ketika Ed yang jelas-jelas kaya mengajaknya berkenalan di Mezzo. Ketika Ed menanyakan tentang status Libby yang belum memiliki pacar, Libby tersadar bahwa Ed sama sekali bukan tipe nya, karena Ed
bertubuh tinggi, kekar, berwatak kaku, dan yang pasti dibenci oleh Libby adalah karena Ed berkumis. Tetapi ketika Jules mayakinkan Libby bahwa Ed sangat tertarik pada Libby, Ed akan mengajak Libby ke tempat-tempat yang asyik, dan Ed lumayan jika diajak kencan, karena dia jelas-jelas seorang yang kaya raya, terlihat dari ketika Ed menyetop seorang pelayan dan meminjam bolpoin untuk menulis nomor telepon Libby di sebuah dompet kulit hitam kecil yang mahal, Libby merasa sangat puas sekali. Terlebih ketika Jules mengingatkan Libby tentang jam Rolex yang dikenakan oleh Ed. Dan dari kutipan wacana di atas, menunjukkan bahwa Libby mengalami gangguan obsesif, Libby terobsesi untuk mendekati pria kaya seperti Ed yang jelas-jelas memiliki kumis, padahal Libby sangat benci pria berkumis.
Leksia pada halaman 13 ini menjelaskan tentang bagaimana Libby berbohong pada ibunya untuk meutupi perilaku materialis nya.
“Apa? Baju lama ini?” begitu jawabanku yang biasa,
merendahkan nilai pakaian bagus karya desainer yang kupakai
enam hari berturut-turut saking senangnya. “Ini sudah lawas sekali.” Atau, “Baju ini sudah lama disimpan di lemari kantor, lalu dibeikan padaku. Suka, nggak?” (hal. 13)
“Berapa harganya?” Lalu aku menggumamkan suatu harga,
biasanya memotong sekitar seratus pound dari harga aslinya,
dan dia akan memutar mata serta menggeleng-geleng, membuatku