• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKUNTABILITAS KINERJA

3.2. Analisis Capaian Kinerja

Analisis capaian kinerja BBSDLP tahun anggaran 2016 dapat dijelaskan sebagai berikut :

Sasaran 1 : Tersedianya data, informasi, dan peningkatan inovasi teknologi pengelolaan sumberdaya lahan pertanian

Untuk mengukur capaian sasaran tersebut, diukur dengan 7 (tujuh) indikator kinerja sasaran. Adapun pencapaian target indikator kinerja sasaran dapat dijelaskan sebagai berikut:

Tabel 5. Target dan Realisasi Pencapaian Indikator Kinerja 1

Indikator Kinerja Target Realisasi % Jumlah Sistem Informasi Pertanian 7 Sistem 12 Sistem 171,4

Berdasarkan data realisasi indikator kinerja sasaran pada tabel di atas, pada tahun 2016 BBSDLP berhasil menyelesaikan 12 sistem informasi pertanian atau 171,4% dari target 7 sistem informasi. Dengan demikian katagori keberhasilan pencapaian indikator kinerja 1 adalah sangat berhasil, karena capaiannya lebih dari 100%. Untuk menghasilkan 12 sistem informasi ini telah dialokasikan anggaran sebesar Rp. 2.435.280.000,- dan hingga akhir Desember 2016 telah terserap sebesar Rp. 3.025.230.037,- atau 89,2%.

Tabel 6. Rincian output 7 Sistem Informasi

No. Uraian Kegunaan/Manfaat

1 Sistem Penilaiain

Kesesuaian Lahan (SPKL), Versi 2.0, 2016

- Sebagai pengelola data karakteristik lahan input evaluasi kesesuaian lahan

- Membantu melakukan proses evaluasi kesesuaian lahan

- Membantu penetapan zone agroekologi 2 Sistem Manajemen Data

Sumberdaya Lahan Pertanian (SIMADAS), Versi 2.0, 2016

- Menyimpan dan mengelola data morfologi, kimia, dan mineralogi tanah

- Terhubung ke InaSoilObs 3 Sistem Informasi

Sumberdaya Lahan Pertanian (SISULTAN), Versi 3, 2016

Menyajikan informasi online pata tanah dan kesesuaian lahan serta tematik lainnya

4 Sistem Informasi Pertanian berbasis webGIS

(InaAgriMap), Versi 2, 2016

Menyajikan informasi pertanian terkait sumberdaya lahan

5 Phoshorus dan Potassium Decision Support System, Versi 4, 2016

- Sebagai pengelola data karakteristik lahan input evaluasi kesesuaian lahan

- Membantu proses evaluasi kesesuaian lahan 6 Sistem Basisdata Spasial

Lahan Basah (InaWetSoils), Versi 1, 2016

Menyimpan dan mengelola lokasi-lokasi pengamatan tanah dan peta lahan basah nasional

7 Sistem Basisdata Spasial Pengamatan Tanah (InaSoilObs), Versi 2, 2016

Menyimpan dan mengelola lokasi-lokasi pengamatan tanah nasional

8 Ssitem basisdata spasial peta tanah dan tematik lainnya (InaSoilMap), Versi 2, 2016

Menyimpan dan mengelola peta-peta hasil penelitian BBSDLP

9 Sistem Katalog Peta Online (MapMarket), Versi 1 (beta), 2016

- Menyajikan informasi produk berupa peta - Melayani pemesanan produk dan transaksi

online 10 Sistem Basisdata Image

(SBI), Versi 2, 2016 Menyimpan dan mengelola data-data berupa image untuk mendukung penelitian dan image hasil penelitian

11 Sistem Informasi

Pengelolaan Lahan Sistem Informasi ini berisi informasi konservasi tanah berbasis web dan spasial untuk seluruh wilayah Indonesia yang sangat diperlukan oleh pengambil kebijakan dan praktisi pertanian.

Informasi konservasi tanah dapat diperoleh secara cepat dengan sistem dalam bentuk yang sangat membantu untuk pelaksanaan perencanaan dan pelaksanaan kegiatannya.

12 Sistem Informasi Sumberdaya Pertanian Lahan Rawa di Provinsi Papua

Sistem Informasi ini sangat membantu para pengambil kebijakan untuk mempersiapkan sarana dan prasarana pertanian (alat dan mesin pertanian, benih, pupuk, irigasi dan drainase) yang dibutuhkan dalam upaya meningkatkan produksi pertanian, khususnya produksi tanaman pangan pada lahan rawa.

Seluruh system informasi tersebut merupakan hasil kerja keras tim IT lingkup BBSDLP (BBSDLP, Balittanah dan Balittra) yang bekerjasama dengan tim peneliti senior tanpa kenal lelah untuk menghasilkan karya terbaiknya. Sistem yang telah dihasilkan tersebut akan terus dikembangkan untuk mengakomodir berbagai masukan dan permasalahan yang berkembang.

Tabel 7. Target dan Realisasi Pencapaian Indikator Kinerja 2

Indikator Kinerja Target Realisasi % Jumlah Informasi Geospasial Sumberdaya

Lahan Pertanian 958 peta 958 peta 100

Berdasarkan data realisasi indikator kinerja sasaran pada tabel di atas, pada tahun 2016 BBSDLP berhasil menyelesaikan 958 peta atau 100% dari target 958 peta. Dengan demikian katagori keberhasilan pencapaian indikator kinerja 2 adalah berhasil, karena capaiannya 100%. Untuk menghasilkan 958 Peta ini telah dialokasikan anggaran sebesar Rp. 50.199.000.000,- dan hingga akhir Desember 2016 telah terserap sebesar Rp. 45.028.654.352,- atau 89,7%.

Keberhasilan pencapaian target tersebut, tidak terlepas dari perencanaan yang matang pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh setiap tim yang akan melaksanakan kegiatan pemetaan/survei. Setiap tim yang akan terjun ke lapangan terlebih dahulu melakukan kegiatan persiapan berupa desk study dengan cara mengumpulkan dan mengolah data dasar (peta digital/RBI, radar, peta geologi, peta DEMs, dan peta topografi). Terhadap data-data dasar tersebut kemudian dilakukan analisis/interpretasi hingga menghasilkan Peta Hasil Analisis Satuan Lahan yang akan digunakan sebagai pegangan dasar dalam melaksanakan kegiatan pemetaan di lapangan. Selain kegiatan penyiapan peta lapangan, juga dilakukan penyiapan berbagai peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk operasi lapang berupa: peralatan penelitian (munsell soil colour chart, pH Trough, Abney Level, Kompas, GPS, Bor Tanah, Soil Test Kit, plastik sampel tanah, dan label), form pengamatan lapang, alat pengolah data, dan kelengkapan untuk survei lapang lainnya.

Berbagai alat survey tanah

Setelah seluruh kegiatan persiapan selesai, selanjutnya sebelum berangkat ke lapangan, tim diundang oleh Kabid PE untuk mempresentasikan seluruh kegiatan persiapan yang sudah dilaksanakan serta kesiapannya baik teknis maupun administrasi untuk melakukan kegiatan survey lapangan. Selain itu tim juga mengadakan rapat untuk merencanakan teknis kegiatan lapangan terkait skedul kegiatan yang akan dilakukan dari hari pertama hingga hari terakhir. Dengan cara demikian pelaksanaan kegiatan penelitian lapangan menjadi lebih terarah dan efektif. Pada saat kegiatan di lapangan berlangsung, setiap hari data yang diperoleh dari hasil pengamatan lapang langsung diserahkan kepada tim database dan GIS yang standby di base camp. Jika terdapat perubahan-perubahan batas satuan peta berdasarkan hasil pengamatan lapangan, maka langsung ditindaklanjuti oleh tim GIS dengan mendigitasinya. Setelah tim kembali ke kantor dari kegiatan lapangan, seluruh anggota tim bekerja sesuai pembagian tugas yang telah ditetapkan oleh ketua Tim (Penanggungjawab RPTP). Ketua tim bertanggungjawab untuk mengkoordinir seluruh kegiatan hingga seluruh pekerjaan selesai.

Data dari lapang Entri data base Perbaikan batas SPT Gambar Alur Entri Data dan Perbaikan Batas SPT di lapang

Pelaksanaan monitoring kegiatan dilakukan setiap bulan dengan menyiapkan form isian perkembangan kegiatan yang harus diisi oleh penanggungjawab RPTP, selain itu pada saat tim berada di lapangan juga dilakukan monitoring kegiatan lapangan baik secara administrasi maupun teknis dengan melibatkan peneliti senior yang ditunjuk sebagai tim evaluator. Untuk kegiatan evaluasi terhadap hasil kegiatan, dilakukan sekurang-kurangnya 3 kali, yakni 1) setelah tim pulang dari lapang untuk mengevaluasi hasil kegiatan di lapangan, 2) setelah dihasilkan draft peta dan hasil analisis laboratorium, dan 3) setelah seluruh peta dan laporan diselesaikan. Hasil dari kegiatan monitoring dan evaluasi dijadikan sebagai bahan

masukan untuk perbaikan kualitas kegiatan penelitian maupun pelaporan dan output yang dihasilkan.

Pada tahun 2016 peta-peta yang dihasilkan secara garis besar adalah terdiri dari: 485 atlas Peta Tanah SKALA 1:50.000, 236 atlas Peta Kesesuaian Lahan Skala 1:50.000, 236 atlas Peta Arahan dan Rekomendasi Penggunaan Lahan (RPL) Skala 1:50.000, dan 1 Peta Lahan Kering Terdegradasi DAS Citarum Bagian Tengah skala 1:50.000.

Beberapa contoh peta yang dihasilkan adalah sebagai berikut:

Gambar Peta tanah semi detail skala 1:50.000 Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara

Gambar Contoh Peta Kesesuaian Lahan Tanaman Padi Sawah Tadah Hujan Kabupaten Landak-Kalimantan Barat, skala 1:50.000

Gambar Contoh Peta Arahan Komoditas dan Rekomendasi Penggunaan Lahan (RPL) Kabupaten Pangandaran – Jawa Barat, skala 1:50.000.

Gambar Peta Lahan Terdegradasi DAS Citarum Bagian Tengah skala 1:50.000

Dari seluruh output peta Sumberdaya lahan yang dihasilkan, 957 peta dihasilkan oleh satker BBSDLP, sedangkan sisanya 1 peta (Peta Lahan Kering Terdegradasi DAS Citarum Bagian Tengah) dihasilkan oleh satker Balittanah. Salah satu kendala yang cukup serius untuk menghasilkan output peta di atas, adalah terbatasnya tenaga berkeahlian khusus, yakni tenaga teknisi surveyor (pemeta).

Saat ini tenaga yang ada jumlahnya tidak sebanding dengan tuntutan volume

pekerjaan pemetaan. Bahkan berdasarkan perhitungan perkiraan masa pensiun, seluruh tenaga teknisi surveyor akan habis pada tahun 2020. Sementara itu rekruitmen tenaga pemeta sudah tidak dilakukan lagi. Pada periode 1978 – 1985 Balai Penelitian Tanah (saat ini menjadi BBSDLP) setiap tahun selalu mengadakan pelatihan asisten tenaga peneliti lapang (surveyor tanah). Para calon asisten surveyor tanah tersebut mendapat pendidikan berbagai ilmu dan praktek mengenai pekerjaan yang harus dilakukan dalam melaksanakan pemetaan tanah, mulai dari menyiapkan peta, menganalisis peta, mendeliniasi peta, melakukan pengamatan profil tanah, hingga cara menyusun sebuah laporan hasil survey. Dari pelatihan tersebut para calon asisten surveyor mendapat bekal untuk membantu para peneliti dalam melaksanakan pemetaan tanah hingga menjadi tenaga surveyor yang profesional. Setelah era tersebut seiring dengan berbagai kebijakan rekruitmen SDM yang diberlakukan, tidak ada lagi penyelenggaraan pendidikan dan latihan bagi calon surveyor, hingga akhirnya jumlah tenaga surveyor setiap tahun terus berkurang karena memasuki masa pensiun maupun meninggal dunia. Untuk mengatasi keterbatasan jumlah tenaga teknisi surveyor tersebut, pada tahun 2016 dilakukan perekrutan tenaga outsorching yang berasal dari lulusan perguruan tinggi dan yang memiliki kompetensi untuk membantu melaksanakan kegiatan pemetaan/survey tanah. Dengan cara demikian seluruh tugas pemetaan lapangan dapat diselesaikan sesuai waktu. Selain terbatasnya tenaga surveyor, juga terbatasnya jumlah tenaga yang mampu mendigitasi. Kesulitan ini juga diatasi dengan mengangkat tenaga outsorching yang memiliki kemampuan mengoperasikan berbagai software terkait digitasi peta dan pengolahan database.

Perbandingan capaian kinerja untuk jumlah peta tematik sumberdaya lahan pertanian, dari tahun 2010 hingga 2016 dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 8 : Perbandingan capaian kinerja untuk jumlah peta tematik Sumberdaya lahan pertanian, dari tahun 2010 hingga 2016

No Indikator Kinerja Tahun

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016

Dokumen terkait