• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II ANALIS DAN PEMBAHASAN

B. Analisis dan Pembahasan

1. Pengertian Sistem dan Pemungutan

Sistem pada dasarnya adalah sekelompok unsur yang erat berhubungan satu dengan yang lainnya, yang berfungsi bersama-sama untuk mencapai tujuan tertentu. Sistem diciptakan untuk menangani sesuatu yang berulang kali atau yang terjadi secara rutin (Mulyadi, 2001: 31).

Pemungutan adalah suatu rangkaian kegiatan mulai dari penghimpunan data obyek pajak dan subyek pajak atau restribusi,

penentuan besarnya pajak atau restribusi yang terutang sampai kegiatan penagihan pajak atau restribusi kepada wajib pajak atau wajib restribusi serta pengawasan penyetorannya (Prakosa, 2003: 77). 2. Sistem pemungutan pajak sesuai Perda Kabupaten No. 12 tahun

2007 tentang pajak reklame dan implementasinya di lapangan.

Pajak reklame merupakan salah satu Pendapatan Asli Daerah yang cukup potensial. Pendapatan yang cukup potensial itu tidak luput dari keberhasilan pemungutan pajaknya. Pemerintah Daerah Kabupaten Boyolali menunjuk Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah sebagai pemungut pajak. Pemungutan pajak reklame kabupaten boyolali menggunakan Self Assessment Sistem (SAS), di bawah ini menunjukkan analisis pemungutan pajak reklame berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2007 yang lebih dijelaskan dalam Peraturan Bupati Nomor 7 Tahun 2009 dengan implementasinya yang dilakukan oleh pihak DPPKAD.

TABEL II.1

ANALISIS PERBANDINGAN PEMUNGUTAN PAJAK REKLAME BERDASARKAN PERATURAN DAERAH DENGAN IMPLEMENTASINYA DI LAPANGAN

Keterangan Peraturan Daerah Implementasi Evaluasi

Prosedur perijinan

1) Setiap penyelenggara/pemasangan reklame wajib memperoleh ijin tertulis dari Bupati.

2) Bupati mendelegasikan kewenangan

pemberian ijin

penyelenggaraan/pemasangan reklame kepada Pejabat Eselon II dan III di lingkungan DPPKAD Kabupaten Boyolali.

3) Pejabat Eselon II menandatangani ijin penyelenggaraan/pemasangan reklame selain untuk jenis reklame kain, selebaran, kendaraan dan melekat. Syarat untuk penyelenggaraan/pemasangan reklame jenis ini, yaitu:

a) Mengajukan permohonan tertulis yang menyebutkan sekurang-kurangnya tanggal, bulan, dan tahun permohonan, nama dan alamat wajib

1) Wajib pajak membuat surat permohonan ijin reklame dengan melampirkan denah lokasi dan data teknis.

2) Untuk perijinan pemasangan reklame kain/umbul-umbul, wajib pajak mengajukan dan/atau mengisi formulir Surat Permohonan Ijin Reklame, mengisi dan menandatangani SPTPD.

3) Untuk perijinan pemasangan reklame Billboard, surat perijinan harus diketahui dan disetujui oleh TIM yang meliputi: DPPKAD, BLH, DPUPPK, dan Satuan Polisi Pamong Praja.

1) Prosedur perijinan yang dilakukan pihak DPPKAD sudah sesuai dengan Peraturan daerah Nomor 12 tahun 2007 tentang Pajak Reklame, walaupun untuk persetujuan pemasangan reklame hanya diperoleh perwakilan rekomendasi dari pihak DPPKAD, BLH, DPUPPK, dan SatPol PP.

2) Dokumen yang digunakan telah sesuai yaitu: form Surat Permohonan Ijin Reklame, Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD).

3) Fungsi yang terkait: tidak adanya pemisahan fungsi terkait untuk tiap prosedur, semua prosedur ditanggani langsung oleh staf Pendapatan Asli daerah.

dan lokasi reklame, tanda tangan pemohon, dilampiri foto lokasi, gambar konstruksi, Rencana Anggaran Biaya, syarat rekomendasi dari swasta atau perorangan atau pemerintah provinsi dan kabupaten apabila titik reklame tersebut berada di tanah swasta, perorangan, provinsi, atau kabupaten.

b) Ijin reklame jenis ini diberikan apabila telah ada rekomendasi dari DPUPPK dan/atau BLH dan/atau Diperindagsar, dan/atau Diparbud, instansi swasta/perorangan, pemohon telah menandatangani SPTPD, penyelenggara telah melunasi pajak, sewa titik, dan biaya jaminan bongkar, penyelenggara reklame untuk papan berkonstruksi yang ditentukan wajib mencantumkan logo dan slogan pemerintah Boyolali.

4) Pejabat Eselon III menandatangani ijin penyelenggaraan/pemasangan reklame kain, selebaran, kendaraan dan melekat dengan syarat sebagai berikut:

a) Mengajukan permohonan dengan

tinjauan lokasi, apabila TIM telah menyetujui, maka TIM memberikan rekomendasi kepada Wajib Pajak bahwa memberikan ijin reklame. 5) Pihak DPPKAD menerbitkan

SPTPD yang kemudian harus diisi oleh wajib pajak yang kemudian digunakan untuk menetapkan pajak reklamenya.

mengisi formulir Surat Permohonan Ijin Reklame.

b) Mengisi dan menandatangani SPTPD c) Ijin diberikan apabila penyelenggara

reklame telah melunasi pajak dan biaya jaminan bongkar dan telah ada rekomendasi dari swasta atau perorangan apabila reklame diselenggarakan di lokasi bukan tanah milik pemerintah.

Prosedur Penghitungan dan Penetapan

1) Berdasarkan SPTPD, Bupati menetapkan pajak terutangnya, dengan menerbitkan SKPD. Apabila SKPD tidak/kurang bayar setelah lewat waktu paling lama 30 hari sejak SKPD diterima dikenakan sanksi administrasi berupa bunga 2% setiap bulan dan ditagih dengan menerbitkan STPD.

2) Pengenaan pajak reklame ditentukan berdasarkan nilai sewa reklame, dihitung menurut jenis dan ukuran, lama pemasangan, biaya pemasangan dan pemeliharaan, dan lokasi penyelenggaraan reklame.

3) Nilai sewa reklame dihitung berdasarkan tabel (terlampir). Besarnya pajak reklame adalah 25% dari nilai sewa.

1) Berdasarkan SPTPD, bisa dihitung dan ditetapkan pajak reklame yang harus dibayar oleh wajib pajak.

2) Penetapan pajak dilakukan berdasarkan jenis, waktu, biaya pemasangan dan pemeliharaan, lokasi. Tariff yang digunakan 25%.

3) Pihak DPPKAD menerbitkan SKPD sebagai dasar pembayaran pajak oleh wajib pajak yang dilakukan langsung lunas di Bendaha Kas Penerimaan Dinas Pendapatan Pengelolaan Kas dan Aset Daerah Kabupaten Boyolali.

1) dalam prosedur penghitungan pajak belum sesuai dengan PerDa, karena nilai strategis untuk per lokasi, pihak DPPKAD masih menggunakan nilai stategis sesuai Perda Nomor 10 Tahun 1998 dalam Peraturan Bupati Nomor 05 Tahun 2005, karena Peraturan Bupati Nomor 7 Tahun 2009 baru diterima awal Maret 2009. 2) Dokumen yang digunakan; telah

sesuai yaitu SPTPD (Surat Pemberitahuan Pajak Daerah) dan SKPD (Surat Ketetapan Pajak Daerah).

adanya pemisahan fungsi terkait untuk tiap prosedur, semua prosedur ditanggani langsung oleh staf Pendapatan Asli daerah.

Prosedur Pembayaran

1) Pembayaran dilakukan di Kas Daerah atau Pemegang Kas Penerima dan atau tempat lain yang ditunjuk oleh Bupati sesuai waktu yang ditentukan dalam SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, dan STPD.

2) Apabila pembayaran pajak dilakukan di tempat lain yang ditunujuk, hasil penerimaan pajak harus disetor ke Kas daerah selambat-lambatnya 1x24 jam atau waktu yang ditentukan Bupati, dan dilakukan dengan SSPD.

1) Wajib pajak melakukan pembayaran langsung lunas di Bendahara Kas Penerimaan Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Boyolali berdasarkan SKPD.

2) Bendahara Kas Penerimaan mencatat setoran, kemudian menerbitkan SSPD sebagai bukti pembayaran yang diketahui oleh staf PAD (selaku petugas pemungut) dan wajib pajak.

1) Dalam prosedur pembayaran telah sesuai dengan Perda Nomor 12 Tahun 2007 dengan menggunakan SKPD sebagai dasar pembayaran pajaknya dan SSPD digunakan sebagai bukti bahwa wajib pajak telah melakukan pembayaran (langsung lunas).

2) Dokumen yang digunakan: telah sesuai yaitu SKPD dan SSPD (Surat Setoran Pajak Daerah) 3) Catatan dan Laporan: Jurnal

Penerimaan Kas

4) Fungsi yang terkait: tidak adanya pemisahan fungsi terkait untuk tiap prosedur, semua prosedur ditanggani langsung oleh staf Pendapatan Asli daerah.

Prosedur Penagihan

1) Surat teguran atau surat peringatan atau surat lain yang sejenis sebagai awal tindakan pelaksanaan penagihan pajak dikeluarkan 7 hari sejak saat jatuh tempo pembayaran.

2) Apabila setelah 21 hari setelah tanggal Surat Teguran, wajib pajak belum melunasi pajak terutang, Bupati menerbitkan Surat Paksa.

3) Apabila pajak yang harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu 2x24 jam sesudah tanggal pembritahuan Surat Paksa, pejabat Negara segera menerbitkan Surat Perintah melaksanakan Penyitaan.

4) Setelah dilakukan penyitaan, wajib pajak belum melunasi utang pajaknya setelah 10 hari sejak tanggal pelaksanaan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, Bupati mengajukan permintaan penetapan tanggal pelelangan kepada kantor Lelang Negara.

1) Pihak DPPKAD menerbitkan Surat Teguran sebagai awal tindakan penagihan pajak, diterbitkan 7 hari sejak tanggal jatuh tempo pembayaran. Apabila tidak ada tanggapan dari wajib pajak, kemudian dilanjutkan dengan menerbitkan Surat Paksa. Surat Paksa diterbitkan 2 hari sejak tanggal Surat Teguran.

2) Apabila pajak tidak segera di lunasi dalam jangka waktu 2x24 jam sesudah pemberitahuan Surat Paksa, maka diterbitkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan.

3) Setelah dilakukan penyitaan, wajib pajak belum juga melunasi setelah lewat 10 hari sejak Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, pejabat mengajukan permintaan penetapan tanggal pelangan kepada kantor lelang Negara.

Prosedur penagihan ini jarang sekali dilakukan karena pihak DPPKAD mengharuskan wajib pajak selalu membayar lunas saat pembayaran untuk mengurangi tingkat tunggakan pajak.

i Gambar II. 1

Flowchart Pemungutan Pajak Reklame di DPPKAD Kabupaten Boyolali PROSEDUR PERIJINAN

WAJIB PAJAK DPPKAD

Selain reklame papan MULAI Membuat surat perijinan 5 4 3 2 Perijinan 1 1 2 4 3 rekomendasi 2 rekomendasi 2 rekomendasi 2 rekomendasi 2 5 6 SPTPD 2 Menerima rekomendasi dan SPTPD SPTPD 2 SELESAI N 5 1 4 3 Perijinan 2 Menerima surat perijinan 5 4 3 Perijinan 2 Membuat SPTPD 3 2 1 N Melakukan tinjauan persetujuan tidak ya 2 rekomendasi 1 2 SPTPD 1 N 7 N 2 3 N 8

ii DPPKAD BLH DPUPPK SATPOL PP 7 Membuat SPTPD 2 SPTPD 1 N N N N 8 1 2 3

Perijinan 3 Perijinan 4 Perijinan 5

Melakukan tinjauan Melakukan tinjauan Melakukan tinjauan

persetujuan tidak persetujuan persetujuan

ya tidak tidak ya ya 2 rekomendasi 1 2 rekomendasi 1 2 rekomendasi 1 6 4 5

iii

PROSEDUR PENGHITUNGAN DAN PENETAPAN

WAJIB PAJAK DPPKAD BENDAHARA KAS

PENERIMA MULAI SPTPD 2 Menghitung pajak terutang SPTPD 2 terisi 1 1 SPTPD 2 terisi Menetapkan pajak 3 2 SKPD 1 N 2 3 3 SKPD 3 N SELESAI 2 SKPD 2 Menerima SKPD SKPD 2 N Menerima SKPD N

iv

PROSEDUR PEMBAYARAN

WAJIB PAJAK BENDAHARA KAS

PENERIMA DPPKAD MULAI SKPD 3 Membayar ke bendahara penerima SKPD 3 1 1 SKPD 3 Menerima pembayaran dari wajib pajak Melakukan cek ulang data Melakukan cek ulang data Mencatat setoran Menerbitkan SSPD 3 2 SSPD 1 3 2 SELESAI N 3 SSPD 3 N 2 SSPD 2 Menerima SSPD SSPD 2 N Menerima SSPD SSPD 3 SKPD 3 N

v

PROSEDUR PENAGIHAN

DPPKAD WAJIB PAJAK BENDAHARA KAS

PENERIMA MULAI Membuat data tunggakan pajak Menerbitkan STPD 2 STPD 1 1 N 1 STPD 2 Membayar tunggakan pajak ke bendahara kas penerima 2 2 Menerima pembayaran tunggakan dari wajib pajak Menerbitkan SSPD 3 2 SSPD 1 4 3 N 3 4 Menerima SSPD SSPD 3 SSPD 3 N SELESAI SSPD 2 Menerima SSPD SSPD 2 N N

vi

3. Hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan pemungutan pajak reklame

a. Adanya sumber daya manusia yang belum memadai.

b. Terbatasnya sarana dan prasarana untuk menunjang pelaksanaan sistem pemungutan pajak reklame.

c. Banyaknya reklame liar yang tidak mempunyai ijin resmi dari Pemerintah Kabupaten Boyolali.

4. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah boyolali untuk lebih mengoptimalkan pendapatan pajak reklame

a. Mengoptimalkan sumber daya yang ada, dan menambah sarana prasarana.

b. Sebelum jatuh tempo, pemasang diberikan penawaran untuk perpanjangan ijin reklame dengan via call.

c. Untuk wajib pajak yang berdomisili di pelosok pedesaan maka dihubungi via telepon/surat, atau dengan sistem “jemput bola”. d. Mengenai masalah perijinan yang sudah kadaluarsa dan tidak

segera dimintakan perpanjangan ijin oleh pemiliknya tetapi masih dipasang, maka ijin tersebut akan dicabut dan reklame yang masih dipasang akan dihentikan dan dibongkar.

vii

Dokumen terkait